UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 103


__ADS_3

London, Inggris.


Kepolisian Indonesia sudah bekerja sama dengan kepolisian Inggris untuk menangkap pelaku teror ular sesungguhnya.


Opsir Rian bersama dengan surat penangkapan, kini tengah berada di Inggris bersama dua rekannya. Dia menuju komplek perumahan mewah di wilayah kengsinton.


Di rumah mahal berharga ribuan poundsterling ini, opsir Rian mengetuk salah satu rumah di temani oleh kepolisian Inggris.


Saat menekan bel, yang membuka pintu rumah adalah Vanya. Jelas wanita itu kaget, sebab baru kali ini dia melihat ada polisi Inggris menyatroni rumah mereka.


"Ada apa ini?" Vanya bertanya, tapi tidak membiarkan orang-orang itu masuk kedalam rumah. Dia menutup pintu, lebih memilih bicara di luar.


"Benar ini dengan kediaman Tuan Heri?" Opsir Rian bertanya memastikan.


Vanya mengangguk sambil membulatkan matanya membesar. "Benar," jawabnya. "Memangnya ada apa ya? Kenapa ada polisi segala di sini?"


Opsir Rian mengeluarkan secarik kertas berisi berita acara penangkapan. "Kami dari kepolisian Indonesia ingin menangkap Nyonya Dwi atas laporan tuduhan penyebab teror ular."


"Nggak mungkin," Vanya membantah. "Mungkin kalian salah orang," dia berkilah, walau jelas di kertas itu tertulis nama Ibunya, namun Vanya tidak mempercayai hal ini.


"Boleh kami bertemu dengan Nyonya Dwi?"


"Tidak bisa," Vanya tidak membiarkan polisi ini masuk, walau bagaimanapun dia tidak akan membiarkan mereka bertemu dengan Ibunya. "Kalian pasti salah orang, mana mungkin Ibu ku menebar teror ular seperti yang kalian maksud."


"Tolong bekerja sama dengan kami. Kami hanya mengikuti prosedur hukum, biarkan kami bertemu dengan Nyonya Dwi," walau Vanya membantah, namun opsir Rian tidak peduli apapun dalih putri Heri itu.


Opsir Rian ingin menerobos masuk, tapi Vanya yang berada di depan pintu tidak mengizinkan dia melangkahkan kakinya lebih dalam lagi ke istana kecilnya itu. "Jangan sembarangan masuk kedalam rumah ku," bentak Vanya. "Atau aku akan melaporkan kejadian ini pada polisi."


Opsir Rian menoleh pada kedua rekannya, dengan sigap keduanya langsung memegang tangan Vanya agar tidak menghalangi pekerjaan mereka.


"Tolong jangan menghalangi pekerjaan kami Nona," katanya agak berang.


"Kalian jangan sembarangan!" Vanya meninggikan suaranya pada Opsir Rian, dia sangat marah karena pria itu lancang. "Kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa?"


Opsir Rian tidak peduli, dia tetap pada tindakannya.


Saat opsir Rian ingin membuka pintu, tepat di balik pintu, Tuan Heri dan Nyonya Dwi handak keluar. Nampaknya mereka mendengar kegaduhan kecil ini.


"Selamat siang," Opsir Rian berkata formalitas. "Kami kepolisian Indonesia membawa surat penangkapan kepada Nyonya Dwi atas tuduhan teror ular yang di lakukan di kantor grup wong."


Nyonya Dwi mengerutkan alisnya, menatap wajah sang suami dengan tatapan heran. "Kalian tidak salah orang-kan?" katanya memastikan.


Opsir Rian menunjukan surat penangkapan pada Nyonya Dwi sebagai bukti bahwa mereka hanya menjalankan tugas. "Kami tidak mungkin salah menangkap orang," katanya memberitahu.


"Tidak mungkin," Nyonya Dwi meronta. "Kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa?"


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi nanti," opsir Rian tidak peduli siapa yang dia hadapi. Payung hukum harus di tegakkan, sekalipun dia adalah putri presiden, harus tunduk pada aturan yang berlaku.


"Pa," Nyonya Dwi merengek. "Mama nggak mungkin melakukan ini. Ini salah paham Pa," dia mengadu. Berharap suaminya membela dan membantunya.


"Papa tidak tahu apa permasalahannya? Jadi Papa bingung harus bagaimana?" Kata Tuan Heri yang ambigu pada keadaan.


"Ini pasti salah paham. Kalian pasti salah orang," Vanya yang di pegang erat oleh kedua rekan opsir Rian ikut meronta melepaskan diri. "Mama pasti tidak mungkin melakukan teror ular," katanya membela.


"Semua akan di jelaskan di kantor polisi, mohon Tuan Heri bekerjasama," Opsir Rian mengambil alih istri pengusaha kaya itu. Dia meringkus Nyonya Dwi, bahkan sang suami tidak bergeming.


Tuan Heri terpaku, dia bingung harus bagaimana. Nyonya Dwi merengek di hadapan dua polisi Inggris yang berbadan besar beruban putih itu. Dia bersimpuh, meminta agar opsir Rian tidak membawanya pergi.


"Please help me, sir," katanya memohon. "This muat be a mistake."


(Tolong bantu aku, Pak. Ini pasti sebuah kesalahan)


"Sorry Madam," jawab sang polisi. "Based on a warrant and also cooperation between the Indonesian and the British police, we cannot interfere. We can only escort them to make this arrest."


(Maaf Nyonya. Berdasarkan surat perintah dan juga kerja sama antara kepolisian Indonesia Dan Inggris, kami tidak bisa ikut campur. Kami hanya bisa mengawal mereka untuk melakukan penangkapan ini)

__ADS_1


Mendengar ucapan polisi Inggris, Nyonya Dwi terkulai lemas. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menerima nasibnya. "Nggak! Nggak! Ini pasti hanya salah paham," dia menggelengkan kepalanya tak karuan.


Nyonya Dwi butuh waktu menelaah dengan benar apa yang baru saja terjadi.


Walau sesungguhnya dia yang melakukan hal ini, tapi dia bertindak pura-pura sebagai korban salah paham.


"Menurut aturan undang-undang di Inggris, anda akan di ekstradisi. Oleh karena itu, kejahatan yang anda lakukan di Indonesia akan di adili di pengadilan Indonesia," Opsir Rian menginfokan hal ini pada Nyonya Dwi juga pada suami dan anaknya. "Untuk itu, kerja sama dan tidak menghalangi petugas sangat berarti dalam penyelidikan ini. Mohon Tuan Heri bisa bersikap kooperatif, kalian bisa datang ke Indonesia jika ingin menyampaikan berbagai hal pada Nyonya Dwi."


Dengan lapang dada, Nyonya Dwi harus mengikuti perintah opsir Rian. Mereka meringkusnya lalu membawa kembali keindonesiaan.


Tapi Vanya? Gadis itu meronta-ronta saat Ibunya di bawa pergi oleh kepolisian Indonesia. Vanya ingin meraih tangan Ibunya untuk yang terakhir kali, tapi polis Inggris menahannya. Mereka menahan Vanya agar tidak mengganggu petugas kepolisian Indonesia itu.


"Mama!" teriak Vanya pada sang Ibu yang telah menghilang di balik pintu mobil. "Mama nggak boleh pergi."


Usahanya meronta-ronta ingin meraih sang ibu membuahkan hasil. Polisi bule itu melepaskan Vanya menjemput Ibunya di halaman rumah, namun opsir Rian harus berhati baja. Tidak peduli gadis itu mengejar mereka, mobil tetap melaju.


Dari kaca mobil yang di kemudikan oleh rekan opsir Rian, pria ini melihat wanita itu tersungkur di aspal jalan, menatap kearah mobil tanpa melepaskan pandangannya. Dia menangis haru melepaskan kepergian sang Ibu.


Nyonya Dwi menoleh ke arah putri yang tak merelakannya pergi. Dia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya itu.


****


Dua hari setelah tiba di Indonesia, pasca penangkapan dirinya di London. Nyonya Dwi sudah merasakan dinginnya lantai sel tahanan.


Penampilan modusnya kini jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya.


Biasanya dia merias diri, namun saat ini dia tidak mengenakan riasan apapun. Wajahnya terlihat pucat pasi.


Teng! Teng! Seorang polisi wanita yang sedang bertugas, memukul jeruji besi tempat Nyonya Dwi di tahan. Dia memukul besi itu menggunakan pentungan sekuriti.


"Nyonya Dwi, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucapnya sambil membuka pintu jeruji besi.


Wanita itu tengah tidur, mendengar bahwa ada yang ingin bertemu dengan dirinya, seketika dia langsung membangunkan diri. "Apa itu Vanya?" Dia bertanya sangat antusias. Dia sangat mengharapkan suami dan putrinya datang membebaskan dirinya. "Apakah suami dan putri ku datang menjemput ku."


Mungkin karena telah merindukan keduanya, Nyonya Dwi dengan cepat ingin bertemu dengan suami dan anaknya itu. Dia teramat menantikan kedatangan keduanya.


Di ruang besuk, seorang pria duduk dengan setelan jas yang rapi. Nyonya Dwi melihat bahunya yang kekar, dia tidak tahu siapa.


"Pak Steve!" ucapnya kaget setelah melihat rupa pria itu. Di kiranya yang akan menemuinya adalah Vanya dan suaminya, namun dia salah. Ternyata yang di maksud oleh polisi tadi adalah Steve, pria yang dia benci.


Steve menatapnya dengan tatapan sinis melicik, lalu dia berkata. "Aku tidak bisa berlama-lama di sini, waktu ku hanya sepuluh menit. Sebaiknya anda jangan membuang-buang waktu, cepat duduk, aku ingin mulai bertanya," kata Steve dengan angkuhnya memerintah.


Nyonya Dwi mendengus, dia memasang wajah jutek namun dia menuruti perintah Steve, duduk di hadapan pria ini. "Ada perlu apa menemui ku?" tanyanya ketus. "Aku juga sibuk, kalau tidak ada kepentingan sebaiknya pergi sekarang."


"Tidak ada yang namanya seorang narapidana sibuk di dalam penjara," singgung Steve. "Kecuali anda sibuk memikirkan ide untuk kabur dari sini."


"Apa maksud anda!" Nyonya Dwi meninggikan suaranya, menggubrak meja, kemudian berdiri dengan gaya menantang. "Jika kedatangan anda kesini hanya ingin memancing emosi ku untuk marah, sebaiknya anda pergi dari sini."


"Tidak perlu meninggikan suara di hadapan ku," Steve berulah. "Anda pikir anda sedang berkata pada orang kelas bawahan?" ucapnya bernada menyakitkan, itulah ciri khas Steve, pria kasar. "Ingat, kekayaan keluarga Heri hanya sebesar biji ketumbar, tidak ada harganya di hadapan ku!"


"Jangan sok pada ku," Nyonya Dwi masih pada egonya yang tinggi. Dia tidak gentar sekalipun Steve yang dia hadapi. "Meskipun kekayaan mu lebih besar dari keluarga ku, jangan pikir kamu bisa melakukan apapun!"


"Di situasi semacam ini anda masih berani berkata membentak ku?" Steve berkata kemudian mendengus. "Anda tidak lebih dari seorang wanita hina di hadapan ku!"


"Kau" Nyonya Dwi memekik berang untuk kesekian kalinya. Steve memang ahli dalam memancing emosi orang lain.


Steve tidak berkata apapun, dia hanya merogoh koceknya, kemudian membuang tiga lembar Poto di atas meja. "Anda pasti tahu apa yang terjadi pada gambar-gambar itu."


Nyonya Dwi tidak kaget, memang jelas bahwa dia yang ada dalam Poto itu. "Memang aku yang melakukannya," ucap Nyonya Dwi dengan santai. "Aku yang sengaja menyuruh Jajang menaruh ular beracun itu di kantor anda, Tuan yang terhormat," dia berkata meledek, tidak peduli yang di hadapinya adalah Steve.


Steve tersenyum melicik melihat gaya bicara Nyonya Dwi yang menantang. "Aku tidak bertanya mengenai teror ular itu," Steve mengganti arah pembicaraan. "Dari rekaman cctv terlihat jelas bahwa anda yang membayar Jajang melakukan teror ini."


"Lantas kalau sudah tahu jika aku pelakunya, kenapa anda datang kemari?" sentak Nyonya Dwi. "Buang-buang waktu saja mencari informasi ini padaku." Nyonya Dwi lalu menunjuk Steve kasar, seakan dia bicara pada kacungnya. "Kamu dengar ya, aku tidak akan menjelaskan apa alasan ku melakukan semua ini. Anda pasti tahu jelas kenapa ini semua terjadi."


"Karena aku mempermalukan keluarga Heri di depan umum," sambar Steve menyahut. "Juga menolak perjodohan dengan putri anda yang cantiknya tidak manusiawi."

__ADS_1


"Kau!!" Nyonya Dwi menggertak meja, dia berang mendengar penghinaan ini terutama untuk kata-kata putrinya yang cantik tak manusiawi. Apalagi mengingat kejadian malam itu. "Sebenarnya apa mau mu!" Teriaknya menuntut penjelasan.


"Bom!" jawab Steve. "Aku hanya ingin anda menjelaskan mengenai bom ini," Steve sempat merogoh koceknya lagi. Dia mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukan berita yang beredar terkait bom di perusahaannya.


"Berita yang sedang simpang siur ini, pasti anda tahu mengenai bom rakitan itu," Steve memancing wanita ini agar berkata, mengungkapkan kebenaran. "Sesaat setelah teror ular yang anda lakukan, tidak lama polisi menemukan bom rakitan. Pasti anda tahu, bukankah Anda pelakunya?"


Nyonya Dwi bingung, bahkan dia tidak tahu kalau ada bom di kantor Steve. Apalagi di temukan secara bersamaan dengan di temukan tiga ekor ular berbisa miliknya.


"Aku hanya membayar Jajang menaruh ular di kantor anda, tidak dengan bom," dia menjelaskan. "Bom itu tidak termasuk dalam rencana ku. Bahkan aku sendiri tidak tertarik ingin meruntuhkan gedung tua milik grup wong itu!"


Nafas Steve semakin memburu geram, wanita ini sudah lancang karena menghinanya. Namun Steve menahan emosi yang akan meledak itu.


"Baiklah," Steve berkata santai. Dia melupakan amarah yang hampir membuatnya meluapkan seluruh emosi pada wanita itu. "Berhubung aku masih hidup dan lolos dari target pembunuhan anda. Apalagi aku orang terpandang yang baik, aku tidak akan mengotori tangan ku untuk membalas dendam pada keluarga Heri. Aku mengampuni kerajaan bisnis keluarga Heri, anda pasti mengharapkan ini terjadi-kan."


Steve berdiri merapikan jasnya seakan duduknya tadi di hadapan wanita itu membuat jasnya yang mahal menjadi berantakan.


Sebelum Steve pergi, dia sempat melihat wajah tua yang sedang termangu itu.


Apa? Dia mengampuni kerajaan bisnis keluarga ku. Walau sempat termangu memikirkan perkataan Steve, Nyonya Dwi sadar. Maksud dari ucapan Steve adalah kebalikannya, dia akan meruntuhkan usaha yang telah di bangun oleh suaminya itu bertahun-tahun. Kerja keras suaminya ini akan di runtuhkan begitu saja oleh bocah tengik ini, Nyonya Dwi paham benar maksudnya.


Belum usai langkah kaki keluar dari ruang besuk, tiba-tiba Nyonya Dwi mengikuti Steve. Tak tanggung-tanggung, dia mengerat di kaki Steve.


"Tuan Steve, tolong ampuni perkataan ku tadi," dia berkat memohon. Bersimbah di kaki Steve, ekspresi wajahnya terlihat sangat perlu di kasihani. "Aku mohon, ampuni aku atas ucapan ku tadi. Aku menghamba pada anda, Tuan Steve!"


Steve menarik kakinya, dia tidak Sudi di sentuh oleh tangan kotor wanita ini. "Memohon pada ku tidak ada gunanya," dengan paksa Steve melepaskan pegangan tangan Nyonya Dwi di kakinya. "Aku Pria kejam, seharusnya anda tahu itu."


"Aku tahu itu Tuan," ucap Nyonya Dwi menitikkan air mata. "Aku memohon ampun atas kelancangan ku dalam berkata kasar pada anda tadi."


Steve duduk jongkok menyamai wanita yang sedang mengesot di lantai itu. Steve mendongak dagu Nyonya Dwi, menatap wajah yang telah di basahi oleh air mata itu. "Untuk kasus percobaan pembunuhan terhadap ku, apa itu bisa di ampuni?" ujar Steve kejam tanpa ampun. "Katakan! Apakah bisa di ampuni atas percobaan pembunuhan terhadap ku itu?"


Nyonya Dwi bersujud di kaki Steve. Dia menyesali perbuatannya. "Tolong tuan, tolong," katanya mengiba. "Tolong kasihanilah keluarga Heri. Aku mohon, aku janji akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku. Aku siap menerima hukumannya. Aku tahu apa yang telah aku perbuat. Aku menyesalinya Tuan."


"Ehm..." Steve mendeham lalu berdiri. "Tunggu Ilham dari langit, baru aku bisa berpikir akan mengampuni kesalahan yang di perbuat keluarga Heri." Steve bersikap apatis, dia tidak peduli jika wanita itu memohon di hadapannya. Dia merapikan kembali jasnya, seakan terus saja berantakan.


"Tolong tuan Steve, pertimbangkanlah. Ampunilah aku," katanya masih terus saja mengiba. "Aku akan melakukan apapun asal Tuan tidak mengganggu usaha keluarga ku."


Mendengar kata-kata ini, Steve merasa tertarik ingin melakukannya. "Jilat dan bersihkan sepatu ku dengan lidah anda. Dengan begitu, aku akan berpikir untuk mengampuni kesalahan anda sebelumnya!" Perintah Steve tanpa ampun. Dia menunjuk sepatu hitamnya itu, pantopel mengkilat ini seharusnya tidak perlu lagi di bersihkan. Namun, sikap angkuhnya membuat Steve tergoda untuk mengerjai Nyonya Dwi.


Dengan cepat, Nyonya Dwi mendekati sepatu Steve. Dia ingin menjilat sepatu hitam itu, bagai anjing yang di persiapkan sebagai kacung, dia tidak malu melakukan hal hina seperti ini.


Namun Steve tidak tega, bagaimana pun dia masih memiliki hati. Steve menarik kembali kakinya, tidak rela jika di sentuh oleh wanita ini. "Aku sibuk," katanya berdalih. "Lain kali anda bisa menjilatinya jika aku sedang senggang. Dan, kelihatannya, sepatu ku agak bersih. Rasanya sia-sia jika aku meminta anda yang membersihkannya." Begitu angkuhnya Steve, membuat Nyonya Dwi menahan amarah dan geramnya.


"Tapi tuan," Nyonya Dwi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Entah kapan lagi dia akan bertemu dengan Steve. "Aku tidak masalah membersihkannya. Bahkan telapak sepatu pun, aku rela membersihkannya."


"Tidak perlu!" Steve menjawab. "Aku sibuk, aku harus pergi sekarang!"


Steve meninggalkan wanita yang bersujud itu, namun di ambang pintu, dia membalikan badannya lagi. Melihat wajah yang sedang terisak menyesali perbuatannya itu. "Berdoalah," perintah Steve. "Berdoalah pada Paman Sun Go Kong. Memintalah padanya, semoga usai bertapa di gunung Hua Kuo, dia bisa membantu Anda membuat aku berpikir ulang untuk tidak mengganggu bisnis keluarga anda."


Untuk terakhir kalinya, Steve berkata. Kali ini dia benar-benar menghilang di balik dinding bata sel tahanan. Walau Steve sudah pergi, wanita ini tetap tidak mau beranjak.


Waktu besuk sudah berakhir, dua polisi yang bertugas di dekat meja besuk membawa paksa wanita yang tidak mau kembali ke sel tahanan ini. Walau Nyonya Dwi meronta-ronta, polisi tetap tidak peduli.


Di parkiran, Dinda menunggu Steve sabar. Pria itu keluar dari kantor polisi dalam keadaan senyum sumringah. Tidak biasanya dia tersenyum begitu, tapi Dinda bersyukur. Tadi dia sempat berpikir kalau Steve akan memukul wanita itu.


"Beres," Steve memberitahu Dinda, bahwa dia sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Syukurlah. Aku sempat khawatir pada kamu tadi," balas Dinda bernafas lega.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku," Steve berkata tenang. "Sebaiknya kita kerumah sakit dahulu, ada seseorang yang harus aku temui."


BERSAMBUNG


"Jika kau tak bisa menghargai kerja keras orang lain. Sebaiknya kau diam, atau kau akan menyakiti perasaan orang tersebut melalui kata-kata mu yang kejam."


Hargai penulis yang sudah up tiap hari. Berkomentar-Lah jika menyukai novel ini, dan jangan di baca jika novel ini alurnya bertele-tele. Nggak usah buang-buang waktu menunggu update terbaru novel ini.

__ADS_1


__ADS_2