UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 166


__ADS_3

Stevie duduk di sofa depan TV LED besar, menonton drama yang memilukan. Tidak. Drama itu tidak cukup membuat Stevie tersentuh. Bahkan kisah hidupnya jauh lebih menyedihkan dari drama yang baru saja tayang. Miris dan ironi. Sungguh menyayat hati kisahnya saat ini.


Stevie melipat kedua kakinya, hingga menempel di dada. Oh, dia memasukkan kedua kakinya di baju tipis sampai kaki itu menghilang di dalam baju.


Di temani cemilan milik Iqbal yang sengaja di tinggalkan oleh Dinda. Rasanya cukup menemani Stevie yang sedang linglung.


Setidaknya makanan bayi lebih lezat dari pada cemilan yang mengandung MSG. Lampu ruangan gelap, sengaja Stevie tidak membuka korden. Dia tidak mau ada orang lain yang tahu kalau rumah besar ini ada penghuninya.


Belum lama, satu pembantu dan satu sopir yang bekerja di rumah ini sudah pulang kampung. Dia cukup baik hati, dengan memberikan insentif tunjangan. Walau hanya asisten rumah tangga dan sopir. Tapi mereka berjasa, membantu selama ini.


Sesekali Stevie melirik ponsel yang dia letakkan di sebelahnya. Menyalakan handphone pun, Stevie menggunakan ujung jempol kakinya. Tipe wanita pemalas.


“Huh. Pukul sebelas. Kenapa waktu begitu lama! Kenapa hidup ku semenyedihkan seperti ini Tuhan.”


Ide gila. Selama hampir setahun Stevie bersembunyi di tempat ini tanpa melakukan sosialisasi di luar sekalipun. Demi apa, sangat membosankan berada di tempat seperti ini. Namun dia takut, kalau-kalau pria yang hendak di jodohkan dengannya itu menemui Stevie di tempat ini.


“Hiks. Hiks. Hiks. Pada akhirnya, hanya aku sendiri di rumah ini. Dinda, Iqbal dan Steve. Bahkan mereka tidak bisa memahami aku. Mereka tidak tahu kalau aku butuh teman di sini. Tapi mereka....... Hiks. Mereka malah meninggalkan aku sendiri. Oh, begitu malangnya nasib ku.”


“Pekan depan kami akan ke Shanghai. Tidak akan ke sini lagi untuk waktu yang lama.”


Kata-kata itu masih terngiang di kepala Stevie. Ucapan yang sudah berlalu seminggu itu, tetap membuat kepalanya makin runyam.


“Haruskah aku pergi juga?”


Niat tidak niat. Saat ini kesepian menghantui Stevie. Seharusnya dia tidak seperti ini, namun?


Entahlah. Stevie bingung harus bagaimana mengambil sikap.


“Jika aku tidak di kungkung dalam ikatan yang kejam ini. Mungkin aku sudah berlenggak-lenggok di atas panggung kecil—catwalk bak super model dunia. Tapi sekarang? Bahkan untuk keluar rumah saja aku segan. Oh Papa, kenapa hidup ku amat memilukan.”


Kata orang, di jodohkan bukan jamannya lagi. Tetapi tidak dengan Stevie. Itu tidak berlaku di mata sang Ayah. Perjodohan, itu terbilang sangat baik dari pada menjadi perawan tua. Saat ini, Stevie terlalu memilih pacar.


Lebih-lebih pria yang dulu sempat dekat dengannya—pria mabuk-mabukan. Pastilah, sang Papa tidak rela dia hidup bersama pria tidak jelas itu. Atau Steve yang akan menghajarnya kalau sampai dia masih mendekati Stevie.


Lagi pula, ada alasan khusus kenapa mereka ingin menjodohkan Stevie. Bukan karena ingin memperbanyak materil—namun lebih dari itu. Hanya saja, Stevie tidak paham jalan pikir orang-orang itu.


Stevie meraih handphonenya, kali ini dia menggeser setiap layar handphonenya. Bukan sesuatu yang penting, hanya ingin melihat Poto menggemaskan Iqbal—yang dia jepret kemarin.


“Setidaknya, Poto kamu membuat Tante terhibur. Hiks.”


Poto anak itu menggemaskan, sampai-sampai Stevie menjadikannya sebagai latar layar handphonenya. Jauh lebih dari apapun, Stevie sangat menyukai anak itu. Dia mengakuinya.


Keponakannya itu sangat menggoda matanya untuk tidak berpaling kemana-mana. Apalagi aroma mulutnya yang wangi, di tambah matanya amat berbinar, makin tidak rela Stevie menjauh dari si kecil—walau dia bukan Ibunya.


“Bal. Haruskah Tante menyusul kalian ke Shanghai? Atau, haruskah Tante egois—dengan tidak menikah pada pria manapun. Iqbal, bantu Tante. Hiks.”


Percuma mengadu pada gambar tak bergerak di layar handphonenya. Tak ubahnya, Stevie tidak akan dapat jawaban apapun. Kecuali, yah dia harus bermeditasi meminta pencerahan dari paman sun go kong. Namun, sebagai seseorang yang kesepian, setidaknya itu hiburan bagi Stevie—mengadu pada gambar yang menggemaskan.


“Aku rapuh!”


°°°°°°°°°°


Steve melihat sekali lagi jadwal penerbangan, dan masih ada setengah jam lagi untuk terbang. Miko sudah tiba, anak itu datang untuk mengambil mobil Steve di bandara.


“Maaf Miko agak telat. Ada kemacetan di jalan tadi.”


“Kakak kira kamu tidak akan datang mengambilnya,” kata Dinda menyeringai.


“Hehhe. Maaf kak. Tadi itu ada kecelakaan, makanya agak macet. Tapi belum telatkan Miko datang?”


Steve menggeleng, kemudian dia menyahut. “Masih ada setengah jam lagi untuk terbang.”


“Syukur deh. Aku kira aku bakal telat tadi datangnya.”


Pikir Miko beda urusan kalau dia telat. Alih-alih mengambil mobil, yang ada kunci mobil malah di bawa Steve. Kan sial.


Miko duduk di samping Dinda dan Steve, mereka masih menunggu di ruang tunggu penumpang. Masih sama seperti sebelumnya, menunggu pemberitahuan pesawat akan lepas landas baru mereka akan berangkat.


“Ngomong-ngomong. Apa kamu tahu kenapa Niko jadi pendiam begitu seminggu ini?” tanya Dinda.


Miko mencoba mengingat-ingat. Tidak tahu persis apa yang terjadi, entah kenapa rasanya Miko tidak tahu apapun mengenai adiknya itu. Walau satu atap, tetapi akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Kecuali berpapasan pada pagi hari, itupun sekilas. Karena Miko juga sekarang di kejar deadline.


“Aku kira. Aku tidak tahu apapun deh kak. Soalnya Niko nggak pernah cerita apa-apa ke Miko.”


“Bagaimana Niko mau bercerita,” Steve menyela. “Lelaki, kalau ada masalah pasti bakal di pendam sendiri. Wajar kalau Niko nggak bakal cerita apapun ke Miko.”

__ADS_1


“Nah. Bener tuh apa yang di bilang kak Steve. Dia memendamnya sendirian. Jadi Miko tidak tahu sama sekali. Suer.”


“Ckckck. Kakak pikir kamu bakal tahu sesuatu.”


“Sumpah kak Dinda. Miko nggak tahu.”


Nada serupa masih di ucapkan Miko. Dan itu tidak mengubah kisah hidup Niko. Lagi pula kalau Miko tahu sesuatu, tidak ada yang penting dari kisah adiknya ini. Pikirnya demikian.


°°°°°°°°°°°°


Di jalan yang agak ramai, motor merah yang sering Niko gunakan, melaju cukup kencang. Seolah Niko seperti pengemudi ojek online, dia melibas banyak kendaraan demi memburu perjalanan.


“Cepatan Ko. Kakak nggak mau ketinggalan pesawat,” teriak Stevie memburu.


Beberapa kali dia menepuk pundak Niko, berharap anak itu lebih cepat mengendarai motornya menuju ke bandara.


“Iya kak. Niko sudah ngebut nih.”


“Pokoknya lebih ngebut lagi. Jangan sampai kakak ketinggalan pesawat. Kalau masih belum full gasnya, full-in saja. Tarik penuh, biar kita cepat sampai.”


“Iya, oke. Kakak pegangan yang kuat,” teriak Niko lagi. “Niko akan menambahkan kecepatannya.”


Pedal gas motor merah itu, Niko tarik kencang agar sampai cepat di bandara. Niko sebenarnya kesusahan, sebab koper besar Stevie mengganggu laju gerak motor.


Apalagi koper penghalang itu di taruh di depan, cocok sekali. Makin menghalangi Niko untuk memburu.


Motor itu menyalip kendaraan besar di sisi kanan kirinya. Mereka melewati terowongan, agar mempersingkat waktu. Stevie duduk dengan gaya wanita, dia terus menepuk pundak Niko agar lebih cepat mengendarai motornya.


Pakaian mini wanita ini, kadang berkibar terhembus angin. Peduli apa, Stevie tidak memikirkan pakaiannya yang sudah berkibar. Pikirannya masih terpatri untuk pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


[“Tiga luluh meter di depan, belok kanan.”]


Beruntung, Niko meminta bantuan penunjuk arah via ponselnya— ala driver ojek online. Atau tidak, mereka akan tersesat. Niko tidak tahu arah jalan ke bandara.


Satu jam sebelumnya, Stevie menghubungi Niko. Usai memandangi wajah Iqbal kecil, kepikiran dalam otak Stevie untuk menyusul kepergian mereka. Jadilah kenapa sekarang dia sangat memburu tergesa.


Ketika Stevie menghubungi Niko, anak itu tengah merana. Karena paksaan dari Stevie-lah, pada akhirnya Niko mau keluar rumah.


Karena terburu-buru menuju ke bandara, Stevie tidak tahu, apakah rumah tadi sudah di kunci atau belum. Karena sangking ingin cepat sampai di bandara.


“Memangnya penerbangan ke Shanghai jam berapa sih kak? Kok buru-buru banget?” tanya Niko.


Stevie melihat jam di tangan, lalu berkata: “Sebentar lagi pesawat lepas landas. Sepuluh menit lagi,” katanya memberitahu.


Niko mengangguk paham, sambil memberikan koper besar Stevie.


“Oh iya. Niko, terima kasih sudah menolong kakak. Untung kakak menghubungi kamu, atau tidak kakak bakal ketinggalan pesawat.”


“Sama-sama kak,” balas Niko. “Sebaiknya kakak masuk sekarang, nanti ketinggalan pesawat malah.”


“Oh iya. Kakak pergi dulu. Dah niko.”


Niko cukup memandangi saja Stevie. Wanita yang sudah berlari setengah cepat menyeret koper ini, benar-benar nekat.


“Huh..... Menyusahkan saja.” Niko menyeringai, setelah itu dia meninggalkan bandara. Tugasnya sudah selesai, walau tadi dia malas menjemput atau mengantarkan Stevie dari rumah menuju ke bandara.


°°°°°°


Ting Nung Ning.


Suara itu sudah mulai berbunyi. Di ikuti suara wanita yang menginformasikan penerbangan akan segera di mulai. Dan seluruh penumpang yang duduk menunggu di ruang tunggu penumpang ini, mengikuti arah instruksi. Menuju ke pesawat.


“Kami berangkat ya,” kata Dinda pada Miko. “Jaga baik-baik diri kalian. Dan jangan buat Ibu kesusahan.”


“Siap kak!”


Steve menepuk pundak Miko, memberikannya senyum sumringah. “Maaf jika kami tidak bisa tinggal di Indonesia lebih lama. Kakak harap, kalian bisa saling menjaga.”


“Itu pasti kak. Kak Steve jangan khawatir. Aku akan pastikan kalau kami di sini tidak akan sedih saat kalian meninggalkan kami.”


“Aku tahu kamu pasti bisa. Kakak berharap kalau kalian ada waktu, kalian akan mengunjungi kakak di Shanghai.”


Miko mengangguk pelan, dia siap kesana jika ada waktu. Namun tidak tahu kapan.


“Kami berangkat sekarang.”

__ADS_1


“Oke kak. Hati-hati di penerbangan kalian.”


Kedua orang itu pergi, dan Miko memperhatikan mereka yang sudah menuju ke pesawat.


“Pada akhirnya. Kak Dinda dan kak Steve pergi juga ke Shanghai. Aku harap, semoga kalian menjadi keluarga kecil yang bahagia.”


Pun demikian Miko, dia juga pergi meninggalkan bandara. Dia sudah selesai menemani kedua orang tadi. Syukurlah, bagi Miko, mengantarkan kakaknya ke bandara, adalah bentuk kecintaannya pada mereka.


Ketika membalikan tumitnya, di depan Miko dia di sergap oleh Stevie. Tidak tahu sejak kapak dia tiba, Miko saja bingung. Dia setengah membungkuk di hadapan Miko, dengan tangan memegang perutnya.


“Mereka di mana?” sergah Stevie memburu. Napasnya terengah, lelah rasanya berjalan setengah berlari menyusul ketiga orang itu.


“Kak Steve dan kak Dinda?”


“Memangnya siapa lagi yang aku cari?”


“Aku pikir...”


“Mereka sudah berangkat?”


Miko mengangguk. “Baru saja. Belum sampai dua menit.”


“Oke. Terima kasih atas waktunya. Kakak pergi.”


Bukan mengabaikannya, tapi Stevie lebih memburu waktunya. Dari kaca bandara, Stevie melihat para penumpang sudah memasuki pesawat.


“Hati-hati kak di jalan,” teriak Miko mengingatkan.


Stevie membalasnya dengan lambaian tangan. Tidak menjawab apalagi menoleh.


“Kak Stevie nggak berubah sama sekali.”


°°°°°°°°°


Cukup sekali ini saja bagi Stevie di buru waktu. Kedepannya dia tidak mau mengulangi lagi kejadian ini. Absurd, bagaimana bisa wanita secantik dia harus mengejar waktu seperti ini. Itu belum pernah terjadi, dan baru kali ini Stevie mengalaminya.


Bahkan kalian tentu tahu, rambutnya yang indah harus rusak lantaran memakai helm butut Niko. Tetapi, itu pilihan. Tidak ada pilihan lain. Seandainya Iqbal tidak di bawa kedua orang tuanya, pastilah Stevie tidak akan seperti ini. Namun anak itu, kini nyawa Stevie terasa di ambil oleh si kecil menggemaskan.


Beruntung, pintu pesawat belum tertutup, dan masih ada penumpang yang sama seperti dirinya. Masih berjalan menuju pintu masuk ke pesawat.


“Syukurlah. Untung aku membeli tiket pesawat online tadi. Bisa-bisa aku tidak bisa terbang hari ini.”


Ini penerbangan terakhir. Karena situasi penerbangan agak paceklik. Apalagi penerbangan keluar negeri sudah di batasi. Tidak tahu kapan lagi penerbangan ke Shanghai akan di lakukan.


Tidak, Sebenarnya penerbangan ke Shanghai tidak ada hari ini. Semua sudah di bekukan. Untunglah, masih ada satu pesawat yang mau terbang ke Shanghai, walau harus transit di Hongkong dahulu. Begini saja, rasanya Stevie sudah bersyukur.


“Kalian payah. Meninggalkan aku sendirian!” gerutu Stevie pada dua orang yang tidak sadar akan kehadirannya.


“Kak Stevie?” Dinda terperangah. “Kakak sejak kapan.....”


“Baru saja,” balas Stevie lebih dahulu.


Beruntunglah hari ini, kursi Stevie tidak jauh dari kursi Dinda dan Steve. Kedua orang itu memang di takdirkan tidak boleh meninggalkan dirinya sendirian.


“Kakak ikut terbang ke Shanghai?” tanya Steve.


“Kamu kira aku akan ikut kamu ke neraka!”


Lagi deh, Stevie kembali berulah. Sikap ketusnya itu tidak berubah, bahkan sampai saat ini.


“Aku pikir kakak akan terbang ke Amerika.”


“Ngawur,” timpal Stevie. “Kamu mau aku hidup lunta lantung di sana!”


Steve menggeleng. “Tidak yakin sih. Tapi asik juga kalau kakak jadi gembel di sana.”


Penghinaan. Sudah cukup bagi Stevie, hari ini lumayan sial. Dia tidak mau mengulanginya dengan menahan kesal pada Steve.


“Aku lelah. Kalian tidak perhatian pada ku.”


°°°°°°°°°°


TBC


Terima kasih buat yang sudah mengikuti jalan cerita di novel ini. Terima kasih juga buat yang sudah menjadikan novel ini daftar bacaan dan meninggalkan like.

__ADS_1


Meskipun like di bawah enam puluh, namun aku senang. Ada yang menikmati karya ku, terlepas dari jeleknya jalan cerita. Hehe. Aku minder dengan novel lain yang keren-keren.


__ADS_2