
Epilog
Usia Iqbal sudah tiga tahun hampir memasuki usia empat tahun. Setiap saat, anak itu selalu menggemaskan. Wajahnya, tak berubah. Dia makin membuat siapa saja jatuh cinta pada wajahnya.
Steve yakin, jika besar nanti putranya akan menjadi Playboy. Memanfaatkan wajah tampannya, menggaet wanita manapun. Oh ngeri, Steve merasa, nanti putranya jika sudah dewasa makin semena-mena pada wanita.
Kembali ke pokok bahasan, si kecil selama ini selalu bermain dengan sang Nenek dan kakeknya. Selagi Steve bekerja, maka si kecil di tinggal bersama Nyonya Diah dan Tuan Wong.
Sampai-sampai, seorang ayah akut macam Steve. Dia tidak rela kalau sang putra jauh darinya walau semeter jaraknya.
Ayah dan anak itu tengah berenang di kolam renang Dinda baru saja tiba di sana. Sambil membawa makanan, sang Bunda meninggalkannya di atas meja di pinggir kolam. Dinda menyaksikan keduanya yang tengah asik di dalam kolam. Bahkan Steve amat girang ketika mengajari putranya berenang.
“Pantas saja kaki suami ku jenjang. Setiap hari dia selalu berenang. Semoga Iqbal besar nanti tidak setinggi Ayahnya. Cukup sang Ayah, Iqbal tidak perlu menirunya.”
Dinda menggeleng ketika melihat putranya tertawa lepas di atas bebek mainannya. Dan, Dinda jujur, dia merasa malu pada putranya. Di usianya yang masih kecil, anak itu sudah mahir dalam berenang. Walau harus di pantau, bisa saja terjadi sesuatu. Berbeda dengan Dinda, jangankan berenang, masuk kolam pun Dinda tak sanggup.
Sifat Iqbal tidak jauh dari Dinda dan Steve, sama-sama suka air dan pantai. Bedanya, Dinda tidak bisa berenang. Sementara kedua orang tercintanya, jangan di tanya. Jika terus di latih kemampuan berenang mereka, bisa jadi Iqbal dan Ayahnya bakal menjadi atlet renang nasional.
“Sayang, aku lapar.”
Dinda menoleh ketika suara dari pinggir kolam itu berulah manja. Namun tak urung, Dinda membawakannya makanan.
Dinda duduk di pinggir kolam, Steve demikian. Dia menyandarkan punggungnya di tepi kolam, sambil minta di suapi cemilan renyah dari Dinda.
Si kecil asik sendiri, dia berada di atas bebek terapungnya. Aman, Steve sudah memasang pelindung untuk putranya jika sedang tidak di pantau. Dia tidak akan tenggelam, Steve amat proteksi pada keselamatan si kecil.
“Enak,” kata Steve memuji saat di suapi makanan oleh Dinda. Dinda tersipu, selalu saja seperti itu. “Setiap masakan yang di buat bunda, pasti enak rasanya.”
“Hei. Sejak kapan kamu memanggil ku bunda?”
“Sejak saat ini. Kenapa?”
Steve mencebikkan bibirnya, Dinda memukul pelan bahu Steve. Lagi-lagi, suaminya ini selalu membuatnya berdebar.
“Jangan panggil Bunda. Aku geli mendengarnya!”
Steve menggeleng. “Nggak mau. Memanggil Bunda, aku rasa oke juga.”
“Ikh.... Kamu....”
Dinda mencubit lagi bahu Steve. Gemas saat melihat tingkah suaminya. Steve hanya tertawa renyah, Dinda sangat mempesona pikirnya. Jadi, Steve tidak rela jika istri tercintanya ini tak di goda.
“Mau berenang?” tanya Steve.
Dinda menggeleng. “Cukup kamu dan Iqbal saja.”
“Ayolah. Sebentar saja. Kamu nggak pernah berenang bareng suami mu dan putra kita. Kamu mau jadi istri durhaka.”
“Enggak, aku takut. Aku nggak mau.”
Dinda menggeleng keras, sementara Steve justru makin antusias mengajak Dinda berenang.
“Ayolah, kamu di jamin aman kalau ada di dekat suami tampan mu. Pokoknya berenang, masa kalah sama Iqbal. Lihat tuh, dia asik berenang sendirian.”
Dinda melihatnya, sang putra berenang di atas bebek terapungnya. Dia berada di tengah kolam. Dinda tahu, putranya benar-benar meniru sifat sang suami. Dan Dinda mengakui, dia memang kalah dalam hal keberanian melawan Iqbal kecil.
“Aku nggak mau!” teriak Dinda meronta.
Steve menarik lengan Dinda, sampai wanita itu tercebur di dalam kolam. Steve tidak peduli jika istrinya meraung, menolak ajakannya. Steve kembali tertawa renyah.
“Selalu menolak. Aku tidak suka istri yang tidak menurut.”
Steve dan Dinda sebenarnya sudah setahun belakangan ini pindah rumah. Rumah mereka tidak jauh dari rumah sang mertua.
Di rumah ini, hanya ada mereka bertiga. Jadilah, Steve bisa leluasa berulah pada istri tercintanya ini.
“Oh. Kamu selalu memaksa,” gerutu Dinda sebal.
Tangan Dinda berpegangan erat di pinggir kolam, dia enggan berenang makin ke tengah kolam. Takut, airnya cukup dalam.
Steve memeluk Dinda dari belakang. Dan ..., Dinda tahu, pria ini mulai berulah.
__ADS_1
“Kamu mau ngapain?” tanya Dinda.
“Aku kangen puding istri ku. Juga layanannya,” lirih Steve membisik.
Steve menempelkan dagunya di pundak Dinda, tangan-tangan kekarnya sudah menyusut masuk kedalam celah baju Dinda. Meremas dua puding kenyal itu.
Sial, Dinda tak bisa menghindar. Pria ini makin manja kalau sudah bertemu surganya.
“Iqbal sudah besar. Kita buat anak kedua yuk. Aku ingin memiliki anak perempuan kali ini. Biar anak perempuan kita, bisa membantu bundanya kalau lagi sibuk.” Kembali Steve membisik. Sementara Dinda, dia justru terkekeh geli mendengarnya.
“Aku nggak mau,” balas Dinda menggeleng. Dia menoleh sekejap, melihat suami manjanya ini. “Kamu ingat. Ketika Iqbal selalu menyusu pada Bundanya, kamu pasti cemburu dan marah. Aku nggak mau suami ku posesif pada anaknya sendiri karena mengambil puding Bundanya dari sang Ayah. Aku nggak mau kejadian itu terulang lagi.”
“Kamu tega?”
Dinda berbalik, kini dia menatap wajah tampan suaminya itu. “Iqbal kita masih sangat kecil. Dia masih butuh perhatian kita. Aku nggak mau, nanti kalau punya adik, dia merasa terabaikan.”
“Tapi aku ingin Iqbal punya adik. Aku ingin dia punya adik perempuan.”
“Sayang....”
“Dinda....”
Dinda mendengus, lagi-lagi suaminya ini tak bisa di ajak kompromi.
“Sayang.....”
“Please. Kali ini saja. Aku ingin kita punya anak perempuan.”
Mata Steve berkaca-kaca, kedua tangannya menyatu. Memohon, meminta agar Dinda menuruti kemauannya.
“Nggak.” Kembali Dinda menggeleng keras. Dia menoleh tegas kemauan suaminya. “Aku nggak mau terburu-buru. Mengandung itu sulit, aku nggak mau kamu memaksa lagi.”
“Tapi....”
“Pokoknya aku nggak mau.”
Steve meraih kedua tangan Dinda, lalu menciumnya. Matanya berlinang, mengiba. “Kamu masa tega. Kan punya anak lagi bukan masalah. Lagi pula, selama ini kamu nggak pernah menolak permintaan suami tampan mu ini. Ayolah, sekali ini saja. Setelah itu, aku janji. Kita cuma punya dua anak. Suer.”
“Aku nggak mau. Pokoknya ini keputusan final. Hanya punya satu anak, nggak mau nambah lagi.”
“Tapi sayang....”
“Nggak ada tapi-tapian. Aku nggak mau menuruti kemauan kamu!”
Yah, sedih bagi Steve. Baru kali ini paksaannya di tolak Dinda. Biasanya Dinda menurut kalau mulut manisnya merayu. Tapi sayang, hari ini berbeda. Dinda tak mengindahkan permintaannya, justru mengabaikan ucapan suaminya ini.
“Kalau Iqbal sudah besar gimana?” lagi-lagi, Steve memberikan opsi. Kembali, Steve bertingkah baik dibalik ucapan manisnya. Pepatah mengatakan, “Ada udang di balik baskom,” mungkin tepat untuk suami Dinda ini.
“Aku pikir dahulu.”
Oke, Dinda mengakuinya. Dia juga ingin memiliki anak perempuan yang mana nanti akan meniru sifatnya yang lemah lembut. Bukan ide yang buruk sih, Dinda bahkan ingin sekali anak perempuan itu cepat-cepat lahir.
“Tapi tunggu usia Iqbal sepuluh tahun. Baru kita punya anak lagi.”
“Hah..... sepuluh tahun? Kok lama banget.”
Seketika Steve membuka matanya lebar-lebar. Dinda terkekeh saat melihat ekspresi terkejut Steve. Lama, memang Dinda sengaja melakukannya.
Suami mana yang tahan menunggu selama itu, namun tak ubahnya Steve menuruti kemauan sang istri. Atau Steve tidak akan di layani lagi. Dia tak mau itu terjadi.
“Kamu sengaja melakukannya.”
Dinda tersenyum manis, kedua tangannya memegang wajah Steve. “Lagian, permintaannya mendadak. Aku nggak mau kamu harus seperti ini. Minta anak perempuan, nanti minta lagi anak laki-laki. Kamu banyak nuntut.”
Iya sih, Steve sadar. Masa kehamilan pertama Dinda, Steve menuntut ini itu. Steve ingat, ketika kelamin bayi sudah di ketahui, dia meminta agar bayi itu berubah menjadi perempuan. Lalu, sehari kemudian? Steve malah meminta Dinda agar melahirkan bayi laki-laki.
“Ya sudah deh. Aku menurut. Dari pada aku tidak di layani, lebih baik aku mengalah,” ucap Steve lesu.
Sekonyong-konyong Steve berulah, namun dia tidak bisa beralih dari bibir ranum Dinda. Dan.....
“Dinda....”
__ADS_1
“Hemp.....”
Oh, suaminya itu. Lagi-lagi mengacau. Dinda sudah merasakan ini, titik di mana Steve sudah mulai bergairah.
Sambil bibir Steve mencumbu lembut bibir Dinda, satu tangannya melepaskan perlahan baju Dinda. Makin turun, tangan Steve meremat gundukan itu.
“Ke kamar?” bisik Steve. Dinda mengangguk.
Steve menggendong Dinda, keluar dari kolam. Baru saja melangkahkan kakinya beberapa meter, Steve lupa, kalau si kecil masih di kolam.
“Bunda ....”
Akh, sial bagi Steve. Anaknya jadi pengacau di saat seperti ini. Steve hapal, kalau Iqbal sudah menangis, pasti karena Dinda diambil olehnya. Steve lupa, kalau Dinda milik putranya seorang.
Tiap kali Steve ada di dekat Dinda, pasti anak itu menangis. Dia tidak rela jika sang Ibu balita ada di dekat Ayahnya.
“Iqbal nangis, sepertinya dia tidak mengizinkan kita berduaan hari ini.”
Dinda terkekeh geli, sedangkan Steve berekspresi kuyu. Menghela napasnya, Steve tepaksa menurunkan Dinda.
“Lagi-lagi mengalah dengan anak kecil!”
****
“Iqbal sudah tidur?”
Dinda mengangguk saat Steve sudah menunggunya di depan pintu kamar putranya.
“Dia agak rewel. Nggak seperti hari biasanya.”
“Aku tahu, dia pasti pingin punya adik kecil.”
“Ngaco!”
Dinda memukul pelan suaminya. Steve terkekeh geli, sesaat kemudian, Steve kembali berulah. Dinda di gendong, lalu di bawa ke kamar.
“Kita lanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi.”
“Nggak.....”
“Jangan membantah!” dengan cepat Steve menghardik Dinda yang menggeleng tak mau.
“Kamu pemaksa.”
“Itu salah kamu. Kenapa kamu mengabaikan aku sejak tadi siang.”
Benar, Dinda ingat. Tadi siang saat di kolam, Steve ingin membawanya ke kamar. Namun Iqbal agak rewel saat sang Bunda di bawa pergi Ayahnya. Dan jadilah kegiatan tadi siang tidak terlaksana. Hal ini membuat Steve makin bergairah.
Dinda di letakan di atas kasur, sementara Steve sudah memburu membuka bajunya.
Oh, Dinda tahu. Kalau sudah seperti ini, biasanya Steve tidak akan menahan lagi nafsunya. Steve meraih bibir istrinya, membuat Dinda terpojok di kasur. Tangan Steve lagi-lagi mulai menjalar kemana-mana, sesekali Dinda mendesah.
“Maaf sayang,” bisik Steve.
Dinda terperangah kaget, dan Dinda paham maksudnya.
“Kamu nggak ....”
“Pokoknya kita harus punya anak perempuan. Kamu pasti bisa.”
Ah, Dinda menyerah. Benar-benar deh. Steve kalap, dia tidak peduli. Dia tetap pada keputusannya—ingin memiliki anak perempuan.
“Kamu ..., Akh ....”
Steve langsung meraup bibir Dinda, membuat wanita ini tak lagi menolak.
“Besok kita cek kandungan. Aku yakin, di sana bayi perempuan kita sudah tumbuh.”
END
TERIMA KASIH atas partisipasi kalian membaca novel ini. Terutama untuk komentar kalian.
__ADS_1