UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 86


__ADS_3

Demi mendapatkan hati Ibu Yuri, Steve rela melakukan apapun. Termasuk membantu Dinda memasak di dapur.


Ini pertama kalinya bagi Steve mengenakan celemek hijau layaknya seorang wanita rumahan.


Steve harus menurunkan imagenya walau sebenarnya kalau di pikir-pikir oleh Steve dia merasa malu.


Prilakunya yang berada di dapur berbeda jauh dengan apa yang


biasanya dia lakukan di kantor.


"Wortel ini di potong seperti apa?" tanya Steve pada Dinda yang tengah mencuci sayuran lain. "Potong kotak atau memanjang?" Steve kebingungan, dia belum terbiasa.


Dinda menoleh. "Potong saja memanjang, atau pakai saja blender pemotong sayuran di pojok lemari sana," balas Dinda menyuruh. "Biar cepat!"


Steve menggaruk telinganya, dia bingung seperti apa menggunakan pemotong sayur otomatis itu. Oh tuhan, kalau aku tidak di budak-kan oleh cinta, manalah mungkin aku mau menyentuh sayur-sayuran ini, hati kecil Steve menggerutu ingin menangis.


Dinda yang melihat kebingungan Steve pada benda yang ada di hadapannya, terkekeh. Dinda berusaha membantunya, walau kesan yang Dinda lihat adalah wajah lucunya.


"Kalau sudah di colok ke stop kontak, tekan tombol turn on. Setelah itu, masukan sayuran, dan jadilah wortel iris," Dinda mengajarkan.


Karena suara pemotong sayuran yang begitu berisik, Steve sampai terkaget. Rasanya, gendang telinga Steve jantungan atau bisa saja mati mendadak karena suaranya yang bising. Kalau aku tidak ingat bahwa aku garang, mungkin sudah aku buang benda berisik ini. Steve makin sebal melihat blender pemotong sayur yang begitu berisik ini. Jika benda asing ini milik ku, akan ku buang dia hingga hancur, omel Steve pelan.


"Kalau sudah memotong tomat, sekalian yah, potong juga bawang merahnya," pinta Dinda. Mata Dinda tidak terlalu memperhatikan Steve yang sedang mengomel kesal.


Steve lagi-lagi harus menahan betapa tidak cocoknya dia sebagai seorang juru masak di dapur.


"Berapa banyak?" tanya Steve jutek.


"Tiga sampai empat siung saja," sahut Dinda.


Uh, Steve mengeluh. Aromanya menyengat, betapa kuatnya ibu-ibu rumah tangga menghirup aroma bawang ini.


Walau Steve benci pada aroma bawang merah yang begitu menyengat, namun tetap saja dia melakoninya. Steve tetap memotongnya walau sesungguhnya Steve sudah mengeluh ingin mengundurkan diri tidak ingin memotong sayuran itu. Atau jika ada opsi lain, mungkin Steve akan memilih tidak menyentuhnya sama sekali.


"Kenapa bawang ini bau sekali sih," gerutu Steve sambil menghindari hidungnya dari bawang merah di tangannya. "Mana perih di mata."


Dinda menengok Steve yang sedang mengomel. Dinda melihat Steve telah menyeka air matanya di kaus putih yang dia kenakan. Kaus hasil menjarah pakaian Miko, karena baju Steve tadi basah.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Dinda. "Kamu terkena bawang?"


Steve yang menutup matanya, sangat kesal ulah si bawang. Steve ingin berpura-pura baik di hadapan Dinda, dia tidak mau gadisnya tahu kalau uap bawang merah telah melukai matanya. "Nggak apa-apa, cuma kemasukan debu," dalih Steve pura-pura tak terjadi apapun.


Dinda tahu kalau Steve terkena uap bawang. Dinda membantunya, meringankan perihnya uap yang masuk ke mata Steve.


"Sini aku bantu," Dinda menepis tangan Steve dari matanya agar tidak iritasi.


Dinda meniup mata Steve lembut. "Kalau nggak terbiasa dengan urusan dapur, jangan di paksakan untuk membantu. Aku takut kamu kenapa-kenapa."

__ADS_1


Steve perlahan membuka matanya walau perih. Dia melihat gadisnya begitu perhatian, padanya yang tertimpa kemalangan.


"Jangan karena meminta restu ibu, kamu jadi terbebani," Dinda berkata sok bijak.


Steve tidak menyukai kata menyerah. Dia sangat semangat menerima tantangan dari Ibu Yuri demi mendapatkan putrinya. Walau dia meminta hal-hal di luar masuk akal, namun Steve yakin mampu menyanggupinya.


"Asalkan kamu selalu ada di samping ku, juga selalu mendukung ku, aku rela melakukan apapun!" tegas Steve pada Dinda.


"Aku tahu kamu serius, tapi aku hanya ingin kamu menjadi diri kamu sendiri. Tanpa harus menjadi orang lain, dengan membantu aku memasak di dapur," sambil bicara, Dinda membersihkan mata Steve dengan tisu basah.


Sementara Ibu Yuri, diam-diam mendengar dan melihat apa yang Dinda dan Steve lakukan di dapur. Dari balik dinding, tepat di depan pintu dapur, Ibu Yuri tersenyum saat melihat Dinda menjinjit meniup mata Steve. Tak lama kemudian dia pun pergi setelah melihat mereka berdua yang akrab.


"Dinda," Steve memegang tangan Dinda erat. "Bagaimana kalau Ibu tidak merestui hubungan kita?" kata Steve mulai khawatir pada hubungan mereka.


Dinda mengelus wajah Steve, dia menatapnya serius. "Jangan pikirkan yang tidak-tidak," hibur Dinda. "Ibu tidak Setega itu. Jikapun Ibu tidak merestui hubungan kita, mungkin sejak awal ibu akan menolak keras kamu tadi."


Steve berpikir, benar juga apa yang di katakan Dinda. Ibu Yuri butuh waktu untuk menilai layak atau tidaknya Steve sebagai pendamping Dinda kelak.


"Kalau begitu, aku akan lebih giat lagi memenangkan hati Ibu," Steve bersemangat. "Terima kasih Dinda, terima kasih atas kata-kata penyemangat kamu hari ini!"


Dinda tersenyum manis, dia menyukai Steve yang sekarang. Pria yang ternyata memiliki sisi romantis walau tanpa di sadari oleh Steve dia berbakat dalam menaklukan hati seorang wanita.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak bisa memasak?" tanya Dinda berulah. Kini Dinda melanjutkan kembali memasaknya.


"Kamu pikir aku seorang koki yang bisa memasak," balas Steve. "Aku kurang berbakat dalam hal kuliner. Lagi pula bakat ku adalah berbisnis, bukan menjadi juru masak yang harus bersusah payah berkeringat menghidangkan makanan untuk orang lain."


Dinda menengok Steve sambil menikmati rasa dari apa yang dia masak. "Walau menjadi koki, tetapi pekerjaan mereka mulia?"


"Tentu saja mulia, kalau mereka menekuninya sepenuh hati. Toh, aku bukan pria yang mencintai dapur. Jadi aku putuskan tidak sama sekali menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan wanita!" tegas Steve.


Melihat Steve yang cukup tangguh pada pendiriannya untuk tidak mengenal urusan dapur, Dinda sebagai wanita yang mendengarkan keluhannya, mungkin hanya bisa berhenti berargumentasi atau perdebatan makin panjang.


"Ya, aku pikir kamu seperti di dalam komik atau novel begitu?" Dinda memulai aksinya. "Dimana pria kaya, mapan, CEO, tampan dan mandiri bisa masak dengan kelezatan yang luar biasa jauh lebih lezat dari yang pasangannya hidangkan. Aku pikir kamu salah satu bagian dari mereka. Pria yang pandai dalam segala hal!" Dinda menunjuk Steve menggunakan spatula berisi sambal menempel di permukaan alat pengosengan ini.


"Dan juga," lanjut Dinda berkata. "Kamu tinggal dan belajar di luar negeri, terus ada adegan saat Papa kamu hanya mengirim uang ala kadarnya. Di saat-saat sedang kritis uang, kamu terpaksa harus bisa memasak agar menekan biaya pengeluaran uang yang banyak. Nah, itulah kenapa aku menganggap kamu bagian dari pria-pria di dalam komik itu!"


Steve menyilang tangannya, dia tertawa tipis dengan tatapan intrik. "Itu kan hanya ada di dunia imajinasi mu saja," ucap Steve berkata yang terkesan menggoda. "Lagi pula, aku bukan bagian dari pria yang kamu sebutkan tadi."


"Lalu? Kamu tipe pria yang seperti apa?" tuntut Dinda. "Hidup kamu akan sempurna jika kamu bisa memasak. Melengkapi kesempurnaan kamu, pasti mudah. Sudah tinggal di luar negeri, pengusaha muda, tampan pula. Apa itu bukan memasuki kriteria sempurna?"


"Hhmm... Aku?" Steve mendongak menatap ke atas. "Ketika di Jerman, aku tidak pernah memasak. Karena kak Stevie yang biasa melayani aku atau ada pelayan yang menyiapkannya," Steve menjelaskan. "Kalau di pikir-pikir, sebenarnya selama tinggal di Jerman, aku belum pernah memasak di dapur. Kecuali makan, hanya itu keahlian ku."


Dinda terkekeh. Dia tertawa geli mendengar keahlian Steve yang hanya bisa makan tanpa bisa memasak. "Oke! Oke, aku paham," balas Dinda. "Aku pikir kamu Sealin berbakat dalam berbisnis, juga berbakat dalam segala hal. Ternyata, Tuan terhormat yang perfeksionis seperti Pak Steve bisa memiliki keahlian lain rupanya."


Steve memanyunkan bibirnya, Dinda meledeknya. Tapi Steve tidak marah, justru dia menyukai gadisnya yang tersenyum bahagia saat ada di dekatnya.


Ketika malam hari, Steve meminta izin pada Ibu Yuri, mengajak Dinda keluar malam sebentar dengannya.

__ADS_1


Steve ingin menikmati indahnya pemandangan malam Kota Bandar Lampung yang terlihat seperti kota di atas bukit.


Tempat yang indah dan nyaman, suasananya sejuk juga enak di rasakan.


Dinda mengajak Steve pergi ke atas sebuah bukit di pinggir jalan. Di mana di bawahnya adalah hamparan laut di kelilingi dengan kampung-kampung nelayan.


Steve dan Dinda duduk di atas mobil yang mereka tepi-kan di pinggir jalan. Mereka duduk sambil menikmati pemandangan malam kota.


"Apa kamu ingat di mana kali pertama kita bertemu?" Steve memulai bicara.


Dinda memandangi wajah Steve, pria itu sedang mengenang.


"Di sana kita pertama kali bertemu," Steve menunjuk tepi pantai saat keduanya bertemu untuk pertama kali.


Dinda ingat dengan jelas, Steve kecil yang menawan membantunya terbebas dari air laut. Dinda tersenyum manis, sambil kembali memandangi bibir manis dan jakun Steve kali ini.


"Kamu masih mengingatnya," dinda ikut mengenang kisah kecil itu.


"Walau untuk sesaat, aku tidak akan melupakan wajah manis gadis kecil itu," timpal Steve.


Cuaca di atas tebing di bibir pantai memang sangat dingin. Steve merangkul Dinda, menyandarkan kepalanya di bahu Steve sambil menyaksikan pantai dan kampung nelayan yang kelap-kelip.


"Entah kenapa, setiap kali kamu memeluk ku dengan kehangatan, aku merasa begitu nyaman," dalam pelukan Steve Dinda mengakui sisi lain dirinya yang menikmati perlakukan Steve.


Steve membelai rambut Dinda lembut lalu mengelus wajahnya. "Karena aku tidak mau melihat kamu menangis," jawab Steve berkata lembut.


"Steve," Dinda meliriknya. "Kamu ingat saat kamu menyelamatkan aku di pantai itu."


Steve terdiam, dia mendengar apa yang ingin Dinda katakan.


"Kamu pernah berkata, : Jika pantai bisa mengabulkan sebuah harapan, mungkin harapan yang ingin aku katakan adalah kembali ke pantai ini dengan membawa keluarga kecil yang bahagia," Dinda mengingatkan Steve pada kejadian empat belas tahun yang lalu.


Jelas Steve mengingatnya, dia yang membuat kata-kata itu. Steve membelai lembut pipi Dinda yang mulus, sambil menikmati gelapnya malam di penuhi bintang yang bersinar.


"Dan aku berharap bahwa kita bisa bersama," tambah Steve pada ucapan Dinda.


BERSAMBUNG


Author ingin memberitahu sekali lagi ya teman-teman pembaca. Kalau sekiranya novel ini updatenya agak lama, harap maklumi yah.


Sebab author baru sembuh dari sakit, kebetulan kemarin baru reda dari demam (Perubahan cuaca mungkin penyebabnya.) Demi pembaca, author rela menerjang badai dan up.


Kalau misalnya kok lama sih Thor up-nya, nggak sabar nih nungguin-nya. Bukan author egois, menelantarkan pembaca yang rela membuang waktu demi menunggu novel ini. Tapi, author sedang dalam masa pemulihan sekalian refreshing dulu. Mohon jangan sumpahi author dengan kata-kata tidak enak, karena author juga lagi berusaha menulis lebih banyak lagi. Karena beberapa naskah untuk next episode hilang, nggak sengaja ke-delete.


Terima kasih atas pengertiannya dan dukungannya.


Salam manis, UNINTENTIONAL

__ADS_1


__ADS_2