UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 102


__ADS_3

Gedung tua, pesisir pantai.


"Tuan K," teriak seorang bawahan pria codet ini berlari menuju ke ruangan persembunyian. "Mereka sudah menemukan bom rakitan yang baru saja kita taruh di pipa wastafel kantor," jelasnya memberitahu.


Pria codet dengan sebutan Tuan K ini duduk santai. Dia tidak begitu khawatir saat anak buahnya melaporkan kejadian ini, justru dia tertawa. "Jangan terlalu cemas," ucapnya. "Masih banyak waktu meruntuhkan gedung bobrok itu."


Dia memutar-mutarkan kursi yang dia duduki. Memainkan pelatuk pistol yang ada di tangannya. Pria ini seperti orang gila, tertawa puas.


"Kita akan bergerak sebentar lagi, jangan gegabah memberikan teror bom ini pada cecunguk tengik itu," kata Tuan K sambil menghisap rokok. Asapnya menyeruak, memenuhi ruangan. "Lakukan perlahan, agar dia merasa ketakutan."


"Kami mengerti Tuan K," jawab sang anak buah. "Kami akan terus memantau pergerakan mereka," tukasnya seraya meninggalkan ruangan persembunyian pria yang berkuasa ini.


Sebentar lagi, permainan sesungguhnya akan di mulai. Ini hanya simulasi agar cecunguk tengik ini memasang penjagaan ketat, lalu aku akan menyergap-nya dari belakang. Tuan K menatap poster wajah Steve yang ada di dinding.


Poster yang sudah tercabik-cabik oleh pisau ini di tatapnya dalam-dalam. Dia lalu menyeringai tersenyum melicik. Dia sangat mendendam pada bocah tengik itu.


Di kantor polisi, Dinda melihat tangan Steve terluka parah. Dinda di buat sebal pada tingkahnya yang selalu melukai diri sendiri seperti ini.


Dinda membawa Steve pergi ke mobil pria ini. Seingat Dinda, Steve selalu membawa kotak P3K di dashboard mobilnya. Terakhir kali Dinda melihatnya meletakan kotak obat-obatan itu di dashboard mobil saat mengantar dirinya pulang.


Beruntung, kotak obat itu masih ada di posisi semula. Tidak di pindahkan maupun di tinggalkan oleh Steve kemanapun dia pergi.


Dinda tahu, pasti pria ini berulah. Tangannya sudah terluka, Dinda sudah menduga dia akan melakukan kekerasan.


"Kamu kenapa selalu membuat aku cemas sih," ucap Dinda. Di dalam mobil Steve, Dinda membersihkan tangan kekasihnya itu dari luka yang baru saja dia perbuat.


"Akh... Pelan-pelan," rengek Steve. "Agak perih, kamu menuangkan banyak alkohol di luka ku."


Dinda meniup luka Steve pelan sambil membersihkan darah menggunakan kapas. "Kamu selalu melukai diri kamu seperti ini. Kenapa kamu begitu membahayakan diri dan tidak menghargai diri sendiri sih. Kamu tahu nggak, aku selalu mencemaskan kamu yang suka bertindak kasar."


"Aku tidak bisa menahan diri ku untuk tidak berbuat kasar. Itu sifat alamiah ku," jawab Steve ketus. "Itu tidak akan berubah."


"Aku tahu itu!" Dinda berkata. Dia memicingkan matanya menatap wajah Steve. "Sikap kasar kamu ini justru akan membuat kamu tidak bisa mengendalikan diri. Aku tidak suka kalau kamu berbuat kasar dengan melukai diri sendiri."


"Jadi kamu membenci aku yang kasar ini?"


"Bukan begitu," jawab Dinda. Dia bingung, kenapa Steve sangat sensitif hari ini.


"Kamu baru saja mengatakan tidak suka dengan pria kasar. Apa itu maksudnya kamu selama ini tidak mencintai ku?" tanya Steve. Dia agak pemarah saat itu.


"Kenapa kamu selalu beranggapan seperti itu, sih," Dinda ikut sebal padanya yang selalu sensitif. "Aku hanya khawatir pada kamu. Kenapa kamu selalu menyalahkan aku seperti ini."


Steve melepaskan tangannya dari Dinda yang sedang mengobatinya. "Kamu tadi bilang benci pada pria kasar."


"Aku nggak bermaksud mengatakan bahwa aku benci pria kasar," jawab Dinda. "Tapi aku hanya ingin kamu nggak melakukan hal-hal yang akan membuat kamu menjadi terluka seperti ini."


"Sudahlah," Steve menampik tangan Dinda. "Kamu sama saja. Mengomel nggak jelas, sudah seperti Ibu-ibu pasar!"


"Kamu marah pada ku?"


"Sangat marah," balas Steve. "Kenapa kamu mengikuti aku sampai kantor polisi? Seperti nggak ada kerjaan lain."


Sikap cengeng Dinda kembali terlihat. Dia kembali menangis, apalagi Steve selalu menilai dirinya seperti itu. Dinda tidak bisa menahan air matanya untuk keluar, pria itu terus tidak bisa membuatnya menahan diri untuk tidak menangis.


Steve mendesis melihat Dinda yang cengeng. Dia menyesal kenapa membuat Dinda menangis. Sekali lagi Steve harus mengalah pada wanita ini, dia mengepal keras tangannya. Seharusnya Steve tidak berkata seperti itu tadi.


Padahal Dinda bermaksud hanya cemas pada keadaannya. Steve teringat pada kejadian saat dia membentak Dinda. Dia tidak mau mengulangi kejadian beberapa hari lalu.


Steve berinisiatif memeluknya, dia tidak tahan melihat gadisnya harus menangis. "Maafkan aku," ucap Steve mengalah. Dia membelai rambut Dinda, lalu menempelkan kepala wanita itu di pelukannya. "Maafkan aku yang selalu membuat kamu menangis."


"Kamu tahu nggak," Dinda merengek sambil menangis. "Aku belum pernah menangisi orang lain seperti ini selain kamu. Tapi kamu selalu membuat aku menangis. Orang-orang pasti akan mengatakan aku cengeng dan kekanakan karena kamu. Kamu jahat tahu nggak," Dinda memukul pelan dada Steve sambil terisak-isak. Di dalam mobil Steve, Dinda tidak malu menangis karena hal kecil seperti ini.


"Sudah! Sudah! Sudah!" Steve menenangkan Dinda dengan mengelus lembut punggungnya. "Maafkan aku yang sudah membuat kamu menangis. Aku nggak bermaksud membuat kamu menangis seperti ini, aku menyesal."


"Kamu selalu bilang maaf. Tapi tanpa sadar kamu mengulanginya lagi, membuat aku menangis," Dinda masih terisak, butuh beberapa saat baginya menghentikan air mata yang mengalir. "Kamu seharusnya tahu. Sudah berapa kali kamu buat aku menangis karena hal-hal konyol kamu. Kamu nggak pernah mau mengerti aku yang selalu ingin kamu baik-baik saja. Dan baru kali ini aku menangisi seorang pria seperti kamu."

__ADS_1


Steve mengusap air mata Dinda, dia paling tidak suka jika melihat wanita menangis tersedu-sedu. "Aku terlalu mencintai kamu. Entah kenapa setiap kali aku marah, aku selalu melimpahkannya pada kamu. Maafkan aku jika terlalu kasar, itu sifat alami ku. Aku akui bahwa aku masih tidak bisa menahan emosi ku. Tolong kamu jangan menangis lagi, aku merasa bersalah kalau kamu terus menangis," katanya bicara di daun telinga Dinda.


Ucapan permintaan maaf Steve selalu membuat Dinda tidak bisa berlama-lama dalam kemarahan. Hanya Steve yang mampu membuat Dinda menangis juga tersenyum. Dinda menyeka air matanya, menghentikan air matanya itu untuk menitik.


"Aku nggak marah. Cuma kesal sama kamu yang selalu berkata yang tidak-tidak," kata Dinda. Dia melihat wajah prianya itu. Wajah pria yang tidak tega melihat orang lain menangis. "Aku juga sangat mencintai kamu. Tapi kamu selalu menguji cinta ku. Malu rasanya setiap kali kamu membuat aku menangis."


Steve kembali memeluk Dinda. Kali ini Steve tersenyum, dia bahagia selalu membuat wanitanya itu menangis. "Itulah kenapa aku ingin kamu menangis. Aku senang melihat kekasih ku ini mengungkapkan perasaannya pada kekasihnya yang tampan ini."


Dinda memanyunkan bibirnya. Dia menatap sinis pria yang tertawa bahagia melihatnya menangis ini. "Kamu pria paling jahat yang pernah aku temui," Dinda menyewot-kan diri. "Kamu tega membuat wanita menangis."


Steve menyungging tersenyum puas, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Dinda. "Itu karena wanita kecil ku selalu membuat aku marah. Makanya aku ingin membuat dia menangis," Steve menyentil hidung Dinda pelan. Di situasi seperti ini, dia bahkan bisa berkata narsis.


"Mari obati luka kamu dulu. Nanti menggombal lagi," Dinda melupakan rasa sebalnya pada Steve. Dia sudah tidak lagi marah pada pria itu.


"Kamu harus mengobatinya dengan cinta," rengek Steve. "Atau luka ini sulit sembuh jika kamu mengobatinya dengan kemarahan."


Dinda hanya menatapnya sinis, tidak berkata lagi.


Namun Steve terus saja berulah, dia mendongak wajah Dinda agar menatap wajahnya. Wajah gadis yang tengah fokus membersihkan luka ini, agak teralihkan oleh tingkah Steve yang semaunya.


"Aku sudah menghitung seberapa banyak kamu menangis untukku," ucap Steve. "Tiga kali. Tiga kali aku melakukannya untuk mu."


Dengan bangganya, Steve berkata menyombongkan diri. Seakan membuat Dinda menangis adalah prestasi terbesar yang pernah ia capai.


Dinda menggeleng. "Lebih dari itu," jawabnya.


"Tunggu!" Steve membulatkan matanya. "Tidak mungkin aku membuat kamu menangis lebih dari tiga kali. Seingat ku kamu menangis untuk pertama kalinya ketika di Shanghai, setelah itu di taman, dan terakhir adalah hari ini. Dari mananya lebih?" Steve menyungging bibirnya, seingatnya hanya itu yang dia lakukan.


"Kamu melakukannya, membuat aku menangis saat menjebak ku menggunakan perjanjian kontrak absurd itu," Dinda mengingatkan. "Sejak saat itu, kamu selalu membuat ku menangis karena tingkah semena-mena."


Steve mendeham, dia berusaha melupakan kejadian yang di singgung Dinda ini. Walau Steve ingat dia yang membuat perjanjian konyol dan tidak masuk akal itu, namun dia tidak menampik. Bahwa sebenarnya Steve ingin tertawa saat mengerjai Dinda dengan ide kekanakannya itu.


"Jadi kamu sekarang ingin menuntut ku karena selalu membuat kamu menangis?" Steve bertanya, dia beralih berkata. Tidak ingin membahas mengenai kejadian yang jika di ingat-ingat ini, akan membuatnya tertawa. Steve menahan diri untuk tidak tertawa mengingat kejadian konyolnya itu.


Dinda tersenyum kecil melihat wajah Steve yang nampak serius saat di singgung mengenai kejadian yang dia perbuat itu.


****


Di depan meja resepsionis, pria ini berdiri di hadapan seluruh pegawai kantornya.


"Untuk kejadian yang baru saja terjadi mengenai teror ular dan rakitan bom. Aku harap kalian jangan terlalu panik," kata Steve memulai pengumumannya. "Bagaimana pun juga, sebisa mungkin jangan terlalu gaduh atas kejadian yang baru saja menimpa perusahaan."


Seluruh karyawan yang terkumpul saling membicarakan prihal ini. Mereka agak takut bekerja di kantor yang situasi dan kondisinya tidak tenang seperti sebelumnya.


"Aku harap kalian tenang," tegas Steve. Melalui bantuan pengeras suara, Steve meminta seluruh pegawai kantornya tidak panik. "Untuk menghindari adanya teror ular dan bom rakitan. Aku ingin seluruh karyawan yang bekerja di kantor ini memeriksa bagian bawah meja, berkas-berkas yang menumpuk dan berserakan semuanya di chek sebelum bekerja," perintah Steve pada seluruh pegawai. "Jangan sampai ada yang terlewatkan!"


Steve ingin meminimalisir ketegangan dan rasa tidak aman yang sedang mencekam di lingkungan kerja kantornya. Lalu Steve menambahkan perintah lainnya pada orang-orang yang ada di hadapannya. "Jika kalian mendengar sesuatu yang berbunyi aneh seperti alarm, segera lapor pada pihak anti teror. Untuk mengantisipasi adanya ancaman, seluruh lift di kantor ini akan di optimalkan. Selama tidak ada laporan mengenai bom rakitan dan ular, aku harap kalian semua bekerja dengan baik tanpa ada rasa takut." Jelas Steve pada seluruh pegawai, lalu meminta mereka semua bubar.


Usai mendengar instruksi dari Steve, seluruh karyawan kembali bekerja. Sebelum bekerja, seluruh bagian devisi memeriksa meja kerja masing-masing. Tidak ada satupun yang tidak luput dari perhatian.


Pot bunga, mesin printer, hingga bagian kabinet yang berisi file-file penting di telisik oleh karyawan seluruh devisi.


"Mbak Mira, memangnya pelaku teror bom sudah di tangkap kah?" tanya rekan sejawat Mira.


Mira yang tengah membereskan dan memeriksa seluruh ruangan takut-takut ada bom rakitan, sejenak menatap wajah teman sejawatnya itu. "Pelakunya belum tertangkap," jawabnya. "Kejadian ini adalah kasus besar, pelakunya pasti bukan orang yang sembarangan!"


"Terus, pelaku teror ular, gimana? Apakah sudah tertangkap?" Tanya yang lain.


"Untuk kasus teror ular dan bom dua teror ini di pastikan di lakukan oleh dua orang yang berbeda," balasnya. "Pak Jajang mengaku tidak pernah menaruh bom, dia hanya menaruh ular saja di kantor pak Steve," jelasnya pada seluruh teman-teman yang sedang memeriksa ruangan.


Mira yang berdiri menelaah berkas-berkas yang tersusun di rak lemari, saat membuka file-file tersusun itu terkaget. Dia menemukan satu buah bom rakitan sama seperti yang di temukan oleh polisi beberapa waktu yang lalu.


"Ini dia bomnya," teriak Mira kaget. Seketika wanita ini menjauh, di ikuti oleh karyawan bagian keuangan lainnya. "Segera lapor ke pihak penjinak bom," perintahnya pada siapa saja yang mendengar instruksinya.


Bunyi bom terus ber-denit, siapa saja yang mendengarnya pasti akan merasa mencekam. Horor rasanya jika gedung setinggi lebih dari dua puluh tingkat ini meledak.

__ADS_1


Dari dalam ruangan Zico yang bersebrangan dengan ruangan bagian keuangan, dia keluar karena mendengar suara gaduh dari tim ini.


"Cepat evakuasi diri masing-masing, kemungkinan bom ini dipasang waktu," perintah Zico pada yang lainnya. Zico berlari menuju pusat informasi, dengan cepat Zico membunyikan alarm darurat agar semua karyawan cepat keluar dan meninggalkan kantor.


Tanpa pikir panjang, karyawan-karyawan itu berlarian keluar dari gedung. Mereka meninggalkan pekerjaan, menyelamatkan diri.


Sedangkan Dinda, dia yang masih bekerja di meja kerjanya melihat Steve keluar dari ruangannya tergesa-gesa.


"Cepat keluar dari gedung ini, bagian keuangan menemukan bom," katanya langsung menarik lengan Dinda.


Dinda tidak berkata apapun maupun bertanya. Dia mengikuti saja apa yang Steve lakukan. Tim penjinak bom tiba di kantor Steve, mereka berpapasan dengan para pekerja itu saat dia dan Dinda ingin keluar gedung.


Seluruh kantor sudah agak sepi, hanya ada pekerja penjinak bom yang masih berseliweran di dalam gedung ini.


Di lantai dua puluh ini, karena tim penjinak sulit menjangkau area dengan cepat terlebih listrik di padamkan. Setelah mendapatkan laporan mengenai bom, para penjinak bom mengambil jalan udara dengan menerjunkan beberapa personel menerobos melalui atap gedung.


Dinda dan Steve juga berada di halaman kantornya. Mereka mendongak, menatap gedung yang menjulang tinggi itu.


"Selain di ruangan bagian keuangan, di ruangan tim pengembang dan perencanaan juga di temukan bom di balik meja salah satu pekerja," kata Zico memberitahu.


Dia berdiri tidak jauh dari keduanya.


"Bagaimana dengan para pegawai? Apakah semua sudah di evakuasi?" Tanya Steve.


"Semua sudah di evakuasi, saat ini gedung sudah kosong," jawab Zico sesuai laporan yang dia terima.


Mendapatkan situasi semacam


ini, seluruh karyawan menahan nafas mereka. Bagaimana juga, tempat ini sudah menampung lebih dari ratusan karyawan.


Bom memang belum meledak, karena masih terpasang waktu. Steve tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu pelaku di tangkap. Steve bingung, siapa yang berani melakukan hal di kantornya.


****


Di kantor polisi, pria tua yang di tahan karena hendak menebar teror ular ini mengakui bahwa dia hanya suruhan. Dia terpaksa melakukannya, karena dalam keadaan genting.


"Kami sudah menginvestigasi keseluruhan kejadian ini secara rinci. Dan berdasarkan adanya cctv, kami sudah menyiapkan surat penangkapan atas kejadian ini," opsir Rian berkata pada Stevie.


Stevie melihat rekaman video yang di maksud, wanita itu yang melakukan hal ini.


"Mohon kepada opsir Rian agar mempercepat penangkapan pelaku sebenarnya, jangan sampai pelaku yang tidak bersalah di penjara atas tindakan ancaman," kata Stevie yang mulai geram.


Stevie meninggalkan ruangan opsir, dia menuju ke ruang tahanan tempat pria tua itu di penjarakan.


Stevie melihat keriput tua wajah Pak Jajang, dia sangat mengasihani dirinya. "Anda jangan khawatir Pak Jajang," kata Stevie memulai bicara. Pria tua itu hanya bisa menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah sangar Stevie. "Aku akan membebaskan Pak Jajang dari perkara ini. Jangan terlalu mengkhawatirkan kejadian yang baru saja Pak Jajang lakoni," katanya bersikap santai.


"Saya tahu Nona," Pria tua itu memberanikan diri untuk bicara. "Saya sangat bersalah. Saya siap menanggung segala hukuman yang akan di jatuhkan kepada saya," ucapnya menyerah dengan ekspresi lesu.


Stevie memegang tangan pria itu. Urat-urat yang hampir muncul di kulit yang kasar ini membuat Stevie tak tega membiarkan dia meratapi nasib.


"Pak Jajang hampir saja membahayakan nyawa Steve. Bagaimana jika ular itu mematuknya?" ucap Stevie. "Mungkin Tuhan sedang menguji Pak Jajang dengan kejadian ini, sehingga orang yang terkena musibah ini bukan Steve."


Stevie tersenyum, walau bagaimanapun dia tetap menghormati pria tua ini. Dia sudah lama bekerja di kantor Wong, tidak tega baginya harus mengintimidasi dengan ucapan kasar.


"Untuk biaya rumah sakit, Pak Jajang jangan khawatir. Aku sudah membiayai seluruh keperluan operasi cucu Pak Jajang," Stevie berkata santai, dia tetap tersenyum saat pria tua itu tak berkata apapun.


"Untuk hari ini, mungkin aku hanya bisa menjenguk Pak Jajang sampai sini, kedepannya semoga Pak Jajang tidak lagi tergiur oleh iming-iming uang lima juta lalu nekat melakukan hal membahayakan seperti ini," Stevie mengingatkan, sambil dia berdiri ingin berlalu. "Jaga diri Pak Jajang baik-baik," ujarnya menepuk pundak pria tua itu.


Lalu Stevie menghilang di balik pintu kayu berwarna cokelat muda itu. Pak Jajang tak menyangka, ternyata dia masih di beri elas wasih, sehingga dia di jamin untuk bebas.


Di kantor pusat, grup wong. Bom berhasil di jinakkan. Meskipun bom tidak meledak, namun kepanikan melanda seluruh pegawai kantor.


Steve memijat kepalanya, otaknya serasa mau pecah menanggapi dua kejadian sekaligus. Dinda menarik nafas panjang, dia mengerti kerisauan hati Steve.


Dinda mencoba membuatnya tenang, nampak jelas wajah Steve sangat gusar. Dinda mengusap bahunya, Steve ternyata menahan amarah mengenai kejadian ini.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," Steve mengerti kekhawatiran Dinda.


BERSAMBUNG


__ADS_2