
Kafe grand.
"Aku masih kesal sama ulah Dinda dan adiknya itu. Aku masih Gedeg dengan mereka yang menghina ku di depan orang banyak," kata Inggrid tak terima atas perlakuan Miko dan Dinda waktu itu. Kejadian di ballroom hotel yang membuatnya tak bisa melupakan kejadian memalukan ini.
Inggrid menyentak tas mahalnya yang berwarna biru langit di atas meja.
Saat itu pukul satu siang, Vanya dengan kaca mata besarnya itu telah menunggu kedatangan Inggrid di kafe ini.
Dia menyeruput lemon ice sok meng-anggun-kan diri ala kelas atas.
Sambil mendengar celoteh Inggrid yang marah, dia menikmatinya dengan minuman dingin dan bersantai layaknya sedang berjemur di pantai.
"Kakak dan adik itu seharusnya nggak datang di upacara pertunangan kamu, dengan begitu nggak akan berantakan gini acara kalian," protes Inggrid. Dia semakin geram jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Baru ketemu langsung marah-marah, nanti cepat tua," ucap Vanya sambil menaruh minumannya di atas meja.
Vanya menyandarkan tubuhnya di kursi kafe, sambil menatap keluar dinding kaca. Dia menyilang-kan tangannya di dada seraya menyunggingkan bibir.
"Pelacur hina itu seharusnya di musnahkan dari muka bumi ini, dengan begitu maka hidup ku akan tenang," Vanya mulai bicara. "Tapi, jika dunia ini tidak ada drama, maka jalan cerita ku tidak akan seru," ungkap Vanya. "Monoton."
Vanya menyeringai tersenyum licik. "Aku ingin menculik perempuan jalang itu, lalu membuangnya ke sungai. Dengan begitu aku bisa bahagia," Vanya mengumbar niat jahatnya.
Namun Inggrid menyambar perkataan Vanya. "Gila aja!" Inggrid membantah. "Kamu pikir kita lagi hidup di drama indonesia," katanya tak setuju pada ide Vanya. "Nggak sekalian aja buang ke tempat sampah Bantar gebang, jadi nggak ada yang tahu kan niat jahat kamu," Inggrid menyarankan.
"Itu hanya wacana," hardik Vanya. "Lagi pula buang-buang tenaga saja kalau mau menyingkirkan perempuan jalang itu."
"Maksudnya?" Inggrid bertanya, dia belum masuk dalam alur ini.
"Dinda saat ini tengah dekat dengan anak grup wong," singgung Vanya.
"Grup wong?" Inggrid ingat siapa itu anak grup wong. "Jadi maksudnya, kamu ingin menjebaknya dengan memasukan skandal bersama dengan pemilik perusahan itu?" Inggrid menebak.
Vanya menjentikkan jarinya. "Kamu benar," dia tersenyum puas saat itu. "Kita buat saja skandal besar-besaran mengenai Dinda. Dengan begitu dia akan merasa di salahkan oleh netizen di seisi bumi ini."
"Apa nggak terlalu berlebihan," Inggrid menyela. "Rencana kamu ini seperti meniru rencana dalam komik-komik yang pernah aku baca."
"Komik?" Vanya membulatkan matanya.
Inggrid mengangguk. "Iya, komik. Rencana kamu ini terlalu sampah, jadi agak men-drama," perkataan Inggrid ini seakan kontra pada rencana Vanya.
"HM..." Vanya berpikir sejenak, dia mencoba mencari ide lain.
"Aku tahu!" Vanya menjentikkan jarinya. Dia terlihat semangat dengan ide barunya.
"Apa itu? Rencana baru?" Inggrid penasaran.
Vanya menatap Inggrid serius, dia tahu apa yang terbaik. "Paman Tio adalah pemilik stasiun televisi, bagiamana jika minta bantuannya saja membuat skandal ini."
Mendengar ide konyol Vanya, Inggrid yang mendengarnya malah tertawa terbahak-bahak. Dia tak bisa menahan gelak tawa. "Ide bodoh."
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Vanya.
"Ide kamu ini terbilang paling bodoh yang pernah aku temui!" Seru Inggrid.
"Bodoh!" Vanya tak terima saat di katakan seperti itu oleh Inggrid. "Kamu bilang aku bodoh?" Vanya menuntut. "Kamu berani mengatakan aku seperti itu," bentak Vanya.
"Tenang, jangan marah," Inggrid berusaha menenangkan emosi Vanya. "Jadi gini, ide ini sebenarnya sudah pernah aku ajukan pada paman Tio. Tapi apa yang paman Tio bilang, 'Dia tidak mau berurusan dengan grup wong' dan jelas itu, kalau grup wong memang tidak bisa di lawan," Inggrid memberi tahu Vanya.
"Dan ide ini pernah aku ajukan pada paman beberapa hari yang lalu. Hanya saja paman kurang kaki tangan untuk membuat skandal ini, makanya dia tidak berani menanganinya," jelas Inggrid.
"Huh," Vanya menggerutu. "Kalau paman Tio tidak bisa membantu, lalu siapa yang harus kita paksa membantu dalam membuat skandal ini," Vanya menuntut penjelasan.
"Aku juga bingung. Rasanya sangat sulit sekali untuk menjatuhkan Dinda," curhat Inggrid. "Dia terlalu licin bagai belut."
Vanya menyandarkan tangannya di atas meja, sambil memijit kepalanya. Otaknya sudah terlalu buntu memikirkan ide jahatnya.
__ADS_1
"Apa mungkin kita sewa fotografer sekalian dengan aktor pemeran adegan dewasa," Vanya menyarankan. "Kita jebak dia di kamar hotel, lalu ambil foto syur dan di publikasikan di berita. Bukan ide yang jelek-kan!" Vanya meminta pendapat Inggrid, dia butuh referensi ide brilian lainnya.
"Terlalu aneh gitu, rencana ini," jawab Inggrid kontra. "Aku pikir ide ini terlalu sampah, nggak ada yang bagus."
"Sampah!"
"Iya sampah!" Angguk Inggrid.
Vanya menggertak giginya, dia melirik Inggrid, dia tidak terima idenya di sebut sampah. "Kamu dari tadi berkata sampah, sampah, sampah, sampah dan sampah. Memangnya tidak ada kata yang lain kah yang bisa kamu ucapkan."
"Iya-iya maaf. Aku mengaku salah," ujar Inggrid mengalah. "Aku tidak punya ide yang bagus seperti kamu."
"Sudahlah," tepis Vanya. "Lupakan dulu dendam ini, aku akan pikirkan ide lain."
Vanya memutar-mutarkan rambutnya, mengkeritingkan rambutnya menggunakan jari. Dia menatap luar jendela, berharap ada ide yang bagus menghampiri otaknya.
Tapi, tak sengaja bagi Vanya melihat olive, adik Inggrid sedang melintas di depan kafe.
Vanya menyipitkan matanya, memperhatikan dengan jelas gadis yang di kenali-nya itu.
"Olive," kata Vanya bicara pelan. Matanya mengikuti langkah gadis itu kemanapun dia berjalan.
"Itu olive kan?" Vanya menyikut Inggrid. Dia menunjukan olive pada Inggrid.
Adik Inggrid sedang menuju kedalam kafe, Inggrid menengok, dan benar bahwa olive sedang ada di dalam kafe.
"Dia bersama siapa itu? Dan jam segini, bukannya masih jam pelajaran," Vanya menegur Inggrid. Dia memberitahu, sebab jelas itu olive dengan pakaian sekolahnya.
Olive datang bersama dengan teman prianya, Inggrid sadar bahwa itu lah anak yang paling ia benci.
"Aku nggak salah lihat-kan," Inggrid menatap Vanya. "Coba kamu pukul wajah ku, sepertinya aku sedang berhalusinasi." Inggrid meminta Vanya menamparnya, agar dia sadar kalau dirinya tidak dalam keadaan halusinasi.
Tanpa pikir panjang Vanya yang di pinta memukul Inggrid dengan ringannya, tangan Vanya melayangkan tamparan keras di wajah Inggrid.
"Kamu kenapa menamparku keras?" Protes Inggrid.
"Kamu sendiri yang minta di pukul, ya aku mengikutinya saja, apa yang kamu mau!" Vanya membela dirinya, dia sedikit terkekeh-kekeh bisa menampar keras wajah Inggrid hingga memerah.
Inggrid mendesah menahan amarah. "Kan bisa juga pelan!" Dia menggerutu. "Huh," Inggrid menahan sakit di sertai rasa kesalnya lada Vanya.
Dia meninggalkan Vanya sendiri. Inggrid menghampiri olive yang ada di meja kasir. Dia menarik adiknya menjauh dari anak yang sedang ia gunjingkan.
Inggrid dan olive bicara di depan pintu kafe dan tidak jauh dari pintu itu, dua karyawan kafe berdiri menatap aneh keduanya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Inggrid sedikit emosi. "Dan juga sama dia, beraninya kamu!"
"Kakak kenapa sih," bantah olive seraya melepaskan paksa pegangan tangan Inggrid. "Datang-datang langsung marah-marah."
"Kakak peringatkan kamu yah, jangan dekat-dekat sama dia. Karena dia, kakak kemarin di permalukan di muka umum!" Inggrid memberitahu pada olive kalau Miko yang datang bersama dengan Oliv adalah musuhnya.
"Siapa sih yang kakak maksud?" tanya Olive tak paham.
"Siapa lagi kalau bukan dia," pekik Inggrid. "Kakak nggak mau kamu berteman dengan dia;" perintah Inggrid sepihak.
"Maksud kakak, Niko?"
"Iya... Siapa lagi yang datang bersama kamu!" Inggrid makin memuncak dalam emosi. "Kamu jangan pernah dekat-dekat sama dia."
Sementara olive yang bertingkah tak peduli, dia hanya mengorek upilnya tidak mengindahkan perkataan Kakaknya.
"Kamu dengerin kakak nggak sih?" Inggrid mengguncang tubuh olive. "Kamu nggak usah berlagak tuli, kakak bicara sama kamu!"
"Kak!" Olive memegang kedua bahu Inggrid. "Aku nggak peduli kakak ada masalah apa sama Niko, tapi aku mohon. Kali ini jangan berlagak sok peduli pada olive. Hentikan drama kakak, malu dilihat semua orang disini," olive memperingatkan Inggrid.
Tanpa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut kakaknya, Olive memilih meninggalkan Inggrid tanpa peduli pada tingkahnya.
__ADS_1
"Hei;" Inggrid kembali menarik tangan olive. "Kamu berani melawan kakak sekarang," teriak Inggrid dia tidak peduli jika semua orang melihat pertengkaran mereka.
Olive menepis tangan kakaknya, dia sedikit angkuh. "Apaan sih kak!" Olive membantah. "Nggak usah sok care deh, olive muak tahu nggak dengan sikap kakak yang sok peduli."
"Adik kurang ajar kamu," kata Inggrid semakin emosi. Dia melayangkan tamparan. Namun berhasil di tangkis oleh olive.
"Kakak kenapa selalu ikut campur dengan siapa aku berteman. Kakak nggak usah munafik deh," olive meneriaki Inggrid dengan kata-kata kasar. "Kakak berteman dengan kak Vanya, hanya karena ingin menaikkan status sosial kakak kan? Jadi kenapa kakak sok peduli pada olive!" Tukas olive berang.
Vanya yang berdiri menyilang-kan tangan di dada, menyaksikan drama kecil kakak beradik itu dari jarak beberapa meter. "Pertunjukan yang menarik," Vanya sangat menyukai adegan ini. "Terus saja bertengkar, aku hanya penikmat drama."
Vanya menopang dagunya di tangan sambil menikmati segarnya lemon ice. Vanya tidak peduli siapa di antara mereka yang akan menang dalam pertempuran kecil ini.
Sementara Niko hanya bisa terbungkam seribu bahasa. Dia tidak tahu apa yang di katakan oleh kakak adik itu.
Niko melihat bahwa olive sedikit berani menyentak kakaknya.
Bahkan dia menepis tangan kakaknya dengan kasar.
"Kenapa kakak tidak suka kamu berteman dengan dia, karena kakaknya pelacur," Inggrid mencaci.
"Kakak!" Olive membentak. "Jangan pernah mengatakan orang lain pelacur, kakak nggak usah sok suci!"
"Apa kamu bilang!" Inggrid geram. "Sok suci? Kamu tahu, kamu sedang bicara sama siapa?"
"Aku tahu!" Jawab olive. "Aku sedang bicara dengan Inggrid yang dari Sabang sampai Merauke adalah wanita kaya!" Sentak olive.
"Begini nih! Kalau kamu bergaul dengan orang miskin, otak kamu ikut kotor. Tidak bisa berpikiran dengan jernih," tandas Inggrid.
"Tolong jangan pernah katakan aku dan keluarga ku dari kelas pelacur!" Niko menyela. "Kami memang miskin, tapi kami masih punya harga diri."
Inggrid tertawa lepas saat Niko menyahut. "Ha-ha.... Adik si pelacur mulai bicara," Inggrid berkata sarkas. "Terakhir kali kamu bertemu dengan ku di ballroom hotel, kamu menghina ku sepuas hati. Kenapa sekarang aku tak bisa menghina kamu?"
"Ballroom hotel," Niko mengulangi ucapan Inggrid.
Niko tahu, yang di maksud oleh Inggrid adalah kakaknya Miko. Jelas-jelas saja Niko belum pernah ke hotel manapun apalagi bertemu dengan Inggrid, itu pun baru kali ini dia melihat kakak Olive ini.
Karena kembar identik, Inggrid menyangka bahwa dia adalah Miko. Niko hanya bisa bersikap layaknya Miko, karena Inggrid tidak akan tahu kalau mereka kembar.
"Jadi maksudnya kita pernah bertemu di ballroom hotel!" Niko memastikan.
"Iya," jawab Inggrid sambil tersenyum licik. "Kamu ingat, terakhir kali kamu bahkan menumpahkan cake di wajah ku, jadi aku ingin membalasnya sekarang!" Inggrid mengambil minuman yang ada di tangan olive, dia ingin menumpahkan minuman itu ke wajah Niko.
Tapi Inggrid salah sasaran, sebab dengan cepat olive melindungi Niko dari Hujaman air sari buah itu.
Wajah olive langsung basah dan rambutnya menjadi acak-acakan.
"Oow," Vanya menyeringai tersenyum puas. Dia mendapatkan drama menarik siang ini. "Yes!" Vanya mengepal tangannya dengan semangat. Dia begitu menikmati pertengkaran ini.
"Sudah puas dengan drama kakak!" Kata olive menyeringai jus buah yang membasahi wajahnya. "Kalau sudah puas, aku pergi dulu."
Olive membawa pergi Niko, dia meninggalkan Inggrid dalam wajah yang sangat kesal.
"Olive!" Inggrid ingin menghentikan adiknya pergi. "Olive! Olive!" Namun usahanya sia-sia, adiknya sudah menjauh dari kafe.
"Huh.... Sial!" Berang Inggrid. Dia kesal pada adiknya, lalu dia melampiaskan kemarahannya pada pintu kafe.
"Sudahlah," Vanya menyela. "Tidak ada gunanya juga menceramahi olive. Dia masih kecil, anggap saja masih labil," Vanya berkata manis. Dia menghibur Inggrid yang sedang di landa emosi.
Dada Inggrid rasanya panas dan ingin pecah. Dia kesal sekali di tambah kata-kata Vanya yang seakan meledeknya.
Tanpa basa basi, Inggrid mengambil tasnya lalu meninggalkan Vanya sendirian. Perasaan kesalnya tak bisa di tawar lagi.
Melihat sisa-sisa pertengkaran tadi di ikuti rasa sebal Inggrid, membuat Vanya menggeleng puas. Dia sangat menyukai adegan hari ini.
BERSAMBUNG.
__ADS_1