
"Maaf Pak! Adakah yang bisa saya bantu?" Dinda bertanya sembari menyela Steve yang tengah berbicara dengan seseorang yang ada di teleponnya.
"Kalau begitu besok akan kita pertimbangkan lagi. Kabari aku segera jika ada keperluan lain." Pungkas Steve menutup pembicaraan di telepon.
Bukan karena di ganggu Dinda tetapi sesi telepon sudah berakhir. Dia duduk di pinggir meja, sementara raut wajahnya begitu serius seperti sedang di kejar deadline.
Steve menyibukkan diri membolak-balik map hitam di tangannya.
Dinda mendekati Steve sembari mengulangi ucapannya tadi.
"Oh iya. Aku butuh bantuan sekarang. Tolong di urutkan hasil penjualan produk grup wong berdasarkan tahun. Dan semuanya sudah tersusun berantakan di pojok lemari sebelah kanan sana." Steve bicara namun wajahnya masih fokus pada map yang ia pegang.
"Baiklah Pak. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." Dinda menuruti perkataan Steve tanpa mengurangi perkataan apapun.
"Oh iya, selain menyusun grafik penjualan per/tahun, sekalian susun juga hasil laporan keuangan tahunan agar aku dengan mudah mengurusi berkas-berkas itu besok." Teriak Steve berpesan memerintah.
Dinda mengangguk sembari tersenyum ramah. "Baik Pak. Akan saya kerjakan secepat mungkin."
Berkas-berkas yang di maksud Steve adalah map-map hitam yang tersusun tidak sesuai dengan tahun hasil penjualan produk. Tetapi tersusun ala kadarnya sehingga membuat siapa pun akan kesulitan untuk menanganinya kecuali bertindak dengan sikap sabar.
"Ck.... Semua berkas ini berserakan entah dari tahun kapan. Pusing kepala ku melihatnya." Dinda mendercit mengeluh sembari sedikit berekspresi ingin menyerah.
Dia memilah satu persatu berkas yang tersusun tidak teratur ini. Mulai dari line paling atas hingga bagian bawah Dinda keluarkan. Semuanya ingin Dinda atur ulang sesuai dengan tahun arsipan.
Tertulis arsip berkas penjualan dari tahun dua ribu satu hingga dua ribu tujuh belas semuanya mulai Dinda rapikan. Terkadang ada berkas yang hilang, daftar isi tidak lengkap. Bahkan terkadang juga ada yang sudah terpotong tidak jelas.
"Huh. Begini banget ya mencari uang. Harus susah payah bekerja siang malam." Dinda mengeluh lesu sambil tangannya tetap merapikan berkas-berkas yang menumpuk berantakan.
Memang, sebenarnya siapa pun pasti tidak akan mau merapikan semua berkas yang berantakan begitu. Dinda teringat pada saat dia magang di kantor kementerian agama.
Sama-sama mengurus berkas berantakan yang menumpuk begini. Tetapi di sini Dinda jauh lebih harus sabar karena semuanya acak Adul tidak tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
Sama seperti yang ia lakukan saat ini, semua berkas sama-sama berantakan tetapi ini jauh lebih berantakan dari tempat ia magang semasa kuliah dulu.
__ADS_1
Sempat Dinda menghela nafas panjang karena lelah memikirkan semua ini. Tetapi, bagaimana pun juga pekerjaan tetap pekerjaan. Dia harus menyelesaikan semua ini walau hati kecilnya sudah mengeluh. Tanggung jawabnya sangat berat demi berkas pembawa kelesuan ini.
Dinda merapikan satu persatu. Kepalanya rasanya ingin pecah saat itu. Tetapi di saat sedang mencari arsip yang hilang, Dinda tidak sengaja melihat kecoa.
Sontak Dinda menjerit ketakutan. "Aaaa....."
Dinda merasa takut, sehingga sebagai bentuk proteksinya Dinda mendorong tubuhnya ke rak yang menampung berbagai berkas-berkas aneh dan tebal.
Hingga beberapa bagian file terjatuh di ikuti dengan sebuah kardus berwarna cokelat ikut terjatuh tepat mengenai kepala Dinda.
"Aw.." Dinda berteriak keras.
Sembari memegang kepalanya kesakitan tertimpa kardus tadi.
Semuanya mulai berantakan seperti semula. Dan ini menjadi pekerjaan tambahan bagi Dinda.
"Oh.... Sudah bagus tadi rapi. Sekarang mulai lagi berantakan. Kecoa itu memang pintar dalam memberantakan ruangan. Good job my cocroach." Dinda mulai menggerutu lelah.
Lelah mengulangi pekerjaannya dari awal. Dinda sekali lagi harus bekerja membenahi semua keberantakan ini. Namun, Dinda di suguhkan dengan pandangan tak sengaja.
Dinda mengambil Poto itu, di balik Poto bertuliskan : STEVE KECIL KESAYANGAN MAMA.
Dari tulisan belakangnya saja Dinda bisa memahami bahwa Poto itu milik Steve, si tuan pemarah.
Dinda membalik Poto Steve , dia penasaran seperti apa wajah Steve kecil. Bahkan Dinda sudah merasa senang ingin melihat wajah pemarah itu saat masih imut-imut ketika balita.
"Ini..... Pak Steve!" Dinda membelalak terkejut.
Dia melihat Poto yang ia pegang itu dengan seksama. Dinda tidak percaya pada apa yang ia lihat.
Poto bocah yang membuatnya akan menyesal jika tidak segera melihatnya.
"Ini pasti bukan dia... Ini pasti bukan Pak Steve...."
__ADS_1
Entah kenapa Dinda merasa sesak saat melihat Poto yang ia pegang itu. Sebuah pukulan baginya karena selama ini tidak menyadari jika Poto itu ada kaitannya dengan masa kecil mereka.
Dinda terpaku sejenak karena tak percaya pada apa yang ia lihat. Semuanya seakan seperti mimpi. Bagaimana mungkin bocah itu adalah Steve. Bocah yang selama ini tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Tubuh Dinda bergetar lemas tak kuasa menahan air mata. "Ini pasti ada kesalahpahaman. Mana mungkin Pak Steve adalah anak kecil itu. Ini pasti kebetulan saja."
Dinda menangis, tetapi Steve yang tadi ada di ruangannya kini sudah berdiri di belakang Dinda.
Dia datang karena mendengar suara jeritan Dinda tadi.
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Steve menyela sembari matanya melirik semua berkas yang berantakan.
Sedangkan Dinda tidak tahu sejak kapan Steve sudah ada di belakangnya.
"Ada apa ini. Kenapa kamu menangis?" Steve bertanya penasaran dan cemas.
Dia memutar tubuh Dinda yang berpeluh terisak tangis sembari mendekap kedua tangannya di dada. Steve ingin tahu kenapa dia tiba-tiba menangis tanpa alasan.
Di tengah derasnya air mata yang mengalir, Dinda menatap wajah Steve dengan teliti. Lalu membandingkan wajah itu dengan Poto yang ia pegang.
"Apakah ini Pak Steve?" Dinda bertanya meyakinkan sambil menunjuk Poto yang ia pegang pada Steve. Dia ingin membenarkan semua yang ingin ia ketahui saat itu juga.
"Dari mana kamu mendapatkan Poto ini?" Steve balik bertanya.
"Pak Steve jawab saja. Apakah anak yang ada di dalam Poto ini Pak Steve atau bukan?"
Steve menarik Dinda lalu menenggelamkan dia dalam pelukan hangat. "Iya. Itu aku." Steve mengakui kebenaran.
Mendengar pengakuan Steve membuat Dinda semakin menangis tanpa henti. Dia tidak ingin mendrama tapi air mata penuh keharuan mulai membanjiri pipinya.
"Ternyata selama ini aku mencintai orang yang salah." Dalam pelukan Steve Dinda merasa menyesal.
"Sudah! Sudah! Aku mengerti. Jangan di pikirkan lagi." Steve sedari awal sudah menyadarinya. Namun sebisa mungkin dia menutupi semua ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG