UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 37


__ADS_3

Ide untuk mengunjungi mall sore itu, sedikit membuat Miko sebal. Ketika melalui beberapa toko branded, Niko selalu saja merengek meminta ini itu. Alhasil Niko lah yang paling banyak menumpulkan belanjaan paling banyak sore itu.


"Kak, aku ingin membeli yang ini. Aku ingin membeli yang itu. Aku juga mau yang itu... Itu..... Dan itu juga..... Serta bla....bla....bla..."


Ucapan itu membuat Miko sedikit sebal. Untuk sesaat ia berpikir seperti seseorang ibu yang membawa bocah batita pergi kepasar. Merengek ingin membeli ini itu semaunya seolah dirinya seperti anak sultan. Dan setidaknya Miko merasa sedikit beruntung karena tak ada penjual yang memuji, "Oh tuhan, anak anda sangat menggemaskan." Ya ucapan itu setidaknya sedikit menggelikan bagi Miko jika terlintas dalam telinganya.


Sungguh ia akan merasa seperti seorang ibu sungguhan dan menjijikan jika tubuhnya yang manly harus bersikap keibuan. Hancur sudah image jantannya jika itu terjadi.


Barang-barang yang mereka beli di masukan dalam tas yang terbuat dari kertas ramah lingkungan dan dengan warna serta motif berbeda.


Niko sangat konsumtif terhadap belanjanya. Dia pandai dalam mencuri ide agar bisa di turuti kemauannya.


Mereka melalui beberapa toko-toko terkenal, toko barang bermerek dan berkelas.


Niko dengan senang hati memilih berbagai pakaian yang sedikit menurutnya 'oke'.


Semuanya jika perlu di beli oleh Niko, maka ia akan melakukannya. Tetapi sayang, bahkan uang jajan pun ia mendapatkan jatah dari kakaknya, sementara Miko yang dalam kendalinya saat ini bisa menjadi bank berjalannya saat itu.


Niko berpikir sesaat dan mulut manisnya tersenyum manis kala mendapati kakaknya yang patuh. Patuh pada kemauannya terlebih saat ini ia yakin uang di dalam rekening Miko pasti menumpuk banyak.


"Setidaknya tabungan ku tidak berkurang karena kak Miko. Traktiran hari ini sedikit membawa keberuntungan." Pikir Niko sembari terkekeh.


Kedua tangannya menenteng belanjaan yang banyak. Sampai-sampai tangannya penuh oleh tas-tas ramah lingkungan itu.


Dinda dan kedua adiknya sudah selesai berbelanja. Mereka melewati beberapa kafe dan barista di lantai atas mall. Suara perut Niko yang terdengar menggoda, membuat keduanya terbujuk untuk mampir di salah satu kafe.


KRUKKK....


Suara perut Niko terdengar jelas, sehingga kedua kakaknya mendengar dengan jelas. Keduanya menatap wajah si bungsu dengan tatapan khas. Tatapan yang sudah terbiasa dan suara perut itu juga lazim terjadi bahkan terdengar hampir setiap hari oleh kedua kakak Niko.


"Mau makan apa," tanya Dinda yang sudah paham pada tingkah Niko.


Niko hanya tersenyum sok manis seakan membuat kakaknya Dinda tidak perlu lagi bertanya apa yang ingin di makan.


"Oke-oke, kakak paham!" seru Dinda hafal pada senyuman terselubung Niko. Dinda sedikit antusias melihat Niko yang pura-pura bertingkah manja.


Dinda menatap salah satu kafe dan barista bahkan beberapa restoran di depan mereka. Banyak dan berdiri sejajar antar stan kuliner itu.


Karena banyaknya tempat kuliner, membuat Dinda sedikit bingung dalam memilih tempat untuk makan. Sehingga Dinda sedikit menunjuk beberapa restoran yang akan di tuju. "Kita makan di mana? restoran cepat saji atau...."


"Kita makan di sana saja kak. Aku mau mau makan Burger king dan pizza doritoz." Niko memotong ucapan kakaknya Dinda secepat kilat sembari jarinya menunjuk ke salah satu restoran cepat saji.


Niko menunjukkan jarinya ke restoran yang di depannya terdapat papan nama 'Shushi Japanese resto & pizza mix burger king delivered' yang tergantung di depan toko makanan itu.


"Boleh juga," dinda merespon setuju.


"Miko? mau kesana atau kamu punya tempat lain yang jadi rekomendasi?" kali ini Dinda bertanya pada Miko sebab dari tadi dia terdiam saja.


"Menurut ku.... Sepertinya oke-oke saja!" balas Miko bicara santai.


"Yeah!" mendengar ucapan setuju kedua kakaknya, Niko berseru semangat.


"Ayo kita meluncur kesana." Ajak Niko kepada kedua kakaknya seraya merangkul kedua tangan mereka. Ia membawa paksa keduanya menuju ke restoran minimalis itu.


dan kini mereka duduk di salah satu meja bundar. Meja makan bundar yang berada dalam salah satu kafe mewah di lantai atas mall.

__ADS_1


Mereka mengambil tempat duduk masing-masing dan telah memesan makan lebih dulu sebelumnya.


Orang-orang berlalu lalang dan mereka tak memperdulikan itu.


Mereka duduk santai di kursi yang berbentuk seperti kursi santai di pinggir kolam. Kursi yang terbuat dari kayu dengan ukiran kasual namun kontemporer.k di cat berwarna cokelat terang.


Dinda yang tadi sedikit penasaran akan Miko yang di pikirnya memiliki banyak uang, di meja bundar kafe tersebut, ia akhirnya memiliki kesempatan untuk melontarkan pertanyaan yang tak bisa ia tahan lagi.


"Aku penasaran pada Miko? mengapa kamu memiliki uang yang begitu banyak dan membelikan adik mu pakaian mahal. Bisa kamu menjelaskan semua ini? maksud ku dari mana kamu dapat uang untuk membeli pakaian mahal semacam ini?"


Miko sedikit kaget mendengar argumen yang sangat tepat begitu. Kali ini Miko di paksa harus kembali memikirkan ide untuk mengalihkan perhatian kakaknya agar tidak selalu bertanya hal-hal yang sulit untuk di jawab.


Miko dengan gaya bicara yang sedikit bingung, mencoba menjawab pertanyaan kakaknya sambil tangannya menggaruk kepala. Seakan sedang gatal, ia mencoba bersikap natural. Inilah khas Miko, berbohong dalam ragu.


"Oh.... Itu.... Sebenarnya.... Aku pikir, aku mendapatkan semua ini dari lomba basket Minggu lalu." Respon Miko bicara terbata-bata.


"Benarkan Niko!" Miko sedikit menyikut adiknya agar membantunya berbohong.


Miko yang sedang asik memainkan handphonenya, langsung merespon kakaknya dengan cepat.


"Iya kak benar. Minggu lalu sekolah kami menang dalam event basket melawan sekolah tunas harapan 11." Pungkas Niko ikut berbohong.


"Benarkah? kenapa kalian tidak bilang kepada kakak jika ada perlombaan. Siapa tahu kakak bisa datang menyemangati kalian."


"Oh .... Tidak... Tidak ... Kakak tidak perlu melakukannya, aku tahu Kaka pasti sibuk." Miko pura-pura memakluminya.


"Iya sih. Kakak memang tidak ada waktu luang dan selalu sibuk."


"Nah... Iya... Aku pikir begitu," ucap Miko pura-pura senada.


"Kakak pikir aku Jordan Philip, pebasket terkenal di Amerika. Sampai-sampai kakak mau menonton pertandingan kecil ini." Miko sedikit memberikan celetuk.


"Oke-oke. Lupakan saja. Kakak tidak akan bertanya lagi mengenai ini." Dinda mencoba menutup pembicaraan ini. Dan ia percaya pada mulut manis keduanya.


Miko sedikit lega, tetapi Niko yang duduk di sebelahnya, melirik kakaknya yang selalu berbohong. Ia menatap wajah Miko dengan ekspresi sinis.


"Dasar tukang ngibul," ucap Niko licik dalam hati.


Tetapi, di tengah santainya mereka duduk. Seseorang dari arah belakang Dinda datang menghampiri mereka lalu menyapa dengan lembut. "Hei Dinda. Kalian ada disini juga?" seseorang menyapa dengan lembut di tengah perbincangan ketiganya.


Dinda menengok kearah sumber suara yang khas dan terdengar sangat lazim. Dan pria itu adalah Rendy, yang tidak tahu dari arah mana tiba-tiba ada di dekat mereka. "Oh hai Ren. Iya nih kita disini lagi mencari makan," Timpal Dinda seraya bangkit dari duduknya seolah sedang bersikap menyambut kehadiran mereka.


"Oh begitu rupanya. Kebetulan kita juga lagi mencari makan disini." Ucap Rendy santai.


Dinda melihat Rendy datang bersama Zico, dan berdiri tepat di sebelahnya dengan tinggi tubuh sejajar. Dinda memberikan senyum pada Zico selaku atasannya di kantor sebagai bentuk hormat.


"Oh iya Din, maaf ya soal kejadian tadi aku tidak membantu mu." Rendy membuka pembicaraan lain.


Dinda tidak tahu apa yang di maksud oleh Rendy, secara gamblang ia bertindak sok polos. "Kejadian yang mana?"


"Kejadian beberapa saat yang lalu. Maaf jika aku tidak membantu karena aku tidak tahu harus mulai dari mana, karena sulit bagi ku memahami situasi ini."


Dinda berpikir sejenak atas rasa bersalah Rendy dan ia mulai tersadar yang di maksud oleh Rendy adalah pertengkaran dengan Johan. "Oh masalah itu. Aku rasa kamu tidak bersalah, hanya saja ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


Dinda mencoba berkilah secara realistis, namun Rendy sudah tahu kebenarannya.

__ADS_1


Dinda melihat Rendy datang bersama Zico, dan tak enak rasanya jika ia tak menyapa dan mengawali pembicaraan lain. "Kamu datang bersama Pak Zico Ren?" tanya Dinda mencari obrolan lain.


Rendy mengangguk menandai iya, bahwa ucapan Dinda benar.


"Sejak kapan kalian sedekat ini? maksud ku apakah kalian teman lama?"


Rendy dan zico menatap wajah satu sama lain, bagai pasangan yang tengah kasmaran. Mereka tersenyum manis saat mendapati pertanyaan seperti itu.


Rendy mengusap kepalanya dengan ekspresi malu-malu. Mungkin Rendy malu mengakui hubungan mereka, tetapi tetap saja mulutnya terbuka lebar untuk bercerita. "Sebenarnya, aku dan Zico sahabat satu kampus." Rendy mulai mengakuinya.


"Hah satu kampus?" dinda sedikit kaget mendengar ucapan ini.


"Ya begitulah. Tetapi kami beda program studi walau kami dalam satu lingkup asrama dan satu wilayah negara. Benarkan Zico?" celetuk Rendy sambil menyikut Zico dengan lembut.


"Tentu saja." Timpal Zico sekenanya.


Namun sepanjang mereka berdiri, Zico baru menyadari jika Dinda datang bersama kedua adiknya.


Mata Zico mulai menyipit melihat kedua anak yang duduk dengan santai. Miko menutupi wajahnya dengan pamflet buku makanan resto, sembari menaikan kaca mata dan masker hitam seakan menutup diri, bertindak anti sosial.


Niko? dia tak tahu apa-apa, sehingga tanpa dosa ia tak menutupi wajahnya. Dengan duduk santai ia memainkan ponselnya bahkan fokusnya tak teralihkan oleh kedatangan kedua pria itu.


"Dia...." Zico benar-benar mulai sadar saat mengenali keduanya.


"Sial. Pak Zico mengenali ku." Miko yang menutupi wajahnya dengan masker, sedikit menenggelamkan kepalanya di kursi.


Tetapi Niko, kembaran Miko yang duduk di sebelahnya, dengan santai duduk nyaman seperti tak tahu sesuatu.


Miko menyadari itu, menyadari bahwa Niko tak menutup wajahnya dari Zico dengan sehelai penghalau sedikit pun untuk menutupi wajah polosnya dari pandangan pria yang ia anggap mengancam penyamarannya.


"AH.... Niko bodoh, mengapa ia tidak menutupi wajahnya itu." Miko menuntut kesal dan bicara dalam hati.


"Mereka siapa?" Zico bertanya pada Dinda dengan wajah penasaran melihat keduanya.


"Oh mereka berdua.....Mereka adalah......"


"Kak kami permisi pergi dulu. Lain kali kita lanjutkan makan disini." Miko menyela dan memotong ucapan kakaknya lalu menarik paksa Niko yang ada di sebelahnya pergi sejauh mungkin menghindar.


"Kak Miko ada apa ini?" tanya Niko sambil menghentikan sejenak atas paksaan itu.


"Nanti aku jelaskan." bisik Miko singkat dan bertindak terburu-buru.


"Kami pergi lebih dulu kak. Sampai bertemu di rumah." Teriak Miko sembari menjauh dari ketiganya.


"Hei Miko!!" sahut Dinda heran.


"Ah anak itu. Bahkan pesanan hampir saja tiba. Mengapa dia malah pergi." Dinda menggerutu sedikit sewot.


"Itu adik-adik mu?" Zico menyela bertanya.


"Oh iya. Mereka adik-adik ku... mereka selalu seperti itu. Kadang malu jika melihat ada orang baru. Harap di maklumi Pak." Dinda sedikit merasa tak enak hati atas kelakuan kedua adiknya.


"Oh begitu rupanya." Timpal Zico dengan ekspresi heran. Heran kala melihat kedua anak kembar itu.


Rendy yang berdiri di sebelah keduanya hanya bisa terpaku polos dan lugu karena tidak tahu mesti bicara apa melihat suasana canggung ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2