UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 162


__ADS_3

Steve terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam di sebelahnya menunjukkan pukul satu lebih lima puluh dua menit. Kemudian Steve menoleh ke belakang, Dinda masih terlelap tidur.


Perutnya mulai terasa lapar, walau Steve malas bangun. Namun rasa di perutnya malah makin membuat Steve tak bisa memejamkan matanya. Terpaksa, Steve harus bangun mencari makan di dapur.


Lazimnya bagi Steve kalau bangun di jam seperti ini. Sudah menjadi jadwal yang mungkin tak bisa di atur ulang.


Ketika hendak keluar, Steve melihat sang putra juga sudah bangun. Sesaat kemudian, dia bersin kecil. Dia tidak bersuara, biasanya dia menangis saat bangun.


“Putra Ayah sudah bangun juga rupanya.”


Steve meraih Iqbal yang asik bermain sendiri, lalu menggendongnya. Matanya sangat lincah, seakan dia sedang tidak dari bangun tidur rupanya.


Namun......


“Astaga. Anak ayah.”


Satu hal yang belum pernah Steve dapatkan dari putranya, yaitu tubuh yang panas. Dan Steve mendapatkannya malam ini.


“Anak Ayah demam. Bagaimana bisa ini terjadi.”


Kekhawatiran Steve membuatnya gerak cepat. Dia langsung membangunkan Dinda, terlebih si kecil dari tadi bersin hingga berkali-kali. Panik, sungguh Steve mulai panik. Anaknya terserang demam.


“Sayang, bangun. Iqbal demam,” kata Steve pada Dinda.


“Hah.” Dinda memaksa terbangun, walau agak kaget, seraya mengucek matanya. “Bagaimana bisa?” Dinda mengambil alih Iqbal, lalu menggendongnya dan menempatkan punggung tangannya di kening Iqbal. “Iya badannya panas,” kata Dinda dengan ekspresi wajah cemas.


“Aku tidak tahu. Setelah aku bangun, aku lihat Iqbal juga bangun. Tadi dia sempat bersin-bersin hingga beberapa kali, setelah aku cek. Badannya panas. Dia juga tidak menangis, aku tidak tahu kalau dia sudah demam.”


“Oh sayang. Seharusnya kamu tidak tidur di kamar ber—AC bersama ayah dan bunda.”


“Kita bawa ke rumah sakit saja. Aku takut Iqbal kenapa-kenapa.”


Dinda mengangguk. Usulan yang tepat.


Steve meraih jaketnya bersamaan dengan handphone dan kunci mobil di atas meja. Dinda sudah turun ke bawah lebih dahulu, sambil mendekap Iqbal di dalam pelukannya.


Langkah mereka agak terburu-buru, pasalnya ini kali pertamanya si kecil panas tinggi.


“Kenapa dia tidak menangis. Biasanya kalau anak kecil demam, dia pasti rewel. Kenapa putra kita tidak. Aku takut dia kenapa-kenapa. Ini kali pertamanya dia demam.”


Mereka sudah melaju cepat di jalan. Dinda yang duduk di sebelah Steve, menangis sesenggukan. Rasa takut sudah membuat Dinda panik tak karuan.


“Kamu yang tenang. Aku juga takut si kecil kenapa-kenapa. Jauh lebih baik kalau kita tidak panik. Agar tidak mempengaruhi kondisi iqbal.”


Steve memahaminya, bahkan dia jauh lebih cemas dari Dinda. Iqbal adalah putra satu-satunya yang baru lahir, takut rasanya kalau Steve kehilangannya.


Steve mempercepat laju kendaraannya, agar cepat sampai di rumah sakit. Walau jam masih menunjukan dini hari, namun siapa peduli. Steve mengutamakan kepentingan putranya.


“Percepat sayang. Kita harus cepat sampai di rumah sakit,” rengek Dinda masih sesenggukan.


“Iya. Aku sedang berusaha.”


Kemudi itu melaju mulus, sebab jalan agak lengah. Tadi Stevie bilang akan menyusul, namun Steve melarangnya. Kakaknya juga masih terjaga, dia juga sempat khawatir pada Iqbal.


Sesampainya di rumah sakit, beruntung. Di depan pintu masuk ada beberapa suster jaga yang masih hilir mudik. Meskipun tidak ramai, namun itu cukup membantu suami istri yang tengah khawatir berlebihan ini.


“Suster. Tolong putra ku. Dia demam. Badannya sangat panas,” kata Steve pada suster.


“Ayo Pak. Langsung saja di bawa ke ruangan IGD.”


Suster yang menangani, langsung mengarah ke ruangan IGD. Di sana Steve langsung menaruh putranya dia atas bangsal. Tak lama, dokter jaga tiba. Syukurlah, tuhan masih sayang. Dokter yang menangani adalah dokter spesialis anak-anak. Jadi dia paham cara menangani bayi seperti ini.


Dinda terlihat sangat cemas, sesekali air matanya sudah berlinang.


“Iqbal nggak kenapa-kenapa kan,” katanya sesenggukan di pelukan Steve. Mereka di pinta menunggu di luar, agar tidak mengganggu dokter yang bertugas. “Iqbal pasti baik-baik saja kan.”


“Kamu yang tenang. Iqbal pasti tidak kenapa-kenapa. Kita percayakan pada dokter. Iqbal anak yang kuat, pasti dia bisa melewatinya.”


Steve mencoba menghibur Ibu yang sudah gundah ini. Steve membelai rambut Dinda, rasanya dunia mereka hancur saat Iqbal sakit.


“Kita duduk dulu. Kita tunggu sampai dokter yang menanganinya keluar.”


Dinda mengangguk. Steve memapahnya duduk di bangku tepat di depan ruangan IGD. Dinda masih memeluk suaminya, tangisan itu belum berhenti.


“Aku takut. Aku takut kalau Iqbal terjadi sesuatu.”


“Sudah. Jangan pikirkan apapun yang tidak-tidak. Percayalah. Si kecil kita kuat. Dia pasti lekas sembuh.” Steve mengelus bahu Dinda. Tangisan itu belum berhenti, sampai Dinda mendapatkan hasil positif dari putranya.

__ADS_1


Tak lama, dokter yang menangani putranya, keluar sambil mengalungkan kembali stetoskop ke lehernya. Dinda dengan cepat menginterupsinya dengan pertanyaan yang sering di dengar oleh wanita paruh baya ini.


“Bagaimana keadaan putra ku dok?”


Dokter tersenyum. Sementara satu tangannya menutup pintu ruangan. “Jangan khawatir. Putra Ibu dan Bapak hanya demam biasa. Tidak usah di cemaskan. Di tunggu beberapa jam lagi, pasti panasnya akan turun. Hal ini lumrah terjadi, karena daya imun si kecil sedang terganggu.”


“Apakah itu tidak membahayakan kesehatan putra ku dok kedepannya?” Steve menyambar ucapan sang dokter. Dia juga tidak mau kalau putranya diagnosa penyakit parah.


“Tidak pak,” sang dokter menggeleng. “Jangan khawatir. Menurut hasil pemeriksaan yang saya lakukan. Putra Bapak sangat sehat. Dan ini menjadi demam pertamanya sejak lahir. Jadi wajar, apalagi dia tidak menangis. Anak Bapak dan Ibu cukup kebal terhadap penyakit seperti demam ini.”


Itu tanda kutip. Steve belum begitu yakin, bisa saja mereka salah diagnosis. Namun tidak bagi Dinda. Dia percaya, mendengar putranya baik-baik saja, rasanya kekhawatiran itu berubah menjadi lega.


“Kalau tidak ada lagi yang di tanyakan. Saya permisi dulu. Nanti putra Bapak dan Ibu akan di tangani suster. Dan akan di pindahkan ke bagian perawatan bayi,” kata dokter yang ingin berlalu.


“Terima kasih dok,” Steve membalasnya agak ramah.


Dinda langsung masuk ke dalam ruangan tempat Iqbal di rawat. Syukurlah, si kecil terlihat tidur agak pulas.


Di kening putranya, terpasang sebuah alat kompres buatan pabrik. Mungkin produk penurun panas, dan suster di sana juga sudah berlalu usai menyelesaikan pekerjaannya.


“Anak Bunda kenapa nggak menangis kalau sakit. Kan Bunda bisa cepat membawa Iqbal ke rumah sakit.”


Cemas mulai mereda, setelah melihat Iqbal tertidur pulas. Dinda menunggu di bangsal putranya yang sudah di pindahkan ke ruangan lain. Sementara Steve baru saja pergi mengurus biaya administrasi putranya.


“Ini total biaya yang harus di bayar Pak,” kata perawat bagian administrasi. “Sekalian dengan resep dokter. Bapak bisa menebusnya di apotek seberang jalan.”


“Baiklah. Terima kasih.”


Steve merogoh kantongnya, mengeluarkan beberapa uang. Beruntung, dia tidak melupakan dompetnya.


Ketika selesai mengurus biaya administrasi, sebelum tumit Steve berputar, handphone Steve yang ada di saku celananya berdering.


“Kak Stevie?”


Steve tahu, pasti kakaknya ikut khawatir mengenai keadaan Iqbal.


Steve menggeser tombol hijau di ponselnya. Menjawab panggilan telepon dari wanita itu.


[“Bagaimana keadaan Iqbal?”]


Tidak ada basa basi, Stevie langsung menanyainya.


[“Syukurlah.”]


Mungkin suara di balik benda rata ini, Stevie sedang mengurut dada, melepaskan napas lega. Steve mendengarnya begitu, dan mengimajinasikannya sebagai bentuk kelegaan.


[“Lalu apa lagi. Apakah si kecil ku diagnosa sakit lainnya. Apakah dokternya sudah benar-benar mengecek kesehatan si kecil. Jika belum, chek. Jangan sampai Iqbal ku diagnosa penyakit lain. Kamu paham!”]


Agak cerewet. Seakan dia adalah Ibu si kecil. Steve memijat kepalanya, Stevie terlalu banyak menuntut di jam setengah empat pagi ini.


“Aku sudah memastikan itu. Kakak tidak perlu khawatir. Jika tidak ada yang ingin di katakan lagi. Aku tutup teleponnya.”


[“Hei. Aku belum sel......”]


Tut Tut Tut. Steve tak lagi menghiraukan suara Stevie di sana. Teleponnya amat menggangu. Steve kembali menuju ke ruangan tempat putranya di rawat. Tidak jauh, hanya beberapa meter dari ruang administrasi.


“Sayang.” Ketika membuka pintu, Steve langsung menyapanya. “Bagaimana keadaan Iqbal. Apa kata suster tadi?”


Dinda menengok, sosok suaminya sudah kembali ke ruangan putranya.


Di sana Iqbal terbaring lesu. Agak pulas tertidur, dan wajah menggemaskannya membuat Steve pilu.


“Suster bilang, Iqbal boleh pulang besok.”


°°°°°


[“Aku tidak pulang malam ini. Besok aku ada les dari pagi. Aku bermalam di rumah Tyo. Jangan khawatirkan aku kak.”]


Sudah pukul setengah empat, Miko masih memandangi pesan dari adiknya, Niko. Pesan itu tidak di balasnya, jawabannya pasti Niko tidak akan kembali.


Miko tidak bisa tidur, dia memainkan gawai-nya hingga larut. Insom itu agak mengganggu, pada akhirnya Miko beralih naik ke rooftop.


“Sudah bermain game selama berjam-jam. Tetap saja aku tidak bisa tidur,” keluh Miko kesal.


Biasanya, kalau sulit tidur. Miko memainkan game Konsul, karena kalau memainkan game, dia akan lelah. Dan lelah itu, berubah menjadi kantuk. Namun malam ini tidak. Itu Tidak terjadi, entah hukum alam apa yang terjadi.


Di atas rooftop, dia menyandarkan sikunya di pagar pembatas atap. Sambil memandangi bangunan di depannya, Miko menggulirkan sembarangan layar handphonenya.

__ADS_1


“Kamu belum tidur Ko.”


Dari belakangnya, suara Selena menegur. Miko tidak menoleh, namun langkah kaki Selena cukup jelas berjalan mendekatinya.


“Kenapa tidak tidur. Insom?” Selena berdiri sejajar dengan Miko, dia ikut menyaksikan perumahan di depannya. “Bahaya kalau berdiri di luar pakai baju lengan pendek. Banyak angin malam, nanti terserang angin duduk loh.”


Miko meliriknya sedikit, tidak sampai matanya melihat gadis itu seutuhnya. “Kenapa kamu peduli apakah aku insom atau tidak.”


“Karena cukup jelas.”


“Kita bukan siapa-siapa,” tandas Miko yang mengerti pada arah perkataan Selena. “Kita hanya dua model pakaian pengantin yang di pertemukan beberapa bulan yang lalu. Itu tidak lebih dari apapun.”


“Bagaimana dengan bunga yang kamu berikan dua hari yang lalu?”


“Bunga?” Miko ingat. Bunga itu adalah pemberian dari Niko. Karena salah satu pelanggan menghadiahkannya untuk Niko, lantaran dia sudah mengantarkan bunga tepat waktu dan tidak rusak.


Saat itu Miko tak sengaja berpapasan dengannya di depan mall, dan Niko memberikannya pada Miko sebagai hadiah karena karir pekerjaannya bagus. Namun siapa sangka, Selena mengerjap, mengklaimnya secara sepihak.


“Kamu memberikannya pada ku dua hari yang lalu. Aku rasa itu cukup jelas. Kalau kamu meny........”


“Hemph.......”


Belum usai dia menyinggung kejadian itu, Miko langsung ******* bibir Selena. Hingga gadis itu tak mampu menuntaskan ucapannya.


“Miko. Kamu!” Selena terperangah kaget, Miko mendadak melakukannya. “Ciuman ini........ Kamu......”


“Bunga yang aku berikan dua hari yang lalu. Bukan sengaja aku berikan pada kamu atau aku ingin menyatakan perasaan ku pada mu. Tapi itu pemberian adik ku yang tak sengaja kamu klaim,” bisik Miko pelan.


Selena ternganga kaget. Dia menguak mulutnya lebar-lebar, kemudian ingatannya kembali pada kejadian dua hari yang lalu. Di mana bunga yang dia rebut dari Miko —adalah bunga dari adiknya.


“Tapi ciuman ini!”


Miko tidak menyangkal, dia memiringkan kepalanya ke kanan kilat. Di ikuti kedua alisnya berkedut ke atas.


“Itu ciuman pertama dan terakhir ku. Aku harap, setelah malam ini, kamu akan melupakan aku.”


Miko beralih, memutarkan badannya. Mencoba meninggalkan rooftop, tanpa mengajak Selena.


Tapi gadis itu, alih-alih sakit hati di tolak Miko. Justru dia mengejar Miko, lalu memeluknya dari belakang.


“Beribu kali kamu menolak ku. Sebagai seorang wanita yang tergila-gila pada mu. Aku tidak akan menyerah mendapatkan cinta mu.”


“Selena!” pekik Miko. Dia melepas paksa tangan gadis itu, namun gagal. Tangannya mengikat keras di perut Miko.


“Tidak peduli apakah bunga itu bukan untuk ku. Atau ciuman malam ini adalah ciuman penolakan. Bagi ku, kamu sudah menandai ku kalau aku adalah wanita satu-satunya di hati mu.”


“Selena.”


“Ko....... Bisakah kamu mempertimbangkan perasaan ku. Ini bukanlah zaman di mana hanya pria saja yang akan mengungkap perasaannya. Wanita tidak selamanya menunggu, ini emansipasi. Aku mohon, aku sudah mengemis cinta mu. Balaslah walau sedikit meskipun tidak berarti bagi mu.”


Miko memandang sekeliling lingkungan rooftop. Dia takut kalau ada yang melihat mereka.


Aman.


Miko merasa memang di tempat ini tak ada siapapun. Miko membalikkan badannya, Selena benar-benar gadis yang luar biasa out of the box.


“Selena......”


Gadis itu mendongak, menatap wajah yang memanggilnya. Sedetik kemudian....


“Hemph.......”


Miko kembali mencumbu bibir Selena. Di raupnya hingga habis bibir si model cantik itu, hingga dia tidak bisa berkata apapun. Kecuali—Miko berkata bahwa dia sedang berusaha.


“Aku butuh waktu untuk mempertimbangkannya.”


“Kamu menerima ku?”


Miko menggeleng. “Aku perlu mencobanya lebih dahulu.”


“Kamu serius?”


“Kita tunggu saja besok!”


Selena merasa girang bukan kepalang. Akhirnya, apa yang dia tunggu-tunggu kini menjadi kenyataan.


“Tidak peduli apakah besok kamu akan sepenuhnya menolak ku. Tapi malam ini, kamu membuktikan kalau aku adalah yang terbaik,” lirih Selena menggemas.

__ADS_1


Miko terkekeh. “Kamu lebih gila dari penggemar ku.”


“Itu semua karena kamu—Makanya aku gila.”


__ADS_2