UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 45


__ADS_3

Ketika sepertiga malam, malaikat fantasi dan dewa amor menebarkan kasih sayang kepada manusia-manusia yang hatinya lembut. Itu menurut kepercayaan para badboy yang sok meromantiskan diri. mereka beranggapan seakan bahwa dewa cinta benar-benar ada. Dulu, ketika ditanya seperti apa itu cinta, mungkin mereka para badboy tidak banyak yang tahu seperti apa rupanya.


Sesungguhnya cinta itu berbentuk, namun hanya mereka yang jatuh cinta yang tahu bagaimana bentuknya. Ingin memilikinya dan selalu memikirkan segala hal tentang orang yang di cintai adalah salah satu bentuknya.


Tetapi, rasa-rasanya semua hambar jika masih ada kebimbangan. Ragu, mungkin Dinda sudah tidak ingin memikirkan cinta lagi. Sebab seumur hidupnya, Dinda ingin berhenti mengenal cinta. Cinta, sesuatu yang hanya akan menyakiti perasaan saja tanpa pertanggung jawaban.


Seberapapun lamanya Dinda merasa nyaman berada di pelukan Steve, tetap saja Dinda ingin terbebas dari pelukan pria itu. Jantungnya seakan ingin lepas karena gugup yang begitu dahsyat.


Apalagi berada dalam pelukan lelaki yang menjadi bos perusahaan tempat ia bekerja. Dinda tidak pernah bermimpi untuk berada dalam pelukan Steve. Walau Steve sendiri adalah pria tampan yang sempurna, bukan berarti Dinda akan berusaha menjadikannya target percintaan.


Mungkin seumur hidupnya Dinda tidak bisa hidup dengan tenang selama ada Steve yang terus-menerus mengungkungnya dalam zona hidupnya yang aneh.


Keringat panas mulai keluar dari tubuhnya walau pendingin ruangan menyeruak berusaha menyejukkan suasana diantara mereka.


Dinda, dia mencoba meminta Steve melepaskan dirinya dari pelukan yang ia lakukan. Bukan tidak nyaman, tetapi lebih menjaga citra dalam dirinya. "Pak. Bisakah anda melepaskan pelukan ini. Aku benar-benar sudah merasa sesak dan sulit bernafas Pak." Dinda meminta dengan ramah.


Tetapi Steve, tidak mau mendengar ucapan Dinda sedikit pun. "Tidak akan aku melepaskannya kecuali, aku yang meminta. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya."


Steve terus saja melakukannya. Dia memonopoli Dinda saat ini.


"Tapi Pak! Aku benar-benar sudah merasakan kepanasan. Aku benar-benar gerah Pak." Pungkas Dinda sekali lagi.


Steve terus-menerus tidak mau mengindahkan ucapan Dinda, justru ia malah tersenyum bahagia. Ia semakin erat memeluk Dinda. Menikmati pelukan sehangat-hangatnya.


Dinda terus saja meminta lepas, walau pria itu tidak mau melakukannya. "Seberapa lama lagi Bapak ingin melakukannya. Aku tidak bisa begini terus."


Steve kembali bersikap narsis, dia tidak mau mendengarkan alasan apapun. Selagi memeluk Dinda adalah sebuah kenyamanan, maka dia akan terus melakukan itu.


"Hmm..... Seberapa lama lagi? Mungkin seratus, dua ratus bahkan seribu tahun lamanya aku akan terus memeluk mu. Dengan begini kamu harus tahu itu."


Steve tanpa ragu bahkan percaya diri bicara menggombal.


"Tetapi aku tidak nyaman begini Pak. Aku merasa tertekan." Dinda berkilah.


"Ssssttt.... Jangan berisik. Anggap saja aku sedang bersikap romantis saat ini."


Dinda hanya bisa menggerutu sebal. Selamanya dia tidak mau menginginkan ini terjadi. Ia hanya ingin jatuh cinta pada satu hal, yakni keluarganya. Dia tidak ingin memikirkan Steve, apalagi cintanya. Pekerjaan pun baginya sudah cukup berat, dan ia tidak mau menambah beban dengan memasukkan unsur romance dalam pikirannya yang masih lugu itu.


Namun, sekonyong-konyong mereka berpelukan di atas kursi kerja Steve. Pelukan semacam adegan di novel-novel yang pernah tercetak dalam buku ini, bahkan lazim di lihat di drama ataupun movie vaganza, stevie, wanita itu masuk ke ruangan Steve tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu kantor adiknya.


Stevie membuka pintu, lalu memekik dengan keras. "Steve..... Mengapa kamu...." Ucapan Stevie tidak sampai tuntas sebab dia kedapatan memergoki Steve berduaan dengan karyawannya.


Dia seolah bertindak bagai ibu-ibu penjual sayur yang anarkis.


Stevie dengan mata telanjang tanpa panghalau sedikit pun, melihat adegan pelukan itu. Dan dia merusak suasana. "Oooou....."


Stevie membalikkan badannya sebagai bentuk refleks tidak ingin merusak suasana. Ia menutup wajahnya rapat-rapat, sesekali ia melirik mereka berdua. Seperti di adegan film receh saat memergoki pemeran utama sedang romantisnya dalam beradegan. Maka, pemeran pendukung sok bersikap polos dan malu serta salah tingkah saat menyaksikannya.


"Maafkan aku. Aku salah server sepertinya. Kalian bisa melanjutkan adegan romantis kalian." Ujar Stevie merasa sok merusak suasana.


Dinda dan Steve yang asik berpelukan dengan segera melepaskan kelakuan mereka. Seolah tidak terjadi apa-apa Dinda dengan cepat memperbaiki suasana dan berharap Stevie menanggapinya sebagai sebuah kejadian tak di sengaja.

__ADS_1


Dinda pura-pura merapikan bajunya, di ikuti oleh Steve yang juga sok merapikan dasinya yang menurutnya berantakan.


Dinda berusaha memperbaiki kesalah pahaman ini.


"Ini bukan seperti apa yang kak Stevie pikirkan. Aku dan Pak Steve hanya.... Hanya..... Hanya tidak sengaja melakukannya." Dinda berusaha bicara natural.


"Tadi aku tidak sengaja hampir terjatuh saat mengantarkan berkas dan Pak Steve menolong ku. Benarkan Pak Steve." Tambah Dinda bicara.


Dalam kegugupan Dinda menginjak pantopel Steve menggunakan heelsnya yang runcing agar Steve membenarkan ucapannya.


"AW...." Pekik Steve dalam hati menahan sakit.


"Wanita sialan ini." Steve menggerutu kesal.


Dinda sengaja melakukannya agar Steve membantunya memperbaiki keadaan yang sulit di jelaskan oleh logika menurut pribadi Dinda.


Stevie membalikan badannya, lalu melihat keduanya. Sangat di sayangkan dia tidak lagi mendapati keduanya dalam pelukan mesrah. Stevie melirik Steve, dia tahu Steve tidak akan menyangkal.


"Iya kak. Aku yang memeluknya. Maksud ku, kami berdua memang saling ingin berpelukan." Dengan polosnya Steve mengucapkan hal-hal yang bersifat rahasia di hadapan kakaknya.


"Pak Steve." Teriak Dinda tidak terima atas ucapan itu.


"Tolong kakak jangan mempercayai ucapan Pak Steve. Dia selalu berbicara rancu, mohon kak Stevie agar tidak salah paham pada kejadian ini." Dinda berusaha kembali memperbaiki ucapan Steve.


Stevie terkekeh melihat dua tingkah pria dan wanita itu. Dia sangat terkesan pada sikap keduanya. Yang satu menutupi rahasia dan satunya lagi dengan gamblangnya berbicara rahasia di depan umum. Tak habis pikir bagi Stevie melihat kelakuan konyol keduanya


Pppfffffttttt...... Aha-ha-ha-ha


Stevie bicara seraya memainkan jari tangannya membentuk kode bercumbu. "Aku tahu jika kalian sedang melakukan beginian..... Tetapi aku, malah merusaknya. Maafkan aku, lain kali aku akan mengetuk terlebih dahulu pintu sebelum masuk."


Dinda panik, karena Stevie tidak mempercayai ucapannya. "Tidak kak. Jangan salah paham. Aku dan Pak Steve hanya tak sengaja terjatuh. Ini tidak seperti apa yang kakak pikirkan."


Dinda mencoba menjelaskannya pada Stevie, tetapi wanita itu hanya percaya pada apa yang ia lihat.


Dia masih saja tertawa bahagia saat melihat Dinda malu dan raut wajahnya memerah padam.


"Sejak kapan kalian sudah seperti ini?" Tanya Stevie ingin tahu kejadian.


Dinda tertegun, sebab Stevie makin memancing pembicaraan yang menjurus pada ranah percintaan. Dinda melirik Steve yang duduk dengan nyamannya di kursi kerjanya. Steve tahu bahwa Dinda memintanya menjelaskan situasi ini. Tetapi Steve tidak bergeming.


Justru dia menggelengkan kepalanya seraya mengangkat bahunya. Dia paham betul dinda akan berusaha beralibi.


Steve juga tahu jika Dinda tidak bisa diam mengenai kisah ini. Steve mengerti keluhan Dinda dan dirinya berusaha memperbaiki suasana canggung ini. "Lupakan pertanyaan bucin ini. Aku sedang tidak tertarik membahas masalah percintaan. Pekerjaan ku cukup banyak." Tukas Steve seraya menyibukkan diri.


Setidaknya Dinda lega mendengar Steve yang bersikap dewasa. Tetapi, Stevie yang penasaran, mengernyitkan keningnya menatap Steve dan Dinda yang kompak terdiam malu.


Stevie mengubah alur pembicaraan. "Oke! Kakak tidak akan membahas ini lagi. Seharusnya kakak membatasi bicara absurd ini."


Steve mendengus nafasnya dan ia tidak bicara lagi. Steve kini terlihat sibuk membuka tutup berkas-berkas di tangannya.


Namun, melihat kakaknya yang datang dengan tiba-tiba. Membuat Steve ingin tahu apa yang membuat kaki kakaknya itu berjalan kemari hingga menuntun langkahnya itu.

__ADS_1


"Ada apa datang kemari." Tanya Steve singkat. Dia bersikap jutek sambil sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.


Hitam, merah, kuning, hijau, kelabu merah muda dan biru. Bagai nyanyian anak-anak, berkas itu berserakan berantak menutupi meja kerja Steve.


"Kakak kesini karena mau bilang kalau kakak akan pulang ke Shanghai pagi ini. Kemarin papa menelpon kalau Jakson datang menemui mereka." Ujar Stevie membalas pertanyaan Steve.


"Mengapa tidak menelpon?" Steve merespon cepat.


"Coba cek telepon mu, sudah berapa kali kakak menelpon?"


Steve dengan segera mengeluarkan handphone dari saku celananya. Demi memastikan ucapan kakaknya dia menuruti perintah ini.


Dia melihat handphonenya, dimana tertulis tujuh puluh delapan penggilan tidak terjawab. Steve melirik kakaknya yang penuh intrik itu.


"Tidak perlu merasa bersalah. Kakak tahu tadi kamu sibuk, jadi kakak memakluminya," Ucap Stevie yang tahu atas tatapan Steve.


"EHM...."


Steve mendeham dan mendengus nafas sebab Stevie tahu apa yang sedang ia pikirkan.


Steve mencoba mengalihkan topik hangat ini. Jika bukan karena ada Dinda di ruangan itu, mungkin saja Stevie akan merusak dasinya yang rapi. "Perlu diantar ke bandara. Atau ingin di pesankan taksi online." Steve bicara basa basi.


"Tidak perlu. Kakak kemari hanya ingin menyampaikan hal ini. Takut-takut jika kamu pulang tidak melihat kakak di rumah. Walau kakak sudah mengatakannya pada paman lu, tapi kakak masih keberatan untuk menangguhkannya pada paman tua itu."


Balas Stevie mendetail.


Steve bersikap santai. Karena dia mengharapkan ini keluar dari mulut Stevie. "Baiklah. Aku kira kakak butuh tumpangan menuju bandara. Ternyata kakak lebih mandiri."


Stevie tahu bahwa tawaran Steve sepenuhnya tidak tulus bin tidak niat, sehingga hati kecilnya menghardik Steve. "Bocah tengik ini sengaja melakukannya. Dia hanya bisa membuat orang kesal saja."


Mungkin membuat orang lain kesal adalah salah satu keahlian Steve yang tersembunyi. Dia memanfaatkan tingkahnya dengan baik. Mungkin jika dirinya adalah seorang aktor, maka dia akan di berikan penghargaan sebagai publik figur paling menyebalkan yang pernah ada.


"Ya sudah. Sebaiknya kakak pergi sekarang." Pungkas Stevi.


Malas baginya berlama-lama di ruangan si pemarah ini.


Sebelum dia pergi, matanya sempat melirik Dinda yang terpaku menyaksikan perbincangan mereka.


"Aku titip pria galak itu ya. Aku yakin kamu bisa mengajarinya cara menjadi pria sejati di atas ranjang. Aku percayakan dia pada mu." Goda Stevie pada Dinda.


Sebelum dirinya pergi, ucapan itu sempat ia lontarkan. Ucapan terselubung.


"Oh iya Steve, alianor sepekan yang lalu mengadakan pesta pernikahannya dengan Qory di Berlin. Dan dalam waktu dekat ini dia akan mengadakan pernikahan ulang di Jakarta. Secara ekslusif dia meminta kamu datang." Stevie berujar sebelum dirinya menghilang di balik pintu kaca.


Steve tidak menjawabnya justru dia ingin mengumpat acara pernikahan alinor sebab membuat jiwa mudanya terusik. Sakit bagi matanya melihat pengantin berdiri bahagia di atas pelaminan. Dia menginginkan hal yang sama.


"Siapa alianor?" Dinda bertanya penasaran.


Steve menyipitkan matanya melihat wajah penasaran Dinda. Dagunya menopang pada tangan. Lalu ia santai di kursi kerjanya yang bisa bergerak kesana kemari.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2