
Tak ada manusia yang mengharapkan kesengsaraan dalam hidupnya, termasuk Vanya.
Dia tidak pernah berharap akan di hadapkan pada situasi seperti ini. Dimana hidupnya yang dulu pernah bahagia, kini berubah menjadi tidak ada daya.
Walau Vanya sudah merengek memaksa Dinda agar tidak menemui para penculik itu, namun usahanya bisa di bilang gagal. Dinda tidak mengindahkan perkataan Vanya.
Kemauan Dinda untuk membawa pulang dan menyelamatkan orang tua Vanya, membawa mereka tiba di sebuah gedung bekas pembangunan yang belum di lanjutkan proyeknya.
Gedung apartemen yang ada di pinggir pantai Utara kota Jakarta ini, masih akrab dengan konstruksi yang masih ada di mana-mana.
"Aku sudah sampai. Cepat kembalikan Tuan Heri sekarang!" teriak Dinda di salah satu lorong gedung lantai tiga.
Vanya mengikuti Dinda. Ini adalah tanggung jawabnya menemani Dinda, sebab penculikan ini sebenarnya tidak ada hubungan dengan Dinda. Dia tidak mau, hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada temannya itu.
"Dinda, kamu yakin mau menyerahkan diri seperti ini?" tanya Vanya yang agak was-was. Dia menengok sekeliling gedung, memang terlihat sepi, tak ada seorangpun di sana. "Dinda, kita tidak punya rencana. Bagaimana aku akan membantu kamu nanti. Bagaimana kalau kamu di celaka-kan mereka. Aku tidak tahu harus bagaimana mencegah kamu."
"Kamu tenang saja. Mereka hanya ingin kan aku datang. Bukankah tadi kita sudah meminta bantuan Zico. Aku yakin, dia akan datang kesini secepatnya." Dinda mengerti kekhawatiran Vanya. Hanya saja, di saat-saat seperti ini, tidak ada tawar menawar lagi demi menyelamatkan Ayahnya.
Ketika mereka berdua saling berbincang-bincang, dari lorong-lorong gedung, keluar pria-pria yang jumlahnya ada beberapa. Mungkin puluhan orang, yang pasti saat melihat mereka, Dinda dan Vanya sedikit takut.
Seorang pria mendekati mereka—yang nampaknya adalah bos para penculik ini. Kala berjalan dengan angkuhnya, pria itu bertepuk tangan suka cita menyambut kedatangan Dinda sambil melahai tertawa terbahak-bahak.
"Bagus. Rupanya kalian sudah datang seperti perjanjian sebelumnya," ucap pria yang mengenakan kemeja putih rapi ini. Dan....
"Kamu!!" ujar Dinda yang membelalak matanya karena kaget. Pria itu, dia...
Pria yang di maksud Dinda adalah si codet, Tony Kim. Dinda masih mengenali wajah pria Korea itu. Tony Kim merasa terhormat, kala wanita secantik Dinda masih hafal pada wajah pria di atas tiga puluh tahunan itu.
"Aku pikir gadis secantik kamu lupa pada pria seperti ku ini. Pria yang merenggut kebahagiaan mu," ucapnya kembali dengan ingatan yang menyakitkan di malam itu. Malam dimana dia melakukan hal-hal kejinya pada Steve. "Oh, maksud ku. Calon suami mu, si pria China yang tidak berguna itu."
"Jangan pernah sebut dia tidak berguna. Karena orang-orang yang tidak berguna itu justru kalian!" pekik Dinda berang. Memang seharusnya Dinda berang pada pria itu. Pria yang sudah membuatnya menderita, dengan melukai Steve.
"Ckckck... Gadis secantik kamu, kenapa harus marah pada ku karena seorang pria China yang hampir mati itu. Hei gadis, kamu itu cantik. Kenapa tidak menikah saja dengan ku. Bukankah aku juga layak sebagai seorang suami. Apalagi, wanita Indonesia banyak yang menggilai oppa-oppa Korea seperti aku. Apa kamu bagian dari wanita-wanita itu. Mari menikahlah dengan ku," kata Tony Kim. Entah apa maksud dan tujuannya, dia berkata seakan memancing emosi Dinda.
Dinda mengepal keras tangannya. Seandainya dia memiliki kemampuan dalam bertarung, mungkin Dinda sudah merobek mulut Tony Kim yang kurang ajar itu.
"Maaf, aku tidak mengenal anda sebelumnya," Vanya menyela. "Aku tidak tahu maksud dan tujuan anda menculik Papa ku. Yang jelas, kami datang kesini hanya meminta agar anda secepatnya membebaskan Papa ku."
"Ckckck," Tony Kim menggeleng. Di tatapnya seluruh bagian tubuh Vanya, menarik. Gadis itu lumayan berani berkata tidak sopan padanya. "Memang kita tidak saling kenal sebelumnya. Tetapi, gadis yang ada di sebelah mu itu ada kaitannya dengan semua ini."
"Aku sudah di sini. Cepat kembalikan Tuan Heri. Dan, kita akhiri transaksi tidak jelas ini!" seru Dinda yang tak sabaran.
Vanya menarik bahu Dinda, di tatapnya wajah gadis itu. "Dinda, kamu!"
"Ini demi Papa kamu. Aku tidak masalah jika berurusan dengan mereka." Dinda tahu kecemasan Vanya. Namun—pria yang menginginkannya itu tidak bisa di tawar-tawar lagi. Terpaksa, Dinda harus menurutinya.
Vanya sudah ketakutan, sungguh. Dia tidak mau Dinda mengambil resiko untuknya, tapi dia masih nekat.
__ADS_1
Tony Kim, menggerakkan dua jarinya. Dia mengisyaratkan pada beberapa bawahannya. Dan, isyarat itu di jalankan oleh bawahannya yang sudah paham pada maksud pria ini.
Mereka mendekati Dinda dan Vanya, lalu memisahkan mereka berdua.
"Hei, apa yang ingin kalian lakukan!" Vanya bergelik meronta. Ketika tangannya di kunci dengan keras, Vanya sekuat tenaga melepas kuncian itu. "Lepaskan. Apa yang kalian ingin lakukan pada kami!"
Dinda pasrah. Dia tidak memberontak atau melakukan perlawan. Namun dia menatap wajah Tony Kim penuh amarah.
"Ckckck, jangan menatap wajah ku seperti itu gadis. Kau membuat ku makin jatuh cinta pada mu," ujar Tony Kim sedikit girang.
Dinda menggeram menahan amarahnya. Jujur, pria ini tidak lebih hina dari penjahat kecil.
"Kalian bawa gadis itu bertemu dengan Orang tuanya. Sedangkan gadis cantik ini, kalian bawa ke ruangan khusus. Perlakukan dia dengan baik, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang pengantin." Tony Kim memerintahkan. Seandainya dia bisa memiliki gadis di hadapannya, mungkin beruntung bagi Tony Kim memilikinya.
Dinda dan Vanya di bawa ke arah yang berbeda. Dinda di masukkan di ruangan khusus, sedikit agak gelap.
Mereka memperlakukan Dinda biasa saja, tidak dengan kekerasan atau ancaman.
"Apa yang kalian inginkan. Kenapa kalian mengaitkan penculikan Tuan Heri dengan ku. Apa maksud dari semua ini?" Dinda bertanya. Saat Tony Kim duduk santai di kursi khususnya, dia mengangkat kakinya di atas meja.
"Karena, hanya kamu yang bisa mengembalikan uang-uang ku. Dan kamu harusnya tahu, kalau aku menyandera kamu, maka pundi-pundi Rupiah ku akan kembali." Mungkin Dinda tidak mengerti maksud Tony Kim, namun pria ini paham betul mengenai transaksi yang ingin ia lakukan.
"Apakah maksudnya anda ingin ada seseorang yang menebus salah satu sandera penculikkan ini?" ujar Dinda menebak.
Tony Kim menjentikkan jarinya, hingga keluar suara khas dari selepitan jari itu. "Kamu benar. Itulah kenapa aku mau kamu yang datang. Karena kamu adalah pusat uang ku saat ini."
Kenapa harus aku? Kenapa aku yang menjadi pusat uangnya. Apa maksud pria ini.
"Kamu harus tahu berapa harga yang akan di bayarkan oleh pria itu untuk menebus mu," Tony Kim kembali berkata.
Harga? Kepada siapa dia akan meminta tebusan. Ibu? Miko? Atau.... Zico. Tapi mereka tidak memiliki cukup uang untuk menebus sandera disini. Siapa yang di maksud pria ini?
Dinda berpikir, tidak mungkin kalau itu.... Steve yang akan memberikan Tony Kim uang.
Nggak mungkin kalau Steve. Dia sendiri tidak ada kabarnya saat ini. Kenapa Steve harus berurusan dengan dia. Enggak mungkin Steve, nggak mungkin.
Tony Kim berdiri dari duduknya yang sombong itu, melipat tangan di dada, dan melihat wajah Dinda dengan seksama. "Pria yang akan menebus kamu hari ini. Rela mengeluarkan uang sebanyak sepuluh milyar. Dan itu cukup membuktikan kalau dia memang benar-benar kaya. Bahkan mencintai kamu. Oleh karena itu, beruntung sekali hidup mu gadis karena menemukan pria sebaik dia. Tidak tahu apakah di kehidupan selanjutnya kamu akan seberuntung ini, jangan sia-siakan kesempatan baik ini."
"Pria siapa yang anda maksud?" sambar Dinda bertanya ingin tahu.
Tony Kim melihat jam di tangannya, lalu. "Sebentar lagi dia akan tiba. Pria yang akan membayar biaya sandera-sandera ku ini." Di ujung bicaranya, Tony Kim sedikit menyungging.
Saat mereka sedang berbincang berdua saja, seorang bawahan Tony Kim masuk, menyela pembicaraan mereka.
"Dia sudah datang bos!" bisik anak buahnya itu.
"Ehm..." Inilah yang di tunggu oleh Tony Kim. Uangnya akan segera tiba. "Suruh dia masuk ke sini. Jangan lupa, periksa uangnya," balas Tony Kim memerintah.
__ADS_1
Uang, uang dan uang. Hanya itu ambisi Tony Kim. Selain kekuasaan dan pengaruh, tak ada yang bisa membuatnya bersemangat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Namun, ada tambahan balas dendam, maka itu pilihan ketiga dalam hidupnya.
"Kamu dengar. Pria yang akan menyelamatkan kamu sebentar lagi akan tiba. Manfaatkan waktu mu, jangan menangis. Aku benci air mata!" ujarnya menegaskan.
Dia sudah datang? Siapa? Apa hubungannya dengan semua ini?
Di saat-saat Dinda sedang berpikir menebak siapa yang mau menebusnya. Dari balik pintu baja, seorang pria yang amat dia kenal mendekatinya dengan tergesa-gesa.
"Dinda... Dinda.... Kamu tidak apa-apa?" ucapnya dengan nada khawatir. Dia memeriksa seluruh bagian tubuh Dinda, takut kalau wanita itu terluka.
"Kak Johan." Dinda terhenyak agak kaget. Pikirnya, bagaimana bisa dia ada di sini. "Kak Johan. Bagaimana kakak bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Dinda penasaran.
"Aku yang menelponnya!" sahut Tony Kim menyela. "Dia pria yang menebus kamu disini, wahai gadis."
"Tutup mulut mu Tony Kim!" sentak Johan berang. "Aku sudah memberikan uang sebanyak sepuluh milyar seperti yang kau mau. Jadi jangan cari perkara lagi pada ku atau Dinda."
Tony Kim menepuk-nepuk tangannya, di ikuti senyum tips melicik dan mondar-mandir di hadapan Johan dan Dinda. "Benar-benar pria kaya. Beruntung sekali gadis kecil ini mendapatkan pria seperti anda putra Tuan Tama."
Johan melirik Dinda sekilas, lalu menatap nanar wajah Tony Kim. Dia mengepal tangan keras-keras, ingin mem-bogem wajah si pria Korea itu.
Dinda melihat kegeraman Johan, menarik bahunya. Dinda tahu, pasti Johan tak bisa tinggal diam kalau di ajak bercanda oleh Tony Kim. "Lupakan saja dia. Kak Johan jangan melukai diri dengan terlibat dalam masalah ini," ucap Dinda menenangkan Johan.
"Tidak bisa Dinda," tandas Johan. "Dia berusaha ingin melecehkan kamu tadi jika aku tidak segera datang. Aku mengkhawatirkan kamu saat ini."
"Tapi aku baik-baik saja kak. Kak Johan tidak perlu memikirkan dan mencemaskan aku."
Walau Dinda malas berkata dengan Johan, namun saat ini Johan telah membantunya. Apalagi dia datang di saat yang tak terduga, jujur, Dinda ada dalam fase keraguan. Dimana dia harus berterima kasih pada Johan atau justru meragukan pria ini.
"Dinda," Johan merengek. Ditatapnya wajah Dinda penuh kehausan. Lalu tangan-tangan lebarnya itu memegang wajah Dinda. "Aku kesini karena kamu. Jika terjadi sesuatu pada kamu. Aku tidak tahu harus bagaimana."
Mulut itu amat manis dalam berkata, hanya saja Dinda menghargai setiap tindakannya saat ini.
"Kak Johan tidak perlu khawatir lagi pada ku. Mereka tidak melakukan hal-hal buruk pada ku."
Ketika Dinda berkata seperti itu, mendadak Johan memeluk Dinda dengan kehangatan. "Aku takut kamu kenapa-kenapa. Hanya itu yang bisa aku pikirkan. Aku mohon, kali ini jangan seperti ini lagi."
Dinda ingin melepaskan diri dari pelukan Johan. Hanya saja—dia sudah membantunya saat ini. Tak ada pilihan lain bagi Dinda, selain menerima pelukan Johan.
"Oke, oke," Tony Kim kembali menyela keduanya yang sedang berpelukan. "Karena saat ini uang ku sudah tiba. Aku tidak mau kalian berdua di sini lama-lama. Sebaiknya pergi dari sini, aku tidak mau tempat ku berubah menjadi hotel mesum untuk kalian."
Dinda mendengkus sebal pada Tony Kim. Mulutnya benar-benar seperti wanita, terlalu cerewet.
"Sebaiknya kita pergi dari sini saja Dinda. Aku takut kalau mereka akan berulah lagi," bisik Johan sambil membantu memapah Dinda berdiri.
Dinda mengangguk, ketika Johan memapahnya, tak ada pilihan lain selain menerima pelayanan dari Johan. Sungguh, bagi Dinda jika bisa menolak untuk berjalan sendiri. Tak akan dia melakukan hal ini. Tepat di depan pintu keluar, Dinda tiba-tiba ingat Vanya.
"Vanya bagaimana?" tanya Dinda pada Johan.
__ADS_1
"Oh, dia sudah di antar pulang. Kamu tenang saja, aku juga sudah memberikan uang tebusan pada mereka."
BERSAMBUNG