UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 48


__ADS_3

"Sayang sekali tempat ini sudah di pesan oleh orang lain. Sangat mengecewakan." Ucap Steve pada Dinda dan Miko.


"Bisa saja kita tidak di takdir kan makan bersama Pak," balas Dinda sedikit puas.


Steve melirik Dinda atas ucapannya itu. Sementara Dinda pura-pura tidak melihatnya dan membuang muka. Dinda merasa melihat wajah Steve sama dengan melihat lampu bertegangan dua puluh ribu volt.


"Mungkin kita bisa mencari tempat makan lain. Bukankah kita sudah jauh-jauh datang ke mari." Miko menyarankan ide yang bagus.


Sembari menengahi keduanya yang selalu bertindak seperti tom & Jerry serial kartun yang selalu ia tonton.


Dinda mencolek adiknya. Berharap bahwa Miko tidak mengungkit masalah makan siang. Dinda sedikit merasa tidak enak hati makan bersama Steve.


"Tunggu! Bagaimana jika kita pergi makan ke restoran milik keluarga Zico. Aku pernah kesana sewaktu SMA dan rasanya memang lezat setiap masakan yang di buat oleh ibunya Zico." Ujar Steve kali ini muncul dengan ide cemerlangnya.


"Menurut ku itu ide bagus Pak," jawab Miko sedikit bersikap antusias.


Tetapi Dinda tidak begitu menyukai ide keduanya. Dia tidak berharap bahwa makan siang ini tidak terealisasi dengan baik.


"Dinda, bagaimana? Apa kamu mau makan di restoran keluarga Zico? Atau kamu punya tempat makan yang rekomendasi." Steve meminta ide Dinda.


Wajah Dinda mengatakan menolak. Steve bisa tahu itu, dari raut wajahnya terbentuk pola seperti jijik, alergi dan semacamnya.


Dinda berpikir sejenak. Setahunya hanya restoran di depan kantor dan di dekat mall saja yang pernah ia kunjungi. Selebihnya tidak ada yang lain. Terakhir kali pun yang Dinda ingat dia makan bersama Eva di restoran khas Jepang beberapa waktu yang lalu.


Kali ini Dinda buntu ide mencari tempat makan siang yang baik. Mau tidak mau dia ikut saja ketimbang mencari ide brilian. "Tidak ada. Ikut kalian mungkin jauh lebih baik." Tukasnya menurut.


Sebenarnya Dinda ingin menolak namun dia tahu pasti Steve tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Seberapa kerasnya dia membantah, tetap saja pada akhirnya dia yang akan menjadi pihak yang kalah.


Steve mengernyitkan dahinya. Steve berpikir dia sudah menyerah bicara sembarangan. "Oke, kita meluncur ke restoran Zico." Pungkas Steve sedikit senang.


Mereka keluar menuju parkir. Meskipun makan siang di restoran bintang lima gagal, tetapi bukan berarti ini akhir dari segala rencana.


Tetapi tepat di depan lobby hotel, Dinda lagi-lagi berpapasan dengan wanita yang paling tidak ingin ia temui sepanjang hidupnya.


Wanita yang paling menjengkelkan dan paling anti bagi Dinda untuk menatap wajah orang itu meski sedetik lamanya.


Tanpa basa basi wanita berpakaian elegan dengan riasan memenuhi semua sudut pori-pori wajahnya ini, menyapa Dinda penuh gimik dan sedikit meledek dengan kata-kata menohok.


"Hai! Hai! Hai! Bukankah ini Dinda si perebut pria orang."


Sebut Nyonya Diana pada Dinda.


Mereka tidak sengaja bertemu di depan hotel ketika Dinda dan dua orang lainnya hendak keluar.


Dinda tidak menggubris ucapan Nyonya Diana, malas baginya berurusan dengan Tante yang cerewet. Mungkin seumur-umur dia tidak mau melihat wajah wanita yang selalu bicara asal-asalan ini.


Dinda bersikap cuek seakan dia tidak mengenal Nyonya Diana sedikit pun dalam ingatannya.


Tetapi bukan Tante Diana namanya jika mulutnya tidak bisa diam meledek Dinda. Dia dengan sengaja menghina Dinda seperti sebelum-sebelumnya bahkan di depan Steve maupun di hadapan Miko sekalipun.


"Ehm.... Ternyata masih awet ya dengan pria miskin ini," sindir Nyonya diana dengan ucapan menohoknya.


Steve meliriknya dengan tatapan tajam dan mulutnya tersenyum licik saat wanita tua itu mengatakan dirinya dengan jelas pria miskin.


"Sepertinya wanita ini akan berulah lagi. Aku penasaran seperti apa dia akan berulah kali ini!" Seru steve. Batinnya bergidik semangat saat wanita ini mengumpat mereka dengan nyata.


"Sebaiknya kita pergi sekarang Pak Steve, Miko. Sepertinya aku merasa ada setan pengganggu yang berbicara, tetapi tidak terlihat rupanya yang buruk itu." Tukas Dinda menyindir balik ibunya Johan itu. Dinda berusaha mengalihkan perhatian adiknya dan Steve dari wanita perusak suasana ini.


Bu Diana jelas tidak terima kala mendengar ucapan Dinda. Matanya membelalak penuh dendam ketika di sindir menohok oleh Dinda.


"Ehm.... Sepertinya ucapan wanita jalang salah tempat. Karena setan penggoda lelaki orang lain masih ada dalam label hidup mu. Buktinya sekarang membawa dua pria tampan ke hotel ini. Siapa lagi jika bukan pria simpanan setan penggoda. Benarkan apa yang aku katakan." UjarNyonya Diana dengan bangga memutar balik kata.


Sembari meminum jus dia seolah ingin menunjukan kepada ketiganya cara minum ala bangsawan. Dia bangga memperlihatkan tingkahnya yang sok sosialita.


"Maaf. Saya bukan pria simpanan kak Dinda. Tetapi saya Miko, adiknya kak Dinda. Mohon anda menjaga ucapan anda yang tidak bisa terkontrol itu." Balas Niko yang geram pada ucapan Nyonya Diana.


Miko tahu bahwa Johan mantan kekasih kakaknya dulu. Dia adalah pria berengsek yang pernah ia temui. Namun hari ini Miko tidak bisa diam saja saat kakaknya di cibir oleh mulut kotor Nyonya Diana.


"Uhuk...."


Mendengar ucapan Miko yang mengaku sebagai adiknya Dinda, setidaknya membuat Nyonya Diana sedikit kaget.


Dia tidak menyangka saja jika Dinda memiliki adik. Sebab setahunya dia anak tunggal.


"Miko!" Timpal Dinda.


"Jangan bicara seperti itu di depan wanita tua. Tidak baik. Tidak sopan." Dinda mencoba menenangkan suasana perdebatan kecil.

__ADS_1


"Tidak bisa di diamkan mulut Tante girang ini. Dia lebih pantas tidak bicara sembarangan seperti ini." Tukas Miko sedikit sewot.


"Biarkan saja orang lain bicara apa. Kita jangan terlalu menanggapinya." Dinda kembali menenangkan Miko yang menggebu sedikit sebal.


Sementara Steve hanya menjadi penonton saat Nyonya Diana datang dengan ucapan menohok mengganggu langkah mereka. Steve menunggu adegan selanjutnya. Apa yang akan dia ucapkan lagi soal Dinda beserta masa lalunya. Menarik bagi Steve melihat Nyonya Tama bicara julid.


"Kalian rupanya kakak dan adik. Sayang sekali kalian ada ikatan darah. Jika tidak, bisa saja kalian melakukan perilaku incest. Siapa yang tahu?" Tambah Bu Diana makin menaikan tensi suasana.


"Nyonya tama!" Pekik Dinda dengan emosi menggebu.


"Tolong jaga ucapan anda. Anda tidak seharusnya tidak ikut campur dalam kehidupan pribadi ku." Ujar Dinda marah tak tertahankan.


Namun nyonya Diana, dengan polosnya menanggapi ucapan Dinda dengan santai seolah bukan ucapan marah.


"Kenapa? Tidak terima aku bicara begitu? Atau jangan-jangan yang aku katakan benar?"


"Kak Dinda. Sepertinya ucapan nenek peyot ini sudah kelewat batasan. Lebih baik jangan di tanggapi. Dia hanya merusak suasana saja. Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum aku khilaf melakukan kekerasan." Timpal Miko menengahi emosi kakaknya.


"Kamu! Bocah kemarin sore, sudah berani mengatakan aku wanita peyot. Kalian memang keluarga kurang ajar." Bu Diana kesal mendengar ucapan Miko yang secara terang-terangan menghinanya.


Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain ingin membalas Miko dengan sebuah pukulan. Namun ia mewakilinya dengan jus yang ada di tangannya. Dia mencoba menyiram Miko dengan jusnya itu.


Tetapi Steve berhasil menghentikan tindakan Bu Diana. Tangan kekar Steve mencengkram dengan erat tangan wanita itu. Bagai burung elang yang mencengkram mangsanya.


"Sudah cukup dengan permainan anda kali ini Nyonya Tama. Anda sangat kelewatan dalam bertindak!" Seru Steve yang geram menjadi-jadi.


Raut wajahnya amat marah. Dia tidak bisa menahan lagi tingkah kasarnya untuk membalas nyonya tama ini.


Tanpa pikir panjang, mereka yang berdiri di anak tangga hotel. Yang tingginya tidak terlalu, tepat di anak tangga ketiga, Steve dengan tingkah kasarnya melempar tubuh Nyonya Diana tanpa belas kasih walau wanita itu seumuran dengan ibunya.


Steve tidak menyukai tindakan anarkis Bu Diana saat itu. Sudah puas baginya menyaksikan permainan dangkal nyonya tama itu.


Brukkkkkk.... PRAKKKKKKK... Tring.......


Suara tubuh Nyonya Tama terjatuh di selingi dengan suara gelasnya yang ia pegang tadi ikut terjatuh hingga pecah.


Sakit, itu yang di rasakan oleh Nyonya Diana saat ini.


"AW......." Pekik Nyonya Diana kesakitan.


Tubuhnya tersungkur di aspal dan siku-sikunya terluka walau hanya sebatas luka lecet tergores. Rasanya tangannya seakan mau patah saat terjatuh di aspal karena di perlakukan dengan kasar oleh Steve.


Para dayang itu membangunkan dia dari jatuhnya yang menyakitkan.


"Kamu! Pria kurang ajar. Sudah dua kali ini kamu melakukan ini pada ku." Tunjuk Nyonya Diana pada Steve.


"Itu setimpal dengan tindakan anda yang menghina orang lain berdasarkan status sosial. Bahkan anda jauh lebih hina dari pengemis jalanan. Aku harap lain kali perhatikan ucapan anda sekaligus belajarlah cara bertata Krama yang baik dan benar. Agar tidak sembarang menghina orang lain" Tukas Steve berujar kasar.


"Kamu tidak perlu sok di depan ku. Memangnya kamu siapa sok menasehati ku. Aku peringatkan kamu bocah sialan. Aku jauh lebih mulia di banding harga diri kalian. Camkan itu." Pekik nyonya Diana membantah kesal.


Sembari menunjuk Steve dengan kasar.


Steve menanggapi ucapan wanita tua ini dengan sikap dingin. Dia sangat membenci tindakan Nyonya tama ini yang selalu anarkis pada Dinda.


Dinda dan Miko terbelalak kaget. Terutama Miko, dia untuk pertama kalinya melihat Steve dengan emosi yang bergejolak membanting tubuh Nyonya Diana tanpa ada penyesalan.


Mulut Miko ternganga terbuka lebar. Seakan mulutnya ingin mengatakan ucapan takjub. "Wow....." Mungkin begitu yang ingin dikatakan oleh Miko. Dirinya tidak bisa melupakan kejadian ini seumur hidupnya.


Nyonya Diana sangat marah. Bahkan ingin rasanya dia membalas ketiganya dengan sekali tamparan. Dia sangat geram atas perlakuan Steve kali ini. Jatuh dari tiga anak tangga merupakan sebuah penghinaan besar bagi Nyonya Diana.


Namun semuanya teralihkan saat suami Nyonya Diana, Pratama Wijaya datang menghampiri mereka.


"Mama, di cari dari tadi nggak ketemu. Ternyata disini toh," ucap Pak Tama datang menghampiri istrinya tercinta.


"Mama ngapain di depan lobby hotel. Keluarga Vanya sudah menunggu mama Lo di dalam." Tambahnya bicara.


"Iya Pa. Mama lagi mencari udara segar soalnya di dalam sangat panas," balas Bu Diana beralibi menutupi kejadian tadi sembari tersenyum pahit.


"Kalau begitu mari kita masuk. Tidak enak sudah di tunggu oleh para tamu." Tukasnya sembari menggenggam tangan istri kesayangannya itu.


Pria bertubuh sedikit gempal ini sok bersikap romantis. Lengkap dengan tuksudo dia menggandeng istrinya yang mengenakan dress sesuai dengan tipe wajahnya yang cerewet.


Mereka ingin masuk ke ballroom hotel. Tetapi dia sadar jika ada Dinda di hadapannya. Masih segar dalam ingatannya bahwa Dinda adalah mantan kekasih Johan beberapa tahun yang lalu.


Wanita yang pernah di kenalkan Johan pada dirinya di saat makan malam keluarga Tama.


"Dinda!" Seru tuan Tama saat melihat Dinda berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Dinda membalasnya dengan senyum ramah. Dinda masih hafal jika pria berperut bak balon udara ini bersikap netral saat istrinya menentang hubungannya dengan putra semata wayangnya itu.


"Kamu ada apa kemari?" Lanjut tuan Tama bertanya dengan ramah.


"Aku.... Kesini ingin makan siang. Kebetulan tempat ini tidak terlalu jauh dari kantor tempat ku bekerja." Jawab Dinda mengikuti alur tuan Tama yang ramah.


"Oh begitu rupanya."


Tuan Tama menyapu sekeliling. Dia melihat Dinda tidak datang ke hotel mewah ini sendirian. Tetapi dengan dua pria yang bersinar bagai bintang.


"Dan kamu, bersama dengan pimpinan grup wong. Sungguh suatu kehormatan bagi Tama grup bisa bertemu dengan pengusaha muda seperti anda tuan wong." Lanjutnya berbasa-basi.


Dia tidak menyangka jika bisa bertemu dengan Steve di lobby hotel secara tidak di sengaja.


"Anda terlalu sungkan tuan Tama. Cukup panggil Steve, tanpa ada wong di belakangnya." Balas Steve ramah.


"Oo... Iya Pak Steve." Dengan senyum sumringah dan terbuka tuan Tama menyambut kehadiran Steve dan Dinda di hadapannya.


"Dan dia siapa?" Tuan Tama menunjuk Miko sembari bertanya penasaran.


"Aku Miko Pak, adik kak Dinda." Jawab Miko cepat dengan ramah.


"Oh, adik Dinda. Aku baru tahu jika Dinda memiliki adik yang sangat tampan." Pungkas tuan Tama sedikit kagum.


"Anda terlalu memuji," Miko bergidik sembari tersenyum manis.


Nyonya Diana yang berdiri di sebelah tuan Tama sedikit menyikut suaminya itu. Dia penasaran mengapa suaminya seperti sangat mengenal Steve yang di anggap olehnya sebagai simpanan Dinda.


"Papa... Apa Papa mengenal dia." Bisik nyonya Diana.


"Iya, dia adalah putra grup wong."


Mendengar ucapan suaminya, nyonya Diana membelalakkan matanya penuh ekspresi kekagetan luar biasa. Dia tidak tahu jika sedari sebelumnya dia telah berurusan dengan seseorang yang dari kelas sosial jauh berbeda dengannya.


Mungkin menurutnya pantas saja Steve suka bertindak kasar padanya. Ternyata dia berkuasa di atas segalanya.


Seolah tidak percaya, nyonya Diana kembali memastikan ucapan suaminya itu.


"Papa yakin jika dia putra grup wong. Dia yang di maksud oleh Vanya waktu itu. Dia pria yang memukul wajah Johan sampai babak belur."


"Hush.... Lupakan. Kamu tahu kita sedang berbicara dengan siapa? Dia putra grup wong. Jangan mencari masalah dengan pimpinan grup wong." Pungkas tuan Tama membisik kecil.


"Ahm.... Pak Steve. Jika anda tidak keberatan, bisakah anda menjadi tamu kehormatan grup Tama. Bukan apa-apa, keluarga Tama hari ini sedang mengadakan pertunangan untuk putra semata wayang grup Tama.


Mungkin jika anda tidak merasa keberatan kami keluarga Tama secara khusus mengundang anda sebagai tamu agung di hari yang bahagia ini."


Ucap tuan Tama berbasa-basi.


Dinda tahu, sejak Vanya di akui sebagai tunangan Johan. Tidak sedikit pun Johan ingin melakukan acara pertunangan ini bahkan memandang wajah Vanya sedikit pun tidak. Dinda tidak merasa cemburu, justru dia merasa sangat senang sebab Johan akhirnya mau menerima acara ini.


sedangkan Steve tersenyum sedikit manis. Dia tidak menyangka bahwa pria tua ini secara langsung mengundang dirinya bahkan menjadikan dirinya sebagai tamu kehormatan.


Steve dengan bangga mengatakan ucapan yang mungkin akan membuat grup Tama tertegun. "Tetapi aku datang dengan calon menantu grup wong. Apakah ini termasuk dalam tamu kehormatan keluarga Tama?"


"Oh tidak masalah Pak Steve. Dengan siapa pun anda datang kami akan memperlakukan calon anda dengan baik. Sama halnya seperti kami menyambut anda."


Steve menyeringai senyumnya. Dia menantikan saat-saat ini. Dimana semua orang akan tunduk dan menghormati dirinya.


"Jika boleh tahu, siapa tunangan anda. Dimana dia sekarang." Lanjut tuan Tama bertanya sembari menengok kanan kiri mencari dimana tunangan Steve.


"Anda tidak perlu seheboh itu Tuan Tama. Tunangan ku ada dihadapan anda."


Tuan Tama mencari siapa wanita yang begitu beruntung di sebut sebagai tunangan Steve. Dia mencari sekeliling namun yang ia dapatkan hanya Dinda seorang. Wanita muda yang berdiri di sisinya.


"Maksud Pak Steve..... Nak Dinda ... Tunangan anda?" Ujar tuan Tama sedikit menebak. Takut-takut dia salah mengira.


Steve menarik tangan Dinda. Dia dengan sengaja memegang tangan Dinda dengan lembut dihadapan kedua suami istri ini. Steve berusaha menunjukan seperti apa memperlakukan seorang yang beda kelas dengan mereka.


"Anda benar. Dialah wanita calon menantu keluarga wong." Ucap Steve dengan bangga memamerkan kebahagiaan di depan keduanya.


Tuan dan Nyonya Tama sedikit tidak percaya. Namun itulah kenyataannya.


Sedikit malu bagi Nyonya Diana apalagi pernah menghina keduanya dengan ucapan kasar bahkan ia melakukannya seolah sedang menghina seekor anjing.


Sedangkan Dinda terkejut. Mengapa dirinya selalu di perlakukan begitu oleh Steve. Dinda menatap wajah Steve dengan seksama. Wajahnya nampa serius dan bersikap dingin.


Berbeda saat sebelumnya dimana dia bersikap sedikit hangat.

__ADS_1


Dinda menarik kerah bajunya, jantungnya berdegup kencang, matanya membelalak melihat Steve. Dia tidak bisa mengatakan apapun saat itu sebab mulutnya bagai tersumpal oleh lem, Dinda terpaku mendengar pengakuan Steve yang berani.


BERSAMBUNG


__ADS_2