
“Aku tidak ingin mengatakan kalau kepercayaan itu ibarat sebuah kertas, yang di remas akan berantakan, lalu sulit di kembalikan ke bentuk semula. Atau layaknya gelas kaca yang sengaja di pecah, lalu tak bisa kembali ke bentuk semula.
Namun aku ingin mengatakan kalau kepercayaan itu seperti tulisan di atas pasir pantai. Suatu saat pasti akan hilang, seiring tergerus oleh ombak.”
_____________________________________________
“Oh. Yes. Akhirnya aku di terima oleh Vanya,” kata Zico kegirangan.
Di ruang kerjanya, dia tak bisa berhenti untuk untuk terus terpaku pada kejadian tadi. Ketika mencium lembut bibir Vanya, wanita itu terus meraba perut keras Zico. Dan itu sukses membuat Zico makin memburu untuk terus berada di dekatnya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hubungan ini kedepannya. Yang terpenting saat ini, aku ingin berusaha menjadi pria yang romantis. Aku pastikan bahwa hanya aku yang bisa membuat dia bahagia bersama ku.”
Entah bagaimana Zico akan membahagiakan Vanya kedepannya. Dia juga bingung. Karena semua kejadian terjadi begitu saja. Tak ada yang spesial, berbeda dengan cara Steve mendapatkan Dinda.
“Setelah delapan bulan lamanya aku memendam perasaan ini. Pada akhirnya, aku bersyukur. Cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan, dan itu artinya impian ku terwujud. Seharusnya aku mengajak Vanya makan malam nanti.”
Diam-diam, dari luar Vanya tidak sengaja melihat kelakuan girang Zico yang tak bisa di kontrol. Vanya terkekeh, dari balik kaca itu rasanya Vanya ikut bahagia.
°°°°°°°
Semua orang berhak bahagia. Semua orang berhak mendapatkan perasaan dari orang lain. Semua orang berhak melupakan masa lalu. Namun satu hal. Masalah hati. Kita tidak bisa membohonginya.
Dati kata-kata itu, Vanya tahu. Kata-kata yang pernah di ucapkan Dinda ini, membuat Vanya sadar. Kalau sebenarnya masih ada pria yang menantikan dirinya terlepas dari kisah masa lalunya yang kelam.
Vanya menatap pantulan wajahnya dari cermin. Dia tengah dandan cantik hari ini. Dengan gaun indah yang pernah di belikan Dinda untuknya, dia terlihat berbeda.
“Dinda. Benar kata orang-orang. Kamu adalah sosok wanita yang sempurna. Bahkan hanya dengan gaun ini saja, aku merasa makin percaya diri.”
Manik-manik anting yang baru saja di sematkan di telinganya, membuat Vanya makin anggun. Sesekali Vanya tersenyum ramah melihat wajahnya sendiri.
“Tidak tahu apakah Zico akan menyukai aku dengan berpakaian seperti ini. Aku harap, gaun ini sesuai selera zico.”
Dari luar rumah sewaannya. Vanya mendengar suara klakson mobil Zico. Mobil putih itu menyalakan lampu terang. Tidak ada mobil yang datang ke tempatnya, keculai hanya satu orang yang sudah berjanji akan menjemputnya nanti malam. Yaitu Zico.
“Aku sudah siap.”
Zico memang mengatakan akan makan malam bersamanya. Siang tadi ucapan itu di katakan olehnya. Vanya setuju saja, walau jenis pacaran mereka sangat cepat.
Ketika melihat Vanya sudah keluar dengan cantiknya, Zico terperangah tak bisa menutup ketakjubannya pada sosok yang anggun di depannya ini.
Sungguh, dia adalah wanita pertama yang berhasil membuat Zico bertekuk lutut.
“Co. Hei,” Vanya menyadarkan pria ini. Dia lagi-lagi melamun di hadapan Vanya. “Aku sudah siap. Kamu baik-baik saja kan?”
“Oh iya.” Zico mengangguk. Hampir saja dia malu. “Ayo.”
Zico mengajak Vanya menaiki mobil putihnya. Entah ke mana, tapi tadi siang Vanya mendengar kalau pria ini akan membawanya makan malam romantis. Walau sekilas, tapi itu jelas terdengar oleh Vanya.
“Co,” rengek Vanya. Zico menoleh sekilas karena dia fokus pada jalannya. Tapi bukan berarti Zico mengabaikan kekasihnya ini.
“Heem.”
“Bisakah aku bertanya?”
“Mengenai?”
“Bagaimana kamu bisa menyukai aku.”
Zico tertegun sebentar. Sebenarnya pertanyaan Vanya ini terlalu umum. Jelas jawabannya pasti akan umum juga, karena pertanyaan-nya tidak terlalu berbobot.
“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta pada kamu. Semuanya berjalan begitu saja.”
“Hanya begitu saja?”
Zico mengangguk. Tangannya terus memutarkan kemudi mobil, namun tangan lembut Vanya menyentuh tangan Zico yang sudah berkeringat dingin.
“Kamu tahu Co. Aku adalah wanita jahat yang pernah mengusik hidup Dinda. Masa lalu ku kelam. Aku wanita sombong. Bahkan aku selalu memandang rendah orang lain. Aku selalu menganggap status sosial adalah yang paling penting. Apakah tidak ada alasan khusus bagi kamu mencintai ku. Bukan aku tidak menyukai diri ku seperti ini. Tapi aku cukup sadar, kamu adalah pria bermoral. Tanggung jawab, pria baik bahkan kamu juga pria tipe ideal dan tampan. Itulah kenapa saat kamu mengatakan perasaan kamu tadi di toilet, aku merasa kaget.”
Vanya mengucapkan pengakuan yang membuat Zico agak sedikit terperangah. Bukan karena tersinggung, tapi pengakuan itu membuat Zico meninggi. Seolah dia adalah pria yang paling sempurna.
Zico memaksakan mobilnya menepi mendadak di bahu jalan. Kemudian dia memandangi wajah Vanya.
“Semua orang pernah berbuat salah di masa lalu. Semua orang pernah menganggap hina orang lain. Semua orang pernah merasa dia tinggi dari orang lain. Namun, orang baik adalah mereka yang mau mengakui kesalahannya. Untuk apa mengingat lagi kejadian yang aku sendiri sudah melupakannya. Itu hanya membuat kita tertekan.”
“Tapi Co....”
“Aku percaya kamu adalah wanita yang baik. Hanya karena di buta-kan oleh cemburu. Kamu menjadi seperti ini. Kamu bukanlah wanita seperti itu di mata ku!”
“Benarkah?” tanya Vanya ingin mendapatkan sebuah keyakinan.
“Perlu bukti?”
Vanya mengangguk. “Aku harap memuaskan.”
“Baiklah!”
Zico membuktikan seperti apa dirinya memandang Vanya. Kembali, bibir nakal Zico meraup bibir Vanya. Di bahu jalan yang agak remang, lagi-lagi ciuman itu di capkan Zico pada kekasih yang baru sehari menjadi miliknya ini.
__ADS_1
“Apakah itu memuaskan?”
“Sebuah ciuman!”
“Itulah cara ku membuktikan kalau aku mencintai kamu bukan dari fisik dan latar belakang. Tapi atas dasar cinta, aku melakukannya begitu.”
Vanya tersentuh. Sungguh. Baru kali ini ada pria yang mengakuinya seperti ini. Walau baru sesaat mereka menjalin kasih. Tapi rasanya Zico paling mengerti dirinya seperti apa.
“Terima kasih Co.”
“Kamu jangan menyesal atas kesalahan yang pernah kamu perbuat di masa lalu. Karena saat ini, di mata Zico. Kamu adalah sosok yang sempurna.”
“Zico.”
Vanya makin tersentuh dan terharu. Sungguh, pria ini terlihat seperti tidak peduli pada cinta. Namun dia memahami perasaan Vanya.
Zico mengelus lembut pipi Vanya. Gadis itu terlihat sudah berlinang haru.
“Terima kasih.” Sekali lagi ucapan itu muncul dari balik bibirnya yang merekah.
Zico menggeleng. “Justru aku yang harus berkata seperti itu. Terima kasih sudah mencintai ku. Juga menerima dan membalas perasaan ku.”
°°°°°°°
Sejak Zico mengungkapkan perasaannya pada Vanya. Benar kata Steve, pria satu ini nampak serius menjalani hubungannya dengan Vanya.
Zico membawa Vanya makan malam romantis di tempat yang pernah dia siapkan untuk Steve. Persis di kursi yang biasa Steve tempati, kini pria itu duduk dengan nyamannya makan bersama wanita yang dia sukai.
“Ini semua kamu sendiri yang menyiapkannya.”
Ketika melihat semua hidangan sudah siap sedia di atas meja. Vanya tahu, pasti Zico sudah mereservasi tempat ini sebelumnya.
“Maaf Van, jika tidak sesuai keinginan kamu.”
“Oh tidak,” sambar Vanya cepat. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu Co. Justru aku senang dengan makan malam romantis yang di temani lilin cantik ini. Sungguh.”
“Benarkah?”
Vanya mengangguk. “Sungguh. Aku menyukainya.”
Dalam benak seorang Zico, walau dia tak seromantis pria lain. Namun dia sudah berusaha sebaik mungkin membuat makan malam ini makin romantis.
Jujur, Zico mengakuinya. Sebenarnya selang beberapa jam setelah mereka berpacaran, Zico teramat bahagia.
Itulah kenapa, rasanya hubungan mereka terkesan terburu-buru, walau belum genap satu kali dua puluh empat jam di jalani.
“Vanya.”
“Terimalah hadiah makan malam dari ku,” kata Zico yang entah dari mana dia sudah mengeluarkan cincin. Kilau cincin bersinar sombong ini, membuat Vanya terhanyuk.
“Maksudnya ini.......”
“Bukti bahwa aku tidak bermain-main dengan perasaan ku.”
Perasaan Vanya tidak karuan. Makanan saja belum di makan. Apalagi romantisnya belum hilang sebab di temani musik biola dan remang-remang lampu. Kini sudah datang kejutan yang membuat Vanya ternganga makin bahagia.
Zico mengambil tangan kiri Vanya. Lalu menyematkan cincin di jari manis wanita ini.
“Hanya cincin tanda jadi yang baru aku berikan. Suatu saat nanti cincin pernikahan yang aku sematkan.”
“Terima kasih,”
“Kamu sudah menjadi bagian dalam hidup ku. Jangan katakan terima kasih. Karena semua yang aku punya, kamu juga berhak memilikinya.”
°°°°°°
Sepulang dari rumah Ibu Yuri. Dinda langsung membuatkan suaminya masakan. Dan seperti biasa, Steve hanya menjadi penonton.
Bisanya Steve hanya menggendong Iqbal. Dan hanya itu selalu yang Steve lakukan. Tak ada yang lain. Kecuali menjadi pengacau dapur.
“Kamu lihat Nak. Bunda memang benar-benar Ibu yang hebat,” ucap Steve pada putranya.
Ah sudah biasa Steve merayunya seperti itu. Untung Iqbal tidak rewel, jadi anak itu hanya terlihat tenang. Namun....... Dinda kali ini tidak bisa menahan kekehan. Steve mendapatkan hal konyol dari putranya sendiri.
“Yah. Iqbal pipis di baju Ayah.”
“Sudah lama tidak dapat tanda dari Iqbal,” sahut Dinda bahagia.
Maklum saja, selama ini Steve bisa terhindar dari kencing putranya sendiri, lantaran sang anak selalu menggunakan pembalut bayi.
"Ah. Rasanya seperti ketumpahan air panas.”
“Tapi baru kali ini bukan.”
“Kamu sengaja melakukannya.”
Dinda menggeleng. “Sungguh. Tadi ketika mandi di rumah nenek, Iqbal lupa di pakaikan pampers.”
Tidak tahu apakah Steve harus kesal atau justru bahagia. Tapi wajahnya mengatakan bahwa dia netral.
__ADS_1
Mereka yang tengah asik mendrama di dapur, tiba-tiba di sela oleh Stevie. Wajah cantik itu di tekuk, membuat Dinda dan Steve menatapnya tajam.
“Ada masalah lagi.” Steve menebak.
Sudah di pastikan begitu. Steve berkata, seolah baru mengenal kakaknya.
“Entahlah. Mama baru saja video call. Katanya Papa akan menjemput kakak ke sini kalau kakak terus menghindar.”
Stevie duduk di kursi dapur, dia menggeletakkan sembarang handphonenya.
“Seharusnya kakak kembali ke Shanghai. Mungkin itu jauh lebih baik.”
“Tidak.” Stevie menolak tegas.
Steve paham, itu keputusannya untuk terus bersembunyi dengan mereka di Jakarta. Tapi ini bukanlah jalan yang tepat, Steve tahu jalan pemikiran sang Papa.
“Aku hanya bisa menyarankan. Selebihnya, kakak yang bisa mengambil keputusan.”
“Kalau kak Stevie nggak mau kembali ke Shanghai. Seharusnya jangan di paksa,” Dinda menyahut.
Sementara Iqbal, dia yang asik menggigit empeng. Tertawa saat Dinda berkata pada Steve, yang di kiranya bicara pada si bocah kecil.
“Ah. Kalian selalu meributkan hal-hal seperti ini. Kalian belum menemukan titik terang apapun!”
Steve mengernyitkan dahinya, saran apa yang harus dia ucapkan untuk Kakaknya.
Stevie berdiri dari duduknya yang penuh kekesalan. Dia mendekati Iqbal, lalu mengambil paksa dari Steve.
“Biarkan malam ini dia bersama ku.”
“Dia baru saja puf. Memangnya kak Stevie mau membersihkan puf Iqbal.” Steve cukup khawatir, sebab belum ada pengalamannya si Stevie mengurus anak kecil.
“Hanya puf air. Aku bisa mengatasinya.” Stevie beralih. Memutar tumitnya, meninggalkan dapur. Pergi bersama Iqbal menuju ke kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya.
Sementara Dinda dan Steve tetap di dapur. Ini kesempatan. Melihat Stevie sudah berlalu, Steve melancarkan aksinya.
“Aku rindu di saat seperti ini.”
Steve memeluknya dari belakang. Dan itu terjadi, jika Steve merasa memiliki kesempatan.
“Aku tidak tahu kenapa bisa kamu setiap saat selalu cantik. Aku merasa ingin selalu di dekat kamu.”
Dinda hanya tersenyum-senyum saja. Suaminya kian hari makin membuatnya diabetes.
“Bisakah kamu tidak mengganggu ku?”
Steve menggeleng. “Sumpah. Aku tidak bisa melakukannya.”
“Steve......”
“Dinda.”
Dinda mengintimidasi Steve melalui sorotan mata tajam, ingin rasanya Dinda mendepak pria ini. “Kamu mengganggu ku ketika lagi memasak.”
“Habisnya, aku rindu puding istri ku.”
“Jangan macam-macam.”
“Sekali saja. Aku mohon.”
Dinda memasamkan wajahnya. Sungguh, Steve makin hari selalu curi-curi kesempatan dari sang anak.
“Sekarang dada ku milik Iqbal. Berani menyentuhnya?”
Steve mengangguk semangat. “Dia yang mencurinya dari Ayahnya. Seharusnya dia yang mundur dari sisi puding milik Ayahnya.”
°°°°°
Zico membawa Vanya ke taman hiburan. Dan ini kencan pertama bagi Zico. Sebelumnya dia hanya membantu Steve, kali ini dia merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh pria angkuh itu. Memiliki kekasih, kencan, berciuman, saling merangkul dan bergandeng tangan.
“Mau naik wahana komedi putar?” tawar Zico.
Vanya menggeleng, dia menolak halus. “Aku merasa kita tidak cocok menaiki wahana itu. Aku malu, kita bukan anak-anak lagi.”
Sebenarnya Zico senada. Lagi pula itu hanya basa-basi saja. Zico tidak berniat dengan sengaja menaiki permainan anak-anak ini.
“Bagaimana kalau kita bermain lempar boneka?”
Zico menunjukan toko boneka melalui lirikan mata. Tidak jauh, tepat di belakang Zico toko ratusan boneka itu berada.
Vanya sebenarnya tidak menyukai boneka. Tidak tahu bagaimana caranya menolak Zico. Dia sudah bersusah payah mencoba meromantiskan keadaan. Namun itu tetap membuat Vanya tak mampu merasakan keromantisan mengunjungi tempat ini.
“Vanya. Kamu mendengarkan aku tidak?” Zico meluruhnya. Vanya terdiam, belum memberikan jawaban apapun.
“Oh. Iya. Maaf aku.... Melamun.”
“Kamu sedang memikirkan apa?”
Vanya menggeleng. “Bukan apa-apa.”
__ADS_1
“Yakin?”
Vanya mengangguk, sedetik kemudian dia menarik lengan Zico. “Ayo. Kita cari tempat yang lebih bagus.”