UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 129


__ADS_3

"Lepaskan!" teriak Vanya meronta. Di atas anak tangga menuju ke rooftop bangunan tinggi ini, tangan-tangan lembut Vanya di kunci erat oleh tangan-tangan pria kasar tadi.


Ketika sampai di atap rooftop, ada Ayahnya yang terikat oleh tali, terduduk tanpa daya. Sementara mulutnya di bekap menggunakan sapu tangan. Pria tua itu di biarkan tergeletak dengan dua orang sebagai penjaganya.


"Papa!" teriak Vanya pada Ayahnya. Vanya menghampiri Ayahnya cukup tergesa-gesa, memastikan kalau sang ayah baik-baik saja. "Papa tidak terluka kan? Papa tidak di sakiti mereka?" tanya Vanya sambil membuka penutup mulut sang ayah.


"Papa nggak apa-apa Van," jawab sang ayah. "Kamu kenapa ada di sini. Kenapa kamu nekat menemui Papa?" kali ini Tuan Heri yang bertanya.


"Jangan pikirkan tentang Vanya sekarang Pa. Yang terpenting, Papa dan Vanya harus pergi dari sini," katanya sesenggukan was-was.


Saat wajah itu sumringah khawatir melihat orang tuanya, pria-pria yang menggiring Vanya ke rooftop, menggelengkan kepalanya. Melihat drama ayah dan anak itu, mereka sedikit haru rasanya—Mungkin.


"Kalian memang kurang ajar!" pekik Vanya geram. Sambil mengomeli keempat pria di hadapannya, Vanya mencoba membuka ikatan tali yang di simpul amat keras ini. "Kami tidak ada kesalahan apapun pada kalian. Tapi kenapa kalian melakukan hal ini pada kami. Kalian memang penjahat biadab!"


Keempat pria itu terbahak-bahak saat Vanya mengumpat mereka. Sungguh, Vanya memang menarik di mata kawanan serigala lapar ini. Oh, Vanya tidak tahu aturan main. Sehingga dia perlu di jelaskan tentang tata cara bermain adegan culik menculik ini.


"Hahaha... Gadis secantik dia rupanya bisa berkata kasar juga," ucap salah seorang penculik.


"Dia cantik, mau kita sikat?" bisik salah seorang lagi pada rekan lainnya.


"Tidak perlu," balasnya. "Bos tidak suka kalau kita bertindak kasar atau melakukan hal-hal tidak senonoh terhadap wanita. Jangan mencari masalah, atau bos akan mendepak kalian jatuh dari atas sini."


Mungkin, bekerja di bawah Tony Kim adalah sesuatu yang membanggakan bagi mereka. Hanya saja, aturan yang tidak boleh mereka lakukan adalah, melukai wanita walau hanya untuk bersenang-senang. Tony Kim paling anti melibatkan seorang wanita harus masuk dalam bisnis kejahatannya, kecuali—tak ada pilihan lain.


Ketika Vanya ingin melepaskan ikatan sang Ayah, dari belakang para pria berbadan besar itu, Tony Kim hadir. Dia datang dengan senyum sumringah.


Rencana Johan mengatakan kalau Vanya sudah di bebaskan oleh Tony Kim. Itu sebenarnya hanya akal-akalan Johan saja, agar Dinda percaya padanya.


Namun, kenyataannya lain lagi. Justru Johan membiarkan Vanya tetap berada di sini. Vanya di bebaskan oleh Tony Kim atau tidak, Johan tidak peduli. Yang terpenting bagi Johan, rencananya bekerjasama dengan Tony Kim ini berhasil.


Dan ya, seperti yang Dinda lihat. Tak ada keraguan dalam diri Johan saat menjadi pahlawan untuknya. Johan sudah merencanakan dengan baik sandiwara ini.


Dan Johan memprediksi kalau Vanya harus berakhir di tangan Tony Kim. Johan sudah muak kalau Vanya masih sering hilir mudik di pelupuk matanya atau dalam pikirannya.


"Bebaskan ikatan pria tidak berguna itu," ucap Tony Kim memerintah. "Biarkan kedua anak dan ayah itu meratapi nasibnya."


Tanpa menjawab, anak buah Tony Kim melaksanakan perintah Tuannya. Sebagai seorang yang sulit di atasi, Tony Kim memang mudah di ajak negosiasi mengenai kerjasama.


Apalagi uang, bahkan semua orang akan melakukan hal yang sama dengan Tony Kim jika di iming-iming oleh uang yang banyak. Bagi Tony Kim menyandera orang lain sebagai tawanan harus ada imbalan atas semua harta-harta yang ingin dia miliki.


Vanya memang agak kesulitan membukakan tali yang mengikat pria tua itu. Sehingga Tony Kim memahami niat gadis yang sudah berpeluh ini.


"Kalian sekumpulan orang-orang tidak berperasaan. Kalian jahat!" sentak Vanya yang tak bisa menahan emosinya.


Tony Kim mendengus, sudut bibirnya sedikit menyungging tersenyum girang. "Justru karena aku jahat, oleh karena itu kalian bisa berada di sini," katanya dengan bangga mengakui kejahatannya.


"Tidak ada hubungannya dengan ku kejahatan yang kalian lakukan ini. Tapi kenapa kalian menangkap Papa ku. Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan hal ini?" Vanya terhanyuk dalam perasaan yang ingin tahu.


Jujur, dia bingung kenapa sekumpulan pria-pria aneh dan menakutkan ini menculik Ayahnya. Dan juga, mereka meminta Dinda yang datang ke tempat ini demi membebaskan ayahnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Vanya.


Tak ada yang bisa di lakukan oleh Vanya, selain menangis, meratapi penderitaan ini.


Seingatnya pun, dia tidak ada masalah dengan pria ini atau mengenakannya pun tidak. Tetapi, peristiwa penculikan ini pasti ada latar belakang yang membuat mereka nekat melakukannya.


Tony Kim men-decak, sesaat setelah itu, dia duduk merendahkan badannya di hadapan Vanya. Lalu tangan-tangan penuh dosa itu mendongak dagu Vanya, agar menatap wajahnya.


"Kamu bertanya kenapa aku melakukan semua ini?" ucap Tony Kim memancing rasa penasaran Vanya. Di tatapnya wajah Vanya yang sudah di basahi oleh air mata, dan.... "Jawabannya adalah .... Johan!"


"Johan?"

__ADS_1


Tony Kim mengembuskan nafas pendek, di ikuti senyum melicik bak psikopat. "Dialah dalang dari semua ini. Drama penculikan ini adalah ide pria kaya itu—juga membawa pergi wanita yang dia cintai, tanpa diri mu. Sungguh, pria itu inginkan kamu mati di tangan ku. Bukankah begitu para anak buah ku?"


"Iya bos. Benar!" serentak pria-pria yang menjadi tameng Tony Kim membalas dengan anggukan.


"Ma—maksud anda?" tanya Vanya.


"Kamu jelas tahu, kalau Johan sangat membenci kamu. Itulah kenapa kalian bisa berada di sini." Tadi, sambil dia berkata, Tony Kim berdiri kembali. Menormalkan tubuhnya, berjalan perlahan kesana kemari, sambil tangan kirinya memainkan sebuah pistol jenis softgun. "Dan inilah akhir dari kisah kalian keluarga kaya yang bangkrut. Harus mati di tangan ku. Tapi, kalau di lihat-lihat, kamu juga cantik. Namun sayang, kali ini hidup ku harus berakhir dengan cepat."


Sampai sebegitunya kak Johan membenci ku. Apakah karena aku selalu menjadi benalu di dalam hidupnya, sampai-sampai kak Johan ingin melenyapkan ku?


Vanya tidak habis pikir dengan pemikiran Johan ini. Jujur, Vanya pun tak pernah lagi ingin terlihat di depan wajah Johan semenjak dia tidak lagi mau menjadi tunangannya. Namun, kali ini sudah berbeda. Johan benar-benar sudah gila, dia ingin membunuh Vanya kalau perlu hilang dari muka bumi ini. Vanya tidak menyangka saja, pikirnya setelah sekian lama tidak bertemu, pria itu akhirnya membuat sebuah kejutan yang besar.


"Lihatlah si tua Bangka Tuan Heri. Apa yang bisa dia lakukan di saat-saat seperti ini. Selain melihat kematiannya sendiri, dia hanya bisa ketakutan saja." Tony Kim mengacungkan pistolnya mengarah tepat di dada Tuan Heri. Mungkin, sebelum menembak Ayah Vanya itu, dia ingin bermain-main dahulu.


Vanya, dia tidak akan membiarkan ayahnya dengan mudah berakhir di tangan Tony Kim. Kala pistol itu sudah siap dengan bidikannya, Vanya dengan cepat membentengi dan membelakangi tubuh Ayahnya. Dia melindungi sang Ayah dari kekejaman Tony Kim.


"Jika kau berani menyakiti Papa ku. Maka, aku pastikan kalian tak akan selamat!" ancam Vanya.


Sebelumnya, Dinda sudah menghubungi Zico. Hanya ini yang bisa di harapkan oleh Vanya. Jika Zico tidak datang, dan Vanya yang sedang mengulur-ulur waktu ini tidak tepat waktu menyelamatkan mereka. Maka—


"Kalian akan berakhir!"


"Jika kami berakhir, maka kau juga patut berakhir bersama kami," tandas Vanya menimpalinya.


Tony Kim memelet-kan mulutnya. Oh, Vanya seperti memiliki keberanian di depannya. Padahal bagi Tony Kim, Vanya tak lebih dari seekor semut tak berdaya.


"Dengan apa kau akan membuat ku berakhir?" ledek Tony Kim. "Dengan sepasang payudara mu?"


Kala Tony Kim berkata penuh lelucon, anak buahnya yang berdiri mengelilingi Vanya, tersikut tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa itu pecah, lantaran bos mereka ada jiwa melucu.


"Tertawalah kalian dengan puas. Tapi ingat, aku sudah menghubungi polisi tadi. Jadi jangan kalian pikir kalau aku akan berakhir seperti yang kau inginkan, manusia terkutuk!"


"Jika kau sudah menghubungi polisi, maka tak ada pilihan lain selain membuat mu mati di tangan ku!" Tony Kim sudah tidak tahan menunda-nunda tugasnya.


Perintah Johan inginkan dirinya menghabisi Vanya, harus segera terlaksana dengan baik. Apalagi uang sepuluh milyar itu sudah di tangan. Tony Kim yang berencana ingin kembali ke Taiwan, harus menepati janjinya untuk membidik kedua anak dan ayah yang tengah menjadi tawanannya itu.


Di bidiknya pelatuk pistol itu mengarah tepat di area yang paling menarik dari Vanya. Perlahan jarinya memompa pelatuk pistol itu. Sungguh mendramatisir, Tony Kim memicingkan matanya melihat bidikan empuk.


"Vanya, mereka akan menembak kita. Apa yang harus kita lakukan!" rengek sang Ayah yang bersembunyi di bahu putrinya.


"Ayah jangan khawatir, Vanya yakin kalau kita pasti akan secepatnya bebas dari sini tanpa ada yang terluka sedikitpun." Mungkin, hanya janji-janji manis saja yang bisa di umbar oleh Vanya. Dia berharap, dengan ucapan meyakinkan ini membuat sang ayah tak begitu cemas akan kematian.


Vanya memejamkan matanya, tak sanggup baginya melihat sebuah peluru akan menghujam dadanya. Bisa jadi, memang takdirnya hidup di dunia ini akan berakhir secepat ini.


"Seandainya Zico datang tepat waktu, mungkin aku tidak akan berakhir seperti ini. Namun, apa yang aku harapkan harus kandas tanpa hasil apapun. Dinda, semoga kamu sadar, kalau Johan sudah merencanakan niat jahat ini pada kita. Semoga kamu tahu kalau johan lah dalang di balik semua ini. Maafkan aku Dinda. Maafkan aku yang dahulu pernah menyakiti kamu. Aku harap, semoga baik-baik saja dan tidak masuk dalam perangkap kak Johan."


Di balik mata yang terpejam itu, tersimpan banyak kata-kata yang ingin di sampaikan. Ada banyak cerita yang ingin Vanya katakan, dan masih ada banyak hal yang harus dia perbaiki di kehidupan ini. Kesalahan, kekhilafan, keangkuhan dan kesombongannya. Semua itu belum sepenuhnya tuntas di perbaiki, namun Vanya yakin—kalau Tuhan merencanakan yang terbaik untuknya.


Ma, anak mu akan pergi untuk selama-lamanya. Aku harap mama baik-baik saja bersama kak Arka. Maafkan Vanya yang selalu menyusahkan Mama. Vanya sayang kalian semua.


"Hei gadis. Katakan permintaan terakhir mu sebelum malaikat Grim reaper datang menjemput mu," ucap Tony Kim menyanggah. Sudah menjadi tradisi Tony Kim, sebelum mengeksekusi tawanannya, dia harus mendengar kata-kata kutukan terakhir untuknya.


Vanya mengembuskan nafas tak berdaya. Mata yang terpejam itu, menunduk tak terangkat keatas sedikitpun—tidak. "Jika aku mati. Mungkin kalian akan aku hantui nanti. Tetapi, sebagai manusia yang baik, aku akan memaafkan kalian bahkan jika kita bertemu di antara surga dan neraka. Doa ku hanya satu, semoga setelah melenyapkan aku, kalian bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi."


"Ckckck. Sudah mau mati, tapi banyak tingkah. Menjengkelkan," salah seorang anak buah Tony Kim bergumam pelan.


Bagi Tony Kim tidak ada penyesalan dalam hidupnya kala membunuh orang. Yang ada hanya sebuah kenikmatan akan kehausan balas dendam.


"Baiklah. Karena tidak ada permintaan terakhir, mungkin dosa-dosa mu aku yang akan menanggungnya nanti. Katakan selamat tinggal untuk dunia."

__ADS_1


Tony Kim tak membuang waktunya lagi untuk mengeksekusi Vanya. Waktunya untuk meninggalkan gedung bekas proyek ini, mungkin hitungan menit. Karena pesawat yang akan membawanya ke Taiwan akan segera berangkat.


Tetapi, sebelum Tony kim menginterupsi Vanya dan mengeksekusinya. Tiba-tiba terdengar suara helikopter yang begitu nyaring. Tidak lama kemudian, datang tiga buah helikopter melayang di area rooftop.


Tepat di atas Tony Kim, ketiga helikopter itu hendak menyandarkan badan di helipad rooftop.


"Siapa yang memerintahkan ketiga helikopter mendarat di sini?" tanya Tony Kim pada anak buahnya.


Dan jawabannya adalah, seluruh anak buah itu mengangkat bahunya masing-masing. Mereka tidak tahu menahu mengenai kejadian ini.


"Sial!"


****


Suara ban mendercit yang tadi sudah meninggalkan gedung proyek pembangunan di mana Dinda berada, kini sudah mencapai pusat kota.


Mobil yang di kendarai Johan ini, di kemudikan olehnya menjauh dari tempat asal dia memboyong Dinda.


Sambil berjalan, Johan sesekali menyungging tersenyum. "Kali ini, aku yakin. Pasti Vanya sudah mati. Sungguh beruntung kejadian hari ini. Bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus."


Ketika Johan tidak berkata dari tadi, Dinda memperhatikan wajah Johan. Wajah tersenyum itu mengundang perhatian Dinda.


"Kak Johan," tegur Dinda. "Kenapa kak Johan terlihat senang. Ada apa?" tanya Dinda yang penasaran pada wajah itu.


Johan mengubah ekspresi girangnya tadi menjadi ekspresi normal. Tangan yang sempat menyandar di pintu mobil, kini dia perlakukan seperti semula. "Aku," ucapnya mengulangi. "Aku... Aku hanya ... Sedang memikirkan akhirnya bisa menyelamatkan kamu. Itu saja."


"Kak Johan yakin!" sambar Dinda. "Kak Johan nggak menutup-nutupi sesuatu dari ku bukan?"


"Enggak. Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu pada Dinda," balas Johan cepat. "Yakinlah, kak Johan hanya senang saja karena sudah membawa kamu kembali."


Mungkin, Johan berkilah dengan lihai. Sehingga ekspresinya terlihat datar biasa saja, seakan tidak ada yang di sembunyikan. Akan tetapi—


"Kak Johan kenapa bisa memberikan dia uang sebanyak sepuluh milyar itu. Bukankah jumlah itu cukup banyak hanya untuk membebaskan kami bertiga?" tanya Dinda mencecar.


Jika di pikir-pikir, sebenarnya aneh saja kalau Johan harus rela mengeluarkan uang sebanyak itu. Secara sukarela pula, jelas Dinda penasaran bagaimana bisa Johan tidak memikirkannya lebih dahulu.


"Aku tidak masalah mengenai uang itu Dinda. Asal kamu bisa selamat dan tidak terjadi apapun, maka kamu tidak perlu memikirkan masalah uang." Sambil berkata, Johan tetap fokus pada mengemudinya. Walau sempat sesekali dia mencuri perhatian menatap wajah gadis yang sudah menjadi obsesinya itu.


Sungguh, Johan merasa bahwa Dinda makin cantik setelah sekian lama tidak di perhatikan. Batang hidung Dinda, bibirnya yang ranum, juga kulitnya yang bersih. Johan makin tidak bisa lepas dari Pikatan wanita ini.


"Tapi uang sebanyak itu, bukankah sayang kalau kak Johan harus mengeluarkannya. Lagi pula, aku sudah meminta bantuan pada Zico. Kak Johan tidak perlu mengeluarkan uang banyak demi kami."


Inilah yang sebenarnya di harapkan Johan. Memanfaatkan kelemahan Dinda dari sisi ekonomi. Dinda paling tidak suka berhutang Budi pada orang lain, dan itu keuntungan tersendiri bagi Johan.


"Kamu berharap kalau pria itu akan datang membantu kalian. Itu bagaikan mimpi di siang hari saja Dinda. Lihat saja, sampai saat ini pun mereka tidak bertindak. Kamu jangan buang-buang waktu menunggu yang tidak pasti."


Ehm, mungkin rencana Johan mempengaruhi Dinda telah berhasil. Dinda terlihat ragu, bisa jadi Dinda berpikir kalau apa yang di katakan Johan itu benar. Terakhir kali saat dia mencoba mempengaruhi Dinda itu gagal. Namun kali ini, Johan yakin seratus persen kalau Dinda kali ini akan percaya pada sandiwaranya.


Dinda tidak berkata apa-apa lagi sesaat setelah Johan menyangkal perkataan Dinda. Satu poin bagi Johan kalau Dinda terpengaruh olehnya.


Kamu sangat mudah di bohongi Dinda. Uang sebanyak itu, mana mungkin aku yang akan mengeluarkannya. Menipu gadis kecil ku sangat mudah rupanya.


Diam-diam Johan ingjn terkekeh saat rencananya berhasil. Dan itu menjadi kemenangan awal baginya untuk mendapatkan kembali wanita itu dalam pelukannya.


Sebenarnya, uang yang aku berikan pada Tony Kim adalah uang miliknya sendiri yang aku ambil dari kantor polisi. Siapa sangka, atas desakan ku meminta pria ambisius itu melancarkan sandiwara ini membuahkan hasil.


Satu kejutan karena membuat sebuah prestasi besar seperti ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2