UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 76


__ADS_3

Selama berpelukan di bawah gedung Shanghai world trade finance di dekat bund sungai Huangpu. Hujan perlahan reda.


Dari pinggir jalan sebuah mobil biru klasik menekan kelakson mobil berulang kali.


Steve risih karena di ganggu. Steve mengakhiri pelukan penuh haru dan ingin memberikan pelajaran pada pemilik mobil itu.


Kaca mobil terbuka, seorang wanita menurunkan kacamatanya.


"Hoi," tegur wanita yang tak lain adalah Peni. "Sudah belum mesra-mesranya."


Steve mendercit, dia ingin memukul wajah Peni yang mengganggu itu. Tapi Dinda menghentikannya, dia tidak ingin Steve berurusan dengan wanita itu.


"Dia perlu di beri pelajaran," Steve ingin bertindak.


"Jangan," Dinda menarik parlente Steve. "Biarkan dia seperti itu, kamu jangan terpancing olehnya."


"Kalau kamu mau seperti itu, aku akan menurutinya," Steve mementingkan Dinda dari pada berurusan dengan Peni.


"Hoi," teriak Peni dari dalam mobilnya. "Masih lama nggak nih acara romantisan ini. Capek nih nungguin kalian beradegan panas di bawah hujan," Peni menggerutu.


"Dia maunya apa sih," Steve mulai memanas.


"Jangan terpancing, tadi kamu sudah berjanji nggak akan mencari masalah dengan dia," Dinda menarik Steve. Menenangkan amarahnya yang sedang memuncak di ubun-ubun.


"Tapi dia sudah keterlaluan," Steve masih bernada emosi.


"Jangan Steve, yang ada dia makin membuat kamu berang. Lupakan saja dia, anggap saja kamu hari ini sedang ketiban sial," hibur Dinda.


Steve sebenarnya tidak mau mendengarkan kata-kata Dinda, tapi dia takut jika Dinda akan marah padanya karena berbuat kasar pada Peni.


Diam-diam Peni mengikuti mereka. Setelah mereka tadi menghilang entah kemana. Ayah dan Ibu Steve di rumah sudah khawatir pada mereka berdua.


Peni mengurut kepalanya, dia ingin mengutuk Steve dan Dinda yang tidak menghampirinya di dalam mobil. Kenapa mereka hanya menatap ku dengan ekspresi dendam? Memangnya aku salah apa.


"Hoi, cepat naik ke atas mobil, hujan akan turun lagi," pekik Peni. Peni menekan kelakson mobilnya lagi. Dia amat berang pada keduanya yang lamban.


"Dia ingin apa?" Dinda penasaran.


"Entahlah," Steve kurang paham. "Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu."


"Perlu kita hampiri," Dinda mengerat di bahu Steve. "Mungkin dia ingin menemui kita."


"Sepertinya begitu," Steve mengangguk.


Mereka berdua mendekati mobil Peni yang menepi di bahu jalan. "Ada apa?" tanya Steve ketus.


"Naik," Peni mengisyaratkan. "Hujan di Shanghai akan turun dua kali malam ini."


"Maaf, kami tidak butuh tumpangan," Steve menolak tegas. "Kami bisa pulang sendiri."


Peni men-decak. "Siapa yang menginginkan kalian menaiki mobil mahal ku ini," Peni berteriak. "Ini perintah Paman dan Bibi, mereka mengkhawatirkan kalian!"


"Papa dan Mama?" Steve terpikirkan sesuatu. "Apa mereka yang menyuruh kamu mencari kami?"


"Sudah, naik saja dulu. Nanti akan aku ceritakan," Peni enggan bicara bertele-tele, dia suka yang cepat.


Steve melirik Dinda, dia butuh persetujuannya. "Bagaimana? Mau naik mobilnya?"


Dinda mengangguk. "Nggak masalah."


Akhirnya Steve dan Dinda naik di mobil Peni, mereka duduk di belakang. Steve enggan duduk di depan, dia tidak mau Dinda salah paham lagi.


Peni membawa mereka berdua ke rumahnya yang terletak di distrik bund sebelah Utara puxi.


Di rumah Peni hanya ada dia, orang tuanya sedang liburan di pinggiran kota Shanghai. Di desa nelayan yang tidak jauh dari pusat kota Shanghai.


Peni memberikan mereka handuk dan menyiapkan Steve dan Dinda pakaian. Mereka kuyup malam itu.


"Aku hanya ada soda, tidak ada bir di rumah ku," ucap Peni menyuguhkan keduanya minuman ala kadarnya.


"Kami tidak menyukai bir," Steve menyahut.


"Wo... Sudah ter-indonesia-kan sekali lidah anda Tuan," ledek Peni.


Steve mendengus, wanita itu bicaranya menyerupai Stevie.


Peni mengambil tempat duduk tepat dihadapan Dinda dan Steve di ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


"Kalian ini, seperti anak kecil saja," tegur Peni.


Steve meliriknya dengan tatapan tajam. "Apa maksud kamu."


Peni meneguk soda lalu menghentakkan kaleng soda di atas meja. "Kamu pikir saja sendiri."


"Dia berkata apa?" bisik Dinda.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti," Steve membalas.


"Hei, aku ini bicara pada kalian berdua," Peni menarik perhatian keduanya. "Jangan pura-pura bodoh deh," kata Peni ketus.


"Apa maksud kamu," tuntut Steve.


Peni mengorek telinganya menggunakan jari kelingking, dia bosan pada Steve. Peni menghela nafas panjang. "Kenapa kamu begitu bodoh sih," hardik Peni. "Kamu dengar ya," Peni menunjuk Steve. "Aku nggak mungkin benar-benar mau menikah dengan sahabat ku sendiri. Kenapa kamu tidak pernah peka sih dengan Paman dan Bibi."


"Tunggu!" Steve merasa janggal. "Maksud kamu...."


"Ya," sahut Peni. "Aku tidak akan benar-benar menikah dengan sahabat ku sendiri. Masa kamu nggak ngerti sih."


"Jadi, semua ini? hanya drama," Steve menebak.


Peni menjentikkan jarinya, Peni sudah menduga kalau Steve bisa menebak alur drama malam ini. "Kamu perlu tahu, kita berteman sejak kecil. Dari sekolah dasar hingga SMA kita juga bersama, mana mungkin aku akan jatuh cinta pada teman ku sendiri, aku tidak tertarik dengan orang yang dari kecil aku sudah mengenalnya. Kamu pasti paham maksud ku."


"Jadi maksud kamu, tadi itu hanya sandiwara belaka?" Steve memastikan. "Dan kalian seniat ini melakukannya?"


"Benar," Peni menjentikkan jarinya lagi. "Ide lelucon ini adalah perbuatan kak Stevie, dia yang melakukan semua kekonyolan ini dengan niat. Jika ingin menuntut, jangan pada ku, aku hanya pemeran figuran, mintalah pada Kakak mu yang bar-bar itu, dia asal dari semua kekacauan ini."


Peni ingin lepas dari kemarahan Steve, dia tidak mau pria itu marah padanya. "Hoi," Peni bicara pada Dinda. "Ingat yah, jangan bersaing pada ku lagi, aku tidak suka pada pria mu itu. Aku punya karakter pria ku sendiri," Peni memberi tahu. "Aku kurang tertarik pada pria pemarah, apalagi wajahnya garang seperti Tuan Steve. Bukan tipe ku sekali," hardik Peni pada Steve.


"Jadi kamu benar-benar tidak mau menikahi Steve," Dinda ingin tahu kepastian.


Peni memelaskan wajahnya, ekspresi mukanya sangat masam. "Harus berapa kali sih aku bilang, kalau aku nggak cinta pada Steve apalagi suka. Bukan tipe ku sekali pria seperti dia," tukas Peni. "Lagi pula, aku tipe wanita yang terlalu sempurna sebagai seorang istri. Jadi ku mohon, wahai saudara kembar ku, Dinda. Kamu perlu tahu, aku, Peni, si gadis ceria tidak menyukai Tuan pemarah mu. PAHAM!" sentak Peni.


"Lalu, seperti apa kriteria pria yang kamu suka," Steve menyahut. Dia menyilang tangan di dada dan duduk santai di sebelah Dinda.


"HM... Kalau itu," Peni mencoba mengingat tipe prianya. "Pokoknya pria tipe ku itu harus yang mau menerima aku apa adanya, dan yang pasti aku tidak terlalu menyukai pria introver. Mereka sulit di pahami," jelas Peni.


"Jadi kamu benar-benar tidak menyukai Steve. Sungguhan kan, kamu tidak menyukainya," Dinda mengulangi lagi pertanyaannya.


Peni mengembuskan nafas lelah. "Sini aku ceritakan pada kamu alasan kenapa aku hanya menganggap Steve sebagai sahabat bahkan sebagai saudara ku alih-alih menikahinya," Peni mencoba mengenang.


"Lalu?" sela Dinda.


"Lalu, yang terjadi, pernikahan sesungguhnya yang aku inginkan bersama Steve, entah kenapa aku malah tidak tertarik pada Steve. Tapi jujur, dulu aku pernah menyukai Steve," Peni menyilangkan tangan di dada sama seperti Steve. "Tapi, sejak Steve tidak suka pada ku saat aku merengek mengajaknya bermain boneka, alih-alih menghibur diri ku yang kehilangan ibu ku, Steve justru membuat ku menangis. Bahkan dia lebih peduli pada renangnya itu dari pada aku si gadis malang ini," Peni menarik nafas sejenak.


"Yah, pada akhirnya aku sadar. Menikah dengan teman sendiri kedepannya akan membosankan. Terutama saat setelah menjadi suami istri. Kami yang tumbuh bersama sejak kecil sudah memahami kisah hidup masing-masing. Bahkan tidak ada rahasia juga di masa lalu yang bisa di ceritakan pada pasangan layaknya suami-isteri pada umumnya. Itulah kenapa aku tidak ingin menikahi Steve walau orang tua kami memaksa."


Peni mengenang, dia terlihat kuat, Dinda menyukai gadis pemberani seperti dia.


"Jadi, pria yang kamu suka adalah tipe pria yang hangat dan humble;" Dinda menebak.


"Yups," jawab Peni. "Selain itu aku menginginkan pria yang pandai bermain boneka barbie seperti diri ku, hanya itu pria idaman ku," Peni berhalusinasi membayangkan prianya. "Pokoknya, jika ada pria semacam itu, aku akan membungkusnya, lalu membawanya ke distrik di pinggiran kota. Menikahinya lalu memiliki anak yang manis, hidup dengan makan sepiring berdua, bahkan tidur di atas ranjang reyot, aku rela," Peni memberitahu keinginannya.


"Itu artinya kamu tidak menyukai Steve karena dia tidak suka bermain boneka seperti yang kamu mau? begitu, yang kamu inginkan!" Dinda berargumentasi.


"Pintar sekali kekasih Steve ini," Peni membenarkan ucapan Dinda. "Oleh karena itu, aku geli melihat drama kalian berdua yang menangis di bawah hujan saling berpelukan dan berciuman ala-ala drama lokal. Haduh, pacaran jenis apa itu!" ledek Peni. Dia menghardik keduanya yang memamerkan kebahagian di muka umum.


"Jadi kamu melihat adegan itu," sahut Steve.


Peni men-decak. "Tsk! Kamu pikir selama ini aku melihat pakai hidung!" pekik Peni. "Aku ini juga manusia, jelas aku melihat kiss in the rain ala drama yang di perankan oleh ziling wu. Akh, romantisnya," Peni cemburu.


"Ehm...." Steve mendeham. "Jadi tadi siapa yang mencoba meninggalkan kekasihnya di tengah acara pernikahan," Steve menyindir Dinda. "Sepertinya ada yang mulai melupakan kejadian tadi."


Dinda memukul bahu Steve, dia tahu kalau Steve menyindirnya. "Itu semua karena kamu," Dinda menyalahkan Steve.


"Sepertinya ada yang lempar batu sembunyi tangan nih," Steve kembali berulah.


"Nggak lucu deh," Dinda sewot.


"Sudah, sudah, hentikan kekonyolan kalian," Peni menengahi Senda gurau keduanya. "Besok adalah ulang tahun Bibi. Dia akan mengundang banyak tamu dari kalangan artis, selebriti, pesohor publik hingga pejabat penting Tiongkok. Aku hanya mengatakan, buatkan sebuah kejutan untuk paman dan bibi, dengan begitu mereka tidak akan merasa bersalah atas drama kecil malam ini," saran Peni.


"Apa ini sebuah perintah?" Steve menegang.


"Bukan perintah!" bantah peni. "Apa kamu mau jadi anak yang nggak berbakti pada paman dan bibi. Please deh Steve, jangan bilang kalau kamu sudah berubah."


"Hei, sejak kapan aku berubah," Steve tersenyum kecut. "Aku masih Steve yang tampan penuh pesona."

__ADS_1


Peni mengabaikannya, dia melihat jam di tangannya. "Sudah pukul satu malam, ternyata kita mengobrol sudah berjam-jam, aku yakin kalian mengantuk, sebaiknya kalian tidur lebih dahulu."


"Aku ini bicara pada kamu, nggak usah sok-sokan mengabaikan aku," tuntut Steve.


Peni mengibaskan tangannya. "Sudah malam Nak, besok jadwal mulung ku penuh!" Peni memberitahu bahwa dia wanita karir yang sibuk.


Steve mengerutkan dahinya. "Memulung?"


"Tsk! Maksud ku, besok aku ada pekerjaan yang begitu banyak. Jadi, tidur lebih awal, aku rasa lebih baik."


Steve melihat Dinda, dia mengisyaratkan. "Sepertinya tuan putri ku juga sudah mengantuk."


Peni melihat ke atas lantai dua, lalu dia berkata. "Karena kamar lainnya belum di bersihkan, sebaiknya kalian tidur di kamar khusus tamu, di sana selalu bersih. Aku tidur dahulu, kalian bisa pakai kamar itu."


"Bukan ide yang jelek. Aku suka dengan ide ini," Steve senada dengan Peni.


"Aku nggak mau sekamar dengan kamu," tolak Dinda.


"Kenapa menolak," Steve menarik Dinda hingga masuk kedalam pelukannya. "Aku mau kita tidur sekamar malam ini," lirih Steve.


"Aku nggak mau, kita bukan sepasang suami istri yang harus satu kamar," tolak Dinda lagi seraya ingin lepas dari pelukan Steve.


Bukan Steve namanya jika tidak mengerat di tubuh Dinda. "Kamu selalu nolak," bisik Steve. "Kamu mau aku nikah lagi dengan orang lain."


Peni yang masih duduk di dekat mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Steve memang kekanak-kanakan," lirih Peni.


"Hoi," Peni menyela. "Dinda, kalau nggak mau tidur dengan Steve dalam satu kamar, nggak apa-apa. Di sebelah kamar tamu ada kamar lain, kamu boleh tidur di situ," saran Peni. "Jangan ragu, kamar itu bagus kok buat kamu," ucapnya lalu dia beranjak dari duduknya. Meninggalkan mereka berdua yang tengah cekcok ala suami istri pada umumnya.


"Kamu yakin kalau aku boleh tidur di kamar sebelahnya," Dinda memastikan.


Peni menjentikkan jarinya sambil mengedipkan matanya. "Kamu betul, tapi sayang, kecoa dan tikus mengerat di kamar itu."


"Maksudnya?" Dinda tidak mengerti.


Peni yang ada di tangga kedua berhenti memalingkan wajahnya menatap Dinda dengan godaan. "Sebenarnya itu bukan kamar, tapi gudang," hardik Peni. "Kalau kamu ingin berbaik hati dan berbuat amal, silahkan bantu aku bersihkan gudang itu untuk ku," kata Peni melahai licik.


"Kelakuan!" Umpat Dinda menghardik Peni. Dinda melihat Steve yang tengah dia duduki. Steve menatapnya juga, dengan alis di naik-naik kan. Dia mengisyaratkan bahwa itulah pilihan terakhirnya.


"Maaf ya Tuan pemarah, aku sebaiknya tidur di sofa ini saja," Dinda dengan jengkelnya meninggalkan Steve.


Steve mendengus. Melihat Dinda yang berlalu meninggalkan dirinya, terlebih pikiran kotornya mulai meronta.


Steve dengan cepat menggendong Dinda di pundaknya lalu membawa Dinda secepat kilat menaiki tangga lalu membawanya ke kamar.


"Lepaskan Steve, jangan memaksa!" Berontak Dinda tak karuan.


Tapi sayangnya, Steve tak mendengarkan perkataan Dinda. Steve hanya mengikuti alurnya dan juga kata hatinya. Steve bukan pria yang mau mendengarkan keluhan orang lain.


Di kamar, Steve membanting tubuh Dinda penuh perasaan. Dia tidak mau gadisnya encok, karena kelakukan konyolnya.


"Tidur saja yang nyenyak, di luar hujan perlahan turun, aku nggak mau calon ibu dari anak-anakku nanti kedinginan," Steve berkata menggombal.


Dinda tidak menyukainya, Steve terlalu narsis. "Jangan pernah menggodaku lagi dengan kata-kata seperti itu," ucap Dinda meminta.


"Kenapa?" Steve penasaran.


"Kalau kamu terus mengatakan hal-hal menggombal seperti itu, aku takut akan terus jatuh cinta sama kamu. Aku nggak sanggup harus menahan cinta kamu yang kian hari makin membuat aku bersikap ir-rasional," jawab Dinda.


"Itu artinya kamu memang tidak bisa menahan pesona tuan muda Steve yang berparas menawan," balas Steve. Dia menyelimuti Dinda yang mulai terasa dingin.


"Kamu tidur yang nyenyak ya, mimpikan aku malam ini," pinta Steve. Steve mengecup kening Dinda, lalu membiarkan gadisnya tertidur pulas.


Tapi Dinda dengan cepat menarik tangan Steve. "Kamu mau kemana?" tanya Dinda.


"Aku akan tidur di sofa, kamu saja yang tidur di ranjang ini," jawab Steve.


"Tidur saja di sini, aku ikhlas kamu tidur bersama dengan ku," Dinda menepuk-nepuk kasur, mengkode Steve dengan tingkah yang entah kapan dia memulai memanja.


Steve duduk di dekat Dinda, dia memegang tangan Dinda yang dingin. "Suatu saat nanti kita akan tidur di kasur yang sama," Steve berjanji. "Untuk malam ini dan seterusnya, aku biarkan kamu tidur sendiri. Aku akan bersedia tidur dengan kamu jika kita sudah menjadi suami istri, aku janji pada kamu, aku akan menepati janji ku."


Steve memeluk Dinda menjelang tidurnya. Dinda menyukai Steve yang dewasa, tidak mau tidur bersama dengannya.


"Kamu janji ya, kamu nggak akan ninggalin aku lagi," Dinda mengelus rambut Steve yang lembut. "Aku sangat mencintai kamu, Steve."


Steve tersenyum. "Aku juga sangat mencintai kamu," balas Steve. "Tidurlah, besok kita harus pulang kerumah, minta restu Mama dan kali ini di depan semua orang, aku akan memperkenalkan kamu pada semua orang sebagai tunangan ku."


"Tunggu! Dinda menarik kerah baju Steve. "Apa ini nggak terlalu berlebihan," Dinda merengek memainkan jarinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana semua orang akan menatapnya jika Steve memperkenalkan dia pada publik.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku akan jamin itu akan baik-baik saja."


BERSAMBUNG


__ADS_2