UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 57


__ADS_3

Pagi itu Steve tersenyum riang gembira. Wajahnya cerah secerah mentari pagi yang masuk kedalam ruangan kerjanya.


Dia berdiri di jendela kaca, menyibak tirainya ke pinggir sisi kanan kiri jendela. Dia menatap sinar matahari sambil membayangkan wajah Dinda.


Steve tidak percaya bahwa dia dan Dinda kini benar-benar sudah resmi menjadi sepasang kekasih. "Selangkah lagi aku akan menjadi suami mu kekasih tercinta ku."


Begitulah kata Steve yang kian makin menjadi korban budak cinta.


Semenjak Dinda mengatakan perasaannya, Steve makin narsis dan berpikir aneh-aneh.


Pikiran Steve sudah di penuhi bumbu-bumbu cinta. Membayangkan wajah Dinda sama rasanya dengan menjelajahi bulan bagi Steve. Sangking terpesonanya Steve pada wajah kekasihnya itu, bunga yang ada di atas meja kini ia genggam dan ia kecup bahkan ia cium keharumannya seakan sedang mencumbui Dinda.


"Mulai saat ini kita akan seperti ini. Menjadi sepasang kekasih dan saling mencintai satu sama lain. Apapun yang terjadi kelak, kita akan tetap bersama. Berjanjilah." Steve mengingat kembali kejadian tadi saat mereka berada di rumahnya.


Dinda menjawab dengan ekspresi meyakinkan. "Aku akan selalu seperti ini. Aku berjanji tidak akan berubah sedikit pun."


Kata-kata ini menjadi momentum tersendiri bagi Steve. Dia menanti hal ini dari saat pertama dia mengenal gadis itu. Dia tidak menyangka jika semuanya akan terjadi. Begitu nyata bagi Steve yang tidak seromantis raja Babilonia ataupun raja pendiri Taj mahal.


Dari balik pintu Steve terdengar suara ketukan. Steve melirik sekilas siapa yang mengetuk pintu ruangannya. Dia merasa sedikit terasa terganggu karena seseorang menyela dirinya yang sedang di bayangi oleh wajah Dinda.


Tetapi Steve harus bersikap profesional sebagai atasan. Mulutnya berkata 'masuk' kepada seseorang yang mengetuk pintunya. Tetapi, hatinya ingin mengutuk dia yang telah mengganggunya.


"Pak Steve. Ini proposal yang kami terima dari departemen Humas," wanita itu tanpa basa-basi langsung memulai bicara.


"Pihak penyelenggara World Cup 2021 yang akan di selenggarakan di Indonesia, ingin belagio sport menjadi partner sekaligus menjadi sponsor utama dalam kejuaraan bergengsi ini. Mohon Pak Steve pertimbangkan dan pelajari dahulu ketentuan di dalamnya."


Dari belakang punggung Steve, wanita itu bicara langsung pada intinya. Tetapi samar-samar Steve mengenali suara ini. Suara lembut gadisnya itu, Dinda.


"Kenapa di kantor ku harus ada panggilan Pak. Apa calon istri ku sudah mulai melupakan ucapan kita sebelumnya." Steve mengingatkan kembali Dinda. Bicara Steve pagi itu cukup penuh percaya diri mengakui semua ini.


"Pak Steve! Ini di kantor. Aku tidak mau orang-orang salah paham."


"Lantas jika ini di kantor ku kenapa? Ada yang salah?"


Ucapan Steve sepertinya selalu saja di lupakan oleh Dinda. Dinda tahu kalau Steve ahli dalam memenangkan pembicaraan.


Jalan satu-satunya bagi Dinda adalah mengalah. Atau, mereka akan bicara panjang, sepanjang jalur cepat Jakarta-Surabaya-Bandung.


"Baiklah. Terserah Pak Steve saja." Pungkas Dinda menyerah berdebat.


"Steve. Atau kamu bisa memanggil ku sayang, honey atau my baby? Aku ingin mendengarnya."


Dinda menghela nafas panjang. Sulit baginya meladeni pria yang begitu narsis ini. "Kita kan baru saja pacaran. Masa harus aku memanggil dengan sebutan kuno begitu! Sudah tidak jaman lagi sok meromantiskan diri seperti itu. Ingat kita bukan remaja lagi."


Steve menyunggingkan bibirnya. Dia kemudian mendekati Dinda. "Apa kamu lupa? Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Steve. Aku ingin kamu mengingat semua yang aku ucapkan."


Dinda menghela nafas panjang dan berat. Dia mengalah kembali, dan menurutnya menuruti perkataan Steve jauh lebih baik ketimbang membantahnya.


"Oke. Aku akan memanggil Steve, bahkan aku akan mengaku bahwa aku akan menjadi nyonya Steve. Bagaimana? Puas?"


"Sangat puas." timpal Steve berbahagia.


Dia memandang wajah wanitanya sambil tersenyum sok manis.


Melihat Steve bersikap begitu, Dinda ingin tertawa. Tetapi dia lebih mengutamakan tugasnya sebagai karyawan ketimbang menjadi kekasih CEO galak seperti Steve.


"Baiklah jika sudah puas, mari kita kesampingkan lebih dahulu masalah romantis ini. Mari kita bahas poin berikutnya." Lanjut Dinda meminta Steve melupakan kejadian ini. Dia hanya ingin fokus pada pekerjaannya.


Dinda mulai hari ini sudah di pindah tugaskan. Sekarang dia sudah bekerja sebagai sekretaris Steve di kantor pusat dan tidak akan kembali lagi ke kantor cabang yang di anggap Steve bobrok bahkan tidak lama lagi akan roboh.

__ADS_1


"Pak Steve! Apa anda mendengarkan aku." Dinda menyeringai Steve yang melamun sambil melambaikan tangannya di wajah Steve.


"Aku mendengarnya," jawab Steve. "Tapi, aku minta di peluk sekali saja, baru aku akan mendengarkan semua apa yang kamu ucapkan. Kalau tidak mau, aku juga tidak akan mendengarnya." Steve pura-pura merajuk demi mendapatkan perhatian Dinda.


"Aku tidak mau. Ini di kantor, aku takut orang lain akan melihat dan akan terjadi salah paham. Mohon Steve mengerti."


Dinda menolak tegas.


Dinda menolaknya, tetapi Steve menyukai kata-kata yang terkesan menggantung ini. "Jadi kalau tidak ada orang berarti aku boleh memeluk sepuas hati. Begitu kah yang ingin kamu katakan."


"Cih ... Siapa juga yang mau di peluk. Aku nggak mau melakukan ini."


Wajah Dinda merona saat berbicara. Bahkan hatinya makin berdebar kencang dan sedikit sesak saat pria ini menggodanya.


Steve makin menyukai tingkah gadisnya ini. Setiap kata-kata yang di ucapkan Dinda adalah nafas bagi Steve. Tidak peduli siapa yang akan melihat tingkah mereka, Steve menarik gadisnya lalu langsung memeluknya.


"Dinda," Steve mengerat, sambil bicara membisik. "Tetaplah begini, aku merindukan momen ini. Aku menyukai mu dari setiap detail tubuh mu. Tidak peduli apapun aku sangat menyukai mu." Steve berbisik sambil memainkan rambut panjang Dinda.


Apalah daya bagi Dinda, dia tidak bisa menolaknya. Sebab Steve tidak akan melepaskan pelukannya jika sekali saja sudah di peluk, maka butuh waktu yang cukup lama bagi Steve untuk melepaskannya.


"Steve! Kita harus bekerja," seringai Dinda. "Cepat lepaskan pelukan mu ini." Dinda ingin melepaskan diri dari pelukan, tetapi pria itu justru tidak mengindahkannya.


"Tetap begini saja. Aku tidak akan melepaskannya." Jawab Steve tak mengindahkan perkataan Dinda. "Aku ingin terus seperti ini. Sampai kapanpun."


"Oke. Kamu memeluk ku itu terserah kamu saja. Tetapi, kamu harus mendengarkan apa yang ingin aku katakan." Dinda menuruti kemauan Steve. "Sebenarnya...."


"Katakan itu nanti," Steve menyela. Dia menghentikan Dinda berbicara sambil melepaskan pelukannya. "Aku tidak mau membahas masalah kantor hari ini," tandas Steve sambil menarik tangan Dinda.


Steve menarik tangannya, membawa Dinda keluar dari ruangannya.


"Mau kemana kita?" tanya Dinda, mereka berada di depan ambang pintu kaca ruangan Steve. "Ini masih jam kerja ku, Steve!"


"Iya, tapi kemana? Ini jam kerja ku. Nanti orang-orang akan menganggap ku bolos kerja hari ini," Dinda melepaskan pegangan tangan Steve, sambil menatap jam di tangannya. "Kamu lihat, jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Kita baru saja mulai kerja, sekarang malah pergi jalan-jalan," Dinda menggerutu.


Steve merendahkan kepalanya, dia menatap wajah Dinda sangat dekat, nyaris menempel. "Yang punya kantor siapa? aku. Yang bos disini siapa? aku juga. Terus yang akan marah kalau kamu bolos kerja siapa? hanya aku yang boleh marah. Kamu mengerti," Steve tak peduli pada perkataan Dinda.


Dia mengakhiri bicaranya sambil mengedipkan satu matanya.


"Tapi....."


"Tidak ada tapi-tapian," Steve berkata mencecar. "Aku anak sultan disini, jangan membantah," tukasnya sambil membuang berkas yang ada di tangan Dinda.


"Itu berkas penting, kenapa harus di buang?" dinda berkata, seakan berkas di dalam itu adalah segalanya. "Lagi pula ini adalah hari pertama ku masuk kerja disini," Dinda mengingatkan Steve.


"Kamu harus tahu, kalau aku pacar yang posesif," Steve memberitahu. "Aku nggak suka kalau tangan pacar ku di sentuh oleh siapa pun termasuk berkas kotor itu," Steve terlihat sedikit sebal.


Dinda terkekeh saat mendengar pengakuan Steve. Dia tak menyangka jika Steve bisa cemburu pada benda mati itu.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Steve. "Kamu meledek ku ya."


Dinda menghentikan senyum kecilnya. "Bukan begitu, kamu imut saat cemburu dengan berkas itu," ledek Dinda.


Steve mendongak dagu Dinda, alisnya terlihat memuncak. "Sebegitu bahagianya gadis jelek ku, melihat kekasihnya posesif," Steve berkata narsisme. Inilah sisi lain Steve, pria yang selalu mengakui dirinya ini itu tanpa menunggu orang lain yang mengatakannya.


Steve kembali pada point' terpentingnya, membawa Dinda pergi bersamanya.


Namun bukan Dinda namanya, jika dia tidak membantah biar sekali pun.


"Steve," Dinda menghentikan langkah pria yang menariknya itu. "Bisa tidak, kalau aku tidak menemani kamu jalan-jalan pagi hari ini."

__ADS_1


Steve menyorotinya dengan tatapan tajam. Dia tidak suka penolakan. "Bayar sepuluh juta atas penolakan ini, maka aku akan melepaskan kamu. Gimana?" Steve memberikan penawaran.


"Sepuluh juta!" Dinda tertegun kaget. "Hanya tidak menemani jalan-jalan, aku harus membayar sepuluh juta."


"Aku anak bos, anak sultan sekaligus pemilik perusahaan ini," Steve menjelaskan. "Dan aku tidak suka penolakan. Jadi , sepuluh juta atas penolakan ini, aku rasa lumayan untuk ku sekali belanja segudang terasi."


"Tapi bagaimana karyawan lain akan melihat ku nanti. Mereka pasti akan protes pada ku," Dinda masih berkilah. Idenya dalam membantah belum berakhir.


"Karyawan lagi, karyawan lagi," Steve menatap Dinda serius. "Kenapa kamu harus peduli pada komentar orang lain. Aku disini yang berkuasa, dan aku tidak akan membiarkan orang lain berkomentar pada mu. Aku jamin itu," Steve berjanji. "Aku tidak akan membiarkan orang lain berkomentar aneh-aneh terhadap gadis kecil ku!"


Dinda tak berkata apapun, semua yang dia katakan Steve benar. Dia pemilik perusahaan, dia bos, dia yang berkuasa. Siapa yang akan marah saat dirinya di bawa pergi oleh Steve.


"Oke, aku ikut," ucap Dinda menuruti perintah Steve. "Tapi, aku pakai make up dulu, baru kita pergi."


"Nggak boleh," Steve menyentaknya. "Biarkan kamu jadi gadis jelek seperti ini, nanti kalau kamu cantik, banyak pemuda di luar sana yang akan melirik," Steve sedikit berkata ketus.


Dinda termangu. Dia tidak bisa percaya bahwa dirinya sudah berbeda sekarang.


Sebelum dinda menjadi kekasih Steve, dia bebas ber-make up. Namun, kali ini semua berbeda, Steve telah memonopolinya.


"Walau hanya secuil menggunakan makeup pun tidak boleh," Dinda berkata sedikit heran.


"Tidak boleh," jawab Steve. "Sekalian tidak perlu pakai makeup selama-lamanya. Kan irit," Steve dengan idenya memberi saran sekaligus perintah.


Dinda menuruti kemauan Steve, apa yang di katakan oleh pria itu selalu saja sulit di bantah. "Steve memang yang terbaik," tandas Dinda berwajah masam.


Tanpa basa-basi, Steve langsung menarik lengan Dinda. Dia membawanya keluar dari kantor, pergi entah kemana tanpa tujuan.


Steve tak berkata ingin membawa Dinda jalan kemana. Yang jelas tindakan Steve kali ini sulit di tebak oleh dinda. Di atas mobilnya, Steve tancap gas, bahkan sempat beberapa karyawannya yang berpepasan dengannya di lobby kantor di abaikan olehnya ketika para pekerja giat di kantornya itu menyapa.


Bahkan beberapa karyawan yang ingin mengantarkan berkas-berkas penting menuju ke ruangan kerjanya, ia tolak. Dia berlaku sok sibuk bahkan tak peduli pada karyawan yang telah berusaha keras untuknya.


Steve ahli dalam membuat orang lain murka.


Mobil yang di kendarai Steve melaju kurang lebih setengah jam lamanya. Steve membawa Dinda menggunakan mobil hitam yang baru saja ia beli dari Barcelona tempo hari.


Steve membawa Dinda menuju ketempat yang sulit di ketahui oleh Dinda. Tidak terasa mobil yang Steve bawa masuk kedalam sebuah lobby parkiran gedung.


Dia menurunkan kaca matanya, melirik Dinda yang sedari tadi tak bersuara.


Kebiasaan Steve, ketika berkendara mengenakan kacamata hitam yang besar. Bahkan kadang kaca mata itu melorot terjatuh melewati tulang hidungnya yang lurus.


Dinda setiap kali melihat kacamata Steve yang terjatuh melewati celah tulang hidungnya, harus menahan tawa. Maklum saja, hidung Steve kecil dan lurus, jadi wajar saja Dinda ingin terus tertawa tiap kali melihat tingkah konyol itu. "Hidung yang indah," Dinda memujinya.


"Kita sampai," kata Steve memulai bicara yang sedari tadi hening. Dia memarkirkan mobilnya di antara beberapa mobil mewah lainnya.


"Ini di mall?" Dinda menyadarinya, mereka sekarang ada di sebuah mall terbaik di Jakarta. "Kenapa kesini?" Dinda penasaran. "Apa maksudnya, kita akan jalan-jalan di mall. Begitu-kah?" Dinda berusaha menebaknya.


Steve mengangguk, Dia membenarkan tebakan Dinda. "Iya. Kita jalan-jalan di sini, tidak masalahkan."


"Tapi kenapa harus mall?" tanya Dinda lugu. "Jalan-jalan biasanya ke pantai atau ke tempat hiburan lainnya. Nggak harus ke mall kan," dengan idenya, Dinda seolah menyarankan tempat lain.


Steve mendengus, dia tidak butuh saran Dinda. "Sudahlah. Kita sudah di sini, kenapa harus mencari tempat lain. Pergi kesini, sudah menjadi impian ku sejak dulu," Steve mengakuinya.


"Impian," ucap Dinda tersentak kaget. "Jangan bilang, jika Steve belum pernah berkunjung ke sini."


Steve tak menjawabnya, tapi dia mengisyaratkan melalui alisnya yang terangkat.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2