
Di depan gedung apartemen Dinda. Steve menyandarkan mobil mewah hitamnya yang sering ia gunakan sehari-hari di bahu parkiran tertata rapi dan sejajar dengan nyaman mengikuti pola parkiran mobil lainnya.
Selama perjalanan tak ada yang Steve bicarakan maupun perintahkan pada Dinda untuk pekerjaan besok bahkan perencanaan untuk menggaet model seperti yang Dinda sarankan belum ia pikirkan.
Ia hanya fokus pada kendali stir mobilnya dan melaju dengan nyaman di jalan yang bersih dari kendaraan bahkan angkot yang malang melintang menyesakan bahu jalan di perkotaan pada penduduk semacam Jakarta.
Dinda keluar dari mobil Steve dengan nyamannya bahkan tak ada yang perlu di bicarakan selama bos galak itu tak bicara lebih dulu. Di areal parkir yang luas itu Dinda sedikit puas bisa menghirup udara dalam-dalam.
Dinda melangkah mengeluarkan tubuhnya dari mobil dengan ekspresi lega. Lega karena terbebas dari sisi nakal Steve yang emosian.
"Pak Steve!" sahut Dinda.
"Terima kasih atas tumpangan mobilnya hari ini," Dinda berdiri di sisi kiri mobil Steve.
Steve yang mengenakan kacamata hitam di tengah gelapnya malam, mengangguk iya.
Dimana atap mobilnya ia buka lebar sehingga meninggalkan baknya saja bagai sebuah gerobak seakan menunjukkan bahwa inilah dia. Dia si pria super hebat dalam segala hal, yang harus di ketahui oleh Dinda.
Gaya angkuh Steve memang tak bisa terbantahkan. Sehingga aura kejam ala pria dalam komik makin membuat Dinda mencekam ngeri.
"Tak masalah!" balas Steve singkat.
"Besok tidak perlu pergi kekantor. Istirahat saja di rumah dan aku akan tetap menggaji mu." perintah Steve menambahkan ucapan singkatan tadi.
"Tapi pak?" Dinda bergidik cepat mencoba membantah.
Steve hanya tersenyum kecil dengan sudut bibir di Sunggingkan ala-ala aktor peran antagonis.
"Tidak ada tapi-tapi. Ini perintah ku dan kamu harus mematuhinya. Dan satu lagi kembali bekerja setelah kamu sembuh dari demam." Steve menutup bicara seraya ia mengeluarkan mobilnya dari parkiran lalu meninggalkan Dinda yang berdiri di sisi mobilnya.
"Pastikan besok malam kamu datang ke rumah ku seperti sebelumnya," seru Steve berteriak lantang sebelum dirinya dan juga kendaraannya menghilang dari pandangan Dinda.
"Pria ini sungguh arogan. Kenapa dia selalu melakukan hal-hal semaunya saja bahkan memutuskan secara sepihak. Pria introver dan sakit jiwa." Dinda mengumpat dengan kesal pada kelakuan Steve yang semena-mena. Yang telah berlalu dan menjauh dari hadapannya.
Dan Dinda juga melanjutkan jalan pulangnya. Pulang ke apartemen yang sudah nampak di depan mata. Ia sangat merindukan kasurnya yang empuk dan hangat walau tak se-empuk sofa hitam Steve. Bahkan rindu akan aroma bantal-bantal kesayangannya.
Sedangkan Steve di perjalanannya pulangnya, ia memacu semangat kendaraan dengan hati yang sedang bahagia bercampur sedikit penasaran. Penasaran pada peristiwa yang terjadi siang tadi.
Atap mobil yang ia buka tadi, sengaja tak ia tutup kembali karena dirinya ingin menikmati angin malam ditambah baju basahnya makin kering akibat terpaan angin kencang.
Ia tersenyum membayangkan wajah gadisnya kala sedang marah sambil menggigit jarinya yang ia sandarkan di pintu mini Cooper-nya.
"Wanita yang liar!" ucap Steve terhanyut dalam pesona Dinda.
Jalan lancar selancar kisahnya menapak di kehidupan dinda yang malang.
Dan mobilnya tak di rasakan sudah sampai di kediamannya yang besar. Bahkan jauh lebih besar dari mahligai istana king of Sulaiman.
Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam lantai yang mengkilap berwarna keemasan.
PLOTOK PLOTOK PLOTOK
Suara hentakan pantopel hitamnya menggetarkan keramik sehingga menghasilkan suara yang menggema dan alunan langkahnya amat ciamik. Jalannya yang keren bagai model membuat siapa pun akan terkesima melihat tubuh keren menjulang tinggi itu saat melintas di pelupuk mata.
"Anda sudah pulang tuan?" sapa Paman lu pada Steve yang melintas di ruang keluarga.
Sapaan paman Luong yang ramah adalah makanan sehari-hari Steve sehingga jika di anggap bosan tentu Steve merasakan hal itu karena setiap waktu pasti mendengar ucapan itu.
"Tentu!" Balas Steve singkat.
"Apakah tuan membutuhkan sesuatu untuk aku siapkan. Aku akan melakukannya sekarang," Paman lu menawarkan sebuah pelayanan pada Steve.
Steve tak menginginkan apa pun sehingga secara halus dirinya ingin menolak karena paman lu sudah cukup lelah untuk bekerja.
"Aku rasa..."
"Tidak perlu!" sambar seorang wanita dari meja makan.
Ucapan Steve yang belum sepenuhnya selesai, malah di potong oleh suara lain di ruangan ini.
Steve paham pada suara ini.
Suara wanita yang amat familiar bahkan begitu di kenalinya. Wanita yang duduk di kursi terlihat elegan dengan pakaian berkelas dan tata rambut sebahu, lembut berwarna hitam.
"Dia sudah besar. Jadi tidak perlu di layani lagi paman lu!" sahut wanita itu menambahkan ucapan perintah pada paman lu penuh provokatif.
__ADS_1
Dengan serta Merta paman lu menyetujui ucapan wanita itu karena apa yang ia katakan benar.
"Kalau begitu aku pergi dulu tuan muda dan nona jika kalian tidak memerlukan apapun dari ku." Paman lu mengundurkan diri dari hadapan Steve.
Steve tak menggubris ucapan wanita yang berbicara ala dirinya itu. Bahkan dirinya mengikuti langkah paman lu, berlalu menuju ke kamarnya dan tak peduli ucapan wanita itu.
"Tidak perlu menghindari ku!" pekik wanita itu dengan suara lantang mencoba menghentikan langkah kaki Steve yang sudah beberapa langkah kaki ia tapak di lantai mengkilap.
"Wanita ini!" geram Steve kesal mendengar sindiran bermakna ini sambil tangan mengepal keras.
"Apa yang dia inginkan. Lama tidak berjumpa sekarang sudah seenaknya berbicara semena-menanya." Tukas Steve menggerutu sebal. Lalu ia menghampiri wanita yang berbicara tak sopan di anggapnya.
"Ada perlu apa kakak Kemari?" tanya Steve tanpa berbasa-basi lalu menarik kursi tepat di sebelah wanita berambut indah ini.
Wanita yang mengenakan gaun berwarna merah dengan motif bunga berenda-renda hitam di sekujur gaun. Wanita yang sedikit di segani oleh Steve ini tak lain adalah Stevi. Kakak tertuanya yang berbeda usia terpaut tiga tahu. Kakak yang sejak kecil adalah wanita yang selalu mengganggu hidupnya yang indah layaknya kakak adik lain yang tak pernah akur namun saling menyayangi.
Wajah sinis di tunjukan oleh Stevi kala menatap adiknya sambil menyeruput teh madu.
Wanita ini sungguh bar-bar bahkan lebih bar-bar dari Steve sendiri. Sorot matanya penuh keseganan.
"Jadi tidak suka jika aku ada disini?" Stevi bertanya sewot.
Steve menggertak giginya karena ancaman sudah datang di depan mata saat menyaksikan kakaknya yang cerewet ada di Jakarta.
"Kurang ajar. Dia selalu mulai memancing perang!" batin Steve mengamuk menahan emosi.
"Terserah Kakak saja. Aku tak peduli dan aku lelah. Sekarang aku mau istirahat, jadi jangan ganggu aku!" Steve mendengus ketus dengan ekspresi tak suka pada kehadiran sang kakak.
Ia mencoba beranjak dari kursi, meninggalkan Stevie sendirian menyeruput teh hangat di tangannya.
Namun Stevie tak terima jika di abaikan. Stevie bertingkah jauh lebih kejam dari Steve karena berani tak mau menatap dalam waktu yang lama. Stevie yang licik sengaja mengerjai adiknya Steve yang malang dengan menjulurkan kakinya untuk menjagal kaki jenjang Steve. Sudah lama pikirnya tak melakukan ini, sejak tak melihat wajah Steve. Sehingga membuat Stevie rindu masa penyiksaan.
Alhasil Steve yang tak menyadari bahwa Stevie menjagal kakinya tak bisa menghindar dari kejadian ini sehingga ia tersungkur terjatuh dengan malu di wajah, serta kesal.
"Stevie!" pekik Steve kesal seraya memukul lantai keramik dengan kepalan kerasnya.
Wajahnya memerah padam akibat emosi yang meledak-ledak di tambah nafasnya sudah tak teratur untuk menghadapi Stevie yang jahil.
"Kau wanita yang kurang ajar!" lanjut Steve memekik dengan emosi menyala bagai lahar api yang panas. Ia mengacungkan wanita itu dengan tangan yang siap meninju wajah cantik kakaknya seraya membangkitkan tubuhnya.
Namun Stevie bahkan jauh lebih berani dan tak takut pada ancaman Steve.
"Sudah lama tak bertemu biginikah kamu menyambut kakak mu yang cantik. Apa begini sopan santun yang selama ini di ajarkan di sekolah?" Stevie menuntut marah.
Karena tubuh Steve menjulang tinggi, membuat Stevie agak kesulitan mengunci kerah bajunya dengan nyaman.
Sial bagi Steve ia tak mampu membalas perlakuan seorang wanita terlebih Stevie adalah kakaknya sehingga ia tak tega menatap maupun membantahnya. Ia menelan ludah pahit seakan dirinya takut pada wanita ini.
"Cepat katakan! apakah kamu tidak rela jika wanita secantik diri ku ada di rumah ini. Jawab dengan jujur!" lanjut Stevie meminta kejujuran sambil menambah kerasnya cengkraman pada kerah baju Steve seakan ia ingin mencekik mati adiknya.
"Iya...."
"Apa kata mu!"
"Iya... Maksud ku..... Tidak. Mengapa kakak terlalu emosional malam-malam begini. Apakah kakak kurang tidur hari ini?" Steve menjawab sedikit takut tetapi di sela dengan sebuah percakapan lain. Tangannya memegang kening Stevie seakan di mulai memperhatikan kesehatan kakaknya.
"Sudahlah. Lagi pula tidak ada gunanya membahas ini." Stevie menghentikan tindakan anarkisnya. Lalu kembali mengambil tempat untuk duduk.
"Duduk!" teriak Stevie menggertak kasar. Ucapan ini cukup membuat Steve tertegun untuk sesaat.
Dan Steve menuruti perintah kakaknya meskipun terpaksa.
"Tubuh mu makin tinggi saja. Sulit untuk ku mengalahkan bocah seperti mu. Tidak seperti bocah berusia enam tahunan itu," Stevie bernostalgia pada masa kecil keduanya. Masa kecil yang suka berkelahi dan menyiksa adik malangnya itu tanpa sepengetahuan ibu dan ayahnya.
"Kamu tahu? aku jauh-jauh datang dari Shanghai kesini karena apa?"
Stevie memulai.
"Kenapa?" Steve menjawab cepat karena ingin tahu kelanjutannya.
"Tentu saja aku di perintahkan oleh papa untuk bergabung bersama dengan grup wong. Dan aku akan menjadi tim Public relation di grup wong."
"Hanya itu?" Steve merespon cepat.
"Tentu saja tidak jika kamu menganggap kakak mu hanya membahas masalah pekerjaan. Tetapi..."
__ADS_1
Dengan senyum licik bagai senyum yang dilakukan Steve sehari-hari, Stevie bicara seakan dia sedang mengancam.
"Aku melihat adegan itu."
"Adegan apa yang wanita ini saksikan?" batin Steve mencoba menerka.
Untuk sesaat Steve bertanya-tanya apa yang di maksud oleh kakaknya.
Ia penasaran apa yang dia katakan sehingga memancing rasa penasaran dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Adegan apa? sebuah film yang baru saja kakak tonton?" Steve menebak seraya memastikan tebakannya.
"Pfffftt... Ha-ha-ha- ha-ha-ha."
"Bukan!"
"Lalu adegan apa yang ingin kakak katakan!" Steve kali ini menuntut serius.
Melihat Steve yang penasaran, membuat Stevie makin senang karena inilah yang ia harapkan. Rasa penasaran yang kuat untuk tahu suatu hal.
"Adegan di bawah hujan dengan seorang wanita. Kamu tahu adegan semacam itu lazim aku saksikan di dalam sebuah drama asia. Namun kali ini aku akhirnya mendapatkan adegan di kehidupan nyata. Aku sungguh terharu!" Stevie bicara sambil menyeruput manja teh hangatnya yang tak habis-habisnya untuk di seruput.
"Aku iri pada wanita itu. Mendapatkan ciuman dari seorang pria angkuh dan sombong seperti Pak Steve? pasti wanita itu sedang panas dingin sekarang memikirkan hal ini," Stevie menambah ucapannya dengan ledekan.
"Sial. Jadi wanita ini tahu kalau berciuman di bawah hujan. Sejak kapan dia ada disana. Sungguh wanita yang tak tahu privasi seseorang!" Steve menghardik geram dalam batinnya yang keras. Wajahnya menjadi seram bagai setan maut.
"Tidak perlu bertanya-tanya sejak kapan aku ada di sana. Aku tahu kamu lagi mengumpat ku dan berharap aku tak melihat adegan itu. Benar bukan apa yang aku katakan?" Stevie bicara asal tebak saat melihat raut wajah Steve yang dengan polos mengatakan kebenaran atas tebakannya.
"Lalu jika iya aku melakukannya, apa yang ingin kakak lakukan? ingin menjadi pahlawan untuk membantu kami bersatu begitu?" Steve berujar sedikit emosi karena menutup malu dari wanita ini.
"Kamu pikir aku akan melakukan hal konyol ini untuk ikut campur dalam kehidupan seseorang? jangan harap aku akan melakukannya. Kamu pikir aku sedang dalam sebuah drama dan sebagai pemeran protagonis begitu. Aku bukan wanita binal yang siap jadi Mak comblang dalam kasus ini." Stevie membalas kecut.
"Ya kakak selalu berkata seperti itu tetapi nyatanya selalu bertindak anarkis. Jangan kakak pikir aku tidak tahu apa yang ada di benak kakak. Kakak ingin mengacaukan semuanya benar bukan yang aku pikirkan?" Steve berdalih.
"Huh. Terkadang kamu suka bertindak lucu. Padahal aku tidak akan melakukannya." Stevie bergidik sok cuek seakan dia ingin menampik ucapan itu.
"Tetapi aku menyukainya. Katakan, siapa nama wanita itu agar aku bisa mengenalinya kelak!" Stevie memancing Steve bicara terbuka sangat menarik jika dirinya bisa ikut dari bagian kisah asmara ini.
"Kakak menyukainya?" Steve bicara dengan nada kurang yakin.
"Ya aku menyukainya. Dia cantik, manis dan penuh gairah sehingga adik ku yang pemarah bisa menyukai wanita yang langka ini." Stevie memulai memuji karena ada niat terselubung.
"Jangan harap aku akan memberitahukan kakak siapa namanya. Karena itu tidak akan terjadi. Simpan saja niat kakak untuk mencampuri kisah ini!" tukas Steve menutup pembicaraan lalu beranjak dari duduknya.
Stevie merasa geram karena pemuda di hadapannya sangat tak memperhatikan dirinya yang sangat ingin tahu. Sehingga mulutnya tak bisa tahan lagi untuk menyebut nama wanita yang Steve lindungi.
"Namanya Dinda dan dia tinggal di apartemen Citraland. Benarkan!" teriak Stevie melepaskan semua yang ia ketahui.
Steve menghentikan langkahnya lalu memutarkan tubuhnya menghampiri kembali sang kakak.
"Katakan kakak tahu dari mana nama dan juga tempat tinggalnya?" Steve bertanya dengan nada tak terima ada orang lain yang tahu hal ini termasuk saudarinya yang amat ingin tahu.
Senyum kecut menghiasi wajah Stevie. Ia melihat wajah adiknya yang berlebihan kala menyebut nama Dinda.
"Kamu pikir aku di sini tidak memiliki mata-mata? kamu terlalu bodoh karena tertipu oleh ku."
"Mata-mata!" Steve mengulang perkataan kakaknya.
Steve memikirkan sejenak siapa mata-mata kakaknya di dekatnya. Hanya ada paman Luong yang terlintas di hadapannya. Namun seberapa keras ia memikirkan hal itu, pasti hasilnya sia-sia karena paman lu bukanlah orang yang suka membagi kisah hidup orang lain.
Apalagi kisah hidupnya yang terbilang tertutup. Paman Luong tidak akan melakukan itu sekalipun di paksa dan di bayar dengan uang gepokan, karena kepercayaan adalah hal terpenting yang paman lu pegang teguh.
Kecuali...
"Zico!" pekik Steve dalam hati. Dirinya menebak bahwa Zico lah yang bisa melakukannya dan tak ada yang lain. Steve menahan kesal karena Zico berani membelot darinya dan membocorkan misi rahasia ini pada wanita yang selalu ingin tahu di hadapannya.
Geram menyelimuti Steve dan tangannya ia kepal dengan keras untuk melampiaskan amarahnya.
"Tunggu saja dia. Aku akan membuat mu membayar semua ini!" geram Steve pada Zico mendendam amarah kesumatnya.
Sedangkan Stevie? dirinya terkekeh kecil menutup mulutnya yang sedang tertawa dengan sapuan tangannya.
"Beraninya dia tertutup pada ku. Maka aku! Stevie Zahira tak mau kalah dalam kisah ini. Kisah yang menarik ini harusnya menjadi tontonan yang unik nanti." Tukas Stevie dalam hati menggeliat bahagia bagai ulat bulu yang kebanjiran daun segar. Ia menyukai semua ini, menyukai tingkah Steve dan gadis itu yang saling tarik menarik.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar serta berikan rating ya.
Semoga cerita ini menghibur.