UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 161


__ADS_3


Steve duduk di balkon luar kamar mereka. Sambil menghisap sepuntung rokok, dia menikmati semilirnya angin malam.


Dinda baru saja duduk menemani suaminya. Padahal udara di luar dingin, tapi Steve malah menggunakan baju lengan pendek dan celana selutut.


Kedatangan Dinda menemani Steve, sambil membawakannya cokelat panas. Walau Steve tidak suka cokelat, namun Dinda tetap memaksanya.


“Iqbal sudah tidur?” tanya Steve.


“Sudah.”


“Bagus lah.”


Semenjak anak itu sudah mengenali Ayah dan Ibunya, dia enggan untuk tidur di kamarnya sendiri. Mulai saat dia sudah bisa merangkak, Steve dan Dinda menidurkan anaknya di ranjang yang sama dengan yang mereka pakai.


Kadang Steve harus mengalah, anaknya itu tidak mau menggunakan selimut. Sementara Steve kadang kedinginan lantaran udara AC yang menyerukan bulu kuduknya. Jika Steve menarik selimut, yang ada si kecil makin rewel, dia tidak suka selimut Kedua orang tuanya.


Dinda menatap suaminya. Terlihat jelas dia seperti berpikir keras. Di tambah sepuntung rokok, itu bukan Steve. Tapi itu lebih baik dari pada mabuk-mabukan di kelab malam. Bisa-bisa akan ada perang dunia ketiga kalau Dinda tahu Steve melakukannya.


“Mikirin apa. Sepertinya, dari tadi banyak bengongnya.” Dinda mencoba memberanikan diri bertanya agak ragu, dia ingin tahu kenapa suaminya tidak aktif malam ini.


Steve menghela napas panjang, puntung rokok yang sedang menyala. Dia sulut di dalam asbak, sampai rokok itu tak lagi menyala.


“Mengenai kepindahan kita ke Shanghai. Aku bingung, apakah Iqbal akan siap dengan kondisi lingkungan barunya.”


“Itulah yang aku pikirkan.”


Steve menoleh ke arah Dinda sebentar, sesaat kemudian dia menyalakan lagi puntung rokoknya.


“Apakah mungkin kita menolak untuk tinggal di sana.”


Dinda menggeleng, di raihnya dan di genggamnya tangan Steve. “Jangan. Kamu sudah berjanji pada Mama dan Papa, kita akan tinggal di sana. Kamu harus menepatinya.”


“Kita harus memikirkan iqbal.” Mata Steve terlihat agak sayu. Setiap kali berbicara tentang Iqbal kecil, Steve nampak dalam keraguan.


“Aku paham. Tapi dari kemarin aku sudah menyiasatinya.”


“Maksudnya?” Steve beranjak. Tadinya dia duduk santai, kini duduknya berubah posisi menjadi ingin tahu. “Kamu sudah punya rencana?”


“Walau aku tidak yakin. Tapi kita belum mencoba.”


Sebelumnya, Steve dan Dinda sudah mendiskusikan tentang lingualistik dari Iqbal. Bisakah dia bicara dalam berbagai bahasa sejak dini. Mereka takut, Iqbal akan stres jika harus berbicara dalam banyak bahasa sekaligus. Ini tuntutan, Steve tidak mau putranya seperti ini. Tapi sudah menjadi keputusannya untuk membuat Iqbal paham akan budaya.


“Itu artinya. Ketika di rumah kita akan mengajaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Sementara, jika di sekolah, dia akan bicara dalam bahasa Mandarin. Begitu-kah?”


Dinda mengangguk. “Aku akan mencoba mengajarinya di rumah. Aku tahu, meskipun aku tidak secakap Ayahnya dalam berbicara banyak bahasa. Tapi aku akan berusaha demi iqbal.”


“Aku akan mendukung setiap apa yang istri ku lakukan.”


Memang benar, Dinda adalah istri yang bisa membuat emosinya membaik. Itulah kenapa, sulit bagi Steve untuk melirik wanita manapun. Steve memegang satu tangan Dinda, lalu menciumnya.


“Tangan istri ku lembut dan harum. Enak kalau di cium.”


Dinda terkekeh geli, Steve mulai berulah. Tapi syukurlah, suaminya ini adalah pria yang terlihat dingin diluar dan pemarah. Tapi sosok yang menghormati wanita bahkan tak pernah memandang rendah wanita manapun. Kecuali, hidupnya di usik.


Iseng. Karena Dinda memikat, Steve tak bisa menolak dari pesona istrinya. Steve menggendong Dinda, dia membawanya masuk ke dalam.


“Malam ini sangat dingin. Aku tidak mau ratu ku masuk angin,” lirih Steve berkata pelan.


Satu tangan Dinda memegang leher Steve, sedangkan tangan satunya meraba perut suaminya.


“Sudah beberapa hari ini suami ku tidak olah raga. Aku rindu melihat keringat suami ku di pagi hari.”


Steve tersenyum, sesekali menggigit gemas telinga Dinda. Bisikan itu membuatnya candu akan setiap kata-kata yang di ucapkan oleh wanitanya. “Apakah kamu takut kalau perut keras ku akan membuncit?”


“Tentu. Aku takut jika perut itu tidak akan indah lagi.”


Steve tersenyum tipis. Itu menandakan kalau Dinda berhasil membuatnya tak berdaya. “Istri ku mulai khawatir jika suaminya tidak terlihat menggoda lagi. Apa yang harus aku lakukan agar istri ku makin tak bisa berpaling dari wajah dan keindahan tubuh suaminya ini.”


“Simple. Setiap kali melihat kamu dengan senyum menawan. Aku selalu teringat wajah tampan ini.”

__ADS_1


Steve mendengus, kemudian dia membaringkan tubuh Dinda di atas kasur. Tepat di sebelah putranya yang terlelap sambil menggigit pelan jarinya, Steve perlahan menidurkan Dinda.


“Besok aku akan olahraga. Kamu jangan khawatir.” Steve mencium puncak kepala Dinda, harumnya rambut wanita ini makin membuat Steve tak bisa berpaling pada wanita manapun.


Sebelum Steve pindah ke tempat tidurnya, Dinda menarik lengan Steve. Dia tidak mau Steve pergi dulu dari pelupuk matanya.


“Bisakah kita tidur saling berpelukan.”


Karena Dinda tak melepaskan pegangan tangannya, Steve lebih memilih tidur di hadapan Dinda. Sedangkan si kecil ada di belakang punggung istrinya.


“Sejak pertama kali melihat suami ku. Rasanya aku tidak bisa melupakan hidung, mata dan wajah pemarah dan galak ini. Bisakah aku berpaling dari wajah suami ku walau hanya sedetik.”


“Kamu tidak akan bisa melakukannya. Karena aku adalah napas mu, dan kamu tidak akan bisa hidup tanpa diri ku.”


Entah kenapa, rasanya malam ini Dinda ingin di manja dan di perhatikan oleh Steve. Suaminya ini paham, Dinda butuh kehangatannya.


Steve menuntun tangan Dinda agar mengusap lembut perutnya. Rileksasi ini yang Dinda rasakan.


“Apakah malam ini istri ku mencoba mengambil keuntungan dengan bermanja-manja?”


Dinda memanyunkan bibirnya, Steve paling tahu dirinya. “Aku kira dulu suami ku tidak memiliki perut keras seperti pria-pria di novel atau komik MANGATOON. Ternyata aku salah, suami ku juga memilikinya.”


“Cih. Konyol.”


°°°°°


Bekerja seharian, rasanya memang melelahkan. Apalagi untuk Miko, yang masih berstatus sebagai pelajar. Terlebih sebentar lagi dia akan lulus, bahkan belajar atau pergi ke tempat kursus saat ini dia sudah jarang. Jadwal pekerjaan paruh waktunya makin membuat ruang belajar Miko terganggu.


Waktunya habis untuk bekerja sebagai model. Hal yang mulai dia tekuni, berpose di depan kamera. Sehingga Miko bingung harus memikirkan bagaimana kedepannya, akibat pekerjaan ini.


Tadi Miko dan Dendy berpisah di depan mall. Dendy mengambil jalur pedestrian sebelah kiri, sementara Miko sebaliknya. Malam ini Dendy enggan bermalam di rumah Miko, lantaran Rendy sudah melarangnya.


Anak itu mulai jarang pulang akhir-akhir ini. Miko tidak memaksanya, dia tidak berani membawa Miko tidur di rumahnya—jika harus di larang.


Seperti biasa, Miko berjalan selalu memasukan tangannya di saku celana. Baju jas yang dia kenakan untuk pemotretan memang tak di lepas, sebab baju gantinya tadi basah ulah Selena yang tak sengaja menumpahkan jus di Hoodie-nya.


Berhubung setelan jas pengantin yang di pakai Miko sudah di berikan oleh pihak sponsor, maka Miko membawanya pulang. Tapi wanita itu mengikuti Miko, selalu. Sejak keluar dari pintu mall, Miko menyadari kehadirannya.


“Sudah aku bilang. Nggak aku usah menjadi penguntit.” Miko tidak membalikan badannya, karena dia tahu, Selena bersembunyi di semak-semak trotoar. “Cepat keluar. Aku benci bermain kucing-kucingan.”


“Selena. Sudah aku katakan. Aku tidak bisa mengantar kamu pulang. Kenapa kamu sangat keras kepala sih!”


“Aku tidak mau. Aku tetap mau di antarkan kamu pulang. Pokoknya harus kamu titik. Atau kamu boleh membawa ku pulang ke rumah kamu. Sebagai menantu Ibu kamu.”


Miko mendengus agak keras, dia tidak lagi berkata. Justru dia langsung pergi meninggalkan Selena.


“Ko,” rengek Selena. “Tunggu aku.”


Peduli apa. Selena tetap mengikuti Miko, walau Miko sudah mengusirnya. Berang, sungguh berang. Kesal yang teramat, membuat Miko ingin menendang Selena jauh-jauh dari hadapannya.


Alasan kenapa aku menumpahkan jus di Hoodie-nya. Simpel. Aku hanya mau menyimpan satu Hoodie dan celana jeans putih milik Miko. Aku merasa senang kalau memilikinya, apalagi Miko tadi bilang aku boleh memilikinya, tidak perlu di kembalikan.


Oh. Dengan jas hitamnya, Miko memang nampak seperti pangeran Inggris. Dia sosok yang sempurna, sudah pas menjadi suami yang ideal. Betapa beruntungnya aku bertemu pria setampan Miko. Hihi.


Sambil bergumam, Selena cengengesan tersenyum bahagia. Dia menggigit kerah bajunya, kadang juga menggigit bibirnya lantaran bahagia. Kekehan Selena sangat kentara, itu nyata kalau Selena tidak akan melepaskan Miko.


Karena jalannya tak fokus, Selena menabrak punggung Miko yang berhenti tanpa dia sadari.


“Aw. Sakit,” keluh Selena terjatuh di trotoar jalan.


“Ck.” Miko menatapnya agak sinis, tapi tak urung tangan lembut Miko terulur pada Selena. “Kalau jalan lihat-lihat. Pakai mata, biar nggak nyusahin diri sendiri. Jangan asal-asalan seperti ini.”


“Jangan marah dong. Aku terjatuh begini karena kamu.”


“Itu karena kamu ceroboh.”


“Kamu yang memulai. Lalu menyalahkan aku. Cih!”


Ah, Miko makin sebal pada Selena. Jika bukan terikat pada kontrak pemotretan, manalah mungkin Miko mau berkolaborasi dengan model abal-abal seperti Selena ini. Jengkel rasanya. Setiap saat harus berdebat dan menahan amarah acap kali berhadapan dengan Selena.


“Aku katakan sekali lagi. Aku mohon, jangan ikuti aku lagi. Mulai saat ini dan seterusnya. Ingat! Kita hanya teman model, tidak lebih. Aku mohon, tolong kabulkan permintaan ku kali ini saja.”

__ADS_1


“Tidak mau. Terserah kamu mau bilang apa. Sekalipun memohon, tidak akan aku melakukannya. Selamanya aku akan tetap mengikuti kamu.”


What the Fucek. Mimpi apa yang Miko alami di masa lalu. Kenapa dia harus bertemu dengan Selena. Walau dia cantik dan sudah jelas mengatakan cintanya pada Miko. Namun Miko tetap menolaknya, dia belum terpikirkan untuk menjalani hubungan.


“Terserah kamu saja,” kata Miko menyerah.


Oke. Baiklah. Ini mungkin jalan yang paling tepat. Menyerah. Atau si Selena makin menggila dengan idenya yang liar.


.......


“Miko pulang bu.” Suara Miko agak lemas.


Di teras rumah, Miko duduk di kursi sambil melepaskan sepatunya. Sedangkan Selena melihat-lihat rumah Miko.


“Lumayan mewah,” dia bergumam pelan. Rumah ini tipe idealnya, dan ini kali pertama bagi Selena memasuki pekarangan rumah Miko.


Tadi anak itu merengek pada Miko, dan pada akhirnya Selena di perbolehkan ikut Miko, karena dia memaksa. Miko juga enggan mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Karena itu bukan urusan Miko ataupun tanggung jawabnya.


“Jika bukan karena dia ingin melaporkan aku atas kasus penculikan dan pelecehan. Mana mungkin aku akan membawanya ke rumah ku. Dasar wanita setan.”


Miko memperhatikan wajah Selena dengan sinis. Ingin rasanya dia melempar gadis itu dengan sepatu pantofel hitamnya. Namun urung, dia tidak mungkin sekasar itu dengan wanita.


Seandainya aku meninggalkan dia di jalan, pasti aku akan di cap sebagai pria jahat. Bisa jadi, setelah dia melaporkan aku pada polisi. Hanya ada dua kemungkinan, pertama aku akan berakhir di penjara. Atau yang kedua, aku akan menikahinya dengan alasan karena sudah melecehkannya. Ah, wanita sial ini sudah mengusik ku.


Tadi Selena nekat akan melaporkan Miko kalau sampai menelantarkannya. Tidak tanggung-tanggung, dia akan membuat laporan palsu mengenai Miko. Seperti pelecehan dan sebagainya.


Miko bisa membayangkan, jika sampai itu terjadi. Pasti akan mempengaruhi nasib karirnya ke depan. Lalu ada berita bertajuk, 'Seorang model cantik di lecehkan oleh model pria berinisial M. Di ketahui, model pria yang tengah naik daun itu memang sudah lama mengincar S sebagai korbannya.'


Ih, ngeri. Bisa-bisa, habis Miko di omeli, di kutuk, bahkan dia jauhi orang-orang di sekitarnya. Termasuk Dinda, Ibunya dan Niko. Sungguh, Miko sudah bergidik ngeri.


“Miko sudah pulang.” Pintu terbuka, Ibu Yuri yang membukanya.


“Iya Bu. Maaf kalau Miko pulang malam,” balas Miko lalu mencium tangan Ibunya.


“Dia siapa?” tanya Ibu Yuri, ketika melihat Selena.


Miko menoleh, ekspresi wajahnya terlihat agak jeles melihat wanita itu.


“Dia Selena Bu. Te......”


“Oh, aku calon istrinya Miko Bu.” Lagi-lagi Selena mengambil alih perkataan. Dan itu sukses membuat Miko menggerus alisnya karena gatal.


“Miko. Kamu.....” Ibu Yuri menatap aneh wajah anaknya. Oh, Miko harus berulang kali menjelaskannya.


“Bukan seperti yang Ibu pikirkan,” balas Miko menggeleng. “Aku dan Selena hanya teman pemotretan. Bukan seperti yang Ibu pikirkan. Mana mungkin Miko akan menikah muda. Ada-ada saja.”


“Oh. Syukurlah. Ibu kira kalian benar-benar sudah......”


“Nggak Bu. Jangan pikir yang aneh-aneh.”


Sebal, semua orang beranggapan begitu ulah si Selena. Dia lancang, berani berkata yang tidak-tidak.


“Ya sudah masuk saja dulu. Nggak enak di lihat tetangga.”


Ibu Yuri membawa Selena masuk ke kamar Dinda. Walau Dinda sudah tidak lagi tinggal di sana, tapi kamar itu selalu terawat rapi. Niko yang menempatinya, itulah kenapa selalu rapi.


“Nah. Malam ini nak Selena bisa tidur di sini. Kalau nak Selena lapar, nak Selena bisa mengajak Miko makan. Ibu sudah siapkan makan malam kalian.”


Selena mengangguk. Ibu Yuri sudah berlalu setelah berpesan padanya. Selena merentangkan badannya di atas kasur empuk, rasanya enak tidur di rumah Miko.


“Uh. Nggak kebayang kalau aku jadi istrinya Miko si suami super perfect. Pasti anak-anak ku nanti setampan dia. Ah, Miko. Aku makin jatuh cinta.”


Selena begitu manipulatif. Sudah susah payah Miko mengusirnya pulang. Namun gadis ini tetap tidak mau. Dia hanya ingin pulang jika di antar Miko. Karena Miko enggan, pada akhirnya dia bermalam di rumah ini.


“Sel. Ayo keluar. Makan.”


Ketika asik berimajinasi, dari luar Selena mendengar Miko mengetuk pintu sambil berkata. Ah, seketika badan yang sedang berbaring ini, bangun dengan semangat.


“Oke. Sebentar lagi aku keluar.”


“Cih.” Dari balik pintu kamar, mendesis. Telinganya menguping, aktivitas di dalam. “Aku harap, hanya malam ini kamu sudah cukup merusak wajah ku di depan Ibu dan kakak ku. Kedepannya, aku harap kamu secepatnya menghilang dari pandangan ku.”

__ADS_1


Miko mengakhiri kata-katanya, dengan meninggalkan pintu itu.


“Semoga harapan ku terkabul.”


__ADS_2