
Aku ibarat mimpi, bayangan ku semu.
Aku ibarat bunga, di petik layu.
Aku ibarat angin, bisa di rasakan tapi tidak bisa di lihat.
Aku ibarat putri malu, dilihat tak bereaksi, namun sensitif.
Namun aku adalah jiwa mu. Setiap kamu bernafas, maka aku akan menggaungi pikiran di dada mu.
_____________________________________________
Steve hari ini sengaja pulang lebih awal dari hari biasanya. Di arlojinya, jam masih menunjukkan pukul satu siang.
Setelah makan siang di kantor bersama Dinda, Steve lebih memilih pulang. Karena dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri.
Tapi sebelum pulang, Dinda mengajak suaminya mampir sebentar di supermarket besar yang tak jauh dari kantor suaminya ini. Dengan perut besar yang selalu dia pegang, Dinda memaksakan berjalan masuk ke dalam supermarket.
Sebenarnya Dinda malas mau berbelanja di pusat perbelanjaan dan semacamnya. Dinda juga malas beli bahan-bahan dapur. Sering kali Dinda mengusulkan agar Steve makan di luar atau pesan via daring. Tapi suaminya tidak mau. Dia hanya mau Dinda yang memasak untuknya.
Ingatan Dinda masih terpaku pada kejadian Minggu lalu. Di mana Steve di lirik banyak wanita ketika mereka pergi berbelanja peralatan bayi.
Sebal kalau di ingat-ingat. Dinda takut kejadian Ibu-ibu menatap haus suaminya ini, terulang lagi hari ini. Namun harus bagaimana lagi. Dinda harus masuk ke supermarket, walau terpaksa. Ingat! Terpaksa.
“Kita beli kentang nggak hari ini?” tanya Dinda pada Steve.
Steve mengangguk. “Apa saja yang ingin istri ku beli. Aku akan suka.”
Gombal. Ucapannya manis, kek ucapan mantan.
Mereka memilih-milih sayuran segar. Namun Steve berulah. Dinda yang lagi serius memilih kentang segar, mendadak terkekeh melihat ulah suaminya itu.
“Kamu ngapain?” tanya Dinda sambil tersenyum sumringah. Dan Steve menjawab polos di ikuti senyuman yang sedikit mengembang.
“Menghibur istri ku.”
“Astaga. Itu kangkung layu buat apa di mainin. Nanti di marah pemilik kios loh.”
Steve memang bertingkah sok lucu. Daun kangkung yang sudah layu, dia buat kumis, dan telinga besar meniru ala monster. Alih-alih Dinda terkejut, justru dia tertawa melihat tingkah pongah sang suami ini.
“Hihi. Nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa tersenyum.”
Steve memang tidak malu. Walau banyak orang yang meliriknya, dia tidak peduli. Yang penting bisa menghibur istri dan calon anaknya, dia ikut senang.
Steve melirik wanita penjual sayuran. Wanita gemuk yang memakai celemek ini, terlihat tersenyum melihat Steve berulah.
“Ibu tokonya saja tersenyum,” ucap Steve memberitahu. “Itu artinya aku cukup menghibur.”
“Tidak apa-apa kok Bu. Suami menghibur istri itu hal wajar. Apalagi adek bayi. Pasti dia senang melihat Ayahnya yang atraktif,” kata pemilik toko menyahut.
“Tuh dengarkan. Ibu tokonya saja bilang menghibur.”
Dinda masih dengan ekspresi terkekeh. Di ikuti anggukan kalau Steve memang menghibur.
“Kalian ini pasangan suami istri yang sempurna. Suaminya tampan, istrinya cantik. Gak kebayang, seperti apa nanti adik bayi yang ada di dalam perut Ibunya. Pasti tampan dan cantik seperti ayahnya dan Ibunya.”
Sambil Dinda memilah sayuran, dia mendengar celoteh pemilik kios sayur. Dia ramah pada Dinda dan suaminya. Dinda pun begitu, dia memberikannya senyum manis saat wanita gemuk itu memuji dirinya dan Steve.
“Sudah ketahuan jenis kelamin si dedek bayi, Bu?” tanya pemilik toko pada Dinda.
“Jenis kelaminnya laki-laki.”
“Woah” Mendengar jawaban Dinda, wanita gemuk ini ternganga. “Saya yakin Bu. Anaknya pasti tampan seperti Papanya. Duh, keluarga yang sempurna. Apalagi kalau di tambah satu anak perempuan. Pasti lengkap sudah kebahagiaan kalian.”
“Ibu terlalu memuji,” balas Dinda dengan senyum manis. Dia malu saat di puji begitu.
“Kalian memang pasangan muda yang serasi. Jarang-jarang loh ada pembeli yang datang bersama suaminya. Biasanya hanya Ibu hamil saja. Sementara suaminya sibuk kerja. Tapi kali ini keberuntungan bagi toko Ibu. Ada pasangan muda yang berbelanja, rasanya berkah dari langit sedang memberkati usaha Ibu.”
Wanita itu berkata pada Dinda sambil mengenang. Seingat wanita gemuk ini, belum pernah dia melihat seorang pembeli apalagi wanita hamil datang ke kios bersama suaminya. Baru Dinda dan Steve yang datang kesini. Itulah kenapa dia terlihat sumringah kala melihat wanita hamil harmonis dengan suaminya.
Kios di supermarket ini sebenarnya tidak sepi. Bahkan di sebelah Dinda dan Steve banyak pembeli. Hanya saja wanita gemuk itu fokus pada mereka, sementara pembeli lainnya di layani anak gadisnya.
“Sudah belanjanya?” tanya Steve pelan.
Dinda mengangguk. “Sudah. Tinggal bayar saja.”
Sekantong plastik kentang yang sudah dia pilih tadi, dia berikan pada wanita penjual untuk di timbang.
“Karena hari ini kalian adalah pelanggan pertama yang datang lengkap dengan kebahagian. Maka, Ibu sebagai pemilik kios akan memberikan cuma-cuma kentang ini. Aku harap, kalian menjadi suami istri yang bahagia.”
Dinda memandang Steve. Pikirnya ada yang salah dari wanita gemuk ini.
“Maksud Ibu.......?”
Dinda tidak paham pada wanita ini. Sementara wanita gemuk itu tersenyum, sambil memberikan kentang pada Dinda.
“Untuk merayakan kamu sebagai Ibu hamil pertama yang datang bersama suami berbelanja di kios kami. Maka saya berikan kentang ini cuma-cuma. Gratis. Nggak perlu bayar,” katanya mengulangi lagi ucapannya tadi.
__ADS_1
“Oh. Tidak perlu Bu. Kami bisa membayarnya.” Steve menolaknya ramah. Sambil merogoh dompet, mengeluarkan uang kertas.
“Tidak perlu. Ibu senang kalau kalian mau menerimanya.”
“Tidak Bu. Kami merasa terlalu berlebihan. Ambil saja uangnya. Kami bisa membayarnya.”
Wanita itu kembali tersenyum ramah pada Steve, tangannya menolak uang yang Steve berikan. “Suatu kebanggan bisa memberikan cuma-cuma kentang di kios ini untuk Tuan dan Nyonya.”
“Tapi Bu,” Dinda menyela.
“Ambil saja. Jangan sungkan-sungkan!”
Uh. Dia memaksa. Dan terpaksa, Dinda harus menerimanya. Dia menyikut Steve, memintanya agar menerima kentang gratis itu. Steve mengerti. Dia serta Merta mengambil kantong plastik itu.
“Kalau begitu. Terima kasih atas kentangnya. Semoga kios Ibu membawa berkah,” ucap Steve lalu pergi.
Wanita itu mengangguk tersenyum. “Semoga kalian berbahagia,” katanya sambil melambai.
Mereka sudah meninggalkan kios wanita gemuk ini. Dan pemilik kios masih memandangi punggung keduanya yang terlihat saling bergandengan tangan.
“Haiyah. Bahagianya melihat wanita hamil.”
Hamil Bu, kalau pingin. Biar nggak iri sama mbak Dinda. Hihihi.
****
Dinda memilah banyak bahan makanan yang akan di beli. Oh, sungguh. Perutnya itu semakin menyusahkan pergerakan Dinda. Sekedar untuk duduk saja, melihat bahan makanan yang taruh paling bawah rak pun Dinda tak mampu meraihnya.
Apalagi duduk makin merendah. Ah, susah, sumpah. Balon besar ini makin menghambat pergerakan Dinda. Kian hari rasanya makin berat.
“Sini aku bantu,” ucap Steve. Dia tahu istrinya itu sedang kesulitan.
“Ambilkan satu kilogram tepung terigu protein sedang dan satu kilogram tepung jagung. Lalu satu kilo tepung terigu protein tinggi dan susu bubuk beserta pasta pandan.”
Steve sebenarnya sudah terbiasa membantu Dinda berbelanja. Dia menjadi pendorong troli belanjaan. Seringnya Dinda sulit mengambil sesuatu, Steve pasti akan membantu.
“Apalagi yang bisa aku ambilkan?” tanya Steve lagi. Dia sudah selesai dengan permintaan Dinda tadi. Dinda menunjuk ke atas. Rak yang memajang banyak barang, tingginya tak karuan. Dinda sulit menggapainya.
“Susu Ibu hamil di atas.”
Steve mendongak. Padahal pendek letak susu itu. Tapi istrinya benar-benar tidak bisa meraihnya.
“Kamu ini benar-benar istri paling pendek.” Steve menyentik hidung Dinda. Dan istrinya menekuk bibirnya.
“Bukan aku yang pendek. Tapi kamu yang terlalu tinggi."
“Mau rasa apa? Plain, stroberi, cokelat atau rasa pisang vanila.”
“Stroberi saja. Yang satu kilogram.”
Troli belanjaan mereka memang sudah banyak. Steve dan Dinda mengakhiri belanja barang-barang yang banyak ini.
Mereka menuju ke parkiran. Dan semua barang Steve yang membawa. Walau berat membawa barang belanjaan, namun dia masih bisa memapah istrinya berjalan.
“Perut kamu makin besar. Aku pikir kita akan punya anak kembar.”
Bisikan pelan Steve itu, membuat Dinda mengayun tersenyum.
“Walau tidak kembar. Yang terpenting, putra kita saat ini sebentar lagi hadir.”
Steve tahu itu. Tapi rasanya kesal pada sang bayi. Dia sudah mengambil Dinda darinya. Bahkan Steve sering meminta jatahnya, saat ini tidak sanggup.
Dia takut saat sedang senang-senangnya, sang istri malah kontraksi. Dia takut itu terjadi.
“Anak Ayah yang ada di dalam sana. Cepat keluar ya. Jangan susahin lagi bunda ya. Jangan buat bunda sedih. Pokoknya anak ayah nggak boleh menyusahkan Bunda sekarang.”
Bosan Dinda mendengar ucapan itu, tapi apalah daya. Pria ini sangat tidak sabaran menantikan bagi di dalam sana cepat keluar dari persembunyiannya.
Steve mencium perut buncit Dinda. Istrinya tersenyum. Walau parkiran agak sepi, tapi ada dua orang yang baru saja melintas. Melihat Steve berkata seperti tadi, kedua orang itu terkekeh.
“Ayo pulang,” ajak Steve bergegas. Dinda mengangguk.
****
“Oh. Leganya bisa kembali ke Jakarta.”
Stevie mengembuskan napas lega. Dia baru saja turun dari pesawat. Dengan kacamata hitam besarnya, dia menyeret koper menuju pintu keluar bandara.
“Setelah hampir setahun tidak pulang ke Indonesia. Rasanya aku rindu pada wajah adik-adik ku. Oh. Harunya bisa sampai lagi di sini.”
Stevie memang sudah lama tidak kembali ke Indonesia. Lantaran dia saat ini sibuk mengejar karirnya sebagai model di Amerika.
Tidak peduli pada sang Ayah yang selalu mengomelinya, meminta Stevie pulang ke Shanghai. Wanita keras kepala ini tetap tidak mengindahkan perkataan Ayahnya.
“Peduli amat sama Papa. Aku tidak mau di paksa ini itu. Aku hanya mau menjalani kehidupan ku sendiri.”
Di depan pintu keluar bandara, mobil hitam sudah menunggu. Sebelumnya Stevie sudah mengabari Zico kalau dia akan ke Indonesia. Jadi dia menghubungi anak itu, agar menjemputnya di pintu keluar bandara.
__ADS_1
“Di sini kak!” teriak Zico sambil melambai. Stevie melihat lambaian tangan dari pria yang duduk di kap mobilnya.
“Sudah lama menunggu?” tanya Stevie.
“Baru saja sampai.”
“Okelah.”
Stevie mengode kecil, tanda bahwa dia harus masuk kedalam mobil sekarang.
Zico membukakan pintu mobil untuk wanita bar-bar ini. Bak seorang ratu, Stevie masuk sok anggun. Kacamata besarnya dia sematkan di celah bajunya yang hampir membelah dada. Namun masih sopan, tidak terlalu miris.
“Bagaimana kabar kak Stevie setahun belakangan ini. Baik-baik saja kan?” tanya Zico.
Mereka tengah melaju di jalan tol yang memang agak sepi. Sesekali Zico melirik pakaian fashionable wanita yang meniti karir sebagai model ini. Makin cantik, tidak berubah sama sekali. Apalagi riasannya, pasti semua kaum Adam naik darah menggigil melihatnya.
“Hah. Aku lelah. Setiap saat selalu di telepon Papa. Aku kesal kalau harus terus di minta pulang ke Shanghai.”
“Jadi—”
“Ya aku pulang ke Indonesia.”
“Steve sudah tahu kedatangan kak Stevie ke sini?”
Stevie menggeleng. “Biarkan jadi kejutan.”
“Ouh.....”
Zico menatapnya sekilas. Sepertinya Stevie sedang mengadu, mengeluh dan ingin menyerah. Beban hidup wanita ini, terasa amat susah untuk di pikul. Pasti berat rasanya kalau hidup dalam bayangan seorang Ayah yang menggaungi pikirannya. Zico tidak pernah ada di dalam posisi itu. Cukup membayanginya saja, dia paham sedikit. Sakit rasanya, di paksa.
“Jadi. Kabar kakak saat ini tidak baik?” tebak Zico.
Stevie mengangguk. Dia menggigit sabuk pengaman, tanda bahwa dia sedang dalam suasana kesal.
“Dari raut wajah ku kamu bisa melihatnya.”
“Seharusnya begitu.”
Iya sih. Zico melihat kalau Stevie sedang sendu. Hanya saja Zico sama seperti Steve. Dia takut pada Stevie. Dia terlalu kejam sebagai seorang wanita. Sehingga Zico tidak berani bertanya lebih seputar kehidupannya selama tinggal di Amerika. Atau, wanita ini akan menjambak rambutnya sampai rontok. Ih ngeri.
“Co,” rengek Stevie.
“Ehm.”
“Menurut mu. Apakah menikah itu adalah akhir dari segala penderitaan seorang wanita? Atau justru awal dari kebahagiaannya?”
Tunggu. Zico tertegun mendengar ucapan ini. Dia melirik, melongos kearah Stevie. Di kira Zico wanita itu sedang bicara sambil menatapnya. Namun tidak. Stevie memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Menatap gedung-gedung di yang berlalu di pelupuk mata. Hampir tadi Zico ke-PD-an
Kecewa aku.
“Maksud kak Stevie apa?” tanya Zico tak paham.
“Menikah.”
“Menikah? Serius? Dengan siapa?”
“Ya menikah saja.”
Inilah yang paling di kesali oleh Zico pada Stevie. Kalau dia bicara suka nanggung. Kadang juga dia bicara terlalu ngegas. Zico mulai beringsut kesal.
“Aku tahu kakak akan menikah. Maksud ku, dengan siapa kakak akan menikah?”
“Aku bertanya Co. Bukan mau menikah dengan siapa-siapa!”
Stevie melirik kasar dan sinis wajah Zico. Zico sudah tahu, aura kengerian ini akan mulai memuncak.
Ah sial. Seharusnya tadi aku menelaah dengan benar ucapannya. Ah, mati aku. Bisa-bisa dia menatap ku sinis sepanjang waktu kalau begini.
“Ah. Ehm....” Zico berdeham kecil. Sumpah, dia rasanya ingin menghilang saja saat Stevie sudah meremat-remat pahanya. “Jadi.... Maksud ku tadi. Menikah..... Itu indah... Kak.”
“Apanya yang indah!” sentak Stevie sambil melepaskan rematan tangannya di paha Zico. “Kamu pikir aku tidak tahu. Senyum palsu mu itu ingin mengatakan kalau kamu sangat bersyukur kalau aku akan menikah. Iya kan!”
“Tidak kak. Tidak. Sumpah. Aku tidak mungkin mengatakannya begitu,” kata Zico menggeleng keras. “Sungguh.”
Ah. Stevie tahu. Percuma kalau bercerita pada Zico. Yang ada dia tidak akan mengerti masalahnya. Justru dia akan menambah runyam masalah ini.
Stevie menyesal kalau harus berbagi cerita pada Zico. Bocah itu membosankan.
“Antarkan aku langsung kerumah. Aku ingin istirahat.”
“Nggak mampir ke suatu tempat dulu?” Biasanya begitu. Zico mengingatkan. Lazimnya, Stevie sering mampir entah itu ke mall atau salon. Yang pasti, dia tidak akan pulang dulu ke rumah sebelum dia benar-benar selesai dengan urusannya yang tidak terlalu penting.
“Nggak. Aku hanya mau ke rumah.”
“Oh. Oke.”
Zico menurutinya. Walau sebenarnya Zico masih ingin bertanya maksud dari ucapan Stevie tadi—mengenai pernikahan. Namun itu urung, ngeri mengajaknya bicara panjang lebar.
__ADS_1
“Baiklah. Kita langsung kerumah.”