
ROAD TO PLAN
Johan berjalan agak terburu-buru menuju ke ruangannya. Namun saat tiba di depan pintu, tiba-tiba telepon dari saku celana bahannya berbunyi.
"Kami sudah menjalankan rencana seperti yang anda pinta. Segeralah datang, jangan membuang waktu kami!"
Dari telepon yang baru saja dia jawab panggilannya, seseorang yang menghubunginya berkata kilat, tak lama kemudian mematikan panggilan telepon itu.
Johan tahu, inilah waktunya. "Sebentar lagi sandiwara akan di mulai. Aku harus bergegas," katanya tanpa berpikir empat kali.
Niatnya ingin masuk ke dalam ruangan, ia batalkan. Keadaan ini jauh lebih penting dari pada membahas masalah kantor yang tiada akhir. Entah apa, tapi rasanya Johan tidak mau kalau hal ini dilewatkan begitu saja.
Jalannya yang terburu-buru itu, tidak sengaja berpapasan dengan sang Ibu di depan lobi kantor. Ibunya terlihat rapi, dengan rambut di ikat Cepol, riasan wajahnya juga terlihat segar.
"Mau kemana kamu Jo? Kenapa tergesa-gesa begitu?" tegur sang Ibu yang ingin tahu prihal kegusaran sang putra.
"Ehm.... Johan ada urusan mendadak Ma, dengan klien."
"Klien?" Ibunya mengerutkan keningnya, pikir sang Ibu, tidak biasanya. Johan yang terkenal santai, kenapa agak terburu-buru. "Papa kemana? Kenapa ketemu klien nggak bersama Papa."
"Johan sebenarnya sudah di tunggu klien sekarang. Kalau Papa nggak tahu dimana. Mungkin dia ada di ruangannya." Johan menengok jam di tangannya, sudah tidak ada waktu lagi jika terus meladeni sang Ibu berkata. "Johan pergi sekarang. Maaf mengabaikan Mama kali ini."
"Johan, Mama belum selesai bertanya!" Nyonya Diana memanggil putranya, namun tetap saja itu tidak berhasil. Johan tidak menoleh, ketika di pintu digital kantor, Johan langsung tancap gas dengan mobil hitamnya. "Ckckck. Aneh tingkahnya akhir-akhir ini."
Nyonya Diana sebetulnya tak begitu memperdulikan kemana Johan pergi. Dia berniat pergi menemui sang suami. Jadi, dia melupakan Johan yang mengabaikan dirinya tadi. Saat dia menuju ke ruangan suaminya, beruntung pria yang memiliki perut bulat bak balon itu tengah duduk menyibukkan diri.
"Ada apa Mama datang ke kantor?" Tuan Tama berkata lebih dulu. Walau dia berkata, tapi matanya yang di tutup lensa kacamata itu tetap sibuk pada berkas-berkas di tangan.
Nyonya Diana duduk di sofa kulit hitam, sambil memeriksa sebentar kuku-kukunya yang baru saja di cat berwarna biru laut. "Mama ingin bicara penting pada Papa."
"Mengenai apa?"
Satu hal yang paling di sukai oleh Nyonya Diana, yaitu kala merengek, suaminya berkata lembut. Mulut tua itu berkata manis, dengan cepat Nyonya Diana mencoba bertingkah agak manja di hadapan suaminya itu. "Tentang calon istri Johan. Apa Papa mau mendengar keluhan Mama!" katanya tanpa keraguan.
Mata yang sedang fokus pada pekerjaannya itu, melirik sang istri yang bersikap manja di hadapannya. Namun, kali ini membahas tentang calon istri putranya, sehingga fokusnya teralihkan. "Kenapa membahas hal ini sekarang. Nggak biasanya."
"Soalnya Mama sudah nggak sabaran Pa, ingin melihat Johan segera menikah. Lagi pula, Mama nggak mau kalau Mama mati sebelum melihat cucu Mama."
"Terburu-buru begini. Apa Mama sedang mencoba mendesak Papa?"
Tuan Tama tidak mengerti maksud istrinya. Apalagi mendadak ingin membahas mengenai calon istri Johan, tentu saja pilihannya sudah jatuh pada Stevie.
"Bukan mendesak Pa. Tapi—Mama hanya ingin Papa melakukan satu hal untuk Mama. Apalagi, Mama belum pernah minta yang aneh-aneh ke papa. Bisakah Papa menuruti permintaan Mama kali ini saja."
"Ehm...." Tuan Tama tidak yakin apa itu permintaan sang istri, namun— "Katakan apa itu permintaan Mama. Jika tidak sulit, Papa akan mencoba menurutinya "
"Papa yakin?" seketika wajah wanita yang merengek itu, berubah agak semangat. Kata-kata ini yang dia harapkan, demi membantu sang putra.
"Katakan. Papa akan menurutinya." Tuan Tama mencoba menuruti kemauan istrinya. Lantaran, sampai saat ini pun memang wanitanya itu tidak pernah meminta yang besar padanya selama menyandang status istri konglomerat.
"Mama mau Papa kali ini merestui Johan menikahi Dinda."
"Johan menikahi Dinda!" ucapnya mengulangi.
Wanita bersanggul itu mengangguk. "Dinda bukan menantu yang buruk. Hanya latar belakangnya saja yang membuatnya di pandang sebelah mata. Coba Papa lihat, kenapa putra grup Wong tergila-gila pada gadis itu. Karena dia berbudi luhur, jarang-jarang anak ada gadis seperti dia." Membujuk Tuan Tama, tidak mudah bagi Nyonya Diana. Namun dia ingin melakukannya demi Johan, putra satu-satunya itu. Walau harus merengek bak anak kecil yang meminta di belikan kinder Joy, Nyonya Diana rela melakukannya.
"Jangan bilang kalau Mama mulai terpengaruh oleh Johan!" seru Tuan Tama yang terlihat agak berang.
Secepatnya, Nyonya Diana menyambar cepat ucapan suaminya itu. "Tidak Pa. Papa salah," ucapnya tergesa-gesa. "Dalam hal ini, Mama tidak terpengaruh oleh Johan. Mama memang menyukai Dinda berdasarkan perasaan Mama sendiri. Dan.... Berhubung keluarga Tama grup juga sudah ada di puncak tanpa bayang-bayang keluarga Heri, tidak masalahkan kalau kita mengambil Dinda sebagai menantu. Media tidak akan memberitakan hal-hal negatif mengenai Dinda. Mama jamin itu!"
"Menikahi Dinda dengan Johan. Papa pikir, Papa akan mempertimbangkannya dahulu. Papa takut reputasi keluarga Tama akan rusak kalau menikahkan mereka tergesa-gesa." Terlihat oleh Nyonya Diana, raut wajah suaminya seperti di lema.
Tidak peduli Tuan Tama akan bersikap seperti apa. Yang terpenting, Johan bisa bahagia. Hanya itu yang Nyonya Diana harapkan. Sejujurnya, dia tidak begitu membenci Dinda atau tak menyukainya. Hanya saja, dulu dia di pengaruhi oleh Vanya. Dan, karena keluarganya dalam kondisi di ambang ujung tanduk—hampir bangkrut, maka dia bertindak seperti ini.
__ADS_1
"Papa mau mempertimbangkannya dahulu?" katanya memastikan. "Papa yakin akan melakukannya?"
"Akan Papa usahakan kalau itu kemauan Mama."
Pria itu mondar-mandir di ruang kerjanya. Istrinya itu meminta hal aneh, apalagi sebelum-sebelumnya dia tidak begitu menyukai Dinda. Hal ini mengundang perhatian Tuan Tama agak curiga.
Ketika mereka sedang berdiskusi, bagian resepsionis menghubungi interkom kantor Tuan Tama.
****
Miko mencoba menghubungi kakaknya, dia ingin memberitahu berita ini pada Dinda. Berita, dimana Steve tidak ada di Jerman. Tapi, telepon Dinda sejak tadi selalu di alihkan.
Sehingga, sepulang sekolah, Miko pulang terburu-buru. Bahkan dia meninggalkan adiknya—juga tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler sore ini.
Miko berharap, dengan memberi tahu kakaknya—bisa membuat Dinda memiliki harapan kalau Steve baik-baik saja.
"Kak Dinda dimana Bu?" tanya Miko. Ketika membuka pintu rumah, dia terhenti lantaran ada Ibu di sofa sedang menjahit baju sambil menonton sinetron.
"Kak Dinda keluar sebentar. Katanya dia mau bertemu dengan temannya, siapa gitu. Ibu lupa namanya."
"Kak Eva?" Miko menebak.
Ibunya menggeleng. "Sepertinya bukan Eva. Tapi ada yang lain lagi," ucap sang Ibu sembari mengingat-ingat.
Siapa? Setahu ku teman kak Dinda hanya kak Eva. Lalu tidak ada yang lain.
Belum sempat bokongnya itu duduk beristirahat, Miko terlihat agak gusar.
"Kenapa kamu terlihat sangat cemas. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ibu pada Miko.
Sebenarnya bukan masalah yang serius. Hanya saja ekspresi Miko terlalu mencolok dan melakonis. Jadi Ibunya merasa kalau Miko sedang memendam sesuatu untuk di ceritakan pada Dinda.
"Nggak apa-apa kok Bu," jawab Miko. "Miko cuma mau bilang suatu hal pada kakak. Karena kakak nggak ada di rumah, jadi Miko kembali lagi ke sekolah ya Bu."
"Ya sudah, tapi pulang jangan terlalu malam. Takutnya kenapa-kenapa."
"Kak, Ayahnya kak Vanya di culik!" dari balik telepon itu, Niko berkata meninggikan suaranya. Tidak tahu apa maksudnya, Miko agak bingung menanggapinya.
"Vanya siapa?" tanya Miko. Dia mengingat-ingat, siapa Vanya. Seingat Miko, dia tidak punya teman bernama Vanya, atau kerabatnya yang bernama Vanya itu. Jadi—
"Vanya temannya kak Dinda!" seru Niko.
"Temannya kak Dinda?" "katanya mengulangi sambil mengingat-ingat kembali siapa itu Vanya. "Teman yang mana?"
"Teman kak Dinda mantan tunangannya kak Johan. Masa sih kakak lupa."
"Oh," tiba-tiba Miko ingat siapa Vanya. Wanita yang ada di hotel kala itu yang berdiri di sebelah Johan. Wanita angkuh, putri pengusaha yang sudah bangkrut itu. "Kakak ingat, kakak ingat," katanya menjawab. "Wanita yang dulu pernah bersikap sombong dan menjengkelkan itu kan!"
"Ya, itu pokoknya. Sekarang kakak datang ke kios tempat aku bekerja dulu. Kita akan mencari kakak bersama-sama. Jangan lupa, jangan biarkan Ibu tahu Mengenai hal ini!"
Adiknya memang tergesa-gesa dalam berkata. Bagai di buru, setiap ucapannya seakan di batasi.
"Apa hubungannya dengan kakak? Kenapa harus mencarinya segala?" tanya Miko lagi.
"Kak Dinda bersama kak Vanya. Oleh karena itu, mereka sekarang dalam keadaan yang sulit di jelaskan."
Miko berpikir sebentar, sebenarnya aneh saja saat Miko menelaahnya dengan benar. Papa teman kak Dinda yang di culik. Kenapa kak Dinda yang harus di cari?
Miko hampir lupa, kalau telepon masih terhubung dengan adiknya itu.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana berita penculikan ini?" tanya Miko kembali, sebelum telepon dari adiknya terputus.
"Tadi, pas di sekolah. Ibu pemilik kios menghubungi Niko. Katanya ada keadaan gawat mengenai kak Vanya. Makanya Niko buru-buru kesini."
__ADS_1
"Oke, oke. Kalau gitu kakak kesana sekarang!"
Hari itu bagi Miko sangat tidak wajar. Di saat dia ingin mengungkapkan kebenaran bahwa Steve tidak di rawat di Jerman. Di saat itu juga, entah kenapa malah ada kejadian lain yang seakan semuanya sudah terencana satu dengan yang lainnya.
Seolah kejadian ini, saling terhubung bagai mata rantai.
Langkah Miko yang mulai mencemaskan kakaknya, membawa Miko harus gerak cepat menuju ke kios tempat adiknya bekerja. Walau bukan kakaknya yang di culik, tapi ada kakaknya bersama Vanya. Tentu hal ini akan menyeretnya dalam pusaran konflik. Miko tidak mau hal ini terjadi, bisa-bisa kakaknya yang terkena imbasnya.
****
Dinda dan Vanya yang meninggalkan kios bunga menuju ke rumah kontrakan Vanya, tiba di sana tak menemukan siapapun. Kecuali, rumah yang berantakan, dan pintu yang terbuka lebar.
"Mereka benar-benar menculik Papa ku, Din," keluh Vanya mengadu. Dia menangis sesenggukan, tubuhnya merasa lemas, hingga dia duduk di furniture jati tanpa daya.
"Kamu yakin tidak tahu siapa yang menculik Papa kamu. Coba deh, kamu ingat-ingat. Mungkin ada yang dendam pada kalian." Dinda tidak tahu menahu mengenai kejadian ini. Saat itu, Dinda hanya bisa menemani Vanya. Gadis itu terlihat terpuruk menerima keadaan yang begitu pelik.
"Seingat aku nggak ada Din. Aku juga nggak tahu siapa yang menculik Papa. Jujur, aku tidak tahu siapa pelakunya!" Walau ribuan kali pikir Vanya dia mengingat-ingat siapa orang yang pernah keluarganya sakiti, namun hasilnya nihil. Vanya tetap tidak yakin, sebab tidak pernah keluarganya berhubungan dengan orang luar selain sesama pengusaha.
Dinda ikut cemas mengenai kejadian penculikan ini. Dadanya juga berdegup kencang, berdebar tak menentu. Dia tahu rasanya jadi Vanya jika ada di posisi gadis itu.
Vanya menangis keras, air matanya itu tidak tertahankan. Selama tiga bulan ini, sejak mereka jatuh miskin, hanya ada Papanya yang menjadi harapan Vanya untuk bertahan hidup. Untuk Ibunya, Vanya tidak khawatir. Karena dia yakin di penjara Ibunya akan baik-baik saja.
Tangisan Vanya berhenti sebentar kala ada panggilan menyelanya. Dengan cepat, bak seseorang yang kelaparan, Vanya menjawab telepon itu. Telepon dari anonymous—nomor tak di kenal.
"Hallo! Dimana Papa ku. Katakan apa yang kalian inginkan. Aku akan menurutinya," ucap Vanya tak sabaran.
"Hus. Jangan. Terburu-buru begitu dong," suara itu menjawab. Suara parau dan berat. Belum pernah Vanya mendengar suara itu sebelumnya, bahkan Vanya tidak tahu siapa pemilik suara ini.
"Katakan apa yang kamu inginkan. Aku akan menurutinya, asal kamu jangan menyakiti Papa ku!" sentak Vanya yang tersulut emosi.
"Kamu yakin mampu memberikan apa yang aku pinta?" kembali, suara paru dan berat itu berkata.
"Apapun itu. Asal kamu kembalikan Papa ku." Tidak tahu apakah yang Vanya lakukan ini benar atau salah, dia tak ada pilihan saat ini. Selain menuruti kemauan sang penelpon.
"Mudah saja," ucap suara parau itu. "Kamu tentu kenal dengan gadis bernama Dinda yang kini ada di sebelah kamu. Aku hanya mau dia."
Saat suara itu berkata mengenai Dinda, Vanya melirik wajah Dinda. Tidak tahu apa yang di pikirkan oleh si penelpon, namun dia mengkaitkannya dengan Dinda. Tentu bagi Vanya hal ini tidak masuk akal. "Kamu jangan gila. Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia. Aku putrinya, tentu aku yang bertanggung jawab menyelamatkan Papa ku. Bukan dia!"
"Ckckck," suara itu men-decak keras. Mungkin, dari balik telepon, dia menggelengkan kepalanya, membayangkan Vanya yang tak tahu aturan mainnya. "Hanya dia yang bisa menyelamatkan Tuan Heri. Meskipun kamu yang datang, aku tidak yakin kalau Papa mu akan selamat. Sekali lagi aku katakan, hanya gadis bernama Dinda yang boleh datang kesini. Tidak ada penawaran atau membantah, itu harga yang harus di tukarkan dengan Papa mu."
Setelah berkata, suara parau itu memutuskan panggilan teleponnya. Belum sempat Vanya menjawab, dia sudah memutuskan akhir dari transaksi.
"Apa yang dia katakan?" tanya Dinda yang dari tadi menyimak perbincangan Vanya dan penelpon.
Vanya menggeleng, tubuhnya makin lemas kala mendengar kata-kata dari pria itu. "Dia tidak mau membebaskan Papa. Kecuali....."
"Apa?"
"Dia hanya ingin kamu yang datang," ujar Vanya memberitahu. Walau agak berat mengatakannya, namun inilah pilihannya.
"Aku?" Dinda terbelalak.
"Dia hanya bilang, kalau kamu yang bisa menyelamatkan Papa ku. Sekalipun aku yang datang, dia tidak akan melepaskan Papa," ucap Vanya lesu. Daya dan tenaganya terasa hilang kala Dinda yang harus terseret dalam konflik ini.
Dinda berpikir kalau dia tidak memiliki hubungan apapun dengan kejadian ini. Namun, entah kenapa dia harus terbawa.
Sesaat setelah Vanya memberitahu bahwa Dinda yang mereka inginkan, sebuah pesan masuk mengganggu keduanya.
Saat di baca, pesan itu berisi alamat yang harus di datangi oleh Dinda. Pesan yang di kirim oleh anonymous, penculik Ayah Vanya.
Dinda ikut membaca pesan singkat itu. Dengan jelas ada alamat yang harus mereka temui, bahkan ada catatan kecil.
Mereka anti polisi, jadi melaporkannya pada pihak-pihak payah itu tak ada gunanya. Maka—
__ADS_1
"Seperti kemauan mereka. Aku akan menyelamatkan Papa kamu," ucap Dinda bertekad.
BERSAMBUNG