
Kamu tahu tidak kenapa sikap aku ke kamu itu sama seperti matahari.
Karena matahari itu konsisten. Dia tidak pernah berubah dan tidak bosan untuk terus ada di arah timur lalu pindah ke barat.
Dia selalu ada di sisi dimana dia selalu setia terbangun menyemangati dan menerangi dunia. Dia sangat penting—Keberadaanya selalu di nantikan.
Sama halnya seperti sikap aku ke kamu. Aku akan selalu setia berdiri di sisi kamu, walau banyak cobaan yang mendera. Karena bagi ku, kamu adalah timur dan barat ku di ujung senja.
_____________________________________________
_____________________________________________
TIGA BULAN KEMUDIAN
Dari kejadian ini. Akhirnya Dinda tahu siapa saja yang terlibat dalam drama menghilangnya Steve.
Oh, selama tiga bulan yang lalu Steve tidak ada kabar. Jujur, Dinda sebal. Tapi setelah adanya pengakuan ini, akhirnya Dinda lega. Lega kalau sebenarnya ada alasan kenapa Steve melakukan drama sebesar ini.
Di balik semua rencana ini, ada dua orang yang selalu mendukungnya. Mereka yang diam-diam membantu Steve, nyatanya ada di sekitar Dinda. Merekalah Stevie dan Zico.
Semua itu ulah dari dua orang tak bertanggung jawab itu. Mereka mengakuinya—kalau mereka yang menyuruh Steve pura-pura sekarat—agar Tony Kim percaya, bahwa Steve benar-benar akan lenyap.
Agak kejam, tapi itulah totalitas.
Besok mereka yang suka ngebohongin Dinda. Langsung kirim azab saja. Ehe.
Dinda saja tidak menyangka. Bahkan Dinda tidak bisa menebak, akhir dari semua ini. Pada peristiwa malam itu, Steve memang nampak sekarat sekali. Melakonis.
Dinda ingat. Ketika mereka duduk di taman rumah sakit di Addis Ababa. Steve mengakui kalau kejadian ini tidak membahayakan nyawanya. Walau dia meyakinkan Dinda, tapi tetap saja. Gadis ini rasanya ikut lenyap kalau sampai itu terjadi.
"Tony Kim memang penjahat kelas internasional. Membunuh baginya adalah hal kecil. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Sekejam-kejamnya Tony Kim, dia tidak berani menembak bagian kepala mangsanya. Itulah kenapa aku yakin, rencana ini akan berhasil." Dia memberitahu Dinda, kala itu mereka tengah berbincang di rumah sakit Addis Ababa beberapa waktu yang lalu.
"Bagaimana jika prediksi kamu meleset. Kamu tentu tahu, pasti nyawa kamu akan melayang." Tidak peduli pada pengakuannya, tetap saja. Bagi Dinda, itu adalah hal kejam. Sebab, Steve mengabaikan nyawanya—juga mengabaikan perasaan takut Dinda.
"Itu tidak akan terjadi..."
Ya karena belum saja. Coba kalau sudah terjadi, memangnya dia berani bisa berkata seperti itu.
Dasar, manusia lucknut!
"Kamu seharusnya percaya pada ku. Kamu lihat. Saat ini aku baik-baik saja. Semua itu karena sudah aku rencanakan dengan matang."
"Bagaimana kalau rencana itu di luar ekspektasi?"
"Aku katakan sekali lagi, itu tidak akan terjadi. Kamu lupa, kalau aku adalah mahasiswa lulusan dengan predikat Summa cum laude. Jangan meremehkan aku."
Ah, dia pamer. Dinda kadang kesal pada Steve yang selalu memiliki ide untuk beralibi. Dinda lupa, kalau Steve adalah profesor hukum. Jadi dia pandai memutar balikkan keadaan. Walau gelar profesornya itu adalah lelucon di mata Dinda.
Setidaknya, dari kejadian ini. Semua yang sudah berlalu meninggalkan jejak kisah yang tidak akan di lupakan dengan mudah.
Pikiran Dinda masih berputar di ingatan beberapa waktu yang lalu. Dimana Zico dan Stevie bertengkar saling menyalahkan.
"Bukan ide ku meminta Steve pura-pura sekarat dan menghilang selama tiga bulan ini," kata Zico pada Dinda. "Tapi kak Stevie. Dia yang menyarankannya."
"Oh, sekarang lempar batu sembunyi tangan. Jadi, kalian berdua sengaja menjebak ku agar kalian bisa beralibi dari kejadian ini."
Ya, Stevie agak berang melucu kala Steve dan Zico mengatasnamakan dirinya mengenai sandiwara ini. Dinda tidak menyangka saja, pada akhirnya Zico ikut terlibat dalam drama yang hampir membuat Dinda menyerah.
Padahal pria ini selalu ada bersamanya di kantor. Tapi nyatanya. Diam-diam dia ternyata ada di balik rencana keji ini.
"Itu artinya, selama tiga bulan kamu mengantar aku pulang pergi. Semua itu hanya drama?"
"Suwer Dinda. Itu permintaan Steve. Bukan aku," bantah Zico. "Jika aku mengabaikan keselamatan kamu. Trust me, yang ada aku akan berakhir menjadi gembelan," katanya melucon.
Nggak mungkin di pecat Steve. Palingan juga turun jabatan. Lebay lu mah bank Zico. Tabok pakai duid nih. Kesel lama-lama kalau ada orang ini di mari.
"Tetapi, dari drama ini akhirnya kalian bisa kembali lagi kan," sahut Stevie.
Steve menggeleng, mengulu* tersenyum. "Ide kak Stevie dan Zico memang patut di hargai," katanya memuji dengan ekspresi agak sumringah.
__ADS_1
Mereka tengah berbincang di ruangan Steve. Ya, sudah tiga bulan berlalu, pada akhirnya Dinda ingin kembali bekerja. Tapi—Steve melarangnya. Dia tidak mau Dinda kembali bekerja di kantor ini.
Semua itu adalah ingatan beberapa waktu yang lalu. Ingatan yang berputar di satu titik itu. Kini, semua sudah berakhir. Canda gurau kini mungkin tidak akan lagi terulang. Karena Steve harus fokus pada tanggung jawabnya nanti.
Seminggu yang lalu juga Dinda mendatangi pemakaman Johan dan orang tuanya. Dengan sebuah buket bunga, Dinda meletakkan bunga itu di atas pusaranya. Rasa bersalah itu akan terus muncul seiring penyesalan Dinda yang tak kunjung reda.
Kak Johan. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidup ku. Terima kasih sudah perhatian pada ku selama ini. Terima kasih sudah Memperlakukan aku dengan baik, juga tidak pernah menyakiti ku ketika aku marah besar pada kak Johan.
Semua itu kak Johan lakukan hanya karena agar aku bahagia.
Kak Johan. Aku saat ini sudah bahagia dengan hidup ku. Semua itu berkat kak Johan yang meminta ku agar terus berbahagia.
Aku harap, semoga kak Johan mendapatkan ketenangan di sana. Aku harap Kak Johan bisa bahagia, walau bukan di dunia ini. Bahagia kak Johan juga, aku harapkan tidak bersama ku.
Aku sadari, semua ini sudah berlalu. Tapi kak Johan tetap aku kenang sebagai pria paling beruntung. Pria yang paling baik yang pernah aku temui.
Kak Johan. Sampai titik ini. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan. Walau kak Johan sudah tenang beristirahat di alam sana. Tapi aku yakin, kak Johan pasti ingin melihat aku bahagia.
Selamanya, aku berjanji. Aku bahagia, demi kak Johan. Dan pada hari ini. Aku ingin mengucapkan kata-kata perpisahan untuk kak Johan.
Mungkin, entah aku ada waktu atau tidak. Aku sebisa mungkin akan mengunjungi pemakaman kak Johan. Aku berjanji, aku akan selalu datang kesini.
Selamat tinggal kak Johan. Kamu akan tetap menjadi pria paling spesial di hati ku. Tetapi sebagai kakak yang paling aku sayangi, bukan sebagai seseorang yang bisa aku pandang dengan cinta.
Aku mencintai kak Johan. Juga terima kasih atas semua yang sudah kak Johan berikan padaku. Selamanya, akan aku kenang.
Usai Dinda khidmat sejenak di pemakaman Johan. Steve merangkulnya, mengusap lembut bahu Dinda.
"Ayo pulang. Ada banyak hal yang harus kita selesaikan hari ini," katanya pada Dinda.
Sebenarnya Steve juga sedang mendoakan Johan. Dia berharap, Johan tenang di alam sana. Walau Steve tidak suka padanya, namun Steve bukanlah pria pendendam.
Dendam itu bagi Steve hanya akan di lakukan oleh orang-orang yang sulit mengendalikan emosi. Steve juga tidak mau bersikap kekanak-kanakan karena kejadian ini.
"Ayo."
****
Dadanya terasa berdegup kencang. Padahal hari ini baik-baik saja, tapi pikir Steve dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Pakaian Steve nampak rapi, menggunakan jas hitam membuatnya makin tampan dan gagah. Tapi, gugup itu malah membuat Steve down berat.
Ketika dia duduk dengan kaki yang tengah bergetar. Stevie masuk ke kamarnya. Oh, sungguh. Kamar Steve amat wangi, entah berapa banyak parfum yang sudah dia semprotkan.
"Ckckck. Yang mau menikah. Sampai gugup seperti itu," lirih Stevie meledek.
Steve tidak terlalu menghiraukannya. Gugup karena hari pernikahan mereka, membuat Steve tidak sanggup menatap orang-orang yang hadir di acara pernikahannya.
Sesaat setelah Stevie datang, dari belakang punggung kakaknya itu, sang Mama hadir.
"Loh, kenapa masih duduk seperti itu. Sana, mempelai wanita sudah menunggu kamu," kata sang Mama.
Steve tahu kalau Dinda sudah menunggunya. Tapi, Steve butuh waktu untuk menghilangkan perasaan canggung ini.
"Ma," rengek Steve sambil melirik sang Ibu. "Apakah Mama menikah dengan Papa dulu. Mama segugup seperti ini?" tanyanya yang bertingkah sok polos.
Stevie yang mendengar pertanyaan itu, sedikit menahan terkekeh. Sumpah, pertanyaan macam apa itu yang ditanyakan oleh Steve.
Padahal, malamnya bakal dapat yang enak-enak. Tapi malah mengadu. Dasar anak Mama.
Ibu Diah, duduk di pinggir tempat tidur Steve. Dia memegang kedua tangan putranya yang sedingin AC kamar. Ibu Diah paham situasi Steve saat ini.
"Gugup itu wajar. Semua akan lepas ketika acaranya berlangsung lancar. Mama pernah ada di posisi kamu. Mama juga pernah gugup."
"Apakah gugup yang Mama rasakan membuat Mama down?"
Ibu Diah menggeleng. "Saat Papa kalian datang menjemput Mama. Gugup itu menghilang dengan sendirinya."
Oh, jujur. Tidak tahu apakah gugup itu akan reda seperti kata Ibunya atau tidak. Steve hanya ingin pernikahan ini cepat selesai, lalu resmi menjadi suami istri. Setelah itu, ah, Steve berharap kecanggungan ini secepatnya di lupakan. Di gantikan dengan kebahagiaan lainnya.
Ckckck.... Mau nikah aja, kau buat drama seperti ini. Pingin gue timpuk muka si Steve pakai wajan hitam. Kalau kata kids jaman now, "Muna bet dah tingkah kau."
__ADS_1
"Ingat. Sebentar lagi kamu akan jadi bapak-bapak. Kenapa harus takut sama pernikahan sendiri. Macam anak kecil saja," sahut Stevie.
Sikap BAR-BAR kakaknya itu tidak pernah berubah. Sesekali Steve ingin sekali adu jotos dan baku hantam dengan kakaknya.
Benar apa yang dikatakan Stevie. Steve harus siap. Pernikahan ini sudah lama di rencanakan, kenapa dia harus takut pada pernikahan sendiri.
"Ya sudah Ma. Steve sudah siap," katanya dengan keyakinan walau di paksa dengan ledekan.
Berdiri, lalu merapikan jasnya. Dia ingin menjemput pengantin wanitanya itu yang sudah selesai di rias di kamar lain.
"Nah, kalau begini baru namanya Steve. Jangan kalah sama rasa gugup. Kamu pasti bisa menaklukkannya."
Ibu Diah menyikut Stevie. Pikir Ibunya, Stevie sedang membuat adiknya itu makin down saja.
Steve membuka pintu kamar tempat Dinda di rias. Perlahan kepala itu masuk. Dan ya, yang dia lihat Dinda sudah siap dengan penampilannya.
Saat Steve masuk ke kamarnya, Dinda memberikan senyum manis pada pengantin pria ini.
Walau gugup tadi sempat melanda, namun benar kata sang Mama. Gugup itu perlahan mereda saat Steve mendekati Dinda.
"Kamu sangat cantik hari ini," puji Steve padanya.
Di sentuh wajah mulus itu, anting-anting yang menggantung di telinga Dinda membuat gadis itu makin memikat Steve.
"Ayo kita keluar sekarang. Semua tamu sudah menunggu kita."
"Biarkan aku menikmati wajah kamu sebentar. Wajah cantik ini membuat aku tidak rela jika orang lain ikut menikmatinya," lirih Steve membisik.
Sesaat kemudian, bibir merah Steve mengecup kening Dinda. Kadang sikap laparnya itu, membawa bibir merah Steve menggigit lembut telinga Dinda.
"Ini hari dimana kita akan bersama. Seharusnya kita turun sekarang."
Steve menggeleng, kala Dinda terus mengajaknya keluar dari kamar. "Biarkan aku di sini bersama mu sebentar. Aku ingin melepaskan masa lajang ku dulu hari ini sebelum aku menjadi pria yang bertanggung jawab kedepannya."
Tangan-tangan nakal Steve memang menyebalkan. Dia memeluk Dinda, sungguh, Steve tidak bisa menahan diri.
"Dinda. Aku akui kamu adalah wanita yang satu-satunya di hati ku. Tidak menyangka, kamu yang dulu membuat aku terobsesi, kini menjadi pengantin wanita ku. Kamu harus tetap menjadi wanita ku seutuhnya sampai kapan pun."
Bisikan itu agak geli di telinga Dinda. Apalagi bibir lembut Steve menggigit Telinga Dinda tadi. Rasanya, Dinda seperti.....
"Aku akan selamanya menjadi milik kamu," balas Dinda senada.
Saat keduanya tengah berpelukan. Pintu kamar yang semual tertutup, kini terbuka lebar.
Oh, inilah yang paling di benci oleh Steve. Si pengacau, siapa lagi kalau bukan si bocah itu.
"Kak Dinda!"
Niko melejit. Dia tidak tahu kalau kakaknya dan Steve sedang intim. Terpaksa deh, Steve sesegera mungkin melepaskan pelukannya. Dan, dengan tingkah polosnya, Niko mendekati keduanya seakan dia tidak berdosa mengganggu sepasang dara yang tengah kasmaran.
"Ada apa?" tanya Steve garang.
"Itu, di bawah. Papa kak Steve dan yang lainnya sudah menunggu," kata Niko memberitahu.
Inilah saatnya. Dimana Steve harus turun ke bawah. Tapi anak ini sudah mengganggu keintimannya dengan Dinda.
Steve rasanya ingin meringis, malu rasanya kepergok oleh ipar polosnya itu.
"Ehe, tunggu," kata Niko lagi. Dia menghentikan Steve yang hendak memapah Dinda turun ke bawah. "Berhubung kak Dinda dan kak Steve hari ini mirip...... Oh, pernikahan ala bangsawan. Aku ingin mengambil satu buah gambar kalian hari ini."
Niko datang dengan kamera di kalung-kan di lehernya. Dia memang berniat datang ingin menjepret wajah keduanya.
Dinda tersenyum manis. "Seharusnya kita mengambil gambar dulu sebelum ke bawah," kata Dinda melirik Steve.
Ah, adiknya itu sudah siap dengan kamera yang di pasang di tripod. Suwer, Niko menggunakan jas hitam itu, nampak bak anak konglomerat. Siapa sangka, Niko hanya adik Dinda. Belum ada riwayat orang kaya dalam diri Niko. Mungkin kalau di usut-usut sampai ke akar nenek moyang, bisa jadi Niko ada darah orang kaya. Walau hanya dari darah nenek moyang, setidaknya kecipratan darahnya dikit lah ya.
"Oke. Pasang senyum manis. Karena hari ini adalah hari bersejarah untuk kak Dinda dan kak Steve."
Ketiga wajah itu menghadap ke kamera. Niko berdiri di tengah, sementara Dinda dan Steve ada di sisi masing-masing kedua sisi Niko.
Cheez
__ADS_1
BERSAMBUNG