
"JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKI KAMU. MAKA BIARKAN AKU BAKU HANTAM DENGAN JODOH MU. AGAR KAMU TAHU, SEBERAPA BAR-BAR (NYA) AKU MENGINGINKAN KAMU."
_____________________________________________
____________________________________________
"Dinda," Johan berkata. "Berhubung kita ada di Ethiopia. Mari menikah!"
Menikah?
Sontak Dinda merasa kaget dan tertegun kala ucapan itu keluar dari mulut Johan. Bukan karena kata menikah yang dia kaget-kan. Tapi mengucapkannya secara tiba-tiba itulah yang membuat Dinda tak siap mendengarnya.
Menikah? Bukankah itu suatu hal yang sakral. Sesuatu yang harus di rencanakan dengan matang, baik hari dan penetapan tanggalnya.
Menikah bukan karena sekedar hanya ingin memiliki dan memuaskan nafsu birahi semata. Tapi menikah harus di dasari keyakinan kalau kedua belah pihak sudah siap.
Menikah juga harus pada usia yang ideal, bukan di usia di bawah umur, atau di usia telat menikah. Sungguh, usia Dinda sudah cukup untuk menikah. Oh, atau dia ingin meniru tetangga sebelah rumahnya yang menikah di usia lima belas tahun.
Sumpah, Dinda tidak mau menikah di saat seperti ini. Apalagi menikah dengan pria yang tidak lagi dia tatap dengan cinta. Pria yang pernah hadir di kehidupannya beberapa tahun itu, kini hanya tinggal kenangan.
Hanya saja, menikah bagi Dinda saat ini adalah sesuatu yang tidak lagi dia pikirkan. Dinda tidak mau mengambil resiko seperti masa sebelumnya. Dimana masa saat dia harus di tinggal pergi oleh sesosok pria yang paling dia cintai.
Kala bibir merah merekah Johan yang bersih dari bulu-bulu halus itu berkata. Entah kenapa, rasanya Dinda tidak ingin Johan mengatakan hal itu pada dirinya.
Dinda yang tadinya nyaman lantaran pelukan hangat di tuangkan Johan di dekapannya. Kini berubah menjadi sesuatu yang terasa harus di tolak dengan mentah-mentah. Pelukan yang semula di kira adalah khas milik orang itu—nyatanya hanya pelampiasan kerinduan semata oleh Dinda.
"Apakah kak Johan sedang membual pada ku saat ini?" tanya Dinda yang menahan diri untuk tidak lagi masuk dalam pelukan Johan.
Tadi Dinda melepaskan pelukannya pada Johan dengan kasar. Jujur, Dinda khilaf saat pria itu tadi memeluknya. Karena Dinda merasakan kelembutan dan kenyamanan seseorang yang amat dia rindukan ada di tubuh pria ini. Jadi Dinda tidak menyangkalnya.
"Aku berkata serius Dinda. Menikahlah dengan ku." Walau Dinda menyanggahnya, Johan tetap pada keinginannya.
Dinda mendengus, dia tidak berani mengambil resiko menikah dengan pria yang datang dari masa lalunya beberapa tahun belakangan ini. "Kak Johan mungkin berpikir kalau menikahi ku adalah sebuah keharusan. Tapi kak Johan tidak sadar, kalau keinginan kak Johan itu hanya sebuah ambisi. Dan aku akan katakan, kalau sebenarnya aku bukanlah wanita yang pantas untuk kak Johan. Kak Johan seharusnya mengerti maksud ku. Kita bukan anak-anak lagi yang harus berulang kali di ingatkan. Antara aku dan kak Johan itu bagaikan sebuah tali yang terbentang memanjang. Aku melihat kak Johan sangat jauh di depan ku, dan begitu sebaliknya. Kita tidak akan bisa bersama, walau tali itu di ikat menyatu. Sebab, simpulnya sudah terputus."
Dinda mengatakannya dengan tegas. Johan seharusnya paham mengenai kemauan Dinda. Hanya gadis semacam Dinda yang tak mau mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya.
"Tapi kak Johan benar-benar hanya inginkan kamu Dinda. Tidak ada yang lain yang boleh menjadi istri ku. Hanya kamu!"
Dinda melihat urat-urat tegang itu muncul di permukaan kulit Johan. Lehernya itu sudah menegang kala berkata dengan nada interupsi pada Dinda.
Dinda memang memiliki pesona tersendiri di depan Johan. Akan tetapi, pesona itu akan hilang seiring datangnya kebosanan, menurut Dinda.
Menikahinya karena kecantikan semata, justru membuat Dinda takut—kalau itu akan jadi bumerang kedepannya. Rasa suka itu akan berakhir sewaktu-waktu kala dirinya sudah tidak cantik lagi. Apalagi banyak bunga cantik di luar sana.
Dinda bukan takut tersaingi saat putik bunganya sudah layu. Tetapi dia takut kalau Johan sendiri akan berpaling darinya kala tak lagi secantik dulu. Yang saat ini menjadi pijakan Dinda adalah komitmen dan kepercayaan. Bukan nafsu semata yang hanya akan menjerumuskan mereka pada neraka bahtera rumah tangga.
"Menikah, berumah tangga, memiliki buah hati sebagai pelengkap hidup. Jujur, semua wanita ingin hal seperti ini. Menikahi pria yang mereka cintai, lalu hidup bersama dalam kesederhanaan, yang semuanya di lakukan atas dasar cinta. Semua itu hanya mimpi yang tak akan terjadi. Antara aku dan kak Johan sudah masa lalu yang tak bisa di ulangi kembali. Walau sampai saat ini kak Johan masih memperlakukan aku dengan baik. Bukan berarti masa lalu itu akan tumbuh kembali seperti semula. Sungguh kak Johan, aku tidak berpikir kalau aku akan memikirkan kak Johan kembali. Jujur."
Mungkin, dengan penolakan ini, Dinda merasa tidak bersalah dengan menolak hati yang bertepuk sebelah tangan itu.
Namun, bagi Johan itu bukanlah sebuah penolakan. Jikalau ada penolakan, maka ada tindakan. Di balik tindakan, maka ada ancaman dan pemaksaan. Johan tidak keberatan jika Dinda menolaknya keras, sebab masih ada cara lain untuk mendapatkan hati yang sudah berpaling itu.
Saat Dinda menolaknya secara halus terus menerus tak mau menghargai perasaannya. Maka, Johan dengan tangan-tangan yang kekar itu mencengkram erat kedua bahunya.
Sakit, sungguh sakit saat Johan memperlakukannya seperti itu. Tapi Dinda menahannya di balik wajah yang santai. Seakan itu hanya sebuah tali yang mengikat kuat di bahu-bahunya yang lemah.
"Apakah karena pria China itu kamu menolak kembali bersama ku?"
Tidak perlu di ragukan lagi sebenarnya oleh Johan. Dia tahu jawabannya pasti dia penyebabnya. Tapi Johan ingin memastikan lagi, kalau sebenarnya Dinda mungkin saja memiliki alasan lain.
Dinda menggeleng. "Percuma kak Johan memaksa ku. Jawabannya tetap sama walau ribuan tahun kak Johan berusaha keras. Kita hanya masa lalu, yang sudah terlupakan seiring datangnya hari esok."
__ADS_1
"Tapi kenapa Dinda?" Johan sudah berang bukan kepalang. Dia berpikir ide membawanya ke Ethiopia bisa membuat Dinda sadar kalau hanya dirinyalah saat ini yang paling peduli padanya. Namun itu hanya angan-angan Johan semata. Nyatanya Dinda tetap pada pendiriannya, tidak lagi menatap Johan sebagai prianya. "Jawab aku dengan jujur Dinda. Apa yang membuat aku tidak lebih baik dari pria China itu. Apa yang membuat aku tidak lagi pantas untuk mu. Apa kurangnya aku di mata mu, dan yang tidak aku miliki dari pria itu. Jawab aku Dinda!"
"Tidak ada alasan khusus kenapa aku melakukannya. Inilah aku, dengan keputusan ku sendiri," balas Dinda.
Orang bilang perjuangan itu akan indah jika perjuangan itu di hargai oleh bunga-bunga yang di sirami dengan benih cinta. Namun sayangnya, itu tidak berlaku untuk Johan. Dinda tidak sekalipun lagi mengubah pandangannya pada Johan. Dinda tetap menganggap Johan bagian dari masa lalu yang seharusnya segera di lupakan.
"Jika bukan karena pria China itu yang masuk ke dalam kehidupan kita. Mungkin kita tidak akan berakhir seperti ini. Jadi, keputusan kamu untuk tetap tidak lagi mau menerima ku adalah sebuah penolakan terakhir. Begitu-kah yang ingin kamu tegaskan pada ku?"
Batas kesabaran Johan sudah cukup di uji. Dan rasanya batas kesabaran itu sudah sampai pada tingkat di mana dia harus menyerah.
Tidak. Johan masih banyak cara lain untuk mendapatkan kembali barang yang sudah tidak mau menjadi miliknya itu. Johan tidak menyerah, dia hanya butuh waktu untuk memahami situasi ini.
Dinda mengangguk, memang seharusnya dia memilih keputusan yang tepat. "Percuma kak Johan memaksakan kehendak ku. Aku tetap pada pilihan ku—menolak kak Johan."
Johan mendengus, dirinya yang tengah duduk di hadapan Dinda, berdiri seperti semula. Sesaat kemudian, mulutnya itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..... Oke, oke. Aku paham," katanya yang entah kenapa tiba-tiba melahai tertawa. "Itu artinya, pengorbanan ku sia-sia selama ini. Dengan menyerahkan uang sebanyak sepuluh milyar demi menyelamatkan kamu dan Vanya serta orang tuanya. Aku kira itu akan membuat kamu berhutang Budi pada ku. Tidak di sangka, ternyata balasannya hanya sebuah penolakan belaka."
"Maksud kak Johan apa?" Dinda sadar kalau Johan sedang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Dinda, kamu tentu tahu. Aku melakukannya karena aku sangat mencintai kamu. Uang sebanyak itu, kamu pikir aku melakukannya hanya karena inginkan kamu semata kah? Itu naif Dinda."
Dinda tidak mengerti maksud Johan berkata seperti itu. Kala pria yang mengenakan kemeja putih polos ini memunggunginya, Dinda berdiri ingin melihat guratan ekspresi wajah pria yang tertawa memaksa ini.
"Apa yang kak Johan rencana kan?" tanya Dinda menuntut penjelasan. "Apakah kak Johan berusaha mendesak ku?"
Johan dengan cepat mencengkram kembali kedua bahu Dinda. Kali ini senyum licik itu mulai nampak di bilik sudut-sudut bibirnya.
"Apakah kamu tidak ada balas Budi atas apa yang aku lakukan pada kamu selama ini?" katanya pasif.
Balas Budi.
Ketika dua kata itu terucap dari mulut Johan, mendadak Dinda jatuh lemas. Dadanya terasa berat untuk menarik nafas. Sesak itu membuat Dinda sadar, kalau sisi ambisius itu telah menekannya. Dinda paham maksud Johan. Melalui uang sepuluh milyar itu, Johan berusaha menekannya.
"Maksud kak Johan!!"
Tubuh Dinda sempoyongan, sedetik kemudian dia terhuyung terduduk lemas di sofa tepat di belakang Dinda.
Ternyata kak Johan tahu kalau aku paling benci berhutang Budi pada orang lain. Itu artinya, uang sebanyak itu hanya ingin membuat aku jatuh dalam jebakannya.
Nafas itu kian sulit dan sesak untuk di tarik. Apalagi mengembusnya, sungguh berat bagi Dinda. Tidak di sangka, Johan sangat sadar bahwa Dinda paling tidak suka orang lain membantunya dengan sesuatu yang sulit dia bayar. Apalagi dengan uang sebanyak itu.
"Pria China itu hingga saat ini tidak memberikan bantuan apapun pada kamu. Apa lagi yang harus kamu pertahankan untuk dia. Buang-buang waktu saja Dinda." Saat Dinda sedang berada dalam masa memikirkan hal itu. Di saat itu juga kata-kata Johan menusuk pemikirannya yang jernih.
"Kak Johan. Kakak....." Dinda tidak memikirkan hal ini lebih dahulu. Sejak awal Dinda hanya percaya padanya tanpa berpikir latar belakang Johan melakukan semua ini.
Johan merendahkan punggungnya, hingga hidungnya meninggi sebatas batang hidung Dinda. Di tatapnya wajah kecil yang jengah itu. Dan memang terlihat ekspresi wajah Dinda merasa ingin menangis.
"Mau tidak mau. Kita akan menikah hari ini," katanya tepat di depan wajah Dinda. "Maaf kalau aku memaksa. Hanya kamu saat ini yang membuat aku gila. Jika kamu terus menolak, maka tak ada cara lain. Selain memaksa kamu."
Lesu, sudah pasti Dinda merasakannya. Dinda tidak bisa membantahnya, apalagi menolak keras kemauan Johan.
Uang sebanyak itu, jika Dinda memilikinya, pasti sudah Dinda kembalikan. Masalahnya, jangankan uang sepuluh milyar, bahkan di rekeningnya entah sampai puluhan juta atau tidak, Dinda tidak tahu.
Terpaksa, Dinda harus—menerimanya.
Apakah ini akhir dari kisah ku. Kenapa aku begitu bodoh, dengan mudahnya masuk perangkap kak Johan, bahkan percaya begitu saja pada ucapannya.
Apakah aku sudah melakukan kesalahan besar dengan tidak memperhatikan dahulu niatnya.
Dinda dalam ambang kebingungan saat ini. Entah apa yang harus dia pikirkan kala Johan memaksanya melalui hutang Budi itu. Perlahan Dinda mulai memahami semua niat Dinda, jujur, dia pun baru menyadarinya.
Hati kecil Johan mungkin ingin menggeliat girang. Wanita pujaannya terdiam, bungkam seribu bahasa. Itu artinya, Dinda tak ada pilihan lain, selain menikah dengannya.
__ADS_1
Akhirnya, rencana Johan membawa Dinda ke Ethiopia adalah keputusan yang tepat. Dan sebentar lagi aku akan menikah dengannya tanpa ada yang menghalangi. Selamat tinggal masa lajang ku.
"Jika itu kemauan kak Johan. Mungkin rencana kak Johan sudah berhasil. Dan kak Johan keluar sebagai pemenangnya dalam permainan ini," kata Dinda menyerah dan tunduk dalam pengaruh Johan.
Hati Dinda ikhlas menerima kenyataan kalau dia menjadi ambisi terbesar Johan. Miris bagi Dinda, hal yang tak dia harapkan, kini berubah menjadi sesuatu yang tak terduga.
Seharusnya begitu, pikir Johan. Buat apa juga Dinda buang-buang waktu dengan menghabiskan separuh nafasnya untuk pria yang tidak ada gunanya itu.
Walau Johan tahu Steve sudah kembali, dia tidak akan memberitahu Dinda prihal kabarnya. Dia tidak mau mengambil resiko, sebab jika Dinda tahu, maka gadis ini akan nekat. Ya, Johan tahu, Dinda pasti akan kabur kalau tahu kebenarannya.
"Seharusnya kamu tahu Dinda. Sebenarnya di bandingkan pria China itu. Hanya aku yang layak menjadi pendamping mu di masa depan. Hanya saja kamu kurang memperhatikan aku. Itu saja."
Sumpah, tidak peduli dunia. Dinda rasanya ingin melompat dari gedung tinggi kalau harus di hadapkan pada pilihan ini. Namun sayang, Dinda takut pada neraka, atau melompat dari gedung tinggi. Dinda phobia pada keduanya.
Memang pada dasarnya, takdir sudah mengikat Dinda harus menjadi milik Johan. Impian itu akhirnya terwujud di mata Johan, tapi neraka bagi Dinda.
"Satu jam lagi kita akan menikah. Kamu harus di dandani cantik hari ini. Karena hari ini adalah hari di mana kita harus berbahagia." Johan tidak mau memperlambat resepsi pernikahannya. Oleh karena itu, sebelumnya Johan sudah membelikan gaun pernikahan yang cantik untuk Dinda. Juga sudah menyiapkan acara pernikahan sederhananya di Addis Ababa.
Johan memberikan tas berisi gaun pengantin itu. Setelah dia memberikannya, Johan pun beranjak dari kamar tempat Dinda berada.
Bukan di hotel, tapi Dinda ada di rumah besar milik keluarga Johan yang ada di Addis Ababa. Rumah bercat putih itu, memang besar. Tapi sayang, rumah sebesar ini harus di penuhi oleh wajah yang menangis dan air mata.
Jika ini akhir dari kisah ku. Maka takdir ku untuk bahagia berada di tangan kak Johan. Itu artinya aku harus melupakan kehidupan ku yang sudah tidak berguna lagi.
Kini aku harus menatap masa depan ku bersama Johan. Pria yang kini akan menjadi pengantin pria ku.
Tidak terasa, air mata kesedihan itu menitik dengan sendirinya tanpa di sadari. Alih-alih ingin menghindar dari Johan, justru alur ini makin berat saja bagi Dinda untuk di jalani. Seolah alur kehidupan penuh kejutan, Dinda sampai sulit memprediksi bagaimana kedepannya akhir dari cerita ini.
Selamat tinggal masa lalu yang dulu pernah di rasakan sangat indah. Selama tinggal...... Steve—
****
Di Indonesia, rumah besar Steve itu entah kenapa terasa ramai sekali. Stevie baru saja menuruni anak tangga. Saat ingin keluar, rumah, neneknya yang menggunakan tongkat kayu itu, tiba-tiba menjagal kaki Stevie.
"Mau kemana kamu?" tanya sang nenek dengan nada sangar. Apalagi di balik kacamata itu, nenek menatapnya dengan lirikan sinis.
"Stevie mau ke mall sebentar nek. Mau beli sesuatu yang sangat penting hari ini. Kenapa? Nenek mau ikut?" Nada santai itu sangat geli untuk di dengar. Tapi siapa peduli, itulah gaya bicara Stevie.
Nenek selaku wanita tua yang kuno, kadang kala ngeri melihat cucunya itu kalau sudah berbelanja. Sekali belanja, gadis itu tidak cukup satu atau dua barang. Tapi kadang banyak barang yang di bawa kerumah.
"Nenek tidak mau kamu keluar rumah saat ini," kata sang nenek yang melarang. "Seharusnya kamu di rumah saja. Temani nenek."
Stevie memicingkan matanya, di liriknya sang nenek dengan tatapan aneh. "Memangnya kenapa nek. Lagi pula, biasanya juga nenek tidak peduli Stevie mau kemana perginya."
"Adik kamu sudah dua hari belum pulang. Kenapa kamu tidak khawatir padanya."
Uh, lelah rasanya bagi Stevie setiap kali orang-orang di sekitarnya harus khawatir pada Steve. Jujur, Stevi merasa di duakan kalau orang tuanya, juga sang nenek yang dia cintai harus perhatian pada sang adik.
"Dia lagi jalan menjemput calon istrinya," jawab Stevie ketus. "Lagi pula, dia sudah besar nek. Kenapa harus di tanyain terus sih kemana dia pergi. Seperti nggak ada kerjaan lain saja."
Ckckck, nenek menggeleng melihat Stevie yang sama sekali tidak pernah peduli setiap kali dirinya bertanya serius. "Hasanudin itu cucu nenek satu-satunya saat ini. Kalau dia menghilang, siapa yang akan nenek ajak jalan-jalan keliling taman nantinya."
"Aku juga kan cucu nenek. Kenapa harus Steve melulu yang harus di perhatikan." Stevie menggerutu, kedua tangannya itu di lipat-kan di dada. Dia memalingkan wajahnya dari perhatian sang nenek.
"Sudah-sudah. Dari pada kamu merajuk pada nenek. Lebih baik buatkan nenek teh dulu. Kita berbincang saja di rumah, dari pada kamu pergi ke mall itu." Nenek merayunya, lagi pula neneknya tidak terlalu serius membuat Stevie jengkel.
"Selalu saja begitu." Walau Stevie sebal, tetap saja tangan dan kakinya mau melayani nenek membuatkannya teh.
BERSAMBUNG
Hai, sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih buat kalian yang sudah membaca karya romance ku ini. Sementara itu, aku mau promo novel ku yang lain, yang mana juga milik MANGATOON. Langsung saja, aku tunjukkan covernya.
__ADS_1
Ini adalah karya asli ku yang aku buat dari pemikiran gila, ehe. Jadi, inilah karya fantasi ku. Silahkan mampir buat kalian yang bosan dengan novel genre romantis. Semoga kalian mau mampir ke novel ku, terima kasih.