
RENCANA
Suara bel listrik rumah keluarga Johan terus berbunyi. Saat itu yang membukakan pintu rumah adalah Nyonya Diana. Dia baru saja selesai melakukan perawatan kukunya di bantu oleh pembantu.
Di depan pintu, suami dan anaknya, Johan, baru saja pulang. Lembur, mereka sudah terbiasa bekerja hingga larut malam.
Nyonya Diana mengambil tas kerja sang suami, sudah menjadi kebiasaannya melakukan hal ini jika melihat suami pulang.
"Bi, tolong buatkan teh hangat buat Tuan." Di ruang keluarga dia berteriak pada siapapun juru masak di dapur yang mendengar perintahnya.
Suami dan anaknya duduk, melepaskan penat, lelah bekerja seharian. Nyonya Diana duduk di sebelah sang suami, menemani keduanya.
"Mama dengar, bisnis keluarga Vanya krisis keuangan akhir-akhir ini," singgung Nyonya Diana pada sang suami.
"Mama sudah tahu berita ini?" Tuan Tama menyahut. Dia berkata agak santai, menyeruput teh hangat yang baru saja di hidangkan oleh asisten rumah tangga. "Baru saja Papa mau mengatakannya tadi."
"Iya. Mama tahu dari pemberitaan tadi," katanya memberitahu. "Karena kasus teror ular yang baru saja menimpa Nyonya Dwi, membuat nilai saham perusahaan mereka anjlok."
Johan yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa empuk, agak menyeringai tertawa puas. Inilah yang dia harapkan. Tapi, Johan pura-pura ikut merasakan kepahitan yang baru saja menimpa keluarga tunangannya itu.
"Ehm," Johan mendeham kecil. Melepaskan dasinya, berakting seakan dia turut sedih memprihatinkan keluarga Vanya. "Mungkin karena ulah mereka yang memaksa menikahkan anaknya pada Johan. Mereka terkena karma," sindir Johan pada kedua orang tuanya.
Aku ingin melihat, seperti apa ekspresi si tua ini menanggapi sindiran ku. Walau Johan senang, namun Ayahnya bukanlah orang yang bisa di lawan dengan mudah.
"Benar sih Pa, apa yang katakan Johan," timpal Nyonya Diana senada. "Apa mungkin kita juga akan terkena karma karena memaksa Johan menikah dengan Vanya?"
"Hus, ngawur," bantah Tuan Tama. "Mana ada karma karena memaksa menikahkan anak sendiri. Takhayul, nggak usah percaya adat nggak jelas seperti itu."
Memiliki ayah yang begitu keras kepala tentu saja membuat Johan sebal. Siapa yang akan betah di rumah jika memiliki orang tua yang selalu kontra pada dirinya.
Pria tua ini selalu saja berkata lain. Tidak pernah mendukung setiap keputusan ku, sial. Johan menahan berangnya pada sang ayah. Pria tua itu membuat Johan selalu ingin mengutuk dan mengumpat setiap apa yang dia katakan.
"Memangnya Papa nggak malu kalau besanan dengan keluarga yang hampir bangkrut itu," Johan menyindir kembali. Sambil menyeruput teh hangatnya, dia ingin mencecar pria tua ini agar membuka hatinya. Pria berhati batu, yang terus saja mengekangnya. "Kalau Johan jadi Papa, mungkin Johan sudah membatalkan pertunangan dengan Vanya."
Kata-kata Johan memang memancing pria tua ini untuk berpikir ke arah itu. Membatalkan pertunangan dengan Vanya, sebenarnya sudah menjadi pemikiran sejak tadi siang saat dia di kantor.
Pikirnya, ada benarnya juga membatalkan pertunangan dengan gadis itu. Tuan Tama mengurut dagunya, kata-kata anaknya itu telah membuat dia terbuai. "Papa sudah berencana ingin menjodohkan kamu dengan putri grup wong."
"Grup wong?" Sambar Nyonya Diana. "Papa nggak salahkan?"
Tuan Tama mengangguk, dia sangat sadar dengan apa yang dia katakan. "Papa melihat gadis itu saat menghadiri acara yang di buat keluarga Heri."
"Acara di hotel itu?" Nyonya Diana memastikan.
"Benar," jawab Tuan Tama. "Gadis itu sangat menarik. Kalau menikahkan dia dengan Johan, aku yakin, kerajaan bisnis kita bisa berkembang pesat mengikuti trend positif grup wong."
Johan mendengus, sekalipun wanita itu secantik Stevie. Di matanya hanya ada Dinda seorang. Tidak ada gantinya sedikitpun. Bahkan secantik Miss universe pun, Johan tidak bisa berpaling dari wajah Dinda yang ramah.
"Papa tidak salah?" ledek Johan. "Terakhir kali kita membuat masalah dengan putra grup wong di acara pertunangan ku. Lalu Papa berniat ingin menjodohkan aku dengan putrinya? Apa Papa yakin keluarga kaya raya itu mau menerima itikad baik Papa." Johan akan merasa puas jika keluarga Steve menolak mentah-mentah pinangan sang ayah. Toh, tidak perlu membela sang ayah. Cukup membuatnya menyerah menjodohkan dirinya dengan wanita sana sini, adalah berkah tersendiri bagi Johan.
__ADS_1
"Benar juga sih Pa, apa yang di bilang Johan. Bagaimana kalau keluarga konglomerat itu menolak lamaran dari grup Tama. Pasti akan mempermalukan keluarga kita." Hanya Nyonya Diah yang selalu berkata senada dengan Johan. Pemikirannya tidak jauh-jauh dari pemikiran sang putra.
"Tidak ada yang namanya menyerah," balas Tuan Tama pada keduanya. "Selagi pintu persahabatan masih lebar, Papa akan tetap berusaha agar keluarga super kaya itu mau menerima lamaran ini."
Wajah tua pria ini nampak girang dengan ide gilanya.
Johan yang mendengarnya saja sudah agak ngeri. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya jika keluarga Steve mau menerima dirinya.
Johan membayangkan dirinya seperti di sinetron yang beralur cukup pelik. Dalam bayangannya, dia menikah dengan Stevie, namun diam-diam dia ingin mendekati Dinda, mantan kekasihnya.
Menghancurkan pernikahan keduanya melalui niat jahatnya, dan dengan begitu Johan bisa menguasai Dinda seutuhnya. Dalam benak Johan yang terlintas hanya itu, tidak ada yang lain.
Saat Steve mengetahui ide buruknya itu, Johan akan di hajar hingga babak belur. Lalu pria itu memulai aksi kejamnya. Melempar dirinya dari atas gedung tinggi. Membayangkannya saja Johan sudah bergidik ngeri, apalagi jika benar-benar terjadi.
"Apa nggak sebaiknya Papa memikirkannya dengan matang-matang," Johan kembali berulah. "Pikirkan saja. Keluarga kita tidak sebanding kelurga kaya raya itu. Yang ada kita akan di hina. Terlebih, mereka dari China, tidak mengerti budaya kita."
"Meskipun mereka China, tapi istri pria itu adalah wanita Indonesia asli. Tidak akan ada kultur shock nanti." Ada tanya, ada jawab. Itulah yang di hadapi oleh Johan setiap kali dia menyuarakan idenya.
"Maksud Papa, anak-anak grup wong itu persilangan? Begitu-kah?" Nyonya Diana sejujurnya baru tahu kejadian ini. Setahunya, Steve hanya pria China yang lama menetap di Indonesia, namun kenyataannya justru membuatnya tercengang. Keluarga yang penuh rahasia.
"Istri Tuan wong itu dulunya adalah karyawan Grup wong. Bisa di bilang adalah sekretaris perusahaan. Tidak tahu kenapa, seperti yang ada di film-film, dia menikahi sekretarisnya sendiri," kata Tuan Tama memberi tahu. "Seingat Papa sih, Ibu dari anak-anak itu satu kampus dengan Papa. Walau beda program studi, Papa juga tidak begitu mengenalnya. Bisa di bilang satu angkatan. Tapi, berhubung Papa tidak suka mengorek masa lalunya, Papa tidak begitu mengenal wanita itu." Tuan Tama menjelaskan, walau dia terkenang kisah kuliahnya, jujur Ibu Steve memang primadona di kampus.
Johan menjadi penikmat perbincangan sang Ayahnya. Dia agak bosan mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, sehingga dia menyela pembicaraan mereka. "Johan mau mandi dulu, Papa dan Mama lanjutkan perbincangan," ucapnya berlalu.
Kumpulkan semua wanita yang ingin anda jodohkan, Pa. Niscaya, tidak ada satupun yang akan aku sukai pilihan mu itu.
Di atas tangga menuju kamarnya, johan mengomel pelan. Yang terpenting, Vanya bukan lagi penghalang baginya.
****
Malam itu, di rumah Dinda agak sedikit bising. Ibunya mengomel pada adik-adiknya karena pulang pasca Maghrib. Ibunya percaya pada hal-hal yang tidak baik pasca azan yang berkumandang ini. Oleh karena itu, sebal rasanya bagi Ibu Yuri saat kedua anak laki-lakinya itu pulang terlambat.
Dinda menuju dapur, sambil menikmati ocehan sang Ibu, Dinda membuka freezer. Mencari minuman dingin, walau sang Ibu mengomel, Dinda tetap pada aktivitasnya.
Namun Dinda kaget saat melihat isi lemari pendingin-itu kosong. "Kok nggak ada isi begini Bu, kulkasnya?" tanya Dinda keheranan. Dari atas hingga bawah, semua kosong. Roti tawar, susu, jus, buah, sayur-sayuran, bahkan cemilan yang biasanya memenuhi kemari pendingin itu kosong.
"Ibu lupa bilang ke kamu tadi. Kalau kebutuhan pokok kita sudah habis, makanya kosong." Ibu Yuri yang sedang mengomel sambil menjahit pakaian di ruang keluarga itu, menjawab Dinda biasa, tidak heboh.
"Ck," Dinda men-decak, agak heran saja. Kenapa Ibunya tidak bilang apapun padanya, padahal pikirnya dia bisa pulang cepat jika Ibunya meminta di temani pergi ke swalayan atau pasar modern. Dinda mendekati Ibunya, lalu duduk tepat di sebelah sang Ibu yang fokus menjahit. "Kalau tahu begitu, seharusnya Dinda tadi pulang lebih awal biar bisa belanja."
Ibu Yuri berhenti sebentar menjahit pakaiannya, dia melirik Dinda yang menempel di bahunya. "Kebiasaan yah. Suka menempel di tubuh Ibunya." Ibu Yuri menyentil pelan hidung Dinda, putri besarnya itu menggemaskan.
Miko yang bersembunyi di kamarnya karena sebal di omeli Ibunya, tiba-tiba meloncat. Tepat di hadapan Ibu dan Kakaknya, dia terlihat semangat.
"Kita ke mall saja yuk kak," ajaknya pada Dinda. "Mumpung masih jam enam lebih tujuh menit."
Dinda menoleh ke arah Ibunya, sebenarnya ide Miko bagus. Apalagi Mall masih buka, pasti seru pikirnya jika mengajak sang Ibu berbelanja di mall besar. "Gimana Bu? Mau belanja di mall?" Dinda meminta saran, izin Ibu Yuri lebih penting dari pada tidak sama sekali.
Ibu Yuri menimbang-nimbang. Dia tidak bisa yang tidak menolak. Apalagi dua puluh empat jam selalu di rumah, nonton tv dan mengurus hal-hal yang setiap hari dia lakukan. Pastinya bosan jika sesekali tidak refreshing. Ibu Yuri setuju pada tawaran anak-anaknya itu, dia mengikuti kemauan keduanya. Ibu Yuri mengangguk setuju. "Tapi Ibu ganti baju dulu, biar nggak malu-maluin."
__ADS_1
"Tapi jangan lama-lama ya Bu," balas Dinda tak sabaran. "Nanti keburu tutup mall-nya."
Niko yang juga diam-diam malas mendengar sang Ibu mengomelinya tadi, mendengar rencana ketiganya. Dia keluar dari kamar, tidak mau ketinggalan pada ide ini. "Aku ikut," katanya. "Kalian hampir melupakan aku."
"Dia pengacau," sahut Miko. "Nggak usah ikut. Kamu malah merusak saja nanti."
"Kak Miko selalu tidak mau jika aku ikut kalian kemana-mana. Memangnya apa salah ku. Apakah anak buntut selalu menjadi pusat melimpahkan kekesalan?" Niko sensitif. Dia akhir-akhir mudah terprovokasi bahkan marah.
Maklum saja, pikir Niko, sebagai anak terakhir dia menjadi pusat melimpahkan kesalahan dan kekesalan. Ini salah satu derita anak bungsu, dia merajuk.
Dinda hanya menggeleng kepala, pusing melihat keduanya yang sudah besar, masih bertengkar.
Ibu Yuri yang keluar menggunakan gamis, melerai keduanya. "Kalian tidak ada henti-hentinya selalu bertengkar."
"Kak Miko yang mulai duluan Bu!" Sahut Niko mengadu. "Dia tidak mengizinkan aku ikut kalian pergi."
"Miko." Ibu Yuri tahu kalau Miko terus berulah. "Sebagai kakak, kamu harus bersikap mengalah. Jangan terus-terusan meledek adik kamu. Ibu nggak akan berhenti ngomel kalau kalian terus bertengkar."
Miko memelet-kan matanya. Dia hanya bercanda, namun adiknya itu malah mengadu. "Iya deh. Kakak ngalah, nggak akan mengulangi lagi perbuatan seperti tadi. Walau terpaksa," Miko jutek. Seharusnya leluconnya tadi tidak menjadi perkara.
"Sudah! Sudah! Kalau terus saja bertengkar, mall-nya akan tutup," Ibu Yuri mengingatkan. Dia menunjuk jam di dinding waktu mereka tidak banyak. "Ayo berangkat sekarang."
Pada akhirnya mereka berangkat ke mall. Tidak ada yang tinggal satu pun di rumah. Ke empat orang ini mengelilingi mall, mencari bahan-bahan yang diperlukan.
Miko dan Niko menjadi pendorong troli belanjaan. Mengikuti Ibu dan Kakaknya mengelilingi rak-rak bahan pokok.
Waktu belanja memang lama. Mungkin lelah, Niko berinisiatif membelikan kakak dan Ibunya es krim. Yah, hitung-hitung mentraktir makan hasil gajiannya bulan lalu.
"Apa semua sudah di bawa?" keempatnya berjalan menuju keluar mall. Mereka melewati beberapa toko-toko branded.
Ibu Yuri mengingat-ingat, kebutuhan dapur apa yang dia lupakan. Berpikir keras mencari sesuatu untuk di beli, rupanya di benak Ibu Yuri sudah terbeli semua. "Ibu rasa nggak ada lagi deh," katanya bicara penuh kepastian.
"Kalau nggak ada yang mau di beli lagi, kita langsung pulang saja," sahut Dinda.
Karena tidak ada lagi yang ingin di beli, mereka memutuskan pulang. Toh sudah semakin malam, mall juga pasti akan di tutup.
Tapi, di tengah menuju eskalator. Ibu Yuri tiba-tiba melihat ada sesuatu yang aneh di papan iklan toko sepatu yang baru saja dia lihat.
Ibu Yuri memicingkan matanya, melihat dengan cermat gambar remaja di iklan elektronik itu.
"Tunggu sebentar!" Ibu Yuri meminta. Karena begitu penasaran pada papan iklan elektronik di depannya, Ibu Yuri mendekatinya. "Bukankah anak di dalam benda ini mirip Miko?" katanya pada Dinda dan kedua anak kembarnya.
Aduh, matilah aku. Miko bingung, kenapa sang ibu harus melihat papan iklan yang bersinar terang itu. Apalagi ada wajahnya di situ, full body.
"Ah... Anu... Bu," Dinda bingung harus berkata apa. Ibunya sudah tahu, tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Di dalamnya Miko, dia yakin bahwa anak yang dia lihat fi papan iklan elektronik itu adalah putranya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yah. Semoga novel ini menghibur ^°^