UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 46


__ADS_3

"Siapa alianor?" Dinda bertanya penasaran.


Steve menyipitkan matanya melihat wajah Dinda. Dia beranjak dari kursinya menghampiri Dinda seraya bicara membisik di telinganya.


"Apa yang ingin kamu ketahui dari alianor?" Bisik Steve bertingkah seolah seperti setan perayu.


"Tidak ada apapun yang ingin aku ketahui. Aku hanya seperti pernah mendengar nama alianor? Memangnya tidak boleh bertanya seperti itu?"


Steve berdiri di belakang Dinda dan kedua tangannya memegang bahu Dinda. Dia bicara selalu membisik di telinga Dinda. Bicara menggoda dan membuat Dinda bergidik geli setiap kali dia melakukannya.


"Yakin seperti itu? Atau ada motif terselubung dari keinginan tahuan mu itu." Ucap Steve menggoda.


"Padahal hanya bertanya? Mengapa harus mencurigai ku, seakan aku seorang mata-mata!" Gidik hati kecil Dinda kesal.


Dinda bersikap rasional seolah dia tidak seperti yang di pikirkan oleh Steve.


"Lupakanlah Pak. Aku sekarang tidak ingin tahu apapun lagi tentang alianor itu." Tukas Dinda bicara sinis.


Ia menutup pembicaraan yang mengarah pada kecurigaan.


"Baiklah. Aku akan memberi tahu mu siapa itu alianor karena sepertinya kamu ingin tahu siapa dia," ujar Steve mengalah terlebih melihat Dinda bicara jutek.


Dia suka tingkah gadisnya yang sok cuek. Rasanya ia ingin terus menggoda Dinda yang bertingkah kaku itu.


EHMMM


Steve mendeham berusaha mengambil intro untuk bicara. Ia merapikan dasinya dan siap ingin bersajak. Dia menyandarkan bokongnya di meja kerjanya. Sambil kedua tangannya di silangkan ke dada. Steve berusaha bicara sedikit santai dan kasual.


"Sebenarnya, alianor adalah sepupu ku. Dia anak bibi, yang tuanya lebih delapan tahun. Dia adalah putra tunggal, kebetulan bibi menikah dengan pria Jerman. Dan saat ini umurnya sudah pas untuk menikah. Walau begitu, kami sudah hidup dan tumbuh bersama sejak kecil. Ya, bisa di bilang dia adalah teman karib ku sejak kecil." Jelas Steve singkat.


Steve melirik Dinda, Steve tahu pasti Dinda sudah paham atas perkataannya itu. "Bagaimana? Masih penasaran kah siapa itu alianor?"


"Ya! Setidaknya aku tahu siapa itu alianor." Pungkas Dinda sembari memasang ekspresi jutek.


Steve sedikit terkekeh geli melihat Dinda bersikap jutek. Entah mengapa Steve seperti ingin melahap Dinda yang bertingkah di matanya.


Steve melirik jam tangannya. Dia melihat jam makan telah tiba. Terlintas sebuah ide untuk kembali membawa Dinda makan bersama dengannya.


"Sekarang jam makan siang. Persiapkan diri mu, kita akan mencari makan di restoran mewah." Ucap Steve memerintah dengan angkuh. Dan kini sikap semaunya kembali keluar.


"Aku merasa sebaiknya Bapak pergi makan sendiri saja. Aku sebenarnya diet ketat minggu-minggu ini. Mohon Bapak mengerti," jawab Dinda menolak perintah Steve.


Namun Steve tidak butuh pengakuan anehnya. Dia mendekati Dinda dengan raut wajah yang sedikit terlihat garang.


"Kamu bilang diet?"


"Iya. Aku sedang diet ekstra Beberapa hari ini Pak. Aku takut bertambah gemuk, dan nanti akan membuat ku susah bergerak." Dinda beralibi.


Lagi-lagi Steve tersenyum licik mengembang di wajahnya. Dia tahu wanita itu berusaha menghindari dirinya lagi. Steve tidak butuh alasan apapun dari Dinda. Apapun yang dia ucapkan adalah persetujuan baginya.


Steve tanpa pamrih menarik lengan Dinda dan membawanya keluar dengan paksa.


"Pak! Apa yang coba bapak lakukan!" Seru Dinda heran pada tingkah Steve yang tiba-tiba.


"Tentu saja membawa kamu makan yang enak," balas Steve sembari mulutnya menyungging senyum pahit.


"Tadi sudah aku katakan kalau aku sedang diet. Apa bapak tidak mendengarnya!" Dinda sok protes pada tindakan Steve yang semaunya saja.


Ucapan Dinda sangat menarik untuk di dengar bagi Steve. Dengan serta, Steve mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Jarak kedua wajah itu mungkin secuil upil sangking dekatnya. Nafas Steve bisa di rasakan oleh Dinda. Nafas yang segar aroma mint.


Bahkan nafasnya masuk menyeruak ke dalam hidung Dinda. Harumnya sungguh menggoda kaum hawa.


"Kalau aku mengatakan tidak ada diet hari ini? Apa kamu berani menolaknya?" Steve bicara kembali menggoda di selingi dengan tawa penuh kemenangan.


"Akh sial sekali hidup ku. Kenapa dia selalu saja memaksa apa yang tidak aku inginkan. Berkali-kali menolak, tetap saja dia punya alasan untuk membuat ku terpaku dalam kata-kata ku sendiri. Benar-benar pria yang pintar dalam berbicara melalui mulutnya yang sok manis itu." Dinda mengumpat sebal.

__ADS_1


Dinda tidak ingin diet apapun karena ukuran tubuhnya sudah standar ramping. Ini hanya sebuah alasan agar pria itu tidak selalu membawanya kemana pun dia pergi.


Steve mengernyitkan dahinya saat melihat Dinda tertegun. Steve tahu bahwa Dinda sedang berusaha menghindar. Tetapi dia selalu punya cara agar Dinda tetap ada di sampingnya.


"Bagaimana? Masih berusaha diet atau perjanjian kontrak itu aku naikan emisinya menjadi sepuluh kali lipat dari perjanjian awal." Steve bertindak menggertak Dinda.


"Tapi pak! Bukankah dalam perjanjian itu tertera bahwa aku hanya memasak untuk Bapak. Dan sewaktu-waktu aku bisa menolak permintaan Bapak jika ada keadaan darurat." Dinda mencoba berkilah sekenanya.


"Keadaan darurat?" Steve mengulangi bicara Dinda.


Wajahnya penasaran, seperti apa keadaan darurat yang sedang ia alami.


"Keadaan darurat seperti apa yang kamu maksud?" Tanya Steve memancing wanitanya agar tidak bisa berkata apapun.


"Darurat..... Darurat semacam..."


"Darurat semacam ingin membohongi diri ku bahwa sebenarnya kamu tidak ada jadwal diet hari ini. Benarkan?" Ujar Steve yang seolah tahu kegiatan rutinitas Dinda.


"Tunggu!! Tunggu!! Bagaimana Pak Steve bisa tahu jika aku sedang tidak ada diet hari ini?" Tanya Dinda sedikit heran.


Dinda bingung, bahkan kegiatan berbohongnya pun bisa di ketahui oleh Steve.


Steve tersenyum sumringah saat Dinda bertanya kelagapan sedikit panik. Sebenarnya Steve mengetahui semua ini dari Miko yang ia tempatkan sebagai agen mata-matanya.


Steve ingat jika tadi pagi sebelum berangkat, Miko sempat menelpon dirinya dan mengatakan bahwa kakaknya makan banyak tadi pagi. Tidak pernah ada program diet dalam hidupnya. Info semacam ini sangat penting bagi Steve untuk mengetahui seberapa hebatnya Dinda berbohong.


"Tidak terlalu penting aku tahu dari mana. Yang pastinya hari ini makan ya tetap makan. Tidak ada diet apa pun." Steve mengalihkan bicara. Dia tidak mau jika Dinda tahu bahwa Miko telah bekerja sama dengan dirinya.


Steve tahu jika Dinda tidak bisa menyangkal lagi atas aura bicaranya yang penuh kelicikan.


Steve selalu saja merasa tertarik setiap kali Dinda bicara membantah dan menolaknya. Dia benar-benar tipe wanita pembangkang. Steve menyukai sikap penolakan yang di lakukan oleh Dinda.


"Tetapi aku tetap menolak pergi makan bersama Pak Steve. Keputusan ku sudah bulat." Ujar Dinda bicara seolah ini adalah keputusan finalnya.


"Jadi menolak ku lebih penting dari pada kertas perjanjian itu? Begitu-kah maksud bicara mu?" Ucap Steve yang selalu saja memiliki ide cemerlang untuk mematahkan sikap penolakan Dinda.


"Sial. Selalu saja kertas itu yang di jadikan alasan untuk mengancam ku." Dinda menghardik Steve yang bersikap monopolis.


"Tidak Pak...... Anu .... Maksudnya bukan begitu.... Aku.... Tidak berani menolak, hanya saja aku sedang tidak ingin makan apapun hari ini." Kilah Dinda sedikit bicara gagap.


Batin Steve tertawa puas penuh kemenangan. Dia selalu bisa membuat Dinda tak berdaya pada ucapannya.


"Di perjanjian yang kita sepakati tempo hari itu, jelas tertera bahwa kamu harus patuh pada perintah ku. Dan jelas aku memasukan perjanjian itu di nomor ketujuh. Apa kamu tidak membacanya dengan seksama?"


Steve bicara sembari menaikan kedua alisnya penuh tipu daya agar Dinda terus tunduk padanya. Steve bangga pada apa yang ia lakukan.


Dinda tertegun, apalagi ucapan Steve tidak bisa ia bantah lagi. Tidak ada alibi yang bisa dia ucapkan saat itu selain menerima tawaran Steve yang bersifat memonopoli.


"Bagaimana? Masih berusaha diet dan tidak mau makan bersama dengan ku? Atau jangan-jangan kamu sengaja membantah agar emisi perjanjian itu meningkat dua puluh persen dari perjanjian awal?" Steve kembali mengingatkan Dinda dengan tingkah konyol.


Dinda sedikit lesu. Lesu untuk membantah. Terlebih dia jauh lebih pintar dalam berbicara. "Baiklah. Aku tidak akan diet hari ini." Ucapnya menuruti permintaan Steve.


"Baguslah. Jadilah wanita penurut hari ini. Atau selamanya kamu tidak akan mendapatkan kesempatan makan bersama ku lagi." Timpal Steve sembari mengelus lembut rambut Dinda.


Pupil Dinda bergetar, sebab dia selalu saja di tekan oleh ucapan Steve. Malang baginya jika seharian berada di sisi pria narsistik ini.


Di dalam mobil Steve yang terparkir khusus di ruang VVIP kantornya, Steve bersiap mengemudi dengan wajah berseri bahagia.


Di tengah perjalanan mereka Dinda sedikit ingin berbicara memenuhi rasa penasarannya.


"Pak Steve." Ucap Dinda menengahi konsentrasi Steve yang fokus pada jalan.


"Hmmm."


"Apa bapak salah satu lulusan terbaik program studi hukum?" Tanya Dinda ingin tahu

__ADS_1


Pria angkuh ini di dalam mobil saja menggunakan kaca mata hitam. Dinda berpikir bahwa Steve benar-benar real of Sultan di kehidupan nyata.


Steve melirik Dinda. Dia melihat wajah itu sedang menatap wajahnya penasaran. "Jangan membuat berita yang tidak-tidak. Aku mana mungkin lulusan hukum."


"Ada apa? Mengapa bertanya seperti itu? Lanjut Steve mengembalikan pertanyaan pada Dinda.


"Ng..... Tidak ada apa-apa. Aku hanya kagum saja pada Bapak yang pandai bicara. Dan aku pikir mungkin saja bapak mengambil pekerjaan sebagai seorang pengacara di tengah kesibukan sebagai pimpinan perusahaan!"


Steve kembali melirik Dinda penuh intrik. Kedua alisnya ia naikan dan dahinya ia kernyitkan. Dia tidak habis pikir pada pola pemikiran Dinda yang dangkal.


Steve mendengus nafasnya. "CK...." Steve benar-benar di buat ingin tertawa saat mendengar pertanyaan Dinda yang kacau itu.


"Jadi jika aku orang yang seperti kamu maksud kan itu? Apakah kamu akan memasukkan aku sebagai daftar tokoh pria mu dalam berimajinasi? Begitu-kah yang kamu pikirkan!" Steve menebak apa yang ingin dinda katakan.


"Bukan begitu. Maksudku.... Aku...."


"Ingat... Jangan pernah menulis novel hanya berdasarkan rumor dan opini dari mulut orang lain. Itu tabu sifatnya." Tukas Steve mematahkan ucapan Dinda.


Dinda tahu, pasti Steve akan mengatakan hal-hal yang bersifat sensitif. Sangat kesal baginya jika pokok pertanyaan di jawab dengan jawaban hingga menyangkut sampai negeri Nigeria.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi maupun bertanya hal itu."


Kesal bagi dinda, hanya bertanya tetapi di tanggapi dengan tingkah jutek.


Steve tidak tega melihat Dinda yang ingin tahu suatu hal, tetapi dia malah bersikap proaktif. Steve mengalah kala melihat Dinda menurut begitu saja pada ucapannya.


"Aku lulusan di salah satu universitas di Frankfurt, Jerman. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Dan program studi ku adalah bisnis manajemen. Aku berdarah campuran, tetapi aku lebih suka di sebut warga negara Indonesia ketimbang berdarah Tiongkok- Indonesia. Dan satu hal lagi, meski aku campuran, aku tidak menggunakan identitas Dwi kewarganegaraan ku karena di negara ini tidak di perkenankan seorang warganya memiliki dua negara sekaligus." Ujar Steve bicara mendetail dan ia fokus pada jalan yang ia lalui.


Sungguh ia merasa seperti berada dalam wawancara televisi atau bahkan mirip dengan bercerita kehidupannya bak seorang pahlawan perjuangan yang telah gugur. In memoriam, mungkin kata ini lebih tepat untuk Steve yang bicara bagai orang yang sudah mati.


"Aku tahu Bapak campuran. Hanya saja, aku pikir bapak adalah pria lulusan Universitas Harvard. Karena kebanyakan pria sempurna berwajah tampan nan kaya seperti tokoh drama dan tokoh novel yang aku baca rata-rata mereka adalah lulusan universitas Harvard."


"Kamu pikir aku sedang dalam lingkaran drama sampah begitu?" Ucap Steve menohok.


"Tidak. Maksudnya bukan begitu. Mungkin akan sempurna kehidupan bapak, jika bapak lulusan universitas Harvard. Itu saja... Aku tidak mengatakan bahwa bapak hidup dalam lingkaran drama sampah?" Dinda beralibi cepat.


"Aduh. Apa aku salah bicara ya. Tahu wajah Pak Steve seketika berubah dingin saat aku bertanya hal itu. Aku sangat ***** melakonis mulut ku yang ceplas-ceplos ini." Ujar Dinda menyalah kan dirinya saat Steve menanggapinya dengan ketus.


"Aku paham maksud ucapan mu. Tetapi secara realistis saja, memangnya kamu pikir lembaga pendidikan tinggi hanya ada di Inggris saja kah?" Timpal Steve sembari tangannya sibuk memutar-mutar kemudi mobilnya.


"Ya siapa tahu bapak seperti yang ada di dalam novel kebanyakan. Selalu Harvard... Harvard... Dan Harvard."


Steve menggeleng keheranan. Mindset masyarakat Indonesia masih saja tertuju pada Harvard seakan dialah universitas terbaik sedunia.


"Itu hanya pembodohan jika dalam suatu novel atau drama pelaku utamanya lulusan terbaik universitas Harvard. Jika benar itu adanya, mungkin negara ini tidak akan mendapatkan predikat negara paling malas membaca. Bisa saja negara ini bisa di sandingkan dengan Korea atau Kanada sebagai negara dengan IQ tertinggi sedunia.


Dan bisa saja negara ini bisa maju melebihi Amerika serikat jika semua tokoh di dalamnya anak orang kaya, real sultan atau bahkan pengusaha muda.


Ingat itu hanya imajinasi penulis dan selebihnya hentikan tindakan mu menonton film yang penuh kontroversi. Takut saja otak kecil mu itu ikutan bodoh bahkan idiot karena menonton atau menyaksikan hal yang tak patut di tiru." Pungkas Steve melebarkan pembicara dengan rinci.


"Ya.... Siapa tahu saja bapak termasuk yang begituan. Lagi pula, Harvard kan universitas terbaik sedunia?" Dinda masih memancing perdebatan.


Steve yang fokus mengemudi dan memutar kendali setirnya, setidaknya terkekeh mendengar ucapan random Dinda.


"Kamu pikir di dunia ini hanya universitas Harvard saja yang terbaik sedunia. Masih ada university of Maryland, Manchester university, Stockholm university bahkan universitas Gajah Mada pun bisa menjadi terbaik. Jadi buang pikiran mu yang kacau itu. Jangan terobsesi oleh rupa orang barat, karena mereka sebenarnya tidak ada apa-apanya di banding orang Asia. Termasuk aku yang tampan ini!" Dengan bicara sok berwibawa, Steve bangga menjawab Dinda dengan wajah narsistik.


Hingga dering telepon menyela pembicaraan keduanya. Telepon Steve berdering dari saku celananya. Dengan segera ia menjawab panggilan itu.


"Iya. Baiklah. Aku akan segera kesana." Steve menjawab suara dalam teleponnya tanpa basa basi atau sapaan hangat.


Steve mengalihkan kendali setir mobil dan memindahkan jalur mobil yang sebelumnya ada di bahu sebelah kanan, kini masuk ke tol menuju kantor pusat.


Suara dalam teleponnya adalah seorang wanita. Dia adalah karyawan bagian promosi dan penjualan. Mereka ingin menyampaikan suatu hal.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2