
"Kau!" Steve memekik berekspresi kaget. "Sedang apa kau di sini?" Lanjut Steve bertanya heran.
"Aku!" Niko mengulangi ucapan Steve sambil tangannya menunjuk ke dirinya sendiri.
"Aku..... Tentu saja aku sedang menjaga toko. Memangnya ada apa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Niko balik bertanya penasaran.
Niko yang menjaga meja kasir sedikit tak mengerti saat pria itu, Steve berbicara dengan nada sedikit membingungkan seakan mereka pernah bertemu.
"Hah.... Baru sehari tidak bertemu dengannya, dia sudah melupakan aku?" Batin Steve kebingungan pada kisah ini.
"Apa kau tak mengenal ku?"
"Mengenal kakak?" Niko kembali mengulangi ucapan yang di lontarkan oleh Steve.
"Iya aku? Apakah kau tidak mengenal ku?" ucap Steve bicara serius.
"Hmmm..... Mungkin kakak salah orang. Aku merasa kita tidak saling mengenal. Maafkan aku jika aku bicara sebenarnya!"
Steve sedikit bingung saat Niko tak mengenali wajahnya. Mengapa dirinya di lupakan oleh anak yang jelas-jelas ia mengenalinya beberapa hari ini.
"Apa dia terkena amnesia...... Mungkinkah begitu sehingga dia melupakan wajah ku!" Steve makin bingung.
"Kau Miko bukan?" Steve bertanya memastikan.
"Aku...." Lagi-lagi Niko dengan wajah polos dan lugunya mengulangi ucapan Steve sambil menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh. Ia nampak seperti kebingungan, bagai orang yang tersesat di tempat yang entah berantah dimana rimbanya.
"Iya kamu. Kamu Miko kan?"
"Kakak mungkin salah paham. Nama ku Niko, dan aku bukan Miko." Kilah Niko bicara jujur.
"Niko?"
"Iya aku Niko!"
Steve terlihat makin bingung pada kejadian ini, dan ia mulai merasa ikutan seperti pria tolol yang tak waras.
"Lalu, yang aku temui di kantor beberapa waktu ini bukankah kau?"
"Oh.... Mungkin aku rasa kakak bertemu dengan kembaran ku, Miko?" Niko mulai paham maksud Steve.
"Jadi maksudnya kalian kembar begitu?" Steve bicara memastikan dengan wajahnya yang begitu kebingungan.
Niko mengangguk membenarkan ucapan Steve. "Kami kembar identik, sehingga banyak orang yang kesulitan dalam mengenali wajah kami. Kakak bukan satu-satunya yang salah mengenali kami, mungkin kakak adalah orang yang ke seribu dalam kekeliruan ini."
"Mungkin kakak ingin bertemu dengannya, aku akan memanggil kak Miko jika kakak ada perlu dengannya." Ujar Niko memahami situasi.
Steve hanya terdiam tak bisa mengatakan apapun. Mulutnya bagai di lem dengan erat, otaknya berpikiran entah kemana membayangkan kedua wajah kembar itu.
Seumur-umur Steve, mungkin baru kali ini ia bertemu dengan anak kembar. Sebab anak kembar lazim di temuinya di televisi atau di komik-komik yang tercetak menjadi buku. Itu pun biasanya kembar jelek saat ia melihatnya di jejaring sosial, tidak setampan yang ia lihat.
Niko memulai berteriak memanggil Miko yang sedang merapikan buku di beberapa rak. "Kak Miko...." Teriak Niko dengan suara lantang.
"Kak Miko ada yang ingin bertemu dengan kakak!" Seru Niko dari meja kasir yang terletak di dekat pintu masuk.
"Kakak bisa menunggu kak Miko sebentar. Dia sedang merapikan buku. Sekalian kakak bisa melihat-lihat buku yang ada di toko kami." Ucap Niko kembali bicara sedikit hangat pada Steve yang berdiri di depannya.
Steve memasang ekspresi bingung sembari mengurut dagu seakan dia memiliki janggut.
Miko yang sedang merapikan buku, mendengar teriakan adiknya. Sedikit terkejut karena biasanya tidak ada yang mencarinya pagi-pagi seperti ini, kecuali para sahabat karibnya yang ia anggap tak ada gunanya bersahabat, kecuali dia memang ingin berteman.
"Siapa sih yang ingin bertemu dengan ku sepagi ini." Celetuk Miko seraya menebak.
Jeduk......
"AW....." Miko berteriak sakit sebab kepalanya terbentur rak buku yang ada di atasnya saat ia ingin berdiri normal.
"Rak sialan," ucap Miko sambil balik membalas dan memukul rak yang ia anggap durhaka pada kepalanya.
Ia mengelus kepalanya, sakit, mungkin memar atau setidaknya membiru tetapi ia tak bisa melihat karena matanya kurang menjangkau area kepala. Rasanya nyut-nyutan tetapi ia menggaruknya karena sedikit gatal di sekitar kepala yang terbentur rak buku yang terbuat dari papan itu.
Ia menuju ke sumber suara adiknya, Niko. Ia penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya sepagi ini. Sambil mukanya semrawut jengkel menahan sakit.
"Siapa yang ingin bertemu dengan ku." Tanya Miko jutek.
"Tuh, kakak itu yang mencari kak Miko." Balas Niko sembari mulutnya menunjuk ke arah pria yang membelakangi mereka.
"Wajah kakak kenapa? Kok terlihat sendu begitu?" Niko penasaran karena melihat kakaknya datang dengan semrawut wajah kesal.
__ADS_1
Tangannya memegang kepala sedari tadi.
Setidaknya Niko sedikit memperhatikan wajah kakaknya.
"Tidak apa-apa!" Pungkas Miko singkat.
Niko mengernyitkan dahinya karena di jawab dengan ucapan singkat. "Cuih....." Niko mendengkus nafasnya
Miko menghampiri pria yang di maksud dengan Niko tadi. Mula-mula ia mendekati tubuh pria yang tinggi mereka hampir sama.
Pria itu berpakaian kasual tapi terlihat rapi dan keren.
"Maaf! Apa kakak mencari ku." Tanya Miko mulai bicara.
Steve membalikan badannya saat mendengar Miko bicara.
"Aku tidak mencari mu! Tapi adik mu lah yang heboh!" Balas Steve dengan bahasa tegas.
Mata Miko terbelalak membesar dan mulutnya menganga terbuka lebar. Ia kaget karena bertemu Steve pagi itu. Ia tak menyangka hal ini akan terjadi.
"Pak Steve! A - A - apa yang bapak lakukan disini?"
Miko berekspresi terkejut, bicaranya pun gugup seakan ia bertemu dengan setan di hari yang cerah begini.
Steve menaikan dua alisnya yang tebal, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung. Bingung pada pertanyaan yang aneh dan rancu dari Miko tadi. "Apa yang aku lakukan?" Steve mengulangi ucapan Miko dalam batinnya.
"Aku sedang mencari novel Unintentional keluaran terbaru. Dan mencari novel lain sebagai referensi baca di waktu luang ku." Steve berkilah.
Kini Steve melihat kedua wajah kembar identik itu. Ekspresi yang ia tunjukan tak tanggung-tanggung. Ekspresi luar biasa takjub pada visual Niko dan Miko.
Niko dan Miko saling bisik berbisik di hadapan steve. "Apa kakak mengenalnya?" Bisik Miko pelan.
"Iya. Dia pemilik perusahaan tempat kakak menjadi model." Pungkas Miko membalas bisikan adiknya.
"Ooooo..... Jadi apakah dia kesini mencari kakak," Niko kembali berbisik pelan, mungkin hanya mereka dan semut yang tahu pokok pembicaraan itu.
"Entahlah. Kurasa begitu." Tukas Miko seraya mengangkat kedua bahunya.
"Ehm.." Steve sedikit mendeham sok berwibawa menutupi dirinya yang sedikit termenung melihat dua anak berwajah amat mirip yang sedang berbisik pelan di hadapannya.
Dinda yang sedang berada di ruang lain, juga mendengar teriakan Niko. Teriakan Niko memanggil kakaknya Miko, membuat dinda tertarik untuk tahu. Ia memotong pembicaraan.
"Siapa yang mencari kak Miko?" Tanya Dinda yang menghampiri mereka bertiga tergesa-gesa. Ia datang dari belakang adiknya Miko.
Hal pertama yang ia lihat bukanlah kedua adiknya tetapi Steve yang ada di hadapannya.
"Pak Steve!" Sebut Dinda dengan ekspresi ikut kaget.
Steve kembali bingung melihat kejadian ini. "Kalian!" Ucap Steve pada ketiganya seraya jarinya menunju ke arah Dinda.
"Jadi kalian bertiga kakak adik?" Lanjut Steve bicara.
Niko dan Dinda mengangguk, tetapi Miko dengan senyum masam ingin membuang muka saat itu juga. Ia tak tahu jika hal ini akan terjadi.
****
Sepanjang mereka berdiri, Steve memberitahu Dinda jika Miko adalah model untuk perusahaannya. Panjang, lebar dan mendetail ia menceritakan semuanya.
Dinda tidak takjub pada cerita Steve, tetapi ia bersikap garang saat itu.
Sehingga dinda dengan perilaku bagai seorang Intel, berusaha mengintrogasi kebohongan ini.
Tepat di dalam perpustakaan yang mereka sebut begitu, di sebelah toko buku namun dalam satu ruangan dan ruangan ini khusus untuk pelanggan meluangkan waktu dan belajar. Di meja bundar berwarna cokelat kehitaman, namun besar ukurannya dengan kursi berjumlah sepuluh buah, Dinda meminta keduanya duduk menjelaskan semua itu.
Semua kebohongan yang telah mereka lakukan. Dinda duduk dengan menyilang kedua tangannya di dada dan tepat di sebelah Dinda. Steve duduk dengan manis menyandarkan diri di bahu kursi.
Sementara Miko dan Niko duduk tepat di hadapan mereka. Keduanya patuh dan tak membantah.
"Coba jelaskan kepada kakak maksud dari kebohongan kalian ini." Ujar Dinda sembari melemparkan sebuah berkas yang terbungkus oleh map sejenis plastik berbentuk tas transparan.
Miko tertunduk diam tak berkata apapun saat melihat kertas tersebut. Ia paham pada kertas yang di lemparkan kakaknya di atas meja itu. Kertas pengajuan diri sebagai model di perusahaan Steve.
Kini hancur sudah kebohongannya, dan sudah tidak ada jalan baginya untuk beralibi.
"Dan juga, Miko telah membohongi kakak dengan mengatakan telah menggunakan sepatu BELAGIO imitasi yang di jual daring. Apa maksudnya kalian membohongi kakak?" Dinda menuntut penjelasan.
"Anu..... Kak Dinda..... Sebenarnya....."
__ADS_1
Miko kelagapan dalam berbicara. Ada perasaan gugup untuk bicara terlebih saat Steve ada di hadapan Miko, tak sanggup ia bicara jujur.
"Sebenarnya ini ide Niko kak." Niko memotong pembicaraan.
"Niko yang memaksa kak Miko agar menjadi model dan membuat berita palsu agar kami bisa keluar asrama. Semua ini adalah ide Niko kak. Tolong maafkan Niko dan Niko janji setelah ini Niko akan kembali ke asrama."
Miko melirik Niko dan ia menyikut baju adiknya karena tak setuju dengan pengakuan tersebut.
"Tidak kak!" Miko berkilah.
"Sebenarnya ini semua ide Miko. Miko lah yang mengajak dan meminta Niko berbohong saban hari itu. Dan Miko memang menggunakan sepatu dari perusahaan wong sebagai hadiah atas berpartisipasi sebagai model. Mohon kakak jangan menghukum Niko, biarkan Miko saja yang kembali ke asrama." Miko bicara mengakui perbuatannya.
Steve yang melihat tingkah kedua adik dinda yang patuh tersebut membuatnya sedikit terkekeh. Sedangkan Dinda mengurut keningnya sebab bingung atas kedua penjelasan yang ia pikir absurd dan begitu bertele-tele.
"Pak Steve. Bukankah Pak Steve sendiri yang memberikan aku dua buah sepatu itu. Tolong pak katakan pada kak Dinda agar dia percaya bahwa aku tidak berbohong." Miko kali ini memelas iba kepada Steve.
Dinda melirik wajah Steve dengan tatapan penuh intrik saat mendengar ucapan Miko.
Seakan mata itu ingin mengatakan, "Apakah benar apa yang di katakan Miko?" Mungkin begitulah yang ingin di katakan oleh lirikan mata Dinda.
Tetapi Steve? Ia justru menelan liur ketakutan sebagai akibat lirikan mata yang tajam. Ia mengangkat kedua bahunya seolah ia ingin mengatakan 'tidak tahu.'
"Sudahlah. Lupakan kebohongan kalian itu. Kakak hanya ingin meminta kalian menyebutkan hukuman untuk orang yang berbohong!" Dinda berusaha bicara dengan ekspresi dingin.
Seakan ia ingin menunjukan pada Steve bahwa dia jauh lebih berkuasa dari dirinya.
Miko dan Niko dengan cepat menjawab ucapan Dinda. "Jika ketahuan berbohong, maka hukumannya adalah membersihkan semua bagian rumah. Termasuk membersihkan toilet, setelah itu pergi kepasar membeli bahan dapur dan jika sudah selesai semuanya maka berdiri di pojokan rumah."
"Bagus jika masih ingat." Seringai Dinda sedikit puas.
"Dan tambahannya adalah; kalian harus kembali ke asrama mulai pekan depan." Lanjut Dinda sok bersikap apatis.
"Tapi kak!" Niko berkilah cepat.
Niko melirik wajah kakaknya dengan kode mata agar bisa membantunya dalam berbohong. Miko paham.
Dan tanpa aba-aba keduanya bangkit dari kursi mereka lalu menunduk bersujud, memohon di hadapan Dinda.
"Kak Dinda, Niko mohon jangan kirim kami lagi ke asrama. Niko janji tidak akan berbohong lagi. Demi lampu yang berpijar, dan demi lautan yang dalam Niko dan kak Miko tidak akan berbohong serta tak akan mengulanginya lagi." Ujar Niko mendramatisir. Niko ahli dalam memainkan peran, dan ia yakin bahwa kakaknya akan luluh.
"Ia kak, benar yang di katakan Niko. Kami berjanji tidak akan berbohong lagi. Demi ibu Pertiwi. Demi langit yang berwarna jingga, demi mata uang negara yang belum inflasi, demi saku celana Pak Tono yang bolong, aku mohon kak Dinda jangan mengembalikan lagi kami ke asrama bobrok itu." Tambah Miko memelas.
Dinda tersenyum menyunggingkan bibirnya yang licik, ala senyum Steve yang menakutkan.
"Tapi itu tidak akan terjadi!" Ucap Dinda dengan santainya. Dia tak berperasaan saat itu.
"Kak Dinda...... Jangan kak. Niko mohon."
"Iya kak Dinda, Miko mohon dengarkanlah permintaan terakhir kami. Dan juga pak Steve, tolonglah kami pak, bujuklah kak Dinda." Miko berusaha merayu Steve.
Steve terkekeh dan merasa tersanjung karena di mintai pertolongan oleh adik-adik Dinda yang ia pikir senasib dengannya. Senasib tersiksa oleh wanita.
Dinda menarik nafas panjang. Lalu bicara fakta. "Kalian tahukan alasan kenapa ibu memindahkan kalian sekolah di Jakarta. Kalian juga tahu kenapa ibu tak menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan kamera.
Memiliki wajah tampan bukan berarti bisa seenaknya di gunakan sebagai ajang pamer di media. Tetapi memiliki wajah elok rupawan di harapkan bisa menginspirasi orang lain, terutama mereka yang memiliki kekurangan.
Ibu meminta kalian sekolah dengan baik dan berharap kalian bisa kuliah kedokteran, menjadi seorang dokter yang hebat, bukan menjadi seorang publik figur.
Ibu tidak mau kalau kalian menjadi gosipan orang banyak nantinya jika menjadi tokoh publik."
Anak kembar itu setidaknya sudah bosan mendengar ucapan itu. Tetapi bagaimana lagi, jika tidak patuh mungkin saja ibu mereka yang tinggal di seberang pulau akan menelpon lalu mengomel via daring atau sekarang bahasa kerennya, 'tabok onlen.'
"Dan Miko. Kakak tahu alasan kamu mengambil pekerjaan ini, alasannya karena ingin membantu ekonomi keluarga bukan?"
"Iya kak." Miko tertunduk merendah saat kakaknya bicara. Tak ada keberanian dalam dirinya untuk menatap wajah kakaknya dalam waktu yang lama.
"Ingat! Gaji kakak, uang pensiunan ayah dan ibu, serta harta peninggalan ayah, semuanya cukup untuk membiayai sekolah kalian. Jadi jangan jadikan ini alasan untuk kalian memilih pekerjaan ini. Atau jika kalian melanggar perintah ibu dan ayah, kakak tidak akan memaafkan kalian. Mengerti dengan ucapan kakak kan?"
"Iya kak, Miko mengerti. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." Balas Miko mematuhi ucapan Dinda.
Steve setidaknya menjadi saksi bisu kisah pilu ketiga anak yatim ini. Ia sedikit takjub, tetapi Steve mencoba bersikap rasional dengan menutupi pesona bicara Dinda melalui ekspresi wajah datar. Untuk sesaat Steve mencoba belajar dari kisah mereka, bahwa hidup ketiganya sangat bahagia walau dalam kesederhanaan.
BERSAMBUNG
Pembaca unintentional yang terhormat. Jangan lupa tinggalkan komentar ya.
Salam manis, penulis.
__ADS_1