
Cuaca dingin dan hujan lebat sejak kemarin terus mengguyur. Steve dan Dinda datang bersama menuju ke meja makan setelah asisten rumah tangga memanggil mereka meminta keduanya bergabung dalam acara makan malam yang telah di suguhkan oleh ayah dan ibunya.
Di meja makan yang besar itu, terlihat ayah dan ibu Steve telah duduk dengan rapi . Dari atas tangga, Steve melihat kedua orang itu lengkap dengan pakaian rapi.
Steve dan Dinda berjalan beriringan. Dari jauh Steve melihat salah satu wanita yang paling mencolok, paling cantik. Dialah Peni, wanita yang di jodohkan oleh ibunya untuk Steve. "Peni? Kenapa dia ada di sini?" Steve mengerutkan alisnya.
Wanita itu tanpa ragu bangkit dari kursinya menghampiri Steve. Dia tidak malu memeluk Steve.
"Steve, bagaimana kabar kamu," Peni memeluk Steve penuh kehangatan. "Sudah lama tidak bertemu, kamu makin tampan, aku makin menyukai kamu Steve."
Dinda yang berdiri di samping Steve merasa cemburu buta, dia tidak menyukai tingkahnya memonopoli Steve.
Dinda mendeham, mengkode Steve agar melepaskan wanita pengganggu itu.
"Peni, aku baru saja tiba. Tolong bersikaplah layaknya tamu biasa," sindir Steve. Pria ini sudah merasakan kengerian saat Dinda meliriknya dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kamu berubah, aku sudah terbiasa memeluk kamu seperti ini," Peni sengaja melakukannya di hadapan Dinda. "Lalu siapa dia? Pacar kamu?" tanya Peni menunjuk Dinda.
"Ehm.... Dia Dinda. Dia..."
"Aku sekretaris Pak Steve, nama ku Dinda, karyawan bagian keuangan grup wong, senang bertemu dengan anda Nona," sahut Dinda berkata apatis.
"Oh, hanya sekretaris. Aku pikir dia pacar kamu," Peni berkata sambil menatap Dinda sinis. "Hanya sekretaris kok belagu. Mana kelak pula, nggak ada cocoknya dengan Steve jika bersanding."
Dinda berang, dia merasa di lecehkan oleh mulut Peni yang kasar itu. Dinda mengumpat Peni dengan kata-kata kasar dalam hatinya.
Ih, mulutnya dan tingkahnya hampir sama dengan Vanya, hardik Dinda.
Dinda tidak mempedulikan Steve dan Peni yang berpelukan di atas tangga, Dinda sudah sebal melihatnya.
"Jangan lupa ya Steve, tanggal pernikahan kita sudah di tentukan," Peni memancing kegaduhan.
"Menikah!" Dinda mengerutkan keningnya, mendengar kata menikah dari mulut Peni membuat dinda geram. "Apa maksudnya, menikah?"
Namun Dinda tidak begitu ambil pusing, mungkin saja wanita itu sengaja berkata demikian. Dia membual, Dinda menganggapnya angin lalu.
Di meja makan, Steve duduk di sebelah Dinda. Sementara ibu Steve duduk di sebelah Peni dan ayahnya selaku kepala keluarga wong duduk diantara mereka yang makan berhadapan.
Mereka memulai jamuan makan malam, di temani hujan deras yang mengguyur di luar.
"Bagaimana perkembangan perusahaan di Jakarta," Tuan wong memulai bicara sambil mulut mengunyah makanan.
"Sama seperti tahun-tahun sebelumnya," jawab Steve. "Rasio perbandingan keuntungan perusahaan masih berbanding delapan puluh dua puluh."
"Papa dengar beberapa bulan yang lalu kamu membuka kerja sama dengan pengusaha penjualan produk daring dari Jerman, bagaimana kesepakatannya," sambil makan Tuan wong berbicara pada Steve. "Apa kerja sama ini menguntungkan?"
"Lancar saja, bahkan mereka meminta ekspor sepatu dalam jumlah yang besar," jelas Steve singkat.
"Bagus itu," Tuan wong memuji bangga. "Pertahankan kerja sama dengan vendor-vendor yang menghasilkan banyak keuntungan, dengan begitu produk BELAGIO kemungkinan bisa di pasarkan lebih dari seratus negara di dunia."
"Ya, sedang Steve usahakan begitu," timpal Steve. "Dalam waktu dekat, vendor dari Jepang juga akan membuka toko khusus BELAGIO di mall sekitar pusat Tokyo dan Fukuoka."
"Wuh... bagus itu," Tuan wong turut bangga dan berdecak kagum pada Steve. Jauh lebih bangga dari sebelumnya. "Kalau bisa gandeng juga perusahaan-perusahaan lokal dari Korea yang bergerak dalam bidang yang sama dengan belagio. Papa yakin dengan masuknya sepatu-sepatu dan produk pakaian andalan belagio di Korea, prospeknya jauh lebih menguntungkan," Tuan Wong menyarankan. "Apalagi negeri KPop ini terbilang maju dalam hal fashion dengan menggaet banyak bintang, terutama kawula muda korea yang juga sangat menyukai dan gemar pada sepatu-sepatu produksi di bawah belagio collection. Papa jamin, penjualan di sana pasti laku keras di pasaran Korea," lanjut Tuan wong menyarankan.
"Steve sedang berusaha, Pa," jawab Steve. "Kemungkinan China, Indonesia, India dan Korea serta Hongkong menjadi negara paling banyak yang akan memasarkan produk BELAGIO mengingat jumlah populasi kaum millenial di beberapa negara tersebut menjadi yang terbesar di Asia," Steve memberi tahu.
"Nggak salah Papa memiliki putra seperti kamu," Tuan Wong memuji. "Kamu sudah bisa bertanggung jawab sekarang atas perusahaan," Tuan Wong serius membahas masalah bisnis. Sampai-sampai, makanan yang ada di hadapannya dia hentikan sejenak, demi menikmati pembicaraan serius ini. "Satu lagi, Usahakan produk Belagio masuk ke Ethiopia dan Afrika Selatan, prospek penjualan di sana terbilang lumayan bagus," tukas Tuan Wong menyuarakan idenya.
"Akan steve usahakan seperti yang papa mau," angguk Steve.
Dia melanjutkan makannya, berharap pria tua itu berhenti mengomel, atau Steve kesal mendengarnya.
"Papa beberapa waktu lalu mengunjungi Hongkong," Tuan wong mengalihkan pembicaraan. "Papa lihat papan iklan di sepanjang jalan di pusat kota Hongkong, label BELAGIO memakai model iklan. Kamu menggunakan model dari mana, Papa menyukai konsep dan ide penjualan menggunakan model seperti ini. Sangat cocok dengan image perusahaan yang dari dulu sudah di kenal luas sebagai produk berkualitas tinggi," Tuan wong ingin tahu.
"Steve sebenarnya tidak menyewa model terkenal, dia hanya pelajar biasa yang tidak sengaja mengikuti audisi pemilihan BA grup wong. Dan ternyata dia cocok dengan BELAGIO, Steve tidak begitu bekerja keras memilih model. Ini semua karena rekomendasi Dinda," Steve berdalih, dengan mengatakan Dinda adalah trik Steve mencuri perhatian sang ayah.
"Oh.. Papa sudah mendengar banyak mengenai Dinda, sekretaris yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata," puji Tuan Wong. "Ternyata wajah dan IQ-nya sama-sama memuaskan," pria tua itu senyum sumringah seperti tak ada beban hidup.
Dinda hanya tersenyum. Tuan Wong terlalu bersemangat membahas pekerjaan.
"Lain kali, jika Papa pulang ke Indonesia, tolong kenalkan papa dengan model tampan itu, Papa harus berterima kasih padanya yang telah membantu menaikkan citra BELAGIO. Berkat dia sebagai model, papa rasa produk wong dalam hal garmen dan lainnya juga bisa meningkat. Anak itu berbakat menjadi model," lanjut Tuan Wong bicara mengenai bisnis di tengah makan malam.
"Lalu bagaimana dengan kantor cabang keuangan UOB di Jakarta?" Tuan wong beralih.
"Nilai investasinya mulai ada peningkatan signifikan seiring naiknya kurs dan suku bunga acuan," jelas Steve.
"Rupanya ada peningkatan dalam investasi keuangan ini. Memang tidak salah Papa memiliki putra seperti kamu, papa bangga pada mu," tuan wong kembali memuji seraya menepuk bahu Steve. "Ngomong-ngomong bagaimana dengan program kredit yang pernah kamu kemukakan dalam rapat tahun lalu? Apakah lancar atau justru ngadat?"
__ADS_1
"Sedikit macet," jawab Steve. "Beberapa pengusaha dan juga perusahaan besar akhir-akhir ini sering mengeluh karena kredit macet yang sedang melanda keuangan global. Bahkan UOB cabang Taiwan pun melaporkan adanya krisis keuangan, mengakibatkan laju neraca sedikit tersendak," jelas Steve.
"Kalau seperti itu, kamu mungkin harus berhati-hati, jangan sampai perusahaan bodong mengajukan pinjaman dalam jumlah besar. Kalian tidak boleh lengah, apalagi dalam penurunan mata uang negara-negara Asia cukup berimbas ke kas masuk grup wong, itu akan merugikan perusahaan," Tuan Wong memperingati.
"Steve akan usahakan itu tidak akan terjadi," jawab Steve berjanji.
"Bagus... Bagus.... Bagus.... Lanjutkan makan kalian," pinta Tuan Wong mengakhiri pembicaraan bisnis ini.
Steve rada risih saat membahas mengenai pekerjaannya dan juga bisnis ini. Steve hanya bisa menjawabnya singkat dan mengangguk saja, dia tidak terlalu menghiraukan pembahasan ini. Alih-alih menanyakan bagaimana kehidupannya selama di Indonesia, justru membahas hal tidak penting.
"Sudah tahukan kalau pernikahan kamu dan Peni tanggalnya sudah di tetapkan," Tuan Wong berkata langsung pada intinya. Dia berpikir itulah saat yang tepat menyelipkan pembahasan mengenai pernikahan ini di tengah basa basinya membahas perusahaan.
"Paman jangan bahas sekarang, Peni merasa malu jika harus membahas masa depan dengan Steve," sela Peni dengan senyum tersipu.
"Bukan apa-apa Peni, bibi hanya ingin kalian bisa menjadi satu keluarga yang utuh. Tidak ada apa-apanya membahas pernikahan ini di malam yang indah seperti ini," sahut Nyonya Diah.
"Bibi bisa saja," Peni kembali tersipu. Wajahnya terlihat memancarkan kebahagiaan saat kedua orang tua itu membahas tentang pernikahannya dengan Steve.
"Nah, benar kata bibi mu Peni," sahut Tuan Wong. "Sebaiknya kalian harus melakukan pitting baju pengantin besok," saran Tuan Wong.
Dinda yang mendengarnya mendadak terbatuk pura-pura tersedak makanan. "Maaf, aku permisi ke kamar mandi sebentar, tiba-tiba aku merasa mual," Dinda mengalihkan perhatian Ayah dan Ibu Steve juga Peni.
Steve menarik tangan Dinda. "Kamu nggak apa-apa," Steve mengkhawatirkan Dinda.
"Aku nggak apa-apa, kamu lanjutkan saja makan kamu," jawab Dinda cepat sambil menutup mulutnya. Seakan dia sedang menahan muntah yang sudah mencapai puncak.
Dinda meninggalkan meja makan, hatinya begitu hancur saat mendengar Steve akan menikah.
Alasan pergi ke kamar mandi Dinda buat untuk tidak mendengarkan kabar bahagia ini. Dinda menitikkan air matanya sambil melarikan diri.
Bukan ke kamar mandi yang Dinda tuju, justru Dinda keluar dari rumah Steve. Dia menerobos hujan yang mengguyur di tengah derasnya air mata menahan sakit.
Di tengah acara makan malam, Steve memuncak marah karena ayahnya menyinggung mengenai pernikahannya dengan Peni tepat di hadapan Dinda.
"Aku datang kesini bukan untuk mengatakan akan menyetujui pernikahan ini, tapi aku ingin menolak tegas pernikahan yang kalian buat!" Tegas Steve kesal.
Steve ikut meninggalkan meja makan dalam keadaan berang.
"Steve," Nyonya Diah mencoba menghentikan Steve. "Tolong dengarkan dulu penjelasan dari papa dan Mama Steve," teriak Nyonya Diah.
"Kamu setuju atau tidak, pernikahan kamu dengan Peni akan tetap dilaksanakan. Itu keputusan terakhir!" teriak Tuan wong.
Steve mencari Dinda di kamar mandi, dia mencemaskan Dinda. Steve merasakan apa yang di rasakan oleh Dinda.
Posisi sakit menerima kenyataannya bahwa Steve harus menikahi wanita lain.
"Dinda," Steve memanggilnya. Steve mencari Dinda di kamar mandi, tapi perempuan itu tidak ada.
"Kemana dia?" Steve kali ini mengkhawatirkan Dinda, berbeda dari sebelumnya. Steve melihat handphone Dinda di atas kasur, dia tidak membawa handphonenya.
"Handphonenya di sini, lalu kemana dia pergi," Steve menyadari bahwa Dinda bukan ke toilet tadi, tapi pergi meninggalkan mereka.
"Sial!" Pekik Steve berang. Steve menebak bahwa Dinda pergi meninggalkan rumahnya.
Dengan cepat Steve berlari kebawah. Dia ingin mencegat Dinda yang sedang di landa perasaan tak nyaman.
Di depan pintu Steve bertemu dengan asisten rumah tangga, Steve bertanya padanya. "Apa kamu melihat Dinda?"
"Oh, Nona tadi keluar sambil menangis, tadi dia bilang hanya ingin mencari angin segar," jawab ART.
"Gawat," pungkas Steve.
Steve memburu langkahnya, di luar hujan sangat deras, Steve menerobos hujan dengan membawa payung yang tergeletak di depan pintu.
Steve menyusuri jalan-jalan, feeling Steve mengatakan bahwa Dinda berada tidak jauh dari rumahnya. Steve menyisiri bahu jalan, dia mulai panik saat Dinda pergi tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara Dinda yang pergi dalam keadaan gusar dengan hati hancur bagai kaca yang berkeping-keping, berjalan terlunta-lunta menyusuri jalan tak tahu arah dan tujuan.
Tangisan dan air matanya menuntun Dinda menuju hingga di depan gedung pusat keuangan Tiongkok di Shanghai. Tidak jauh dari Huangpu river cruize, Dinda mengentikan langkahnya.
Bayang-bayang kebahagian yang dulu dia idamkan bersama Steve mendadak buyar ulah pembahasan mengenai pernikahan ini.
Dinda berhenti di depan gedung Shenzen. Jalan yang sepi membuat Dinda menumpahkan seluruh air matanya.
Pernikahan Steve dan Peni sudah di atur tanggalnya. Kata-kata yang keluar dari mulut wong membuat Dinda tak karuan.
"Kalau tahu dia mengajak ku ke Shanghai hanya untuk memamerkan kebahagiaan dengan wanita lain, mana mungkin aku akan menurutinya datang ke kota ini," ucap Dinda tertunduk menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Dinda memukul sekeras mungkin paping trotoar.
Di tengah derasnya hujan, Steve berdiri di belakang Dinda. Dia meneduhi Dinda dengan payung. Steve akhirnya menemukan Dinda karena dia sedikit hapal jalan di sekitar gedung Shanghai world trade finance.
Dinda mendongak, melihat siapa yang menghiburnya dengan memayungi hati yang gundah. Yang ia lihat tak lain adalah Steve, pria yang kini akan segera menikah dengan wanita lain.
Steve menunduk, dia menatap wajah penuh air mata Dinda.
"Jika dari awal kamu mengatakan bahwa kamu akan menikah dengan wanita lain, untuk apa kamu memberikan aku harapan," Dinda menuntut. "Memang pada dasarnya aku di lahir-kan sebagai wanita yang pantas untuk di sakiti."
"Kamu dengarkan dulu penjelasan ku Dinda," Steve mencoba menenangkan suasana hati Dinda. "Semua ini bisa kita bicarakan baik-baik!"
"Jangan pegang aku!" Teriak Dinda. "Aku memang wanita bodoh yang mau saja di tipu oleh bujuk rayu pria seperti kamu. Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Omong kosong jika kamu ingin memberikan seluruh dunia mu hanya untuk mencintai wanita miskin seperti ku!"
"Kamu salah paham, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" Steve mengerti perasaan Dinda. Perasaan seorang yang tersakiti dengan hati yang luka bagai di sayat. Perih rasanya.
"Tidak seperti yang aku bayangkan!" Dinda menirukan Steve sambil memaksa tersenyum. "Aku terlalu bodoh Steve, dengan mempercayai ucapan kamu. Percaya pada harapan yang telah kamu berikan pada ku selama ini."
"Dinda," Steve memohon. "Tolong dengarkan penjelasan ku."
"Nggak ada yang perlu di jelaskan," sahut Dinda. "Jika dari awal kamu tidak hadir dalam kehidupan ku, mungkin aku tidak akan menerima kenyataan pahit ini. Kamu terlalu munafik!" Dinda menunjuknya berang.
Steve memegang kedua bahu Dinda. Dia membuang payung yang ia pegang, Steve menerima derasnya hujan bersama dengan Dinda.
"Dinda, dengarkan aku!"
"Tidak ada yang perlu di jelaskan!" bantah Dinda. "Aku tidak mau mendengarkan penjelasan dari kamu!"
"Dinda, hei!" Kedua tangan Steve memegang tangan Dinda. "Dengarkan aku, dengarkan aku, oke," Steve memaksa. "Aku tidak pernah memberikan kamu harapan palsu. Aku mencintai kamu tulus dan apa adanya," jelas Steve. "Aku tidak pernah berniat membohongi kamu dengan membawa kamu ke Shanghai dan memamerkan pernikahan ku dengan Peni. Itu semua rencana para tetua, aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini."
Dinda mengusap air mata. "Inilah alasan ku kenapa menangis di bawah hujan," Dinda menarik nafas terisak-isak. "Agar orang lain tidak tahu bahwa aku sedang bersedih di balik wajah lugu ku ini. Dan ternyata memang aku mudah di tipu, bahkan aku wanita paling bodoh dengan termakan bujuk rayu mu. Mulai sekarang, kita akhiri hubungan kita sampai disini. Lupakan Dinda, biarkan Dinda yang menyedihkan ini meratapi nasib," Dinda menepis tangan Steve menyingkir dari wajahnya.
Steve tidak menyerah, dia kembali memegang wajah Dinda. "Dinda, dengarkan aku!" Bentak Steve dengan nada tinggi. "Semua ini bukan kehendak ku, kamu harus percaya bahwa aku tidak akan mengkhianati ucapan ku pada mu. Kamu harus memaknai kata-kata ku, bahwa kamu yang paling kamu cintai, aku mohon percaya pada ku," Steve mengiba.
Dinda kembali menepis tangan kotor Steve hingga pria itu terjungkal. Dinda berdiri, dia ingin melupakan semua apa yang telah terjadi.
"Aku ingatkan sekali lagi, lupakan semua tentang diri ku. Anggap saja aku bukan Dinda yang pernah kamu cintai, lupakan semua kenangan indah bersama ku. Mulai saat ini hubungan di antara kita telah berakhir," tegas Dinda untuk yang terakhir.
Dinda membalikan badannya lalu pergi meninggalkan Steve. Tapi Steve tidak akan membiarkan Dinda meninggalkannya dalam kesedihan.
Dengan cepat, Steve memeluk Dinda dari belakang. "Aku mohon jangan katakan itu lagi, aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu," Steve mengerat, dia tidak melepaskan pelukannya walau Dinda telah menepis pelukan itu.
Dinda dari tadi menangis tanpa henti, dia tidak kuasa menahan air matanya.
"Aku mohon, biarkan aku bebas. Bebas dari masa lalu ku bersama mu, aku berjanji akan melupakan kamu. Aku akan mendoakan kamu semoga bisa bahagia dengan pernikahan ini," Dinda melepaskan pelukan Steve. "Maaf Steve. Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan pada ku, juga aku ingin mengucapkan selamat tinggal," Dinda berlalu.
Dia merasa lega saat mengatakan kata-kata terakhirnya, juga akan melupakan Steve selamanya.
Namun kata-kata ini tidak pantas di ucapkan oleh Dinda teruntuk Steve. Dinda yang sudah melangkah berjarak beberapa meter dari Steve, kembali dengan rasa tidak ingin kehilangannya, Steve memeluk Dinda dari belakang.
"Aku mohon, percaya pada ku. Aku berjanji akan mencintai mu selalu, dan akan menolak pernikahan ini. Ku mohon jangan bicara seolah-olah kamu ingin meninggalkan aku untuk selama-lamanya!" Steve kali ini tulus mengatakannya. Dia menangis, dan ini kali pertama bagi Steve menangis di hadapan seorang wanita seumur-umur hidupnya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintai kamu. Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan mencampakkan janji kita," Steve terisak menangis. Dia mengimbangi tangisan Dinda.
Dinda membalikan badan setelah mendengar Steve menangis. Steve merundukkan kepalanya di dada Dinda dengan tangisan yang sama seperti yang dinda rasakan. "Aku mohon, jangan pernah katakan selamat tinggal. Juga jangan pernah katakan bahwa kamu akan melupakan aku. Aku tidak menerima semua ini. Tolong jangan tinggalkan aku, sekali lagi aku memohon," Steve menyeka air matanya.
Steve tidak tahu kenapa dia bisa menangis seperti ini menyeimbangi tangisan Dinda. Yang jelas semua terjadi begitu saja, Steve tidak terima jika Dinda akan berlalu meninggalkan dirinya.
Dinda mengangkat kepala Steve. Dinda menatapnya dalam-dalam. Mendengar ucapan Steve ini, Dinda merasa berat untuk mengucapkan kata-katanya tadi. "Kenapa kamu menangisi wanita malang seperti ku?" tanya Dinda. "Bahkan aku tidak pantas untuk kamu, Steve."
"Tidak peduli seperti apa kamu, dari mana kamu, dan apa yang orang-orang pikirkan tentang kamu, aku tetap mencintai kamu dengan tulus," Steve menangis mengiba. Dia terisak sama seperti Dinda, namun bedanya tangisan Steve tegas. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Ini terakhir kalinya aku meminta."
Bahkan dia menangis untuk ku. Hanya karena dia tidak mau aku meninggalkannya. Apa yang telah aku perbuat? Dinda luluh, perasaannya pada Steve tidak bisa di tukar hanya dengan emosi sesaat.
Dinda memeluk Steve, di tengah derasnya hujan ini Dinda merasa ada kekuatan saat Steve menangis di pelukannya. "Mari kita lalui ini bersama," bisik Dinda yang samar-samar terseret derasnya suara hujan.
Tapi jelas Steve mendengar kata-kata Dinda, sesegera mungkin Steve mengakhiri tangisan lalu menatap Dinda. "Apa yang kamu bilang tadi. Apakah itu benar-benar nyata?" Steve memastikan.
Dinda mengangguk, dia benar-benar mengatakannya. Mengatakan kata-kata yang seketika membuat Steve merasa kembali pada dunianya yang penuh cinta.
Steve merasa senang, Dinda memberikan sebuah kesempatan padanya. Steve lalu mencium bibir Dinda di bawah gedung Shenzen.
"Kamu janji tidak akan meninggalkan aku," Steve ingin memastikan dengan benar ucapan Dinda.
"Aku berjanji, aku akan melalui semua apapun kesulitan itu bersama mu. Bahkan jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, maka dunia sepuluh ribu tahun yang akan datang aku rela menunggunya demi kamu," kata-kata Dinda ini membangkitkan semangat Steve.
Sekali lagi Steve memeluk Dinda, dia ingin merasakan kehangatan di tengah hujan deras yang melanda kota Shanghai.
__ADS_1
BERSAMBUNG