
Miko yang menarik paksa tangan adiknya tadi, berlari sejauh mungkin menghindar dari pandangan ketiganya.
Tubuhnya lelah dan nafasnya ngos-ngosan. Kini keduanya nampak berada di lobby mall. "Hosh..... Hosh...." Suara nafas keduanya memburu terengah-engah.
Mereka berhenti tepat di tengah lobby mall. Semua orang berlalu lalang di sana. Miko membungkukkan badannya seraya tangannya memegang kedua lutut sebab tak kuat lagi berlari.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan lega bisa menghindar secepat mungkin.
Niko yang mengikuti alur langkah kaki Miko, mengikuti tingkahnya. Tingkah lelah berlari dengan nafas yang entah kemana perginya Niko tak tahu.
Nafasnya kini pun ikut tersengal sebab kakaknya bertindak tanpa peringatan. Untuk sesaat ia bertanya sejenak sambil mengambil nafas yang menghilang.
"Kakak...... Kenapa kakak berlari saat melihat mereka.... Seperti....... pencuri saja. Kakak bukan pencuri kan?" Niko memulai bicara dengan nafas memburu tak karuan.
"Mana mungkin kakak melakukannya."
"Lalu? Mengapa kakak berlari takut ketika melihat kedua orang tadi. Jika bukan terkena masalah dengan mereka, lalu apa yang membuat kakak begitu terkejut melihat mereka?"
"Kamu cerewet sekali. Lain kali kakak ceritakan, tetapi tidak sekarang." Kilah Miko.
"Terserah kakak saja, aku hanya bertanya dan kakak malah menjawab dengan ucapan lain. Huh......" Balas Niko singkat sambil sewot.
Miko tak menjawabnya lagi, takut-takut nanti masalah akan meluas dari intinya. Miko berusaha mengendalikan suasana.
Ia memegang pinggang, sebab detak jantungnya berdegup kencang. Keringat ikut membanjiri kening keduanya.
"Lebih baik kita pulang sekarang. Kakak tidak punya waktu untuk berkeliaran disini." Pungkas Miko sedikit terlihat gusar.
"Bagaimana dengan kak Dinda? Kita kesini bersama dia, lalu mengapa pulang kita meninggalkan dirinya." Ucap Niko bersikap peduli.
Miko dengan wajah ingin segera pulang, menjawab dengan nada ketus. "Ah... Aku yakin kakak juga bisa pulang sendiri. Aku akan mengirim pesan pada kakak kalau kita sudah pulang."
"Ayo kita pulang lebih dulu," ucap Miko mengajak.
"Tidak..... Tidak... Aku tidak akan pulang jika tidak dengan kak Dinda. Pokoknya aku tidak akan pulang." Kini Niko dengan wajah semrawut jutek, berusaha bersikap rasional.
Wajahnya terlihat menjengkelkan di mata Miko yang melihat tingkah kekanak-kanakan Niko. Sedikit dongkol bagi Miko untuk memaksa Niko pulang bersama.
Kini Miko memikirkan ide lain. "Ah.... Ya sudah kalau begitu. Aku bisa pulang sendiri. Tapi ingat, aku tidak akan mentraktir kan diri mu apapun lagi. Hitung-hitung ini adalah hadiah terakhir untuk mu," ucap Miko sedikit menggertak dengan tingkah konyol.
Ia dengan santainya melenggangkan kaki menuju keluar mall, kedua tangan ia masukan kedalam saku baju jasnya yang besar dan berjalan sedemikian cool, jalan khas pria jantan.
Ia meninggalkan Niko sendiri di lobby mall. Ia tak peduli jika anak itu tak mau pulang bersama dengan dirinya. Sebelum dirinya beranjak, dengan seksama matanya menoleh ke wajah adik yang sedang terpaku memikirkan ucapannya. Miko sedikit menebak, walau sepenuhnya tak benar.
"Bukan hanya dia yang bisa menggertak ku, tapi aku juga bisa melakukannya. Aku yakin dia sekarang memikirkan bahwa aku serius dalam ucapan ku. Tak peduli dia berpikir apa, tetapi aku puas sekarang." Miko dengan senyum sumringah menikmati tingkah bodoh adiknya.
__ADS_1
Niko berpikir bahwa ucapan Miko setidaknya membuat ia khawatir jika remaja yang lebih tua darinya itu tidak mau lagi membelikan ia apa yang ia mau. Ide yang buruk bagi Niko, jika kehilangan bank berjalannya. Karena selama ini uang dalam tabungannya utuh di sebabkan oleh Miko yang selalu membagi hasil tabungan pribadinya.
"Kak Miko mencoba memanipulasi diri ku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," ucap Miko dengan pikiran terbuka. Kali ini ia paham jika Miko sedang mempermainkan tingkahnya.
"Kak tunggu!" Teriak Niko memanggil Miko yang sudah menjauh berada di depannya.
Miko tak begitu memperdulikan teriakan adiknya walau telinganya masih sehat untuk menangkap suara yang ia bosan untuk di dengar.
Ia berjalan tidak terlalu terburu-buru meskipun sang adik mencoba mengejar dirinya yang sudah sampai di depan pintu masuk mall.
Namun Niko yang mengejar Miko di depan matanya, setidaknya teringat pada barang belanjaan mereka tadi. "Kak. Bagaimana dengan belanjaan yang kita bawa tadi?" tanya Niko yang kini sudah berjalan sejajar dengan kakaknya.
Miko dengan wajah tak peduli dan sok cuek, melirik wajah adiknya dengan tatapan sinis. "Masa bodoh dengan belanjaan. Lagi pula, barang-barang tadi juga ada di depan kak Dinda, jadi mengapa risau memikirkannya." Gerutu Miko jutek.
"Iya aku paham jika ada kak Dinda yang bisa membantu membawakan semua barang kita. Tetapi bagaimana jika kak Dinda melupakan barang-barang itu seperti beberapa waktu yang lalu?"
"Sudahlah jangan di pikirkan. Kalau hilang tinggal beli lagi. Kenapa harus repot-repot memikirkan barang-barang seperti itu, hanya membuat otak ku tak fokus saja!" Seru Miko membantah sewot.
"Iya aku paham jika kak Miko anak sultan sehingga barang mahal-mahal seperti itu tidak ada artinya di mata kakak. Tapi bagi ku itu penting karena membelinya hasil dari menjaga rahasia negara. Kakak paham itu!" Niko menggarang kali ini. Wajahnya terlihat sedikit sebal dan ekspresinya seperti sedang mendendam.
Miko yang melihat sikap Niko yang sedikit kekanakan tepaksa harus mengalah ia tahu anak itu merasa paling benar atas semua ucapannya. Sehingga siapa pun tak boleh membantah Niko sekali pun, kecuali dirinya Miko, yang bertindak sebagai kakak.
"Masalah sepele pun harus di permasalahkan. Aku sudah mengirim pesan pada kak Dinda agar tidak lupa membawa barang belanja tadi, jadi sekarang tidak perlu bertingkah seperti anak kucing. Aku geli melihatnya."
Keduanya berjalan sudah tiba di depan pintu luar mall. Di lobby bagian luar mall hari sebenarnya sudah hampir malam, sebab waktu di sore itu sudah menunjukan pukul enam lebih dua belas menit.
Dan langit menunjukan warna merah padam dari pantulan fatamorgana matahari sore.
Hujan sedikit melanda riuhnya kota jakarta. Dan setidaknya lantai trotoar bergaris kuning ramah disabilitas basah ulah sang air yang menggeliat turun ke permukaan bumi.
Keduanya kini benar-benar meninggalkan kakaknya sendiri di mall, karena pikir Miko jarak antara mall dan apartemen mereka tak jauh. Butuh waktu sepuluh menit jalan kaki dan melalui satu JPO saja, maka sudah sampai di gedung apartemen mereka.
Sementara Dinda yang di tinggalkan oleh kedua adiknya masih tertahan di mall bersama dengan dua pria yang menghampiri mereka tadi.
Beberapa saat sebelumnya makanan yang sudah di pesan dan rencana makan enak di restoran bergaya Jepang tersebut batal karena adiknya tiba-tiba pergi begitu saja saat melihat dua orang itu datang mendekati mereka.
Mubazir bagi Dinda jika sudah memesan makanan lalu tidak jadi di makan sementara dirinya sudah membayar atas makanan itu. Ide Dinda tidak berhenti hanya membiarkan makanan itu di biarkan saja tanpa di santap.
Di bungkus adalah ide cemerlang baginya. Ia meminta para petugas restoran membungkus makan yang telah di pesan tadi.
Ketiganya sempat bicara panjang lebar. Dari lantai atas mall, dinding kaca yang menyelimuti gedung terlihat nampak jelas bahwa hujan rintik-rintik melanda bumi dan hari mulai senja di ufuk barat dengan warna sunset berpanorama indah.
Dinda melirik arloji tangannya yang ia pakaikan di tangan kirinya. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul enam sementara mereka tadi sempat bicara panjang lebar. Dan kini saatnya bagi Dinda untuk undur diri. Pikirnya tak ada yang perlu di bicarakan lagi terlebih kedua adiknya meninggalkan dia begitu saja.
"Maaf Pak Zico, Rendy, aku ingin pamit pulang. Hari sudah malam. Dan jika ada lain waktu kita bisa bicara lagi. Mohon maaf sekali lagi."
__ADS_1
"Oke.... Baiklah." Zico merespon lebih dahulu.
"Bagaimana jika aku antarkan pulang dengan mobil ku?" Rendy berinisiatif.
"Tidak perlu Ren. Rumah ku ada di sekitar tempat ini, aku rasa terlalu berlebihan jika harus diantar pulang menggunakan mobil. Maaf ya aku sedikit menolak." Balas Dinda menolak ramah sambil tersenyum ramah.
"Kamu terlalu sungkan," ucap Rendy tersipu malu. Kini ia bertingkah sedikit memalukan sembari menggaruk kepalanya dan di selingi senyum masam.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat malam Pak Zico, Rendy."
"Oke... Oke... Hati-hati dijalan Dinda!" Seru Rendy sembari melambaikan tangan.
Terlihat bayangan punggung Dinda nampak indah dari belakang. Rambutnya tergerai rapi dan elok di pandang. Rendy dan zico menyaksikan punggung indah Dinda, namun hanya Rendy yang terlihat tersenyum sumringah saat melihat gadis itu berlalu.
Zico menyikut Rendy saat mendapati wajah temannya itu terlihat berbunga-bunga.
"Dia gadis milik Steve. Aku tidak mau kalian bertengkar karena memperebutkan dia." Zico memperingati.
Namun Rendy dengan senyum yang mengembang tak bisa berhenti bahagia saat itu. Dan dengan santai ia bicara kasual. "Dia dan Steve belum menikah, selama janur kuning belum terpampang nyata maka tak ada halangan untuk ku mendekatinya."
"Terserah kalian saja. Tetapi aku hanya memperingati bahwa wanita di dunia ini banyak. Dan aku tidak ingin kalian bertengkar hanya karena satu wanita." Zico mulai menyerah memperingati.
Tetapi Rendy, senyum di wajahnya tak bisa berhenti sebab wajah Dinda masih terkenang dalam benaknya.
"Santai saja. Aku dan Steve akan bersaing secara sehat. Dan aku lebih dulu mengenalnya dari pada Steve. Tak peduli siapa yang akan memenangkan hatinya kelak, aku akan tetap berjuang." Ujar Rendy bersikap ambisius.
"Terserah kau saja."
Kini Zico bersikap netral dan ia tak mau ikut-ikutan dalam kisah asmara ketiganya.
Ia mencoba meninggalkan Rendy sendiri yang nampak seperti orang gila tersenyum sendiri. Hatinya nampak berbunga-bunga.
Tetapi ia menyadari Zico meninggalkan dirinya, sehingga ia menghentikan tingkah gilanya.
"Yo... Kamu ini sahabat ku atau bukan? Setidaknya dukunglah aku bersama Dinda." Dokter muda ini merangkul zico.
Zico tak menggubrisnya karena ia bersikap netral sebab mereka berdua adalah sahabatnya.
Namun yang terpikirkan oleh Zico adalah adik Dinda. Adiknya itu samar-samar ia mengenalnya. Namun ia perlu memastikan hal ini, sebab Miko terlihat sama dengan anak itu. Namun yang tak terpikirkan adalah ia mendapati kedua anak itu dalam dua wajah.
"Mungkinkah kembar!" Celetuk Zico menebak.
Tetapi tingkah Rendy membuyarkan semua pikirannya tentang anak-anak tadi. Padahal masih banyak yang perlu ia tebak dari kedua wajah itu. Setidaknya Zico mengenal wajah itu sesaat meskipun samar-samar di lihat.
BERSAMBUNG
__ADS_1