UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 85


__ADS_3

Saat itu pagi hari, sekitar pukul tujuh pagi. Dinda yang tengah membersihkan taman sangat bersemangat walau sebenarnya tidak perlu baginya membersihkan taman ini, karena sebenarnya sudah menjadi milik orang lain.


Tapi tetap saja, Dinda yang terbiasa bekerja tidak tega melihat taman di halaman rumahnya kotor dan tak terawat.


Dia membersihkannya layaknya taman milik sendiri. Sedangkan Niko dan Miko menemani sang Ibu berjemuran menikmati terpaan sinar matahari pagi yang menghangatkan.


Steve yang seminggu tidak melihat wajah Dinda, merasa sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk melihat gadis itu.


Sehingga Steve memutuskan untuk menemui Dinda di Kota Bandar Lampung menggunakan mobilnya. Walau ini pertama kalinya menaiki kapal laut, menyeberangi pulau dan akhirnya sampai di pusat kota minipolitan ini.


Berkat bantuan Zico, Steve akhirnya menemukan rumah yang di tunggu oleh Dinda. Steve menyandarkan mobilnya di bahu jalan seberang rumah Dinda.


Kebetulan rumah Dinda berada di atas sebuah bukit, sehingga lanskap pemandangan di depannya adalah gedung-gedung tinggi dan pusat kota.


Dari bahu jalan, tepatnya tidak jauh dari Steve yang menepikan mobilnya, dia melihat Dinda sedang bersih-bersih. Pakaian gadisnya amat lusuh, Steve sampai terkekeh.


Steve mendekati Dinda perlahan, nyaris tanpa suara. Steve ingin memberikan kejutan pada kekasihnya dengan datang secara tiba-tiba. Namun Dinda merasakan ada yang mendekatinya, karena pikir Dinda ada yang berusaha mengerjainya, Dinda tanpa ragu menyiramnya dengan air.


"Hei, ini aku," teriak Steve. "Hentikan!" Steve menutup wajahnya dari siraman air Dinda.


"Steve," Dinda terkejut. "Kamu kenapa bisa tahu aku ada di sini?"


"Kamu sudah membasahi pakaian ku, bukannya membantu mengeringkannya justru kamu bertanya hal lain," Steve menggerutu.


"Bukan begitu maksud ku," Dinda melirik ibunya. Karena takut sang ibu melihat keberadaan Steve, dengan cekatan Dinda membawanya kesamping rumah. "Kamu kok bisa tahu alamat rumah ku? Kamu menguntit ya?"


Steve tersenyum lalu menyandarkan tubuh Dinda di dinding. "Jangankan rumah, seberapa jauh kamu pergi, aku akan menemukan kamu!" lirih Steve merayu.


"Bukan waktunya menggombal," balas Dinda. "Tapi kamu seperti stalker saja, sampai di kota ini pun kamu bisa tahu di mana aku berada. Luar biasa," puji Dinda dengan aura dingin.


"Kamu memangnya tidak merindukan aku yang selama ini kamu tinggalkan," tuntut Steve.


"Bukan begitu," bantah Dinda. "Kan sudah aku bilang, kalau aku akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Kenapa kamu malah menyusul sampai di sini."


"Karena aku sangat merindukan kamu," Steve mulai berulah. Steve memegang wajah gadis kesayangannya. "Aku tidak bisa bernafas jika tidak melihat wajah kamu walau hanya sebentar."


"Kamu sudah janji nggak akan merengek manja-manja. Atau aku akan marah kalau kamu nggak bersikap seperti Steve sebelumnya!" Dinda menyewot.


"Iya, aku nggak manja-manja," Steve mengendalikan sikapnya. "Tapi aku berkata jujur, aku sangat merindukan kamu. Kamu lihat? Perjuangan ku menyebrangi pulau ini. Itulah bentuk bahwa aku benar-benar sangat mencintai kamu," kata Steve membuktikan.


Kata-kata Steve terlalu manis bagi Dinda yang terlihat pahit. Namun, Dinda tidak bisa memungkiri bahwa dia akhir-akhir ini merasa seperti bahagia. Selagi Steve ada di dekatnya, Dinda merasa berbunga-bunga. "Kamu selalu membuat aku tidak bisa marah," ungkap Dinda. "Terima kasih sudah membuktikan ketulusan kamu pada ku!"


"Sudah aku bilang, kemanapun kamu berada, aku bisa menemukan kamu. karena kamu adalah nafas ku," kata Steve menggoda.


Mereka yang tengah bersembunyi di samping rumah, tiba-tiba di kejutkan oleh Miko, Niko, dan Ibunya yang hendak keluar jalan-jalan pagi.


Sontak mereka terkejut apalagi Steve terlihat memegang wajah Dinda.

__ADS_1


"KAK STEVE!" Niko dan Miko sengaja berteriak keras agar ibunya melihat kelakuan mereka berdua.


Karena berhubung ibu Steve sudah mengetahui keberadaan mereka, dengan cepat dia menginterogasi keduanya dan meminta Dinda menjelaskan siapa pria yang ada di hadapannya.


Kini mereka semua berada di dalam rumah. Layaknya seperti seorang tamu, mereka bicara sangat serius.


"Anu..... Bu.... Sebenarnya... Dia... Pak Steve," Dinda berkata gugup. Dia menggigit bibirnya, Dinda tidak berani berkata sesungguhnya. Dinda memulai bicara yang sempat ambigu tadi.


"Steve? Dia siapa kamu? Teman?" sambar Ibu Yuri.


"Ehm... Bagaimana ya menjelaskannya,'" Dinda merasa bingung. "Sebenarnya, dia.... Tidak, maksud ku.. Pak Steve, dia sebenarnya, bos Dinda," ujar Dinda berbohong.


"Iya Bu, saya bos Dinda," sahut Steve yang duduk ramah membenarkan perkataan Dinda.


"Bohong tuh Bu," sambar Niko. "Mereka tuh pacaran, tapi malu mengakuinya."


Niko dengan santainya membongkar rahasia yang di sembunyikan oleh Dinda.


Kenapa mulut Niko licin seperti perosotan anak TK sih, umpat Dinda menahan sebalnya pada Niko.


Wajahnya tidak kuat menghadapi ibunya, apalagi dia sudah berbohong mengenai Steve.


"Benar itu yang di katakan Niko," Ibu Dinda memastikan. "Kamu pacaran dengan Nak Steve?"


"Benar kok Bu, Miko saksinya mereka resmi pacaran," Miko yang di kira Dinda akan diam, kini tidak bisa menahan diri untuk membongkar rahasia ini.


Dinda memasamkan wajahnya, dia menutup matanya karena malu. Dan berharap tadi itu hanya mimpi. Namun apalah daya, semuanya nyata, kedua bocah tengik itu mengatakan sejujurnya.


"Dinda, kenapa diam?" tegur Nyonya Yuri. "Apa benar yang di katakan oleh Niko dan Miko kalau kalian berdua pacaran?"


Steve menyikut Dinda sembari mengisyaratkan agar Dinda mengakui kejujuran.


Dinda membuang nafasnya dalam sekali hembusan.


"Sebenarnya, Dinda dan Pak Steve. Maksud Dinda, Dinda dan Steve memang pacaran," ungkap Dinda. "Maaf ya Bu, Dinda berbohong," ucap Dinda merasa bersalah pada ibunya. "Dinda berniat memberitahu ibu nanti, setelah ibu sembuh total dan saat kita kembali ke Jakarta. Maafkan Dinda Bu yang telah berbohong."


Ibu Yuri menatap Steve dengan lirikan tak biasa, dia mengisyaratkan Steve agar menjelaskan tentang hubungan mereka berdua.


"Benar Bu, saya dan Dinda pacaran," ucap Steve mengakui kejujuran. "Berhubung Ibu sudah mengetahui hubungan kami, saya sekalian ingin menyampaikan keseriusan saya dengan Dinda," Steve menganggap inilah waktunya.


"Nak Steve memiliki wajah yang tampan dan sempurna, uang juga banyak bahkan anak pengusaha kaya. Apa nggak salah meminta restu Ibu berhubungan dengan Dinda yang bukan gadis dari kelas atas, juga wajahnya pas-pasan. Apa Nak Steve tidak akan merasa malu jika berdampingan dengan Dinda?"


Perkataan ibu Dinda jelas adalah tolak-kan halus, mungkin karena tidak enak hati apalagi Steve sudah datang-datang jauh menyebrang pulau. Perkara ini bukanlah hal mudah.


Namun Steve tidak memperdulikan seperti apa perjuangannya untuk menemui Dinda di kota Tapis ini. Walau Steve sempat beberapa kali muntah karena mabuk laut, namun Steve tidak mau menyerah.


"Saya sangat serius dengan Dinda Bu," Steve berkata yakin. "Saya tidak pernah memandang fisik maupun status sosial Dinda. Yang terpenting bagi saya, mencintainya dengan tulus, itulah cinta sesungguhnya bagi saya."

__ADS_1


"Ibu tahu, bahwa Nak Steve memiliki darah campuran. Kita berbeda, apalagi budaya kita jauh berbeda. Takutnya Dinda tidak bisa menyesuaikan diri dengan budaya yang Nak Steve miliki, apa tidak sebaiknya Nak Steve mencari pasangan lain yang lebih cantik dari Dinda," Ibu Yuri berdalih.


"Tenang saja Bu," Steve meyakinkan. "Saya asli Indonesia, bahkan pasport dan seluruh identitas saya adalah warga negara Indonesia. Mohon Ibu jangan meragukan identitas saya!"


"Ibu tidak melarang dengan siapa Dinda akan menikah, memiliki hubungan atau berkencan dengan siapa saja," Nyonya Yuri ber-kriteria. "Hanya satu yang ibu takutkan, ibu takut jika Dinda akan kandas seperti yang pernah di lakukan Johan. Ibu tidak mau itu terjadi lagi."


Steve merendah. "Mohon Ibu jangan memandang saya sebagai pria pemilik perusahaan besar atau pengusaha muda maupun CEO seperti yang lainnya. Anggap saja ibu sedang berbicara pada tukang kebun, saya merasa terhormat jika Ibu tidak memandang saya dari kelas atas!" tegas Steve.


"Uw, so sweet sekali kata-katanya," ledek Miko pelan.


"Aku akui, sepertinya usaha kak Steve meraih hati Ibu akan berhasil," Niko membisik di telinga Miko. "Mau bertaruh kalau ibu akan merestui mereka?"


"Tidak perlu bertaruh, aku setuju dengan mu," balas Miko membisik senada.


Wajah tua ibu Yuri yang mengkhawatirkan Dinda terlihat jelas. Wanita paruh baya ini menatap Dinda dengan lirikan sayu.


"Nak Steve yakin butuh persetujuan ibu?" Nyonya Yuri memastikan dengan benar niat Steve.


Steve mengangguk. "Saya sangat serius dengan Dinda. Bahkan apapun yang Ibu inginkan demi mendapatkan restu Ibu, saya akan melakukannya!"


"Ibu tidak ada permintaan ini itu," ujar Nyonya Yuri tidak menuntut banyak. "Cuma Ibu memiliki kriteria pasangan untuk Dinda sendiri. Pertama dia harus setia, tidak melirik gadis manapun. Karena Dinda anak gadis satu-satunya Ibu."


"Ibu tidak perlu khawatir, aku jamin aku tidak akan melirik gadis manapun selagi bersama Dinda," Steve berjanji dengan mulut manisnya. "Aku akan bersumpah di hadapan Ibu, aku tidak akan pernah berpaling dari Dinda."


"Ucapan anak muda memang manis," Nyonya Yuri menimpali kata-kata yang keluar dari mulut Steve.


"Apa itu artinya Ibu akan merestui kami?" Sambut Dinda mengharap.


"Ibu tidak mengatakan akan merestui kalian," Nyonya Yuri masih pada keraguannya. "Bukan Ibu bersikap egois pada kamu, Dinda. Tapi Ibu butuh bukti dari Nak Steve atas ketulusannya. Kalian tahu, bahwa Ibu membesarkan kalian dalam keluarga yang ramah dan menjunjung tinggi sopan santun. Jangan sampai anak-anak ibu berlaku tidak patuh pada keputusan Ibu."


"Ibu," panggil Steve. "Saya tahu bahwa Ibu sangat menyayangi Dinda bahkan jauh lebih menyayangi dari diri Ibu sendiri," Steve memulai memahami. "Jika ibu berkenan, tolong izinkan saya mencintai Dinda seperti Ibu yang tidak ingin kehilangan putrinya. Biarkan saya membuktikan bahwa saya benar-benar tulus pada Dinda, bahkan tidak akan menyakiti Dinda apapun bentuknya. Mohon Ibu memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan restu dari Ibu," ucap Steve mengiba dan memohon dengan ketulusannya.


Nyonya Yuri tersenyum. "Terima kasih Nak Steve," ucapnya. "Terima kasih telah memahami perasaan seorang ibu."


"Saya mengerti Bu," balas Steve bertutur lemah lembut. "Sebagai seorang ibu, saya menghargai keputusan ibu yang dengan baik tidak langsung menolak lamaran saya ingin memiliki Dinda."


"Sebenarnya ibu sangat ingin merestui kalian," timpal Nyonya Yuri. "Hanya saja, Ibu butuh waktu untuk memahami ketulusan kamu. Untuk saat ini, biarkan ibu menilai lebih dahulu layak atau tidaknya kamu dengan Dinda. Mengingat kamu adalah orang terpandang, sementara Dinda hanya remahan rengginang yang tak ada artinya."


Miko dan Niko yang duduk dekat Ibunya, menikmati drama yang di buat oleh Steve.


"Jika ini sebuah film atau sinetron, Kak Miko ingin memberikan nilai berapa untuk mulut manis kak Steve yang mencoba merayu Ibu?" bisik Niko.


"Mungkin sempurna?" Balas Miko.


BERSAMBUNG


Catatan Author. Jika kedepannya update agak lambat, mohon di maklum-kan. Sebab author jika merevisi naskah atau mengeditnya butuh waktu seharian. Mohon bersabar yah, dan tidak perlu menunggu kalian berkata minta up, author pastikan akan update secepatnya.

__ADS_1


Tolong ya, beri author nafas untuk menikmati udara. Kalau boleh jujur, novel romantis ini tidak terinspirasi dari film manapun atau drama apapun. Semuanya mengalir berasal dari ide author sendiri. Jadi maklumi jika novel ini agak bertele-tele, jelek dan sebagainya.


Author sayang kalian.


__ADS_2