
KETAHUAN
Dendy yang kemarin mencoba membantu Miko, kini mendapatkan kabar mengenai pria yang Miko maksud itu.
Saat jam istirahat, sebelumnya Dendy pergi ke toilet. Setelah itu, dia berencana memberitahu Miko. Tapi anak itu tidak ada di kelas, sehingga dia harus mencari anak itu.
Tapi—syukurlah. Si Miko ternyata ada di lapangan basket, tempat biasa dia bergumul dengan teman yang lainnya. "Oh, kamu bau azab!" ucap Dendy ketika mendekati Miko yang penuh dengan keringat.
"Ckckck..... Dia memang selalu bau azab Den. Untung ganteng, coba kalau jelek. Sudah kita tendang dia jadi teman kita," sahut teman Miko membual.
"Hei, kalian berdua memang paling bisa menghujat orang lain." Walau Miko di ledek, hal itu biasa baginya. Maklum saja, pikir Miko, teman-temannya ini terkontaminasi oleh virus kampret, jadi otak mereka agak gesrek.
"Ngapain Den datang kemari. Tumben, tadi di cariin juga," ucap teman Miko yang lainnya.
"Tadi aku ke toilet, kalau sekarang ada perlu dengan Miko. Sedikit..... Penting," jawabnya.
"Apakah itu penting sekali, sampai-sampai agak rahasia perbincangan kalian berdua!" Niko menyahut ingin tahu.
"Rahasia kami berdua, nggak ada yang boleh tahu." Seperti biasa, Dendy malas kalau berkata mengenai rahasia di depan teman-temannya. Dendy membawa Miko, membicarakan hal ini di gudang belakang sekolah.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Miko saat mereka sudah ada di sudut sekolah.
"Semalam aku meminta kakak ku mengeceknya. Kamu tahu, mencari informasi mengenai pria itu membuat aku harus mengemis di balik telepon. Sumpah, dia agak menyusahkan." Tadi malam Dendy menghubungi saudaranya yang menjadi dokter di Jerman, walau dia harus memelas iba, demi membantu Miko, dia terpaksa semalaman menunggu email dari sang kakak.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" Miko kembali bertanya. Kali ini dia tidak sabaran, menantikan sebuah jawaban yang akan membuatnya berhenti penasaran.
"Ehm.... Kakak bilang, kalau dia sudah mengecek seluruh rumah sakit di Jerman. Dan hasilnya....."
Saat Dendy berkata mengambang mengundang rasa penasaran Miko yang makin kuat, dia—Miko dengan kesungguhan ingin tahu membuatnya menanti mulut itu berkata. Dan....
"Hasilnya nihil."
"Maksud mu?"
"Tidak ada pasien bernama Steve di Jerman."
Tidak ada pasien bernama Steve di Jerman? Miko agak ragu. Saat Dendy berkata seperti itu, rasanya janggal bagi Miko.
"Apa kakak kamu yakin kalau dia sudah benar-benar mengecek seluruh rumah sakit di Jerman? Mungkin kakak kamu melewatkan satu rumah sakit. Lagi pula, rumah sakit di Jerman banyak. Dan..... Oh, aku ingat! Kak Steve di bawa ke rumah sakit di Frankfurt."
"Ko," Dendy sedikit merengek. Temannya itu berargumentasi, seakan dia sulit di percaya. "Kamu percaya pada ku, bukan?"
Miko mengangguk. "Sejak SMP, kamu selalu berkata jujur. Tapi—"
"Mau dia di rawat di Frankfurt, di Berlin, atau di Madrid sekalipun. Kakak punya banyak koneksi di sana. Dia sudah mengeceknya dengan benar. Nggak mungkin kakak berkata bohong pada ku. Dan..... Teman kakak sesama dokter juga banyak. Mendapatkan data pasien di rumah sakit sangat mudah baginya."
Memang setahu Miko, Dendy tidak pernah berbohong. Apalagi anak itu harus tuntas menyelesaikan misi apapun yang di pinta Miko. Bahkan Dendy akan menyusutnya hingga ke akar-akarnya kalau perlu.
Miko berpikir, bisa jadi apa yang di katakan oleh Dendy itu benar. Mungkin saja, selama tiga bulan tidak ada kabar ini, dia memang tidak benar-benar ke Jerman.
"Sekarang apa yang kamu pikirkan Ko?" tanya Dendy. Melihat gelagat temannya itu, Dendy menebak, kalau dia sedang merencanakan sesuatu.
"Ehm.... Kalau dia nggak ada di Jerman, itu artinya dia....."
"Dia. Dia kenapa Ko?"
"Dia di Shanghai!" Miko menegaskan. Oh, kemungkinan besar Steve tidak di rawat di Jerman, tapi di rumah sakit di Shanghai.
__ADS_1
"Jadi, maksudnya, pacarnya kak Dinda ada di Shanghai. Gitu?" Dendy berusaha menerka kata-kata temannya itu.
Miko mengangguk, perbincangan keduanya di belakang gudang sekolah, berubah menjadi serius. "Kita katakan saja kepada kak Dinda mengenai hal ini. Dia harus tahu mengenai kejadian ini."
"Tunggu Ko!" Dendy menyela. "Apa nggak sebaiknya, nggak usah dulu di kasih tahu ke kak Dinda. Maksud ku, ada baiknya, kamu cari tahu dahulu kebenarannya. Baru setelah itu kak Dinda boleh tahu sebenarnya. Mungkin saja, ada alasan di balik kenapa tidak ada kabar pacarnya kak Dinda itu."
Mungkin hanya saran saja yang bisa di katakan oleh Dendy, mengenai rencana, dia menyerahkannya pada Miko.
"Nggak. Pulang sekolah, aku harus menceritakan semua ini ke kak Dinda. Aku akan menemani kakak ke Shanghai kalau perlu."
****
Dinda melirik jam di tangannya, tertanda pukul satu siang. Dia tengah berdiri di dekat peron busway. Ya, busway agak ramai, Dinda terpaksa berdiri, lantaran tak ada kursi kosong.
Dinda berniat menemui Vanya. Katanya, gadis itu ingin memberikan sesuatu untuknya karena sudah membantunya sedikit agak lega melepaskan masa lalunya yang kejam.
Saat tiba di kios bunga Wendy's florist, dari luar kaca kios—tidak terlihat seperti kios kecil. Tapi sebuah toko bunga yang besar. Agak berlebihan kalau mengatakan itu sebuah kios, sementara luas bangunan hampir sama seperti butik. Dari luar, Dinda melihat Vanya sedang merapikan bunga. Mengikat Surai bunga itu, menjadi sebuah buket bunga cantik.
Ketika Dinda membuka pintu kaca yang bertuliskan open menggantung di kaca pintu, ada suara lonceng kecil yang menyambut kedatangannya.
"Hei, Din. Sudah datang!" seru Vanya menyambutnya dengan hangat. "Ayo, duduk di sana."
Dinda menelisik sekeliling toko yang memajang bunga-bunga cantik. Dia memperhatikan tempat adiknya bekerja ini, sungguh indah. Wangi bunga menyerbak, mengharumkan ruangan.
"Mau minum teh Dinda?" Vanya menawarkan. Kala itu, tak ada seorang pun di toko ini. Hanya Vanya, dengan kesibukannya.
Dinda mengangguk saat Vanya menawarkannya sebuah minuman untuknya, di ikuti dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.
Di dalam toko, ada dua meja yang dekat dengan kaca jendela. Di depan toko banyak bunga juga yang di pajang sebagai penghias halaman kecil, sehingga tidak ada parkir di depan toko.
Dan di depan toko juga, ada sepeda merah muda. Di stang kemudi pengendali sepeda ke kiri dan ke kanan ada keranjang. Lalu di dalamnya ada sebuah bunga Lily putih.
Vanya agak menjelaskan. Ah, lebih tepatnya, dia memberitahu Dinda—kalau sebenarnya adiknya itu lucu, seriously.
"Jadi, kalau dia nggak mau pakai sepeda pink itu—artinya dia jalan kaki dong mengantar pesanan pelanggan."
"Nggak," jawab Vanya. Di menoleh kebelakang, di mana ada garasi di balik punggungnya itu. "Semenjak dia mengeluh tidak cocok dengan si pink. Pemilik kios langsung membelikan dia motor merah itu," katanya sambil menunjuk ke arah motor Scoopy merah terang.
Dinda melirik ke arah motor merah yang di maksud Vanya. Motor yang di standar dua itu terlihat sedang menganggur. Dinda agak terkejut saat tahu kalau ada dua opsi untuk karyawan agar bisa mengantarkan pesanan untuk pelanggan.
"Kamu tahu Din, Ibu bos bilang: Kalau Niko cerewet. Sampai-sampai dia memaksa pemilik kios supaya membelikannya kendaraan agar nggak susah kemana-mana. Dan, hasilnya.... Kamu lihat sendiri, kalau Niko resign, omset kios menurun." Vanya sedikit agak bersemangat kala menceritakan tingkah adik Dinda itu.
Palingan juga, Niko akan bersin-bersin saat itu kala dia di gosipi oleh Vanya.
"Terus, Niko sendiri nggak nyusahin kalian kan di sini?" jujur, Dinda tidak mau kalau adik-adiknya mengacau di tempat kerja. Dinda tidak mau kalau adik-adiknya membuat cerita yang hanya akan membuatnya jengkel.
"Enggak kok Din. Niko rajin, terus pengertian kok sebagai remaja laki-laki. Dia juga perhatian, nggak pernah membuat aku dan yang lainnya kesusahan kalau mengangkat barang-barang yang berat. Malahan ya, kalau dia berhenti, Ibu pemilik kios bakalan galau. Bagaimana tidak, Minggu lalu Miko berhenti kerja dari restoran. Sehingga pemilik restoran datang kesini, melabrak pemilik kios hingga adu mulut karena memperebutkan Niko. Terus, pemilik restoran menuding kalau Ibu kios memprovokasi Niko agar resign dari restoran. Adik-adik kamu memang punya pesona sendiri. Selain mereka tampan, mereka juga ramah. Kamu sangat beruntung mendapatkan adik-adik seperti mereka."
"Sampai segitunya Niko berulah!"
Meskipun cerita dari Vanya agak menarik untuk di bahas, tetap saja bagi Dinda. Itu sebuah ketegaan yang menyebalkan.
"Ah, pokoknya seru deh. Aku saja, kadang menjadikan adik kamu sebagai mood booster kalau lagi suntuk kerja."
Benar sih apa yang dikatakan oleh Vanya. Niko memang anak yang periang, kadang juga aktif. Dinda saja yang kurang memperhatikan adik-adiknya, sementara mereka selalu memperhatikan Dinda.
Karena keasikan mengobrol dengan Dinda, Vanya sampai lupa memberikan sebuah hadiah untuk Dinda. Gara-gara adik Dinda, Vanya sampai terbawa suasana yang nyaman ini.
__ADS_1
"Din, aku ingin memberikan kamu hadiah ini." Vanya menanggalkan tas cokelat yang biasa di dapat dari mall saat berbelanja. Di tepikannya tas cokelat itu dia atas meja, lalu menyodorkannya pada Dinda.
"Apa ini?" tanya Dinda.
"Buka saja. Aku harap kamu suka dengan hadiah pemberian ku."
Di dalam tas ada kotak kecil, tapi tidak terlalu kecil, bisa di bilang sedang. Kotak itu berwarna kuning, sedangkan tutupnya berwarna biru.
Ketika membukanya, Dinda melihat ada sebuah jam tangan mewah bercorak emas. Sedangkan di sebelah jam yang di kotakkan dengan mewah ini, ada sebuah boneka beruang kecil berwarna putih lembut.
"Sampai segitunya kamu memberikan aku hadiah," ucap Dinda yang sebenarnya agak keberatan menerima hadiah itu.
Vanya memegang kedua tangan Dinda. Tangan lembut dan putih halus Dinda itu, nyaman untuk di sentuh. "Waktu itu aku menyimpannya ketika aku berharap bisa menjadi seorang Ibu. Saat membelinya pun, aku kepikiran ingin menghadiahkannya untuk kakak ipar ku. Jauh-jauh aku membawanya dari London ke Jakarta, tidak sengaja aku ingat kamu. Kulit kamu bersih dan sehat, jadi aku pikir kamu cocok dengan jam itu."
Di saat kesusahan seperti ini, seharusnya jam tangan mewah yang ada berlian di berbagai sisinya itu, bisa di pakai oleh Vanya demi mencukupi kehidupannya sehari-hari. Alih-alih dia memberikannya untuk Dinda.
Dinda tahu kalau jam itu sangat mahal, dimana asal produsen adalah Swiss. Namun— "Aku menyukainya. Dia cantik. Tapi terlalu berlebihan kalau kamu memberikannya untuk ku."
"Bagus deh kalau kamu menyukainya. Aku pikir itu nggak sesuai dengan selera kamu." Jangan di tolak, itu pemberian ku." Vanya dengan senang hati memberikan barang mahalnya itu, tanpa harus memperhitungkan berapa harganya.
Sungguh, Vanya takut tadi kalau Dinda akan menolak pemberian darinya. Tidak di sangka, Dinda mau menerima jam yang seharusnya akan di berikan pada dr. Anita. Paksaan Vanya membuat Dinda menerima barang mahal itu.
Vanya tidak hanya menghadiahi Dinda jam tangan mewah saja bersama dengan boneka kecil itu. Tetapi di dalamnya ada kotak kecil lagi.
Saat Dinda membukanya, di dalam kotak kecil itu ada sebuah parfum yang juga terbilang mahal.
"Banyak sekali hadiah yang kamu berikan pada ku," kata Dinda yang tak habis pikir pada Vanya yang loyal padanya.
"Haiyah. Bukan apa-apa kok. Aku tahu menurut kamu itu mahal, tapi, semakin mahal harganya, maka semakin wangi yang di berikan oleh parfume ini. Di jamin deh, kamu bakalan suka."
"Tapi ini terlalu berlebihan Van!"
"Sssttt," Vanya mendesis sembari menutup mulutnya menggunakan jari. "Itu hadiah sengaja aku berikan kepada kamu. Karena, dua Minggu lagi aku akan pindah ke Surabaya. Di sana aku sudah mendapatkan pekerjaan menjadi penerjemah di kantor tempat kakak ku bekerja. Rasanya kurang etis kalau pergi nggak meninggalkan kesan yang baik."
Memang benar pepatah mengatakan. "Ada pertemuan, maka ada pula perpisahan." Dan kali ini, dimana pertemuan pertama dengan Vanya terlibat skandal pelik. Namun, akhir dari drama ini, siapa yang menyangka.
Bahkan Dinda sendiri tidak menyangka kalau dia akhirnya bisa berteman dengan Vanya. Jujur, ini bagai mimpi yang tak pernah Dinda harapkan. Namun, semua bisa terjadi seiring banyaknya misteri dari dunia ini.
Dinda lega, akhirnya, Vanya tersadar. Kalau teman sejati itu ada. Teman di mana saat di butuhkan akan hadir—menemaninya disaat terpuruk sekalipun.
"Aku memang nggak punya hadiah yang bisa aku berikan kepada kamu. Tapi, aku harap kamu juga menerima cincin pemberian dari ku."
Dinda menyodorkan sebuah cincin berlian dan memberikannya pada Vanya. Cincin itu pemberian Steve kala itu. Dinda rela memberikannya pada Vanya. Bukan karena dia tidak menghargai pemberian Steve, tapi dia merasa lega kalau bisa mengalihkan perhatiannya dari Steve setiap saat melalui cincin itu.
Vanya menerimanya dengan senang hati, walau Dinda tidak memberikannya sesuatu, Vanya tidak berharap lebih. Saat ini, dia hanya ingin meninggalkan kesan baik pada Dinda, sebelum dirinya memulai kehidupan baru yang berkualitas.
Namun, di saat mereka sedang berbincang. Sebuah dering telepon bergetar di balik saku celemek ala barista milik Vanya.
"Nomor tidak di kenal." Vanya memicingkan matanya kala tak ada nomor yang terlihat di layar ponselnya. Bahkan, nomor yang menghubungi dirinya itu pun, anonymous.
Saat di jawab, hanya ada satu kata yang keluar dari mulut Vanya. Yaitu, "Apa!"
Setelah itu, wajah yang tadinya berekspresi normal, mendadak berubah menjadi tegang luar biasa.
"Ada apa?" tanya Dinda.
"Papa ku di culik!"
__ADS_1
BERSAMBUNG