UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 34


__ADS_3

"Hei, apakah kalian akan meninggalkan aku sendiri seperti ini?" Zico menyela langkah keduanya yang hendak meninggalkan dirinya seorang.


Steve menengok ke arah Zico dengan tatapan sombongnya yang khas.


"Setidaknya Kembalilah ke kantor sekarang. Jika tidak, aku akan membuang mu ke afrika." Pungkas Steve bicara singkat.


Lalu melanjutkan kembali jalannya.


"Dia selalu saja melakukan tindakan sarkasme pada ku. Lain kali jika aku yang menjadi bos aku pastikan akan memukul bokong mu dengan stick baseball," Zico mengumpat dengan bangga.


Zico merasa sangat sebal karena di perlakukan seperti itu. Selalu sebal, namun tetapi ia bisa memaklumi prilaku Steve karena ia tak ingin di ganggu ketika bersama wanitanya. Zico terkekeh bahagia saat melihat Steve yang perhatian pada Dinda.


Steve membawa Dinda keluar dari gedung mall, dan selama berjalan bersama Dinda, keduanya saling tak bicara. Steve memang tipe pria yang tak banyak bicara sehingga niat Dinda ingin menyeringai untuk mengeluarkan suara dari mulutnya selalu tertahankan.


"Ingin aku bicara dan bertanya padanya. Namun wajah seriusnya membuat aku takut untuk menatap wajah dingin itu. Tetapi bagaimana pun juga dia selalu saja menolong ku disaat aku sedang sulit. Harus dari mana dulu aku memulai bicara," gumam Dinda bingung ingin berkata. Di dalam hatinya ia memikirkan Steve.


Steve memegang tangannya dengan lembut dan tatapan wajahnya fokus pada jalan di depanya. Langkah kakinya amat cepat dan tubuhnya amat tegap tinggi, membuat Dinda sedikit berjalan lebih cepat memaksakan heels-nya berjalan sejajar menyamai langkah sepatu buaya Steve.


"Pak Steve!"


Kali ini Dinda mulai memberanikan diri bicara meskipun ragu-ragu baginya untuk mengeluarkan suara, namun ia mencobanya. Karena Steve menariknya dan membawa Dinda entah kemana tak tahu arah tujuannya, Dinda tak tahu itu.


"Ada apa?" tanya Steve singkat seraya menoleh ke gadisnya.


"Bapak. Anu...... Bagaimana anda bisa sampai di mall itu dan secara tiba-tiba langsung menangkap tubuh ku yang terjatuh. Apakah ini sebuah kejadian yang hanya kebetulan saja? ataukah Pak Steve memang sengaja mengikuti ku?"


Steve berhenti sejenak saat mendengar ucapan Dinda yang sedikit penasaran akan kehadirannya tadi.


"..........."


Ia memandangi wajah Dinda dengan seksama. Kebetulan saat itu Steve yang tak tahu arah dan tujuan, tepat berhenti di sebuah taman tak jauh dari mall.


"Aku bahkan sedang marah padanya karena pergi tidak memberi tahu ku. Tetapi wajahnya selalu membuat ku ingin terus berada di sisinya. Sial bagi ku jika terus-menerus tergoda oleh wajah jeleknya," Steve bicara sebal dalam hati.


Tanpa aba-aba dan peringatan, tatapan yang sebelumnya serius menatap wajah Dinda, kini berubah menjadi sesuatu yang berbeda.


Steve menarik Dinda, agar tubuh dinda mendekati tubuhnya. Dengan segera ia memeluk wanita itu dengan pelukan eratnya seakan tak mau ia menjauh dari tubuh harum Dinda.


"Pak Steve!" ucap Dinda terkejut karena tiba-tiba saja melakukannya. Matanya makin membesar terkejut.


"Jangan bicara apapun. Tetaplah begini dan mulai sekarang jangan membantah maupun memberontak terhadap diriku. Aku yang akan selalu membuat mu nyaman." dalam pelukannya Steve bicara santai, tidak kasar dan terkesan merendah.


"Tapi Pak....."


"Tidak ada tapi-tapi. Katakanlah bahwa kamu akan terus berada di sisi ku, maka aku akan terus melindungi mu."


Mendengar ucapan itu Dinda sedikit merasa terharu dan lagi-lagi Steve yang terkesan kasar di matanya, hanya dengan ucapan itu membuat Dinda seakan di cintai olah jutaan orang.


Tanpa di sadari ia mulai menangis dalam pelukan Steve.


"Menangislah di pelukan ku. Aku akan menerima semua beban penderitaan diri mu, tetapi aku meminta satu pada mu. Yaitu tetap berada di sisi ku, dengan begitu aku merasa seperti sedang melindungi mu seumur hidup ku. Berjanjilah pada ku." Steve bicara ambigu.


"Hiks...... Hiks...... Hiks.....Hiks....." Dinda tersedu-sedu menangis di pelukan Steve yang terasa amat hangat. Dan ini kali pertamanya ia bertemu pria kasar berhati lembut penuh pengertian.


"A - Aku bahkan membenci diriku yang seperti ini. Diriku yang selalu di hina oleh orang lain, dan di anggap sebelah mata hanya karena aku tak memiliki apapun dalam hidup ku. Tetapi bapak? mengapa bapak selalu memperdulikan aku. Mengapa harus Pak Steve yang menjadi penyemangat ku." Tangis Dinda dalam pelukan Steve.


"Hiks.....Hiks......Hiks....." Suara tangisnya tersedu-sedu amat memilukan seakan pelukan Steve mampu mengurangi beban yang terus berada dalam otaknya.


"Kamu tidak perlu menyesali apa yang ada pada dirimu. Aku dengan senang hati akan menerima semua kekurangan mu tanpa memandang kelebihan apapun dari mu. Semua yang sedang menimpa diri mu akhir-akhir ini, tangisilah, dan aku akan mendengarkan tangisan pilu itu bagai musik yang sedang berputar," Steve menghibur.


"Pak Steve!" seru Dinda makin menangis deras di pelukan pria itu.


Dan Steve makin erat memeluk tubuh Dinda. Ia paham sekali bahwa Dinda sering di hina dan di cap sebagai wanita jalang oleh orang-orang kelas atas karena dirinya yang sederhana. Steve merasakannya, walau dirinya bukan Dinda.


"Terima kasih Pak, karena Bapak telah memberikan aku sebuah pelukan sebagai tempat untuk ku membuang keluh kesah.


Hiks.....Hiks.....Hiks....Hiks...Hiks....."


"Tidak masalah. Aku akan selalu menjadi pria yang bisa kamu andalkan," balas Steve penuh perhatian.


Ia memeluk tubuh Dinda dengan erat dan membelai rambut halus Dinda yang wangi.


Cukup bagi Steve merasakan keluh kesah Dinda yang selalu di olok-olok oleh orang-orang yang merasa lebih darinya.


"Seumur hidup ku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina mu. Aku menjamin hal itu." Steve bicara dalam hati penuh keyakinan.


Dan pada akhirnya Steve melepaskan pelukan hangat itu pada Dinda. Ia memandangi wajah tangisan penuh haru.


"Kamu tidak perlu menangisi apa pun yang bukan bagian dari kesedihan mu. Cukup pikirkan hal yang akan terjadi ke depan, karena banyak orang yang akan bersedia menyiapkan bahunya untuk mu bersandar. Lepaskan semua yang kamu pendam selama ini dan aku siap menjadi wadah air mata mu yang terjatuh. Percayalah pada ku." ucap Steve meyakinkan Dinda dan menghibur.


Steve memegang kedua bahu wanitanya dan berharap ia tak lagi larut dalam kesedihan yang mendalam, terlebih Steve telah membalaskan kelakuan Johan padanya tadi.


"Terima kasih Pak atas perhatian Bapak pada ku."


Untuk sesaat Dinda merasa memiliki keberanian menatap masa akan datang.


Lega dan hatinya mulai merasa terbuka, lepas dan ia merasa sedikit bebas untuk sesaat.


"Entah mengapa? berada di pelukan pria ini, aku merasa sangat nyaman bahkan aku merasa seperti sedang berada di pelukan ayah," Dinda mulai mendapatkan intuisi dan sedikit terkenang pada sosok ayahnya dalam diri Steve.


"Kalau begitu ayo kembali ke kantor!" seru Steve menutup kisah ambigu ini.


Dinda untuk pertama kalinya memberikan senyum manis berseri pada steve. Dinda menarik nafas panjang dan siap untuk kembali bekerja dengan wajah bahagia menutupi lukanya.


"Baiklah pak," jawab Dinda untuk sesaat sedikit terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Steve merasa sangat senang, karena ini kali pertama ia melihat gadisnya tersenyum dengan manis di hadapannya. Tak sia-sia ia memeluk Dinda tadi.


"Yes!" ucap Steve penuh kemenangan.


"Akhirnya aku bisa menaklukan kelinci kecil. Lihat saja suatu saat nanti aku pasti akan membuat mu menjadi milik ku," lanjut Steve dengan senyum sumringah di wajah.


"Ada apa Pak Steve tiba-tiba tersenyum bahagia dan semangat. Apakah karena ia sedang mengumpat kisah ambigu ku?" hati Dinda bertanya-tanya akan hal ini kala melihat Steve bahagia.


Keduanya lalu jalan kembali dengan sikap seperti biasanya seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Tetapi, Dinda yang tadi bertanya pada Steve mengenai kehadirannya tadi belum sempat ia jawab. Sehingga niat Dinda untuk bertanya pertanyaan yang terjeda tadi kembali ia utarakan.


"Maaf Pak!" Dinda memberanikan diri menyeringai langkah mereka.


"Pertanyaan ku tadi yang belum sempat Bapak jawab, apakah itu hanya sebuah kebetulan saja?" Dinda masih penasaran pada kejadian tadi.


"Pertanyaan? pertanyaan apa yang ia maksud?" Steve bertanya dalam hati seraya mengingat kembali pertanyaan apa yang dinda bicarakan.


"Oh sial. Pertanyaan itu rupanya!"


Steve paham pada ucapan itu. Dan secara rasional ia tak ingin menjawab pertanyaan itu, karena pertanyaan itu bukanlah lagi masuk dalam daftar jawabannya.


Dengan wajahnya sok ingin menutupi kisah ini, Steve teringat kejadian sebelumnya.


Kejadian saat dirinya ke kantor namun dia tidak mendapatkan Dinda di ruangannya.


Kilas balik beberapa saat yang lalu


"Dimana dia?" ucap Steve yang tak sengaja melintas di depan ruangan Dinda.


Ruangan kaca tembus pandang itu sepi karyawan.


Steve melihat jam tangannya dan ia melihat arloji itu berdetak menunjukan pukul dua belas siang, waktu jam makan siang para karyawannya.


"Mungkinkah dia sedang pergi makan di luar?" pikir Steve demikian.


Ia sengaja datang ke kantor kecil itu karena ingin melihat wajah gadis kecilnya yang sedari pagi belum ia lihat.


Langkah kaki penuh penasaran tersinkronisasi oleh seluruh tubuhnya yang gelisah karena tak melihat gadisnya itu.


Ia masuk kedalam ruangan Dinda demi memastikan apakah benar dia makan siang atau sedang melakukan hal lain.


"Hei Steve!" sapa Zico yang kebetulan melintas di ruangan itu juga.


Malas bagi Steve untuk berbicara dengan pria itu. Ekspresi wajahnya yang cuek seakan anti Zico menjadi jurus untuk mengusir Zico yang menyapanya saat itu.


".........." Steve tak menggubris ucapan Zico dan mengabaikan dirinya.


"Dia selalu saja bersikap cuek dan sok dingin pada ku."


Seakan ia seperti pria tak tahu malu, Zico menghampiri prianya Dinda itu. Zico berpikiran demikian dengan bangganya karena jelas keduanya amat cocok jika di sandingkan. Semacam kisah pemeran drama unintentional pikir Zico.


"Aku tahu Pak Steve yang pemarah sedang mencari Dinda yang manis. Bukankah begitu?" goda Zico sok manis dan imut.


Steve tak menjawab Zico dan ia bersikap biasa saja seolah dugaannya itu salah.


Steve pergi meninggalkan ruangan kosong itu beserta Zico yang berdiri di sebelahnya itu.


"Yakin tidak ingin bertemu dengan wanita itu sebelum bekerja. Padahal aku tahu dimana dia sekarang. Tapi aku rasa informasi ku sudah tidak di perlukan saat ini," Zico mencoba memancing Steve.


Zico tak bisa diam akan hal ini. Ya, Zico adalah Mak comblang yang sesungguhnya dalam kisah asmara ini.


Steve yang ingin meninggalkan dirinya tadi terpaksa menghentikan langkahnya sejenak.


"Kurang ajar bocah sialan ini. Dia selalu saja ingin membuat ku marah dan menendangnya hingga ke Afrika," umpat Steve sebal.


Sedangkan Zico yang melihat bokong molek Steve sedikit terperangah karena pria itu berlagak sok keren dan berwibawa ala raja Mesir Ramses II atau Zico kadang memikirkan bahwa Steve adalah reinkarnasi dari raja Mesir itu sendiri. Tanpa di sadari oleh Zico ia mulai memperhatikan wajah garangnya dengan seksama.


"Sudah ku duga. Dia pasti akan semangat jika mendengar nama Dinda. Lain kali aku akan membuat anak bernama Dinda, siapa tahu sama seperti dinda-nya Steve yang amat spesial." Zico terkekeh membayangkan Dinda yang manis.


Bagai pria tanpa dosa, Zico juga ikut meninggalkan ruangan bagian keuangan itu mengikuti langkah Steve yang cuek.


Ia sedikit melintas di sebelah Steve yang sedang terpaku tersebut.


EHMMM....


Zico mendeham kecil melalui nafasnya sebagai tanda meng-kode Steve agar peka.


"Lagi-lagi dia memaksa ku untuk bertindak. Siluman babi hutan kecil ini selalu membuat ku ingin memarahinya. Tetapi dia tahu dimana gadis itu. Aku harus menemuinya!" seru steve dalam hati girang luar biasa bercampur kesal pada ulah zico yang selalu mengusik dirinya.


Sebagai refleksinya atas kebahagia berbunga-bunga macam bunga edelweis yang sedang mekar sekaligus kekesalan yang menjemput bagai pembantai, Steve dengan tangannya yang sempat tertidur langsung bangun menangkap bahu Zico yang ingin mendahulinya itu.


"Antarkan aku menemuinya!!" ucap Steve singkat dengan aura menakutkan.


Zico dengan senyum manisnya sangat mengharapkan hal ini pasti akan terjadi. Ia paham aura pembunuh itu tidak cukup menakutkan dirinya.


"Tetapi aku merasa informasi ini sangat berharga sehingga informasi ini tidak bisa di bocorkan kepada kaum awam. Maafkan aku pak Steve, karena tidak bisa memberitahukan kepada anda akan informasi penting ini." ucap Zico bertingkah dan berkelakar pada Steve.


Tangan Steve yang menempel di bahu bagian kirinya, ia turunkan dengan pelan penuh kehati-hatian. Dan sekali lagi bagai pria tanpa dosa zico ingin meninggalkan pria itu dan mendahului dirinya.


Namun Steve tak menyerah begitu saja. Masih banyak akal baginya memaksa teman seperjuangannya yang bodoh itu untuk menuruti kehendaknya.


"Jika kau tak mengantarkan aku segera, maka aku pastikan, aku akan melemparkan diri mu jatuh dari lantai atas gedung ini," Steve menggertak dan mencoba mengancam Zico dengan hal yang berbau kengerian.


Zico menghentikan langkahnya kala mendengarkan ucapan ngeri itu. Dagingnya bagai di sayat dan ia menelan air liur kesengsaraan.

__ADS_1


GLEK...


Suara menelan air liurnya amat jelas terdengar.


"Sial! bahkan dia mengancam ku karena aku tak mengantarkan dia bertemu dengan gadis itu. Aku tidak mau mati konyol kalau berurusan dengan hal yang menyangkut ketinggian ini!" Zico bergidik takut.


"He-he-he..... Aku rasa aku akan mengantar mu. Karena aku pikir kau sedang tidak ada kerjaan sekaligus ingin membuang rasa bosan karena lelah bekerja. Terlebih informasi ini menurut ku semua orang bisa mengetahuinya, jadi tak masalah jika aku menjadi pemandu informasi mu." Dengan malu-malu Zico mendekati Steve yang pemarah mencoba mencuri hatinya agar tak terlalu serius.


Senyum licik mengembang di wajah Steve sebab gertakan konyol ini berhasil membuat langkah Zico terhenti dan menuruti kemauannya.


"Kalau begitu Steve ku yang tampan, mari aku antarkan anda bertemu dengan Dinda mu yang sedang menunggu di istananya," Zico kembali berulah manja.


Akibat gertakan konyol itu Zico akhirnya menuruti kehendak Steve dan bagi Zico tak ada pilihan lain selain menurutinya karena pria itu menakutkan. Bahkan sikapnya lebih kejam dari pada psikopat yang bersembunyi di balik topeng badut.


Ia menuntun Steve menuju ke pusat perbelanjaan modern di sekitar kantor steve. Dalam pengertian lain adalah karena mall yang mereka kunjungi dekat dengan perkantoran sehingga menuju kesana dengan berjalan sebentar tak masalah. Hanya membuang waktu lima menit saja.


Tempat ini ramai berlalu lalang melintang melintas di berbagai sudut kota. Kawasan perhotelan, industri dan pusat perbelanjaan menyatu menjadi satu dalam lingkup gedung pencakar langit.


"Kenapa kita menuju ke mall. Apakah karyawan UOB di perbolehkan berbelanja di tengah istirahat makan siang kantor seperti ini?" tanya Steve menyela di tengah perjalanan keduanya.


"Sejak kapan ada aturan semacam itu? apakah sudah ada aturan baru jika karyawan boleh berbelanja di jam istirahat kantor?" Zico nampak salah tangkap atas ucapan Steve.


"Jika itu benar, maka aku dengan senang hati menyambut peraturan itu," lanjut Zico menambahkan ucapanya dengan mata berkaca-kaca bagai anak kucing yang mengiba.


"Bocah sialan ini selalu saja salah kaprah atas ucapan ku. Sepertinya memang dia patut di berikan liburan selama tiga bulan di benua Afrika agar otaknya bisa di sterilisasi oleh induk gajah Afrika." Ucap Steve kesal dalam hati menahan tingkah konyol Zico.


Ia menatap wajah Zico dengan tatapan serius untuk kesekian kalinya karena Zico selalu saja bertindak bodoh di hadapannya.


"Akh.... Tidak... Nampaknya aku salah atas ucapannya tadi," Zico menyadarinya.


"Maafkan aku... Mungkin aku salah dengar.. he-he-he!"


Zico sadar akan kesalahannya dan segera mencari pembicaraan lain.


"Sial kenapa aku selalu saja bertindak bodoh. Pantas saja wajahnya selalu menatap wajah ku dengan tatapan serius." Umpat Zico menyadari kesalahannya seakan menyesali ucapannya tadi.


" Aku rasa mereka sedang makan di stan kuliner di lantai atas. Sebaiknya kita langsung saja menemui mereka." Zico mengalihkan perhatian.


Steve yang sedari tadi tak banyak bicara hanya diam menuruti langkah kaki Zico.


Mereka mengambil jalur eskalator menuju ke atas.


Namun, mata tajam Steve yang jeli tak sengaja melihat Dinda berada di atas bibir eskalator. Tepat di atas bibir lantai tangga berjalan itu, Dinda berdiri seperti sedang berdebat dengan seorang pria.


Matanya mulai menyipit berfokus melihat siapa pria yang samar-samar pernah ia lihat.


"Ternyata dia rupanya!" ucap Steve sudah paham pada rupa pria yang tak asing itu.


"Putra keluarga Tama rupanya!" seru Steve dalam hati.


Dari bawah eskalator yang berjalan lamban ini, ia ingin menyaksikan hal apa yang akan di lakukan oleh pria itu pada wanitanya.


Semula Steve menahan dirinya untuk tidak ikut campur lebih dulu pada perdebatan yang jelas di lihat oleh matanya. Tetapi pegangan tangan yang kasar oleh putra Tama itu sedikit membuat matanya geram sebab pegangan tangan yang tak biasa itu membuat sebuah kesalahan.


Aaaa...


Teriakan itu membuat Steve makin geram saat melihat gadis itu terlepas dari pegangan tangan Johan. Hal ini memaksa Steve yang sedang di eskalator sejalur dengan tubuh Dinda yang hampir terhempas, mengambil langkah kilat.


Ia melangkahi beberapa anak tangga sekaligus kala melihat Dinda yang sudah melayang hampir terjatuh.


"Ada apa Steve," tanya Zico yang melihat Steve berlari mengarungi anak tangga.


Zico tak menghiraukan Zico dan ia hanya berfokus pada Dinda yang terpeleset di bibir eskalator.


Zico tak sadar jika ada Dinda di atasnya yang terhempas hampir terjatuh.


Zico sadar jika Steve sedang berusaha menangkap tubuh Dinda kala melihat pria itu sedikit tergesa-gesa panik.


Bak seorang aktor dalam drama Hollywood, Steve berhasil mendapatkan tubuh Dinda dengan aman.


Grep...


Dengan cekatan Steve berhasil menangkap tubuh Dinda dengan selamat.


Sedikit mendramatisir untuk dilihat karena Zico ikut merasa tegang, namun rasa tegang itu hilang seiring leganya hati melihat Steve yang gagah menangkap Dinda.


"Pyuh......" Zico menghela nafas lega.


"Syukurlah dia berhasil di selamatkan," tambah Zico menyeringai keringat di keningnya yang kering.


Zico sok seperti orang yang penuh perhatian dan bertindak sebagai protagonis.


Sementara Steve yang berhasil menangkap tubuh Dinda menunjukan senyum licik yang mengembang di wajah.


Seakan ia ingin mengatakan, "Akulah pria paling bisa, hebat dan tangguh," dengan wajah membanggakan diri.


Kilas balik berakhir.


"Pak Steve? apakah Bapak baik-baik saja?"


"Tentu aku baik-baik saja," balas Steve sadar dari lamunan sejenak.


"Lupakan saja. Itu tidak perlu di ingat kembali karena sudah berlalu. Aku benci mengingat hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu." Steve membuang alibi.


Dinda paham pada ucapan itu, lalu ia tak melanjutkan pertanyaan lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2