
Keesokan paginya, Steve ingat pada kata kakaknya. Steve harus menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa dia tidak mau menikahi Peni.
Stevie menyarankan agar Steve langsung menemui orang tuanya di Shanghai, dengan begitu permasalahan mungkin akan bisa di selesaikan dengan jelas.
Steve merenungkan kata-kata kakaknya itu. Di ruangan kantornya, Steve bimbang. Apakah harus ke Shanghai atau tidak.
Setelah berpikir terlalu lama, titik jenuh membuat Steve mengambil keputusan. "Aku harus ke Shanghai," Steve memutuskan.
Mungkin menemui Mama dan Papa, mereka akan mengerti bahwa aku tidak mau menikahi wanita itu, pikir Steve dengan begini mungkin kedua orang tuanya akan mengerti.
Dari telepon kantornya, Steve menghubungi bagian keuangan meminta Dinda datang ke kantornya.
Butuh waktu beberapa menit untuk Dinda sampai di ruangan Steve. Dinda menghadap Steve yang tengah duduk di kursi kerjanya. Dia terlihat tidak begitu fokus pada kertas-kertas yang menumpuk di meja.
Dinda bertanya-tanya, mengapa Steve memanggilnya sepagi ini. Apakah penting, sehingga Steve terlihat gusar.
"Maaf Pak," Dinda menyela. "Apakah ada sesuatu yang penting sehingga memanggil ku sepagi ini," Dinda memulai bicara dengan bahasa yang ramah.
Steve menatapnya intimidasi. "Apakah sudah lupa?" Steve menyindir. Dinda selalu saja melupakan bagian terpenting dalam hubungan mereka. Steve harus berulang kali mengingatkan Dinda akan hal ini.
"Ini di kantor," kilah Dinda. "Kita harus menjaga batasan sebagai karyawan dan atasan, mari kesampingkan dahulu kisah cinta ini," Dinda berkata sok berwibawa.
"Biarkan di kantor atau di mana pun, aku tidak mau mendengarkan alasan apapun," Steve memaksakan kehendak. "Aku hanya mau kita sebagai sepasang kekasih, bukan sebagai bos dan karyawan," ucap Steve sewot.
"Iya, aku akan memanggil Steve," Dinda mengalah. "Apakah ada hal penting yang ingin di sampaikan sepagi ini?"
"Ya, penting sekali!" Jawab Steve. "Mana laporan keuangan kemarin?" Steve berulah.
"Bukankah laporan dua Minggu sebelumnya dan Minggu terakhir sudah aku berikan kemarin," Dinda mengingatkan.
Steve pura-pura lupa, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Steve mengerutkan alisnya. "Sepertinya aku lupa," Steve memancing kegaduhan kecil. "Mungkin kamu mengambilnya lagi kemarin," tuduh Steve.
"Jangan mengada-ada," Dinda agak panik. "Kemarin jelas-jelas aku sudah meletakan laporan keuangan di atas meja pagi hari sebelum rapat penting dengan vendor dari Jepang. Masa sih kamu melupakannya."
Karena takut berkas hilang, Dinda mendekati meja Steve lalu mencari dua berkas yang di maksud Steve. Meja kerja Steve penuh oleh berkas-berkas yang menumpuk, bahkan belum ACC penandatanganan.
"Kemarin aku meninggalkannya disini, dan kamu sendiri yang melihatnya," Dinda bicara sambil memeriksa semua berkas-berkas yang menumpuk dari atas hingga bawah. Dia teliti mencarinya, dan Dinda sedikit panik.
Dinda menunduk, mencari hingga kolong meja. Takut saja kalau Steve menjatuhkannya.
Steve hanya terkekeh melihat Dinda yang panik. Dia mendeham, pura-pura bersikap netral bahwa dia tidak tahu menahu.
"Lupakan laporan keuangan itu, hubungi saja bagian keuangan, minta salinan soft copy-nya saja. Jangan menyusahkan diri sendiri," hibur Steve. "Atau kamu peluk aku, maka aku akan memaafkan kamu atas hilangnya dua dokumen penting itu," bisik Steve menggoda.
Mendengar Steve berkata seperti itu di tengah dirinya sedang panik, seketika Dinda memuncak. "Kenapa kamu selalu ingin yang romantis seperti ini!" ucap Dinda sebal. "Aku sedang panik karena laporan keuangan hilang, kamu malah menggoda, menjengkelkan!"
Steve menarik Dinda lalu memangku-nya di pahanya. "Jangan menyusahkan diri dengan mencari dokumen itu," bisik Steve pelan. "Minta saja soft copy dari bagian keuangan, nanti juga beres permasalahannya," lirih Steve.
"Aku tahu itu," jawab Dinda. Kemudian Dinda menghindar dari pelukan Steve yang masih pagi-pagi minta di manja.
Dinda merasa bersalah, walau sebenarnya Steve sengaja membohonginya dengan menghilangkan laporan itu. Dinda tidak tahu sama sekali jika Steve mengerjainya.
"Kalau begitu, aku akan meminta salinan soft copy-nya sekarang," Dinda berpamitan. Dinda ingin mengerjakan tugasnya, tapi Steve menghentikannya, bukan itu yang Steve mau.
"Tunggu sebentar," pinta Steve. "Sebenarnya ada hal penting yang harus aku katakan hari ini."
"Hal penting?" Dinda membalikkan badannya.
Steve mengangguk. "Iya, aku ingin kamu besok ikut aku dinas ke Shanghai. Ada keadaan mendesak di kantor pusat."
Dinda menggaruk lehernya, dia merasa gatal mendengar dinas di luar negeri ini. "Haruskah dinas ini mengikut sertakan aku?" tanya Dinda. "Apa sebaiknya, membawa karyawan lain yang lebih kompeten."
Dinda ingin menyarankan Steve supaya membawa karyawan kompeten lain, agar karyawan yang di maksud bisa mengembangkan diri dengan adanya perjalanan bisnis ini.
Steve menolak , dia tidak mengindahkan saran Dinda. "Perjalanan ini hanya sekedar dinas biasa, tetapi mendadak. Kenapa harus membawa karyawan lain," hardik Steve. "Hanya bos dan sekretaris saja yang boleh datang!" tegasnya.
"Tapi aku tidak bisa bahasa Mandarin," bantah Dinda. "Aku hanya bisa bicara dalam bahasa Inggris, itupun TOEFL ku masih minim," tandasnya.
"Hei," Steve bangun dari kursinya, dia mendekati Dinda. "Tidak perlu membandingkan diri dengan kemampuan orang lain," hibur Steve. "Di Shanghai, para tetua ku juga memaklumi aku yang tidak bisa bahasa Mandarin. Mereka menghargai aku yang hanya bisa berbahasa selain bahasa itu. Kamu jangan merendahkan diri seperti itu."
"Jika kamu tidak bisa berbicara dalam bahasa Mandarin, bagaimana bisa kamu berkomunikasi dengan orang tua kamu, jelas itu bertolak belakang dengan kultur yang kamu miliki," Dinda berargumentasi dengan perspektifnya.
Steve menyandarkan bokongnya di pinggir meja, dia menyilangkan tangan di dada.
"Kamu sepertinya lupa, kalau Mama dari Indonesia. Walau Papa asli orang Tiongkok, dia juga sudah tinggal di Indonesia cukup lama. Bukan hal aneh kalau Papa bisa bicara bahasa Indonesia," jelas Steve.
"Di keluarga ku, hanya aku yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Mandarin karena aku jarang menetap di Shanghai. Sejak kecil aku sering berpindah-pindah tempat. Aku sudah menghabiskan waktu belajar ku di Jerman, dan ketika kecil aku tinggal di Indonesia. Setelah masuk paruh waktu masa kuliah, aku pindah ke Frankfurt. Jadi masa ku di Shanghai bisa di hitung, tiga tahun aku di sana." Steve mendetailkan penjelasannya.
"Lalu, selama tiga tahun di Shanghai, kamu tidak pernah belajar bahasa Mandarin?" Dinda ingin mengorek kisah Steve. Dia penasaran seperti apa kisah remajanya.
__ADS_1
"Bisa di bilang aku malas belajar bahasa Mandarin. Sebab terdapat lebih dari delapan ratus aksara yang harus di ingat, aku termasuk bodoh dalam menghafal," Steve mengakuinya.
"Jadi, ketika bertemu dengan para tetua yang mengajak berbicara dalam bahasa Mandarin, kamu pakai penterjemah?" Dinda asal menebak, jika mengambil intisari dari cerita Steve, seharusnya tebakan Dinda benar.
"Tidak," balas Steve. "Keluarga Papa tidak hanya bisa bicara dalam bahasa Mandarin, tapi juga ada yang bisa bicara dalam bahasa Indonesia, Spanyol, Perancis dan Jerman," Steve menginformasikan. "Juga bahasa Inggris. Jadi, ketika mereka bertemu dengan ku, mereka paham bahwa harus berbicara dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, terkadang juga dalam bahasa Jerman. Bukan hal sulit dalam berkomunikasi," imbuh Steve.
"Ehm...." Dinda mulai paham. "Jadi, kamu bicara dalam bahasa asing, sementara kak Stevie dan bibi bicara dalam bahasa Mandarin, seperti itu yang kamu maksud," Dinda hanya menerka dengan argumentasi tak berdasar.
"Hu'um," Steve mengangguk. "Kak Stevie sejak kecil patuh pada Papa dan Mama, jadi dia sudah belajar bahasa Mandarin sejak kecil. Karena Papa dan Mama berpikir bahwa mereka tidak akan memiliki seorang anak apalagi seorang putra," Steve mengenang. "Dulu, Mama dan Papa berpikir hanya kak Stevie anak satu-satunya mereka, sehingga mereka menyiapkan kak Stevie sebagai penerus kerajaan bisnis grup wong. Tapi siapa sangka, akhirnya pria tampan nan menawan yang begitu sempurna ini lahir. Jika aku tidak ada, maka jadilah kak Stevie yang tangguh dengan kemampuan berbahasa asing hingga enam bahasa sekaligus."
Dalam berbicara pun Steve sudah memancarkan aura yang berbeda dari orang lain yang pernah Dinda temui. Aura kuat seorang pemimpin yang gagah, Dinda makin terpesona melihat Steve yang perfeksionis dalam segala hal.
"Lalu kenapa kamu tidak belajar bahasa Mandarin juga? bukankah kamu anak lelaki keluarga kamu, bukankah kamu menjadi penerus perusahaan ini," Dinda ingin tahu alasannya, sepertinya menarik jika membahas kisah Steve yang penuh misteri dan kejutan. Dinda sangat menyukai semua penjelasan Steve, dia menjadi pendengar yang baik.
Steve mencoba mengingat-ingat, apa selanjutnya yang terjadi. "Ehm... Aku rasa karena aku anak yang bandel dan nakal, pada akhirnya Papa dan Mama menyerah menuntut ku dalam hal ini," Steve mendetailkan penjelasannya. "Tapi aku tidak seperti kak Stevie yang harus menuruti semua keinginan para tetua, aku berbeda, aku Steve, semua orang mengenali ku!"
"Ya, aku tahu jika kamu Steve. Pria paling narsis di abad ini dengan keahlian bahasa yang mempuni," Dinda menyeringai sambil tersenyum bahagia mendengar kisah Steve.
"Lupakan pembahasan mengenai bahasa aneh ini," Steve beralih bicara. "Kita tadi membahas perjalan bisnis di luar negeri, kenapa sekarang malah menggosip tentang keluarga ku," gerutu Steve.
"Oh iya, maaf," Dinda mengimprovisasi keadaan. "Aku terbawa suasana menggosip."
"Baiklah, kesepakatan sudah di capai, kita akan siap-siap terbang ke Shanghai sesegera mungkin," Steve memonopoli Dinda.
"Tapi,"
"Penerbangan terakhir pukul enam sore, bersiap-siap, nanti akan ku jemput di rumah," Steve menyambar. Perintahnya tidak bisa di ganggu gugat.
"Aku tidak mau ikut," Dinda merengek. "Aku malu, aku belum pernah keluar negeri sebelumnya, aku merasa canggung."
"Tidak ada kata menolak, atau aku akan marah," ancam Steve. "Apa kamu mau melihat pacar kamu ini marah seperti kemarin," Steve membisik di telinga Dinda.
Dinda merengut, dia sayu pagi itu di ruangan Steve. Pria itu terus memaksakan kehendak Dinda. Dinda tidak bisa menolak kemauan Steve yang memaksa. "Ya, ya, aku ikut," jawab Dinda singkat.
Dari balik pintu kaca, Stevie nyelonong masuk sembarangan ke dalam ruangan Steve.
Dia melihat Dinda di ruangan adiknya, saat melihat kekasih Steve itu wajah Stevie langsung tersenyum sumringah.
"Hei," sapa Stevie. "Dinda kesayangan ku ada disini," Stevie tanpa ragu merebut Dinda dari Steve.
"Astaga, kamu makin cantik saja setelah seminggu tidak bertemu," puji Stevie. "Nggak salah kalau kamu bisa bersaing dengan ku dalam hal kecantikan," celetuk Stevie, dia mencubit wajah cantik natural Dinda.
Dinda merasa merona, apalagi di puji Stevie yang cantiknya saja sudah mirip artis kelas atas. "Kak Stevie terlalu berlebihan," balas Dinda tersipu.
Stevie mengangguk, dia paham benar maksud adiknya.
"Aku dengar kamu akan ke Shanghai," Stevie pura-pura bertanya tidak tahu. "Apa itu benar."
"Ah..... Itu, sebenarnya, hanya perjalanan dinas," jawab Dinda. "Bukan perjalanan karya wisata."
"Ohh.." Stevie mengangguk, seakan sudah mengerti. "Sudah tahukan kalau penerbangan ke Shanghai terakhir sore ini," Stevie sengaja berkata menyinggung.
"Iya kak," angguk Dinda.
"Kalau gitu, sudah nggak ada waktu buat berleha-leha mengurus masalah kantor hari ini," Stevie mengingatkan. "Sebaiknya bersiap-siap sekarang, dari pada menunda-nunda," saran Stevie. Dia memberikan saran terbaiknya. "Nanti terlambat."
"Itu yang aku pikirkan," hati kecil Dinda berbicara.
"Oh iya, bos galak," Stevie bicara pada Steve. "Berapa hari perjalanan kalian ke Shanghai?"
"Sebulan rasanya cukup," jawab Steve.
"Hei," sahut Dinda. "Itu terlalu lama," Dinda protes, dia tidak ingin berlama-lama dalam perjalanan bisnis ini.
Stevie tertawa, dia menyukai gaya bicara Dinda. "Sebaiknya aku mengantar Dinda mengemas pakainya dulu, nanti Steve akan menjemput di apartemen Dinda," Stevie mengemukakan idenya.
Tidak ada masalahnya, Steve menyetujui ide kakaknya. Dinda dan Stevie pergi ke apartemen Dinda, sementara Steve masih di kantor.
Stevie yang mengemudi mobil, dia lihai dalam berkendara si besi berjalan. Hingga di apartemen Dinda, Stevie membantu gadis itu mengemaskan pakaiannya ke dalam koper sintetis berwarna terang.
Ini kali pertama bagi Stevie masuk ke gubuk Dinda yang futuristik. Stevie dengan mata jahilnya melihat-lihat di sekeliling ruangan.
Tipe seorang wanita dalam menghias dekorasi ruangan.
Semua yang ada di hunian Dinda ini, tak luput dari perhatian mata-mata nakal Stevie. Hingga dia berhenti melihat-lihat rumah Dinda setelah gadis itu menyelanya.
"Kak, aku sudah beres," Dinda memberitahu. Dia mendatangi Stevie yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Berangkat sekarang?" Dinda berinisiatif. "Atau menunggu Pak Steve menjemput?"
Stevie melihat jam di layar handphonenya. "Jam tiga sore, masih banyak waktu," ucap Stevie. "Tunggu saja Steve menjemput kemari, atau nanti kalian akan berpisah. Kan kasihan, nanti saling rindu," Steve menyindirnya sambil terkekeh.
__ADS_1
Dia sudah tahu kisah cinta keduanya, hanya saja dia pura-pura tidak tahu. Stevie bersikap natural, seperti sebelumnya, wanita ini bersikap biasa saja.
Dinda tersenyum memaksa. "Mungkin Pak Steve sibuk, jadi dia tidak akan menjemput kemari."
"Pak Steve?" Stevie mengerutkan alisnya. "Kenapa memanggilnya dengan sebutan Pak? Steve saja cukup!" Seru Stevie menyarankan.
"Pak Steve adalah atasan ku, mana mungkin aku akan bersikap tidak sopan dengan atasan sendiri," Dinda berdalih. "Kak Stevie membual deh."
"Kalau nggak mau memanggil Steve, panggil saja Udin," Stevie memberikan opsi. "Dia biasa di panggil Udin oleh nenek," Stevie memberi tahu.
"Hah, Udin!" Dinda pura-pura polos.
"Iya, Udin," jawab Stevie. "Steve memiliki nama Indonesia, HASSANUDIN," Stevie mengeja. "Itu namanya, kamu harus ingat itu!"
"Ha-ssa-nu-din," Dinda mengangguk sambil pura-pura menghapal nama Steve. Sebenarnya Dinda sudah tahu, hanya saja Dinda bersikap tidak tahu nama Steve.
Stevie dan Dinda duduk di ruang tamu. Pintu apartemen Dinda terbuka, dan jelas suaranya terdengar sedikit gaduh.
Suara langkah kaki di sertai suara daun pintu yang tertutup.
"Suara apa itu?" tanya Stevie curiga. "Nggak mungkin-kan ada maling sesiang ini?" Stevie memalingkan pandangannya kearah pintu.
"Oh, itu Miko dan Niko," jawab Dinda. "Mereka sudah pulang."
"Miko dan Niko?" Stevie menirukan suara Dinda. "Siapa mereka?"
"Mereka adik-adik ku, kebetulan mereka kembar," jelas Dinda.
Stevie ber-oh kecil. Kebetulan Niko dan Miko baru saja pulang dari sekolah lengkap dengan seragam SMA-nya.
Mereka melewati Dinda dan Stevie yang duduk di ruang tamu tepat di depan kamar keduanya.
"Sore kak," sapa Niko.
Stevie yang melihat Niko, langsung mengenalinya. "Ini adik kamu," tunjuk Stevie.
"Iya," angguk Dinda. "Dia Niko."
"Oh.... Jadi..." Stevie merasa tertarik melihat Niko. "Ternyata model iklan belagio collection yang terpampang di layar iklan elektronik di sepanjang jalan di Hongkong, itu adik kamu?" Stevie memastikan.
Dinda mengangguk, nampaknya Stevie belum tahu bahwa Dinda memiliki adik.
Atau Steve tidak memberitahu kakaknya bahwa Miko adalah adiknya Dinda.
"Aku pikir model yang di sewa perusahaan adalah idol yang baru debut," ungkap Stevie.
Dinda terkekeh. "Mana mungkin mereka itu idol, kak Stevie suka bercanda deh," Dinda merendahkan perkataan. Dia tersipu saat adiknya di puji mirip idol.
"Tapi jujur loh," Stevie bicara santai. "Aku pikir model pilihan Steve adalah idol baru yang sedang naik daun. Wajahnya khas Mongoloid," Stevie memuji.
"Tidak," bantah dinda halus. "Mana mungkin adik-adik ku idol. Lagi pula kalau pun mereka idol yang ada nanti mereka di bully online kerena standar ketampanan di bawah rata-rata."
"Hei, nggak boleh merendah begitu," Stevie menegaskan. "Mata kamu harus di chek ke dokter gigi, biar nggak berlubang," celetuk Stevie melucu.
"Kakak pikir aku katarak," Dinda tertawa. "Kak Stevie selain lucu, juga ramah," puji Dinda. " Nggak salah Pak Steve mempunyai kakak yang memiliki latar belakang yang berkharisma penuh pesona."
"Hoi," Stevie menunjuk Dinda. "Kamu nggak perlu memuji begitu, anggap saja aku kakak mu juga," Stevie menawarkan.
Dinda dan Stevie duduk bersebrangan, tangan Stevie tak bisa diam memainkan kunci mobilnya yang memiliki banyak gantungan di sekeliling kunci.
"Ngomong-ngomong, kok Steve lama ya datang menjemput," Stevie beralih bicara.
"Mungkin dia dalam perjalanan," Dinda menebaknya begitu. "Atau jalan bisa saja macet kak, kan sekarang jam kerja, pasti jalan agak padat."
"Bisa jadi," Stevie senada. "Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia segera tiba."
Dinda pasti sabar menunggunya, bahkan Dinda berharap Steve tidak akan datang sama sekali. Itulah keinginannya.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak mau memperkenalkan aku dengan si ganteng," tegur Stevie.
"Oh, aku hampir lupa;" jawab Dinda. "Maafkan aku hampir lupa pada bagian ini!" seru Dinda malu karena telah di tegur Stevie.
Stevie menggertak giginya, dia berang pada Dinda yang merahasiakan adik-adiknya.
"Miko, Niko," teriak Dinda. "Kemari dong sebentar, kakak mau kenalin kalian dengan kakaknya Pan Steve."
Mereka tidak menyahut, tapi mendadak keluar dengan pakaian rapi dari kamar masing-masing.
"Kok kalian pakai baju beda?" Stevie memprotes. "Kalian kan kembar, kenapa harus pakai baju dan celana yang beda sih?" ucap Stevie ingin tahu.
"Karena kami kembar identik, maka kami harus tampil berbeda kak," jelas Niko. "Orang-orang selalu salah mengira, makanya kami selalu ingin berbeda dari anak kembar lainnya," Niko berkata sok bijak.
__ADS_1
Stevie paham, dia mengangguk memahami keadaan kedua anak kembar itu.
BERSAMBUNG