
“Untuk apa berguru pada angin demi, tak terlihat. Untuk apa berguru pada api, demi perkasa. Untuk apa berguru pada air, demi wibawa. Untuk apa memperdalam ilmu kalau hanya di gunakan untuk sombong. Maka ingatlah, belajar bukan sekedar mencari ilmu. Tetapi memperdalam ilmu. Belajar di mulai dari diri sendiri. Apakah sudah mampu mengendalikan emosi dan kesombongan. Jika sudah mampu, maka kau bisa memperdalam ilmu dengan banyak berguru. Jika belum, untuk apa berkata, kalau tak ada isinya.”
Bukankah itu terlalu sombong. Sifat dasar manusia.
_____________________________________________
Dinda jalan meng-egang, menuju ke dapur. Perut besar itu menonjol, sampai-sampai Dinda sulit melihat pijakan anak tangga.
Dinda haus, itulah kenapa dia turun ke bawah. Sementara suaminya sedang terlelap tidur. Tidak, ini bukan malam. Saat ini masih sore, pukul empat. Hanya tidur sore. Steve sampai ketiduran, hanya demi menenangkan Dinda. Karena kecemasan itu, membuat Steve tidak mau meninggalkan sang istri. Suami idaman.
“Dinda...”
Suara panggilan itu berasal dari ruang tamu. Ya, Stevie yang memanggilnya—ketika Dinda menoleh, mencari sumber suara.
“Mau kemana?”tanyanya pada Dinda.
“Mau ke dapur kak. Ambil minum.”
“Aku ikut.”
Stevie sebenarnya sedang mengecat kukunya dengan koteks berwarna biru laut. Karena ada Dinda di depannya, maka dia memanfaatkan kesempatan ini.
“Kak Stevie kenapa? Sepertinya lagi banyak pikiran.”
“Huum.” Angguk Stevie.
Stevie memeluk dan mengerat di bahu Dinda. Wajahnya terlihat mengiba. “Dinda. Kamu harus bantu aku.”
Dinda mengernyitkan dahinya, di liriknya wajah Stevie. “Kak Stevie nggak salah?”
“Nggak. Aku nggak mungkin salah orang.”
Hanya ada satu kemungkinan. Yaitu Dinda menebaknya kalau Stevie butuh bantuan membujuk mertuanya agar tidak menjodohkan Stevie.
Hanya itu yang ada di pikiran Dinda. Dan sayangnya, tebakan itu benar.
“Telepon Mama.”
“Bilang kalau kak Stevie tidak mau menikah?” Dinda melanjutkan ucapan Stevie yang mengambang. Dan gadis lajang di sebelah Dinda ini mengangguk.
“Apa kakak yakin kalau aku menghubungi Mama. Ini akan berhasil.”
Entahlah. Stevie juga bingung. Tidak tahu apakah berhasil membuat Sang Ayah mengurungkan niatnya menjodohkan Stevie, atau memang ini jalan satu-satunya bagi Stevie. Dia harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia tatap dengan cinta. Melalui Ibunya, Stevie berharap, itu berhasil—walau persentasenya nihil.
“Kita belum mencoba. Kenapa tidak?”
Dinda sedang meminum air dingin dari lemari pendingin. Sementara Stevie duduk di meja dapur, sambil memakan semua cemilan Ibu hamil milik Dinda.
“Bagaimana jika tidak berhasil. Aku saja tidak yakin bisa membuat Mama mau mendengarkan aku.”
“Kamu harus bisa. Kamu menantu kesayangan mereka.”
“Memangnya harus kak?”
“Kalau tidak yakin. Mana mungkin aku meminta bantuan kamu!” hiks.
Jleb. Stevie sungguh pemaksa. Dinda tidak tahu harus menolaknya seperti apa.
“Entahlah kak. Aku coba dulu.”
****
Libur nasional karena wabah penyakit, rasanya memang tidak enak. Niko tidak suka tinggal di rumah saja.
Namun, karena dia saat ini adalah karyawan kerja part time, maka Niko menghabiskan waktu liburnya di toko bunga. Sekalian dia belajar via daring dari ponselnya. Sekali dayung, dua belas pulau terlampaui.
“Sebentar lagi aku lulus. Aku harus bisa menembus peringkat sepuluh besar ujian masuk perguruan tinggi. Aku harus bisa sukses seperti kak Dinda. Aku ingin membahagiakan Ibu dengan prestasi ku.”
Niko memang punya banyak tekad dalam hidupnya. Itulah kenapa dia sangat berusaha keras menjadi yang terbaik di kelasnya. Juga sangat bekerja keras mengumpulkan uang. Semua itu demi biaya kuliahnya nanti.
Niko adalah juara kelas, tak ayal prestasinya belum pernah merosot. Seringnya jadi juara umum di sekolah karena prestasinya, membuat seisi sekolah bosan kala setiap tahun nama itu di sebut.
Niko memang siswa teladan, menjadi contoh positif bagi teman seusianya. Bahkan banyak anak gadis jatuh cinta padanya. Tetapi sayangnya, Niko sangat prioritas. Dia saat ini harus bijak menentukan masa depannya.
Tidak ada yang bisa di andalkan saat ini. Walau sebenarnya Steve sudah bilang akan menanggung biaya kuliahnya. Namun Niko enggan menerimanya. Dia sudah terbiasa mandiri. Tidak mau menyusahkan orang lain. Karena bagi Niko, hanya orang pemalas yang butuh bantuan orang lain.
“Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu?”
Saat Niko sedang melamunkan masa depannya. Dari pintu kios masuk seseorang yang akrab di depan matanya. Dengan senyum ramah, Niko menyambutnya.
“Aku ingin bertemu dengan karyawan kios bernama Niko.”
__ADS_1
Seorang gadis seusia dirinya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kios.
Niko paham. Wanita di hadapannya saat ini, memang sudah lama tidak bertemu dengannya.
Niko membalasnya dengan senyum, walau lama tidak bertemu, namun wajah itu tidak mudah di lupakan.
“Tania.”
Wanita itu mengangguk. “Sudah lama kita tidak bertemu Niko.”
****
Steve bangun dari tidurnya. Ketika membuka mata, dia tidak lagi melihat istrinya di atas kasur. Tadi mereka tidur bersama, sekarang hanya dia sendiri.
Steve melirik jam weker di atas meja. Waktu menunjukan pukul empat sore.
Steve beranjak dari tempat tidur, dia menuju ke dapur. Perutnya terasa sangat lapar, padahal biasanya dia tidak seperti ini jika sore.
“Baru bangun....” cicit Stevie.
Steve mengambil minum, setelah selesai meneguknya, dia mulai berkata. “Kakak dan Dinda mulai merumpi di dapur!”
“Bukan seperti itu,” Dinda menyahut.
“Lalu.”
“Tadi aku ingin minum. Kak Stevie ikut, katanya ingin bercerita sedikit.”
“Mengenai...”
“Masalah wanita,” sahut Stevie.
Steve sangat banyak pertanyaan. Entah kenapa dia sangat proteksi pada istrinya. Apalagi ada Stevie, Steve makin was-was kalau istrinya kenapa-kenapa. Walau kenyataannya, itu hanya perasaan Steve saja.
“Sayang. Aku lapar,” ucap Steve berulah. Dan itu membuat perbincangan Stevie dan Dinda terganggu. “Bisa buatkan aku makan?”
Ih. Bocah tengik sialan. Ganggu saja orang lagi bicara.
Stevie meninggalkan dapur dalam keadaan kesal. Dia malas menjadi nyamuk kemesraan suami istri itu.
“Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian. Aku sebaiknya tidak mengganggu,” kata Stevie kemudian berlalu.
“Kak Stevie pasti minta bantuan buat hubungin Mama kan.”
Steve membisik, sambil memeluk Dinda dari belakang. Dan tangan Steve saat ini terbiasa mengelus perut besar Dinda. Sedangkan Dinda sibuk membuatkan suaminya makan. Namun dia mengangguk membenarkan ucapan suaminya ini.
“Terus kamu jawab apa?” tanya Steve lagi.
“Aku bilang akan mencobanya.”
“Dia kira berhasil.”
Dinda mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Tapi dia yakin berhasil kalau aku yang melakukannya.”
Steve men-decak sambil menggeleng. Kakaknya itu masih saja tak mau menuruti kemauan sang Ayah.
“Kamu masak yang enak. Nanti malam aku akan mengajak kamu keluar.”
“Kemana?” tanya Dinda.
“Ke suatu tempat. Yang pastinya kamu akan suka.”
Tidak tahu kenapa, Dinda mendebar saat mendengar Steve akan membawanya. Otak Dinda memang sudah berputar ke kejadian di mana dia melamarnya di atas gedung tinggi.
Ah, Dinda tidak mau membayangkan kalau Steve benar-benar akan membuat kejutan seperti itu lagi kali ini.
Tapi, yang namanya Steve ini. Dia memang tidak ada ubahnya. Steve tetap memperhatikan Dinda saja memasak. Alih-alih membantu, dia hanya bisa menyusahkan.
Tangan-tangan Steve, mengelus dan mengusap perut. Calon ayah satu ini, benar-benar tidak sabaran.
Dinda melirik suaminya yang sekarang duduk di kursi dapur. Dia memang tidak pernah mau membantu memasak, bukan karena tidak mau. Tapi Dinda lebih banyak melarangnya.
Steve ceroboh, bisa-bisa dia hanya merusak masakannya saja.
“Nanti malam. Aku harap kamu jangan membuat kejutan besar. Aku tidak suka kalau kamu membeli barang-barang mahal dan aneh. Aku tidak menerimanya.”
Steve tahu Dinda tidak suka pada kejutan mahal apapun. Tapi Steve punya rencananya sendiri. Dia tidak mungkin membuat kejutan yang mudah di tebak Dinda.
“Istri ku sepertinya sangat takut kalau aku menghamburkan uang. Kamu tenang saja, aku tidak membuat kejutan mahal apapun kali ini.”
“Janji.”
__ADS_1
Steve mengangguk. "Permintaan ratu ku, terkonfirmasi."
Dinda memberinya senyuman manis. Walau Dinda tidak sepenuhnya percaya pada perkataan Steve, namun setidaknya Steve sudah hapal pada dirinya.
“Dasar suami absurd.”
****
“Maaf Tan. Aku tidak bisa kembali menjadi pacar kamu. Saat ini aku sedang berusaha memikirkan masa depan ku sebagai mahasiswa. Kamu tahu, saat ini tujuan ku hanya satu. Aku ingin masuk universitas negeri. Dan itu butuh konsentrasi. Jangankan untuk memikirkan cinta, sekedar keluar main dan kongkow bersama teman-teman pun aku tidak bisa. Aku mohon, jangan memaksakan kehendak ku.”
“Tapi Niko. Setidaknya kamu jangan egois seperti ini.”
“Tidak Tania. Kamu salah. Kamu yang egois!”
“Memaksa kamu untuk mencintai ku?”
“Apa lagi.”
“Teyapi itu hanya kiasan kamu saja kan Ko. Aku tahu, kamu pasti sudah punya pacar baru, jadi kamu mencoba melupakan aku.”
What de hell. Niko geram. Dia meremat pahanya sekeras dia bisa, rasa geram itu makin membuat Niko kesal.
Gadis dari masa lalu Niko ini datang secara tiba-tiba. Dia duduk di depan Niko. Tempat persis di mana Dinda dan Vanya dulu pernah berbincang di kios kecil ini.
Gadis di hadapan Niko mengulu* tersenyum. Meskipun senyumnya agak masam, namun nyatanya itu lebih sakit dari pada penolakan.
“Aku kira, kedatangan aku ke sini bisa membuat kita kembali seperti dulu. Ternyata tidak....”
“Karena aku sedang tidak memikirkan itu.” Miko menyambar. Dia ingin memperjelas keadaannya saat ini.
Penolakan yang di lakukan Niko pada gadis ini, membuatnya menjadi salah tingkah. Malu, canggung, dan tidak enak hati saat ini. Semuanya bercampur jadi satu, macam gado-gado.
“Kamu benar-benar tidak mau menerima ku lagi seperti dulu. Apakah kamu benar-benar bisa melupakan aku Ko saat ini?”
Niko mengangguk pelan, kegemulaian dan kelemahannya tak bisa mengganggu pikirannya saat ini.
“Kita masih SMA. Jalan kita masih panjang. Sebentar lagi kita akan lulus. Aku harap, kamu sama seperti ku Tan. Memikirkan masa depan kita masing-masing. Alih-alih memikirkan kisah remaja—cinta monyet yang tidak ada sisi positifnya sama sekali.”
“Tapi bukan ini jawaban yang aku inginkan Ko!”
“Lalu apa, Tan?”
Gadis ini mengeraskan rahangnya. Susah payah pikirnya datang jauh-jauh dari Singapura. Namun setibanya di Jakarta, kekasih masa lalunya ini justru menolaknya.
“Aku tidak bisa melupakan kamu Ko. Itulah kenapa aku ingin kamu kembali menjadi pacar ku.”
“Tapi keputusan ku sudah bulat Tan! Aku benar-benar tidak bisa melakukannya lagi. Kita sudah beda pandangan sekarang.”
“Aku tahu itu Niko,” tandas gadis ini. “Aku tahu kamu masih fokus ke pelajaran kamu. Aku pun demikian. Tapi kita sudah hampir dewasa. Di mana kita tidak harus berpikir tentang mata pelajaran melulu.”
“Maaf Tan. Aku rasa perbincangan kita sudah keluar dari jalurnya,” Niko menyela.
Niko sudah malas membahas urusan cinta. Sikap kekanakan dan kenakalannya masih belum bisa di kendalikan.
“Maaf. Aku sepertinya ingin keluar sebentar," kata Niko yang lalu beranjak dan pergi. “Maaf juga untuk hari ini, tidak bisa bicara panjang lebar dengan kamu.”
Gadis masa lalu Niko ini menatap bayangan punggung pria ber-hoodie hijau lumut ini dari jendela kaca.
Sementara di meja kasir ada penjaga kios lainnya. Karyawan sejawat Niko.
Sedangkan Niko memburu pergi membawa skuter merahnya, menjauh dari kios.
“Ko. Aku datang ke sini karena aku berharap banyak pada kamu. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang ke aku. Membuat aku tidak percaya kalau kamu berubah.”
****
Pelarian Niko membawanya menuju ke taman. Rasanya pikirannya selalu berputar di satu titik.
Titik di mana dia selalu mengingat kejadian saat gadis itu mengatakan ingin pergi ke Singapura. Dan itu membuat Niko ingin melupakan masalah percintaan sesaat ini.
“MASA BODOH DENGAN CINTA. MASA BODOH DENGAN MASA MUDA!”
Miko berteriak keras dan lantang. Terserah orang-orang akan risih mendengar ucapannya, Niko tidak peduli.
Lelah rasanya berteriak, Niko menelentangkan badannya di rumput. Celana putih yang dia kenakan, tidak takut kotor.
“Tania. Aku memang mencintai kamu. Tapi sayang. Aku kira, saat ini kita sudah menjadi masa lalu yang terlupakan. Semua sudah terjadi sejak kamu mengatakan akan pergi ke Singapura. Dan sejak saat itu pula, aku sudah melupakan kamu. Maaf Tan, aku harus menolak mu hari ini. Aku harap, kamu bisa menemukan jodoh yang benar-benar lebih baik dari ku.”
Penutup.
Note. Yang bilang banyak cast, gue tampol.
__ADS_1