
UNINTENTIONAL / TAK DI SENGAJA
PERHATIAN:
"JIKA ADA KESALAHAN PENULISAN ATAUPUN TYPO MOHON DI MAKLUMI KARENA ITU SEBUAH KELALAIAN. JANGAN LUPA TERUS DUKUNG PENULIS DENGAN MEMBERIKAN LIKE, KOMEN DAN JUGA RATING KALIAN."
SELAMAT MEMBACA UNINTENTIONAL
_____________________________________________
Dering telepon menyela makan siang ketiganya. Dering telepon yang jelas berasal dari handphone Eva setidaknya membuat empunya gadget sedikit terganggu. Eva dengan serta merta menjawab panggilan yang begitu mengganggu.
"Sebentar ya Dinda, mas Rendy aku jawab telepon dulu," ucap eva menyela makan.
Ia meninggalkan keduanya sejenak karena panggilan telepon ini tidak bisa berhenti berdering ria.
Keduanya mengangguk saja sambil melanjutkan makan mereka.
"Hallo. Ada apa? hah serius! baiklah aku keluar sekarang!" Eva menjawab dengan nada panik seraya terburu-buru.
"Kurang ajar. Kenapa harus di saat seperti ini sih." Ucap Eva kesal sebab yang menelpon adalah orang paling penting.
Ia kembali menghampiri Dinda dan Rendy dengan wajah sendu dan ekspresi wajahnya sedikit memaksa marah. Alisnya memuncak dan raut wajahnya mulai menggarang.
"Dinda dan mas Rendy, maaf ya aku tinggalkan kalian berdua. Tunangan ku sedang menunggu ku di parkiran mall. Aku permisi dulu ya," Eva berpamitan dengan ramah meninggalkan keduanya.
"Kok terburu-buru sih va, memang sudah di tunggu sekarang ya?" tanya Dinda menyela.
"Iya Din, maaf ya aku meninggalkan kalian berdua. Dah Dinda dan mas Rendy!" seru Eva pergi terburu-buru.
"Oke Eva. Goodluck dan semoga lancar!" seru Dinda menyemangati sahabatnya.
Eva mengangguk berlalu tanpa menjawab seruan Dinda.
"Mas Dani selalu saja membuat ku badmood di situasi macam ini. Awas saja dia, kalau ketemu bakal aku cabik-cabik bokongnya!" Eva masih menggerutu seraya berjalan menuju parkiran mall.
Sedangkan Dinda dan Rendy saling angkat bahu menatap wajah satu sama lainnya. Mereka tak mengerti ada apa tunangan Eva memintanya bertemu dengan dadakan. Eva pergi dan pamitan begitu tiba-tiba sehingga keduanya bergidik tak paham.
Keduanya melanjutkan makan mereka tadi yang sempat terjeda karena ulah Eva. Setidaknya makan mereka sedikit terganggu.
"Eva memang selalu begitu. Selalu tergesa-gesa dalam segala situasi." Ucap Dinda mencairkan suasana bicara yang sedikit ambigu dan canggung.
Rendy tertawa manis sambil menatap Dinda dengan pandangan curian seraya berkata, "Tetapi dia unik. Bahkan dia sangat lucu loh, jarang-jarang dapat teman karib seperti dia." Puji Rendy pada Eva.
"Ng... Dia memang wanita periang dan paling antusias dalam segala situasi. Tetapi sering heboh sendiri," Dinda bercerita sedikit tentang Eva.
"Aku pikir begitu. Karena hubungan kalian terlihat begitu intim sampai-sampai tak ada celah untuk merenggangkan hubungan kalian berdua," Rendy memulai bicara santai.
"Aku iri loh pada hubungan persahabatan kalian." Lanjut Rendy bicara dengan wajah sumringah.
"Ha-ha-ha-ha, dokter Rendy bisa saja."
"Jangan terus-terusan manggil dokter Rendy gitu dong. Aku merasa seakan aku adalah dokter paling baik dan sempurna di dunia ini jika di panggil dengan sebutan itu. Rendy saja cukup!" seru Rendy menyela.
"Ah. Iya, aku sering lupa dokter Rendy.... Eh maksudnya Rendy," balas Dinda dengan senyum kecut di wajah.
"Nah memanggil dengan sebutan Rendy lebih baik. Bukankah kita teman satu sekolah, tentu saja nanti akan terbiasa lagi memanggil nama ku." Celetuk Rendy bergurau.
"Iya Ren, lain kali aku akan membiasakan memanggil Rendy," tukas Dinda tersenyum manis.
Namun, di tengah jam makan siang yang sedang asik.
Dinda tiba-tiba berpikiran untuk melihat jam. Karena makan sekaligus bersenda gurau bersama Rendy membuatnya lupa pada jam masuk kerjanya. Ia menoleh ke arah jam tangannya. Jam itu menunjukan pukul dua belas lebih lima puluh delapan menit. Jam yang membuat Dinda sedikit menggetarkan pupilnya.
"Oh tidak. Jam masuk kerja ku sudah tiba," ucap Dinda sedikit panik.
"Benarkah?" Rendy mengulangi bicara Dinda seraya matanya juga melihat ke jam yang ada di tangannya.
"Astaga iya benar. Hari ini juga aku ada konsultasi dengan seorang pasien. Sebaiknya kita kembali bekerja sekarang." Rendy sedikit heboh.
"Iya. Sepertinya kita harus kembali sekarang. Lain kali jika ada waktu luang untuk makan, kita makan-makan seperti ini lagi aku yang akan traktir kamu Ren. Maaf ya Ren, sudah membuat kamu merasa tidak nyaman pada makan siang ini," Dinda merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak masalah. Toh kita makan di sini karena tidak di sengaja bertemu seperti judul drama Unintentional. Maka jangan berpikir aku tidak nyama akan hal ini, justru aku yang ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mengizinkan makan bersama kalian." Rendy pengertian dalam hal ini.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya Ren," Dinda mendahului langkahnya.
Dinda mencoba meninggalkan Rendy dengan langkah kaki yang sedikit cepat. Ia mengambil jalan pulang melalui STAN yang ada di belakang Rendy. Namun Rendy menegur Dinda.
"Hei. Kita kan satu arah. Bagaiman kalau kita jalan bareng saja?" tawar Rendy dengan idenya.
"Oh tuhan! kenapa aku tidak memikirkan hal itu. Bahkan klinik Rendy bersebelahan dengan kantor ku dan tepat di seberang jalan mall ini. Mengapa aku malah ingin mendahulinya. Dasar wanita payah!" batin Dinda bergumam sebal karena ia beranggapan bahwa dia adalah yang paling bodoh di antara orang-orang yang bodoh.
Dinda berpikir Sejenak pada tawaran ini.
"Aku rasa memang tak ada pilihan lain selain pergi bersama Rendy." Tukas Dinda dalam hati.
"Oh, kalau begitu ayo kita pergi bersama. Kita satu arah dan lebih baik bersama saja." Ucap Dinda menerima ajakan Rendy.
"Ayo kita lewat sana!" Rendy menunjukkan jalan pada Dinda.
Keduanya jalan menuju lobby mall yang luas. Lobby mall yang tak kalah luas dari lobby kantor Steve. Mungkin mereka berlomba-lomba dalam membangun tempat yang megah, pikir Dinda demikian.
Kantor Dinda dan pusat perbelanjaan di sekitar menjadi lokasi yang ideal untuk para pekerja karena strategis dan mudah di jangkau dari segala arah. Itulah mengapa pusat perbelanjaan dan gedung tinggi lainnya berdekatan. Bahkan bisa di capai kapan pun dalam satu waktu.
Dinda dan Rendy melintas di sebuah toko perhiasan mewah dengan tulisan 'JAPARCO JEWELRY' di bagian depan etalase toko yang menggantung lengkap dengan warna-warna lampu menghiasi papan nama toko itu. Toko yang memajang perhiasan mewah serta merupakan toko emas dan berlian yang terkenal itu.
Tempat penjualan barang-barang perhiasan mewah yang selalu meng-iklan di tv bahkan di papan reklame digital di beberapa gedung penyedia layanan iklan publik.
'JAPARCO JEWELRY' sendiri adalah perusahaan yang banyak menggaet bintang iklan terbaik dari seluruh dunia, jadi tak heran jika pembeli di toko berlian ini adalah orang-orang kelas atas nan elit.
Dan dinda paham jika toko berlian ini merupakan toko perhiasan terbaik sejagad karena menjual berlian dengan kualitas terbaik.
Toko berlian yang berkantor pusat di Dubai namun pengelolaan sepenuhnya berada di bawah kendali grup wong.
Toko yang menjual berbagai perlengkapan perhiasan mewah dengan berlian mengkilapkan kilaunya di mana-mana. Kisaran harga amat fantastis mulai dari ratusan juta hingga milyaran rupiah.
Dinda melihat label-label harga yang tertera dalam kotak kaca yang memajang berlian-berlian yang berkilau itu.
Bahkan hati kecil Dinda sedikit bergidik ingin memiliki salah satu dari semua koleksi toko berlian mewah ini.
Brukkkkkk....
Suara itu amat keras terdengar.
Rendy tak sengaja melakukannya pada pria itu.
Hingga salah satu perhiasan yang baru saja di beli oleh wanita yang di sebelahnya terjatuh jauh entah kemana.
Tringgg.....
Benda itu menghilang tanpa jejak keluar dari cupu berwarna merah yang di gunakan untuk melindungi perhiasan mewah itu.
Cupu itu senada dengan pakaian yang di kenakan oleh tuannya. Gaun berwarna merah merekah, nyaris tak bisa di tandingi oleh warna lain.
"Kau!! Kalau jalan pakai mata!!" pekik pria itu garang pada Rendy.
"Maafkan aku pak karena tak sengaja melakukannya," respon Rendy cepat.
Namun dinda menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya adalah pria yang selama ini ia hindari.
"Kak Johan!" ucap Dinda kaget karena bertemu kembali dengan Johan untuk kesekian kalinya.
Johan bersama Vanya di sebelahnya.
Johan yang sedari tadi belum memperhatikan Dinda karena sedang dalam amarah, akhirnya sadar saat suara keras Dinda memekik menyebut namanya dengan jelas.
Johan mendengar suara wanita yang selalu ingin ia miliki kembali dalam pelukannya.
"Dinda!" Ucap Johan yang juga berekspresi kaget.
"Sedang apa kalian disini? dan siapa pria ini?" tanya Johan penasaran pada keduanya yang terlihat bersama.
"Aku......" Dinda sedikit bingung harus menjawab apa pada Johan yang sok memperhatikan dirinya.
Vanya yang ada di sebelah Johan melihat perhatian prianya pada Dinda dengan tatapan kerinduan merasa sedikit kesal. Kesal karena Johan memperhatikan Dinda sementara selama ini ia tak pernah di perhatikan oleh tunangannya itu. Terlebih kala itu Dinda dan prianya saat itu memperlakukan dirinya bagai sampah untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Tentu saja dia adalah pria kaya simpanan Dinda lah kak. Lihat saja dari penampilan pria ini. Dia pasti pria yang banyak uang sehingga Dinda beralih ke pelukan pria lain." Jawab Vanya merespon pertanyaan Johan dengan hasutan. Wajah dan senyum licik itu mulai mengambang seiring berkembangnya dendam pada Dinda yang di anggap oleh Vanya musuh abadinya.
Johan tak menggubris ucapan Vanya. Karena ia tahu bahwa Vanya sedang ingin menghasut wanita yang paling ia cintai seumur hidupnya dengan tipu muslihat Vanya.
Johan bertanya dengan tatapan serius sembari kedua tangannya yang kekar itu memegang kedua bahu Dinda dengan erat.
"Katakan siapa pria ini? dan apa yang kalian lakukan di sini? jawab aku Dinda?" tanya Johan dengan ekspresi garang tak suka jika ada pria lain di samping Dinda.
"Kak Johan!" seru Dinda memelas.
"Kakak memegang bahu ku terlalu keras. Aku merasa sakit dan tak bisa bernafas kak," lanjut Dinda menahan air mata.
"Maafkan aku. Aku Terlalu kasar," balas Johan lalu melepaskan cengkraman tangannya.
"Ish... Kenapa kak Johan selalu saja memperdulikan wanita ini dan dengan siapa ia pergi. Sungguh menyebalkan!" gerutu Vanya kesal dan geram membludak dalam dada. Batinnya terasa ingin meledak saat melihat tingkah Johan yang begitu berlebihan pada Dinda.
"Kak!" sela Vanya.
"Aku bukankah sudah mengatakan hal ini berulang kali bahwa dia pasti pria simpanan Dinda. Karena kita tahu sendiri bahwa Dinda selalu berganti-ganti pria setiap harinya. Kenapa kakak masih peduli dengan siapa dia pergi dan apa yang dia lakukan. Apa kakak masih berpikir bahwa dia wanita yang suci. Aku bisa menjamin bahwa dia adalah wanita kotor dan munafik. Percayalah pada ku kak." Vanya kembali menghasut Johan dengan mulut manisnya yang licik.
"Diam!" pekik Johan dengan emosional.
"Jika aku tak meminta mu untuk bicara, maka jangan keluarkan sepatah kata pun dari mulut mu!" Kali ini Johan lebih emosional dari sebelumnya.
Vanya merasa kaget sepihak karena di bentak oleh Johan tepat di depan Dinda dan temannya, Rendy.
"Kak Johan. Kenapa aku yang kau salahkan dan malah membela wanita ****** ini." Vanya mulai melakukan aktingnya yang melakonis karena ia mulai terpojok oleh kata-katanya sendiri.
"Vanya! kau bisa tidak diam sejenak dan tidak bicara sekarang!"
"Tapi aku kan tunangan kak Johan. Kenapa kakak malah membela wanita murahan seperti dia. Memangnya apa kurangnya aku dari Dinda si wanita ****** itu?" Vanya menambahkan bumbu drama yang amat menyedihkan dalam peran yang ia lakoni bahkan air mata tersinkronisasi untuk keluar dari matanya.
"Aku bilang diam!" bentak Johan untuk kedua kalinya.
"Dan aku tidak ingin kamu mengatakan Dinda dengan sebutan yang menghina seperti itu," Johan mencoba memperingati Vanya.
"Kak Johan. Seperti itukah perlakuan mu selama ini pada ku?" Vanya memelas iba berharap Johan memperhatikan dirinya.
Rendy masih bingung pada drama yang ketiganya buat. Sehingga dengan wajah bodohnya ia hanya menjadi penikmat drama ini. Drama unintentional yang pernah ia saksikan bersama sepupunya di waktu kecil.
"Sudahlah kak Johan. Apa yang di katakan oleh Vanya benar jika aku adalah wanita ****** yang suka bergonta-ganti lelaki setiap hari. Jadi aku mohon kak Johan jangan membela ku atau pun mempedulikan aku lagi. Sebaiknya aku pergi dan aku harap kak Johan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupanku!" Dinda bicara tegas seraya meninggalkan mereka bertiga tanpa pamitan.
"Dinda dengarkan aku!" teriak Johan makin memperhatikan Dinda.
Johan mencoba mengejar Dinda, namun Rendy menahannya dengan menarik keras lengan Johan.
"Aku tidak mengerti apa masalahmu dengan Dinda, tetapi biarkan dia sendiri dan aku mohon dengarkan apa yang ia katakan!" Rendy mulai bertindak.
Sejak tadi Rendy terdiam dan tak bisa menjadi penengah untuk Dinda karena ia tak tahu apapun tentang apa yang mereka bicarakan.
Bahkan ia ingin sesekali menyela ucapan mereka namun ia tak tahu harus memulainya dari bagian mana. Rendy tak secakap Steve yang pandai memahami situasi dan kondisi.
"Jangan sok jadi pahlawan untuk wanita ku!" seru Johan dengan tegas seraya melepaskan paksa pegangan tangan Rendy padanya.
Tatapan Johan amat mengerikan bahkan lebih mengerikan dari pada menatap mata valak.
"Tapi kamu tidak peka pada hati seorang wanita. Terlebih kamu disini datang bersama tunangan mu. Pria macam apa kamu yang tidak menghargai tunangan mu dan malah memperhatikan wanita lain. Apa begini cara mu memperlakukan wanita!" Rendy bertindak tegas menjagal Johan yang hendak mengejar Dinda.
"Pikirkan saja urusan mu sendiri. Dan jangan bertindak seperti pahlawan di siang hari, karena bantuan mu tidak akan di hargai." Johan bersikap tak peduli kali ini. Ia juga tak peduli pada Vanya bahkan mengabaikan Vanya adalah hal biasa baginya.
"Persetan dengan tunangan!" umpat Johan bergidik jijik dalam hati.
Johan mengejar Dinda yang sudah berlalu begitu saja dan meninggalkan Vanya bersama dengan Rendy pria yang baru pertama kali ia lihat.
Vanya geram atas perlakuan Johan yang lebih memilih mengejar Dinda di banding dirinya.
"Dasar wanita berengsek. Bahkan hingga saat ini kak Johan pun belum melepaskan dan melupakan wajah gadis sialan itu." Eva mengumpat dalam hati. Emosi ya meledak-ledak bahkan ia menahan geram dengan mengepal kedua tangan dengan keras.
Sedangkan Rendy, bingung harus berkata apa dan bagaimana menyikapi drama kecil yang tak ia mengerti ini.
Sungguh bagi Rendy ini suatu masalah yang amat rumit, yang tak bisa di jelaskan dengan logis dalam waktu yang singkat. Otaknya di paksa harus berpikir dua kali lebih keras dari sebelumnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1