
PENGUNTIT
Bahagia Vanya sungguh terasa hari ini. Sebenarnya, bahagia yang dia rasakan sangat sederhana. Melihat sang Mama menerima kembali kakaknya, sungguh sebuah kebahagiaan yang mungkin sulit di percaya oleh Vanya.
Sebelumnya, sang Ibu selalu tidak mau mengungkit Arka. Tapi saat ini, akhirnya hati yang keras bak tembok besar China itu akhirnya runtuh seiring datangnya sang buah hati, Nero.
Dunia memang penuh misteri, hal tidak terduga yang terjadi hari ini membuat Vanya tahu. Kalau sebenarnya, keluarga yang harmonis-lah yang membuat dia bisa menikmati hidup yang indah.
Usai membesuk sang Ibu, Vanya kembali bekerja. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Vanya merasa sangat puas. Bahkan sambil bekerja di restoran, dia terlihat menyengir girang.
"Mbak Vanya kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya teman sejawatnya. Saat Vanya mengelap meja kasir, para pekerja di sekitarnya memperhatikan wajahnya itu. "Tumben. Nggak seperti biasanya."
"Nggak apa-apa kok," jawab Vanya seraya menggeleng. Tapi ekspresi senangnya itu sangat kentara di mata teman-teman coworker—nya itu.
"Tapi Mbak Vanya kelihatan senang gitu loh. Ada apa sih? Ayo cerita... Cerita ke Tini," lirih temannya memaksa sambil menggoda.
Vanya tetap bersikukuh, dia tidak mau berbagi kebahagiaan. Apalagi kebahagiaan ini sangat jarang dia lihat, malu rasanya mengumbar kebahagiaan yang menurut keluarga lain adalah hal lumrah terjadi.
"Ayo dong Mbak, cerita ke Tini," rengek wanita itu. Dia mengerat di bahu Vanya tanpa henti. "Cerita dong ke Tini. Aku kan penasaran, Mbak."
"Nggak ada apa-apa kok, Tin," jawab Vanya. "Cuma ada something yang nggak perlu kamu ketahui. Sifatnya rahasia. Kamu nggak harus tahu."
"Tini tebak, Mbak Vanya ditembak cowok yah?" ujar Tini menebak dengan ekspresi melucu.
"Enggak," jawab Vanya cepat. "Jangan ngawur, aku nggak mungkin seperti itu."
"Ayolah Mbak. Jangan bohong ke Tini. Ingat, bohong itu sebagian dari pada ahli Mbak Vanya. Hayo, ngaku. Mbak pasti ketemu cowok ganteng-kan!"
Vanya men-decak sambil menggeleng melihat anak itu. Rasa ingin tahunya itu, membuat Vanya tak begitu menghiraukan dia. Vanya tak berkata apa-apa, hanya melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan ucapan penuh pertanyaan itu.
Walau dia merengek meminta berbagi rahasia, Vanya enggan mengungkapkan hal ini pada siapapun. Vanya harus keras kepala.
Meskipun Vanya mengabaikan teman sejawat yang lebih muda darinya itu, tetap saja. Gadis ini masih mengikuti Vanya kemanapun dia pergi.
Tapi, kebetulan saat Vanya sedang bekerja, Arka yang sempat mampir sekedar makan di tempat kerja Vanya, memanggil pelayan. Lantaran makannya bersama sang istri sudah selesai.
Vanya lebih dahulu menghampiri Arka. Dia ingin menghindar dari cekaman Tini.
"Kakak mau pulang ke hotel. Kebetulan besok sebenarnya ada rapat penting, juga Mbak Anita ada seminar antar dokter bedah se—Indonesia. Jadi kita mau pulang istirahat dulu. Kamu mau ikut?" kata Arka pada Vanya.
"Pekerjaan Vanya banyak kak. Jadi Vanya nggak bisa kesana kemari. Lagi pula, kalau Vanya ikut kakak, yang jagain Papa siapa?" jawab Vanya.
"Benar sih, Ka," sahut dr. Anita yang menggendong Nero. "Kan Vanya sekarang kerja part time. Pasti dia sibuk."
****
Sejak tadi siang, Dinda menyendiri. Dia duduk di cafe tempat biasa dia nongkrong bersama Eva saat SMA. Di sana, dia duduk melamun, tak ingin di ganggu siapapun.
Tapi—sekarang Dinda sudah pulang. Mungkin sudah berjam-jam duduk di cafe seperti orang kehilangan harapan hidup.
Dinda menyusuri bahu jalan di komplek perumahannya. Saat menenteng kardus berisi barang-barangnya, entah kenapa rasa ingin melupakan Steve tidak bisa hilang dari pikirannya.
Pikiran Dinda yang terus tertuju pada Steve, di ikuti sebuah pikiran mengenai nasibnya kedepan.
"Tidak menyangka, bahwa mulai hari ini aku akan menjadi bagian dari jutaan kaum muda yang menganggur. Bahkan aku belum sempat membahagiakan Ibu." Sembari berjalan menyusuri trotoar komplek, Dinda mengomel.
Berjalan, berkata seraya menendang-nendang kaleng minuman bekas yang tak sengaja mampir di heels hitamnya.
Ini adalah mimpi terburuk yang tak pernah dia harapkan sebelumnya. Di jalan yang berlampu remang-remang, kadang kala redup ini, Dinda harus mengeluh. Oh, sebelumnya, mimpi mencintai seorang pria seperti Steve tak pernah sekalipun terbayang dalam benaknya.
Namun kali ini, Dinda menjadi candu. Dia sudah merasa ketergantungan akan kehadiran Steve yang dulu sempat dia hindari. Jujur, pria itu sudah membuatnya gila karena cinta.
Dari depan komplek perumahannya ada halte busway. Jadi, Dinda agak berjalan sebentar memasuki komplek perumahan.
__ADS_1
Tidak ada yang ingin mengharapkan sebuah kesedihan di dalam hidupnya. Semua orang pasti menginginkan sebuah kebahagiaan. Entah itu kebahagiaan sesaat, tetapi intinya orang-orang sangat ingin menghindar dari kesedihan. Namun berbeda dengan yang Dinda rasakan.
Perbandingan kebahagiaan Dinda dengan kesedihannya sangat jauh signifikan. Berbanding 10:90. Di mana rasa kebahagiaan itu hanya sesaat saja, yang banyak justru kesedihan tiada henti.
Jika di pikir-pikir, Dinda sebenarnya ingin menyalahkan takdir. Takdirlah yang membuatnya harus seperti ini.
Bertemu dengan pria yang di cintai. Setelah itu mendapatkan bencana yang tak terduga. Lalu berpisah pada akhirnya. Semua itu adalah salah takdir.
Mungkin, jika pada awalnya aku tidak bertemu dengannya. Bisa jadi aku tidak akan gila seperti ini. Memikirkan dia setiap saat—sungguh membuat aku tersiksa.
Rindu memang berat, hanya saja aku bukan wanita yang kuat. Di mana aku bisa menahan rasa sakit akan kehilangan. Bahkan jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak berharap mengenal dia ataupun jatuh cinta padanya.
Sekali lagi aku berharap tidak ingin bertemu dengannya. Mimpi indah itu ternyata hanya mampir sekilas dalam tidur ku. Dan semua akan berakhir saat aku bangun keesokannya.
Semua ini salah takdir. Takdirlah yang mempertemukan aku dengan pria itu. Takdir juga yang mengubah aku menjadi gila karena cintanya. Karena takdir, aku harus bersikap irasional.
Maka! Mulai saat ini. Mimpi indah yang pernah di bangun itu. Aku akan meruntuhkannya, lalu menguburnya dalam-dalam. Aku ingin melupakan mimpi itu, sebelum aku menderita karenanya. Sungguh sangat berat melupakan mimpi indah bersamanya, walau aku sudah berusaha kuat.
Maaf! Mungkin aku egois. Hanya karena sebuah surat yang berisi perpisahan. Aku melakukan hal ini lebih dahulu.
Aku tahu kalau ini terlalu berlebihan. Tapi—rasa sakit akan kehilangan yang bercampur rindu akan kabarnya, membuat aku tidak layak menjadi wanita yang pantas untuk pria yang mendekati kata sempurna dalam segala hal. Menunggu yang tak pasti bagi ku sama seperti mencari jejak kaki di tengah air. Rasanya sia-sia.
Hari ini, Aku, Dinda! Mungkin harus berhenti bermimpi mendambakan cinta seorang pria yang begitu sempurna ini. Cinta ku dan cintanya berbeda. Maaf, kali ini aku harus lebih dahulu melupakan kamu—Steve. Meskipun aku tak mampu melakukannya, namun aku usahakan bisa.
Dimana, kedepannya. Entah kamu sehat atau tidak. Mungkin kamu akan melihat aku bersama orang lain. Berdiri di atas pelaminan, melemparkan buket bunga.
Jujur, aku tidak bisa membayangkan itu terjadi. Menikah dengan pria lain selain kamu. Aku merasa ini sangat aneh, tapi—takdir harus memisahkan kita.
Dinda menangis pilu di tengah gelapnya malam. Usaha untuk menahan agar tak menitikkan air mata, justru membuat Dinda makin tak bisa membendung air matanya itu.
Saat dia bergumam pelan, wajah sendu itu terus saja ingin menangis. Sekuat hati Dinda menahan diri agar tak menangis, namun, tetap saja tak bisa dia hentikan.
Pria itu telah merusak kehidupannya yang damai dan tentram. Pria yang tanpa hati tak memberikan kabar padanya.
Kemudian, sesaat setelah Dinda berhenti menangis menanggung kesedihan. Dinda sadar, kalau dirinya sedari tadi di ikuti oleh seseorang. Oh—tepatnya sejak dia berada di depan komplek perumahan.
Dinda sesekali menengok ke belakang, melihat siapa yang ada di belakang punggungnya. Awalnya Dinda berpikir itu hanya seseorang yang satu arah dengannya. Tapi— "Apakah dia mengikuti aku sejak tadi?"
Dinda meliriknya sekilas saja, tak biasa bagi Dinda melihat orang berlama-lama. Dinda memperkirakan kalau orang yang berpakaian serba hitam itu adalah seorang pria. Tingginya hampir sama dengan— "Mungkin-kah itu Kak Johan?"
Walau Dinda tahu, jalan yang dia lalu itu agak sepi dan gelap, Dinda tetap cuek. Hatinya tidak merasa takut sedikitpun atau mungkin ngeri.
Dinda pasrah saat orang itu terus di belakangnya. Ah, rasa sebalnya hari ini mengalahkan rasa takutnya.
Sesekali Dinda menoleh kebelakang. Pria yang tingginya hampir mirip Johan itu, terus mengikutinya dari jarak beberapa meter.
Karena terus saja merasa di ikuti oleh pria ini. Dinda memutar tubuhnya dengan paksa, lalu. "Apakah anda mengikuti ku sedari tadi?" tanya Dinda agak ketus. "Jika anda berniat menjadi PENGUNTIT. Aku hanya memperingati anda, bahwa aku gadis miskin dan hina. Tidak ada keuntungan yang bisa anda dapatkan dengan mengikuti aku."
Saat Dinda berkata dengan keras pada pria itu—dia yang memakai Hoodie hitam hingga menutupi kepalanya agak terpaku. Tangannya di masukan kedalam saku hoodie, Dinda menebaknya kalau di balik aku itu adalah senjata tajam.
"Kenapa diam?" teriak Dinda yang sudah sebal. "Jika berniat ingin membunuh ku. Aku sudah siap! Lagi pula wanita seperti ku memang pantas mati. Hanya akan mengotori muka bumi saja atau bahkan menambah beban."
Entah kenapa, saat Dinda berkata seperti itu. Dinda merasa lega kalau kematian menjemputnya. Di hadapan pria itu, yang mungkin di anggapnya adalah penjahat, Dinda berharap dia merenggut nyawanya. Agar dia merasa terbebas dari dunia yang kejam ini.
"Jangan diam saja! Cepat anda bunuh aku. Aku sudah bosan menunggu kematian ku saat ini!" teriak Dinda lagi yang sudah tak sabaran akan kematian.
Pria yang ada di hadapan Dinda, mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya.
Dinda tahu, inilah akhirnya. Dia bisa menebaknya, kalau pria ini memang mengincarnya sejak tadi.
"Dan akhirnya aku akan mati di hadapan pria ini," ucap Dinda pelan. Dinda memejamkan matanya, berharap dia tidak merasakan sakitnya benda tajam saat menghunus tubuhnya. "Jika aku mati. Aku harap aku bisa bertemu dengan pria tidak tanggung jawab itu. Maka akan aku maki dia di neraka. Lantaran sudah meninggalkan aku tanpa kepastian ini."
Pria itu jalan mendekati Dinda. Saat tiba di sisi Dinda, dia membisik di telinganya. "Maaf Nona. Aku rasa anda harus pergi kerumah sakit jiwa. Mungkin otak anda konslet," katanya sambil membakar sepuntung rokok.
__ADS_1
Sesaat kemudian dia berlalu, meninggalkan Dinda yang di pikirnya wanita stress.
"Aku sakit jiwa?" sungguh penghinaan terbesar dalam hidup Dinda. Belum pernah ada yang berani berkata seperti itu padanya sebelum itu. "Hei. Pria aneh! Bunuh aku jika kamu mau. Aku siap menjadi tumbal mu!" teriak Dinda lagi.
Pria yang sudah jalan di depannya itu, mendengus. "Perempuan sinting. Hidup yang ironis, aku yang harus menanggung kematiannya. Gila!" umpatnya.
Kenapa dia tidak mau bertindak. Apakah dia bukan penjahat?
Dinda terhanyuk memandangi punggung ber-hoodie hitam itu. Pria yang sudah pergi itu, meninggalkan kata-kata menohok untuknya. Tapi, harum tubuhnya tadi, mirip—
"Mungkinkah dia......!"
"Kak Dinda kenapa berdiri di sini?" tegur Miko saat Dinda memperhatikan pria di depannya. Niko dan Miko ada di belakang Dinda.
Miko menegur lebih dahulu, apalagi Kakaknya berdiri di tengah trotoar yang gelap. Bahkan tidak ada penerangan sedikit pun di sekitar mereka.
"Kalian?"
Niko mengangguk. "Kami ada perlombaan basket antar kota sejak tadi siang. Makanya pulang agak malam," ucap Niko memberitahu. Sambil berkata, dia mainkan dan memutar bola basket di tangannya.
"Oh! Kakak kok nggak tahu?"
Miko yang sedang memainkan handphone sambil berjalan, menggeleng mendengar kata kakaknya. "Bagaimana kakak bisa tahu. Kakak sendiri kan tadi pagi belum keluar kamar. Makanya kakak ketinggalan informasi?"
"Oh, iya. Kakak memang kesiangan tadi pagi," sambar Dinda cepat.
"Kak Dinda kesiangan karena masih jadi bucin kak Steve. Jangan salah kalau akhir-akhir ini dia sering pikun," bisik Niko pada Miko. Dia memberitahu, karena Miko selalu mengabaikan kakaknya, Dinda.
"Apa yang kalian bisik-bisik?" tanya Dinda. "Kalian sedang membicarakan apa?"
"Bukan apa-apa. Hanya berdiskusi mengenai pertandingan besok," balas Miko.
Tapi, mendengar pengakuan Niko tadi— Miko sebenarnya ingin terkekeh. Adiknya itu benar-benar memahami kakaknya yang sudah mulai menjadi budak cinta Steve. Dulu, Miko ingat betul kalau kakaknya sangat benci dengan Steve.
Menjaga jarak bahkan tidak mau melihat pria itu. Tapi setelah pria itu menghilang tanpa jejak, kini baru terasa kalau sekarang keadaannya sudah terbalik.
"Ayo kita pulang. Sebentar lagi hujan mau turun," tegur Dinda. Mereka berjalan beriringan, tapi di tangan Dinda mengundang perhatian.
"Di tangan kakak itu apa?" tanya Niko ingin tahu.
Dinda melihat kardus yang dia bawa. Jelas kalau itu barang-barangnya, tapi dia lupa—kalau adiknya tidak paham mengenai resign-nya ini.
"Kakak berhenti," balas Dinda memberitahu.
"Hah!! Berhenti?" sahut Miko lebih dahulu. "Kakak beneran berhenti kerja dari perusahaan kak Steve?" katanya memastikan.
Dinda mengangguk. "Mulai besok kakak jadi pengangguran."
Mendadak seperti ini, Miko berpikir kalau itu bukan kakaknya. Tidak pernah kakaknya ambisius atau pantang menyerah. Miko tahu kalau bekerja di kantor Wong adalah impiannya sejak dulu. Tapi, kini— "Apa kakak sudah yakin dengan keputusan ini?"
"Jika kakak nggak yakin. Nggak mungkin dong kakak memilih resign."
"Ini nggak ada hubungannya dengan nggak ada kabarnya kak Steve kan?" Niko menimpalinya dengan tebakan terburu-buru.
"Kenapa harus berhubungan dengan Steve. Kakak saja nggak pernah berpikir kalau resign ini ada kaitannya dengan dia." Dinda terpaksa berbohong, walau Niko mengaitkannya dengan benar. Kedua adiknya nanti akan meledeknya habis-habisan kalau tahu sebenarnya Steve yang menyebabkan kekacauan ini.
Meski Dinda berusaha tidak mau mengungkit Steve. Tapi orang-orang di sekitarnya tahu kalau Steve-lah penyebab semua ini. Pria itu memang meninggalkan kesan yang baik pada orang-orang di sekitarnya. Sampai-sampai semua orang tidak bisa melupakannya.
"Ibu sudah tahu kan kalau kakak bakal resign?" ucap Niko yang sedikit perhatian.
"Ibu menjadi orang pertama yang tahu."
BERSAMBUNG
__ADS_1