UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 91


__ADS_3

Keluarga Vanya sedang mengadakan acara sejenis pertemuan antar pengusaha sukses.


Di ballroom hotel terbaik se-Jakarta, acara ini di hadiri berbagai wajah yang mewakili usaha masing-masing. Mereka tiba beberapa hari yang lalu di Jakarta.


Steve bersama Dinda hadir di acara ini. Tak lupa Stevie lebih dahulu datang, karena dia ingin bersosialisasi bersama seluruh pengusaha tajir.


Melihat Dinda dan Steve yang ada di ambang pintu masuk ballroom hotel, Stevie dengan cepat menghampiri adiknya dan Dinda.


"Kakak kapan sampai?" tanya Dinda berbasa-basi.


"Belum genap lima belas menit," balas Stevie sambil melihat jam di layar handphonenya. "Ngomong-ngomong, kalian nampak seperti pasangan royal wedding," puji Stevie seraya beralih bicara. "Sangat cocok."


Saat itu Dinda dan Steve bergandengan tangan, dengan gaun besar tanpa lengan Dinda nampak anggun. Semua mata memperhatikan dirinya, terlebih Steve yang mengenakan setelan jas biru pekat, juga nampak sebagai pria gagah.


Steve melirik Dinda, tanpa ragu Steve memamerkan kebahagiaan pada kakaknya, Stevie. "Kakak juga terlihat cantik," balas Steve memuji. "Walau tidak secantik gadis ku!" katanya meledek.


"Kakak mu ini memang selalu tampil cantik, di manapun, kapanpun!" tegas Stevie sambil membuang nafas sekali hembusan. "Walau ada Dinda yang selalu kamu bilang cantik."


"Ya, kakak cantik, hampir sebelas dua belas dengan kekasih ku," Steve mengakhiri pujiannya. "Ngomong-ngomong, tolong jaga Dinda untuk ku. Aku ingin membaur bersama pengusaha tua berisi lemak di sana," kata Steve meminta.


Steve menunjuk sekumpulan pria tua bertubuh besar dan perut bak balon yang asik tertawa terbahak-bahak. Mereka entah membicarakan apa, Steve tidak mengerti.


"Tenang saja! Kakak jamin Dinda baik-baik dan aman dekat kakak," jawab Stevie meyakinkan. "Sana pergi," usirnya dengan paksa.


Di mana pun dia selalu saja bersikap arogan, Steve menggerutu.


"Jangan sampai gadis ku lecet, atau kakak akan aku tuntut," ancam Steve sembari bercanda. "Kakak harus ingat, jangan sampai lecet sedikitpun! tegas Steve sekali lagi.


Stevie men-decak. "Tsk! Kamu ini seperti baru mengenal Stevie saja!" gerutunya sewot. "Dinda itu sudah seperti adik ku sendiri, masa wanita secantik aku akan mencelakakan dia, ngawur," dia mengibaskan tangannya, Stevie bersikap apatis.


"Kamu jangan kemana-mana," Steve berbicara pada Dinda. "Aku akan kembali setelah urusan ku selesai."


"Aku akan selalu dekat kak Stevie, jangan khawatirkan aku," Dinda menjawab dengan keyakinan penuh.


"Mereka adalah pengusaha kelas atas," Stevie membisik pelan di telinga Steve sebelum pria ini pergi meninggalkan dirinya dan Dinda. "Walau level usaha mereka di bawah grup wong, kamu harus menjaga sikap. Terkadang mereka suka berkata sesumbar."


Steve mengangguk. "Aku tahu itu," ucap Steve. "Pengusaha-pengusaha tak berguna seperti mereka suka meremehkan orang lain."


Stevie tersenyum, Steve semakin dewasa. Dia memandang punggung adiknya. Stevie sedikit membanggakan adiknya yang mampu bertanggung jawab.


"Wou..." seorang pengusaha yang Steve hampiri berdecak kaget. "Putra grup Wong ternyata menghadiri acara kecil ini," katanya yang seolah-olah kedatangan Steve adalah sebuah keajaiban.


Sekumpulan pria-pria tua bertubuh besar ini, sambil berbicara mereka menggenggam secangkir alkohol masing-masing di tangan.


Kumis tebal menggelayut di bibir, bahkan emas, berlian atau semacamnya terlihat melingkari di jari tangan.


"Salam kenal pengusaha-pengusaha sukses," Steve berkata sopan. "Boleh saya bergabung dengan kalian?"


Pengusaha lainnya melahai tertawa atas kesopanan Steve. "Justru kami merasa tersanjung jika pengusaha muda sekaligus anak pimpinan grup wong bisa bergabung bersama kami!" sahut yang lainnya.


Steve tersenyum berwibawa, mereka terlalu berlebihan dalam berkata. "Tuan-tuan sekalian terlalu sungkan."


"Apa anda menyukai wine?" salah seorang menyodorkan segelas wine pada Steve. "Wine terbaik yang pernah di produksi di Italia."


Dengan sopan Steve menolak minuman itu. "Saya belum terbiasa dengan wine. Masih terbiasa meminum bandrek dan jamu, masih perlu pengalaman untuk meminum wine agar tidak mabuk," Steve berkata merendah, gaya bicaranya sangat sopan. "Mohon maaf atas kelancangan saya menolak tawaran manis tuan-tuan."


Sekumpulan pengusaha tua ini terbahak-bahak, mereka tak percaya atas kelakukan Steve yang tak biasa pada wine. "Jika Tuan Wong tidak biasa meminum wine, dengan rasa hormat dan malunya saya ingin berhenti minum wine," sahut salah seorang pebisnis lainnya seraya menaruh gelas wine-nya di meja. "Anda benar, jamu dan bandrek jauh lebih menyehatkan."

__ADS_1


"Tidak di sangka. Aku pikir putra grup wong yang sudah terbiasa dengan kehidupan bebas di luar negeri, nyatanya memiliki lidah Indonesia," sambar yang lain terkagum. "Bahkan menjadikan jamu dan minuman bandrek sebagai minuman pribadi, sungguh pengusaha yang jarang di temui di jaman sekarang."


"Saya tidak menampik bahwa saya bisa menyukai masakan khas Indonesia. Lidah saya belum bisa terbiasa pada wine," Steve berkata, sambil tersenyum hangat. "Mungkin kedepannya, saya akan mencoba meminum segelas wine demi mengimbangi tuan-tuan sekalian," Steve berkata formalitas, namun sikap santainya penuh tanda tanya.


Para pebisnis tua itu merasa seakan sedang di sindir oleh Steve. Terlebih Steve menolak meminum wine yang notabenenya di Tiongkok sana, para pengusaha muda seperti Steve terbiasa mencicipi minuman yang memabukkan ini.


Di tengah pembicaraan mereka, Tuan Heri selaku pemilik acara, datang menyela perbincangan para sekumpulan pebisnis ini.


"Maaf tuan-tuan. Bisakah saya meminjam putra tuan wong untuk bicara sejenak?" Tuan Heri, tanpa sapaan hangat, langsung berkata pada intinya.


"Dengan senang hati, silahkan bawa saja," sahut yang lainnya.


Kenapa pria tua ini ingin bicara pada ku. Steve menebak, apalagi dia tidak terlalu mengenal tuan Heri ini. Apakah ada rencana di balik wajah sok akrabnya ini?


Ayah Vanya ini membawa Steve berbicara berdua. Entah apa yang ingin di katakan Tuan Heri, Steve tidak paham. Wajahnya terlihat serius, bahkan mengundang kecurigaan.


"Tuan wong, bisakah kita berbicara santai," Tuan Heri memulai aksinya. "Itupun jika Tuan Wong tidak keberatan."


"Jangan sungkan-sungkan memanggil ku Tuan wong," Steve mengimprovisasi keadaan. "Panggil saja Steve, tanpa ada gelar keluarga di belakangnya."


"Oh, maaf Nak Steve. Aku sudah terbiasa pada kesopanan," ujarnya merendah. "Mau minum wine bersama ku?" Tuan Heri menawarkan segelas minuman kepada Steve.


"Maaf, aku terbiasa pada minuman hangat. Jika penolakan ini membuat anda tidak nyaman, sebaiknya aku pergi saja," balas Steve dingin.


"Maaf Tuan Steve, saya tidak tahu jika anda tidak menyukai wine," dengan cepat Tuan Heri menaruh dua gelas wine di tangannya ke tempat semula. "Jika Tuan Steve tidak keberatan, boleh saya bicara mengenai suatu hal!"


"Silahkan."


Tuan Heri mendeham, dia ingin memulai niatnya. "Jadi begini, jika Tuan Steve tidak keberatan. Saya ingin mengenalkan Tuan Steve pada putri keluarga Heri dengan Tuan Steve."


Steve melirik wajah tua Heri, pria itu terlihat serius dalam berkata. "Dalam rangka apa memperkenalkan aku pada putri anda Tuan Heri?" tanya Steve, aura angkuh menyelimuti gaya bicaranya.


Steve sama sekali tidak tertarik pada pembahasan pria tua ini, tapi karena ingin mengenalkan putrinya pada Steve, dia akhirnya tertarik ingin melihat seperti apa wajah putri Tuan Heri yang di katakan akan membuatnya tertarik.


"Jika boleh melihat wajah putri Tuan Heri, mungkin aku akan menimbang untuk berkencan dengan anak anda," Steve menantang, dia ingin mengikuti alur perkataan pria tua ini.


"Oh tentu saja, jangan sungkan. Putri keluarga Heri sangat ramah menyambut tamu," dia bersemangat membahas hal ini. Pria tua ini berpikir sudah berhasil membuat Steve penasaran pada putrinya.


Steve menyungging bibirnya, dia tersenyum pahit. Pria tua itu memuji putrinya. Aku penasaran seperti apa putrinya yang di maksud ramah.


"Maaf Tuan Steve, perkenalkan ini putri keluarga Heri, namanya Vanya," ucap Tuan Heri menaruh perhatian. Dia mendatangkan Vanya beserta istrinya agar berkenalan dengan Steve.


"Papa serius mau memperkenalkan aku dengan pria tak tahu asal usul seperti ini?" sentak Vanya terheran. "Jangan bercanda dong!"


"Vanya perkenalkan ini Tuan Steve, dia putra grup wong," jelas Tuan Heri pada putrinya.


"Hah?" sentak Vanya terkejut. "Apa? Putra tuan wong?" Vanya terkaget, dia tak percaya atas apa yang baru saja di dengarnya. "Papa nggak salah mengenalkan?"


"Mana mungkin Papa kamu salah mengenali pengusaha sehebat Tuan Steve ini," sahut Ibu Vanya. Dia merapikan rambut Vanya, agar Steve melihat bagian leher dan telinga Vanya yang cantik, pikirnya Steve akan tergoda oleh kulit mulus Vanya. "Kamu pasti akan suka pada tuan muda seperti Nak Steve ini."


Vanya ternganga, dia tak tahu jika Steve selama ini adalah putra keluarga tajir itu. Vanya merasa tidak enak hati, apalagi dia pernah berurusan dengan Steve.


"Aku sudah kenal dengan putri anda Tuan Heri. Kebetulan dia pernah membantu ku membersihkan sampah di restoran beberapa waktu yang lalu," Steve menyindir, dia sengaja mengingatkan Vanya agar tak melupakan kejadian di restoran di malam yang sial itu. "Benarkan Tuan putri?" Steve berulah, dia menyinggung.


"Benarkah itu Vanya?" tanya Ibunya. "Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya."


"Jelas aku pernah bertemu dengannya," Vanya meninggikan suaranya. "Dialah pria yang pernah membuang aku ke tempat sampah. Dia pria kejam yang pernah aku temui!" Vanya memekik marah, dia menunjuk Steve kasar.

__ADS_1


Steve mendengus tertawa, Vanya tidak melupakan kejadian malam itu. "Aku merasa putri Tuan Heri terlalu ramah, sampai-sampai aku sangat menyukai cara bicaranya yang agak tidak biasa dari gadis pada umumnya," Steve kembali menyinggung.


"Cuih!" Vanya menggeram menahan marah. "Untuk apa Papa dan Mama memperkenalkan aku dengan pria seperti dia. Hanya buang-buang waktu ku saja!" ucapnya berang. "Meskipun dia kaya raya dan tampan, aku tidak akan tertarik padanya," tukas Vanya memalingkan dan menyombongkan wajahnya dari Steve.


"Vanya," Ibunya mengelus lembut pundak Vanya. "Kenalan dengan Nak Steve merupakan suatu hal yang sulit di dapatkan oleh wanita jaman sekarang. Berteman saja dulu, siapa tahu kalian berjodoh," ucapnya sesumbar.


Steve mendengus, dia tak habis pikir kenapa keluarga Heri sok dekat dan sok akrab padanya. "Mohon maaf, aku pikir mengenal putri keluarga Heri rasanya tidak begitu penting," Steve memulai perkataannya. "Lagi pula, secantik apapun putri Tuan dan Nyonya sekalian. Tidak akan merubah image buruk ku terhadap putri kalian."


"Maksud Nak Steve apa?" Nyonya Dwi menyahut.


"Aku pikir kalian sedang berusaha menjodohkan putri kalian pada ku. Mohon maaf, jika penolakan ku ini agak kasar, aku sudah memiliki tunangan tersendiri, mohon lain kali anggap saja kita saling tidak pernah mengenal," jelas Steve. Dia tanpa ragu berkata menyakiti hati.


"Maksud Tuan Steve," Ayah Vanya berusaha menebak. "Tuan Steve tidak tertarik pada putri kami, begitu-kah?"


Steve mengangguk. "Bahkan aku tidak suka pada gadis yang suka mendendam pada orang lain," timpal Steve. "Sekaligus wanita bermulut kasar. Mohon Tuan dan Nyonya dari keluarga Heri untuk kedepannya tidak berkata sok dekat dengan grup wong, sekaligus tolong didik putri Vanya. Didik dia agar tahu cara memperlakukan orang lain seperti apa." Steve berlalu usai berkata kejam.


"Sudah ku katakan pada Mama dan Papa," teriak Vanya. "Putra dari grup wong tidak memiliki watak yang bagus. Kenapa kalian memaksa ku untuk mengenalnya. Cuih! Naif rasanya," Vanya dengan sombongnya merendahkan Steve.


Steve membalikan badannya, dia menyukai penghinaan Vanya padanya. "Oh, satu lagi," Steve kembali berkata. "Maaf jika acara kalian agak terganggu karena ulah ku. Kedepannya, semoga keluarga Heri sukses dengan usahanya."


"Tunggu Nak Steve," Nyonya Dwi menyela langkahnya. "Jika kami boleh tahu, siapa calon Nak Steve?"


Steve tersenyum picik, Dinda yang berdiri memegang minuman tak jauh darinya, ia tarik mendekat. "Inilah calon istri ku," Steve memamerkan. "Walau tidak secantik dan sehebat putri Vanya, tapi dia wanita yang spesial."


"Wanita dari kelas bawah seperti dia, menjadi kriteria menantu grup wong?" Nyonya Dwi memaksa tertawa. "Apa tidak akan mempermalukan keluarga kalian karena mencomot menantu yang tak selevel dengan grup wong."


"Maaf Nyonya Dwi," sahut Stevie. "Sejak dulu tidak ada kriteria seperti apa menantu grup wong. Kami tidak membeda-bedakan seperti apa orang lain tanpa memandang status sosialnya," Stevie menyela, dia menyinggung bahasa kasar Nyonya Dwi.


"Kamu siapa? Beraninya berkata tanpa izin ku," Nyonya Dwi berulah. "Jangan bilang kalau anda hanya menumpang mencari makan di acara semewah ini."


Stevie geram karena wanita tua itu tidak mengenalinya. Rasa berangnya memuncak, namun dia menutupinya dengan tingkah anggunnya. "Nyonya Dwi terlalu berlebihan dalam berkata," Stevie bertindak. "Tidak tahu seperti apa Tuan Heri mengajari tata Krama pada keluarganya sehingga suka merendahkan orang lain."


"Apa maksud anda, wanita tidak jelas?" Vanya berang, dia ikut menghujat Stevie. "Jika tidak ada kepentingan di sini, sebaiknya pergi. Jangan merusak acara semewah ini!" tegas Vanya mengusir Stevie melalui mulut kasarnya.


"Cih!" Stevie tersenyum pahit. "Jika tidak mengganggu atau merusak indera pendengaran kalian semua, saya ingin memperkenalkan diri," ujar Stevie memulai tindakannya. "Saya Stevie, putri tertua grup wong," Stevie dengan bangga memperkenalkan diri pada semua orang yang tengah menyaksikan drama kecil seperti ini. "Mohon jangan terkejut, sudah terbiasa bagi ku tidak di kenali oleh semua orang," Stevie berkata merendah.


Semua orang yang melihat kegaduhan ini, terkejut sesaat. Tak percaya, karena Stevie yang jarang mengikuti acara semacam ini, hadir di hotel ini. Orang-orang memperhatikan wajah cantik Stevie.


"Dia Stevie?" Vanya ikut terkaget. Dia merasa shock berat apalagi Vanya pernah bertemu dengan Stevie. "Nggak mungkin? kan!"


Vanya ingat betul kejadian beberapa tahun yang lalu, saat itu dia tak sengaja menabrak Stevie yang tengah berjalan.


"Bagaimana mungkin?" kata Vanya yang tidak bisa percaya pada keadaan ini. "Bagaimana bisa dia wanita itu?"


"Tentu saja bisa," balas Stevie. "Kamu menabrak orang lain, tetapi tidak bertanggung jawab. Apa begini cara keluarga kalian mendidik putra-putrinya?"


"Jangan bicara omong kosong!" Teriak Nyonya Dwi membela Vanya. "Tidak mungkin putri ku menabrak orang, lalu tidak bertanggungjawab."


"Cih!" Stevie kembali mendengus. "Jika dia bertanggung jawab, kenapa harus lari keluar negeri sesaat setelah melukai orang lain."


Nyonya Dwi melirik orang-orang di sekitarnya, mereka memulai sebuah spekulasi kecil.


"Mungkin anda salah. Putri kami, Vanya, tidak pernah melakukan hal-hal konyol seperti ini!" dia kembali membela.


Stevie mendengus memaksakan tersenyum. "Lupakanlah mengenai kejadian ini," Stevie berkata mengalah. "Aku datang kesini hanya ingin mengingatkan saja, bahwa aku masih selamat dari kecelakaan maut itu.


Vanya geram, Stevie sudah mempermalukan wajahnya dan kedua orang tuanya di hadapan orang banyak. Dia menggertak giginya, rasa berangnya sudah sampai di puncak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2