UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 100


__ADS_3

Niko baru saja selesai bekerja, ini waktunya dia istirahat setelah melayani artis aneh itu membuat konten klarifikasi mengenai kisah kontroversialnya.


Di dapur, Niko membaur dengan senior-senior pelayan restoran lainnya. Dia duduk bersama pria-pria juga karyawan wanita yang tengah makan siang itu.


"Kerja kamu bagus tahu Niko," kata karyawan wanita sering yang mengganggunya terus-menerus itu. Sambil membawa piring makan kesana kemari, wanita itu tidak malu menggoda remaja belia ini.


"Eh, Tik, kalau nggak ada kerjaan jangan ganggu anak kecil dong. Malu tuh sama umur," tegur karyawan pria yang merasa risih atas sikapnya itu.


"Suka-suka Entik dong kang," balas wanita ini. "Lagian akang-akang sekalian pasti iri-kan sama ketampanan dedek emesh. Secara kalian bangkotan sih, makanya nggak laku," ledeknya seraya mengomel.


"Sudahlah kang, si Entik tuh emang gitu. Kalau lihat yang bening saja pasti ganjen tuh mata," sahut pelayan pria lainnya yang juga sedang makan.


Wanita ini hanya bisa memasang ekspresi wajah masam, dia di ledek oleh mulut sekumpulan pria yang bukan tandingannya.


"Makanya Niko, kalau punya wajah ganteng tuh bagi ke akang Raden atuh. Biar nggak di goda terus sama si Entik," sahut yang lainnya lagi.


Niko hanya tersenyum, kenapa dia bisa bergabung dengan sekumpulan karyawan yang bisa di bilang lucu.


"Akang Raden nggak usah iri sama ketampanan Niko, justru akang Raden harus bersyukur selama masih hidup bisa bertemu dengan remaja setampan Niko. Coba kalau akang Raden sudah di alam kubur, mana bisa akang Raden bisa melihat mahakarya tuhan yang tak manusiawi ini," seorang karyawan wanita lainnya menyahut membela kaum wanita yang tertindas.


Niko pusing tiap kali melihat mereka bertengkar apalagi membawa namanya. Dia kadang merasa seakan di dunia ini hanya ada dirinya saja di mata orang-orang itu.


>>>>>>>>>>>>>>>


Di bahu jalan, Steve menarik lengan Dinda terus menerus tanpa henti walau berulang kali gadis ini menampik tangannya.


"Dinda!" Sentak Steve. Dia sudah merasa kesal karena Dinda tidak mau mendengarkan dirinya. "Dengarkan aku dulu. Mau sampai kapan kamu marah pada ku karena kejadian tadi?"


Dinda menyeka air matanya, lalu membalikkan badannya. "Awalnya aku bisa mentoleransi ketika kamu membentak ku tadi. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi mentolerir kejadian tadi. Kamu seakan bersikap bahwa kamu adalah pria yang mudah mendapatkan wanita manapun dengan tampang kamu. Kamu pikir karena kamu lebih tampan dan berkelas, aku akan bertekuk lutut menerima kenyataan bahwa aku memiliki seorang pria mesum? Begitu-kah yang kamu pikirkan?!"


Steve menggertak giginya, dia kali ini benar-benar harus menahan emosinya menghadapi wanita ini. "Kenapa kamu begitu marah pada ku yang membentak kamu tadi. Aku sudah meminta maaf, tapi kamu tidak mau memaafkan? Aku sudah mengalah, tapi kamu sendiri tidak mau melakukannya untuk ku," Steve menuntut penjelasan.


"Itu karena kamu tidak bisa memahami hati wanita," balas Dinda sambil menangis tersedu-sedu. "Wanita mana yang rela melihat prianya terluka apalagi berkelahi. Jika ada wanita seperti itu di muka bumi ini, maka dia termasuk wanita egois yang mengorbankan prianya bertarung tanpa memikirkan sebab akibat."


"Kenapa kamu begitu keras kepala sih?" Steve meninggikan suaranya seraya menatap Dinda dengan ekspresi garang. "Aku tadi hanya emosi sesaat. Aku sudah meminta maaf, kenapa kamu terus menangisi hal yang nggak penting seperti ini."


"Itu karena kamu bersikap semena-mena pada ku!"


"Dinda!" Steve kembali menyentaknya. "Kamu dengarkan aku. Kenapa kamu bersikap selalu membantah ku. Kamu selalu membuat aku ingin marah setiap kali kamu tidak mau mendengarkan aku. Aku mohon, kali ini dengarkan aku!" Tegasnya.


"Aku nggak mau mendengarkan apapun!" Dinda terus bersikap kontra. "Mulut mungkin bisa berbohong, tapi mata? Siapa yang bisa memanipulasi."


"Kamu salah paham, Dinda," rengek Steve kembali ingin menjelaskan. "Aku tidak berniat melakukan hal ini dengan sengaja. Aku pikir wanita tadi itu adalah kamu, aku bersumpah."


"Sudahlah, kamu sama saja seperti pria lainnya. Suka membual janji," ucap Dinda. Dia tidak peduli, sekalipun hubungan mereka agak renggang, Dinda tetap pada pendiriannya meninggalkan pria itu.


Belum usai Dinda bicara dan pergi, Steve langsung memeluknya se-erat mungkin. "Kenapa kita harus bertengkar karena masalah kecil seperti ini sih?" Steve berkata pelan di telinga Dinda. "Aku mohon, kamu memaafkan aku karena sudah membentak kamu tadi. Aku akui aku salah, tapi kamu dari tadi tidak mau memaafkan aku. Aku katakan sekali lagi, aku salah. Kamu dari tadi tidak mau memberikan kesempatan pada ku. Aku harus bagaimana agar bisa membuat kamu percaya pada ku."


"Saat itu kamu marah pada ku karena menampung Johan di rumah ku," Dinda menyinggung. "Aku mengalah, aku meminta maaf. Saat kamu marah, kenapa aku tidak bisa marah. Bukan hanya kamu yang bisa memperlakukan aku seperti itu, aku juga bisa."


"Tidak peduli apapun yang kamu ucap, aku tidak akan melepaskan kamu," ucap Steve bersikeras. "Aku mohon, jangan bersikap seperti ini pada ku. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, tidak ada yang lain."


Dinda menghisap ingusnya dalam-dalam. Maklum saja, hidungnya pun ikut terkontaminasi oleh air mata, ketika Dinda menangis dia seakan seperti seorang yang sedang flu.


"Aku butuh waktu untuk memahami situasi seperti ini," jawab Dinda. "Aku pikir kamu hanya bersikap dingin di luar dan hangat di dalam. Nyatanya, kamu sama saja. Kamu pria kasar dan mesum yang pernah aku temui," ujar Dinda mengakui sisi lain Steve.

__ADS_1


Steve mendesis, Dinda yang mencoba meronta melepaskan pelukannya dari dekapan Steve, tidak dia lepaskan begitu saja. Steve semakin mempererat pelukannya. "Dinda," Steve terus saja di buat kesal oleh kelakuan wanita ini. "Jangan buat aku marah karena pertengkaran ini. Aku mohon, dengarkan aku. Begitu sulitnya mendapatkan cinta kamu, tiba-tiba kamu ingin meninggalkan aku dalam keadaan salah paham. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, kamu adalah milik ku. Kamu harus tahu, banyak pria di luar sana yang menginginkan kita berpisah, tapi aku tidak akan membiarkan kamu menjauh dari ku. Sekali lagi, sebelum aku benar-benar marah, tolong percaya pada ku."


"Seharusnya aku yang marah, kenapa kamu yang berulah."


"Jangan bersikap seperti itu," Steve berkata menahan emosi. "Aku tidak mau kamu pergi, hanya kamu satu-satunya yang membuat aku Semangat."


"Tapi..."


"Aku katakan sekali lagi, aku tidak akan membiarkan kamu pergi," jelas Steve penuh penegasan.


Dinda yang terisak menangis memutar badannya lalu memukul dada Steve pelan, suara tangisan Dinda membuat Steve tidak tega mendengarnya. "Itu karena kamu benar-benar sudah menyakiti perasaan ku," ungkap Dinda. "Wanita mana yang nggak kecewa jika prianya membentak bahkan memeluk wanita lain di depannya!"


"Sudah! Sudah! Sudah!" Lirih Steve membelai rambut Dinda. "Aku mengaku bahwa aku salah. Kamu mau memaafkan aku kan?" katanya memohon. "Aku berjanji, aku tidak akan mengulanginya lagi."


Steve mengakhiri pelukan hangatnya lalu memegang wajah Dinda. Dia menyeka setiap air mata Dinda yang mengalir. "Aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu. Aku merasa dunia ku seakan menghilang setiap kamu menjauh dari ku. Aku mohon, pertengkaran kecil hari ini anggap saja bahwa aku tidak dalam emosi yang baik. Aku mohon, kamu jangan pernah mencoba meninggalkan aku."


Dinda merasa terharu, pria pemarah ini selalu membuat hatinya luluh dan tidak bisa berlama-lama dalam kemarahan. "Aku nggak pernah berpikir untuk meninggalkan kamu," kata Dinda sembari menahan air mata agar tidak lagi keluar. "Aku hanya nggak mau kalau kamu kenapa-kenapa. Kamu terluka atau kamu menjauh dari ku, aku tidak rela jika itu terjadi. Makanya aku nggak mau kalau kamu bertindak kasar di rumah sakit tadi," ungkap Dinda yang benar-benar tidak bisa menolak permintaan maaf tulus Steve.


"Kalau begitu, hentikan tangisan kamu," Steve meminta. "Aku nggak mau melihat kamu menangis karena sikap kasar ku tadi."


Dinda adalah tipe wanita yang cengeng apalagi kalau sudah di bujuk Steve. Justru dia semakin menangis kalau pria ini membuatnya luluh. "Ini semua karena kamu," Dinda melimpahkan kesalahannya pada Steve.


Steve tersenyum bahagia saat gadisnya itu sudah tidak lagi marah padanya. "Nah kalau kamu tidak marah lagi, wajah cantik kamu semakin memikat hati ku," lirihnya menggoda. "Aku akui kalau aku salah. Oleh karena itu, aku tidak mau kalau kekasih ku pergi begitu saja meninggalkan aku."


Steve menundukkan kepalanya sebatas wajah Dinda karena dia terlalu pendek. Steve harus menyembunyikan keluhannya selama ini, bahwa sebenarnya dia merasa sakit di bagian leher karena harus menyamakan tingginya dengan wanita pendeknya itu.


"Jangan membuat aku gemas melihat wajah kamu. Atau aku akan merasa bersalah kalau tidak melihat wajah cantik gadis jelek ku ini," Steve menyentil pelan dahi Dinda. Dia sangat senang karena pertengkaran tadi membuat gadisnya itu meleleh.


Dinda mendengus, nafas wangi Steve menyeruak masuk kedalam hidungnya saat dia berkata di dekat indera penciumannya. "Kamu selalu memanggil ku gadis jelek, kapan kamu akan merubah image buruk ku itu dari pandangan nakal kamu yang melakonis."


Dinda merengut, memanyunkan bibirnya. Dinda senang bisa bertemu pria yang sungguh-sungguh mencintainya bahkan tidak mau kehilangan dirinya sedikit pun.


Namun sekonyong-konyongnya mereka berdiri di tengah trotoar jalan. Tiba-tiba perut Dinda terkocok berbunyi. Steve tersenyum kembali mendengar perut ramping Dinda bergetar.


"Jangan di ledek," rengek Dinda. "Aku malu."


"Karena begitu mencemaskan Eva, kamu sampai lupa makan siang," Steve tahu bahwa Dinda pasti melupakan dirinya sendiri, yang terpenting baginya adalah orang lain.


Steve memegang tangan Dinda, dia ingin menuntunnya.


"Kita mau kemana?" tanya Dinda pada Steve yang membawanya entah kemana.


Steve menoleh sekilas. "Kita mencari makan, aku tidak mau gadis ku sakit," balasnya.


Di perusahaan Steve, polisi yang bertugas menyelidiki masalah ini sudah menyusuri berbagai tempat juga berbagai macam kejadian yang terjadi dalam ruang monitoring.


Ruangan yang di penuhi oleh puluhan layar televisi ini menampilkan keseluruhan kejadian yang terjadi siang itu.


Mata tajam opsir Rian mengamati rekaman cctv itu amat jeli. Dia tidak mau melewatkan satu pun dari tayangan ini.


"Penelusuran kita siang ini, sebaiknya kita hentikan sebentar," opsir Rian berkata pada pada kedua rekannya. "Kita akan melanjutkannya nanti."


Opsir Rian keluar dari ruang cctv di pusat keamanan. Di ikuti oleh kedua rekannya. Pria itu bosan karena belum mendapatkan petunjuk apalagi cctv di kantor Steve agak bandel.


Di pelataran kantor Steve, tepatnya di depan gedung yang menjulang tinggi, pria ini berdiri bersama kedua rekannya. Dia mengambil angin segar melepaskan kepenatan sambil menggigit korek api kayu.

__ADS_1


"Pelaku kejahatan ini akan tertangkap dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam," Opsir Rian berkata lagi pada kedua rekan kerjanya. "Tapi sulit, apalagi pelaku teror agak licin. Pergerakan mereka sulit terendus," kata pria ini.


"Mungkin ada petunjuk lain Pak," sahut rekannya. "Mengingat kantor ini sangat besar. Apa sebaiknya kita menyusuri ruang-ruang di sekitar pemilik perusahaan?" sarannya.


Opsir Rian mendongak matanya, dia sependapat dengan perkataan rekannya tadi. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita memulai investigasi ulang di ruangan lainnya di sekitar ruangan pemilik perusahaan?" opsir Rian menyuarakan idenya.


"Aku setuju Pak dengan ide anda," sahut rekannya satu lagi. "Dengan begitu mungkin kita akan menemukan petunjuk lain mengenai pelaku teror ular ini."


"Baik, kalau begitu, mari kita kembali lagi keatas," ajak Opsir Rian pada kedua rekannya. "Tapi ingat, kita harus berhati-hati," ingatnya pada kedua rekannya itu. Mengingat bisa saja teror ular ini bukan hanya satu ekor saja, bisa jadi lebih banyak.


Para penyidik ini dengan susah payah harus bekerja ekstra. Tidak peduli pada hal lain, mereka mementingkan hasil penelusuran ini. Walau cukup membuat mereka pusing karena sulit menemukan petunjuk lain, tapi motto mereka mengayomi masyarakat adalah tugas dan tanggung jawab.


Di restoran, Steve dan Dinda duduk di meja dekat dengan dinding kaca transparan. Tepat di depan restoran menjulang tinggi kantor Steve yang di tutupi oleh beberapa bangunan tinggi lainnya.


Mereka sudah memesan makanan tadi, mungkin menunggu beberapa saat agar makanan yang di pesan itu sampai.


"Ko, kamu anterin makanan ini ke meja nomor enam belas yah," perintah wanita yang sering di sapa Entik ini. Wanita yang terus menggoda Niko tanpa henti.


"Oke," jawabnya singkat. Dia langsung membawa baki makanan, meninggalkan wanita itu.


Gadis ini melihat bayangan punggung Niko bahkan hingga ke meja pelanggan pun tak ia lepaskan dari retina matanya. Dia terkekeh saat melihat remaja belia itu bekerja dengan giat tanpa membantah perintahnya sedikit pun.


"Nggak usah di lihat terus Tik," tegur karyawan wanita yang bekerja di dapur bersamanya. "Nanti kamu makin jatuh cinta loh sama dia."


"Diem deh mbak Nad," cemooh Entik. "Dia manis tahu, masa Entik yang cantik ini harus merelakan anak tampan seperti dia di anggurin."


"Ge er amat sih kau Tik," sahut teman sejawatnya sambil memukul bokongnya menggunakan handuk kecil. "Jerawat tuh di urusin, biar Niko memperhatikan kamu. Kalau kamu suka sama dia," ledeknya berlalu tidak ingin menggangu imajinasi liar wanita ini.


Di meja makan, Niko yang melayani tamu di meja sesuai perintah wanita yang menyuruhnya tadi, menaruh makanan yang di pesan pelanggan dengan ramah.


Semua di letakan Niko di atas meja, dia tidak pernah memperhatikan wajah siapa saja pelanggan.


Tapi, tamu yang baru saja dia layani menyadari bahwa dia mengenali remaja aktif ini.


"Niko," tegurnya. "Kamu ngapain di sini?"


"Kak Dinda?" Niko membesarkan matanya melihat Dinda sekaligus Steve yang ada di depannya.


"Kamu ngapain di restoran ini?" tanya Dinda. "Pakai celemek hitam pula?"


Steve melirik adik Dinda. Terlihat lucu dan imut saat remaja itu menggunakan pakaian pekerjaan. "Kamu kerja di sini?" tebak Steve.


Niko menelan ludah sengsara, pada akhirnya dia ketahuan oleh Dinda. "Sebenarnya,"


"Kamu ikut temani kakak makan saja," Steve menyela. Dia tahu anak itu sudah gugup saat berkata apalagi Dinda mengetahui bahwa adiknya kerja part time. "Kakak akan membayar makanan siang ini."


Niko menggaruk kepalanya walau sebenarnya tidak gatal. "Tapi kak," katanya ragu. "Aku.."


Steve menarik lengan Niko, lalu mendudukan di kursi. "Temani kami makan, aku akan membayarnya untuk kalian."


Karyawan wanita yang sempat meledek Entik yang sering menggoda Niko, kali ini mulai berulah lagi di dapur. "Lihat noh si Niko," ucapnya. "Beruntung banget-kan di minta menemani makan. Mana pelanggannya cantik dan tampan, duh kamu pasti makin tergoda. Dia hot, tipe kamu banget," lirihnya merayu Entik.


Entik mengintip dari kaca transparan, dia melihat Niko yang duduk bersama dua orang. Entik melihat bahwa memang benar dia sangat tampan, yang di lihatnya adalah Steve.


Seketika wanita ini merasa Steve bersinar saat melihatnya. Dia merasa meleleh. Pikirnya tak ada Niko, Steve pun jadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2