UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 77


__ADS_3

Pagi hari, pukul tujuh waktu Shanghai.


Di depan cermin ruang rias di hotel milik keluarga Steve, Dinda yang tengah dandan cantik di hampiri Steve dari belakang.


"Kamu sangat cantik," bisik Steve. "Makin hari kamu semakin memikat mata ku."


Dinda tertawa kecil sambil memasang anting kecil di telinganya. "Sejak kapan Tuan pemarah melihat ku jelek," tandas Dinda.


"Kali ini kamu berbeda," Steve memuji. "Gaun putih di padukan dengan warna biru laut ini sangat cocok dengan kamu, aku menyukainya."


"Kamu juga tampan pagi ini," Dinda membalikan badannya. "Kamu terlihat gagah dengan setelan jas hitam ini," Dinda memuji Steve.


"Memang tidak salah aku memilih seorang pacar secantik kamu," Steve merapikan rambut Dinda yang bergelombang berantakan dan menyekanya. "Bahkan tampilan dengan rambut tergerai sederhana seperti ini, kamu membuat aku terpesona."


"Sudahlah, jangan memuji terus. Kamu lupa memasang dasi," Dinda mengingatkan. Dia tanpa pamrih memasangkan dasi berbentuk pita di leher Steve.


"Aku tidak menyukai dasi melekat di tuksedo hitam ku ini," Steve menolak, dia menampik dasi dari Dinda. "Aku tidak ingin memakai dasi, biarkan kerah baju ku polos tanpa pengikat."


Dinda memainkan bibirnya, Dinda menuruti apa yang Steve mau.


Melihat Dinda yang begitu cantik pagi itu, entah kenapa Steve ingin mencumbu bibirnya. Bibir Dinda terlihat manis, Steve sangat bergairah di musim sedingin ini.


Steve menelan ludah bergairahnya. Dia menarik dagu Dinda lalu mendongak-nya. Steve ingin mencumbui bibir Dinda.


Namun sebelum itu terjadi, ibu Steve tiba-tiba datang membuka pintu kamar tempat Dinda merias diri.


"Mama," ucap Steve kaget. "Mama, ngapain Mama masuk ke kamar ini tanpa mengetuk pintu dulu," Steve melirik ibunya intrik.


"Kalian ini," ibunya berkata. "Kalian pergi menghilang kemana semalam? membuat Mama khawatir saja tahu nggak."


"Mama mencemaskan kami?" sahut Steve.


"Mama ini ibu kandung kamu, jelas kalau Mama mencemaskan kalian," tandas Nyonya Diah menggerutu. "Ibu jengkel pada kalian, seharusnya kejutan semalam berakhir tragis, eh justru ketahuan lebih dini. Gara-gara mulut Peni yang licin, akhirnya kalian tahu rencana Mama membuat kejutan ini," tukasnya memberi tahu.


Steve melihat Dinda, mungkin Steve ingin meminta izin memeluk ibunya. Dinda menyetujuinya, dia mengangguk.


"Ma," Steve memeluk Nyonya Diah haru. "Maafkan Steve Ma yang tidak mendengarkan dan menuruti kata-kata Mama."


"Sudahlah," Nyonya Diah berkata santai. "Dengan kamu hadir di ulang tahun Mama dan juga ulang tahun pernikahan Mama dan Papa, itu sudah membuat Mama senang."


"Mama yakin nggak marah sama Steve," Steve bermanja-manja-an di tubuh ibunya.


"Nggak," jawab Nyonya Diah. "Justru dengan kehadiran kamu di Shanghai, akhirnya Mama bisa mewujudkan keinginan Mama bisa bertemu dengan putra tampan Mama," Nyonya Diah mengusap rambut Steve sama seperti Dinda yang pernah mengusap lembut rambutnya kala itu.


"Tapi, ide kalian membuat rencana lelucon dengan membuat undangan pernikahan ku dan Peni ini sungguh keterlaluan," Steve menuntut. Dia menjauh dari tubuh ibunya. Steve ingat pada bagian bualan yang menjengkelkan ini.


"Jangan marah pada Mama, bukan Mama yang melakukannya, tapi Stevie, kakak mu," kilah nyonya Diah.


"Tapi tetap saja, Mama juga terlibat," gerutu Steve.


"Ya sudah, Mama mengalah," Nyonya Diah menyerah berdalih, dia mengakui kesalahannya. "Kalau begitu, mana hadiah ulang tahun untuk Mama," Nyonya Diah beralih berkata. "Mama dengar katanya kamu membawa hadiah spesial untuk Mama, mana hadiahnya?"


"Mama ingat ketika kita liburan di pantai ketika Steve masih belia," Steve mengenang.


"Iya mama ingat," jawab Nyonya Diah. "Memangnya kenapa?"


"Mama masih ingat juga kan saat Steve sakit lalu mengigau menyebut nama gadis yang sering Steve impikan?"


"Iya Mama ingat," balas Nyonya Diah mengenang.


"Mama juga sudah melihat Poto gadis kecil itu, Mama bilang kalau Mama akan menyukai dia-kan," Steve mengenang janji ibunya ketika dia kecil dulu.


Nyonya Diah mencoba mengingat janji apa yang dia buat saat Steve yang dulu masih kecil. "Iya mama ingat sekilas."


"Itu dia yang ingin Steve hadiah-kan untuk mama," Steve memberitahu. "Dan Steve akan mempersembahkannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Mama hari ini," Steve memberikan kejutan, tapi Nyonya Diah masih tidak mengerti maksudnya apa.


"Tunggu," Nyonya Diah bingung. "Hadiah seperti apa yang hendak kamu berikan?"


Steve merangkul Dinda, lalu mendekatkan Dinda pada ibunya. "Inilah hadiah dari Steve untuk Mama, menantu yang seperti Mama inginkan," jelas Steve.


"Dinda!" tunjuk Nyonya Diah. "Kamu yakin?"


Steve mengangguk. "Dialah gadis kecil yang selalu Steve impikan. Dia menjadi wanita yang Steve cintai sejak pertama kali bertemu."


Nyonya Diah tertawa. "Benar kata kakak mu, kalau kamu lelet," Nyonya Diah terkekeh.


"Apa maksud Mama," Steve terlihat tegang, wajahnya intrik menuntut penjelasan.

__ADS_1


Nyonya Diah mendekati Dinda. "Sebenarnya Mama sudah tahu dari Stevie kalau Dinda adalah gadis kecil yang sering kamu cari-cari itu, jadi Mama tidak akan meragukan lagi kalau kamu akan menyukai dia," detail Nyonya Diah. "Putra Mama ternyata benar-benar kuno."


"Jadi selama ini mama sudah tahu?" Steve tidak menyangka. "Itu artinya, saat aku di paksa masuk ke dalam perusahaan, itu juga ulah kalian?" Steve menebak.


"Benar sekali," jawab Nyonya Diah. "Tapi Mama tidak tahu menahu tentang kamu masuk di perusahaan, Kakak mu dan Papa yang melakukannya."


"Kenapa mama tidak memberi tahu ku tentang hal ini. Ku pikir mama akan berpihak pada ku, ternyata mama sama saja, Mama masih berpihak pada Stevie yang tidak tahu diri itu," Steve merajuk, dia sebal pada ibunya.


Alih-alih memperhatikan Steve, Nyonya Diah justru memperhatikan penampilan Dinda.


"Kamu sangat cantik, sampai-sampai Mama tidak bisa membedakan kamu dengan artis DD yang tengah naik daun itu," puji Nyonya Diah sambil menyeka rambut Dinda dan menepinya di telinga. "Nggak salah kalau putra tampan Mama menyukai gadis secantik kamu," Nyonya Diah menyentik hidung Dinda lembut.


"Mama terlalu memuji," Dinda tersipu.


Steve menyambar perkataan ibunya pada Dinda. "Ma, aku ini sedang jengkel pada Mama yang merahasiakan semua ini, kenapa Mama malah mengabaikan aku," Steve menggerutu. "Aku ini anak kandung mama atau bukan sih?"


"Benar kata Stevie, kalau kamu ini nggak ada berubahnya. Selalu marah-marah saja," jawab Nyonya Diah. "Dinda yang manis, nanti jika menikah dengan Steve, tolong jangan cepat marah padanya ya, apalagi membantah ucapannya. Dia kasar, mama mengkhawatirkan kamu nantinya jika sudah menjadi Nyonya Steve," Nyonya Diah mengelus punggung Dinda.


"Tunggu," Steve menyela. "Mama tadi bilang apa? Menikah? Menjadi nyonya Steve? Apa maksudnya Mama merestui hubungan kami?" Steve memastikan. "Mama serius setuju pada pilihan Steve?"


"Mama nggak bilang apa-apa, mama cuma bilang kalau Dinda nggak kuat pacaran sama Steve yang pemarah, Dinda bisa dengan kapan pun meninggalkan Steve. Hanya itu yang mama katakan," timpal Nyonya Diah. "Mama nggak bilang kalau Mama akan merestui hubungan kalian."


"Aku rasa ada kak Stevie kedua ada di sini," Steve merasa sebal, dia membandingkan ibunya dengan kakaknya. Dia wanita yang paling membuatnya jengkel. "Kenapa tidak mau mengakui kalau mama juga menyukai Dinda."


"Hei, ada apa bawa-bawa nama ku!" Seorang menyahut dari depan pintu kamar hotel yang tak lain adalah Stevie.


"Kakak!" Steve membesarkan matanya. "Bagaimana mungkin kak Stevie di sini, juga dengan Miko dan Niko."


"Iya, aku disini. Kenapa, nggak suka kalau aku juga ada di Shanghai!" Seru Stevie dengan tatapan nanar dan mata jahat.


"Tidak, maksudku... Bagaimana mungkin kalian," Steve gugup, dia tidak berani berkata. Si nenek sihir yang selalu dia anggap begitu, ada di hadapannya. "Secepat ini kalian bisa sampai di Shanghai?"


"Jelas aku ada di sini," Stevie bicara meninggikan suaranya. "Acara penting seperti ini tidak boleh di lewatkan. Apalagi kembaran ku si DD juga datang, aku tidak mau ketinggalan pose dengannya."


"Oh... Iya, keluarga bahagia wong sudah hadir sebagai pengacau," gerutu Steve pada Kakaknya bicara pelan.


"Kakak, kamu terlihat cantik dengan gaun ini," Niko memuji.


"Iya, kakak sangat cantik dengan tampil menggunakan gaun, mirip artis," timpal Miko.


Jelas Steve tidak terima, walau mereka adik Dinda, Steve tidak ikhlas kedua bocah itu menggangu kekasihnya.


Steve menarik Dinda menjauh dari kedua adiknya itu. "Dia milik ku sekarang, kalian bisa mencari yang lain," tegur Steve pada Miko dan Niko.


"Tapi dia kakak kami," bantah Niko. "Atas dasar apa kak Steve mengaku kak Dinda sebagai kekasih, memang kak Dinda mau dengan kak Steve."


"Hei, bocah," Steve menghardik Niko. "Sebentar lagi kakak mu ini akan menjadi milik ku, jadi jangan halangi aku dan kakak mu ini bersatu."


Miko menyikut adiknya. "Biarkan, dia pria gila. Dia budak cinta, jangan di hiraukan," bisik Miko pelan. Dia memiringkan jarinya di keningnya, menandakan Steve sinting.


"Begitu rupanya," balas Niko. "Pantas saja setiap kali bertemu dengannya, dia selalu tersenyum sendiri."


"Hei, si ganteng," Stevie bicara pada Niko dan Miko. "Sebaiknya kita pergi keluar saja, biarkan dua burung merpati itu saling bertengger. Jangan jadi penghalang di antara mereka," ajak Stevie.


"Ayo Ma kita pergi, jangan rusak suasana hati Tuan pemarah, atau Shanghai akan di buat gempa oleh amarahnya," Stevie menarik lengan ibunya, membawa jauh mereka bertiga dari Steve yang tengah di landa cinta.


"Kak Stevie jangan pergi," Dinda menghentikan.


"Lanjutkan saja," Stevie menoleh. "Tapi ingat, pakai pengaman kalau mau berbuat," ledeknya.


Ke empat manusia itu menghilang di balik daun pintu yang mulai tertutup rapat.


Steve dengan senyum jahanam dan pemikiran piciknya, melihat wajah Dinda. Seperti sedang memikirkan sebuah ide konyol, Steve mendekati Dinda.


"Ayo turun ke bawah," Dinda mengalihkan perhatian. Dinda tahu maksud Steve, pria itu akan menggodanya. "Acara sebentar lagi akan di mulai, orang-orang sudah menunggu."


Steve mendengus. "Aku nggak mau."


"Ayolah Steve," ajak Dinda. "Orang-orang sedang menunggu kamu."


Steve tidak peduli, Steve melihat waktu masih menunjukan satu jam lagi acara akan di mulai. Steve mendekati Dinda perlahan.


Gadis itu mundur, dia mulai takut pada tingkah Steve yang mulai berulah.


"Kamu mau apa?" tanya Dinda seraya menutup dadanya. "Jangan berbuat yang aneh-aneh, atau aku akan...."


"Akan apa?"

__ADS_1


"Akan...." Posisi Dinda sudah terjepit. Di belakangnya ada meja rias, bokongnya sudah bersandar di sana, Dinda bingung bagaimana menghindar dari Steve.


"Katakan, kamu akan melakukan apa pada ku," Steve menyeringai tertawa puas. "Ayo, katakan! Katakan apa yang akan kamu perbuat jika aku mendekati kamu?"


"Bukan itu... Maksud ku,"


Steve menarik pinggang Dinda agar mendekat di tubuhnya. "Kamu sangat cantik pagi ini, sangat di sayangkan jika aku tidak menjahilinya," bisik Steve.


"Apa maksud kamu."


Steve mengangkat tubuh Dinda lalu menduduki Dinda di atas meja rias. "Kenapa kamu begitu cantik. Kenapa kamu selalu saja membuat aku terpana akan keindahan wajah kamu," goda Steve.


Wajah Dinda merona, dia memalingkan wajahnya dari pandangan Steve. Dia makin mendebar, apalagi Steve terus mendekati tubuhnya.


"Aku minta jatah ku pagi ini," Steve mulai berulah setelah tadi dia bicara serius.


Dinda masih memalingkan wajahnya, dia tidak berani menatap wajah Steve.


"Dinda," Steve merengek. "Aku meminta jatah ku pagi ini, kenapa malah menghindar," Steve memutar wajah Dinda agar menatap wajahnya. "Kamu merona," Steve mengetahuinya. "Wajah kamu memerah."


"Ih, nggak," hardik Dinda. "Ini karena blush on. Bukan karena merona," Dinda membantahnya.


Steve tidak bisa menahan gelak tawanya. Dia tertawa lepas, Steve menyukai sikap polos Dinda yang diam-diam merona.


"Kamu itu sangat menggemaskan kalau lagi merona seperti ini," gombal Steve. "Aku makin yakin pada kekasih ku ini."


"Yakin?" Dinda bingung. "Kenapa yakin."


"Yakin, karena kamu benar-benar sudah terpikat pada ketampanan ku," lirih Steve melucu.


"Ya, kamu memang tampan. Sampai-sampai aku nggak rela kamu melirik wanita lain," Dinda menyewot.


"Justru karena kamu nggak rela aku di goda wanita lain, makanya berikan aku jatah pagi ini," Steve menguji.


Dinda memanyunkan bibirnya, dia melihat Steve dengan pandangan seksi. "Kamu yakin ingin memintanya sepagi ini," Dinda memastikan.


"Kenapa harus menolak bagian ini," jawab Steve. "Rejeki, siapa yang akan menolak ciuman hangat dari wanita secantik kamu," lirih Steve merayu.


Dinda tidak berpikir dua kali, tangannya langsung menarik kerah kemeja putih Steve. Dinda melayangkan ciuman di bibir Steve.


UHM! Dinda berinisiatif melakukannya. Ini pertama kalinya Dinda mencium bibir Steve setelah dia selalu berusaha menahannya.


"Bagaimana? Apakah jatah pagi ini cukup?" Dinda mengakhiri ciumannya dengan romantis nan lembut.


Steve tertawa puas, dia menikmati ciuman Dinda yang hangat ini. "Sejak kapan kamu ahli dalam ciuman seperti tadi, apakah kamu punya pengalaman melakukan hal ini?"


"Aku tidak memiliki pengalaman mencium sembarangan orang," jawab Dinda. "Tapi Tuan pemarah-lah yang mengajarkan aku."


"Aku!" Steve membesarkan matanya. "Bagaiman mungkin aku yang mengajarkan kelinci kecil ku bercumbu?" Steve penasaran. "Dimana aku mengajarkannya? Kapan?!"


"Di bawah hujan deras yang mengguyur Jakarta," Dinda mengingatkan. "Di situlah kali kedua kamu mencium ku."


Steve ingat betul ciuman itu. Ciuman yang ekslusif di berikan pada Dinda. "Lalu ciuman pertama kita ada di mana!" Steve panik, dia ingat jika sudah mencium Dinda sebanyak dua kali sebelum berpacaran.


Dinda terkekeh melihat kegaduhan kecil Steve. "Kamu mencium ku pertama kali di bahu jalan di atas mobil tepat di malam itu," Dinda memegang wajah Steve agar pria itu tidak terlalu gaduh. "Kamu ingat kan? di situ kamu mencium ku untuk pertama kalinya."


"Iya, aku ingat," balas Steve senada. "Itu ciuman pertama kita. Hampir saja aku melupakannya," Steve merasa lega, akhirnya kedua ciumannya utuh. "Hampir saja aku mati mendadak, untung kedua ciuman itu aku masih mengingatnya."


"Memangnya ada apa dengan ciuman pertama?" Dinda ingin tahu. "Apakah begitu pentingnya ciuman itu? Sampai-sampai kamu nggak rela kalau dia di lupakan?"


Steve mencubit dagu Dinda. "Ciuman yang aku berikan itu sangat penting. Karena bibir ku terlalu mahal jika di berikan pada orang lain!" Steve mejelaskan. "Makanya ciuman itu sangat penting!"


"Pantas saja kamu terlalu panik," imbuh Dinda. "Ternyata itu penyebabnya."


"Jelas," jawab Steve kilat. "Aku nggak mau kekasih ku berbagi ciuman pada orang lain. Hanya aku yang boleh memiliki ciuman, tubuh dan semua yang kamu miliki seutuhnya," Steve menegaskan.


"Kamu sedang memonopoli ku!"


"Bukan memonopoli, tapi ini peringatan,"


Dinda menurut saja apa yang Steve katakan. Dirinya telah di miliki oleh Steve seutuhnya. Dinda hanya numpang hidup di tubuhnya, sementara Steve adalah pemilik sesungguhnya dari apa yang ia tumpangi.


BERSAMBUNG


Quotes Dinda.


"Carilah pria yang ketika marah tidak menyakiti wanita dengan kekerasan melainkan menahan kekecewaannya. Karena di balik kekecewaannya, dia sesungguhnya perhatian."

__ADS_1


__ADS_2