
Dinda dan wanita yang menampar wajah Johan pergi meninggalkan pria yang pemaksa itu menjauh sampai tiba di sebuah taman yang sedikit dekat dengan Hotel bintang lima di pusat Jakarta.
Wanita itu sangat cantik dengan rambut tergerai bebas sebatas bahunya namun rambut itu melengkung kedalam. Wanita ini semakin cantik saat poni rambut bagian depannya ia jepit kebelakang membentuk gaya rambut slicked back.
Ia mengenakan pakaian kasual berbentuk gaun merah beraksen hitam dan di selipi bunga-bunga penuh warna sehingga nampak Aura kecantikannya di tambah tinggi ideal seukuran dinda membuatnya elegan berkelas.
Wanita ini sungguh pandai dalam memadu padankan tata pakaian yang cantik.
Bahkan harum tubuhnya sangat sedap di hisap hingga siapa pun pria tidak berani menolaknya. Harum France ferfume beraroma terbaik di kelasnya itulah yang wanita ini kenakan.
"Terima kasih ya kak sudah membantu ku!" ucap Dinda pada wanita yang nampak di matanya amat modis dan elegan.
"Tak masalah!" tukasnya singkat. Ia menarik kaca mata hitam yang menyangkut di hidung kecilnya itu penuh pesona seakan dia ingin menunjukan bahwa dia adalah konglomerat yang super tajir.
Lalu meletakan kacamata itu di kerah baju bagian atas dadanya.
Dinda sedikit bingung karena tidak tahu harus mengucapkan apalagi selain ucapan terima kasih. Apalagi wanita cantik itu membuat Dinda sedikit iri karena gaya sosialitanya yang Dinda pikir luar biasa anggun.
"A - aku pikir sebaiknya aku kembali ke kantor sekarang. Dan terima kasih sekali lagi aku ucapkan kepada kakak yang telah membantu ku tadi." Ujar Dinda permisi melepaskan kebuntuan bicara.
"Jangan terlalu sungkan pada ku."
"Tidak. Maksud ku, aku terlalu gugup saat melihat kakak dan aku pikir ini pertama kalinya kita bertemu," Dinda sedikit berbasa-basi dan sedikit salah tingkah saat wanita itu menjawab singkat terkesan ramah.
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lain waktu." Sekali lagi Dinda izin ingin pergi meninggalkan wanita itu.
"Kamu yakin mau pergi kekantor dalam keadaan seperti ini?" wanita itu menyela Dinda sambil menunjuk luka di kakinya.
"Apa kamu tidak ingin mengobati luka kaki mu dulu sebelum masuk ke kantor." tambah wanita bergaun mewah ini.
Wanita ini melihat dengan detail bagian tubuh Dinda.
Dinda hampir saja lupa bahwa dirinya terluka tadi saat menghindari kontak fisik dengan Johan.
Luka gores yang cukup dalam akibat tak sengaja tergores keranjang buah milik restoran Jepang tadi yang di letakan di depan restoran.
Darah hangat dan segar berwarna merah kehitaman mirip whine sedikit berceceran menyelimuti kaki bagian depannya. Seakan kucuran darah itu nampak sekilas mirip wanita yang sedang pendarahan namun tak separah itu.
"Ini pasti akibat terkena goresan kawat keranjang buah tadi." ucap Dinda bicara pelan mencoba mengingat kejadian tadi yang tak ia sadari.
"Apa sebaiknya kita obati dulu luka mu baru kamu bisa kembali ke kantor. Apa kamu tidak akan merasa di perhatikan oleh para kolega mu jika mereka melihat paha mu terluka sedikit serius." Wanita itu berbicara seakan sedang menawarkan sebuah bantuan dan memberitahu hal yang akan terjadi kedepannya nanti.
Seperti seorang yang bisa melihat masa yang akan mendatang tebak Dinda. Padahal wanita itu hanya asal tebak saja dan bukan suatu hal yang perlu di bahas.
"Oh iya, ada sebuah mitos yang pernah aku dengar sekilas. Jika ada seorang wanita lajang belum menikah di bagian bawah tubuhnya terdapat luka atau mengeluarkan darah dan semacamnya maka orang itu akan menjadi gadis tua bahkan sulit mendapatkan jodoh.
Dan ini hanya mitos, jadi tidak perlu di pikirkan. Menurut ku sih terserah pada mu jika kamu menolak untuk membersihkan luka itu adalah pilihan mu. Dan jika kamu tidak percaya pada ucapan ku tak masalah. Aku hanya mengucapkan apa yang aku tahu." Wanita ini sedikit berbicara serius dengan ekspresi yang tak kalah menegangkan dari ucapannya.
"Apa iya ya, yang di ucapkan kakak ini. Apakah nanti aku akan menjadi gadis tua jika menunda-nunda membersihkan luka?" hati kecil Dinda bertanya-tanya atas kebenaran ucapan wanita di hadapannya.
"Aku rasa mitos ini benar-benar terjadi. Setidaknya biarkan aku membersihkan sendiri luka ku!" seru Dinda menambahkan ucapannya.
"Sebaiknya aku sendiri yang akan membersihkan luka ini. Terima kasih untuk perhatian kakak. Dan sebaiknya aku pergi sekarang karena jam kerja ku sudah tiba. Aku pergi dulu kak!" ucap Dinda meninggalkan wanita modis ini dengan ramah, seraya melihat jam tangan yang melekat di tangannya.
Jam itu menunjukan waktu masuk kantor sudah hampir tiba, dan ini bukanlah kesempatan bagi Dinda untuk bersantai dalam kesibukan. Dinda berlalu meninggalkan wanita yang membantunya itu.
"Beneran kamu tidak mau di bantu oleh ku. Aku pandai loh dalam membersihkan luka?" sekali lagi wanita ini menawarkan diri untuk membantu.
Namun sayang karena terburu-buru Dinda kembali menolak dan berkata, "Terima kasih Kak atas bantuannya, aku bisa melakukannya sendiri." Ujar Dinda bicara menolak halus dan tubuhnya kini menjauh dari seseorang yang belum ia kenal namun ramah padanya.
Apalah daya bagi wanita ini. Bantuan hangatnya di tolak oleh Dinda secara manis walaupun ia tak terima untuk di tolak.
"Wanita ini sangat keras kepala. Dia tidak tahu jika luka infeksi itu terkontaminasi oleh kuman dan bakteri maka akan menyebabkan pembusukan di jaringan epidermis kulit luarnya. Dasar wanita batu." Wanita ini menggerutu sewot karena Dinda menolak tawaran bantuannya.
Ia melihat bayangan punggung Dinda dari belakang dengan jalan sedikit memincang seperti orang yang terkena penyakit asam urat.
Ia menarik nafas panjang seraya kedua bahunya ia angkat dan menggeleng lesu keheranan pada tingkah gadis itu yang menolak bantuannya. Ia meninggalkan tempat berdirinya, senada dengan yang Dinda lakukan, lalu berjalan menyusuri trotoar dan kembali ke mobilnya yang ia parkir di bahu jalan.
Beruntung bagi wanita ini karena tidak ada satupun petugas keamanan penertiban lalu lintas yang melintas. Jika tidak maka mobil mewahnya akan berakhir di kantor dinas perpajakan dan pasti akan lebih ribet jika di tangani olehnya.
__ADS_1
Di sisi lain Dinda yang menyusuri jalan khusus pedestrian, berjalan dengan kaki terpincang sambil mengingat wajah cantik gadis yang ia temui tadi.
Ia berpikir wanita itu adalah seorang selebriti yang meniti karir di luar negeri. Pikir Dinda dia adalah model, artis peran bahkan bintang iklan. Sungguh membuat iri saja gidik Dinda pada wajah wanita itu yang terus berputar dalam benaknya.
"Wanita itu amat cantik. Bahkan gaun yang ia kenakan pasti gaun mahal. Terlebih gaun itu adalah produk belagio collection harganya saja berjuta-juta. Butuh menabung dua bulan gaji untuk membeli gaun bermerk itu." Dinda sekilas teringat pada bayang-bayang wajah gadis cantik bak bidadari itu.
"Setidaknya dia adalah seorang sosialita atau bangsawan kelas satu. Karena orang-orang kelas ataslah yang bisa membeli pakaian mahal seperti itu.
Terlebih gayanya yang elegan, pasti banyak pria tampan yang mendekati dirinya. Sungguh membuat orang lain iri hati saja." Ujar Dinda memelas membayangkan begitu sempurnanya kehidupan wanita yang baru saja ia lihat. Kehidupan putri di dunia nyata.
Dinda jalan menuju kantor dengan pincang sambil tangannya menahan sedikit sakit di pahanya. Ia mengambil jalan yang banyak para pejalan kaki berlalu lalang. Jalan yang ia lalui adalah jalan khusus untuk pejalan kaki dan penyandang disabilitas, karena terdapat jalur kuning di sepanjang trotoar. Jalur kuning yang menandai kota ramah disabilitas.
Sebelum sampai di kantor, Dinda tak sengaja berpapasan dengan bangunan bergaya kontemporer di sisi kanan trotoar yang ia lalui. Di depan bangunan itu bertuliskan "APOTEK SEHAT SEJAHTERA". Dan di bagian depan etalase bagian apotek yang terbuat dari kaca tebal terpampang berbagai jenis dan merek obat-obatan.
Dinda berpikir sejenak saat melihat apotek itu. Terlebih lukanya yang harus segera di bersihkan membuatnya tertarik untuk mengunjungi tempat itu. Dan di papan iklan apotek itu terpasang iklan lain. Yakni papan iklan bertuliskan "KLINIK MEDIKA SENTRA." Klinik buka ini buka hingga pukul 22:00 dan itu nyata tertulis di papan iklan yang Dinda lihat.
"Aku rasa tidak ada salahnya jika singgah ke apotek itu." Pikir Dinda mengambil ide cerdas.
Dinda memutuskan menyimpang ke apotek yang ia lihat dan kebetulan apotek itu berdiri tidak jauh dari kantornya. Apotek ini berada di antara beberapa gedung pencakar langit termasuk kantor tempatnya bekerja.
Langkah kakinya membawa Dinda menuju ke apotek besar dan lengkap dengan obat-obatan ini. Di depan pintu apotek itu, Dinda menarik pintu kaca apotek yang akan menuntunnya masuk kedalam.
"Hallo selamat siang. Apakah ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pria berpakaian putih bersih dengan senyum ramah. Pria itu nampaknya adalah seorang dokter di klinik yang baru saja ia singgah.
Klinik ini menyatu dengan apotek sehingga mungkin saja pria yang menyapanya dengan ramah tadi bertugas di apotek setengah klinik ini.
Dinda tidak memperhatikan sang penyapa itu, karena matanya sedang menyapu bersih sekeliling ruangan apotek yang luas bahkan lengkap dengan seluruh obat-obatan.
Dinda tak menemukan siapa pun di dalamnya kecuali kotak-kotak obat yang terpajang di etalase kaca dan satu orang pria seumuran dengannya berpenampilan rapi. Seorang dokter muda nampak di pelupuk matanya. Dinda tak bertanya apa pun mengenai apotek ini dan ia hanya fokus pada lukanya saja.
"Aku sedikit terluka tadi karena tidak sengaja terkena goresan kawat keranjang buah yang tajam. Bisakah anda membantu aku membersihkan luka ini." Ujar Dinda memulai bicara pada dokter klinik.
Dokter itu untuk sesaat tertegun, kala melihat Dinda dan seperti sedang memikirkan sesuatu tentang dirinya. Dinda melihat pria itu bertingkah aneh seakan ada yang salah pada dirinya.
Ia terlamun sejenak dengan bola mata menghadap ke langit-langit apotek dan tangannya berada di dagu. Jelas perilaku ini menambah tanda tanya Dinda atas apa yang sedang di pikirkan oleh dokter manis itu.
"Apakah nama kamu Dinda?" tanya dokter itu penasaran usai melihat wajahnya.
"Sudah ku duga!" respon pria ini bersikap manis penuh dugaan.
"Apakah kamu sudah melupakan aku?" dokter ini memberikan clue yang tak di mengerti oleh Dinda.
"Siapa ya? aku rasa aku tidak mengenal anda dokter!" sahut Dinda tak tahu apa-apa tentang pria di hadapannya.
Pria itu tersenyum manis dan memegang bahu Dinda seakan keduanya sangat dekat.
Dinda sedikit tak suka saat di pegang, namun ia ingin tahu siapa dokter di hadapannya dan mengapa bisa ia mengenal dirinya.
"Sebaiknya kamu duduk dulu di kursi ini. Dan kita bersihkan dulu luka mu." Dokter ini Melakukan tugasnya, tetapi dinda? masih ingin tahu pada pria ini. Seakan seperti teman lama dan Dinda mencoba mengingat masa lalunya.
Dokter ini langsung membersihkan luka dinda dengan teliti di kursi yang tersedia untuk pasien. Ia membalut luka itu mengenakan plester senada dengan kulitnya sehingga nampak alami jika dilihat.
"Selesai." Tukas pria itu.
"Terima kasih dokter atas bantuannya." Dinda menjawab labil.
"Oh iya. Tadi dokter mengetahui nama ku. Apakah dokter kenal pada ku?" tanya Dinda.
Dokter ini tersenyum riang dan dengan bangganya ia bicara santai. Seolah mereka berdua sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Kamu mulai melupakannya. Aku pikir teka-teki yang aku berikan tadi bisa membuat mu sedikit mengingat ku. Tetapi aku kecewa kamu telah melupakan aku." Dokter berjubah putih ini merespon cepat pertanyaan Dinda.
"Siapa?" Dinda memastikan ucapan dokter itu.
"Aku Rendy. Teman semasa SMP mu dulu. Apakah kamu ingat?"
"Rendy?" Dinda mengulangi ucapan itu sambil mengingat kisah SMP-nya.
"Oh. Rendy teman sekelas ku yang selalu juara kelas itu." Dinda mengingatnya.
__ADS_1
Dengan bangga dokter ini tersenyum puas karena berhasil membuat Dinda ingat padanya walau sempat kecewa di lupakan.
"Maafkan aku dokter Rendy karena lupa pada anda."
"Tidak perlu sungkan. Semua butuh proses untuk mengingat teman lama termasuk aku. Tetapi aku akui bahwa sangat mudah mengingat Dinda walau sudah bertahun-tahun tidak bertemu." Rendy bicara santai dan mengambil posisi duduk di sebelah Dinda. Ia ingin bercengkrama dengan sahabat lamanya sampai puas pikir Rendy demikian.
"Sekarang kerja dimana?" Rendy bertanya dengan nada kasual seakan mereka sudah dekat kembali seperti kala duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Aku bekerja di perusahaan grup wong. Dan aku sekarang akuntan di bank UOB cabang Jakarta. Kantor ku juga tidak jauh dari sini, bahkan hanya butuh lima menit untuk sampai di kantor ku."
"Wah sekarang sudah menjadi akuntan. Terlebih grup wong sendiri adalah perusahaan multinasional pasti menjadi kebanggaan tersendiri bekerja di perusahaan itu." Rendy memuji takjub atas pencapaian Dinda.
"Dokter Rendy terlalu berlebihan dalam menanggapinya. Aku hanya karyawan kecil dan masih seorang akuntan pemula," jawab Dinda merendah.
Dinda tersenyum kecil dan merasa tersanjung atas pujian Rendy yang amat puitis dan bersajak.
"Kalau begitu maaf dokter Rendy, aku seharusnya kembali ke kantor sekarang karena jam kerja ku sudah berlalu. Maaf tidak bisa berlama-lama berbicara dengan dokter." Dinda menyela bicara keduanya yang sedang santai-santainya. Dinda melirik jam tangannya dan ia menyaksikan bahwa ia telah terlambat masuk kerja selama lima belas menit.
Sehingga ia terburu-buru ingin beranjak dari klinik sekaligus apotek yang mungkin Dinda pikir milik Rendy.
"Tidak perlu sungkan begitu. Panggil saja aku Rendy tanpa gelar dokter di depannya. Itu terkesan bahwa aku seorang dokter terkenal jika di panggil dengan gelar dokter oleh mu." Rendy menjawab ramah menggoda.
"Iya Rendy. Kalau begitu aku sekarang pergi. Lain kali jika ada waktu aku akan mampir kemari. Terima kasih ren atas bantuannya hari ini." Pamit Dinda pada Rendy dengan langkah tergesa-gesa. Ia mulai terbiasa untuk memanggil Rendy walau dalam sekali pertemuan.
"Hati-hati di jalan," teriak Rendy menyahut ucapan Dinda. Ia menyaksikan rambut hitam Dinda tergerai panjang dari belakang.
Bodynya yang ideal membuat Rendy sedikit menyungging bibirnya karena takjub pada transformasi bentuk tubuh Dinda yang sangat cantik.
Aroma tubuh Dinda masih tertinggal harum walau yang empunya tubuh telah berlalu jauh meninggalkan apotek Rendy.
Rendy tersenyum manis dan tak bisa melepaskan bayangan wajah Dinda yang cantik itu dari benaknya.
Dinda keluar dari apotek itu secepat kilat karena ia tahu jika ada staf lain yang melihat keterlambatannya dalam bekerja maka ia pasti di berikan surat peringatan. Ia tak bisa membayangkan hal ini akan terjadi dan seperti apa nantinya hasil yang ia perbuat.
"Sepertinya begini tidak ada yang tahu jika aku sedikit terluka." Ujar Dinda menebak pikiran orang-orang yang melihatnya. Sambil membenahi pakaian di tengah jalan.
Dinda kembali kekantor dengan sikap biasa saja, datar seakan tidak terjadi apa-apa padanya. Ia percaya diri melenggang masuk kantor dan berusaha untuk melupakan masalah bertemu dengan Johan tadi. Karena ia merasa sedikit terhibur dengan di pertemukan oleh dua orang yang baru saja ia lihat.
"Hei Dinda! dari mana saja kamu?" seringai Eva kala melihat Dinda baru tiba di meja kerjanya. Eva yang sedang terduduk di kursi kerjanya langsung berdiri kala mendapati temannya telah tiba. Eva setidaknya sedikit khawatir pada Dinda.
"Aku baru saja dari kamar mandi usai makan di restoran cepat saji tadi. Perut ku tiba-tiba sedikit bermasalah. Terlebih kamu sendiri tidak ada disana tadi!" seru Dinda sedikit berbohong namun ia menutupi kebohongan itu dengan ekspresi wajah datar sehingga Eva tak tahu jika ia sedang membodohi ya. Itulah yang Dinda pikirkan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku benar-benar takut jika kamu kenapa-kenapa tadi. Aku kira kamu di culik, sampai-sampai aku rasanya bersalah karena meninggalkan kamu sendirian tadi." Untuk sesaat Eva merasa lega karena rasa cemasnya akan Dinda sudah lenyap.
Namun eva melihat ada sebercak noda merah di bawahan dinda. Hal ini membuat Eva menaruh sedikit curiga karena Dinda sedang menutupi sesuatu darinya. Ia memegang bahu Dinda dan menatapnya dengan seksama seakan dia tidak yakin pada ucapan Dinda yang mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja." balas Dinda singkat lalu duduk di kursinya.
"Oh tuhan!! aku pikir kamu menghilang kemana. Aku sampai cemas memikirkan kamu tadi." ucap Eva perhatian dan pura-pura membenarkan ucapan Dinda.
Eva tahu jika tadi ada sesuatu yang terjadi pada Dinda, namun ia tak berani bertanya apapun karena Eva tahu Dinda pasti akan berkilah.
"Bukankah kamu yang meninggalkan aku tadi." Dinda balik menghardik sewot.
"Hey. Aku tadi ke kamar mandi sebentar. Aku pikir kamu akan menunggu ku seperti biasanya, tetapi kamu malah meninggalkan aku. Memangnya kamu pergi kemana tadi?"
"Aku." Dinda bingung harus menjawab apa karena tak ada alasan lain selain mengakui kejujuran bahwa dirinya di hampiri oleh johan.
"Sebenarnya aku...... Lupakan sajalah!" kilah Dinda menghindari pembicaraan ambigu ini.
"Aku rasa kamu hari ini aneh. Apakah kamu sakit?" Eva mulai memancing sebuah bicara jujur dari dinda. Sambil ia menempelkan punggung tangannya ke kening Dinda untuk memastikan apakah temannya baik-baik saja atau tidak. Hal ini ia lakukan pura-pura agar Dinda tidak menyadari bahwa ia tahu apa yang sedang terjadi tadi.
"Bahkan tubuh mu tidak panas sama sekali. Mengapa kamu menjadi sedikit tidak bertenaga untuk bercerita?" ucap Eva ingin tahu.
"Ayo katakan apa yang terjadi pada mu tadi. Aku siap menjaga rahasia ini." Eva mulai menuntut kejujuran Dinda.
"Aku hanya dari kamar mandi. Bukankah sudah aku katakan tadi." Tegas Dinda jelas.
Eva tak melanjutkan pertanyaan lain lagi. Cukup melihat Dinda berkilah Eva bisa tahu bahwa Dinda tak mau mencurahkan keluh kesah yang ia rasakan pada dirinya.
__ADS_1
Mereka kembali pada tugas masing-masing.
BERSAMBUNG