
Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, Steve datang lebih awal ke kantornya. Melihat Steve sudah tiba di depan kantornya, beberapa karyawan yang sedang berbincang, segera bangkit dari kursi masing-masing.
Beberapa karyawan pria mencari-cari alasan merapikan dasi mereka seakan dasi yang sudah terpasang rapi itu, sedang lusuh dan berantakan.
Steve melewati beberapa penjaga pintu masuk. Mereka menyambut Steve dengan hangat. Mereka merendahkan badan sambil tersenyum manis.
Steve menerima sapaan pagi karyawannya. Beberapa di antaranya mengantar Steve langsung menuju ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan kerja Steve, dia mengambil tempat duduknya.
Steve melirik jam tangannya, dan tertera jarum jam itu menunjukan pukul delapan lewat lima puluh enam pagi.
Dari jendela kacanya, Steve melihat ke luar. Steve memanjangkan lehernya, melihat apa yang sedang di lakukan oleh Dinda.
Dia sebenarnya malas pagi ini untuk mengerjakan tugas kantor yang menumpuk. Namun Steve ingat kalau pagi itu kebetulan akan ada rapat dengan pihak vendor dari luar negeri.
Dengan segera Steve mengambil interkom-nya, menghubungi bagian humas.
"Katakan pada Dinda, agar segera datang ke ruangan ku sekarang," perintah Steve tanpa sapaan pagi.
Terdengar dari dalam interkom-nya, seorang wanita menjawab ramah. "Baik pak," lalu Steve mengakhiri panggilannya.
Selang beberapa waktu, Dinda dengan berkas dua warna yaitu hitam dan merah yang dia dekap-kan di dadanya, masuk kedalam ruangan Steve.
"Ini berkas-berkas laporan keuangan Minggu lalu, sudah di revisi dan sebagian besar akun bank sudah tersinkronisasi dengan akun perusahan," kata Dinda. "Mohon di cek kebenarannya."
Dinda menyodorkan beberapa berkas berwarna merah dan hitam itu di atas meja. Dia sangat profesional dalam menjaga hubungan kerjanya.
"Aku akan melihatnya dulu," Steve membuka dan membolak-balik berkas itu. Steve memeriksa-nya dengan teliti, tak ada satu pun yang ia lewatkan.
"Bagus, laporan keuangan Minggu lalu dan Minggu ini performanya baik, kedepannya harus di perhatikan lagi tingkat keluar masuk kas perusahaan. Agar semuanya terorganisir sesuai SOP," Steve merasa puas jika Dinda yang menangani pekerjaan yang berat penuh pemikiran ini.
Senyum sumringah tergambar di wajah Dinda, dia begitu senang jika perkejaan yang ia tekuni sepenuh hati ini akhirnya mendapatkan tempat tersendiri di mata Steve.
"Dengan senang hati aku akan melakukannya," ujar Dinda. Dia ingin beranjak meninggalkan ruangan Steve.
"Dinda," Steve menghentikan langkahnya. "Setengah jam lagi akan ada rapat penting dengan vendor asal Jepang, tolong kamu urus beberapa bagian terpenting nanti," perintah Steve.
Dia memintanya sedikit sopan dan lembut.
Dinda menoleh dan mengangguk siap melaksanakan tugas dari Steve. "Akan aku laksanakan segera," jawab Dinda.
Dia beranjak dari ruangan Steve.
Steve mendengus saat Dinda keluar dari ruangannya. Dia sangat menyesalkan pagi itu dia sangat sibuk.
Seandainya dia ada waktu seperti kemarin, Steve ingin kembali jalan-jalan sejenak dan mengulangi kejadian kemarin tapi hari ini Steve di kejar waktu.
Steve memijat kepalanya, dia sedikit lelah menghadapi situasi ini. Keadaan mendesak dalam satu waktu. Dia sulit membagi waktu.
Mira, selaku kepala bagian keuangan tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan Steve. Dia terlihat tergesa-gesa, dengan ekspresi wajah panik.
"Ada apa? Kenapa terburu-buru?" tanya Steve.
Nafas wanita itu memburu, terengah-engah tak karuan. "Itu.... Di depan...." Katanya terbata-bata.
Steve yang sedang berdiri sembari mengecek berkas-berkas keuangan pemberian Dinda tadi, meninggalkan sejenak pekerjaannya.
Dia menghampiri Mira yang menempel di depan pintu. "Ada apa di depan," Steve ingin tahu.
"Di depan," dia memberi tahu. "Orang-orang perwakilan vendor dari Jepang sudah tiba."
Steve menggelengkan kepala. "Aku pikir ada apa," seringai Steve. "Dimana mereka sekarang?"
"Masih di depan lift," jawab Mira sederhana.
"Kalau begitu langsung saja arahkan mereka menuju ruang rapat. Aku akan menyusul kesana," Steve memerintah.
"Saya laksanakan pak," Mira mengangguk. Dia ingin berlalu, tapi Steve berpesan untuk Mira sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan Steve.
"Ehm.... Satu lagi, katakan pada Dinda agar menjadi notulen dalam rapat ini. Rapat penting hari ini harus di laksanakan dengan baik," tambah Steve.
Mira mengangguk, dia meninggalkan ruangan kerja bosnya.
Saat hendak menuju keruangan kerjanya, Mira terlihat berjalan setengah berlari.
"Duh, kenapa semuanya harus hari ini sih. Mendadak banget rapatnya," Mira mengeluh. Dia agak sebal karena bekerja di kejar waktu, dia tidak bisa melakukan pekerjaan yang terburu-buru seperti ini.
__ADS_1
Dia sedikit tergesa-gesa, mengingat bahwa vendor asal Jepang ini sulit di ajak negosiasi. Mereka bisa membatalkan sewaktu-waktu kerja sama ini.
Vendor-vendor asal Jepang itu sangat cerewet, oleh karena itu rapat ini sangat penting.
Mira ingat, bulan lalu perusahaan fashion dari Korea pernah membatalkan kerjasama dengan belagio collection karena keterlambatan dalam pelayanan.
Hal ini tidak boleh di ulangi, atau Steve akan marah besar. Pria itu sangat kejam saat marah, Mira memahami bos seperti Steve.
"Jangan sampai kejadian bulan lalu terjadi lagi hati ini," kata Mira harap-harap cemas. Dia khawatir pada karirnya yang tengah cemerlang.
Mira ingat, ancaman Steve yang terus menggema di telinganya. "Kalian semua akan ku pecat jika kembali gagal menggaet vendor asing," kata-kata ini sangat tepat dengan kondisinya saat ini.
"Jangan sampai, jangan sampai. Semoga aku tidak berakhir menjadi pengangguran," Mira ingin membuang pikiran buruknya. Walau ucapan Steve semakin menggema dalam otaknya.
Saat ia berjalan, tidak sengaja bagi Mira berpapasan dengan Dinda yang sedang membawa soft copy di tangannya. Mira memanggil Dinda, keadaannya sangat genting.
"Bu Dinda," Mira memanggil sedikit berteriak karena dia dan Dinda berjarak beberapa meter, takut saja wanita itu tak mendengarkan panggilannya.
"Iya," balas Dinda. Dia menengok, melihat kalau Mira menghampirinya. Dia terlihat kewalahan.
"Pak Steve meminta kamu datang ke ruangannya sekarang, ini penting," imbuh Mira. "Sekarang, jangan tanya kenapa, pokoknya ini penting!"
Dinda agak bingung, ada apa. "Aku baru saja keluar dari ruangannya, apa dia memanggil ku lagi," Dinda penasaran.
Wanita itu mengangguk, wajahnya mengiba. "Iya, hari ini ada rapat penting dengan pihak Jepang. Pak Steve inginkan kamu jadi notulen hari ini."
Wajah Mira terlihat sayu dan amat di kasihani. "Aku mohon, jangan buat kesalahan dengan pak Steve untuk hari ini saja yah, aku mengiba loh," tambah Mira memohon. Dia mengambil tangan Dinda, Mira benar-benar memohon pada Dinda.
"Ingat, hari ini jangan buat masalah apapun yah. Karir ku ada di tangan mu sekarang Bu Dinda," dia mengingatkan Dinda. Wajah Mira sudah peluh, dia merasa bahagia jika Dinda menuruti kata-kata nya.
Dinda melirik wanita itu, bicaranya sudah agak gugup. "Iya, aku akan ke ruangan Pak Steve sekarang," Dinda menurutinya.
"Terima kasih sayang ku, Bu Dinda yang manis," goda Mira. "Jangan lupa, tidak boleh melakukan kesalahan apapun," teriaknya. Dia sudah bisa tersenyum sumringah saat Dinda meyakinkan dirinya.
Dinda menuju ke ruangan Steve. Hanya saja yang membuat Dinda heran adalah, kenapa rapat ini sangat mendadak.
Dinda saja baru tahu jika rapat pagi ini mendadak.
"Tadi dia bilang rapat akan di laksanakan pukul sebelas siang, tapi kenapa sekarang malah di undur jadwalnya," Dinda bergumam. Dia makin bingung pada sistem rapat ini.
Melihat Mira yang getar getir membuat Dinda juga ikut merasakannya. Wanita itu telah membagikan auranya yang super sibuk itu pada Dinda.
Di dalam ruangan Steve, dia sudah menunggu kedatangan Dinda. Saat pintu terbuka, matanya amat jeli melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya.
Yang di tunggu oleh Steve sudah nampak di depan mata, Steve sedikit senang.
"Ada apa mencari ku?" tanya Dinda. "Apakah ada sesuatu yang genting?"
"Hari ini ada rapat penting dengan vendor asal Jepang, kita harus siap-siap lima menit lagi," Steve memberitahu Dinda. "Aku lupa mengatakan bahwa mereka sudah tiba, jadi waktu untuk menyiapkan rapat sudah mepet," Steve bicara sambil membenarkan kancing jasnya.
"Kita harus siap-siap, lima menit lagi rapat di mulai," sekali lagi Steve bicara pada Dinda tapi dia tidak memperhatikan wanita itu. Steve sibuk membenarkan dasinya.
Melihat Steve yang kesusahan, Dinda men-decak menggelengkan kepalanya. Dia mendekati Steve dan berinisiatif membantunya memperbaiki dasi steve yang berantakan.
"CK.... Memasang dasi seperti itu salah," ucap Dinda meralat tangan Steve yang hanya bisa merusak tatanan dasinya.
Steve terpaku, Dinda melakukannya tiba-tiba, dia belum siap untuk berdebar pagi itu.
Karena tubuh Steve tinggi, Dinda yang bertubuh pendek, menarik dasi steve hingga pria itu menunduk.
"Seharusnya memakai dasi yang langsung ada pin-nya, agar tidak selalu berantakan saat tidak di sengaja di sentuh," Dinda berkata seperti seorang ahli per-dasian.
Steve mengedipkan matanya berulang kali. Dia melihat sepasang bola mata Dinda dengan jarak yang begitu dekat.
Steve khilaf, entah kenapa melihat wajah Dinda, dia malah mendekatkan wajahnya.
"Pak Steve mau ngapain?" tanya Dinda. Wajahnya semakin mendekati wajah Dinda, sontak Dinda menjauh.
"Maafkan aku," Steve mengimprovisasi keadaan. "Aku terlalu bersemangat," kata Steve mengelak.
Dinda memanyunkan bibirnya, Steve terlihat sedikit aneh. "Tidak apa-apa," Dinda paham maksud Steve. "Khilaf adalah hal wajar."
"Bukannya kita pacaran?" Steve mengingatkan kembali.
"Memangnya kenapa?" Dinda membenarkan ucapan Steve.
"Seharusnya, mencium pacar pagi-pagi seperti ini tidak masalahkan," Steve mengkode. "Kenapa kita malah canggung."
__ADS_1
"Canggung," jawab Dinda bingung. "Maksudnya kita........ Gitu?"
Steve mengangguk. "Iya. Seharusnya tidak masalahkan jika aku melakukannya."
Ada benarnya yang di katakan oleh Steve, seharusnya tidak masalah, tapi Dinda proteksi. Dia tidak suka bermesraan, dia bukan gadis seperti itu.
"Sebaiknya kita melaksanakan rapat dulu Pak Steve, hari ini rapat penting," Dinda berdalih.
Steve bertingkah sok merajuk. Dia bertingkah seperti bocah yang sedang marah pada ibunya karena tidak di belikan kinder Joy.
Dinda tidak mempedulikan Steve. Dinda hanya fokus pada rapat, dia tidak berpikiran untuk meromantiskan diri.
"Kalau tidak ada kepentingan lagi, sebaiknya aku pergi dulu Pak. Aku akan menyambut kedatangan orang-orang Jepang itu," kata Dinda undur diri.
Baru saja dia ingin pergi, Steve dengan cepat memeluknya dari belakang. "Jangan pergi," pinta Steve. "Aku ingin di peluk seperti ini."
Entah apa yang di pikirkan oleh Steve pagi itu, di mengerat menempel bagai gurita.
Dinda menghela nafasnya, Steve bersifat monopolis pagi itu.
"Pak Steve," tegur Dinda. "sebentar lagi rapat akan di mulai, aku ingin menyambut kedatangan orang-orang itu Pak. Cepat lepaskan, nanti ada orang yang melihat."
"Nggak mau," bantah Steve. "Aku bilang tetap begini ya harus begini," Steve hanya ingin membenarkan apa yang dia lakukan.
Nafas Steve sangat wangi, Dinda merasakan nafasnya itu masuk kedalam hidungnya.
Sementara Steve mengerat dan tak mau melepaskan pelukannya.
"Aku sangat bersemangat saat memeluk kamu sepagi ini," bisik Steve.
Tidak tahu Dinda harus seperti apa melerai pelukan pria itu.
Dia tidak melepaskan pelukannya pada Dinda.
Sekonyong-konyong mereka berpelukan, Mira yang sedari tadi sudah siap dengan tugasnya, tanpa mengetuk pintu lebih dahulu langsung membuka pintu.
Dan yang dia lihat seharusnya tak ia lihat. Adegan romantis kedua orang itu membuatnya kaget. Seketika berkas-berkas hitam yang ada di tangannya terjatuh berserakan karena terkejut melihat pelukan keduanya.
"Kalian," teriak Mira tak percaya atas apa yang dia lihat. "Pacaran," dia memastikan.
Kedatangannya yang mendadak membuat Steve yang tengah menikmati pelukan hangat secara sepihak melepaskan pelukannya.
"Bukan.... Kami bukan pacaran," Dinda mengelak. "Itu.... Sebenarnya kami.... Tidak sengaja...." Dinda merasa malu, apalagi telah di pergoki oleh Mira.
Mira melirik keduanya. Dia tidak percaya atas apa yang ia lihat.
"Iya kami pacaran," jawab Steve jujur.
Mulut Mira seketika ternganga lebar, dia tidak bisa memahami diam-diam keduanya ternyata menjalin hubungan.
Steve melirik Mira dengan tatapan kasarnya, meminta agar wanita itu tidak mengganggu adegan ini.
"Maafkan aku, karena telah lancang masuk keruangan pak Steve tanpa mengetuk pintu," Mira mengaku dia salah. Terutama karena mendapatkan sorotan tajam dari Steve. "Kalau begitu aku permisi dulu pak," katanya merasa bersalah.
Dinda menggelengkan kepala, hal yang ia hindari akhirnya terkuak. Orang-orang akan mengetahui hubungannya dengan Steve karena kejadian ini.
Tapi Steve yang berdiri di belakang Dinda, dengan santainya membisik di telinga Dinda. "Tenang saja, mereka tidak akan berani menggosipi Nyonya Steve," celetuk Steve narsis.
Bisikan Steve membuat daun telinga Dinda geli. Dia sedikit merinding saat pria itu berkata menggoda di belakangnya.
Untuk kedua kalinya, Steve kembali memeluk Dinda dari belakang. Kali ini dia sedikit romantis. Steve menempelkan dagunya di pundak Dinda, dia masih bersikap mengerat.
"Sebaiknya kita begini saja selamanya. Hidup bersama dalam satu atap, rasanya pasti akan lengkap kebahagiaan ini," Steve mengutarakan impiannya.
"Rapat sudah di mulai, sebaiknya kita pergi sekarang," Dinda mengalihkan bicara. Dia melepaskan paksa pelukan Steve.
Terpaksa bagi Steve menurutinya. "Oke kita akhiri pelukan ini," Steve mengalah. "Tapi, malam ini kamu tidak boleh menolak."
"Menolak apa?"
"Kamu harus tampil cantik menemani ku malam ini. Aku ingin membawa kamu ke pesta pernikahan alianor."
Dinda ingat, saat itu Steve berkata bahwa alianor adalah sepupunya. Kebetulan dia akan mengadakan upacara pernikahan keduanya di Jakarta.
Dinda tidak menolak, dia menuruti kemauan Steve.
"Ingat! Tampil yang cantik malam ini. Aku ingin semua orang terpukau karena wanita ku," Steve membisik.
__ADS_1
BERSAMBUNG