UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 98


__ADS_3

Jam satu siang, rapat baru saja akan di mulai. Steve dengan pakaian rapi duduk diantara semua karyawan dari seluruh devisi.


Stevie duduk di dekat adiknya, sementara Miko duduk di seberang Stevie.


Mira, Eva, Zico dan devisi lainnya duduk saling menghadap.


"Hari ini ada pengenalan model terbaru dari sepatu Belagio, bagian desain dan perancangan, apakah sudah siap dengan presentasi kalian?" Steve memulai bicara, dia menyandarkan punggungnya di kursi kerja yang bisa berputar searah jarum jam.


Bagian devisi perencanaan pengembangan sudah siap, mereka mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan seluruh devisi lainnya juga di depan Steve selaku kepala perusahaan.


"Desain yang kami tunjukan ini adalah jenis model yang di buat dari serat fiber ringan. Di mana penggunanya akan merasa sangat nyaman selain tahan api dan tahan rusak, model jenis ini sangat trendy sesuai mengikuti zaman," kata kepala perwakilan tim pengembang mulai menjelaskan. "Selain itu model terbaru ini masih mempertahankan sisi sporty agar pengguna semakin mudah dalam melakukan pergerakan," tambahnya.


Di hadapan semua orang, pria setengah baya ini menjelaskan presentasinya dengan baik. Mondar-mandir di depan LCD proyektor, menjelaskan detail hingga seluruh orang yang ada di ruang rapat itu terpukau.


"Untuk model terbaru ini, vendor asal Perancis menjadi satu-satunya negara yang telah memesannya tiga bulan yang lalu," lanjutnya menjelaskan. "Mereka sangat antusias menyambut peluncuran produk ini, mengingat negeri mode ini tidak mau ketinggalan mengenai sepatu mahal jenis Belagio. Bahkan mereka secara terang-terangan mengatakan siap menjadi negara kedua sebagai negara penjual di samping negara asal produksi."


"Apakah mungkin sepatu model terbaru ini akan mengalami sukses besar?" Zico menyela. "Ada beberapa hal yang harus di perhatikan, utamanya adalah bahan baku."


Zico suka pada presentasi ini, namun dia ragu walau belum ada dampak kekurangan bahan.


"Untuk estimasi bahan sekaligus agar tidak kekurangan bahan, kami sudah mendatangkan bahan-bahan getah karet terbaik dari seluruh Indonesia. Pak Zico tidak perlu takut untuk kekurangan bahan, sebab bahan baku setengah jadi tidak langka walau akhir-akhir ini sedang musim penghujan," jelasnya memberitahu.


"Apakah model yang baru saja di kembangkan ini sudah di patenkan?" tanya Steve ikut menyela. "Hak paten sangat di perlukan mengingat produk grup wong terkenal dengan kualitasnya yang mumpuni."


"Untuk hak paten dan hak registrasi sudah di daftarkan di kantor kementrian perindustrian dan perdagangan. Untuk kedepannya tidak perlu takut model dan desain terbaru sepatu Belagio terdampak skandal plagiarisme. Karena pihak otoritas dari kementrian kamar dagang dan industri sudah menjamin bahwa grup wong satu-satunya perusahaan terbaik pemilik sepatu kualitas dunia," jelas kepala devisi bagian perencanaan dan pengembangan pada Steve, khususnya untuk semua anggota rapat.


Steve mengangguk sembari mengurut dagunya. "Kerjakan yang menurut kalian itu terbaik. Minggu depan pastikan model terbaru ini sudah di produksi," kata Steve memerintah. "Tapi ingat, usahakan memproduksinya dalam jumlah terbatas. Kita harus melihat prospek penjual sepatu ini kedepannya. Apakah mengalami peningkatan permintaan atau justru mengalami penurunan permintaan," ungkap Steve mengingatkan.


"Untuk jumlah penurunan permintaan produk dari sejumlah negara besar di Asia, Pak Steve tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," Kepala devisi bagian perencanaan kembali menjawab. "Di lihat dari statistik penjualan dan segi sumber daya manusia, sepatu merek belagio keluaran grup wong adalah sepatu yang tidak pernah mengecewakan penggemarnya. Oleh karena itu, kami bagian perencanaan dan pengembangan sangat yakin jika model terbaru ini bisa menarik perhatian kaum milenial saat ini."


"Apakah anda yakin jika model ini akan sukses besar di pasaran?" Stevie yang sedari tadi menyimak presentasi memberanikan diri berbicara. "Secara pandangan pribadi ku, memang benar prospek penjualan produk agak cerah, tapi kuartal penjualan harus di timbang-timbang. Jangan sampai gagal produksi terjadi lagi seperti tahun kemarin di Vietnam."


"Bu Stevie jangan khawatir. Kami sudah merencanakan segala sesuatu dengan matang," jawabnya tenang. "Pengenalan model kali ini di ikuti dengan keluaran terbaru produk olahraga. Di mana sebelumnya tahun lalu penjualan meningkat seiring di gelarnya acara Asian games. Karena itu, menyeimbangi laju pertumbuhan penjualan akan selalu kami pantau. Sejauh ini tidak ada penurunan yang signifikan, paling hanya 0,001% hingga 0,002% itu pun hanya terjadi lima tahun sekali. Kami tim perencanaan dan pengembangan akan meminimalisir semua kekhawatiran Pak Steve dan Bu Stevie," imbuhnya menjelaskan.


"Kalau menurut Pak Suwito sudah benar-benar yakin, maka aku setuju saja pada rencana kalian," kata Stevie mau tak mau harus mengikuti trend para karyawan. "Asal laju produksi sesuai dengan curva permintaan."


"Aku setuju dengan dengan pernyataan Stevie," sahut Steve. "Laju produksi harus di imbangi dengan curva permintaan agar harga penjualan stabil."


"Untuk hal itu, kami sudah menyiapkan rancangan dimana produksi awal kami hanya tiga ratus buah saja," kata kepala perancangan menjawab pernyataan kakak beradik itu.


Steve mengangguk setuju atas hasil presentasi siang ini. Dia menyukai argumentasi dan wacana yang baru saja di presentasikan oleh tim pengembangan.


"Bagaimana Miko, apa kamu menyukai model terbaru sepatu ini?" tanya Steve pada remaja itu. Steve menggulirkan LCD proyektor menggunakan remote control, dia meminta pendapat Miko selaku model sekaligus perwakilan anak muda pecinta sepatu ini.


Miko mengangguk, dia sangat menyukai desain terbaru sepatu yang di tunjukan oleh Steve. "Sangat keren," ucap Miko takjub. "Model desain sebagus ini pasti akan membuat anak-anak remaja akan menyukainya apalagi warna yang di pilih sesuai karakter. Pasti akan banyak yang membelinya," ungkap Miko.


"Seharusnya tim perencanaan pengembangan dan desain grafis melakukan yang terbaik," Steve menghimbau.


"Untuk rencananya, kami ingin menambahkan sedikit detail pada bagian bawah sepatu," pria yang tengah menjelaskan di depan Steve itu menyela. "Kami ingin menambahkan sol sepatu yang kuat dengan telapak yang tebal. Ini memungkinkan jenis sepatu Belagio berbeda dengan merek sepatu lainnya yang mencoba meniru."

__ADS_1


"Untuk ide ini aku setuju," sambar Stevie. "Saat jalan-jalan di mall Hongkong dan Shanghai serta beberapa kota di China beberapa waktu lalu, aku melihat di bagian etalase mall terpampang sepatu tiruan kelas bawah dari perusahaan abal-abal. Mereka sengaja menggunakan desain yang sama seperti belagio agar bisa mendapatkan profit yang berlipat ganda."


"Yang di ucapkan oleh Bu Stevie benar," timpal kepala devisi bagian perencanaan dan pengembangan. "Sudah ada laporan dari konsumen mengenai peniruan ini. Dari pihak peniru mereka tidak bisa meniru hingga detail karena sulit mendapatkan logo emas yang tertera di sepatu."


"Jadi maksudnya kalian, tim bagian pengembangan ingin menambahkan detail logo yang sudah lama jadi identitas produk?" Steve menebak arah perkataan pria tua itu.


"Benar Pak," jawabnya. "Selama logo tidak bisa di tiru, sangat mudah membedakan mana Belagio asli dan mana Belagio palsu."


Steve sudah memikirkan hal ini, jelas kalau banyak perusahaan besar maupun kecil yang bergerak di bidang yang sama pasti akan mencari celah untuk mendapatkan kemiripan identitas produk dengan apa yang di produksi oleh perusahaannya.


Steve sudah memikirkan konsekuensi atas semakin berkembang pesatnya produk-produk terbaru milik brand Belagio collection dan belagio sport.


"Aku serahkan pada kalian tim bagian perencanaan dan juga tim humas," ucap Steve menyuruh. "Perhatikan dengan benar setiap produk yang akan di produksi, jangan sampai ada produk lain yang bisa meniru model dan desain terbaru sepatu keluaran Belagio. Pastikan itu bisa di atasi," perintah Steve sekali lagi dengan tegas.


"Maaf Pak, boleh saya mengusulkan?" Sahut tetua yang ikut dalam rapat. "Kalau boleh saran saya, apakah tipe sepatu kali ini sama seperti tipe sepatu sebelumnya?" Pria tua yang duduk paling pojok dengan kacamatanya mengusulkan idenya walau dia sempat ragu, takut Steve tidak akan mendengar usulannya.


"Saran yang bagus," sahut Steve setuju. "Untuk tipe sepatu tahun ini, sebaiknya kita menggunakan tipe baru."


"Kalau boleh tahu, apa nama tipe yang akan kamu pakai untuk produk terbaru ini," Stevie kembali menyela, dia penasaran pada ide adiknya itu.


Steve menimbang-nimbang. Dia juga agak bingung harus menggunakan nama apa yang cocok dengan tipe ini. "Bagaimana jika menggunakan nama SD-2019?" Steve mengusulkan setelah berpikir keras mengenai penamaan tipe sepatu spesial ini.


Stevie mengerutkan keningnya sembari menggigit jarinya. "Jenis nama apa itu?" Katanya bingung. "Bukan nama virus-kan?"


"Bukan," balas Steve. "SD-2019 memiliki arti, yaitu SUPER DEFINITION yang sesuai dengan rancangan produk. Di mana produk ini di luncurkan dengan kualitas super tepat di tahun 2019 ini. Oleh karena itu, aku menamakan tipe sepatu ini dengan sebutan SD-2019," jelasnya.


Para anggota rapat yang mendengar usulan Steve sangat setuju pada penamaan tipe ini. Jarang-jarang ada seorang CEO yang mau berkontribusi memberikan penamaan sebuah produk untuk produk di perusahaannya sendiri.


Steve tertawa bahagia saat semua orang menghargai usulannya itu.


Orang-orang bodoh, gumam Steve. Padahal aku memberikan nama bukan karena rancangan yang bagus, tapi karena aku teringat pada wanita ku, ungkapnya dalam hati.


Sejujurnya Steve ingin mengakui kalau SD-2019 bukan sembarang nama yang ia pakai. Melainkan dia ingin mengabadikan namanya dan nama Dinda di sepatu yang akan di produksi nanti.


SD-2019 sebenarnya merajuk pada nama Steve dan Dinda di mana mereka resmi pacaran di tahun 2019. Dengan ide konyolnya dia justru memberikan inisial itu untuk tipe sepatu. Steve menahan kekeh-an karena ide konyolnya dalam menamai tipe sepatu yang akan di produksi.


Tidak peduli jenis tipe apa yang Steve pakai, semua peserta rapat terlihat menyukai nama tipe ini. Nama yang unik, bahkan belum ada di list tipe dengan nama yang terkesan sangat singkat.


Semua orang di kantor Steve ikut dalam rapat penting ini. Hanya Dinda yang tidak hadir karena dia di pinta oleh Steve membelikan makanan dan kopi untuk rapat. Karena pesanan yang begitu banyak, butuh waktu untuk Dinda menunggu keseluruhannya selesai di pesan.


Kini giliran tim keuangan yang melaporkan bagian mereka. Steve meminta mereka menjelaskan profit dan juga harga yang di tetapkan untuk sepatu.


Mira lebih dahulu maju ingin mempresentasikan hasil diskusi mereka mengenai penetapan harga penjualan.


Tapi saat akan mempresentasikan hasil pemikiran mereka, Mira tiba-tiba sadar bahwa proposal dan flashdisk tempatnya menyimpan file itu tidak di bawa.


"Dimana flashdisk dan file proposal yang aku berikan kemarin?" tanya Mira pada Eva. Seingatnya dia memberikan pada Eva, sebelum dirinya meninggalkan pekerjaan beberapa hari yang lalu.


Eva yang sedang duduk santai agak kaget karena rapat penting seperti ini bagian keuangan melupakan media penting dalam presentasi rapat. "Bukannya Bu Mira sendiri yang meminta berkas kemarin di berikan pada Pak Steve saat Pak Steve tidak masuk bekerja selama dua Minggu yang lalu?" balas Eva. Dia mengernyitkan keningnya, dia agak takut apalagi wajah kaku Steve melirik seluruh tim bagian keuangan dengan tatapan intimidasi.

__ADS_1


"Ck," Mira menggeleng, mengurut kepalanya. Eva ceroboh, meninggalkan benda kecil itu di ruangan Steve tanpa di ketahui oleh pria itu. Mira harus menahan malu di hadapan semua rekan sejawatnya karena lalai dalam menjaga benda penting itu.


"Mohon maaf untuk semuanya. Saya akan mengambil file itu sebentar," Eva berusaha memperbaiki keadaan yang terlihat ambigu dan tegang ini.


Steve ikut menggeleng, pikirnya sebelum ikut rapat seharusnya seluruh keperluan dan media presentasi harus sudah siap. Tapi kenapa sekarang malah menjadi kacau seperti ini.


Di kursi kerjanya, Steve memijat kepalanya. Bahkan Stevie ikut merasakan aura kemarahan Steve yang tertahan.


Eva berlalu, dia mengambil flashdisk dan file proposal yang tertinggal di ruangan Steve. Karena situasi yang menegang, Dinda yang berpapasan dengannya di koridor kantor tidak menggubris sapaan Dinda tadi.


"Tumben nggak nyahut, sepertinya sibuk sekali?" kata Dinda mengernyitkan dahinya, tangan di penuhi oleh beberapa kotak makan.


Di meja kerja Steve, Eva sibuk menyibak file-file. Mencari flashdisk dan juga proposal penting itu.


Sedangkan di ruangan rapat, Steve yang menunggu Eva merasa agak bosan. Dia mengetuk-ngetuk meja kaca yang panjang dengan jari telunjuknya.


Dia menyilangkan kakinya menopang di kaki yang lainnya, sementara matanya melirik jam. Dia menghitung berapa lama waktu yang akan terbuang karena presentasi yang tertunda.


Menunggu selama lima menit dalam ruangan rapat yang besar, mendadak Office boy masuk menerobos. "Pak, di ruangan Bapak Bu Eva pingsan," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.


"Kenapa bisa mendadak seperti ini? memangnya apa yang terjadi?" tanya Steve. Pikirnya ada apa, tidak seperti biasanya ini terjadi.


"Keadaannya genting Pak," jawab office boy. "Bapak sebaiknya melihat sendiri."


Steve seketika meninggalkan ruangan, tanpa pikir dua kali dia meninggalkan ruangan rapat ini beserta orang-orang yang sedang menunggu presentasi. Seluruh anggota yang ikut dalam rapat ini juga kaget, karena mendadak seperti ini.


Di ruangan Steve, terlihat Dinda menangisi Eva yang terkulai lemah. "Ada apa ini?" teriak Steve. "Apa yang terjadi?"


Dinda tidak berkata, dia menangis terisak meratapi nasib Eva. Steve awalnya bingung kenapa wanitanya menangis seperti itu, setelah dia melihat tangan Eva yang sudah menghitam terdapat bekas gigitan ular.


Steve menelisik seluruh ruangannya, tepat di bawah meja kerjanya ular cobra sepanjang beberapa meter dan sangat besar bersembunyi.


Steve amat berang, kenapa bisa ada ular di kantornya. Ular itu tidak jauh dari kaki Eva yang sudah terbujur kaku, Steve dengan cepat menarik Dinda menjauh dari Eva.


"Di mana satpam-satpam kantor ini?" teriak Steve berang. "Kenapa ada kejadian seperti ini tidak ada yang datang kemari!" pekiknya pada karyawan lain yang mengintip kejadian ini dari balik dinding kaca.


"Cepat panggil ambulance datang Sekarang!" teriaknya membabi buta mengamuk karena begitu lemotnya karyawan lain.


Karena pikir Steve ular itu sangat berbahaya, tanpa rasa takut Steve membunuh ular itu menggunakan stick golf yang selalu ia simpan di pojokan lemari. Dia memukul kepala ular itu hingga bagian kepala ular besar berbisa itu terputus menjadi dua bagian. Darah segarnya mengotori lantai keramik kantornya.


Sedangkan Zico masuk menerobos kerumunan pegawai yang memenuhi pintu ruangan kerja Steve. Dengan sigap dia langsung menggendong Eva, membawanya keluar dari ruangan Steve. Meskipun ruangan Steve di kerumuni banyak pegawai yang melihat kejadian ini, namun tak satupun di antara mereka yang berinisiatif memanggil bantuan.


Melihat Eva sudah tak sadarkan diri, Dinda terus tersedu-sedu. Steve merasa tidak enak hati melihat kekasihnya menangisi sahabatnya itu.


Steve memeluknya, dia membiarkan wanita itu menangis di jas hitamnya, dia tidak mau gadisnya itu merasa tertekan dan trauma karena teror ular ini.


"Kamu tenang saja, pasti dia akan baik-baik saja, percaya pada mu," Steve berkata pada Dinda, dia sedikit memahami rasanya menangisi orang yang di cintai.


"Bagaimana kalau Eva kenapa-kenapa, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Dinda terisak.

__ADS_1


Steve membelai rambut Dinda. "Kamu percaya pada ku, dia akan baik-baik saja."


BERSAMBUNG


__ADS_2