UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 16


__ADS_3

"SELAMAT DATANG DI KANTOR PUSAT INDUSTRI WONG GRUP. ANDA MEMASUKI KAWASAN BEBAS ASAP. MOHON PERHATIKAN LINGKUNGAN SEKITAR DAN TURUTI PERATURAN KAWASAN INI UNTUK TIDAK MEMBUANG SAMPAH SERTA MERUSAK LINGKUNGAN. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN ANDA."


Suara dalam speaker ini lazim di dengar di mana perusahaan besar berdiri. Sistem keamanan yang ketat membuat perusahaan besar seperti grup wong tak bisa di masuki oleh orang sembarang. Kecuali bagi mereka yang memiliki ikatan khusus seperti pekerja, klien dan kerabat perusahaan hingga para RUPS (RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM).


Sistem pengenalan dengan Id card dan barcode, sudah menjadi inovasi terbaru dari grup wong dalam menjalankan usaha dengan lancar sesuai prosedur dan SOP yang di terapkan oleh undang-undang yang berlaku di Indonesia.


Dinda dan Steve telah tiba di kantor pusat dan setibanya disana Steve di sambut oleh beberapa karyawan dengan hormat.


Di depan pintu perusahaan terlihat beberapa wanita berdiri dengan anggun mengenakan pakaian berwarna hitam dan rambut di Cepol ala pramugari dan bisa di kenali sebagai resepsionis.


Bahkan para penjaga pintu tamu perusahaan saja berpakaian jas hitam layaknya pengusaha muda. Wajah yang segar dan sedap di pandang dengan headset menempel di sepanjang jalur daun telinga.


Wajah tegas mereka memberikan aura bahwa scurity di perusahaan wong grup adalah sekumpulan pria gagah yang terlatih dalam bidang bela diri.


Berapa wanita Juga menyambut Steve dengan menunduk seperti yang di lakukan oleh orang-orang Asia timur dalam menyambut tamu kehormatan.


Mereka melakukannya dengan kompak dan rapi di sepanjang jalur yang di lintasi oleh Steve.


Pikir Dinda entah dari mana orang-orang ini mendapatkan adab penyambutan tamu dengan budaya dari Asia timur. Sehingga batin Dinda bertanya-tanya mengapa perusahaan ini amat menghormati Steve, ya meskipun Steve adalah bos. Namun berbeda dengan kebanyakan CEO yang ia temui, semuanya saat bertemu dengan karyawan hanya menegur seperti, "Selamat pagi pak! siang pak, sore pak," dan sebagainya. Pikir Dinda ada yang aneh dengan otak para pekerja disini.


"Selamat siang pak! Para klien sudah menunggu di ruang rapat hari ini," sambut salah satu wanita yang berpakaian mirip dengan Dinda namun pakaian wanita itu lebih gelap di bandingkan dengan yang Dinda kenakan. Dinda menebak wanita yang sedikit lebih tua darinya itu adalah sekretaris Steve atau kepala bagian personalia.


"Mari pak lewat sini," ucap wanita itu menunjukan arah jalan dengan hormat dan santun. Dinda melihat senyum para pekerja sangat berseri saat Steve datang. Berbeda dengan para pekerja di kantornya yang selalu menyambut kedatangan Steve dengan wajah lesu tak berdaya. Mereka selalu mengumpat Steve setiap melihat wajahnya.


"Bahkan dia sendiri banyak pelayanan di perusahaan milik keluarganya. Mengapa harus aku yang menjadi sekretarisnya?" tanya Dinda dalam hati. Ia berjalan menyamai langkah Steve yang terbilang sangat lebar sehingga mau tak mau Dinda sedikit berjalan dengan cepat.


Steve menghentikan langkah kakinya sejenak.


Lalu ia mulai bicara dengan nada yang sedikit lembut berperasaan.


"Kamu boleh pergi sekarang. Karena Dinda yang akan menjadi notulen hari ini." Ucap Steve pada wanita yang menuntun jalan mereka menuju ruang rapat.


"Baiklah pak. Aku akan kembali keruangan ku sekarang," wanita itu menjawab dengan rendah hati tanpa membantah. Lalu ia pergi menjauh dari bos galaknya.


"Mengapa semua orang di kantor ini sangat menghormati pria sombong ini. Bahkan dari segi ketampanan saja di sudah berbeda dengan adik ku," ucap Dinda mengumpat Steve. Ia membandingkan Steve dengan adiknya.


Dinda melirik kembali wajah steve demi mendapatkan sesuatu untuk di komentar dalam hatinya.


Dia mencari kesalahan demi kesalahan agar bisa di bandingkan dengan saudaranya yang tak kalah tampan dengan Steve.


"Bahkan wajah tanpa ekspresinya itu lebih buruk dari adik-adik ku. Apanya yang bisa di banggakan dari pria mesum ini! otak orang-orang yang mengatakan bahwa dia adalah pria yang sempurna dalam segala hal? aku rasa otak itu harus di cuci agar mereka melihat begitu kejamnya dia." Ucap dinda mengumpat dan menambahkan kejelekan Steve. Dinda begitu bangga jika adik-adiknya bisa berdiri sejajar dengan Steve dalam hal ketampanan.


Dinda membayangkan wajah adiknya dengan wajah Steve dalam sebuah rating perbandingan sehingga secara tak sadar ia merasa bahwa itu adalah hal lucu. Dinda mulai terkekeh.


"Apa sudah selesai kamu melirik dan mengumpat ku!" tanya Steve bernada ketus. Ia sadar bahwa Dinda sedang melihat dengan detail setiap tubuhnya demi mencari kekurangan di dalam tubuh Steve yang berharga. Ia merasakan itu dari tawaan kecilnya.


"Sial dia tahu jika aku sedang memperhatikan dirinya." Gerutu Dinda dalam hati.

__ADS_1


"Aku harus mengganti topik pembicaraan. Jika tidak, pasti dia akan melakukan hal yang tak bisa aku bayangkan sebelumnya." Dinda mulai berpikir untuk berpindah pokok perhatian.


Hingga Dinda menemukan ide yang cukup baik untuk mengalihkan perhatiannya pada Steve dengan menyembunyikan di balik senyum yang menawan.


"Aku hanya berpikir Anda terlalu sempurna hari ini. Sampai-sampai semua orang menundukkan kepalanya di hadapan pak Steve. Anda sungguh pria yang berkarisma pak," Ucap Dinda sok manis memuji namun hatinya berkata tidak demikian.


"Benarkah!" Steve merespon dengan cepat. Seperti biasa senyum licik dan penuh tipu daya menghiasi wajahnya yang kejam.


Tangan nakal Steve tak bisa terdiam di kala bicara pada Dinda. Ia mengangkat dagu Dinda untuk menyaksikan sepasang bola matanya yang tajam. Berbeda dengan wanita lainnya, Steve bahkan tak ingin menyentuh mereka.


Namun Dinda pengecualian.


"Kamu gadis kecil yang pandai berbohong. Kamu pasti sedang mengumpat ku dengan kata-kata kasar bukan?" ucap Steve menebak isi benak Dinda.


"Sial, bahkan dia tahu apa yang aku pikirkan!" seru dinda sebal.


"Mana mungkin aku mengumpat anda yang begitu elegan. Bahkan tak ada keberanian untuk ku mengumpat bapak yang tampan," Dinda membalas ucapan Steve sedikit ragu.


Ia tak biasa memandang sepasang wajah yang begitu kasar dan kejam seperti Steve. Sehingga image bar-bar Steve melekat di benak Dinda yang membuat dirinya sedikit takut jika berhadapan dengan pria sombong ini.


"Sungguh kau tak mengumpat ku?" tanya steve memastikan ucapan Dinda.


Dinda hanya mengangguk setuju pada ucapan Steve.


Steve melihat kebohongan itu, meskipun Dinda tak mengatakan dengan jujur tetapi ia bisa melihatnya dari bola mata Dinda. Bola mata yang penuh keraguan, ketakutan, bimbang dan ragu kala melihat dirinya.


"Baiklah. Persiapkan diri mu. Kamu akan menjadi notulen rapat penting ku hari ini." Steve mengakhiri tingkahnya yang selalu semena-mena. Sambil ia merapikan jasnya yang berantakan, dirinya tak mau membuat Dinda merasa takut jika melihat sepasang mata yang kejam itu.


"Kalau begitu ayo kita menuju keruang rapat."


Namun Dinda menyela ucapan Steve. Dinda melihat bahwa pakaian bosnya itu kurang rapi. Hal ini membuat Dinda berinisiatif untuk membantu merapikan bagian yang dianggapnya kurang tepat.


"Maaf pak, dasi Anda kurang rapi. Bolehkah aku membantu anda merapikannya," sela Dinda penuh perhatian.


Steve tersenyum dengan bangga, karena akhirnya Dinda mulai memperhatikan dirinya.


Cukup di perhatikan saja Steve sudah merasa bergairah apalagi ia membantu merapikan dasinya dengan senang hati, sungguh bahagia memuncak sampai ubun-ubun Steve saat itu.


Senyum Steve seakan meruntuhkan imagenya yang kasar saat wanita kesayangan memberikan perhatian walau hanya sebatas merapikan dasi.


Dengan senang hati Steve memberikan lehernya yang jenjang dan menundukkan kepalanya agar wanitanya tak kesulitan membantu dirinya.


"Begitu perhatiannya gadis nakal ku ini," ucap Steve dalam hati sambil melihat wajah Dinda.


Dinda merapikan dasi itu dengan rapi dan dengan senang hati melakukan hal itu.


"Selanjutnya, jika aku memasang dasi kurang rapi. Maukah diri mu memperhatikan aku dengan baik seperti ini?" tanya steve. Jarak bicara yang amat dekat membuat Dinda bisa merasakan nafas segar Steve serta aroma tubuhnya yang cool.

__ADS_1


Sungguh jarang seseorang pria sangat memperhatikan aroma tubuh Semacam Steve. Di balik wajah garangnya masih tersimpan sedikit kebersihan di hidupnya.


Hati Dinda perlahan mulai berdegup kencang tak tahu kenapa. Ia belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya.


Seperti perasaan takut akan sesuatu tetapi tak separah yang ia bayangkan. Karena rasa takut itu terkadang di ikuti dengan sebuah kebahagiaan akan hadir sesuatu yang sedang ia nantikan. Entah apa, namun itu amat familiar di rasakan-nya.


"Apa maksud dari ucapan pak Steve. Apakah dia mencoba menggoda diriku?" batin Dinda bertanya-tanya.


"Ayo katakan. Apakah kamu bersedia memperhatikan aku jika aku sedang memasang dasi tidak benar," sekali lagi Steve mengulangi ucapannya.


"Aku....Aku.... Aku akan melakukannya jika ada kesempatan untuk memperhatikan bapak. Jadi ku mohon bapak jangan terlalu mendekati wajah bapak di hadapan ku."


"Menarik! Lain kali aku akan memasang dasi ku kurang rapi sehingga dia akan memperhatikan ku dengan manis. Ya aku akan melakukannya mulai besok." Steve merasa senang membara dalam hati dengan idenya yang ia anggap cantik dan berkelas. Ia bergumam senang dalam hati, karena belum pernah ia mendapat perhatian seperti ini sebelumnya.


"Baiklah. Aku percaya pada mu. Lain kali pegang ucapan mu," Steve menarik wajahnya yang menunduk terlalu dekat di hadapan Dinda.


"Syukurlah aku terbebas," bicara Dinda dalam hati dengan perasaan lega. Ia menarik nafas panjang. Nafas segar Steve tadi membuat hidung Dinda menghirup udara yang keluar dari mulutnya. Benar-benar sangat segar lirih Dinda.


"Kalau begitu, langsung saja kita keruangan rapat. Pasti pengusaha-pengusaha tua itu sudah menunggu mu disana," ajak steve berinisiatif. Bahkan keduanya tak memperhatikan jam karena Steve keasikan menggoda Dinda di koridor kantor yang sepi.


Keduanya langsung menuju ke gedung rapat yang sudah di nantikan oleh banyak orang.


Di dalam ruang rapat itu. Terdapat meja bundar yang luas mirip dengan lapangan sepak bola. Tetapi lebih menonjol ke bentuk meja persidangan di gedung mahkamah konstitusi internasional di den Haag, Belanda.


Di sana, sudah banyak pria-pria tua yang menantikan kedatangan CEO muda untuk menguraikan pembahasan mengenai kerjasama antar perusahaan.


Pria-pria tua berjas hitam pekat dan berambut putih khas bule-bule ras Nordik bermata biru.


Saat melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan rapat itu, Dinda yang mengekori Steve dari belakang sedikit gugup karena ini kali pertama baginya datang ke kantor pusat yang terlihat begitu besar dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Para tetua, khususnya pengusaha dari Jerman itu langsung menyambut hangat kedatangan Steve dari awal masuk.


Mereka yang semula sedang duduk dengan santai saling berbincang-bincang, saat melihat langkah kaki Steve semuanya berdiri membungkuk dengan serta merta.


Seakan Steve penuh aura pesona yang tak memudar. Sekalipun pria tua, mereka menghormati Steve dengan baik seperti sedang menghormati tokoh penting di negaranya.


Mereka menyapa Steve seraya menyalami tangan lembut Steve dengan khidmat diikuti wajah berseri-seri.


Dinda hanya bisa menjadi penonton drama yang di lakukan Steve. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana Steve yang sombong begitu bisa ramah dan bersahabat saat bule beruban itu menjabat tangan.


Mereka berbincang-bincang menggunakan bahasa jerman, yang bahkan Dinda sendiri tak paham kecuali mereka bicara dalam bahasa Inggris mungkin saja Dinda akan mengerti.


Namun Steve dengan lincahnya dan fasih paham sekali atas apa yang mereka katakan. Dinda baru menyadari hal itu jika Steve ahli dalam berbahasa asing. Bahkan bahasa Jerman yang di ucapkan oleh Steve hampir setara dengan penutur aslinya.


Dinda untuk sejenak tertegun mendengar bicara Steve yang lancar seperti jalur rel kereta cepat. Tak ada kendala dan indah untuk di dengar. Itulah Steve, penuh rahasia di hidupnya yang perlu Dinda pahami sedikit demi sedikit.


Untuk sejenak Dinda kagum pada kemampuan bicara Steve yang memukau. Ia tak percaya jika Steve bisa melakukan hal-hal di luar dugaannya. Stigma Dinda mengatakan bahwa Steve adalah pria yang biasa saja membuatnya malu sendiri. Bagi Dinda untuk kedepannya ia tak akan lagi menilai Steve hanya dari penampilan saja, namun dari ketulusan setiap perbuatannya.

__ADS_1


Dalam ruangan itu, mereka memulai rapat walaupun Dinda tak mengerti apa yang mereka ucapkan. Tepi, Steve sesekali menyelingi bahasa jerman-nya dengan bahasa Inggris sehingga Dinda sebagai notulen bisa memahami pokok pembahasan dalam rapat itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2