UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Bab 11 — Dua wanita


__ADS_3

Dinda dan steve melangkahkan kaki keluar dari mobil mewah Steve. Kaki putih itu terlihat amat segar, sehingga siapa pun yang melihat Dinda pasti tergoda oleh paras cantiknya.


Orang-orang yang sedang berlalu lalang menghentikan sejenak langkah mereka demi melihat Dinda yang sedang keluar dari mobil mewah bercat akrilik hitam dengan desain amat futuristik, bagai seorang selebriti yang sedang menghadiri reality show.


“Benar-benar wanita cantik,” puji beberapa orang di dalam restoran.


“Dia cantik, tapi sayang jika dirinya menjual diri hanya untuk kehidupan yang elegan dan berfoya-foya.”


“Dia adalah tipeku. Tapi sayangnya dia lebih menyukai pria yang berwajah tampan dan ber - uang.”


“Dia mirip selebriti, tapi terlihat dari kelakuannya dia seperti wanita nakal.”


Mereka membicarakan paras cantik Dinda dengan pemikiran negatif. Steve menyadari itu, menyadari bahwa pria-pria yang sedang berlalu lalang sedang membicarakan Dinda. Sehingga tatapan tajam nan dingin ia berikan kepada mereka yang berani mengatakan wanita nakalnya itu dengan ucapan mengumpat.


“Kekasihnya terlihat marah. Ayo-ayo pergi!” pria-pria yang sempat mengumpat Dinda bergegas pergi ketika melihat tatapan berang Steve.


“Mereka seperti tidak ada kerjaan lain selain mengumpat!” kata Steve sebal. “Dasar pria-pria tidak berguna.”


Steve sadar bahwa Dinda memang memiliki pesona sendiri dengan aura yang menarik. Sehingga membuat siapapun benar-benar mulai terobsesi pada gadis itu. Tidak terkecuali Steve. Sebagai pria normal, tentu saja dia tertarik pada Dinda.


“Kali ini aku yakin tak akan melepaskanmu gadis kecilku.”


Tanpa sadar Steve, dia mulai memikirkan gadis kecilnya itu. Meskipun awalnya ia hanya ingin bermain-main dengan Dinda. Ternyata, perasaannya tidak bisa dibohongi.


Dua orang dewasa itu duduk di restoran bergaya barat dengan papan nama bertuliskan, “WESTERN RESTO & SEA FOOD SPECIAL,” dan dihiasi lampu kelap kelip berwarna.

__ADS_1


“Rumah makan ini pasti mahal. Tidak tahu berapa banyak uang yang dia hambur-kan hanya untuk memakan makanan—yang bahkan dari porsinya saja membuat perut akan terus meronta lapar.”


Pikir Dinda, bosnya itu sedikit boros. Hanya untuk makan saja, harus menggelontorkan banyak uang.


“Kenapa melamun?” tanya Steve. “Apakah kamu pikir aku tidak punya cukup uang untuk mentraktir diri kamu makan?”


Dinda menatap wajah Steve dengan senyum manis khas dirinya. “Aku tidak pernah berpikiran begitu. Mungkin saja Bapak yang terlalu berpikiran negatif tentang diriku.”


“Wanita ini!” Seru Steve kesal dengan kepalan di tangan yang siap mem-bogem Dinda. “kamu selalu saja kontra padaku. Sebaiknya, pesan makan. Jangan buang-buang waktu. Ingat, waktuku sangat mahal.”


Ya, ya, ya, mahal. Tapi tetap, Dinda tidak akan peduli padanya. Steve bisa saja memukul gadis lemah satu ini. Tapi, Steve mengurungnya, karena Dinda seorang wanita tentu saja bukan tipenya memukul seorang wanita. Dinda memang ahli dalam membuat pria itu marah, sedangkan pada orang lain ia akan bersikap ramah sok manis.


“Aku harus menahan amarah. Karena aku tahu bahwa wanita licik ini sangat mencintai uang. Asal dengan membayarnya dengan mahal dia pasti menuruti permintaanku. Sungguh ide yang cemerlang untuk menaklukkan wanita nakal ini.”


Pria sombong ini rupanya sudah memahami karakter Dinda yang terobsesi pada uang, meskipun semua itu sepenuhnya tak benar. Namun ia yakin, semakin banyak ia memberikan uang maka semakin baik pula wanita itu memperlakukan dirinya.


Dinda seperti biasa, makan sesukanya dengan anggun khas wanita berkelas tanpa memperhatikan sekitar. Sedangkan Steve terus memperhatikan wanita di hadapannya.


“Aku tidak habis pikir, mengapa wanita sepertimu bersikap cuek padaku sementara kamu bersikap ramah pada yang lainnya. Apakah aku terlihat begitu buruk dan menakutkan di matamu?” Steve membuka bicara, setelah sejak tadi keduanya terlibat saling diam. Steve adalah sosok yang paling tidak bisa diabaikan oleh siapapun.


“Memangnya kenapa Pak?” kata Dinda polos. “Aku bukan cuek pada Pak Steve. Hanya saja, aku bingung harus seperti apa bicara dengan Bapak.”


“Begitukah?” tanya Steve ragu. “Tapi, menurutku tidak. Aku sedikit penasaran pada beberapa hal. Bagaimana tubuh kecilmu bisa mengangkat tubuhku yang besar ini menuju hotel? Apakah kamu mengangkut dengan sebuah gerobak sampah malam itu?”


Dinda tersenyum kecil. “Bapak terlalu berlebihan. Mana mungkin aku melakukan hal itu. Bapak terlalu sempurna, untuk kuangkut menggunakan gerobak sampah.”

__ADS_1


“Lalu? Bagaimana caranya kamu membawaku sampai ke hotel? Jika dilihat dari tubuh kurusmu, aku tidak yakin kamu bisa memapah pria yang beratnya dua kali dari berat tubuhmu.”


“Akh, itu aku bisa melakukannya karena aku sedikit berusaha,” jelas Dinda. “Ya, bisa dibilang aku memang kurus. Tapi, tenagaku lumayan, lho.”


Dinda tersenyum manis, untuk ucapannya barusan. Ngomong-ngomong, kalau bicara santai seperti ini dengan Steve, rasanya ada yang beda. Tidak tahu apa, tapi rasanya Dinda agak akrab dengannya.


“Apa yang kamu ter-tawakan?” tanya Steve bingung. “Apakah ada yang lucu dari percakapan kita?”


Dinda menggeleng. “Tidak ada yang aku tertawakan. Aku hanya terbayang pada ucapan Bapak ketika membantahku di hotel. Dan ketika sekarang kita bicara berdua seperti ini, aku rasa Bapak ada yang beda.”


Steve mengerutkan keningnya. Sebenarnya, ada apa dengan wanita di depannya. Kenapa dia sangat aneh? Lagi-lagi Steve menahan rasa penasarannya pada sosok Dinda.


Hingga dua orang wanita datang menyela makan Dinda dan Steve yang sedang ambigu.


Wanita ini terlihat sangat modis, dengan pakaian glamour di sekujur tubuh lengkap dengan perhiasan berlian menempel di jari tangan dan leher bahkan telinga pun tak lupa mereka pasang. Seakan ingin menunjukkan bahwa mereka dari kalangan atas berstatus sosial yang tinggi.


Dua wanita itu menenteng sebuah tas kulit bermerek dan dipadu padankan dengan makeup yang begitu liar. Sehingga siapa pun yang melihat akan terkesima untuk sesaat melihat kemewahan tubuh-tubuh ramping itu. Tetapi tidak untuk Steve, dirinya merasa risih jika melihat wanita dengan dandanan super norak terlebih bibir-bibir mereka di cat dengan warna merah merekah. Steve memperhatikan setiap detail yang di kenakan oleh wanita-wanita norak itu.


“Sungguh penampilan yang cocok dengan **** kecil bergaun mewah!” ledek Steve pelan. Bibirnya mengumpat dua wanita yang menggangu makan malam mereka.


“Hai dinda,” sapa salah satu wanita sok cantik. “Masoh ingat denganku?”


“Vanya, Inggrid!” balas Dinda sedikit kaget namun berekspresi datar. “Kalian di sini?”


“Hai sayang! Lama tidak jumpa denganmu. Kamu makin cantik, dari sebelumnya.” Mulut Vanya masih tidak berubah, walau sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

__ADS_1


“Mungkin dia banyak perawatan, Van,” sahut Inggrid. “Atau ..., dia oplas. Dibayar om-om. Kan kita tahu, dia seperti itu.”


“Kalian siapa?” tanya Steve penasaran.


__ADS_2