UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 96


__ADS_3

Aku merasa seakan sedang mengurus anak kecil saja, omel Dinda pelan. Apa-apa harus di layani. Merengek-rengek seperti bocah, aku sebal padanya. Mulut Dinda di manyun-manyunkan, komat kamit tidak karuan. Dia mengoceh sepanjang Steve memerintahnya.


Dia berada di kamar Steve, memilah pakaian untuk pria manja itu.


Sedangkan Steve dengan tawa puasnya, hanya melihat Dinda mencarikan dia pakaian sembari duduk di kasur empuknya melihat dengan seksama gadis kecilnya itu.


"Kamu mau pakai baju yang mana?" tanya Dinda. "Aku bingung, baju kamu banyak banget."


"Ehm," Steve mengernyitkan dahinya. "Apapun yang kamu pilih, aku akan suka," jawab Steve. "Karena pria tampan seperti ku tidak akan merasa jelek sekalipun menggunakan pakaian gembel."


Dinda menyunggingkan bibirnya, mengembuskan napas leleh. "Aku merasa seperti mengurus bayi besar," ujar Dinda mengungkap isi hatinya. "Seandainya jika kamu bayi ku, mungkin aku akan berhenti mengurus kamu. Atau akan aku buang kamu ke sungai, kamu sangat merepotkan aku. Semuanya harus aku, ini itu, kamu memperlakukan aku bagai pengasuh bayi," keluh Dinda yang tak kuat pada tingkah Steve.


Steve mendekati Dinda, dia tidak peduli Dinda mengomelinya. "Seharusnya Ibu bangga mempunyai bayi manja seperti ku," ujar Steve menambahkan bumbu leluconnya. "Bayi yang ingin perhatian Ibu-nya seorang," Steve mendongak dagu Dinda seraya meledeknya dengan tatapan juling.


"Jangan panggil aku Ibu," teriak Dinda. "Aku bukan Ibu kamu. Paham!" Bentaknya.


Steve menelan ludah pahitnya, wanita itu mulai menunjukkan tanda-tanda garang. "Kamu berani membentak bayi besar seperti aku?" Steve memancing kegaduhan. "Apa kamu tidak tega melihat bayi besar kamu kedinginan hanya menggunakan handuk saja, menutupi bagian bawah sedangkan bagian atas terbuka tanpa sehelai kain pun?"


Dinda mengintip, memang benar Steve hanya menggunakan handuk putih sebatas menutupi bagian bawah. Bulu kaki Steve yang agak lebat membuatnya geli berkepanjangan.


Bahkan perut seksinya membuat Dinda tidak tahan lagi untuk dilihat.


"Aku bantu kamu terakhir kali. Untuk kedepannya, kamu pikirkan sendiri harus pakai baju apa, sepatu apa dan semuanya kamu yang menentukan," Dinda memilih mengalah, pria di hadapannya tidak akan berhenti sebelum segalanya terpenuhi.


Cih, Steve mendercit. Akhirnya dia mengalah, Steve berkata pelan.


"Ketika di sungai Huangpu seorang wanita Indonesia pernah berkata ingin menikah dengan pria tampan. Dia berjanji di atas kapal pesiar saat mengelilingi kota Shanghai, aku lupa nama wanita itu, tapi dia sempat bersedih saat pria tampan itu akan menikahi wanita lain bernama Peni. Sayang sekali, kini wanita itu tidak mau lagi mengurus suaminya," Steve menyindir dan menyinggung Dinda ketika mereka ada di Shanghai kala itu.


"Kamu mencoba menyindir ku?" Dinda mengerti arah tujuan bicara Steve.


"Siapa yang menyindir kamu," jawab Steve. "Aku hanya menceritakan kisah seorang wanita yang menangis di bawah hujan di kota Shanghai. Aku ingat bahwa wanita itu merasa terpukul saat kedua orang tua pria itu menjodohkan dia dengan wanita lain. Tepat di bawah gedung Shenzen, dia menangis tersedu-sedu, tidak mau kekasihnya itu menikah dengan perempuan manapun selain dia," kata Steve melanjutkan tingkah jahilnya.


"Itu aku," sentak Dinda. Dia merasa bahwa Steve menunjukkan kata-kata itu untuknya. "Kamu sedang menyindirku secara nyata!"


"Aku tidak mengatakan itu untuk kamu," Steve tidak mau kalah berdebat. "Aku hanya mengutip cerita ini dari novel... Ehm... Kalau tidak salah judulnya Unintentional. Aku pikir kisah wanita itu sangat menyedihkan, apalagi akan di tinggal pergi oleh kekasihnya yang paling di cintai," Steve terus mencecar Dinda dengan sindiran mengenai perjalanan beberapa waktu lalu.


Dinda mendengus. "Aku juga ingat. Seorang pria harus menurunkan egonya demi menuruti kemauan sang kekasih," Dinda membalas Steve dengan cerita serupa. "Ketika dia dan kekasihnya liburan di Korea, dia di pakaikan bandana merah berbentuk bunny. Dia merasa malu pada anak-anak remaja yang ada di sekitar sana. Dan juga dia pernah menurunkan egonya demi mendapatkan restu dari ibu sang kekasih."


Dinda ikut berulah, dia tidak mau kalah oleh pria narsis seperti Steve. "Dan, aku juga ingat kalau pria itu sempat menangis kala kekasihnya mengatakan selamat tinggal untuknya yang akan menikahi wanita yang tidak ia cintai," lanjut Dinda menambahkan bumbu-bumbu pertengkaran.


"Kamu!" Pekik Steve.


"Jangan marah," seringai Dinda. "Aku hanya mengutip kisah pria malang itu dari sebuah novel judulnya Unintentional."


Mendengar bahwa Dinda ikut membalasnya dengan sindiran memalukan, Steve mengepalkan tangannya keras. Wajahnya memerah, dia menahan emosi.


Steve memutar tubuh Dinda, secepat kilat dia langsung melumat bibir Dinda hingga wanita itu bungkam tak bisa bicara lagi.


Steve melakukannya dengan kasar dan nafas yang memburu. Dia tidak peduli hal lain, walau Dinda berontak padanya.


"Itu hukuman untuk kamu yang berani melawan Tuan muda," ucap Steve mengakhiri ciumannya. "Jangan pernah melakukannya lagi, atau kamu akan mendapatkan hukuman lebih," peringat Steve pada Dinda.


Dinda termangu, perlakuan Steve padanya secara tiba-tiba. "Apa begini cara kamu membalas seorang wanita?" tuntut Dinda.


"Karena kamu berani mengusik ku!"


"Tapi kamu lebih dahulu yang memancing perdebatan," jawab Dinda sengit.


"Ya itu karena kamu berani melawan Tuan muda seperti ku," Steve tidak ingin mengalah. "Itu adalah peringatan, jangan melawan suami mu," ancamnya dalam mode lelucon. "Steve selalu benar, dia tidak pernah salah. Jadi jangan coba-coba menentang suami mu, remahan upil ku," lirih Steve menggoda.


Dinda melahai tertawa masam. "Kita belum menikah, jangan harap aku akan menjadi istri kamu."


"Apa kamu bilang?" Steve geram, Dinda semakin berani menantang bicaranya. Pikir Steve Dinda sudah seperti Stevie, memperlakukannya semena-mena.


Steve ingin mengulanginya tingkahnya tadi, mencium bibir Dinda.


Tapi Dinda dengan cepat menampik tubuh Steve yang ingin mendekatinya. "Oke! Oke! Aku akan jadi istri tuan pemarah," Dinda berkata mengalah. "Bagaimana? Puas dengan jawaban ku?"


"Sangat puas," lirih Steve merayu. "Kalau kamu selalu menurut pada ku, di jamin tuan muda mu ini tidak akan memperlakukan gadisnya seperti ini."

__ADS_1


Dinda jengkel pada Steve, dia sebal karena perilakunya selalu mendadak. Dinda melemparkan pakaian di dada Steve, dia tidak mau membantunya lagi.


Di bawah suara bel listrik rumah Steve terus berbunyi. Tidak ada Paman Lu juga tidak ada Bibi Yan.


Dinda ingin membuka pintu, tapi Steve melarangnya karena pikirnya Paman Lu ada di rumah.


Dinda mengingatkan bahwa pria dan wanita tua itu sudah pergi. Mereka cuti, sehingga yang ada di rumah ini hanya mereka berdua.


"Baju ini terlalu tebal," keluh Steve di atas tangga. "Kamu kira kita ada Shanghai, harus pakai baju rajutan setebal ini," Steve memperhatikan bajunya hingga detail.


Dia merasa gerah menggunakan pakaian tebal sepanjang tangan.


"Akhir-akhir ini hujan turun sangat deras, pakai baju tebal setidaknya membuat kamu hangat," balas Dinda meyakinkan Steve agar tidak lagi mengeluh.


"Terserah kamu saja," Steve berhenti bicara. Dia menguntit Dinda yang hendak membuka pintu.


Di depan pintu, bel listrik yang terus berbunyi berdiri dua orang dengan pakaian tebal khas orang-orang Asia timur.


"Mama, Papa?" teriak Steve.


Ibu Steve tersenyum saat Dinda yang membuka pintu dan Steve berdiri di belakangnya. Dinda mengambil tangan Ibu dan Ayah Steve lalu menciumnya. Sudah menjadi kebiasaan Dinda selalu bersikap seperti itu kepada siapapun.


"Kalian berdua saja di rumah?" kata Ibunya berbasa-basi.


Steve mengangguk. "Paman Lu cuti hari ini," jawab Steve santai. "Bibi Yan juga pulang kampung."


Ibu masuk kedalam rumah di ikuti oleh sang Ayah. "Sudah lama Papa tidak datang ke Jakarta?" sang Ayah memulai berbicara. "Rumah kita belum banyak yang berubah," ucapnya sembari menatap langit-langit rumah, menelisik sekeliling ruangan dan berakhir duduk di sofa.


"Ada apa Mama dan Papa datang ke Jakarta?" Steve bertanya penasaran. "Tidak seperti biasanya?"


Sang Ayah menyilangkan tangan di dada, sementara sang Ibu menemani suaminya duduk tepat di sebelahnya. "Suasana di Tiongkok agak mencekam," kata pria setengah baya ini. Dia melepaskan kacamatanya, meletakkan di atas meja. "Di Wuhan akhir-akhir ini sedang terjadi penyebaran virus Corona. Biasanya di kenal dengan sebutan 2019-nCoV, walau belum sampai di Shanghai tapi Papa dan Mama mulai khawatir akan virus ini."


"Virus?"


"Ya," timpal sang Ibu. "Katanya virus ini di sebabkan karena makan kelelawar mentah sembarangan. Entah benar atau tidak, Mama dan Papa sedikit mengkhawatirkan Shanghai, makanya Mama memutuskan mengajak Papa ke Indonesia," jelas Ibu Diah pada Steve.


"Jadi Mama dan Papa akan tinggal di Indonesia?" Steve memastikan.


Steve agak lega, pikirnya kedua orang tua itu akan tinggal di Jakarta mengisolasi diri dari bencana di Tiongkok yang sedang terjadi akhir-akhir ini.


"Papa lapar Ma," Tuan wong berulah. "Bisa siapkan makan?"


"Papa selalu bertingkah," Ibu Diah mencubit pelan suaminya. Dia beranjak dari duduk, menuju ke dapur ingin membuat makan untuk suami tercinta.


"Aku bantu ya, Ma," Dinda menawarkan Dinda.


Dengan ramah Ibu Diah tersenyum, menggandeng tangan Dinda lalu membawanya ikut ke dapur. "Steve bicara dulu dengan Papa, jangan ikut ke dapur," pesan Ibu Diah pada anaknya.


Bosan bagi Steve harus berhadapan dengan Ayahnya sendiri. Dia merasa segan pada pria tua itu, apalagi melihat wajahnya. Steve kurang percaya diri jika Ayahnya menatapnya intrik.


"Duduk saja dulu, Papa ingin bicara dengan kamu."


Steve sudah menduganya, menduga bahwa Ayahnya akan berkata seperti itu melihat dari gelagatnya yang tidak biasa. Steve yang berdiri di ujung sofa, terpaksa harus menuruti kemauan pria itu.


Atau, jika dia menolaknya, kemungkinan pria ini akan bertindak semaunya. Seperti menjodohkannya dengan Peni saat itu. Baginya tidak ada yang tidak mungkin, sekalipun Steve harus bersikeras menolak.


"Ehm," Steve mendeham. "Papa ingin bicara apa?" Steve ingin tahu. Dia penasaran, kenapa tiba-tiba seperti ini.


"Sejak kecil, kamu sudah membantu Bisnis Papa dengan kejeniusan mu," Tuan wong berkata perlahan sambil mengenang. "Papa tidak ingin menuntut kamu yang sulit-sulit lagi. Papa hanya mau kamu harus lebih bertanggung jawab dan lebih sabar mengelola bisnis yang sudah di bangun oleh kakek buyut mu. Papa mau kamu bisa mengembangkan usaha grup wong hingga level teratas."


"Maksud Papa apa?" Steve menyambar.


"Kamu tentu sudah tahu jelas bahwa ayah mu ini sudah terlalu tua sebagai seorang CEO. Tidak memungkinkan lagi di usia paruh baya ini, Papa memegang kendali perusahaan besar seperti ini. Papa ingin kamu mengurus semua properti grup Wong dan juga perusahaan-perusahaan wong lainnya yang tersebar di Asia," Tuan wong mengungkapkan keinginannya pada putra satu-satunya itu.


"Maaf, Steve belum mengerti maksud Papa?" Steve menyela ucapan sang ayah.


"Papa langsung saja ke intinya kalau kamu belum paham," balas Tuan wong bicara dengan ritme yang lumayan cepat. "Papa ingin kamu kembali ke Shanghai. Mengurus perusahaan pusat di sana, dan kantor-kantor cabang yang ada di beberapa kota di Asia, nanti akan di urus oleh pegawai setempat."


"Jadi maksud Papa, Steve harus kembali ke Shanghai?" Tebaknya.

__ADS_1


Tuan wong menganggukkan kepalanya. "Papa hanya ingin kamu fokus ke perusahaan pusat di Shanghai, dan melebarkan bisnis di kota ini. Prospek bisnis di Shanghai jauh lebih menguntungkan ketimbang mengikuti trend berbisnis di Asia tenggara."


Kenapa secara tiba-tiba seperti ini? Pikir Steve tidak biasanya.


Steve menimbang-nimbang perkataan sang Ayah. Ada benarnya apa yang di ucapkan oleh pria tua itu. Steve ingin memikirkannya dengan matang, walau sebenarnya dia benci Shanghai tapi mengenai bisnis dengan masa depan yang cerah ini, enterpreneur mana berani menolak.


"Bisakah Steve mengambil keputusan dengan bijak," Steve berusaha berkata meyakinkan. "Maksud Steve, bisakah Papa memberikan waktu pada Steve agar bisa memikirkan dulu prihal mengenai masalah bisnis ini."


"Tidak perlu terburu-buru," ujar Tuan wong sembari menyeruput teh hangat. "Kalau kamu belum siap, Papa masih bisa meminta Alianor menghandle perusahaan di Shanghai."


"Xie-xie fuqin," celetuk Steve pada sang ayah menggunakan bahasa Mandarin.


(Terima kasih ayah)


Tuan wong tersenyum hangat, dia melihat wajah tampan putranya yang garang itu. "Bahasa Mandarin mu masih pemula, belajarlah yang giat agar kamu tidak kesulitan berkomunikasi dengan pegawai-pegawai kantoran di Shanghai."


Rubah tua ini masih menuntut ku, gumam Steve pelan.


"Aku akan belajar giat, seperti yang Papa mau," kata Steve pura-pura setuju pada permintaan Ayahnya.


>>>>>>>


"Kamu dan Steve harus berbaikan terus yah Nak," di dapur, Ibu Diah menasehati Dinda. "Jangan bertengkar walau dia selalu marah. Sudah menjadi kebiasaannya selalu bersikap dingin sejak kecil. Mama mengkhawatirkan kamu, takutnya kamu bosan karena dia tidak memperlakukan kamu dengan baik."


Mereka berdua berbincang-bincang sambil tangan menangani berbagai macam sayuran.


"Nggak kok, Ma," Dinda membalas. "Dinda justru berpikir bahwa dia adalah pria yang hangat," ujarnya memuji di hadapan Ibu Diah.


"Kamu persis seperti Mama ketika muda," Ibu Diah mencubit pipi Dinda lembut. Tangannya bau bawang, Dinda menahan nafas agar tidak terlalu menghirup aroma tidak enak itu. "Dulu, ketika Mama muda, Papa Steve juga seperti itu. Dia memperlakukan Mama agak kasar walau dia perhatian," lanjutnya mengenang kisah masa mudanya.


Dia tahu, Dinda berpura-pura menutupi perilaku pemarah Steve. Jauh sebelum Dinda berbohong mengenai kehangatan sang putra, dia lebih mengenal seperti apa Steve di masa kecil.


"Dulu, Papa Steve sama seperti Steve. Keduanya pribadi yang introver, bahkan ketika Mama bekerja di kantornya di suruh ini dan itu. Pernah sekali, Mama sangat membenci Papanya Steve karena memerintahkan Mama menyelesaikan begitu banyak laporan di atas meja dalam waktu sehari. Mama hampir mati kelelahan karena di buru waktu, tapi beruntungnya karena kejadian itu, Papa Steve tidak lagi bersikap seperti itu kepada Mama," tambahnya menjelaskan.


Kenapa mirip dengan kisah ku? Dinda mengernyitkan dahinya, cerita itu lazim dia alami.


Ibu Diah mencurahkan semua kisah masa mudanya, semua di ceritakan pada Dinda.


Apa mungkin semua kepribadian Steve hasil dari turun temurun? Dinda menebak. Apalagi mendengar cerita Ibu Diah, sudah jelas bahwa Steve memang mendapatkan tingkah dingin dari sang ayah.


"Oh satu lagi," Ibu Diah teringat. "Steve sejak kecil sangat nakal, bahkan dia suka memecahkan vas besar di Shanghai karena dia meronta tidak mau berpisah dengan neneknya. Oleh karena itu, Mama khawatir jika dia marah, seisi rumah ini bisa hancur!"


Dinda mengedipkan matanya berulang kali. Cerita yang di maksud Ibu Diah sesuai dengan apa yang Steve katakan.


"Aku belum pernah mendengarnya," balas Dinda pura-pura lugu. "Selama ini Pak Steve baik-baik saja. Dia sangat hangat pada semua orang."


"Di situasi semacam ini kamu masih saja menutupi kebohongan," Ibu Diah melihat kedua lensa mata Dinda yang hitam indah itu. "Steve sejak dulu tidak pernah bersikap ramah pada orang lain. Apalagi Mama sebagai Ibunya. Dia selalu dingin pada Mama. Kecuali pada Stevie, hanya dia yang berani bertindak pada Steve yang nakal itu."


"Jadi Mama tahu kalau Kak Stevie selalu bertengkar kecil dengan Pak Steve?" sahut Dinda tak menyangka.


"Ibu tahu itu," jawab Ibu Diah. "Dulu Stevie selalu di marah oleh Papanya. Dia selalu mengadu pada Mama setiap kali Papanya mengomelinya karena tidak menjaga adiknya dengan baik. Terkadang dia melampiaskan kekesalannya pada Steve makanya Mama bisa tahu seperti apa putra dan putri Mama," ungkapnya memberitahu.


Dinda mengernyitkan dahinya, semua yang di katakan Steve benar.


"Itulah kenapa Mama menyukai kamu sejak Stevie menceritakan kalau Steve menyukai seorang wanita. Kamu selain cantik, juga masih menjunjung tinggi ke-Indonesiaan mu," katanya sambil menyentil hidung Dinda lembut. "Kamu berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah di kenalkan oleh Papanya."


Dinda tersenyum, keramahan wanita ini membuatnya juga menyukai Ibu Steve ini. "Mama terlalu memuji ku," ujar Dinda tersipu.


"Makanya Mama bilang, kita berdua memiliki nasib yang sama. Bertemu pria yang sama-sama kita benci dan mungkin kita pikir kejam, tapi mereka perhatian," pungkas Ibu Diah.


BERSAMBUNG


Bonus picture:


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya, semoga novel ini bisa menghibur.


Terima kasih atas waktu kalian dalam membaca Novel ini.


__ADS_1


Steve versi kearifan lokal.



__ADS_2