UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 88


__ADS_3

"Cinta bagi ku sulit di definisikan bahkan sulit di jelaskan seperti apa entitasnya. Bahkan cinta itu ibarat bilangan matematika, sulit di pahami namun bermakna.


Tapi aku percaya, cinta sejati bukan karena kita memandang orang yang kita cintai hanya karena fisik semata. Tetapi, menerima kelemahannya lalu menjadikan kekuatan adalah bentuk cinta sejati sesungguhnya.


Mencari mu, mendekati mu, memiliki hati mu lalu menikahi kamu, aku merasa seolah dunia mendukung ku."


(STEVE AGUIIRO)


_______________________________________


Sudah meninggalkan pekerjaan hingga dua Minggu, bersyukur bagi Dinda bahwa bos yang ia hadapi adalah Steve.


Walau Dinda merasa tidak enak hati karena meninggalkan pekerjaan hingga beberapa pekan, namun Steve mengatakan tidak perlu khawatir pada keadaan seperti ini.


Steve tidak akan membiarkan pegawai lainnya menggosipi dirinya atau mencemooh tentang Dinda.


Dinda sudah memulai kembali pekerjaannya, setelah kemarin dia baru saja pindah rumah yang berada di komplek pertengahan kota.


"Hei Din, pagi!" sapa Eva yang duduk di sebelahnya.


"Pagi," balas Dinda sambil menarik kursinya.


"Cuma begitu saja jawabnya," Eva memulai tingkahnya. "Nggak ada ucapan lain gitu!"


Awalnya Dinda tidak menyadari jika Eva pindah juga ke kantor pusat, Dinda tahu keberadaan Eva setelah dirinya mengambil tempat duduk.


"Eva!" pekik Dinda kaget. Mulutnya ternganga, dia tidak percaya bahwa Eva bisa sekantor dengannya. "Kamu bagaimana mungkin ada di sini?"


Eva yang sedang mengetik, menghentikan sebentar pekerjaannya. Dia menatap Dinda serius dengan sorot mata yang tajam. "Tentu saja bisa," balas Eva. "Pak Steve Minggu lalu merekomendasikan aku dan Pak Zico masuk ke sini, jadi mulai sekarang kita satu kantor lagi?" Eva terlihat bahagia, apalagi Dinda yang tak terpisahkan akhirnya bisa bersatu dengannya.


Dinda mengerutkan alisnya, tangannya menggaruk lehernya sambil keheranan atas apa yang terjadi saat dia tidak masuk di kantor.


"Nggak usah bingung begitu," Eva berulah. "Pak Steve memasukan aku dan Pak Zico ke sini karena kamu hilang mendadak. Kalau kamu nggak hilang dua Minggu lalu, mana mungkin Pak Steve mau memikirkan kami datang ke tempat ini."


Dinda sempat termangu pada cerita Eva. Pria itu sampai-sampai memasukan Eva dan Zico ke perusahaan pusatnya hanya karena Dinda menghilang dalam beberapa jam tempo hari setelah kembali dari Shanghai.


"Terus, Pak Zico dimana sekarang?" tanya Dinda. "Dia hari ini masuk?"


"Tuh," Eva menunjukan ruangan milik Zico menggunakan bibirnya. "Dia memiliki ruangan tersendiri."


Dinda memanjangkan lehernya, dia berdiri melihat kearah ruangan yang di maksud oleh Eva.


Setelah melihat ruangan Zico, Dinda hanya ber-oh kecil sambil menganggukkan kepalanya.


"Terus, nggak ada kejadian lain-kan selama dua Minggu ini?" tanya Dinda lagi. Dia penasaran seperti apa kantor ini saat dia tidak masuk.


Eva melirik kanan kiri, suasana ruangan mereka sedang hening, para kolega di sekitar mereka berdua sedang fokus pada pekerjaan.


Eva memulai gosip dengan suara pelan khas dirinya. "Semua orang sudah tahu kalau kamu dan Steve bersama," ucap Eva mengatakan gosip yang sedang hilir mudik di seluruh seisi kantor.


"Apa!" Teriak Dinda tak bisa menahan suaranya yang besar. "Semua orang tahu? Seisi kantor?"


"Sssttt...." Eva menutup mulut Dinda. "Jangan berisik!" serunya.


"Kamu seriusan kalau semua orang sudah tahu?" Dinda membelalak membesarkan matanya, kekhawatirannya selama ini akhirnya terjadi. "Kamu lagi nggak bercanda-kan?"


"Tentu saja semua orang tahu!" Eva berkata agak sebal. "Bahkan aku sendiri, teman seperjuangan kamu sejak SMA, yang sudah mengetahui semua tentang kamu, hingga rahasia terkecil kamu, tidak kamu beritahu tentang kisah ini. Wah, kamu teman yang jahat," kata Eva merajuk.


Eva memalingkan wajahnya, memutar kursinya menghindari kontak mata dengan Dinda. "Jangan sentuh aku. Aku sedang marah pada teman yang berbohong pada ku!" gerutu Eva.


"Aku saja belum menyentuh kamu," jawab Dinda. "Nggak usah mendramatis deh!"


Eva yang sempat memalingkan wajahnya, tidak bisa menolak pesona Dinda yang menggemaskan. "Aku masih marah sama kamu, tapi kamu? Karena menjadi teman yang jahat, sampai-sampai nggak mau membujuk ku!"


"Hei," Dinda berusaha bersikap natural. "Bukan maksudku membohongi kamu, hanya saja saat itu kami baru saja pacaran. Masa langsung pamer?" kilah Dinda.


"Nggak masalah!!" Sahut Eva. "Kalian pamer di depan ku, bukankah aku sudah bertunangan. Mana mungkin aku akan iri pada hubungan kalian?" Eva mengomeli Dinda dengan mulut licinnya.


"Kalau saja saat di kafe waktu itu kamu mengakuinya, maka aku akan dengan senang hati membantu hubungan kalian agar tidak terjadi salah paham. Tapi kamu justru tidak mau mengakuinya," ucap Eva melanjutkan gerutunya. "Teman macam apa kamu ini Dinda?" tuntut Eva memelas.


Dinda memasamkan wajahnya, dia menanggapi perkataan teman sejawatnya itu sinis. "Oke, karena kamu sudah tahu hubungan ku dan Pak Steve, tidak ada lagi yang harus aku sembunyikan dari teman ku yang cerewet ini!" Dinda meledeknya. "Aku tidak berbohong lagi-kan!"


Tetap saja, Eva sudah sebal pada Dinda, Eva tidak mudah dalam membaikan suasana hati yang sedang merajuk. "Kamu tega membiarkan aku tahu hubungan kalian dari mulut orang lain. Aku sebal pada teman ku yang jahat ini," Eva kembali merajuk untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Dinda hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah menjadi tingkah Eva yang selalu merajuk jika ketinggalan info gosip.


"Dinda, mulai sekarang, meja kerja kamu bukan disini lagi," Mira selaku kepala bagian keuangan menyela perbincangan keduanya di tengah jam kerja. "Kamu akan di pindahkan."


Mira baru saja masuk karena sebelumnya di panggil oleh Steve mengenai laporan penjualan yang belum sempat di laporkan dua pekan ini.


"Memangnya aku akan di mutasi kemana Mbak?" tanya Dinda yang tak mengerti atas pemindahan dirinya. "Kenapa tiba-tiba seperti ini?"


Mira mendekati Dinda, dia ingin menyampaikan prihal pemindahan Dinda. "Sebenarnya, kamu akan di pindahkan di depan ruangan Pak Steve," ucap Mira memberitahu. "Jadi, kamu akan menggantikan sekretaris lama yang sudah mengundurkan diri. Oleh karena itu, meja kerja kamu mulai hari ini bukan lagi di bagian keuangan, tapi di depan ruangan kerja Pak Steve," jelas Mira.


Dinda hampir melupakan bagian terpenting ini, bahwa sejak Steve mengadakan rapat dengan vendor asal Jerman, dia sudah menjadi sekretaris Steve. Dinda ingat pada bagian ini, Steve yang pemaksa.


"Kalau sudah paham, sebaiknya kamu ke meja kerja khusus kamu. Nanti Pak Steve akan gundah," goda Mira. "Tidak melihat gadis kecilnya," Mira terkekeh.


Dinda tersenyum memaksa. Dia malu mengakui bahwa dia menjadi wanita Steve.


"Hoi... Hoi..." Teriak Mira meminta perhatian seluruh teman sejawatnya. "Mulai hari ini, semua laporan bagian keuangan atau laporan lainnya harus di serahkan pada Bu Dinda, tolong di ingat semuanya," tukas Mira memberitahu. "Jangan sampai lupa. Selalu ingat, segala sesuatu yang berhubungan dengan berkas penting yang hendak di serahkan ke atasan, harus melalui sekretaris Pak Steve. Kalian paham!"


Semua karyawan bagian keuangan mengangguk, mereka mendengarkan ucapan Mira.


"Nah mulai sekarang, ingat posisi kamu ya Bu Dinda," Mira menggoda seraya terkekeh. Dia menepuk pundak Dinda lalu meninggalkannya yang sedang termangu.


Di meja kerja Dinda yang baru, entah kenapa mimpi menjadi seorang sekretaris ini bukan keinginan Dinda. Alih-alih mengabdi menjadi karyawan akuntan, justru Dinda makin sibuk dengan laporan yang menumpuk di atas meja.


Dinda menghela nafas panjang nan lelah. Dia mengamati semua berkas-berkas yang menumpuk tinggi di hadapannya. Baru kali ini aku di hadapi situasi seperti ini, ucap Dinda mengeluh.


Di meja Kerja barunya ini, Steve yang baru saja tiba di kantor memberikan senyuman manis pada Dinda yang berdiri menyambut kedatangannya.


Di dalam ruangan Steve yang besar, dia menelpon Dinda melalui interkom-nya. Meminta Dinda masuk menemuinya, walau dalam benak Dinda baru saja dia melintas di hadapannya.


Meskipun jarak antara ruangan Steve dan meja kerja Dinda hanya berjarak beberapa meter dari daun pintu, tetapi Steve lebih suka mendengar suara gadisnya itu dari balik sambungan kabel dari pada membuang tenaga menghampirinya.


Kini, di dalam ruangan Steve, Dinda berdiri tepat di hadapan pria galak sekaligus kekasihnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Dinda canggung. Dia sulit membedakan bagaimana harus berkata yang baik di depan dua orang yang sama tapi berbeda karakter.


"Panggil saja aku dengan panggilan yang sama seperti kamu memanggil kekasih mu sebelumnya," Steve memahami rasa canggung Dinda. "Jangan pernah mengulangi memanggil ku Pak, aku belum setua itu."


"Padahal kita sudah hampir satu setengah bulan pacaran. Kenapa rasanya canggung seperti ini," Dinda mengeluh.


Steve berdiri menghampiri Dinda yang di selimuti rasa canggung dan gugup. "Kamu ingat saat di awal-awal kita pacaran?" Steve berkata. "Kamu menuruti permintaan ku untuk tidak memanggil ku Pak Steve. Namun kali ini kejadian itu terulang. Kamu kembali canggung memanggil ku dengan sebutan sayang, Steve, atau apapun itu. Jangan di ulangi memanggil Pak!"


Steve mendongak dagu Dinda, dia melihatnya dengan tatapan menggoda. "Di mana pun kita berada, panggil saja aku Steve. Jangan panggil aku bos, Pak, atau apalah itu!" tegasnya. "Aku tidak mau ada formalitas diantara aku dan kekasih ku."


"Tapi aku malu pada karyawan lain," rengek Dinda. "Mereka sudah tahu hubungan kita."


"Bagus itu," jawab Steve. "Jadi tidak perlu lagi kita memberitahu orang lain kalau kita pacaran?" Steve menaikan alisnya, sambil menggoda Dinda. "Jadi karyawan pria di kantor ini tidak akan menggoda kamu lagi!"


"Tapi...."


"Sudah!" sambar Steve. "Jangan pikirkan hal lain."


Steve tiba-tiba memeluk Dinda, dia berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa tidak ada yang perlu di cemaskan. "Selama aku ada di sisi kamu, aku akan menjamin tidak akan ada orang lain yang menyakiti kamu. Aku berjanji."


"Terima kasih sudah memahami ku," Dinda mulai merasakan kehangatan dan ketenangan saat pria itu memeluknya. "Kedepannya, aku tidak akan canggung lagi."


"Kamu yakin," bisik Steve.


Dinda mengangguk. "Sangat yakin. Hanya butuh waktu untuk terbiasa memahami situasi sulit ini," lirihnya.


Dari balik kaca ruangan Steve, Eva yang menghampiri meja kerja Dinda, tidak sengaja melihat adegan pelukan Steve pada Dinda.


Steve menyadari bahwa wanita itu melihat mereka. Dengan cepat Steve memutar tubuhnya yang tinggi agar Eva tak melihat Dinda.


"Jangan bergerak, Eva ada di luar," bisik Steve. "Nanti dia akan melihat kamu."


Dinda mencuri-curi perhatian, dia melihat bagian jendela. "Dia sudah pergi," Dinda memberitahu.


Steve mengakhiri pelukannya di pagi hari ini. Steve mendeham seraya merapikan jas hitamnya, sambil bersikap normal menutupi rasa hatinya yang berdebar.


Steve mengambil kursinya, lalu duduk dengan posisi angkuh khas dirinya.


"Paman Lu kemarin memberitahu aku, bahwa ada acara khusus pengusaha yang akan di selenggarakan di hotel sekitar sini, aku ingin kamu menghadiri acara ini bersama ku!" Ujar Steve menyampaikan keinginannya.

__ADS_1


"Tapi aku..."


"Sore ini aku akan meminta butik mahal mengirimkan gaun ke rumah kamu, jangan di tolak," kata Steve mengakhiri dalih Dinda.


"Iya, nanti aku akan datang," Dinda berkata sayu. Dinda tidak bisa membantah permintaan Steve, dia pemaksa. "Kalau tidak ada yang ingin di katakan lagi, sebaiknya aku kembali bekerja, berkas menumpuk tidak karuan," Dinda ingin beranjak meninggalkan ruangan Steve.


"Aku rasa kamu lupa sesuatu?" tegur Steve pada Dinda yang baru beberapa langkah menjauh dari Steve.


"Lupa?" Dinda membalik badannya. "Aku rasa nggak ada deh," jawab Dinda. "Mungkin kamu yang salah ingat?"


Steve men-decak. "Tsk! Masa baru kemarin berpisah, kamu sudah lupa," Steve mengisyaratkan, sambil menunjuk pipinya.


Dinda paham, yang di maksud Steve adalah kiss di pagi hari sebagai penyemangat kerjanya.


"Bukankah kamu pernah bilang kalau nggak mau minta ciuman lagi?" Dinda mengingatkan Steve. "Apa kamu lupa?"


Steve berdiri, seraya berjalan sok keren layaknya model mendekati Dinda. "Itu kan hanya ucapan ku saja, agar kamu nggak meninggalkan ku," Steve mengakui kebenaran bahwa dia tidak berkata serius. "Memangnya mulut manis seorang Steve bisa di percaya dalam merayu wanita?" Steve mendekatkan wajahnya tepat di batang hidung Dinda, Steve melihat sepasang bola mata yang bersih itu.


"Jadi!!"


Steve tersenyum picik, dia mendekati pipinya yang tegas di bibir Dinda. Dia mengisyaratkan agar wanita itu tidak buang-buang waktu untuk menciumnya.


Terpaksa bagi Dinda harus menuruti kemauan Steve yang tak bisa di elak.


"Sebenarnya aku tidak mau mencium kamu kali ini," bisik Dinda.


Mendengar suara Dinda yang pelan itu, mendadak Steve menegakkan badannya seperti semula. "Apa maksud kamu?" Steve penasaran. "Jangan bilang kalau kamu mulai membangkang sekarang!" ringkasnya.


Dinda menjinjit, dia berkata pelan di telinga Steve. "Sebenarnya kemarin Ibu bilang kalau dia mulai merestui hubungan kita."


"Apa? Merestui?" Steve membelalak kaget. "Kamu tadi bilang Ibu merestui hubungan kita?" tanya Steve memastikan. "Kamu nggak bercanda-kan?"


"Aku berkata serius," Dinda mengangguk, dia mengatakan sejujurnya. "Setelah seminggu melihat kamu, apalagi kamu terlihat sangat gigih dan serius, Ibu mulai luluh. Saat pindah ke rumah baru kemarin, ibu mengatakannya!" Ungkap Dinda. "Dia menyukai pria seperti kamu. Pria yang perhatian, ramah, dan bertanggungjawab."


Steve mendeham agak keras. "Secepat ini?" ucap Steve yang tidak bisa percaya atas apa yang baru saja Dinda katakan. "Ibu menerima dan membuka jalan restunya untuk ku?"


Dinda kembali mengangguk sambil tersenyum bahagia apalagi melihat ekspresi Steve yang kegirangan.


"Yes!" Steve mengepal tangannya sangat bersemangat.


Steve meluapkan rasa gembiranya pada


Dinda, dengan spontan dia memeluk Dinda. "Aku semakin semangat bekerja kalau begini," Steve berkata di telinga Dinda. Dia meluapkan seluruh rasa bahagianya pada Dinda. "Aku senang, akhirnya Ibu mau menerima ku!" ucap Steve bangga.


"Gadis ku hari ini membawakan aku berita seperti ini, aku merasa semakin tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini," lanjut Steve menumpahkan rasa senangnya. "Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan kebahagiaan ini."


"Sudah-sudah," Dinda mengakhiri bicara konyol Steve. "Sudah aku bilang, kalau Ibu butuh waktu untuk mengenal karakter kamu."


Steve memegang tangan Dinda, dia bersikap sok imut. "Aku sangat bersemangat, sampai-sampai aku hampir saja membawa kamu ke kantor urusan agama. Aku sudah tidak sabar memiliki kamu seutuhnya," Steve berkata narsis.


Dinda meringkuk tertawa kecil, kata-kata Steve makin hari makin ngawur pikir Dinda. "Sebaiknya aku keluar sekarang, jam kerja ku akan terlantar jika kita hanya bicara mengenai hal aneh ini," kali ini Dinda benar-benar meninggalkan Steve sendirian di ruangannya.


Steve tidak menahan Dinda lagi, karena perasaannya dalam situasi bahagia. Dari balik jendela kaca, Dinda diam-diam mengintip Steve yang tengah menari kegirangan.


Dinda terkekeh melihat Steve yang menari tak jelas di dalam ruangannya.


Berulang kali Steve mengatakan 'YES' dengan semangat membara.


Dinda terus terkekeh melihat tingkah Steve yang tak bisa menahan rasa senangnya.


BERSAMBUNG


Bonus drama Steve dan Dinda:


"Kamu sudah kaya, mapan, tampan dan perfeksionis. Kenapa kamu giat banget dalam bekerja?" ucap Dinda. "Uang kamu tidak akan habis selama tujuh turunan."


"Karena aku tidak mau calon pendamping hidupku menderita karena kekurangan uang," balas Steve. "Tanggung jawab seorang pria bukan hanya sekedar mencari nafkah, tetapi juga menghormati istrinya."


"Tapi-kan, kita bisa berjuang bersama-sama. memulai dari nol," sahut Dinda.


Steve menyentik dahi Dinda. "Kamu di perlakukan bagai Princess oleh orang tua kamu. Lalu seenaknya aku mengambil anak gadis orang dan memintanya berjuang bersama-sama memulai dari nol," Steve tertawa memaksa. "Itu hal konyol!"


Dinda termangu, dia ingin memahami maksud pria aneh ini.

__ADS_1


"Satu lagi," Steve menambahkan. "Aku ingin memperlakukan kamu layaknya putri mahkota seperti yang pernah orang tua kamu lakukan," katanya. "Kita bukan di SPBU yang harus di mulai dari nol!"


__ADS_2