UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 149


__ADS_3

Aku benci rapuh. Aku benci ketidakberdayaan. Aku benci dunia yang menjauh dari ku. Aku benci diriku yang lemah di depannya yang terlihat asing.


Aku selalu berharap waktu berhenti sejenak. Namun apalah daya, itu tidak akan terjadi. Semua tetap menjadi awal dari cerita.


Dunia, akhirat. Semuanya terasa asing bagi ku.


____________________________________________


Vanya menatap gedung tempatnya bekerja. Saat ini kehidupannya jauh lebih baik dari yang pernah dia lalui belakangan ini. Kini Vanya di perlakukan dan di hargai dengan baik oleh teman-teman sejawatnya.


Bahkan tak pernah mereka menyinggung Vanya mengenai kehidupan di masa lalunya. Semua orang tahu—Vanya adalah mantan seorang putri konglomerat tajir melintir. Namun itu hanya kisah—yang tidak perlu di singgung lagi. Masa lalu biarlah masa lalu, semuanya tidak akan terulang lagi di masa kini. Ingatan itu sudah berakhir sekarang.


Vanya saat ini sudah bekerja menjadi pegawai penerjemah bahasa asing di perusahaan besar. Karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik, sehingga mudah baginya memasuki perusahaan besar di Surabaya.


Saat ini dia satu kantor dengan kakaknya, Arka. Hari-hari Vanya terasa sangat menyenangkan. Tidak ada beban, tidak ada gangguan dan tidak ada tekanan. Semua berjalan datar, monoton dan tidak ada kisah menarik di dalamnya.


Kebanyakan ucapan mengatakan: “Orang baik terlahir dari orang jahat yang ternistakan.” Dan itu benar—meskipun Vanya bukan wanita yang ternistakan—tapi di masa lalu dia cukup bar-bar.


“Seandainya aku punya waktu. Aku ingin ke Jakarta menemui Dinda. Tapi sayang, kali ini aku tidak bisa.”


Vanya sedang duduk di kafe seberang kantornya. Dia sedang menunggu seseorang. Mungkin klien dan sebagainya. Dia melirik jam di tangan. Menunggu bagi Vanya bukan sesuatu yang melelahkan, sebab otaknya selalu terbayang pada Dinda.


Bukan. Jika kalian berpikir kalau Vanya menyukai Dinda. Tetapi—mengaguminya lah yang membuat Vanya tak bisa lupa pada sosok itu.


Setelah beberapa saat, klien yang di tunggu pun hadir. Meskipun Vanya beberapa kali menengok jam di tangannya lantaran agak lama menunggu. Namun itu sudah berakhir karena pria yang dia tunggu sudah tiba.


“Maaf membuat anda menunggu. Kami mengalami sedikit kendala,” ucap pria yang baru saja tiba di hadapan Vanya.


Vanya tersenyum, sambil tangannya mengulur ingin menjabat tangan pria ini. “Tidak masalah Pak. Aku sudah terbiasa menunggu,” katanya dengan senyuman ramah.


“Bisa kita mulai rapat tertutup ini?”


Vanya mengangguk. Dia sangat mempersilahkan pria ini mengutarakan ucapannya.


“Dengan senang hati. Silahkan Bapak memulai point' penting pertemuan siang ini.”


“Terima kasih sudah memberikan aku waktu untuk bicara.”


Pria gemuk itu di temani seorang wanita muda nan segar. Vanya memperkirakan dengan baik kalau mereka seumuran. Sesekali Vanya tersenyum padanya, sebab dia teringat pada Dinda kala melihat wajah gadis yang berdiri di belakang bosnya itu.


Dinda. Kamu benar. Ternyata tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Melalui kerja keras selama setahun belakangan ini. Aku akhirnya bisa mengembalikan lagi kepercayaan diri ku.


Aku tahu ini tidak mudah. Apalagi wanita sangat rapuh. Namun aku percaya, di luar sana ada yang lebih kuat lagi. Banyak wanita tangguh seperti mu yang selalu menginspirasi. Kamu benar, tidak semuanya bisa di akhiri dengan cara menuju sang khalik. Namun memperbaiki diri, itu jauh lebih baik dari pada menghindar dari masalah. Dan kali ini, setiap masalah aku hadapi dengan tangan terbuka. Semua ada jalannya. Tergantung bagaimana kita memahaminya.


Dinda. Seandainya kamu tahu. Aku disini merasa bahagia dengan kehidupan sederhana ku. Ini semua karena kamu. Semuanya karena kamu yang selalu mendorong ku untuk menjadi lebih baik lagi.


Aku senang mengenal diri mu. Dan kamu memang pantas menjadi wanita paling bahagia sekarang. Semua itu karena kamu melakukan hal-hal baik di masa lalu. Tuhan menjawab setiap doa mu.


Meskipun pikiran Vanya terpatri pada Dinda. Namun dia tetap fokus pada bibir pria di depannya. Pria yang dengan detail menjelaskan isi rapat terbatas mereka.


Vanya memang di tunjuk kantornya sebagai notulen dalam rapat terbatas ini. Karena dia memiliki Public speaking yang baik dan mumpuni.


Hingga rapat selesai. Kliennya pun menjabat tangannya, lalu pergi. Vanya menghabiskan waktu selama setengah jam membahas kerjasama kantor. Vanya sudah terbiasa bertemu orang-orang penting, bukan sekali dua kali.


Namun, setiap kali melihat orang baru, Vanya benar-benar merasa sedang bertemu dengan Dinda. Tidak tahu entah kenapa? Yang jelas, sosok yang dia kagumi itu selalu hilir mudik di telinganya.


“Have a nice day, sir,” ucap Vanya ramah pada pria tadi—ketika dia berlalu.


Yah. Akhirnya aku harus menjadi wanita karir seperti ini. Alih-alih menjadi wanita kalangan sosialita.


****


Dinda mengikuti suaminya menuju dapur. Steve meninggalkan barang-barang belanjaan di atas meja dapur, sementara Dinda menyalakan lampu.


“Aaaa.....”


Baru saja lampu di hidupkan, Dinda sudah di buat kaget setengah hidup.


“Kak Stevie?” Steve ikut terlibat kekagetan ini. Kakaknya sudah duduk di dapur yang gelap, seraya mengunyah berantakan makanan.


“Kakak kapan sampai?” Dinda menyapa lebih dahulu.


“Tadi. Satu jam yang lalu,” kata Stevie menjawab. Padahal makanan bisa membangkitkan semangat dan energi, tapi ini berbeda. Dia terlihat lesu.


Steve menggeleng, kakaknya mengacak-acak dapur. Semua yang ada di lemari pendingin, habis. Stevie memberantakkan cemilan Dinda di atas meja. Setiap remah-remah cemilan sudah mengotori meja kaca.


“Kak Stevie. Itu makanan Ibu hamil semua. Kenapa di habiskan,” tegur Steve. Dia mengeraskan rahangnya, sambil sesekali memijit keningnya. “Oh. Berantakan.”


“Sudah. Biarkan. Kita sudah beli yang baru tadi.” Dinda menengahi.


Dan ya. Dinda juga heran. Makanan Ibu hamil bisa di habiskan Stevie. Semuanya, tanpa sisa. Wanita itu duduk santai, sementara remahan wafer berserakan di atas meja. Dan cokelat sudah mengotori wajah Stevie.


“Kakak lagi ada masalah.”


Baru saja Steve mencoba menginterupsinya. Dia sudah berkata pada pokok pembicaraan.


“Masalah apa?” tanya Steve. Dia tidak kaget, sudah biasa baginya mendengar berita tidak baik dari kakaknya.


“Papa.”


“Memaksa kakak?”


Stevie mengangguk. “Aku akan berakhir kali ini.”

__ADS_1


“Jadi wanita rumahan?” tebak Steve.


“Hooh.” Stevie mengangguk lemah. “Kali ini, aku akan benar-benar berakhir.”


Steve memapah Dinda duduk di kursi dekat dengan Stevie. Dan Steve duduk di sebelahnya.


“Bagus dong. Biar kakak tidak lagi keluyuran kesana kemari. Jadi hemat kekhawatiran kan!”


“Bukan itu,” sambat Stevie cepat. “Masalahnya beda.”


Tidak peduli kalau kakaknya sedang mengadu. Steve lebih asik pada dunianya saja. Dia mengelus lembut perut istrinya. Meskipun telinga Steve mendengar keluhan itu.


“Masalahnya beda. Mungkin kak Stevie bisa cerita ke Dinda. Siapa tahu Dinda bisa bantu.”


Sebagai sesama wanita, mungkin pikir Dinda dia bisa memahami suasana hati Stevie. Walau Dinda tidak yakin dia bisa membantu.


“Masalahnya runyam Dinda. Kakak sampai malas mau membahas masalah ini. Papa memang memperlakukan kakak beda. Hiks.”


“Tapi tak ubah kakak masih membantah Papa,” sahut Steve.


Sumpah. Kakaknya itu memang wanita paling mengesalkan seumur hidup Steve. Selagi dia sedang gundah, mulutnya itu tidak bisa diam untuk mengunyah.


“Steve. Aku ini butuh bantuan. Bukan di judge seperti ini.”


Steve men-decak, di tatapnya agak sinis wajah yang sedang di lema itu. “Aku tidak bisa membantu kakak saat ini. Aku sedang sibuk. Aku harus mengurus istri ku, juga anak ku. Maaf jika aku kali ini tidak memperhatikan kakak.”


Setelah berkata, Steve mengajak Dinda ke kamar. Dia tidak peduli kalau Stevie sedang mengeluh di dapur.


“Kalian mau kemana?”


Steve memanyunkan bibirnya. Menoleh sekilas, tapi tidak sampai melihat kakaknya. “Aku ingin ke kamar. Jangan mengacau di dapur.”


“Hei. Aku belum selesai bicara.”


“Kakak selesaikan sendiri. Di kelab malam.”


Di ujung bicaranya, Steve berkata pelan. Dinda menyikutnya, lirikan mata itu agak kejam di lihat oleh Steve.


“Kalau kak Stevie kenapa-kenapa gimana?”


“Dia lebih kuat dari super man. Nggak perlu khawatir sama kak Stevie.”


“Dasar!” Dinda memanyunkan bibirnya. Suami menyebalkan.


“Hoi, Steve, dinda.” Teriak Stevie lagi. Yang benar saja, Steve bahkan tidak menoleh dari anak tangga.


Ah. Adik sialan. Dulu aku membantunya bisa menikah dengan Dinda. Sekarang aku yang di paksa menikah oleh Papa, dia bahkan acuh tak acuh. Benar-benar tidak tahu balas Budhi. Jingan.


Stevie memandangi kedua orang yang meninggalkannya itu. Karena kesal pada Steve, makanan yang dia pegang, Stevie lempar sembarang.


Steve tidak peduli. Dia tetap pada keputusannya. Hanya peduli pada kandungan istrinya dan juga buah hati. Tidak mau ikut dalam masalah Stevie.


“Walau Mama sudah bilang mengenai perjodohan kak Stevie. Tetap saja. Kita tidak noleh mencampurinya. Yang paling penting saat ini, kamu dan Iqbal harus baik-baik saja.”


“Tapi nggak harus mengabaikan kak Stevie kan.”


Steve mengernyitkan alisnya. Dia masih tidak mau mencampuri urusan Stevie. “Kamu terlalu bawel.”


Ya. Setidaknya begitu suami ku. Keras kepala, dan tidak mau mendengarkan apa kata ku.


Memang berat menjadi Ibu hamil. Apalagi hamil besar seperti ini. Sekedar naik tangga saja, rasanya sudah lelah bagi Dinda.


Sampai di kamar mereka. Steve membantu Dinda mengganti pakaiannya. Saat ini Dinda menjadi prioritas Steve, dia tidak mau terjadi apa-apa pada istri dan anaknya itu.


“Sayang. Aku sepertinya makin gemuk ya dari beberapa bulan yang lalu?”


Steve yang sedang mengerek resleting daster di punggung istrinya ini, mendengus tersenyum.


“Siapa yang bilang?”


“Aku sendiri.”


Steve menggeleng. “Kamu gemuk itu wajar. Kan Ibu hamil harus makan banyak, biar bayi dan Ibunya sehat.”


“Tapi aku takut.”


Steve mengajak Dinda duduk dahulu di kasur, barulah dia bisa menatap wajah istri yang sudah sendu itu.


“Takut kenapa?” tanya Steve. “Ayo bilang. Aku akan mendengarkannya.”


“Aku takut...... Kalau kamu akan melirik wanita lain.”


Steve terkekeh. Dia tidak menyangka kalau Dinda akan berpikiran seperti itu.


“Hei,” ucap Steve. Di pandangi-nya istri yang sedang sendu ini, sambil kedua tangannya memegang bahu Dinda. “Kamu kira aku pria mata keranjang yang suka tergoda pada daun muda di luaran sana kah?”


“Aku benar-benar takut kalau kamu seperti itu. Apalagi aku saat ini sudah berbadan dua. Aku takut kamu bosan. Apalagi sudah berbulan-bulan aku tidak memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri.”


“Nggak,” balas Steve. “Walau aku tidak bisa menahan nafsu ku. Namun aku bisa menahan diri agar bersabar. Aku tidak memaksa kamu harus melayani nafsu suami mu. Aku tidak ingin kamu tertekan. Justru aku takut kalau aku mengganggu istri ku. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Aku tidak akan mungkin tergoda pada wanita lain. Karena bagi ku, istri ku yang paling cantik sempurna.”


Steve mengusap air mata Dinda. Air mata itu sudah berlinang di pipi. Jujur, Dinda merasa bersalah kalau dia tidak memuaskan Steve. Dia suaminya, walau Dinda memuaskan kebutuhan fisik Steve. Tapi itu tidak cukup.


Beberapa kali Dinda melihat Steve menahan diri untuk tidak menggangunya. Walau hanya sebatas mengganggu bibir, namun rasanya Dinda bersalah.

__ADS_1


Steve memeluk Dinda. Rasanya istrinya itu seperti sedang terkena penyakit khawatir khas wanita hamil.


“Sudah. Jangan di pikirin. Aku tahu kamu pasti merasa bersalah. Aku tidak masalah kok . Asala istri dan anak ku bisa sehat, aku tidak akan berpaling sedikitpun. Jangan nangis lagi. Aku benci air mata istri ku.”


Lembutnya suara itu, membuat Dinda tenang sesaat. Steve mengelus lembut bahu Dinda, dan satu tangannya lagi mengelus perut buncit itu. Sementara bibirnya, mengecup kening Dinda, dan hidungnya menghisap wanginya rambut sang istri.


“Sayang,” rengek Dinda.


Steve melihatnya, Dinda seperti membutuhkan sesuatu.


“Apa?”


“Itu.....”


Steve memicingkan matanya. Ketika Dinda tak melanjutkan kata-katanya, Steve melihat tangan Dinda sudah meremas sprei kasur.


“Kamu cemas?” tanya Steve.


Dinda mengangguk. “Lebih dari itu.”


Steve sudah menduga kalau istrinya pasti sedang mengidap penyakit cemas ini. Keputusan Steve untuk menemani istrinya setiap saat, rasanya tepat.


Karena Steve di beritahu oleh dokter kandungan di rumah sakit—kalau wanita hamil harus di manja. Jangan di buat stress. Jika tidak, itu bisa mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungannya.


“Katakan. Apa yang membuat kamu sangat cemas.”


“Aku......”


“Katakan saja. Aku akan mendengarnya.”


“Aku..”


Meskipun ragu, Steve tetap harus meyakinkan Dinda agar bicara.


Dinda tidak berani berkata, air matanya sudah menetes lagi. Tapi dia harus mengatakannya, atau Dinda merasa mimpi semalam akan terjadi—nyata.


“Bisakah kamu berjanji satu hal pada ku?”


“Mengenai?”


“Sesuatu yang penting. Kamu harus janji melakukannya.”


Steve kembali mengangguk. Kali ini dengan keyakinan yang mendalam. “Katakan. Aku akan menepatinya jika aku bisa.”


“Tidak susah. Aku hanya minta. Jika bayi ini lahir, kamu harus menyayanginya seperti kamu menyayangi aku. Aku mau, mau merawatnya dengan sepenuh hati. Aku mau kamu kelak tidak memarahinya ataupun memukulnya. Aku hanya mau kamu melakukan ini untuk ku. Untuk anakku kelak.”


“Maksudnya?” Steve mengerutkan keningnya, di tatapnya sungguh-sungguh wajah Dinda. “Kamu bicara apa?”


Hiks. “Aku hanya mau kamu melakukan itu.”


“Dinda!” Sentak Steve. “Kamu ini bicara apa?”


“Aku tahu ini mendadak. Tapi aku harus mengatakannya. Aku hanya mau, jika seandainya aku tidak selamat saat melahirkan bayi ini nanti. Aku harap kamu bisa mencari Ibu sambung yang menyayanginya. Aku akan bahagia kalau kamu tidak menelantarkan Iqbal ku nanti.”


Steve men-decak kesal. Wajahnya sudah memerah lantaran amarah sudah memenuhi sahwatnya. Sesekali dia mengacak kasar rambutnya.


“Kamu sadar nggak apa yang kamu bilang?”


“Aku sangat sadar.”


“Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu?” tandas Steve yang agak garang. Steve tidak percaya kalau Dinda akan mengatakan permintaan aneh-aneh. Macam tuhan saja yang bisa memprediksi Kematian.


“Aku hanya mau kamu melakukan itu.”


“Aku tidak akan melakukannya!”


“Steve!”


“Dinda.”


Steve tahu kalau Dinda sedang dalam masa cemas. Steve mengacak kesal rambutnya lagi. Tadi dia meninggikan suaranya untuk Dinda. Dan itu makin menambah semangat Dinda untuk menangis.


Meskipun Steve kesal, namun dia tidak mau Dinda kenapa-kenapa jika melahirkan putranya nanti. Steve memeluknya. Dia mencoba menenangkan Dinda.


“Kamu nggak boleh berkata begitu. Kamu akan baik-baik saja. Kamu hanya cemas saat ini.”


“Tapi aku takut kalau itu benar-benar terjadi.”


Steve mencium puncak kepala Dinda. Walau Dinda menangis, bukan berarti Steve tidak tahu apa yang istrinya itu pikirkan.


“Kematian saat melahirkan itu bisa di minimalisir. Kita sudah menjalani pelatihan mengenai penanganan kelahiran bayi. Jadi jangan di pikirkan kecemasan itu.”


Jujur Dinda takut sekali pada bayang-bayang kematian saat melahirkan itu. Rasanya dia tidak ikhlas kalau mati tanpa melihat putranya nanti tumbuh besar.


Hingga tangisan sesenggukan Dinda perlahan mereda, seiring Steve memperlakukannya dengan hangat.


“Kamu itu istri ku yang paling aku cintai. Jika seandainya melahirkan membuat kamu takut pada kematian. Maka, kedepannya aku janji. Kita hanya akan punya satu anak saja. Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini.”


Sedikit lega rasanya kalau mendengar Steve terus menenangkan dirinya. Dinda cukup terkesima pada sikap Steve yang terus menyemangatinya.


“Kamu nggak marah pada ucapan ku tadi.”


“Nggak. Aku tidak pernah marah sedikit pun pada istri ku. Aku tidak mau melakukannya.”

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Jangan di pikirkan.”


__ADS_2