
“Aku lebih suka menjadi diriku atas kemauan ku sendiri. Bukan menjadi diriku namun terkungkung atas kemauan orang lain.”
_____________________________________________
Delapan bulan berlalu. Putra Steve akhirnya sudah bisa merangkak dan duduk. Anak itu tidak rewel, jarang menangis dan dia selalu ceria.
Kecuali saat lapar dia memang agak cerewet kalau meminta makanannya. Hanya itu yang membuatnya menangis. Selebihnya, dia tidak pernah rewel. Seperti sebelumnya, Iqbal bocah yang baik. Steve makin mencintai putranya ini, sebab dia terlalu menggemaskan.
Setidaknya, apa yang Steve pikirkan tentang seorang anak yang akan menyusahkan tidak terwujud. Kini dia bisa dengan tenang tidur. Dan uniknya, Steve selalu terbangun jam dua pagi ketika lapar, dan itu di ikuti oleh putranya juga yang sering menangis sesaat setelah dia bangun.
Dinda sudah mulai membiasakan diri terbangun di jam segitu. Selain Suaminya ingin meminta di buatkan makan, Dinda juga memberikan si kecil asupan. Tidak lelah, justru menyenangkan. Dan tidak terasa jika Iqbal sudah berusia setahun lebih, maka mereka akan pindah ke Shanghai. Oh, Dinda tidak keberatan akan hal ini, hanya sedih saja meninggalkan adik dan Ibunya.
“Iqbal sudah tidur?” tanya Steve pada Dinda.
Istrinya itu tengah mengayun putranya di dalam ayunan berbentuk keranjang. Dan memang si kecil tidur terpisah di kamarnya—yang bersebelahan dengan kamar Steve dan Dinda.
Dinda mengangguk pelan ketika suaminya bertanya.
Steve mendekati Dinda, lalu membisik pelan di telinganya. “Seharusnya ini malam kita,” lirihnya dengan ucapan mengode.
Dinda paham maksud suaminya ini. “Biarkan Iqbal tidur agak lelap. Nanti dia terbangun jika aku pergi.”
Steve menggigit gemas telinga Dinda. Dia sudah tidak tahan lagi menahan untuk tidak mencumbu istrinya.
“Bisakah si kecil tidak mengganggu Ayah dan Bundanya penetrasi malam ini.”
“Aku tahu. Tapi dia baru saja tidur!”
“Tapi aku tidak bisa menahannya.”
Kesabaran Steve sudah di puncak. Wajahnya sudah memerah tak tahan lagi menahan dirinya sendiri.
“Sayang. Apa yang kamu lakukan!”
Steve tiba-tiba menggendong Dinda. Lalu membawanya keluar dari kamar si kecil.
“Ssstttt.... Sudah lama kamu tidak memberikan aku layanan yang signifikan. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi malam ini,” ucap Steve membisik pelan.
Tangan Dinda melingkar di leher Steve. Napas harum suaminya ini teramat menggoda.
“Bagaimana jika Iqbal bangun?”
“Kita urus itu nanti. Yang terpenting, suami mu saat ini,” balas Steve menggesa.
Dinda kikuk terdiam. Dia tidak membantah, lagi pula suaminya sudah cukup lama menahan diri.
Steve membawanya ke kamar mereka. Malam itu pukul hampir jam sepuluh malam, Stevie baru keluar dari dapur karena ingin mengambil minum.
Ketika melihat Dinda dan Steve saling menggendong, mendadak Stevie terbatuk. Tidak keras, hanya batuk tersedak air. Keduanya tidak mendengar, hanya dia sendiri yang menikmati alunan batuknya.
“Sial. Mereka memamerkan kemesraan di depan ku!” umpat Stevie melongos.
Namun tak ubah dia terpekik terkekeh. “Ternyata aku akan dapat keponakan lagi!”
....
Steve menurunkan pelan tubuh Dinda yang tak berubah pasca melahirkan di atas kasur. Dia tetap ramping, dan istrinya itu memiliki bakat dalam hal keseksian tubuh.
Steve terburu membuka kaus putih yang dia gunakan. Memang gairahnya tak bisa di tahankan.
Dinda makin mendebar. Sudah lama tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan suami istri seperti ini semenjak mengandung si kecil.
Degup jantung makin kencang, napasnya mulai memburu panik.
Steve, memulai permainannya. Dia mencumbu bibir Dinda. Meraupnya hingga habis, dan tidak membiarkan istrinya meronta.
Dinda hanya kikuk, menahan napasnya.
Sambil mencumbu bibir manis Dinda, Steve menuntun Dinda membuka seluruh penutup tubuhnya. Sebagai seorang istri, Dinda hanya bisa menahan diri dan tidak berani menolak.
“Tapi sayang. Aku belum siap jika harus mengandung lagi!” kata Dinda. Usai Steve berhenti pada kegiatan mencium bibir istrinya.
Steve tersenyum, dia juga tahu akan hal ini. “Aku juga tidak mau terburu-buru membuat anak kedua. Satu saja cukup,” balas Steve dengan senyum sumringah.
Kemudian dia melanjutkan lagi aksinya.
Ya. Setidaknya suami ku bisa memahaminya.
__ADS_1
•••••
Usai melakukan hal-hal konyol suami istri ini. Mereka hanya tidur beberapa jam. Karena mendadak Dinda ingat kebiasaanya yang bangun jam dua. Dan satu hal yang Dinda ingat kalau sudah menyambut mata terbuka lebar, yaitu bayi kecil sudah terbangun. Walau agak berat, Dinda memaksa membuka matanya.
“Sayang. Sudah jam dua kah Sekarang?” tanya Dinda pada Steve. Dia meregangkan seluruh badannya, sebelah tangannya meraba kasur. “Sayang!” Dinda terperangah kaget. Steve tidak ada di kamar.
Dinda melihat jam di atas meja, di sana menunjukan waktu jam dua lebih tiga menit.
Dinda meraih baju tidurnya. Memang usai melakukan hal-hal semacam itu, mereka tidak memakai pakaian langsung. Tapi langsung tertidur.
“Oh. Apakah Iqbal ku sudah bangun?”
Dinda memburu, dia ingin secepatnya menuju ke kamar putranya. “Biasanya Iqbal di saat seperti ini menangis. Kenapa sekarang tidak.”
Ketika sampai di depan pintu kamarnya, karena memang jarak kamar Iqbal dan kamar Dinda berjarak beberapa meter. Pintu kamar sudah terbuka lebar.
“Loh. Kenapa pintunya terbuka seperti ini.”
Dinda menelisik sekeliling kamar putranya, bahkan di keranjang tidur anaknya tidak ada. Namun dari bawah, Dinda mendengar suara wajan jatuh. Suara itu cukup keras.
“Sayang!” pekik Dinda ketika mendapati Steve ada di dapur. “Oh syukurlah!”
Dinda menghela napas panjang, suaminya ada di dapur sedang memasak. Sementara tangan sebelahnya menggendong putranya.
Ketika melihat Dinda, Iqbal yang sedang dalam pelukan Ayahnya ini. Menjatuhkan empeng bayi, lalu menangis minta di ambil oleh Dinda. Anak itu sudah hapal Ibunya.
“Sayang bunda di sini.”
Dinda mengambil putranya dari pelukan sang Ayah, sementara Steve tetap melanjutkan masakan sederhananya.
“Kamu tadi terlihat lelah. Makanya aku yang menggendong dan membawa Iqbal ke dapur. Menemani Ayahnya memasak. Iyakan Sayang,” kata Steve pada Dinda—juga pada sang bocah kecil. Namun satu tangannya mencubit pipi lembut anak itu.
“Seharusnya kamu bangunin aku. Kan aku bisa memasaknya untuk kamu. Nggak perlu sungkan pada ku seperti ini.”
Dinda agak merasa bersalah kalau Steve terus tidak mau merepotkan dirinya seperti sebelumnya. Steve mencium kening Dinda, dia memahami rasa lelah istrinya ini.
“Nggak masalah kok. Walau ini kali pertamanya aku memasak mie instan. Yang penting istri ku tahu kalau aku ini suami yang bisa di andalkan.”
“Gombal.”
Dinda mengangguk, di ikuti kekeh geli. “Masal mie saja, airnya penuh panci.”
Steve melirik panci yang di maksud, dan sialnya. Steve memang tidak tahu takaran memasak mie. Sungguh, demi putranya. Dia tidak paham, dan ini kali pertama dia menyentuh alat dapur seumur hidupnya.
“Aku mana tahu seberapa banyak air yang harus di gunakan untuk memasak mie. Karena, semasa kuliah dulu, Zico atau kak Stevie yang memasaknya untuk ku. Jujur.”
“Bohong....”
“Sumpah. Suami mu ini tidak bohong.”
Dinda kembali terkekeh. Suaminya amat polos prihal masalah dapur. “Iya deh, aku percaya.”
Dinda menemani Steve memasak di dapur, sambil menggendong putranya. Tapi rasanya tidak adil kalau dia hanya melihat suaminya saja. Sementara dirinya tidak melakukan apapun.
“Gendong Iqbal. Biarkan aku yang memasak mie ini. Kamu nggak bakal tahu nanti.”
Steve mengangkat kedua alisnya. Padahal dia bisa melakukannya, namun apa boleh buat. Dinda sangat takut kalau dirinya mengacau di dapur. Mau tak mau, Steve mengambil Iqbal dan menggendongnya.
“Beruntungnya kita Nak punya bunda yang pengertian,” bisik Steve pada putranya. Dinda mendengar bisikan itu, terkekeh— merasa senang di puji.
“Pokoknya kamu harus cepat besar. Ayah tidak mau kalau kamu terus menyusu di puding Bunda. Ayah tidak rela harus berbagi barang Ayah dengan kamu Nak. Kamu harus tahu, hanya ayah yang boleh memilikinya. Kamu tidak boleh ikut-ikutan memiliki puding Bunda.”
Dinda menggeleng. “Dia anak kecil. Mana mungkin Iqbal akan mengerti ucapan Ayahnya,” kata Dinda menyahut.
“Siapa peduli. Dia putra ku. Dia harus tahu apa yang Ayahnya inginkan.”
“Ya lah. Terserah.”
Bayi kecil ini memang tidak mau tidur kalau sudah bangun seperti ini. Karena Steve sudah memberikannya empeng dot, jadi Iqbal tidak merengek.
“Ayo. Mie nya sudah masak.”
Seperti biasanya, Steve suka makan di kamar. Dia ingin makan kalau melihat putranya makan.
Mereka menuju ke kamar di lantai atas. Steve menggendong putranya, sementara Dinda membawa mie dan minum untuk suaminya itu.
Dinda memberikan putranya makan di atas kasur, sedangkan Steve menyantap mienya.
__ADS_1
“Sayang,” rengek Dinda dari kasur. Tidurnya agak miring, sambil menatap Steve makan di meja kerjanya. “Maaf ya kalau hari ini aku tidak masak banyak. Kak Stevie menghabiskan semuanya. Aku merasa bersalah melihat suami ku hanya makan mie instan saja malam ini.”
Steve mendengus, di ikuti senyum agak riang. “Meskipun hanya mie instan yang di suguhkan istri ku. Namun rasanya lezat, hampir menyamai makanan manapun.”
Dinda terharu. Selama ini Steve tidak pernah menyusahkan dirinya. Yang ada dia sangat mengerti akan keadaan Dinda.
Usai Steve makan, dia ikut terbaring di sebelah Dinda. Iqbal berada di tengah, sambil menyusu pada Ibunya.
“Aku tidak mau istri ku kesusahan. Aku tahu rasanya pasti berat kalau harus mengurus suami dan anak dalam waktu yang bersamaan. Sudah cukup istri ku merasa lelah, aku tidak berani menyusahkannya lagi.”
Steve mengusap lembut pipi Dinda, rasanya bahagia itu belum hilang setiap kali melihat wajah istrinya.
“Terima kasih sudah mengerti.”
Steve mengangguk. Tangan-tangan nakalnya tak bisa diam menggangu putranya yang sedang menyusu itu.
“Sayang,” kali ini Dinda merengek lagi . Steve menaikkan kedua matanya, menjawab dengan bahasa tubuh. “Setiap kali aku perhatikan Iqbal. Sepertinya aku merasa kalau anak kita benar-benar mirip kamu sewaktu kecil.”
“Benarkah?” tanya Steve memastikan. “Dalam hal apa?”
Dinda mengangguk pelan. Mungkin Steve tidak menyadarinya. Namun Dinda cukup memahaminya.
“Segalanya sepertinya mirip kamu. Dari matanya yang indah, hidungnya lancip seperti kamu. Bibirnya tipis, dan dia tidak rewel. Aku merasa sepertinya Iqbal kita memang mengambil segalanya dari kamu.”
Steve tersenyum menyombong. Dinda tidak tahu, kalau semua produk yang di buat dari benih Steve haruslah mirip dengannya. Dan itu sukses, bahkan wajah Iqbal kecil hanya sedikit mengambil wajah Ibunya, hampir seluruhnya mirip Steve.
“Sudah aku katakan. Putra ku harus mirip dengan Ayahnya. Walau ada kemiripan dengan sang Ibu, itu aku pastikan hanya sepuluh persennya saja.”
“Sisanya?”
“Harus mirip ayahnya.”
“Ya, ya, ya. Suami yang sombong sudah mulai pamer.”
Siapa peduli.
“Kamu adalah wanita yang paling beruntung karena mendapatkan suami setampan Steve. Apalagi mendapatkan putra darinya. Kapan lagi kamu mendapatkan berkah dari langit seperti ini.”
Steve mencoba mengakui sisi narsisnya. Namun Dinda menanggapinya dengan sinis, dia tidak berharap begitu.
“Setidaknya. Aku harap putra ku nanti tidak angkuh seperti Ayahnya.”
Steve mendengus. “Walau angkuh, Bunda dari anak ini bisa jatuh cinta pada Ayahnya. Cukup membuktikan kalau Ayah Iqbal memang tidak bisa di lupakan pesonanya. Benarkan!”
“Jingan!” timpal Dinda.
°°°°°°°°°°°°
Stevie memandangi wajah mungil Iqbal. Sumpah, Stevie ingin mengakui kalau bayi mungil ini sungguh menawan. Dia merasa iri dengan Dinda karena memiliki putra setampan ini.
Seperti biasanya, setiap pagi Stevie selalu menggendong si kecil. Ayah bayi kecil sudah berangkat kerja, sementara Ibunya sedang mandi. Ah, gemasnya pikir Stevie anak ini. Tak ada bosannya mencubit dan mencium pipinya.
Napas anak kecil amat harum, dan Stevie merasa rileks setiap kali menghirup aroma napas anak kecil ini.
“Tante sangat tidak bisa berpisah dari kamu. Tante sudah candu kalau melihat wajah kamu sayang,” kata Stevie pada Iqbal.
Setiap kali Stevie melucu di hadapan anak ini, dia selalu tertawa terpingkal-pingkal.
Apakah jika aku nanti menikah, anak ku akan setampan Iqbal. Ataukah aku akan tetap berkutat menjadi perawan tua. Oh, sungguhan, aku tidak bisa membayangkan harus menikah dengan pria itu.
Selama bayi ini hadir, selama itu pula Stevie menghindar dari para tetua yang memaksanya menikah.
Dan sehari-hari Stevie hanya bermain dengan si kecil, dia tidak berani keluar. Jika sampai keluar, tidak tahu. Apakah nanti dia bertemu dengan orang-orang calon suami yang di jodohkan Sang Papa.
Stevie saat ini tidak mau mengambil resiko menikah di usia muda. Kariernya masih cerah, dia masih ingin tetap meniti karir alih-alih menjadi wanita rumah tangga.
“Oh. Iqbal. Tante bingung. Apakah Tante harus menikah dengan pria itu atau tidak. Mohon, berikan Tante pencerahan. Haruskah Tante menikah? Atau Tante harus bertahan menjadi wanita tua?”
Memang bodoh kalau bertanya pada anak kecil. Bukannya memberikan saran, Iqbal justru mentertawakan Stevie yang memelas di hadapannya. Bukan memberikan solusi seperti yang dia harapkan.
“Apakah kamu mentertawakan Tante? Sungguh kamu meledek Tante sepertinya.”
Stevie menyadarinya. Akhir-akhir ini dia sedang sensitif.
“Akh. Anak kecil ini akhir-akhir ini suka meledek Tante. Hiks.”
TO BE CONTINUE
__ADS_1