UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 69


__ADS_3

Usai menonton di bioskop yang memakan waktu berjam-jam, mereka berdua kini tengah berada di luar mall.


Langit kota juga sudah menggelap, Dinda dan Steve berdiri di pelataran tangga mall bagian depan. Mereka berbicara sebentar.


"Mau kemana lagi malam ini," Steve meminta saran.


"Entah," jawab Dinda tidak tahu. "Kemana saja, aku ikut," Dinda pasrah.


"Bagaimana kalau kita ke pasar malam," saran Steve. "Sepertinya asik."


"Hah, pasar malam," sentak Dinda.


"Iya," Steve mengangguk. "Pasar malam bukan suatu yang aneh, aku ingin kesana," pinta Steve.


"Kemarin malam juga kita sudah ke pasar malam," Dinda berdalih. "Ngapain lagi kesana, emang nggak bosan."


Steve dengan tingkah ingin bermanja-manja-an, menempel di bahu dinda. Dia mengelus wajahnya di bahu Dinda, memegang erat tangannya. "Ayo, kita kesana. Sebentar saja, setelah itu aku janji, kita langsung pulang," Steve mengiba.


Tingkah Steve yang minta di manjakan di tubuh Dinda membuat Dinda terus saja tidak menolaknya. "Oke, oke," jawab Dinda setuju. "Kita akan kesana," Dinda mengusap lembut rambut hitam Steve yang halus.


"Terima kasih sayang," Steve bersemangat, seketika dia tersenyum bahagia. Lalu Steve mencium Dinda. Cup!


"Dasar," ucap Dinda yang tak bisa menahan gemas pada Steve.


"Ayo jalan sekarang," ajak Steve.


Tapi tingkah jahilnya tidak malu ia keluarkan di depan umum.


Steve menggendong Dinda di punggungnya, dia melakukannya tanpa persetujuan Dinda.


"Hei, apa yang kamu lakukan," Dinda memberontak, dia ingin segera di turunkan oleh Steve. "Aku bisa jalan sendiri."


"Nggak boleh nolak," ujar Steve. "Aku nggak mau nanti kaki calon istri ku membesar seperti kaki gajah," Steve meledek.


"Ih..." Dinda jengkel. "Kamu selalu membanding-bandingkan aku dengan hewan," omel Dinda.


Steve harus berulang kali tertawa melihat tingkah Dinda yang selalu sebal atas prilakunya. "Kamu adalah hewan paling cantik yang pernah aku temui," kali ini Steve memuji.


Dagu Dinda menempel di pundak Steve. Steve menengoknya, lalu dia tersenyum. "Tuhkan, kamu menikmatinya," ucap Steve melucu.


"Siapa yang menikmatinya," bantah Dinda. "Kaki ku gatal," Dinda mengalihkan kata-kata.


"Iya, nggak menikmati," Steve mengalah bicara. "Tapi kamu menyukainya. Kamu suka menempelkan di tubuh ku."


"Terserah," jawab Dinda jengkel.


Steve menyisiri bahu jalan. Banyak orang yang berlalu lalang tak ia hiraukan saat melihat tingkah mereka berdua.


"Kamu sepertinya lupa," Steve memulai kembali berbicara.


"Lupa apalagi."


"Mencium ku," Steve berulah. "Kamu melupakan hal itu."


"Kenapa selalu meminta seperti itu?" tuntut Dinda. "Seperti tidak ada permintaan lain saja," gerutunya.


Steve menoleh, dia mencubit hidung Dinda. "Karena itu yang hanya bisa aku minta," jawab Steve. "Aku akan meminta lebih jika kita sudah menikah."


"Menikah," Dinda tertawa. "Memangnya tidak ada ucapan lain, selain membahas menikah," pungkas Dinda.


"Kamu benar-benar tidak mencintai ku rupanya," Steve menyinggung. "Kamu sepertinya hanya mencintai si dia."


Steve marah, tapi dia tetap menggendong Dinda, dia tidak menurunkannya.


"Kenapa bicara seperti itu," Dinda berkata lembut. "Kamulah yang paling aku cintai," Dinda menggombal. "Pokoknya kamu yang paling aku cintai titik."


Di dekat Steve berdiri, ada bangku taman berwarna cokelat. Dia menurunkan Dinda di sana, di atas bangku taman itu. Mereka berdua duduk Sling berhadapan.


Steve menatap Dinda, dia memegang pundak gadis itu. "Kalau benar akulah yang paling kamu cintai, lantas, kenapa menolak menikah dengan ku?" Steve menuntut penjelasan. "Apa aku kurang sempurna di mata kamu."


Dinda meraba wajah mulus Steve, dia mengusap lembut. "Aku bukan menolak menikah dengan kamu, tapi aku masih harus memikirkan kedua adik ku. Miko dan Niko sekarang butuh uang yang banyak, tidak lama lagi mereka akan masuk universitas, siapa nanti yang akan membiayai mereka," Dinda menjelaskan keadaannya. "Biarkan aku fokus bekerja dulu, nanti aku pikirkan masalah ini."


Bicara Dinda sangat tegar, Steve sampai sedikit terharu mendengarnya. "Tidak salah aku menyukai gadis seperti kamu," ucap Steve. "Kamu sangat bertanggung jawab, aku menyukai wanita mandiri seperti kamu," lanjut Steve memuji.


Dinda senang melihat ketulusan Steve, benar-benar pria idaman, lirih Dinda.


"Karena kamu sudah membahas mengenai biaya sekolah Niko dan Miko, biarkan aku yang menanggungnya," Steve tiba-tiba bersemangat. "Bagaimana? Kamu setuju jika aku melakukannya untuk calon istri ku," Steve menawarkan gagasannya.


"Tidak," tolak Dinda kilat. "Aku masih bisa bekerja dan tenaga ku masih kuat. Aku bisa membiayai mereka untuk sekolah."


"Bukannya Miko sekarang banyak uang," singgung Steve. "Dia kan sekarang sudah menjadi model di belagio collection. Kenapa kamu harus bersusah mengumpulkan uang yang banyak," Steve penasaran.


"Sebenarnya," Dinda ingin mengakui. "Aku membiayai beberapa anak-anak panti asuhan milik ayah. Mereka bergantung pada hasil sumbangan dan juga bantuan sosial dari pemerintah."


"Hah," sentak Steve kaget. "Panti asuhan?"

__ADS_1


Dinda sebenarnya enggan bercerita, tapi dia sudah keceplosan berkata. Pasti Steve sudah mendengar semua apa yang ia katakan. Dinda merasa tidak percaya diri mengakui semua ini.


"Intinya begitulah," kilah Dinda. "Pokoknya aku nggak mau kalau kamu harus menanggung beban keluarga ku," ucap Dinda tak karuan. "Sudahlah jangan di bahas, kita lanjutkan saja jalan," alih Dinda.


Steve termangu, dia sedikit menangkap intisari dari kisah Dinda. Setidaknya Steve sudah mendengarnya sedikit.


Sementara langit malam Jakarta di hujani dengan suara kembang api besar dan ratusan drone mengudara mempercantik tampilan langit yang gelap.


"Ada acara apa ini," Dinda penasaran plus takjub. Baru kali ini dia melihat pemandangan malam kota Jakarta.


"Malam ini ada acara pekan raya Jakarta," jawab Steve. "Acara di adakan setahun sekali."


"Wow!" gumam Dinda. "Itu artinya kita beruntung bisa melihat kemeriahan acara ini."


"Iya," balas Steve ikut bahagia. "Kamu menyukainya?"


Dinda mengangguk. "Aku sangat menyukainya," Dinda tersenyum, wajahnya sangat ceria dan happy melihat pemandangan malam ini.


Wah, lirih Dinda takjub dan terpana. Dia memandangi langit yang di penuhi oleh kilatan kembang api yang beragam.


"Mau ikut dengan ku," ajak Steve.


"Kemana," Dinda tidak ingin di ganggu, sebab dia menyukai suasana seperti ini.


"Sudah, ikut saja, aku akan menunjukan sesuatu," pinta Steve.


Dinda mengikutinya, Steve memegang erat pergelangan tangannya, dia mengajak Dinda ke sebuah atas gedung.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Dinda di atas beberapa anak tangga.


"Aku akan memberikan kejutan pada kamu," balas Steve. "kamu pasti akan menyukainya."


"Pasar malam? Gimana?"


"Lupakan pasar malam," timpal Steve. "Kamu pasti akan lebih suka hadiah dari ku dari pada berjalan di pasar malam."


Steve yakin, jika hadiah yang akan di tunjukan pada Dinda membuat gadisnya terpana.


Mereka telah sampai di puncak gedung. Semua yang ada di bawah nampak jelas. Gedung tempat Dinda dan Steve berpijak di apit oleh banyak gedung tinggi lainnya.


Steve mengajak Dinda ke pinggir gedung. Di pagar tralis pembatas gedung, Steve meminta Dinda melihat ke arah gedung yang berdiri tepat di hadapannya.


Lebih tepatnya di hadapan gedung yang mereka naiki.


"Ada apa dengan iklan elektronik itu," Dinda ingin tahu, dia benar-benar mulai penasaran.


Steve tersenyum, lalu dia menjentikkan jarinya. Dan iklan elektronik yang semula terang benderang mengiklankan produk rumahan, kini berubah menjadi sebuah tulisan.


Tertera tulisan besar yang awalnya dalam bahasa Jerman yaitu, ICH LIEBE DICH lalu berubah menjadi bahasa Mandarin, berubah dalam bahasa Perancis, berubah lagi kedalam bahasa Korea, Spanyol dan berakhir menjadi bahasa Indonesia yakni kata AKU CINTA KAMU.


Dan di akhir iklan terdapat nama DINDA di sisipi simbol hati dan rangkaian bunga cantik yang terlihat realistis.


Dinda terpukau, dia tidak menyangka bahwa Steve memiliki hadiah yang tak terbayangkan sebelumnya.


Dinda terharu, dia hampir menitipkan air mata.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Steve membisik.


Dinda mengangguk, dia menyukai kejutan ini. Bahkan Dinda tidak bisa berkata apapun atas hadiah spesial ini.


"Ini belum selesai," tambah Steve. "Perhatikan lagi iklan itu," pinta Steve.


Dinda melihat lagi iklan elektronik yang ada di dinding gedung tinggi di seberangnya. Dan benar saja, kejutan masih ada.


Papan iklan kini memutarkan sebuah efek animasi menyerupai wajah Dinda. Nyaris sempurna menyamai wajah aslinya.


Di papan elektronik yang sedang memutarkan animasi menyerupai wajahnya dan wajah Steve itu, Dinda melihat bahwa dia dan Steve menggunakan pakaian pengantin.


Steve melamarnya di altar sambil berlutut memberikan sebuah buket bunga cantik dalam animasi yang sedang di putar itu.


Dinda tidak bisa membayangkan bahwa Steve sangat berniat hingga sejauh ini memberikan sebuah kejutan langsung dengan animasi yang di putar di papan iklan elektronik.


Dinda tahu, biaya menampilkan satu iklan di dinding LED gedung di hadapan Dinda, itu bukan biaya yang murah.


Sekali lagi Dinda merasa sangat beruntung mendapatkan hadiah romantis seperti ini.


Dinda ternganga, dia tidak bisa melupakan kejutan romantis Steve. Melihat Dinda bahagia, Steve ketularan bahagia juga.


Steve memeluk Dinda dari belakang bagai adegan romantis di film Titanic. Steve merebahkan dagunya di pundak Dinda.


Mereka berdua menyaksikan efek animasi kejutan Steve pada Dinda. "Apa kejutan ini cukup membuat mu bahagia?" ucap Steve berkata pelan.


"Iya," Dinda mengangguk. "Aku sangat menyukainya."


Senyum Dinda sangat berseri, Steve merasakan aura bahagianya, Steve ikut bergetar saat Dinda menyukai usahanya.

__ADS_1


"Apakah kembang api yang menghiasi langit juga kamu yang buat," Dinda memastikan.


"Iya," Steve membenarkannya. "Aku meminta Zico yang menyiapkan kejutan ini," Steve mengakuinya.


Dinda bahagia, dia mengelus wajah Steve, dia tidak menyangka bahwa Steve bisa seromantis ini.


Seperti suatu keajaiban, Dinda bisa mendapatkan hadiah romantis di malam yang kelabu


"Terima kasih," ucap Dinda. "Aku merasa seperti gadis yang paling beruntung mendapatkan hadiah dari Steve."


"Selama kamu bahagia, aku pasti akan menuruti apapun yang kamu inginkan," Steve membalas merayu.


"Bahkan bulan sekalipun akan aku berikan," sahut Dinda. Dia sudah paham pada perkataan Steve.


Steve membalikan badan Dinda. Dia mengecup keningnya sedikit romantis. "Aku ingin kamu selalu seperti ini, selalu di sisi ku, juga mendampingi ku," teguh Steve.


Steve memeluk Dinda erat, di atas gedung tinggi, Steve memberikan kejutan yang menyenangkan bagi Dinda.


Steve lalu menggendong Dinda setinggi mungkin. Kini Dinda merasa sedikit lebih tinggi setelah tubuhnya menopang pada pelukan Steve.


"Kenapa kamu selalu bersikap romantis seperti ini pada ku?" Dinda ingin tahu.


"Karena aku tidak mau membuat kamu bersedih," jawab Steve. "Aku ingin melihat kamu selalu tersenyum apapun yang terjadi, aku akan memastikan itu. Bahwa kamu akan selalu bahagia saat bersama dengan ku," pungkas Steve.


"Kamu memang ahli dalam menggombal," Dinda berkata.


Dinda berinisiatif mencium Steve. Dia melakukannya, bahkan Steve sedikit terkejut karena Dinda yang memulainya.


"Terima kasih Steve," sekali lagi Dinda berkata seperti itu. Dia mengedipkan matanya sambil tersenyum ramah pada Steve. "Terima kasih pada kejutan hadiah malam ini."


"Ini bukan apa-apa," balas Steve. "Aku akan memperlakukan kamu seperti putri jika itu perlu," Steve berjanji.


"Tidka perlu memperlakukan aku menjadi seorang putri," celetuk Dinda. "Sekarang pun aku merasa sudah seperti seorang Tuan Putri sungguhan."


Steve yang menggendong Dinda, tiba-tiba menurunkan pacarnya itu. Steve hampir melupakan sesuatu. "Masih ada satu kejutan lagi," ucap Steve yang teringat pada kejutan lainnya yang hampir ia lupakan.


"Masih ada kejutan lain?" Dinda mengerutkan keningnya, dia penasaran.


"Lihat langit di atas baik-baik," pinta Steve.


Dinda melihat langit sesuai dengan instruksi Steve


Steve menjentikkan jarinya. Dan seketika kembang api besar bergemuruh memercikkan api yang cantik.


Kembang api yang meledak di udara itu, membentuk bunga-bunga yang indah.


Dinda merasa kejutan Steve sungguh di luar perkiraan.


Dinda tidak menyangka jika Steve se-niat ini menyiapkan kejutan satu malam.


Kebahagiaan Dinda terlihat sangat antusias. Dia menepuk-nepuk tangannya, menyukai semua kejutan Steve ini.


"Aku mencintai kamu, Dinda," bisik Steve mendekat ke tubuh Dinda. Lalu dia memeluk Dinda kembali dari belakang.


"Aku juga mencintai kamu, Steve," balas Dinda sehati.


"Dan lihat kejutan terakhir ini," Steve memberi tahu.


Dinda mendongak ke atas menatap wajah Steve. "Masih ada kejutan lagi?" Dinda memastikan.


Steve mengangguk. "Perhatikan lagi langit di atas," perintah Steve.


Belum usai kembang api berakhir, kini langit gelap yang di hiasi oleh kembang api tergantikan oleh ratusan drone yang mengudara.


"Apa ini kejutannya," Dinda menunjukan ratusan drone yang mengudara asal-asalan itu.


"Iya," jawab Steve.


"Drone berantakan ini," Dinda bingung.


Steve mencengkram dagu Dinda lembut, dia mendongak-nya ke atas melihat drone yang semula terbang acak-acakan kini menjadi sebuah tulisan yang cantik.


Kejutan sama seperti sebelumnya, di udara itu drone mengukir kata-kata AKU CINTA KAMU dalam berbagai bahasa seperti yang ada di papan iklan tadi.


Dan di akhir penerbangan drone yang menyala terang itu, para pengendali drone membentuk simbol hati yang besar.


"Ouh.... Astaga," Dinda tidak bisa menahan diri untuk takjub. "Kamu melakukan semua ini demi aku."


"Selama kamu bahagia, maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan."


Steve memegang perut ramping Dinda, dagunya menopang di pundak. Steve memeluknya dengan kehangatan.


"Itulah cinta yang sesungguhnya," lirih Steve membisik.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2