UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 47


__ADS_3

Steve tiba di kantor pusatnya. Dia dengan sengaja mendatanginya karena di telepon oleh pegawai kantor.


Di ruang pemotretan, Steve melihat para fotografer, MUA, dan semacamnya sibuk pada kegiatan mereka masing-masing. Payung potret, kamera, pencahayaan dan tata rias semuanya di maksimalkan.


Steve bersama dengan Dinda berdiri di belakang fotografer. Dia melihat betapa okenya mereka dalam bekerja.


"Pak. Hari adalah hari terakhir pengambilan gambar dan video syuting. Kemungkinan dua hari lagi proses editing video dan gambar akan selesai.


Dan kami ingin menunjukkan hasil dari beberapa gambar yang kemungkinan cocok dengan pangsa pasar. Dua hari yang lalu, pihak vendor dari Jerman sudah menyetujui video syuting iklan perusahaan dan mereka suka dengan konsep pengambilan gambarnya.


Mereka menyukainya sesuai dengan brand yang dan image produk." Ucap salah Seorang pegawai Promosi datang menghampiri Steve sembari menunjukkan gadget besar seperti tablet.


Tablet yang berisi gambar Miko dalam bergaya mengenakan pakaian endorse perusahaannya beserta sepatu andalan yang menjadi primadona remaja milenial.


Steve melihat semua hasilnya. Keren dan luar biasa bagus setiap detail gambar yang di hasilkan. Steve tidak menyangka bahwa Miko bisa sekeren ini menjadi model perusahaannya. Steve tidak mengomentari apapun karena menurutnya semua sudah oke. Miko bagai model profesional sungguhan.


"Lakukan apa yang menurut kalian bagus. Aku serahkan semuanya pada kalian dan aku percaya kalian bisa melakukan yang terbaik." Ungkap Steve suka pada kinerja para pegawainya.


"Baik Pak. Kami akan melakukannya dengan baik." Imbuh wanita bertubuh ramping ini.


"Oh iya Pak! Semua laporan penjualan dari beberapa kantor cabang sudah siap dan kami telah meletakkannya di ruangan Bapak. Mohon Bapak memeriksa kebenaran laporan itu." Tambah wanita yang mengenakan id card di lehernya.


Tertera namanya dengan jelas, Mira. Dia adalah kepala bagian promosi sekaligus tim audit perusahaan Steve. Pakaiannya rapi dengan rambut di Cepol.


"Nanti akan aku periksa. Dan mulai hari ini Dinda akan menjadi sekretaris sekaligus tim akuntan di perusahaan ini. Aku ingin kedepannya semua laporan keuangan di serahkan padanya tanpa menunggu persetujuan ku." Ucap Steve menunjuk Dinda sebagai orang kepercayaannya.


"Baik Pak saya paham. Kalau begitu saya permisi dulu."


Tukas Mira sembari meninggalkan keduanya dengan sopan.


Steve mengangguk. Dia tahu para pegawainya tidak perlu di kasari, mereka bisa melakukan yang terbaik. Sembari matanya melihat Miko dari balik layar. Steve menyilang tangannya ke dada melihat aktivitas mereka dengan seksama.


"Maaf Pak. Mengapa harus aku yang menjadi sekretaris dan karyawan bagian keuangan? Bukankah di perusahaan ini banyak yang lebih bertalenta dari pada aku yang hanya lulusan universitas Indonesia bahkan tidak ada apa-apanya di banding pegawai di kantor ini. Mohon Pak Steve mempertimbangkannya dengan baik-baik." Tuntut Dinda membantah seakan dia tidak setuju pada tindakan Steve.


Steve melirik Dinda dengan tatapan tajam namun licik bak psikopat. Ia mengernyitkan dahinya sambil menyunggingkan senyumnya yang jelek tak lupa ia menunjukkan jari telunjuknya pada Dinda.


Steve mulai bertindak semaunya. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan menanggapi bantahan Dinda.


"Lantas jika aku yang memilih kamu sebagai sekretaris ku, memangnya ada masalah? Katakan siapa yang berani membantah ucapan ku?" Lirih Steve pada Dinda.


"Tidak.... Bukan begitu maksud ku." Ucap Dinda mencoba berkilah sembari menarik nafasnya dalam-dalam.


"Tetapi kamu mencoba menolak dengan alasan hanya lulusan universitas Indonesia? Begitu-kah yang kamu pikirkan?" Steve merespon cepat ucapan Dinda dengan kata-kata penuh tebakan.


"Ahm.... Sepertinya aku rasa begitu. Aku sedikit merasa tidak enak kepada karyawan lainnya. Apalagi mereka yang lulusan terbaik universitas Harvard bahkan menguasai lebih dari tiga bahasa asing.


Aku benar-benar merasa seperti menginjak harga diri karyawan di perusahaan ini Pak. Terlebih aku hanya menguasai satu bahasa asing. Dan aku merasa semua ini seperti lelucon belaka. Mohon Pak Steve memikirkan hal ini dengan baik." Sambil menundukkan wajahnya yang sendu, Dinda berusaha berbicara meyakinkan Steve agar mengubah keputusannya tadi.


Steve mendongak wajah Dinda yang tertunduk seakan malu pada dirinya sendiri sebab bukan bagian karyawan unggulan.


Ia menarik wajah Dinda agar melihat matanya. Wajah keduanya sangat dekat. "Aku tidak butuh mereka yang lulusan terbaik universitas manapun. Yang aku butuhkan adalah mereka yang bertanggung jawab seperti diri mu. Tidak peduli seberapa Pasih mereka menguasai bahasa asing, selagi mereka tidak ada tanggung jawab pada pekerjaan maka aku tidak membutuhkan mereka meski kecerdasan mereka di atas rata-rata." Steve berusaha meyakinkan Dinda agar percaya pada dirinya sendiri.


"Tapi Pak! Aku takut orang lain akan salah paham pada ku nantinya."


"Jangan pikirkan itu. Bahkan raja Mesir, ussermaatre saja lebih percaya pada Nevertari dari pada mendengarkan ucapan orang lain. Jadi aku mohon hilangkan stigma negatif mu itu. Aku tidak menyukai orang-orang yang pesimistis. Kamu harus membintangi ucapan ku ini." Ujar Steve kembali meyakinkan Dinda agar percaya pada apa yang ia katakan.


Dinda mengangguk menuruti ucapan Steve. Dan Steve membelai wajah Dinda dengan sikap ramah nan lembut.

__ADS_1


Hingga mereka lupa jika mereka sebenarnya berbicara sok mendramatisir di depan para fotografer. Namun beruntungnya bagi mereka, karena tidak ada yang memperhatikan pembicaraan mereka tadi.


Cekrek..... Cekrek.... Cekrek....


Suara kamera beserta lampu kilatnya yang menyilaukan terus menerangi ruangan yang sedikit gelap ini. Para fotografer profesional dan handal terus melakukan dengan baik.


Steve sudah melupakan ucapan Mereka tadi. Tetapi dinda masih kepikiran. Sebab, dia tidak menginginkan hal ini. Semua orang akan berpikir bahwa dia adalah wanita nakal yang hanya memanfaatkan bosnya itu.


Dalam arti lain orang-orang beranggapan bahwa dia masuk ke perusahaan besar ini bukan berdasarkan akademinya tetapi karena parasnya. Dinda tidak bisa membayangkan ini akan terjadi. Di cibir orang lain berdasarkan pemikiran dangkal belaka.


Dinda melirik wajah Steve yang fokus melihat adiknya yang sedang asik berdiri di depan kamera. Dia benar-benar merasa bersalah jika harus pindah ke kantor pusat ini sebagai bentuk mobilisasi.


Steve tahu apa yang Dinda pikirkan tentang dirinya. Tetapi Steve juga tidak mau melepaskan Dinda yang ia nilai potensial dengan kemampuannya dalam bidang keuangan. Secara gamblang Steve menebak apa yang sedang Dinda pikirkan.


"Jangan pikirkan hal itu lagi. Tidak akan ada yang berani mengatakan kamu wanita nakal. Aku akan memberantas mereka jika berani mengatakan hal ini di depan ku." Steve bersikap sok dingin kali ini, agar dinda lebih mengerti ucapannya ketimbang rumor orang yang tidak penting.


Dinda paham. Dan dia tidak bergeming atas ucapan Steve. Ucapannya dalam menebak sungguh tepat sesuai apa yang di pikirkan olehnya.


Steve fokus melihat sesi pemotretan Miko. Dan setidaknya Steve mengakui bahwa dia cukup kagum pada visual Miko. Di tengah sibuknya menjadi model perusahaannya, dia terlihat menawan. Alih-alih membahas perkataan Dinda yang terlalu merendahkan diri sendiri.


Saat itu seluruh pakaian Miko di balut oleh warna hitam. Jas, celana dan dasinya berwarna hitam legam kecuali baju putih dan sepatu yang menjadi pembeda. Penampilannya sungguh memukau bagai model profesional.


"Oke selesai."


Teriak fotografer menyelesaikan tugasnya.


Yap, dengan senang hati Miko mengakhiri kerjanya. Sepanjang dari tadi pagi dia belum istirahat dan terus saja berdiri tanpa henti. Bahkan makan pun belum sempat sebab memburu jadwal foto yang padat.


Mengganti pose dan gerakan tubuhnya sungguh melelahkan bagi Miko.


Dia melihat kakaknya yang berdiri di belakang kamera. Kaki Miko tersinkronisasi untuk menghampiri Dinda yang tampak menunggu dirinya.


Dinda tersenyum seraya mengelus wajah Miko. "Kakak kesini hanya ingin melihat saja. Dan kamu terlihat ganteng banget pakai setelan jas ini. Kamu memang cocok dengan apapun jenis pakaian?" Dinda memuji adiknya. Untuk sesaat dia melupakan pembahasannya dengan Steve tadi.


"Terima kasih kak atas pujiannya." Balas Miko sambil menikmati belaian kakaknya yang kini mengelus rambutnya.


Steve melirik tingkah Dinda. Dia melakukan hal tak senonoh itu di depan wajahnya. Mungkin sejenis cemburu, sehingga wajahnya berubah masam melihat tingkah mereka.


"Di depan ku dia berani bertindak begitu. Apa dia tidak tahu bahwa aku juga pria. Dia pilih kasih dalam memperlakukan aku dan adik-adiknya. Benar-benar tidak bisa di diamkan kalau sudah begini." Steve menghardik tingkah Dinda.


Dia kesal melihat Dinda melakukan hal itu pada adiknya, sementara dirinya justru di tanggapi dengan sikap jutek. Tak adil, mungkin begitu yang Steve rasakan. Dia ingin juga di perlakukan seperti itu oleh Dinda.


EHM.....


Steve mendeham, seolah mengambil nafas sebelum menegur tingkah Dinda yang begitu perhatian pada adiknya.


"Di perusahaan ini memegang rambut dan wajah seorang lelaki sama saja seperti melakukan tindakan asusila. Apa kamu tidak malu melakukan hal ini di depan banyak orang?" Lirih Steve pada Dinda. Steve bersikap sedikit kekanak-kanakan.


"Tapi dia kan adik ku. Aku tidak merasa melakukan tindakan-tindakan asusila apapun." Timpal Dinda bicara sewot.


"Meskipun itu adik mu. Aku melarangnya!" Tukas Steve dengan nada bicara yang terdengar sedikit parau dan tidak suka.


"Apa dia marah karena aku menyentuh Miko? Masa sih dia marah karena hal ini?" Batin Dinda kebingungan menanggapi bicara Steve.


Miko melirik keduanya, sebab heran saja pada kelakuan mereka yang terlihat seperti kekanakan.


"Sudah..... Sudah..... Kak Dinda dan Pak Steve tidak perlu bertengkar karena masalah kecil ini. Aku bisa memakluminya." Miko berusaha menjadi penengah untuk debat kecil keduanya.

__ADS_1


Steve menghela nafas panjang. Ia mendengarkan apa yang Miko katakan.


"Ayo kita cari makan saja, dari pada membahas tingkah asusila ini. Kalian pasti lapar kan!" Seru Steve mengganti pembicaraan mereka sembari menyindir Dinda.


"Tapi Pak Steve, aku hari ini ada jadwal tanda tangan penjualan produk lokal nanti. Bisakah aku tidak ikut bersama kalian," ucap Miko menolak.


Steve yang sudah membalikan badannya yang hendak keluar, kini melirik wajah Miko dengan tatapan tajam khas dirinya yang kejam. Steve kembali membalikan tubuhnya saat Miko mengatakan hal ini.


"Itu bisa di undur besok. Aku akan menghubungi staf promosi."


"Tapi pak. Aku rasa kalian berdua pergi makan saja sudah cukup. Aku masih ada kegiatan lain setelah ini." Bantah Miko yang sama kerasnya dengan Dinda.


"Aku tidak suka penolakan. Karena menolak permintaan ku sama saja seperti tidak menghargai aku."


"AHM..... Baiklah Pak! Jika tidak merusak waktu kalian, aku akan ikut." Tukas Miko menuruti perintah Steve.


Dinda menyikut Miko seraya menatap adiknya dengan wajah sok di garang kan. "Jangan bicara seperti itu. Kakak dan Pak Steve tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Dinda merevisi pemikiran Miko.


Steve menggeleng, dia merasa Dinda tidak perlu melakukannya sebagai bentuk pembelaan.


"Lupakan pertengkaran ini. Makan siang paling penting dari pada membahas bucin level idiot." Ujar Steve.


Keduanya hanya setuju saja. Lagi pula mulut Dinda tidak bisa diam untuk menjawab setiap kata-kata Steve yang penuh perdebatan kecil ini.


Atau jika Dinda terus mendebatkan hal ini, bisa saja tidak ada ujungnya dari pertengkaran absurd ini.


****


Steve mengemudi mobilnya. Mencari tempat makan yang mahal. Persis di sebelahnya Dinda duduk dengan manis sementara Miko duduk di kursi bagian belakang.


Selama sepuluh menit mengemudi, tidak jauh dari kantor Steve, pria ini menyandarkan mobilnya di salah satu hotel berbintang. The seven hotels, itulah namanya. Nama hotel yang terpampang di depan gedung yang menjulang tinggi.


Steve memilih hotel ini bukan untuk bersenang-senang, melainkan dia tahu jika di dalamnya terdapat restoran mewah.


Tahun lalu Steve datang ke ballroom hotel ini untuk menghadiri ulang tahun kerabat dekatnya. Jelas dia sedikit tahu bahwa tempat ini memang restoran baik yang pernah ia temui.


Mereka masuk kedalam restoran hotel. Seperti biasa Steve di sambut hangat oleh para pelayan dan resepsionis.


Siapa yang tidak kenal dengannya, pengusaha yang sudah menjadi langganan hotel mewah ini.


Steve menuju ke meja resepsionis. Tidak perlu bicara, biasanya mereka sudah paham apa yang membuat Steve datang kemari.


Tetapi, kali ini ada hal yang tidak bisa di pungkiri olehnya. Sesuatu yang mungkin saja tidak bisa ia terima saat ini.


"Maaf Pak. Bukan kami tidak ingin memberikan pelayanan kepada Pak Steve. Hanya saja seluruh meja restoran sudah di booking oleh seorang pengusaha yang sedang mengadakan acara pertunangan. Jadi kami tidak bisa me-reservasi ulang meja restoran untuk Bapak. Mohon Pak Steve mengerti atas kelalaian manajemen hotel kami." Ungkap salah seorang pria bicara merendah.


Mungkin pria ini adalah manajer atau pengelola hotel. Dia ahli dalam bicara merendah dengan sopan.


Steve memahami hal ini. Dia juga tidak ingin merusak suasana kebahagiaan orang lain.


Apalagi ini adalah acara pertunangan. Steve bisa merasakannya. Setiap kebahagiaan yang datang hanya sekali seumur yang akan menyatukan keduanya.


Mau tak mau dia harus mengganti tempat untuk makan siang hari ini.


Steve melirik Dinda dan Miko dengan tatapan mengecewakan.


Steve mengangkat kedua bahunya seakan mewakili bicaranya yang nihil.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2