UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 145


__ADS_3

Jika aku seorang hacker. Mungkin satu hal yang ingin aku retas dalam hidup ini. Yaitu keamanan hati.


Dia tidak bersandi. Dia tidak berpalang. Tapi sensitif.


Tergantung bagaimana cara mu membukanya. Apakah menggunakan kunci Inggris atau membukanya menggunakan kunci hati yang memang terpatri.


Kau bisa membukanya dengan hati pula. Asal jangan dengan hati milik penjual roti, bisa-bisa kau di kuliti nanti.


_____________________________________________


Dinda baru saja menyuapi bayi besarnya makan. Dan di saat itu bayi besarnya duduk di ranjang ranjang tidur. Menantikan Dinda duduk di sebelahnya. Satu hal yang tidak boleh di lupakan oleh Dinda, yaitu minum. Steve tidak mau meminum jika gelas yang di pakai bukan bekas bibir Dinda. Dan itu sudah biasa bagi Dinda, dia harus menggunakan gelas yang sama dengan Steve. Pria ini, semua yang di pakai harus bekas istrinya, kecuali sikat gigi. Dia menggunakan yang lain untuk hal ini.


“Masakan istri ku memang luar biasa. Lezat dan nikmat,” kata Steve memuji.


“Terima kasih.”


Tidak salah. Dulu juga Dinda kalau kuliah tidak pada jurusan akuntansi, dan mengambil jurusan jasa boga. Bisa jadi dia saat ini Dinda sudah mendapat gelar master dalam bidang kuliner.


Atau bisa saja dia terkenal menjadi selebriti, mengisi acara masak memasak. Tapi itu beda kisah, Dinda tidak mencoba menjadi seorang wanita dapur. Dia suka menjadi wanita karir.


Walau dia sibuk di kantor, tapi kemampuan rumah harus tetap di jaga. Kalau kata Ibunya sih, “Wanita itu harus bisa segala hal. Apalagi memasak. Itu hukumnya wajib.”


Dan keahlian memasak ini di dapatkan Dinda dari ajaran sang Ibu. Juga dia banyak bergaul dengan teman-teman kampus dari fakultas gizi. Dinda tahu bagaimana membuat makanan sehat dan layak atau tidak untuk di konsumsi.


Itulah kenapa Dinda pandai memasak, dan suaminya baru sekarang memuji. Aduh, rasanya seperti orang yang baru kenal Dinda saja.


Dinda membalas Steve dengan senyuman, lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tidur. Dia duduk di sisi suaminya.


“Sudah makan. Kamu nggak boleh lapar lagi nanti malam. Aku malas bangun lewat dari jam dua pagi.”


Dinda menuntutnya. Karena sebelum itu, dia di beritahu nenek dan Mama mertua kalau Steve terbiasa bangun jam dua lantaran sering lapar.


“Jadi Mama yang kasih tahu perihal ini?”


Dinda mengangguk. “Nenek juga. Bibi Yan. Paman Lu. Kak Stevie. Lalu Zico. Mereka yang memberitahu ku.”


Steve menggeleng, diikuti decakkan polos. “Segitunya mereka semua mengkhawatirkan kamu.”


“Mereka bukan khawatir. Tapi perhatian pada ku. Lagi pula, kamu ada-ada saja. Bangun makan kok jam dua pagi. Pastilah mengganggu orang lain.”


“Aku sudah terbiasa kok seperti itu.”


Dinda tahu itu. Semuanya Dinda sudah memahami suaminya ini. Segala tentang Steve, bahkan dari yang terkecil pun sudah Dinda tahu.


“Kebiasaan kamu saat ini sudah aku pahami. Dan aku akan mencoba ikut terbiasa juga mulai sekarang. Kecuali bangun jam dua. Aku menyerah untuk hal ini.”


Walau Dinda tidak ada di posisi suaminya, tapi dia cukup mengerti bagaimana rasanya lapar di tengah malam. Itu mengganggu.


Dan dia hanya mengkonsumi mie instan saja kalau lapar. Setelah itu, dia tidak bisa tidur lagi. Tapi tadi Dinda memasak banyak untuk suaminya, jadi saat Steve bangun sendiri. Nanti dia bisa mencari masakan itu di dapur.


Jika makan mie, biasanya Steve menambahkan bon cabe di mie yang akan dia konsumsi. Katanya sih, bon cabe pedas, kayak omongan netizen. Eh, maksudnya kayak omongan tetangga.


“Berhubung aku sedang cuti kerja selama seminggu. Bagaimana kalau kita honey moon. Aku ingin menghabiskan waktu bersama istri ku minggu-minggu ini.”


Dinda melirik Steve. Dinda sebenarnya sedang membaca novel, yang kisahnya hampir sama dengan kisah dirinya. Saat Steve mengutarakan niatnya, Dinda tidak kaget.


“Aku bukan tidak mau. Cuma, aku pikir honeymoon itu sepertinya nggak perlu. Karena, aku sempat berpikir kalau honeymoon kita sudah terjadi sebelum menikah.”


“Maksudnya..... seminggu keliling negara uni Afrika?”


Dinda mengangguk. “Jadi honeymoon-nya nggak perlu kan.”


“Tapi kali ini beda.”


Beda?


Dinda mengerutkan keningnya, dia menatap lebih dalam lagi wajah suaminya itu.


“Maksudnya?”


“Aku mau kita honeymoon kali ini bukan di luar negeri,” katanya mengutarakan niatnya.


“Kemana?”


“Hemphh....” Steve sudah memikirkannya sejak tadi. Walau sekilas ide ini, tapi asik kalau benar-benar sampai ke sana. “Ke Bali. Nusa penida dan ke raja Ampat. Aku mau kita kesana.”


Bukan ide yang jelek sih. Tapi—


“Aku rasa nggak usah deh. Apa sebaiknya waktu luang seminggu ini di manfaatin buat istirahat. Kan lumayan buat menyehatkan stamina.”


“Kamu mencoba menasehati suami kamu sendiri?”


Oh, Steve memang tidak mengerti maksud Dinda. Padahal Dinda masih asik membaca kisah di dalam novel yang mirip dengan kisahnya, apalagi sudah menuju ke ending. Tapi pria ini, suaminya posesifnya terus mengganggu.


Oke. Tak ada pilihan lain selain memberikan dia sebuah kecupan sebelum tidur.


“Maaf kalau aku harus menolaknya. Aku tidak mau nanti kamu kelelahan.”


Setidaknya ciuman tadi membuat suaminya itu tidak terlalu dalam marah padanya. Harapan Dinda begitu sih, tetapi—


“Oke lah kalau kamu menolak. Apa boleh buat, dari pada kacau.”


“Kamu nggak marah kan?”


Dinda melihat sudut wajah Steve terkulai lesu. Dinda memahami rasanya penolakan.

__ADS_1


Steve menggeleng. Mulutnya tidak menjawab.


Di pinggir meja lampu tidur, Handphone Dinda bergetar. Di liriknya sebentar. Di lihatnya ada nama Vanya di layar benda pipih istrinya itu. Sesaat kemudian dia menatap Dinda penuh interupsi. Steve melihatnya juga, Vanya.


“Oh. Kita sudah lama berteman. Maaf belum memberitahu kamu sebelumnya.”


Dinda tahu maksud tatapan suaminya itu. Jauh lebih ngeri saat dia menatap sinis.


“Kenapa nggak bilang pada suami kamu dulu kalau kamu berteman dengan dia. Kan semuanya harus meminta persetujuan ku dulu.”


“Maaf.”


Dinda, menggigit bibir bagian bawahnya. Dia sudah merinding pada Steve yang mencecarnya. Steve membuang handphone Dinda di atas kasur, dia tidak berkata apakah memaafkan Dinda atau tidak.


“Jangan marah. Dia saat ini sudah berubah. Sumpah,” kata Dinda meyakinkan lagi.


Dinda menatapnya iba. Dan Steve masih kesal pada dua hal. Pertama Dinda menolak rencana honeymoon mereka ke Bali dan lain-lain. Kedua Dinda berteman dengan Vanya tanpa sepengetahuannya.


“Aku nggak marah,” balas Steve singkat.


“Tapi—”


Dinda tahu kalau masih ada kelanjutan ucapan suaminya itu.


“Ada tiga hal yang aku benci dalam hidup ini. Pertama ketika telur menempel di wajan. Kedua mesin ATM yang rusak. Dan ketiga ketika istri ku menolak semua keinginan ku. Dan itu yang aku tidak suka.”


“Ya maaf. Aku.... Ngaku salah.”


Dinda mencoba memperbaiki keadaan, tapi Steve tidak bereaksi. Dan itu tidak mungkin membuat mood Steve berubah secepat ini. Dinda cukup memahaminya.


“Kamu jangan marah ya!” rengek Dinda memohon.


Entahlah. Steve tidak menganggap ini masalah besar, hanya saja.....


“Aku mau tidur lebih dahulu. Kita bicarakan masalah ini besok lagi,” katanya sambil menarik selimut. Sementara Dinda, dia tahu salah. Steve yang memunggunginya, dia peluk dari belakang.


“Aku janji deh, mulai sekarang nurut.”


****


“Ibu mau masak apa Bu pagi ini?” tanya Dinda pada Ibunya.


“Masak apa saja yang mau kamu masak. Ibu serahkan semua menu pagi ini pada kamu.”


Dinda sedang berada di dapur rumah Ibunya. Steve yang mengantarkan Dinda ke rumah Ibunya. Lantaran tadi Steve berangkat ke kantor agak buru-buru.


Steve sejak pagi sudah pergi ke kantor. Katanya dia ingin lebih lama libur dulu, tapi sejak kejadian semalam itu dia malah berubah pikiran. Malah masuk kerja pagi ini, dan Dina merasa tidak enak padanya. Pada dua hal, antara honey moon dan Vanya.


“Nak Steve kok masuk kerja lebih cepat dari jadwalnya. Memangnya ada kerjaan kantor yang mendadak sampai-sampai nggak mau sarapan dulu tadi.”


Dinda tidak mungkin bilang kalau Steve sedang marah karena dia menolak rencana honeymoon mereka. Bisa-bisa, Ibunya akan mengomel karena tidak melayani suami dengan benar. Di saat yang sama, Miko baru saja bangun.


“Kak Dinda. Tumben. Sepagi ini?” katanya sambil meneguk segelas air dingin.


“Baru bangun.”


Miko mengangguk. Lalu Ibu Yuri menyahut. “Semalam main game sampai jam tiga. Makanya terlihat lesu.”


Dinda memelototi Miko. Dan setahu Dinda memang adiknya itu jarang bangun siang. “Jadi pagi ini nggak sekolah?”


Miko mengangkat kedua bahunya, sambil memanyunkan bibirnya, dia bertingkah sok imut. “Semua sekolah libur. Instansi pemerintah dan lain-lain juga. Kenapa harus sekolah kalau libur!”


“Alasannya?”


“Sederhana,” jawab Miko. “Karena ada wabah itu. Makanya semua orang libur. Sekarang di berlakukan stay at home.”


Oh, Dinda paham maksud adiknya. Ternyata karena penyakit yang sedang mengular itu penyebabnya. Pantas saja tadi di jalan agak sepi. Biasanya Dinda selalu terjebak macet, tapi kali ini beda.


Dinda melirik Ibunya, dan Ibu Yuri menipiskan bibir tersenyum.


“Ibu bisa apa,” katanya yang tahu arti lirikan itu. Dinda sedang menginterupsinya.


“Seharusnya Ibu nggak boleh membiarkan mereka bangun kesiangan dong Bu. Nanti jadi kebiasaan tahu.”


“Ish kak Dinda. Masih saja bawel seperti emak-emak.” Miko menyambarnya ketus. Tapi itu sifat alamiah Dinda, kebawelan yang tak bisa berubah.


“Sudah. Ayo kita lanjutkan masak. Sebentar lagi jam makan pagi suami mu loh. Kamu harus datang ke kantornya, antarkan makanan.”


Dinda menurut. Ibunya saja tak begitu khawatir pada putra-putranya. Apalah daya Dinda. Dia bukan siapa-siapa lagi saat ini.


“Kak Dinda. Kalau ke kantor, Miko ikut yah,” ucap Miko pelan. Dia mengerat di bahu Dinda, sementara kakaknya sedang sibuk memotong sayur.


“Ada perlu apa kesana?”


“Kak Steve....”


Dinda berhenti sebentar, dia melirik adiknya. “Maksudnya?”


“Kak Steve semalam kirim pesan untuk Miko. Katanya dia mau aku menemaninya main game Konsul di rumah nanti malam.”


“Hah...”


Dinda tertegun. Kapan suaminya melakukan itu. Seingatnya tadi malam dia marah, lalu tidur. Sejak saat itu dia tidak lagi menyentuh handphonenya. Atau jangan-jangan....


“Kapan dia mengirim pesan semalam?” tanya Dinda memburu.

__ADS_1


“Setengah tiga.”


“Setengah tiga?”


Whut. Dinda sudah menduganya. Dinda memang tidak bisa bangun di jam segitu. Tapi suaminya tega. Dia tahu, kalau Miko sudah di ajak bermain game Konsul, dia pasti tidak berhenti.


Dia jahat. Dia mengabaikan aku, tetapi menghubungi Miko.


“Kakak kenapa melamun?”


*****


Dinda tiba di ruangan Steve. Dia bersama Miko. Di tangannya ada wadah bertingkat berisi makanan.


Suaminya terlihat sedang sibuk mengutak-atik keyboard komputer. Dinda datang hanya di longos sekilas, lalu dia kembali memperhatikan layar komputer.


“Kenapa kamu......”


“Aku lagi rapat via konference. Nanti bicara lagi.”


Tidak peduli apapun, Steve menghentikan ucapan istrinya itu. Dinda terdiam, secepat itu Steve mematahkan ucapannya yang belum selesai di ucapkan.


Miko angkat tangan, dia tidak tahu kenapa mereka terlihat saling mengabaikan bahkan saling tak bertatap seperti sebelumnya. Biasanya sih, Miko sering melihat pria itu selalu bermanja-manjaan. Tapi sekarang? Entahlah. Hanya Tuhan, Dinda dan Steve yang tahu.


“Kalian kenapa kak?” bisik Miko pada kakaknya. Benar, Miko penasaran dengan mereka. “Kalian bertengkar?” Miko menebak.


Dinda memanyunkan bibirnya, dia malas berkata. Dinda tidak beraksi, rahangnya tidak bergerak apalagi bibirnya. Itu hanya terlihat menekuk.


“Oh, aku paham. Mereka sedang bertengkar.” Miko berkata pelan. Sambil melihat raut wajah Dinda fokus melihat suaminya.


Sedangkan Steve. Dia memang sedang sibuk. Seharusnya dia meliburkan semua karyawannya lantaran adanya himbauan WORK FROM HOME seperti yang banyak di lakukan oleh instansi lain.


Tapi Steve tidak menghiraukan himbauan itu. Dia lebih memilih bekerja. Dan untuk terhindar dari penyebaran virus itu, Steve melakukan rapat via conference. Katanya sih lebih efektif, dari pada harus meliburkan karyawannya. Dia akan rugi.


“Sudah selesai rapatnya?” tanya Dinda.


Sesaat setelah suaminya itu bangun dari kursi kerjanya.


Steve mengangguk. Tapi dia mendekati istrinya yang duduk di sofa hitam.


“Ada apa. Kenapa ke kantor segala. Tadi aku bilang kan, kalau kamu di rumah Ibu saja.”


Dinda men-decak. “Bagaimana aku bisa diam. Kamu sejak semalam nggak mau berkata apapun. Kecuali jawabnya iya, ehm. Gitu saja terus. Dan juga kamu malah menghubungi Miko, alih-alih bicara pada ku.”


“Bukan begitu maksud ku.”


Steve tahu kalau dia agak cuek pada Dinda sejak semalam. Tapi bukan berarti dia marah. Sumpah, kalau tidak ada Miko di dekat mereka, Steve pasti sudah berulah di wajah istrinya itu.


“Aku masih banyak pikiran sejak tadi malam. Makanya aku agak cuek. Suwer, aku nggak marah karena kejadian semalam. Sungguh”


“Yakin.”


Steve mengangguk. “Sumpah. Aku bukannya marah. Cuma masih banyak pikiran. Jadi nggak bisa memikirkan istri ku terus.”


Gombal. Miko terkekeh geli melihat pria budak cinta satu ini. Dia mengakuinya, tidak malu jika Miko melihat tingkah mereka.


“Aku kira—”


“Marah.”


“Huum,” angguk Dinda. “Aku kira kamu marah karena kejadian semalam.”


Oh, sungguh. Miko yang ada di sebelah mereka terkekeh. Dia tahu, pasti mereka semalam ingin melakukan hal-hal itu. Adegan dewasa. Oh........ Imajinasi anak kecil sudah terkontaminasi oleh kedua orang itu.


“Kamu bawa apa?” tanya Steve. Dia melihat ada wadah makanan di depan meja kantornya.


“Aku bawa masakan dari rumah Ibu. Aku khawatir karena tadi pagi kamu berangkat nggak sarapan.”


Steve melirik jam. Saat ini pukul sembilan lebih dua puluh sembilan menit. Saatnya makan pagi sebenarnya.


“Padahal aku tadi sudah minum teh.”


Memang tadi dia sudah meminum minuman itu sebelumnya. Tapi karena Dinda yang membawanya. Steve tidak berani menolak, dia justru makin semangat.


“Kamu harus mencobanya. Biar makin semangat bekerja.”


Ih, sumpah. Miko makin geli melihat tingkah Steve. Dia kekanakan sekali. Makan saja harus di suapi.


“Jadi..... Kak Dinda selalu menyuapi kak Steve kalau makan?” tanya Miko yang agak penasaran.


“Itu yang namanya romantisme,” sahut Steve lebih dahulu.


“Ro—romantisme.”


Miko menggaruk kepalanya. Ketombe itu mengganggu. Tapi lebih geli lagi saat melihat tingkah iparnya itu. Apalagi setiap makanan yang di suap Dinda, setiap kunyahan terlihat lezat di mata Miko—Ketika pria ini mengunyahnya.


“Aku tahu. Kalian sebagai adik-adiknya. Pasti tidak pernah kan di suapi seperti ini,” ucap Steve memprovokasi. “Sementara aku. Sebagai suaminya, di suapi. Beruntung bukan.”


Melihat Miko yang keheranan, pasti Steve menebaknya begitu.


Tapi bukan itu yang Miko pikirkan. Salah jika Steve menganggapnya cemburu atas keromantisan kedua orang itu. Tapi dia hanya tak habis pikir saja. Steve tidak malu melakukannya. Apalagi di depan remaja seperti dirinya. Masa kecil yang kurang bahagia.


“Ah..... Iya. Kak Steve benar. Kak Steve hebat. Bisa menebak.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2