
Shanghai, Tiongkok.
Usai liburan di Korea, Steve dan Dinda kembali ke Shanghai. Di rumah orang tuanya, mereka memiliki waktu beberapa hari lagi untuk pulang ke Indonesia.
Dari dalam kamarnya yang terletak di lantai atas, Steve yang tengah membaca buku dengan santai di atas kasur, tiba-tiba mencium sedapnya aroma masakan.
Steve yang menyandarkan tubuhnya di ranjang merasa tertarik ingin menjemput aroma masakan yang membuat dia ingin mencicipinya.
"Apa Mama masak khas Indonesia?" Steve mengendus aroma masakan yang sangat familiar di hidungnya. "Nggak mungkin kan Mama masak, bukannya asisten rumah tangga nggak ada yang bisa masak khas Indonesia, kenapa bau aroma masakan Indonesia?"
Steve menutup bukunya, dia melangkahkan kakinya kebawah. Dia penasaran dengan siapa yang memasak masakan kesukaannya. Masakan yang sangat dia hafal, masakan yang mengingatkan Steve dengan seseorang yang sangat ia cintai.
Di ambang pintu dapur, dari belakang punggung wanita yang tengah menggunakan celemek hijau, sibuk dengan kegiatan masaknya.
Steve hafal, itu Dinda. Si gadis yang sedang memasak.
Dari belakang Dinda, Steve diam-diam memeluknya.
"Pantas saja, aku seperti mengenal aroma masakan ini, ternyata ibu dari anak-anakku sedang menyiapkan makanan untuk suaminya," lirih Steve menggoda.
Dinda mengabaikan Steve, walau dia memeluknya romantis.
"Masak yang enak ya, aku hari ini mau makan-makan buatan istri ku yang lezat," bisik Steve.
Dinda membalikan badan. "Itu pasti," jawab Dinda. "Jika kamu menggoda ku terus, aku akan teringat pada kamu yang pernah mengerjai ku di malam itu. Apa kamu ingat!" Dinda mengenang.
Steve menolak lupa, dia menelan liur tak enak. "Mengerjai seperti apa?"
"Mengerjai seperti apa?" Dinda menirukan. "Kamu ingat, pertama kali kamu membuat perjanjian konyol itu. Kamu meminta aku memasak. Dan kamu berpikir bahwa aku akan mengerjai kamu, dan nyatanya kamu yang mengerjai aku."
Steve ingin terkekeh saat mengingat kejadian di malam itu. Di mana Dinda memasak masakan kesukaannya namun Steve mengaku tidak menyukai masakan yang Dinda buat.
Namun makanan itu nyatanya membuat Steve bergairah hingga menghabiskan seluruhnya tanpa sisa.
"Ya, aku ingat. Aku sengaja melakukannya," Steve mengakui. "Tapi aku tidak berbohong. Memang pada dasarnya masakan kamu itu pedas, sampai-sampai lidah ku berasa terbakar saat memakan-nya," ujar Steve berbohong.
Dinda tertawa terbahak-bahak, menutupi mulutnya yang ternganga menahan gelak tawa. "Tuan pemarah sungguh aneh," hardik Dinda. "Padahal masakan di dalamnya tidak terlalu pedas. Karena saat itu aku tidak tahu jika Tuan pemarah menyukai masakan pedas. Jadi ku buatkan saja makanan yang tidak terlalu banyak mengandung cabai, jika tahu anda menyukai cabai. Mungkin saja aku akan menambahkan sebotol Devils Chili."
"Ya! Ya! Aku mengakuinya kalau aku mengerjai kamu," Steve mengalah. "Walau ide ku tidak berhasil, tapi dengan adanya perjanjian kontrak yang berisi permintaan konyol itu, kita akhirnya bersatu, bukan?"
"Bersatu apanya, kamu yang memaksa ku untuk berada terus di pelukan kamu. Itu bukan kemauan ku!" Seru Dinda berkata lelucon.
"Jadi kamu selama ini hanya main-main dengan ku?" Steve mencecarnya, dia mulai terlihat sewot.
"Jangan cemberut dong, aku kan hanya mengingatkan!" seru Dinda. "Lagi pula aku hanya berkata bercanda, mana mungkin aku tidak menyukai kamu!"
Melihat Steve tak ada ubahnya marah, Dinda berinisiatif menciumnya. "Walau kamu belum meminta bagian, aku akan memberikannya. Aku sudah hafal pada tingkah kamu yang lain dari pria pada umumnya."
Cih! Steve tertawa manis, Dinda sudah paham bagaiman cara mendapatkan hatinya. Steve mengakhiri masa kemarahannya, dia tidak lagi cemberut saat menerima rejeki dari Dinda sepagi ini.
"Ngomong-ngomong, dimana Papa dan Mama? Kemana mereka pergi?" Steve beralih berkata.
"Mereka sedang mengunjungi acara kerabat di Nanjing, katanya sih besok kemungkinan baru pulang," Dinda memberi tahu.
"Lalu, yang lainnya? Juru masak? Kenapa kamu yang memasak hari ini? Kemana mereka pergi?" Steve penasaran.
"Itu... Mereka bilang sedang cuti, katanya ada kerabat yang meninggal. Sementara yang lainnya, juga sedang mengunjungi pemakaman sanak saudara yang terkena kecelakaan di tol dalam kota. Aku juga kurang paham dengan situasi di China," Dinda menjawab sekenanya, sesuai apa yang terjadi.
Dinda melanjutkan masakannya. Tapi Steve, pada dasarnya dia tidak tahu malu. Bahkan di saat sibuk pun dia masih mengerat di tubuh Dinda.
Dia memeluknya, apalagi osengan Dinda yang masih belepotan di dalam wajan. Steve tidak peduli sama sekali, yang penting baginya adalah mencium aroma rambut Dinda membuatnya senang.
Namun sekonyong-konyong dia memeluk, mungkin karena cuaca yang berubah begitu cepat, mendadak Steve flu.
Dia bersin tepa di wajah Dinda, hingga air liurnya membasahi pipi Dinda.
"Ih, jorok banget sih!" hardik Dinda.
"Maaf," Steve mengiba.
"Kamu flu?" Dinda memperhatikan. "Kalau nggak enak badan, sebaiknya istirahat saja di kamar, nanti aku bawakan makanan kamu di kamar!" saran Dinda.
"Nggak mau," Steve bermanja-manja-an. "Aku mau dekat kamu terus, aku nggak mau ke kamar sendirian!"
Dinda membalikan badannya untuk kedua kalinya. "Hei, kamu itu bukan anak kecil yang harus bermanja-manja-an seperti ini. Ingat, kamu itu sudah dewasa jangan bersikap seperti anak-anak," Dinda mengingatkan.
Steve memelas iba. "Sebelum perhatian kamu di ambil oleh anak-anak ku nanti, aku ingin menikmatinya selagi mereka belum hadir."
__ADS_1
Dinda terkekeh, Steve selalu saja membuatnya tertawa bahagia, jauh berbeda dari pertama kali dia bertemu dengan pria ini. "Kamu itu seperti punya dua kepribadian tahu nggak?" Dinda menunjuk Steve menggunakan spatula di tangannya. "Kamu sedang berimajinasi?"
"Imajinasi? Imajinasi apa?" Steve kurang paham.
"Berimajinasi memiliki anak? Tadi kamu bilang seperti itu," jawab Dinda.
"Itu karena aku takut kamu tidak akan memperhatikan aku lagi saat kita sudah memiliki anak-anak. Kamu pasti akan sibuk pada mereka, lalu melupakan aku begitu saja!" ujar Steve berargumentasi.
Dinda memegang bahu Steve yang tengah berwajah muram. "Kamu dengarkan aku," pinta Dinda. "Aku nggak pernah berniat melakukan itu, lagi pula kita saja belum menikah. Kenapa harus berpikiran yang aneh-aneh."
"Kamu janji nggak akan melupakan aku jika kita sudah menikah dan memiliki anak-anak nanti," Steve memohon.
"Nggak akan itu terjadi," jawab Dinda. "Ingat, kamu itu Tuan pemarah, nggak boleh manja," Dinda mengedipkan matanya, dia menggoda Steve.
"Aku takut saja kalau kamu begitu."
"Kamu sedang flu, makanya suka ngawur," Dinda mengganti topik pembicaraan. "Sebaiknya tidur di kamar, nanti aku bawakan makan untuk kamu," Dinda memerintah.
"Nggak mau," Steve membantah cepat. "Aku hanya mau kamu ikut dengan ku ke kamar!"
"Iya-iya, aku akan menemani kamu ke kamar, aku siapkan makanan dulu buat kamu!" Dinda mengalah. Steve selalu merengek seperti bayi yang minta makan.
Seketika wajah Steve menjadi semangat. "Kalau begitu, aku tunggu!"
Hingga di kamar pun, Steve tidak rela jika Dinda meninggalkan dirinya.
Di atas kasurnya, Steve terus memandangi wajah Dinda yang sedang menyuapinya makan.
"Kamu sudah tahu cuaca di Shanghai dingin, kenapa kamu malah menggunakan celana pendek. Kamu sengaja biar sakit?" Dinda mengomeli Steve.
"Aku memang sengaja, biar di perhatikan oleh istri ku!" sahut Steve narsis.
"Tsk! Kamu selalu begitu!" Dinda sedikit sebal pada Steve yang bertingkah seperti anak-anak. "Makan pun harus di suapi, kamu memang benar-benar manja."
"Nggak apa-apa manja, yang penting di layani oleh Dinda yang cantik, aku rela!" Steve menggoda. "Sebelum manja-manja di hadapan kekasih ku itu berbayar, ada baiknya memanfaatkan yang gratisan!"
Dinda menggeleng, pria ini makin hari makin pandai menggoda.
Dinda melihat kaki Steve yang banyak bulu, mendadak Dinda tertawa.
"Bukan aneh, cuma lucu rasanya. Bulu kaki kamu lebat, aku agak geli saat melihatnya," Dinda mengakui sisi lain dirinya.
"Karena kamu sudah menggoda ku, maka kamu harus bertanggung jawab," Steve menarik Dinda menaiki kasurnya. Lalu merebahkan dia di sebelahnya.
Kaki Steve ia tumpangi di kaki Dinda, sementara dia memiringkan badannya melihat Dinda. "Sudah aku bilang, apapun yang ada di tubuh ku, kamu juga pemiliknya. Jadi jangan sungkan-sungkan jika kamu ingin menyentuhnya," rayu Steve.
"Kalau semua apa yang kamu miliki kamu serahkan pada ku, lalu apa yang kamu miliki? Bukan kah semuanya sudah menjadi milik ku!" Dinda memandangi wajah Steve.
Steve menopang kepalanya di siku. Kakinya menggosok-gosok di kaki Dinda yang mulus. "Yang aku miliki hanya cinta, walaupun kamu mengambil semua yang aku miliki, tapi cinta tetap menjadi yang terpenting dalam hidup ku!"
"Kamu mencoba menggombal?" tanya Dinda.
Steve menggeleng. "Tidak! Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kamu ketahui!" tegasnya.
"Bulu mata kamu terjatuh," Dinda beralih. "Bahkan bulu mata kamu saja lebih panjang dari bulu mata palsu ku!" ledek Dinda.
"Cih! Nanti anak-anak kita akan mewarisi sebagian wajah tampan ayahnya," hardik Steve. "Kamu nggak perlu khawatir jika mereka jelek, aku jamin mereka akan tampan seperti ayahnya," ujar Steve berkata kenarsisan tiada henti.
Dinda melahai tertawa. "Kamu ini, masih sempat-sempatnya bicara narsis."
"Memangnya kamu berharap kalau anak kita suatu saat nanti wajahnya nggak ada bentuk wajah ayahnya?" tuntut Steve. "Sebagian besar harus mewakili wajah ayahnya, atau kamu akan mendapatkan hukuman nanti!"
"Seperti apa anak yang kamu mau, aku hanya bisa pasrah. Yang terpenting adalah, bagaimana kamu bisa bertanggung jawab nanti jika menjadi seorang ayah!" Dinda memberitahu. "Kamu akan semakin sibuk apalagi anak-anak itu sangat berisik setiap malam. Apa kamu rela kalau tidur kamu yang nyenyak terganggu oleh mereka."
Steve merapikan rambut Dinda yang tergerai menutupi matanya. "Jika aku tidak siap menjadi ayah, mana mungkin aku mengajak kamu menikah secepatnya. Aku sangat berharap bisa menjadi ayah di usia muda."
"Itu impian?" Sahut Dinda.
Steve mengangguk. "Sejak kali pertama kita bertemu, aku sudah menantikan hal ini terjadi."
"Terima kasih Steve," Dinda mengelus rambut hitam Steve. "Kamu sudah memberikan aku harapan yang membuat hari-hari ku indah."
"Jangan khawatir," Steve membalas Dinda dengan belaian. "Sepulang ke Indonesia, aku akan melamar kamu di hadapan Ibu. Aku akan menepati janji ku pada mu."
Dinda tersenyum, kata-kata Steve sangat romantis. Bersebrangan dengan wajahnya yang menakutkan, apa yang Steve lakukan dan katakan bagi Dinda sangat indah.
Hingga perbincangan mereka mendadak di ganggu oleh panggilan telepon dari seseorang.
__ADS_1
Handphone Steve yang berdering di atas meja lampu, terus bergetar dengan suara yang memanjang.
"Mama!" Dari layar handphonenya tertera nomor sang ibu. Dinda melirik Steve, dia ingin tahu siapa yang memanggilnya. "Siapa yang menelpon!"
"Mama," jawab Steve.
"Angkat saja," saran Dinda. "Siapa tahu penting!"
Steve berpikir-pikir, antara mengangkat atau tidak. Karena selama ini dia tidak pernah mengangkat panggilan telepon dari ibunya.
Namun jarinya tidak berpihak, Steve menjawab telepon sang ibu.
Terpaksa baginya harus bicara, dia terlanjur melakukannya.
Iya, iya ma! Sudah di bawah? Kapan sampai? Baru saja? Baik-baik, Steve akan ke bawah!
"Ada apa?" sambut Dinda.
"Mama sudah di bawah," jawab Steve. "Mama bilang dia baru pulang."
Steve membesarkan matanya, dia melihat Dinda dengan ekspresi tidak menyangka. Yah, ibunya pulang di saat yang tidak tepat. Dia terlalu mengganggu Steve yang sedang berdua dengan Dinda.
Di depan pintu rumah, Dinda menyambut kedatangan ibu Steve layaknya seorang tamu.
"Mama dari mana?" tanya Steve. "Kok sendirian saja? Papa di mana? Mama bersama papa kan tadi?" Steve mencecar bertanya.
"Mama dari pasar Naning, menemani Papa jalan-jalan," jawab Nyonya Diah. "Pas di jalan, Papa ketemu dengan kerabatnya. Terus dia membawa Papa bermain golf di SGC. Akhirnya Mama di pinta pulang sendirian deh."
(Shanghai Golf Club: Klub golf khusus bagi pengusaha pensiunan.)
"Oooo," Steve mengerti. "Terus Mama bawa apa? Sepertinya berat banget?" Steve penasaran.
"Mama dan Papa tadi tidak sengaja melihat penjual abalone saat jalan-jalan di pasar Naning, jadi sekalian beli. Sudah lama nggak makan abalone," ujar Nyonya Diah merinci ucapan.
Dinda mengambil dua kantung plastik besar berwarna putih buah tangan Nyonya Diah.
Dinda membawanya ke dapur, karena isinya adalah sayuran mentah.
Ibu Steve mengikuti langkah Dinda ke dapur, di ikuti Steve yang juga mengikuti keduanya.
"Astaga, Dinda memasak gulai ayam dan rendang rupanya?" ujar Nyonya Diah kaget. Dia melihat masakan Dinda di dalam wajan.
"Bukan apa-apa kok Ma, hanya iseng saja," jawab Dinda merendah.
"Aromanya sedap, mama cicip ya?" kata Nyonya Diah meminta izin.
Dinda mengangguk seraya tersenyum, dia membiarkan Nyonya Diah mencicipi masakan Dinda.
"Ehm,.. rasanya lezat," puji Nyonya Diah. "Sudah lama Mama nggak makan masakan khas Indonesia, jadi kangen semur jengkol deh."
Dinda tersenyum tipis melihat ibu Steve sangat menikmati masakannya. Seperti orang yang tidak makan berhari-hari, dia sangat lahap menyantapnya.
"Terakhir Mama makan jengkol ketika liburan di Bali, ternyata hari ini Mama bisa makan masakan Indonesia berkat Dinda," Nyonya Diah memberitahu. "Maklum, lidah Mama sudah terbiasa dengan masakan Chinese dan Western."
"Itu kan gulai, bukan jengkol!" Dinda keheranan.
"Mama tahu ini gulai, hanya saja Mama teringat gulai jengkol. Jadi Mama menganggapnya gulai jengkol," balas Nyonya Diah.
Steve yang menyandarkan tubuhnya di dekat pintu dapur menyahut perbincangan keduanya.
"Malam ini kami akan kembali ke Indonesia, Ma," ucap Steve.
"Apa nggak sebaiknya tinggal dulu saja di Shanghai seminggu lagi?" Nyonya Diah menghentikan makannya. "Sekalian jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di sini."
"Nggak bisa Ma, Steve besok harus kerja," Steve menjelaskan keadaannya.
Sebenarnya berat bagi Nyonya Diah membiarkan mereka pulang, namun dia tidak bisa egois hanya demi menuruti kemauannya.
"Kalau keinginan kalian sudah bulat mau berangkat malam ini, Mama nggak ada alasan lain untuk menahan kalian," Nyonya Diah berkata sayu.
"Mama nggak marah kalau Steve meninggalkan Shanghai lagi? Mama yakin nggak menangis lagi?" Steve memastikan bahwa ibunya akan baik-baik saja.
Ibunya mengangguk, dia memastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja. "Jangan khawatirkan Mama, sudah terbiasa bagi Mama menerima perlakuan kamu ke Mama."
Steve merasa tidak enak hati, apalagi ibunya berkata seperti itu. Seolah dia sedang mengadu pada Dinda bahwa dia anak yang durhaka.
BERSAMBUNG
__ADS_1